Dalam menjalankan kegiatan usahanya Perseroan dan Entitas Anak tidak terlepas dari berbagai risiko usaha. Pelaksanaan kegiatan usaha tersebut dapat mengakibatkan timbulnya dampak negatif bagi kelangsungan usaha Perseroan dan Entitas Anak. Risiko-risiko yang diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko-risiko yang material bagi Perseroan dan Entitas Anak serta telah dilakukan pembobotan berdasarkan dampak dari masing-masing risiko terhadap kinerja keuangan Perseroan dimulai dari risiko utama.
Risiko Usaha Perseroan dan Entitas Anak 1. Risiko Persaingan Usaha
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, risiko utama yang dihadapi Perseroan dan Entitas Anak adalah persaingan usaha. Persaingan usaha yang dihadapi oleh Perseroan dan Entitas Anak dapat berasal dari diler, bengkel, serta perusahaan pembiayaan lainnya.
a. Kegiatan usaha otomotif
Diler yang menjadi pesaing dari grup otomotif Perseroan mencakup diler Toyota lainnya maupun dari diler kendaraan merek lain. Saat ini, grup otomotif Perseroan merupakan satu-satunya diler Toyota di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, kecuali Kudus dan Jepara. Namun demikian, calon pembeli dapat melakukan pembelian kendaraan Toyota di diler Toyota yang berada di kota lainnya untuk kemudian dibawa dan digunakan di Jawa Tengah atau DI Yogyakarta. Di samping itu, persaingan usaha juga berasal dari kendaraan merek lain, baik dari segi harga, keandalan, horse power, eisiensi bahan bakar, desain, maupun citra merek. Merek lain yang menjadi pesaing utama adalah kendaraan merek Honda. Sama halnya dengan Toyota, setiap tahun Honda mengeluarkan model kendaraan baru yang dapat menarik minat konsumen untuk memilih kendaraan model terbaru tersebut dibandingkan model yang sudah lebih lama beredar. Ketidakmampuan Toyota memperkenalkan kendaraan bermotor baru sesuai kebutuhan dan permintaan konsumen dapat berdampak negatif pada penjualan kendaraan.
Selain itu, bengkel tidak resmi yang menyediakan layanan perbaikan dan pengecatan kendaraan serta menjual suku cadang asli maupun imitasi juga menjadi pesaing grup otomotif Perseroan. Bengkel tidak resmi tersebut menawarkan harga perbaikan dan suku cadang yang lebih murah dibandingkan bengkel resmi Toyota milik grup otomotif Perseroan sehingga konsumen dapat memilih untuk memperbaiki kendaraan mereka di bengkel tidak resmi.
b. Kegiatan usaha pembiayaan
Seiring dengan peningkatan permintaan akan kendaraan di Indonesia, sektor pembiayaan kendaraan menjadi menarik, sehingga berakibat pada bertambahnya jumlah pelaku usaha yang turut bergabung dan risiko persaingan usaha menjadi semakin meningkat. Grup pembiayaan Perseroan bersaing dengan perusahaan pembiayaan lainnya, termasuk institusi pembiayaan seperti bank yang menyediakan pembiayaan serupa, dalam hal penetapan harga dan kecepatan
proses persetujuan. Pesaing tersebut dapat memiliki pengenalan merek, sumber inansial dan
akses permodalan yang lebih baik dibandingkan grup pembiayaan Perseroan.
Persaingan usaha yang dihadapi Perseroan dan Entitas Anak memiliki dampak negatif terhadap pendapatan, kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek.
2. Risiko Kebijakan Agen Tunggal Pemegang Merek
Sebagai diler Toyota, kegiatan usaha dari grup otomotif Perseroan dipengaruhi oleh kebijakan dari ATPM terkait penentuan harga, pasokan, kebijakan distribusi, perdagangan, pemasaran, dan perpanjangan kontrak kedilerannya. Jika ATPM menaikkan harga penjualan untuk kendaraan dan suku cadang yang dijual oleh Perseroan atau memberlakukan perubahan kebijakan yang merugikan pada harga penjualan tersebut, volume penjualan akan menurun. Di sisi lain, harga perolehan kendaraan dan suku
cadang dari ATPM berluktuasi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi pasar, harga
bahan baku, dan biaya pengiriman. Mengingat bahwa sebagian pasokan kendaraan dan suku cadang
tersebut diimpor oleh ATPM dari Jepang, harga perolehan tersebut juga dipengaruhi luktuasi nilai tukar
mata uang. Jika ATPM meningkatkan harga perolehan kendaraan dan suku cadang, beban pokok pendapatan dapat meningkat dan marjin dari penjualan kendaraan dan suku cadang dapat berkurang. Grup otomotif Perseroan bergantung sepenuhnya pada pasokan kendaraan dan suku cadang asli merek Toyota dari ATPM. Setiap awal tahun, grup otomotif Perseroan memberikan indikasi proyeksi penjualan selama satu tahun ke depan kepada ATPM yang digunakan sebagai dasar penentuan jumlah pasokan untuk tahun tersebut. Adapun proyeksi ini akan ditinjau dan direvisi setiap akhir bulan oleh grup otomotif Perseroan dan ATPM untuk mengantisipasi perubahan permintaan pasar. Apabila pasokan kendaraan yang diinginkan oleh konsumen tidak tersedia, konsumen dapat memesan kendaraan beserta warna yang diinginkan dengan sistem indent selama satu sampai tiga bulan. Grup otomotif Perseroan tidak dapat menjamin bahwa kendaraan yang dipesan akan tiba tepat waktu karena sebagian pasokan diimpor dari Jepang.
Sehubungan dengan kebijakan distribusi, jika ATPM memutuskan untuk membuat jalur distribusi langsung, yaitu penyaluran kendaraan langsung dari ATPM ke sub-diler tanpa melewati diler Perseroan, daerah penjualan kendaraan dan pelayanan purna jual grup otomotif Perseroan menjadi lebih sempit. Selain itu, perjanjian kedileran dengan ATPM yang dimiliki grup otomotif Perseroan berlaku untuk periode 3 tahunan dan dapat diperpanjang. Meskipun selama 45 tahun terakhir grup otomotif Perseroan mampu memperoleh perpanjangan atas perjanjian tersebut, risiko kehilangan izin kedilerannya tersebut tetap dihadapi oleh grup otomotif Perseroan karena ATPM memiliki hak dan wewenang untuk mengakhiri perjanjian tersebut dalam kondisi tertentu. Kebijakan-kebijakan ATPM tersebut dapat memberikan dampak negatif pada pendapatan, kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek grup otomotif Perseroan.
3. Risiko Konsentrasi Wilayah Penjualan
Dikarenakan grup otomotif Perseroan merupakan diler Toyota dengan wilayah penjualan di Jawa
Tengah dan DI Yogyakarta, setiap perubahan merugikan pada faktor ekonomi dan demograik di daerah
tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek grup otomotif Perseroan.
4. Risiko Ketergantungan terhadap Entitas Anak
Sebagai perusahaan induk, Perseroan mempunyai ketergantungan pada kegiatan usaha dan pendapatan Entitas Anak. Kontribusi pendapatan terbesar Perseroan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2016 berasal dari kegiatan usaha otomotif dan kegiatan usaha pembiayaan, masing-masing sebesar 86% dan 14%. Oleh karena itu, Perseroan bergantung pada distribusi laba, biaya manajemen, dan pembayaran lain dari Entitas Anak untuk membayar kewajiban dan dividen Perseroan.
5. Risiko Ketergantungan pada Pinjaman Bank dan Pembiayaan Eksternal untuk Menjalankan dan Mengembangkan Kegiatan Usaha
Perseroan dan Entitas Anak bergantung pada pinjaman bank dan pembiayaan eksternal lainnya untuk menjalankan kegiatan usaha dan kebutuhan pendanaan di masa depan yang diperkirakan akan meningkat seiring dengan rencana untuk mengembangkan kegiatan usahanya. Ketergantungan
ini disebabkan oleh tidak terailiasinya Perseroan dan Entitas Anak dengan bank maupun institusi
keuangan. Kebutuhan pendanaan sesuai dengan kegiatan usaha Perseroan dan Entitas Anak adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan usaha otomotif
Kegiatan usaha otomotif memerlukan pendanaan modal kerja yang besar sehubungan dengan pembelian kendaraan dan suku cadang serta modal investasi untuk pembelian tanah dan pembangunan untuk diler. Kemampuan grup otomotif Perseroan untuk memperoleh pendanaan dengan syarat dan ketentuan komersial yang wajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk faktor internal seperti kinerja keuangan dan hasil operasi grup otomotif Perseroan serta faktor eksternal seperti kondisi perekonomian, suku bunga, kebijakan pemerintah, serta kondisi pasar otomotif Indonesia. Tidak ada jaminan bahwa pinjaman bank dan pembiayaan eksternal tersebut dapat diperoleh dengan syarat dan ketentuan komersial yang wajar atau secara tepat waktu. Di sisi
lain, luktuasi suku bunga dapat mempengaruhi biaya pendanaan grup otomotif Perseroan berbasis
tingkat suku bunga mengambang. Apabila grup otomotif Perseroan tidak dapat memperoleh pembiayaan dengan syarat dan ketentuan komersial yang wajar atau tepat pada waktunya, atau apabila terdapat kenaikan biaya pendanaan, kegiatan usaha grup otomotif Perseroan dapat terpengaruh dan implementasi rencana ekspansi grup otomotif Perseroan mungkin tertunda. b. Kegiatan usaha pembiayaan
Sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang usaha pembiayaan, kemampuan grup pembiayaan Perseroan untuk mendapatkan sumber pendanaan adalah faktor yang sangat penting. Ketidakmampuan grup pembiayaan Perseroan untuk mendapatkan sumber pendanaan yang layak akan berdampak pada turunnya pertumbuhan pendapatan grup pembiayaan Perseroan. Demikian pula dengan ketidakmampuan untuk mengembalikan pinjaman pokok berikut bunga yang telah ditetapkan pada saat jatuh tempo akan berdampak kepada kinerja keuangan dan reputasi Perseroan, terhadap para kreditur, investor dan akan berpengaruh pada terbatasnya sumber- sumber pendanaan baru di masa yang akan datang. Risiko yang perlu diperhatikan selain terhadap jumlah pendanaan adalah ketidakmampuan grup pembiayaan Perseroan dalam memperoleh pendanaan dengan jangka waktu yang sesuai dengan aktivitas pembiayaan yang diberikan, akan mengakibatkan ketidaksesuaian pendanaan yang selanjutnya berdampak negatif pada pendapatan, kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja, dan prospek usaha grup pembiayaan Perseroan. 6. Risiko Pembiayaan
Grup pembiayaan Perseroan menghadapi risiko pembiayaan, yaitu ketidakmampuan nasabah/debitur untuk membayar kembali fasilitas pembiayaan yang diberikan, baik pokok pinjaman maupun bunganya. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh Perseroan dalam mengelola fasilitas pembiayaan kepada konsumen antara lain hilangnya unit kendaraan dan konsumen menunggak atau tidak membayar angsuran. Risiko ini timbul jika pembiayaan kepada nasabah tidak dikelola secara hati-hati. Selain itu, risiko ini meningkat seiring dengan menurunnya nilai pasar atas jaminan yaitu kendaraan yang diambil alih sehingga berdampak terhadap nilai jual atas jaminan tersebut. Jika tidak tertagih, piutang tersebut harus dibebankan pada laporan laba rugi sebagai kerugian penghapusan piutang dan selanjutnya dilakukan hapus buku sehingga menurunkan nilai aset. Hal ini memiliki dampak negatif bagi kondisi keuangan dan laba Perseroan dan Entitas Anak.
7. Risiko Operasional
Risiko operasional merupakan risiko yang dihadapi Perseroan dan Entitas Anak sehubungan dengan sistem operasional dan prosedur maupun kontrol yang tidak menunjang perkembangan kebutuhan perusahaan pembiayaan. Risiko ini mempengaruhi operasi dalam memproses transaksi usaha yang mengakibatkan terganggunya kelancaran operasi dan kualitas pelayanan kepada konsumen dan diler kendaraan yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja dan daya saing Perseroan dan Entitas Anak. Di samping itu, grup pembiayaan Perseroan mempunyai ketergantungan terhadap sumber daya manusia yang sebagian besar terdiri dari analis kredit dan penagih yang jika tidak dikendalikan akan mempengaruhi operasi Perseroan yang pada akhirnya akan menurunkan pendapatan Perseroan dan Entitas Anak.
8. Risiko Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan industri otomotif dan pembiayaan dapat memberikan pengaruh bagi pendapatan Perseroan dan Entitas Anak.
a. Kegiatan usaha otomotif
Sebagai contoh, kebijakan mengenai pengurangan subsidi bahan bakar, peningkatan biaya registrasi kendaraan baru, serta pajak pemilikan kendaraan dapat menyebabkan penurunan volume penjualan kendaraan bermotor. Pengurangan subsidi bahan bakar dapat mengakibatkan pelanggan yang sensitif terhadap biaya beralih ke transportasi alternatif seperti motor atau transportasi publik. Dengan berkurangnya penjualan kendaraan bermotor, permintaan suku cadang, dan frekuensi perbaikan kendaraan yang disediakan oleh grup otomotif Perseroan juga akan berkurang. Selain itu, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) di Jawa Tengah merupakan yang tertinggi yaitu 12,5% atau 2,5% lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di pulau Jawa namun untuk wilayah DI Yogyakarta sebesar 10%. Oleh karena itu, tidak sedikit konsumen yang membeli kendaraan di luar Jawa Tengah untuk kemudian dibawa dan digunakan di Jawa Tengah sehingga dapat mengurangi pendapatan grup otomotif Perseroan.
b. Kegiatan usaha pembiayaan
Salah satu contoh kebijakan pemerintah, dalam hal ini OJK, yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha grup pembiayaan Perseroan yaitu mengenai kewajiban bagi perusahaan pembiayaan untuk terlebih dahulu memperoleh izin dari OJK apabila hendak membuka kantor cabang. Hal ini dapat menyebabkan penundaan rencana perluasan jaringan grup pembiayaan Perseroan. Di samping itu, kebijakan pemerintah untuk meningkatkan uang muka pinjaman dapat mengurangi permintaan pembiayaan dari konsumen grup pembiayaan Perseroan.
Kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi pendapatan, kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek Perseroan dan Entitas Anak.
9. Risiko Ekonomi
Secara umum, kinerja Perseroan dan Entitas Anak memiliki hubungan dengan kondisi ekonomi di Indonesia. Adanya penurunan pertumbuhan ekonomi akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Apabila kondisi tersebut terjadi, maka akan berdampak pada kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja, dan prospek usaha Perseroan dan Entitas Anak.
Risiko Atas Kepemilikan Saham Perseroan 1. Risiko Likuiditas Saham
Terdapat risiko terkait tidak likuidnya saham yang ditawarkan pada Penawaran Umum ini, mengingat jumlah saham yang ditawarkan Perseroan tidak terlalu besar. Selanjutnya, meskipun Perseroan akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, tidak ada jaminan bahwa saham Perseroan yang diperdagangkan akan aktif atau likuid karena terdapat kemungkinan bahwa saham Perseroan akan
dimiliki satu atau beberapa pihak tertentu yang tidak memperdagangkan sahamnya di pasar sekunder. Dengan demikian, Perseroan tidak dapat memprediksi apakah pasar dari saham Perseroan akan aktif atau likuiditas saham Perseroan akan terjaga.
2. Risiko Harga Saham yang Dapat Berluktuasi
Harga Penawaran saham setelah Penawaran Umum dapat berluktuasi dan mungkin diperdagangkan pada harga yang secara signiikan berada di bawah harga Penawaran Umum dan tidak menarik,
tergantung dari banyak faktor antara lain:
• prospek usaha dan kegiatan operasional Perseroan;
• perbedaan antara hasil kinerja keuangan dan kegiatan operasional Perseroan yang sebenarnya
dibandingkan dengan perkiraan para investor dan analis;
• perubahan dalam rekomendasi atau persepsi para analis pada Perseroan atau Indonesia; • adanya akuisisi, kerjasama strategis, joint venture atau divestasi yang signiikan;
• perubahan pada kondisi ekonomi, sosial, politik atau pasar di Indonesia; • keterlibatan dalam litigasi;
• perubahan harga efek bersifat ekuitas dari perusahaan-perusahaan asing (terutama di Asia) di
pasar berkembang; dan
• luktuasi harga pasar saham pada umumnya.
Oleh karena itu, saham Perseroan dapat diperdagangkan pada harga-harga yang secara signiikan
berada di bawah Harga Penawaran.
3. Risiko Kemampuan Perseroan Membayar Dividen di Masa Depan akan Bergantung pada Laba Ditahan, Kondisi Keuangan, Arus Kas dan Kebutuhan Modal Kerja di Masa Depan Perseroan memiliki kebijakan untuk membayar dividen dan bermaksud melakukan hal tersebut mulai tahun buku 2017 dan seterusnya dalam kondisi Perseroan mempunyai saldo laba yang positif (setelah menyisihkan cadangan wajib). Namun jumlah dividen yang dibayarkan Perseroan di masa depan, apabila ada, akan bergantung pada laba ditahan, kondisi keuangan, arus kas dan kebutuhan modal kerja serta belanja modal Perseroan, komitmen kontrak dan biaya terkait dengan ekspansi Perseroan. Perseroan mungkin mendapatkan perjanjian keuangan di masa depan yang dapat membatasi lebih lanjut kemampuan Perseroan untuk membagikan dividen, dan Perseroan dapat mengalami pengeluaran atau pembayaran kewajiban yang dapat mengurangi atau menghilangkan ketersediaan kas untuk pembagian dividen.
Semua faktor tersebut dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk membayar dividen kepada Perseroan, yang pada akhirnya dapat berdampak merugikan pada kondisi keuangan atau hasil operasi Perseroan dan juga kemampuan Perseroan untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham. 4. Risiko Penjualan Saham di Masa Datang dapat Mempengaruhi Harga Pasar Saham Perseroan Penjualan saham Perseroan di masa datang dalam jumlah besar, atau persepsi bahwa penjualan tersebut dapat terjadi, dapat berdampak negatif terhadap harga saham Perseroan atau kemampuan Perseroan untuk meningkatkan modal melalui penawaran saham baru atau efek bersifat ekuitas lainnya dan dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk memperoleh tambahan modal.
MANAJEMEN PERSEROAN MENYATAKAN BAHWA SEMUA RISIKO-RISIKO MATERIAL YANG DIHADAPI OLEH PERSEROAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA TELAH DIUNGKAPKAN DALAM PROSPEKTUS.