• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISIKO USAHA

Dalam dokumen PT PANORAMA TRANSPORTASI Tbk (Halaman 34-38)

a. Risiko yang berkaitan dengan usaha Perseroan

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan tidak terlepas dari berbagai macam risiko yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan yang pada gilirannya dapat berpotensi menurunkan hasil investasi yang diperoleh para calon investor dari melaksanakan haknya. Calon investor harus berhati-hati dalam membaca risiko-risiko yang dihadapi Perseroan serta informasi lainnya dalam Prospektus ini sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada saham Perseroan. Risiko-risiko berikut merupakan risiko usaha yang bersifat material yang dihadapi Perseroan yang diurutkan berdasarkan bobot dan dampak dari masing-masing risiko terhadap kinerja keuangan Perseroan dimulai dari risiko utama Perseroan:

1. Risiko Kenaikan Suku Bunga Secara Signifikan

Perseroan di dalam melakukan investasi untuk pengembangan usaha dapat dikategorikan sebagai padat modal dan cenderung memiliki ketergantungan dengan lembaga pembiayaan yang suku bunganya sewaktu-waktu dapat meningkat. Pengadaan armada Perseroan dibiayai dengan menggunakan Lembaga Pembiayaan (leasing) sehingga dengan kenaikan suku bunga yang bersifat material akan mengakibatkan beban Perseroan meningkat yang pada akhirnya dapat menurunkan kinerja usaha dan kinerja keuangan dari Perseroan.

2. Risiko Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

Sebagai perusahaan dengan kegiatan utamanya dalam bidang transportasi darat, maka tingkat Penjualan utamanya berasal dari kegiatan operasional dalam memberi jasa transportasi. Besar kecilnya Penjualan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perseroan untuk menekan beban langsung. Komponen beban langsung yang paling mempengaruhi tingkat Penjualan di bidang transportasi darat adalah BBM. Apabila harga BBM mengalami kenaikan yang signifikan, maka akan mempengaruhi profitabilitas Perseroan sepanjang kenaikan BBM tidak dapat diatasi dengan melakukan penyesuaian kenaikan tarif sehingga pada akhirnya Perseroan mengalami penurunan besarnya arus kas yang masuk. Penurunan arus kas yang cukup signifikan akan mengurangi kemampuan manajemen untuk memberikan nilai tambah kepada para stakeholder.

3. Risiko Persaingan Usaha

Regulasi yang tidak terlalu ketat serta potensi keuntungan yang menjanjikan akan memotivasi para operator baru memasuki industri tersebut. Hal ini akan berdampak semakin banyaknya pemain di dalam industri ini. Apabila kemampuan Perseroan gagal memenangkan persaingan itu maka pangsa pasar yang telah dimiliki oleh Perseroan akan menurun dan akan berdampak pada upaya Perseroan meningkatkan pertumbuhan usahanya, sehingga hal ini akan mempengaruhi nilai tambah bagi para stakeholder.

4. Risiko Kebijakan Pemerintah

Adanya perubahan akan kebijakan Pemerintah khususnya di bidang jasa transportasi seperti halnya pembatasan usia kendaraan yang dipergunakan sebagai modal angkutan penumpang yang aman dan nyaman, perijinan yang tidak konsisten pada setiap daerah yang mempunyai kebijakan masing-masing dan dirasa menyulitkan. Biaya balik nama kendaraan umum dinilai masih dikategorikan ke dalam biaya tinggi. Perubahan] dan penerapan atas suatu peraturan dan kebijakan itu baik secara langsung maupun tidak langsung akan dapat mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan.

5. Risiko Kredit

Sebagai perusahaan yang semakin bertumbuh, faktor pembiayaan adalah merupakan faktor yang dapat mempercepat pertumbuhan. Salah satu sumber pendanaan yang harapkan adalah berasal dari pinjaman Bank. Untuk memperoleh pinjaman dari Bank, sangat tergantung dari aset Perseroan yang dijaminkan yang mayoritas berupa armada Perseroan. Apabila Perseroan mengalami kondisi gagal bayar atas pinjaman dari bank, hal tersebut dapat menimbulkan konsekuensi penyitaan jaminan yang pada akhirnya menurunkan jumlah armada Perseroan yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan.

6. Risiko Likuiditas

Perseroan memiliki risiko tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi liabilitasnya. Hal ini disebabkan antara lain karena tagihan kepada pelanggan tidak dapat dilakukan atau ketidaklancaran pembayaran dari pelanggan. Kegagalan Perseroan dalam melakukan evaluasi berkala atas proyeksi arus kas dan arus kas aktual dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan.

7. Risiko Fluktuasi Mata Uang

Kebijakan pemerintah untuk nilai tukar Rupiah saat ini sudah tidak mematok nilai tukar rupiah terhadap nilai tukar mata uang asing dan menyerahkan ke dalam mekanisme pasar. Maka apabila terjadi kondisi pelemahan atas Rupiah terhadap mata uang asing, dapat menimbulkan berbagai perubahan pada harga-harga komoditi yang harganya sangat berkaitan erat dengan nilai tukar Rupiah terhadap nilai tukar mata uang asing lainnya. Misalnya akibat perubahan nilai tukar Rupiah akan menyebabkan naiknya harga bahan bakar minyak tanpa diikuti dengan naiknya harga sewa kendaraan, demikian pula halnya dengan harga suku cadang akan sangat terpengaruh dikarenakan suku cadang pengadaannya banyak yang masih diimpor, sehingga harganya rentan apabila terjadi fluktuasi nilai tukar Rupiah. Apabila hal ini terjadi maka biaya operasional akan meningkat dan pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan.

8. Risiko Keamanan Nasional

Keamanan lingkungan akan dipengaruhi oleh politik nasional. Apabila situasi politik tidak stabil akhirnya dapat memicu gejolak sosial, kerusuhan dan bentrokan antar kelompok sosial yang ada akan berdampak pada kelancaran usaha Perseroan. Apabila hal itu terjadi, maka keadaan itu akan menciptakan suasana yang berpotensi menurunnya minat para pengunjung ke dalam negeri maupun luar negeri untuk melakukan aktifitas perjalanannya serta membuat para pengguna jasa Perseroan memutuskan untuk tidak melanjutkan kegiatan usahanya di Indonesia. Akibatnya Perseroan akan sulit mempertahankan pangsa pasarnya, dengan demikian akan sangat mempengaruhi Penjualan Perseroan dan pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk meraih laba.

9. Risiko Pemutusan Hubungan kontrak

Dalam menjamin kelangsungan kegiatan usahanya, Perseroan telah mengadakan ikatan kontrak dengan beberapa pelanggan terutama yang bersegmen “Institusi”. Apabila dalam suatu kondisi tertentu Perseroan tidak memenuhi kewajiban yang disyaratkan dalam perjanjian, maka sewaktu-waktu kontrak tersebut dapat terjadinya pemutusan hubungan kontrak. Pemutusan kontrak kerja yang terjadi apabila bersifat menyeluruh dapat membuat tidak tercapainya proyeksi pendapatan yang telah dibuat Perseroan sebelumnya dan dapat berakibat terganggunya bisnis Perseroan.

10. Risiko Kegagalan Klaim Asuransi

Pada industri transportasi aset terbesarnya adalah dalam bentuk kendaraan bermotor. Untuk mengurangi tingkat risiko yang dimaksudkan untuk melindungi aset tersebut, maka semua kendaraan bermotor Pereroan telah diasuransikan. Namun apabila terjadi risiko ada kemungkinan klaim atas asuransi tidak terbayarkan karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan yang tercantum dalam polis. Hal ini akan mengakibatkan kerugian karena kerusakan armada akan menjadi beban Perseroan.

11. Risiko Sumber Daya Manusia

Persaingan globalisasi di semua sektor merupakan ancaman yang serius di dunia usaha. Perusahaan transportasi yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan, selain memanfaatkan kemajuan teknologi tetapi juga harus menggunakan tenaga sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Perseroan perlu melakukan pembekalan melalui berbagai pelatihan dan keterampilan kepada para karyawan sehingga mereka tetap berada pada tingkat kompetensi yang mampu bersaing dengan para pesaing. Kegagalan Perseroan dalam mengelola sumber daya manusianya, maka akan sangat mempengaruhi perseroan dalam memenangi kompetisi sehingga akan mempengaruhi tingkat permintaan kepada Perseroan.

12. Risiko Pemogokan Karyawan

Dalam menjalankan usahanya, salah satu tumpuannya adalah berada pada karyawan, maka kepuasan karyawan dalam mendapatkan haknya akan sangat mempengaruhi kelanjutan dari para karyawan menjalankan segala kewajibannya. Namun apabila terjadi adanya ketidakpuasan yang dirasakan oleh karyawan terhadap kompensasi yang diterima, akan mengakibatkan terganggunya kegiatan operasi.

13. Risiko Ketergantungan Pada Anak Perusahaan

Kegiatan usaha Perseroan sebagian dilakukan oleh anak perusahaan. Dengan demikian sebagian keuntungan konsolidasian Perseroan berasal dari keuntungan anak perusahaan. Kinerja anak perusahaan yang kurang baik dapat berdampak negatif terhadap laba bersih konsolidasian Perseroan.

b. Risiko Terkait Dengan HMETD, Saham Baru Dan Pasar Modal 1. Fluktuasi Harga HMETD dan Saham Baru Perseroan

Harga HMETD dan Saham Baru dapat mengalami fluktuasi sehingga diperdagangkan dibawah harga penawaran awal, yang disebabkan oleh:

a. Kinerja aktual operasional dan keuangan Perseroan berbeda dengan ekspektasi calon investor dan/atau analis;

b. Adanya Keterbukaan Informasi atas transaksi yang sifatnya material yang diumumkan Perseroan, termasuk dalam hal adanya keterlibatan Perseroan dalam kasus hukum yang berdampak material terhadap kelangsungan Perseroan;

c. Perubahan kondisi Pasar Modal Indonesia yang berfluktuasi baik karena faktor domestik maupun pengaruh pasr modal negara lain;

d. Perubahan kondisi makro Indonesia maupun industri properti pada khususnya.

2. Pemegang saham Perseroan kemungkinan akan terdilusi jika pemegang saham tidak melaksanakan HMETD

3. Tidak ada jaminan bahwa pasar perdagangan untuk HMETD akan aktif atau Perdagangan atas saham baru akan berkembang atau tetap setelah PUT I

Ada kemungkinan investor yang membeli Saham Baru Perseroan, menyimpan saham tersebut untuk investasi semata dan berharap pembagian dividen dari Perseroan serta tidak memperdagangkannya.

Dalam dokumen PT PANORAMA TRANSPORTASI Tbk (Halaman 34-38)