• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISK MANAGEMENT (continued) a. Pendahuluan dan Gambaran Umum

POLICIES Dalam pembukuan dan pelaporan keuangannya,

3. RISK MANAGEMENT (continued) a. Pendahuluan dan Gambaran Umum

(lanjutan)

a. Introduction and Overviews (continued)

b. Manajemen Risiko Kredit b. Credit Risk Management Sejak tahun 2009, Bank telah menetapkan 5

prioritas utama dimana salah satunya adalah keseimbangan antara risk dan reward. Identifikasi dan memantau risiko dalam seluruh kegiatan merupakan suatu keharusan. Risiko diharapkan selalu menjadi bahan pemikiran yang utama bagi seluruh karyawan.

Since 2009, the Bank has determined top 5 priorities where among them is the balance of risk and reward. Identify and monitoring risks in the environment is a must. Risk is expected to become ”top of mind” for all employees.

Kegiatan manajemen risiko kredit telah diarahkan kepada model risiko kredit yang sesuai dengan penerapan Basel II. Bank telah mengembangkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan model risiko kredit internal. Saat ini, sistem manajemen risiko sedang ditingkatkan dan database diciptakan untuk pengembangan lebih lanjut dari model Probability of Default, Loss Given Default dan Exposure at Default.

The credit risk management activities have been geared towards the implementation of Basel II compliant credit risk models. The Bank has been developing the infrastructure to support the development of internal credit risk models. The existing risk management system is being enhanced and a database is created for the further development of Probability of Default, Loss Given Default and Exposure at Default Models.

Bank berhasil menjaga rasio kredit bermasalah melalui kombinasi dari disiplin early alert yang lebih ketat, proses menghasilkan bisnis baru dengan kualitas yang lebih baik, identifikasi segmen bisnis bermasalah yang lebih memadai dan fokus pada unit Special Asset Management dan Unit Penagihan untuk memperoleh pembayaran dari kredit bermasalah.

The Bank was able to maintain its non-performing loans ratio (“NPL”) through a combination of improved early alert disciplines, better quality of new business underwriting, proper identification of troubled segments and a focus on Special Asset Management and Collection Team to collect payments from NPL accounts.

Manajemen risiko kredit telah mencatat perbaikan berarti dalam hal disiplin proses, khususnya untuk segmen consumer, SME dan Wholesale Bank. Komite Early Alert telah membawa perbaikan dalam diskusi tentang nasabah yang kemungkinan menjadi bermasalah. Pengawasan atas kekurangan dokumen dan covenant juga telah diperbaiki.

The credit risk management has made significant improvements in process disciplines, particularly in the consumer, SME segments and Wholesale Bank. The Early Alert Committees has led to an improvement in discussions on potentially problematic customers. Document deficiencies tracking and covenant monitoring have been improved.

Memperhatikan kondisi pasar yang bergejolak, aktivitas stress testing akan diintensifkan dengan fokus spesifik pada kelas aset tertentu, segmen nasabah tertentu dan dampak potensial dari faktor ekonomi makro. Sebelumnya, stress testing berpengaruh dalam mempertimbangkan kemungkinan skenario di masa datang yang mungkin muncul sebagai hasil dari kondisi pasar saat ini.

Tema stress testing bisnis seperti inflasi yang tinggi/ rendah atau penurunan dalam nilai aset dikoordinasikan oleh forum stress testing untuk memastikan konsistensi dari dampak berbagai jenis risiko.

In view of market turbulence, stress testing activity will be intensified with specific focus on certain asset classes, client segments and potential impact of macro economic factors. In the past, stress tests have taken into consideration possible future scenarios that could arise as a result of prevailing or likely market conditions.

Business stress testing themes such as high/low inflation or decline in asset values are coordinated by the stress testing forum to ensure consistency of impact on different risk types.

b. Manajemen Risiko Kredit (lanjutan) b. Credit Risk Management (continued) Bank juga mengontrol risiko melalui kebijakan

konsentrasi caps dan underwriting. Proses perencanaan bisnis tahunan dan kajian kinerja manajemen secara berkala ditujukan untuk memastikan bahwa penerapan risk appetite telah dilakukan dengan tepat.

The Bank also controls risk through concentration caps and underwriting policies. The annual business planning and regular performance management processes aim to ensure the expression of risk appetite remains appropriate.

i. Eksposur Maksimum terhadap Risiko Kredit

i. Maximum Exposure to Credit Risk

Untuk aset keuangan yang diakui pada neraca, eksposur maksimum atas risiko kredit setara dengan nilai tercatatnya. Penerbitan bank garansi dan letters of credit yang tidak dapat dibatalkan, eksposur maksimum atas risiko kredit adalah nilai maksimum yang harus dibayarkan oleh Bank dalam hal timbul kewajiban atas penerbitan bank garansi dan letters of credit yang tidak dapat dibatalkan. Untuk komitmen kredit, eksposur maksimum atas risiko kredit adalah sebesar jumlah fasilitas yang belum ditarik dari fasilitas kredit committed yang diberikan ke nasabah.

Tabel berikut menyajikan eksposur maksimum risiko kredit Perseroan atas instrumen keuangan pada neraca dan

rekening administratif tanpa

memperhitungkan agunan kredit atau jaminan kredit lainnya.

For financial assets recognized on the balance sheet, the maximum exposure to credit risk equals their carrying amount. For guarantees and irrevocable letters of credit issued, the maximum exposure to credit risk is the maximum amount that the Bank would have to pay, if the obligations of the guarantees and irrevocable letters of credit issued are called upon. For credit commitments, the maximum exposure to credit risk is the full amount of the undrawn committed credit facilities granted to customers.

The following table presents the Company’s maximum exposure to credit risk of on-balance sheet and off-on-balance sheet financial instruments, without taking into account of any collateral held or other credit enhancement.

3. RISK MANAGEMENT (continued) b. Manajemen Risiko Kredit (lanjutan) b. Credit Risk Management (continued)

i. Eksposur Maksimum terhadap Risiko Kredit (lanjutan)

i. Maximum Exposure to Credit Risk (continued) Uraian 30 Juni 2010/ 30 June 2010 30 Juni 2009/ 30 June 2009 31 Desember 2009/ 31 December 2009 31 Desember 2008/ 31 December 2008 Description

Neraca: On balance sheet:

Giro pada bank lain 213.844) 246.529 231.743) 703.848

Current accounts with other

banks

Penempatan pada Bank Indonesia

dan bank-bank lain 4.001.000) 2.721.019 2.669.134) 1.852.071

Placements with Bank Indonesia other banks

Efek-efek 7.887.436) 5.735.420 5.470.011) 6.730.559 Marketable Securities

Obligasi pemerintah 111.230) 1.573.398 69.270) 2.082.791 Government bonds

Efek-efek yang dibeli dengan janji

dijual kembali -) -) -) 2.395

Marketable securities purchased with agreements to resell

Aset derivatif 30.618) 189.674 122.080) 406.575 Derivative assets

Kredit yang diberikan 42.392.817) 35.273.124 39.809.779) 33.660.871 Loans

Tagihan premi 29.169) 29.448 24.701) 22.676 Premium receivables

Tagihan akseptasi 1.717.935) 1.122.318 1.058.118) 1.172.113 Acceptance receivables

Rekening administratif: Off-balance sheet:

Bank garansi 1.294.623) 897.893 1.307.010) 988.134 Bank guarantees

Fasilitas kredit kepada nasabah yang

belum digunakan-committed 657.594) 684.104 655.589) 702.918 Unused credit facility-committed

Letters of credit yang tidak dapat

dibatalkan 968.932) 838.282

)

854.512) 495.584

Irrevocable letters of credit issued

Jumlah 59.305.198) 49.311.209 57.271.947) 48.820.535 Total

ii. Analisa Risiko Konsentrasi Kredit ii. Concentration of Credit Risk Analysis Risiko konsentrasi kredit dapat terjadi bila

sejumlah nasabah bergerak di bidang usaha yang sejenis, atau memiliki kegiatan usaha dalam wilayah geografis yang sama, atau memiliki karakteristik yang serupa yang dapat menyebabkan kemampuan nasabah untuk memenuhi kewajiban atas perjanjian kredit dipengaruhi oleh perubahan ekonomi ataupun kondisi lainnya.

Bank mendorong adanya diversifikasi portofolio kreditnya pada berbagai wilayah geografis, industri dan produk sebagai upaya untuk meminimalisir risiko kredit.

Concentrations of credit risk arise when a number of customers are engaged in similar business activities or activities within the same geographic region, or when they have similar characteristics that would cause their ability to meet contractual obligations to be similarly affected by changes in economic or other conditions.

The Bank encourages the diversification of its credit portfolio among a variety of geographies, industries, and credit product in order to minimize the credit risk.

b. Manajemen Risiko Kredit (lanjutan) b. Credit Risk Management (continued) ii....Analisa Risiko Konsentrasi Kredit

000000(Lanjutan)

ii. Concentration of Credit Risk Analysis

000000 00000(Continued) Konsentrasi risiko kredit berdasarkan

jenis debitur:

Credit risk concentration by type of debtors: 30 Juni 2010/30 June 2010 Efek-efek/ Marketable securities Aset derivatif/ Derivative assets Kredit yang diberikan/ Loans Aset keuangan lainnya/ Other financial assets Komitmen dan kontinjensi yang memiliki risiko kredit/ Commitments and contingencies with credit risk Jumlah/ Total % Korporasi 245.661 4.231 22.025.264 1.698.718 2.019.124 25.992.998 42,10 Corporates Pemerintah dan Bank Indonesia 7.539.992 - - 2.656.689 - 10.196.681 16,51 Government and Bank Indonesia Bank 75.941 26.387 - 4.144.844 - 4.247.172 6,87 Bank Ritel 25.842 - 20.367.553 19.217 902.025 21.314.637 34,52 Retail Jumlah 7.887.436 30.618 42.392.817 8.519.468 2.921.149 61.751.488 100,00 Total

Konsentrasi kredit yang diberikan berdasarkan jenis kredit dan sektor ekonomi diungkapkan pada Catatan 13.

The concentration of loans by type of loans and economic sector is disclosed in Note 13.

c. Manajemen Risiko Pasar c. Market Risk Management Bank mengakui risiko pasar sebagai eksposur

akibat dari potensi perubahan harga pasar dan nilai tukar. Bank terpapar pada risiko pasar yang terutama berasal dari transaksi nasabah. Tujuan dari pengelolaan risiko pasar adalah untuk mengelola dan mengontrol eksposur risiko pasar dalam parameter yang diterima dengan mengoptimalkan tingkat pengembalian terhadap risiko.

Bank recognizes market risk as the exposure created by potential changes in market prices and rates. Bank is exposed to market risk arising principally from customer driven transactions. The objective of market risk management is to manage and control market risk exposures within acceptable parameters, while optimizing the return of risk.

Pengelolaan risiko pasar didukung oleh kerangka limit dan kebijakan yang komprehensif untuk mengontrol risiko yang dapat diterima oleh Bank. Limit risiko pasar dialokasikan pada berbagai tingkatan dan dipantau oleh unit Market Risk secara harian.

The management of market risk is supported by a comprehensive limit and policy framework to control the amount of risk that the Bank will accept. Market risk limits are allocated at various levels and are reported and monitored by Market Risk unit on a daily basis.

3. MANAJEMEN RISIKO (lanjutan) 3. RISK MANAGEMENT (continued) c. Manajemen Risiko Pasar (lanjutan) c. Market Risk Management (continued)

Seluruh kewenangan risiko pasar berada dalam tanggung jawab Komite Manajemen Risiko (“KMR”). KMR bertanggung jawab untuk penentuan limit Value at Risk (“VaR”), limit kerugian akibat kondisi stress yang berada dalam risk appetite Bank. KMR juga bertanggung jawab terhadap penetapan kebijakan dan standar lainnya untuk mengontrol risiko pasar dan mengawasi implementasi risiko pasar secara efektif. Unit Market Risk bertanggungjawab terhadap pembuatan kebijakan risiko pasar secara rinci (yang akan dikaji dan disetujui oleh KMR) dan kajian terhadap implementasinya secara harian. Limit risiko pasar merupakan kontrol utama untuk memastikan bahwa eksposur risiko pasar Bank sejalan dengan risk-appetite untuk risiko pasar. Limit yang paling memadai untuk mengendalikan eksposur risiko pasar suatu bisnis ditetapkan melalui proses pengkajian limit. Limit risiko pasar diajukan oleh bisnis dengan kondisi sesuai kebijakan yang berlaku. Limit tambahan ditetapkan untuk instrumen tertentu dan konsentrasi posisi apabila diperlukan. Di samping VaR, pengukuran sensitivitas juga digunakan sebagai perangkat pengelolaan risiko. Misalnya, sensitivitas suku bunga diukur berdasarkan eksposur terhadap kenaikan satu basis poin pada yields, sedangkan sensitivitas nilai tukar diukur berdasarkan nilai underlying atau nominal terkait.

Overall authority for market risk is vested in Risk Management Committee (“RMC”). RMC is responsible for setting Value at Risk (“VaR”) limit and stress loss limits for market risk within Bank’s risk appetite. RMC is also responsible for policies and other standards for the control of market risk and overseeing their effective implementation. Market Risk unit is responsible for the development of detailed management policies (subject to review and approval by RMC) and for the day-to-day review of their implementation.

Market risk limits are key controls designed to ensure that the Bank’s market risk exposure is aligned with its appetite for taking market risk. The most appropriate limits to control a business’ market risk exposure will be determined through a limit review process. Market risk limit is proposed by the businesses with the terms of agreed policy. Additional limits are placed on specific instruments and position concentrations where appropriate. Sensitivity measures are used in addition to VaR as risk management tools. For example, interest rate sensitivity is measured in terms of exposure to a one basis point increase in yields, whereas foreign exchange sensitivities are measured in terms of the underlying values or amounts involved.

Kategori utama dari risiko pasar adalah: i. Risiko Nilai Tukar

Bank memiliki eksposur nilai tukar akibat adanya transaksi dalam mata uang asing dan volatilitas yang melekat pada opsi nilai tukar. Bank memonitor risiko konsentrasi yang terjadi untuk setiap nilai tukar mata uang asing sehubungan dengan konversi mata uang asing terhadap Rupiah yang merupakan mata uang fungsional Bank.

The primary categories of market risk are: i. Foreign Exchange Risk

The Bank is exposed to foreign exchange currency risk through transactions in foreign currencies and implied volatilities on foreign exchange options. The Bank monitors any concentration risk in relation to any individual currency with regards to the translation of foreign currencies into Indonesian rupiah which is the Bank’s functional currency.

c. Manajemen Risiko Pasar (lanjutan) c. Market Risk Management (continued) i. .Risiko Nilai Tukar (lanjutan)

Posisi Devisa Neto (“PDN”) Bank dihitung berdasarkan Peraturan Bank Indonesia yang berlaku. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, Bank harus memenuhi ketentuan PDN keseluruhan dan untuk neraca setinggi-tingginya 20% dari jumlah modal.

i. Foreign Exchange Risk (continued) The Bank’s net foreign exchange position (“NOP”) was calculated based on Bank Indonesia’s prevailing regulations. In accordance with the regulations, banks are required to maintain its aggregate and balance sheet NOP at the maximum of 20% of its capital.

30 Juni 2010/30 June 2010 Posisi devisa neto

untuk neraca (selisih bersih asset dan kewajiban)/Balance

sheet net foreign exchange position (net differences between assets and liabilities) Selisih bersih tagihan dan kewajiban pada rekening administratif/Net differences between receivables and liabilities in off- balance sheet transactions Posisi devisa neto per mata

uang/Net foreign exchange position by currency Posisi devisa neto secara keseluruhan (nilai absolut)/ Aggregate net foreign exchange position (absolute amount) Dolar Amerika Serikat 341.148) (779.845) (438.697) 438.697 United States Dollar

Franc Swiss 3.536) (2.350) 1.186) 1.186 Swiss Franc

Yen Jepang (3.766) (2.460) (6.226) 6.226 Japanese Yen

Krona Swedia 1.222) -) 1.222) 1.222 Swedish Krona

Dolar Singapura (5.142) 6.657) 1.515) 1.515 Singapore Dollar

Poundsterling

Inggris (712) 1.353) 641) 641

British Poundsterling

Dolar Australia (933) 1.279) 346) 346 Australian Dollar

Dolar Kanada 1.210) (904) 306) 306 Canadian Dollar

Krone Denmark 818) -) 818) 818 Danish Krone

Euro (2.844) (9.862) (12.706) 12.706 Euro

Dolar Hong Kong 1.965) -) 1.965) 1.965 Hong Kong Dollar

Dolar Selandia Baru 742) -) 742) 742 New Zealand Dollar Jumlah 337.244) 466.370 Total Jumlah Modal (Catatan 52) 6.459.919) 6.459.919 Total Capital (Note 52) Posisi Devisa Neto 5,22%) 7,22% Net Foreign Exchange Position

3. RISK MANAGEMENT (continued) c. Manajemen Risiko Pasar (lanjutan) c. Market Risk Management (continued)

i. Risiko Nilai Tukar (lanjutan) i. Foreign Exchange Risk (continued)

30 Juni 2009/30 June 2009 Posisi devisa neto

untuk neraca (selisih bersih asset dan kewajiban)/Balance

sheet net foreign exchange position (net differences between assets and liabilities) Selisih bersih tagihan dan kewajiban pada rekening administratif/Net differences between receivables and liabilities in off-balance sheet transactions Posisi devisa neto per mata

uang/Net foreign exchange position by currency Posisi devisa neto secara keseluruhan (nilai absolut)/ Aggregate net foreign exchange position (absolute amount) Dolar Amerika

Serikat 15.865) (459.558) (443.693) 443.693 United States Dollar

Franc Swiss 3.204) (846) 2.358) 2.358 Swiss Franc

Yen Jepang (3.235) (691) (3.926) 3.926 Japanese Yen

Krona Swedia 1.189) -) 1.189) 1.189 Swedish Krona

Dolar Singapura (1.630) 2.646) 1.016) 1.016 Singapore Dollar

Poundsterling

Inggris (651) (18) (669) 669

British Poundsterling

Dolar Australia (131) 1.661) 1.530) 1.530 Australian Dollar

Dolar Kanada 236) -) 236) 236 Canadian Dollar

Krone Denmark 390) -) 390) 390 Danish Krone

Euro (1.329) 1.620) 291) 291 Euro

Dolar Hong Kong 2.880) -) 2.880) 2.880 Hong Kong Dollar

Dolar Selandia

Baru 96) -) 96) 96 New Zealand Dollar

Jumlah 16.884) 458.274 Total Jumlah Modal (Catatan 52) 5.424.874) 5.424.874 Total Capital (Note 52) Posisi Devisa Neto 0,31%) 8,45% Net Foreign Exchange Position

c. Manajemen Risiko Pasar (lanjutan) c. Market Risk Management (continued)

i. Risiko Nilai Tukar (lanjutan) i. Foreign Exchange Risk (continued)

31 Desember 2009/31 December 2009

Posisi devisa neto untuk neraca (selisih bersih asset dan kewajiban)/Balance

sheet net foreign exchange position (net differences between assets and liabilities) Selisih bersih tagihan dan kewajiban pada rekening administratif/Net differences between receivables and liabilities in off- balance sheet transactions Posisi devisa neto per mata uang/Net foreign exchange position by currency Posisi devisa neto secara keseluruhan (nilai absolut)/ Aggregate net foreign exchange position (absolute amount) Dolar Amerika Serikat (388.890) 302.144) (86.746) 86.746 United States Dollar

Franc Swiss 2.625) -) 2.625) 2.625 Swiss Franc

Yen Jepang (1.771) 178) (1.593) 1.593 Japanese Yen

Krona Swedia 1.745) (659) 1.086) 1.086 Swedish Krona

Dolar Singapura 3.257) (3.377) (120) 120 Singapore Dollar

Poundsterling

Inggris (138) (48) (186) 186

British Poundsterling

Dolar Australia 1.541) (845) 696) 696 Australian Dollar

Dolar Kanada 605) -) 605) 605 Canadian Dollar

Krone Denmark 1.824) (1.638) 186) 186 Danish Krone

Euro 802) (11.014) (10.212) 10.212 Euro

Dolar Hong Kong 2.269) (2.302) (33) 33 Hong Kong Dollar

Dolar Selandia

Baru 629) -) 629) 629 New Zealand Dollar

Jumlah (375.502) 104.717 Total Jumlah Modal (Catatan 52) 5.387.711) 5.387.711 Total Capital (Note 52) Posisi Devisa Neto 6,97%) 1,94% Net Foreign Exchange Position

3. RISK MANAGEMENT (continued) c. Manajemen Risiko Pasar (lanjutan) c. Market Risk Management (continued)

i. Risiko Nilai Tukar (lanjutan) i. Foreign Exchange Risk (continued)

31 Desember 2008/31 December 2008 Posisi devisa neto

untuk neraca (selisih bersih asset dan kewajiban)/Balance

sheet net foreign exchange position (net differences between assets and liabilities) Selisih bersih tagihan dan kewajiban pada rekening administratif/Net differences between receivables and liabilities in off- balance sheet transactions Posisi devisa neto per mata

uang/Net foreign exchange position by currency Posisi devisa neto secara keseluruhan (nilai absolut)/ Aggregate net foreign exchange position (absolute amount) Dolar Amerika Serikat (59.024) 35.937) (23.087) 23.087 United States Dollar

Franc Swiss 3.048) -) 3.048) 3.048 Swiss Franc

Yen Jepang 4.948) (7.139) (2.191) 2.191 Japanese Yen

Krona Swedia 922) -) 922) 922 Swedish Krona

Dolar Singapura 30.976) 58) 31.034) 31.034 Singapore Dollar

Poundsterling

Inggris 193) -) 193) 193

British Poundsterling

Dolar Australia 2.870) (2.493) 377) 377 Australian Dollar

Dolar Kanada 539) -) 539) 539 Canadian Dollar

Baht Thailand 681) -) 681) 681 Thailand Baht

Krone Denmark 477) -) 477) 477 Danish Krone

Euro 8.590) (21.714) (13.124) 13.124 Euro

Dolar Hong Kong 1.390) -) 1.390) 1.390 Hong Kong Dollar

Dolar Selandia Baru 34) 158) 192) 192 New Zealand Dollar Jumlah (4.356) 77.255 Total Jumlah Modal (Catatan 52) 4.326.456) 4.326.456 Total Capital (Note 52) Posisi Devisa Neto 0,10%) 1,79% Net Foreign Exchange Position ii. Risiko Tingkat Suku Bunga

Kegiatan Bank yang terkait dengan risiko suku bunga terbagi atas:

a....Portofolio trading book merupakan aktivitas pengelolaan portofolio surat berharga dengan tujuan untuk mengoptimalkan keuntungan yang dikelola oleh Fixed Income Trading Desk - Global Markets (Treasury).

Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, aktivitas Fixed Income Trading memiliki limit yang disetujui oleh Direksi yang dikaji secara berkala. Pengawasan terhadap limit yang berlaku dilakukan oleh unit Market Risk.

ii. Interest Rate Risk

Interest rate risk exposure in the operational banking activites are divided into:

a. Trading book portfolio, short term trading securities portfolio which is intended for optimalizing the return which is managed by Fixed Income Trading Desk - Global Markets (Treasury).

In daily activities, Board of Director approves a limit for Fixed Income Trading Desk, which is reviewed on regular basis. Monitoring on the limit is done by Market Risk unit.

c. Manajemen Risiko Pasar (lanjutan) 2. Market Risk Management (continued) ii. Risiko Tingkat Suku Bunga (lanjutan)

b. Portofolio Banking Book terdiri dari semua aktivitas bank komersial, di luar portofolio untuk diperdagangkan dalam rangka pengelolaan risiko (likuiditas dan suku bunga) dari aktivitas Manajemen Aset dan Kewajiban (“ALM”). Banking Book dikelola oleh Assets & Liabilities Management Desk - Global Markets (Treasury).

Seperti halnya pengelolaan Fixed Income Trading, ALM memiliki limit yang disetujui oleh Direksi yang dikaji secara berkala. Pengawasan terhadap ALM dilakukan oleh unit Market Risk. Aktivitas pengelolaan aset dan kewajiban bertujuan untuk memaksimalkan net interest income, dalam tingkat suku bunga pasar yang sejalan dengan strategi bisnis bank.

Pengelolaan risiko aset dan kewajiban dilakukan berdasarkan tingkat sensitivitas Bank terhadap perubahan suku bunga. Secara umum, bank memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dalam portofolio kewajiban karena aset bersuku bunga memiliki durasi yang lebih panjang dan peninjauan kembali suku bunga (re-pricing) kurang sering dibandingkan dengan kewajiban bersuku bunga. Artinya dengan kondisi suku bunga yang cenderung meningkat, marjin yang dihasilkan akan mengecil akibat adanya re-pricing dalam kewajiban. Meskipun demikian, pengaruhnya secara aktual bergantung pada banyak faktor, termasuk apakah terjadi pembayaran kembali yang lebih cepat atau lebih lama dari tanggal kontraktualnya dan variasi dari sensitivitas suku bunga selama periode re-pricing dan di antara berbagai mata uang.

ii. Interest Rate Risk (continued)

b. Banking book portfolio, consists of all commercial bank activities, excluding trading book portfolio to manage the inherent risk (liquidity and interest rate risk) from the activities of Assets and Liabilities Management (“ALM”). Banking book is managed by Assets and Liabilities Management Desk - Global Markets (Treasury).

Similar to Fixed Income Trading Desk, Board of Directors approves a limit for ALM, which is reviewed on regular basis. Monitoring on the limit is done by Market Risk unit.

Asset and liabilities management activities are aimed at optimizing net interest income, within the market interest rate levels and in line with the Bank’s business strategies.

Assets and liabilities risk management activities are conducted in the context of the Bank’s sensitivity to interest rate changes. In general, the Bank has larger interest rate sensitivity in liabilities rather then assets because its interest-earning assets have longer duration and reprice less frequently than interest-bearing liabilities. This means that in rising interest rate environments, margin earned will narrow as liabilities reprice. However, the actual effect will depend