BAB IV PEMBAHASAN
4.3 Ritme Kalimat Dilihat dari Struktur Kalimat Dasar
Pengertian ritme, kita berbicara tentang ritme jika kita membahas pola pemberian aksen pada kata dalam untaian tuturan (kalimat). Bahasa Indonesia mengikuti ritme yang berdasarkan jumlah suku kata: makin banyak suku kata, makin lama pula waktu untuk pelafalannya. (Kudadiri, A. 2016 : 53).
Yang dimaksud dengan kalimat dasar adalah kalimat yang (i) terdiri atas satu klausa, (ii) unsur-unsurnya lengkap, (iii) susunan unsur-unsurnya menurut urutan yang paling umum, dan (iv) tidak mengandung pertanyaan atau pengingkaran. Dengan kata lain, kalimat dasar di sini identik dengan kalimat tunggal deklaratif afirmatif yang urutan unsur-unsurnya paling lazim. (Alwi, H. Dardjowidjojo, S. Lapowila, H. & Moeliono Anton, M. 2010 : 326)
Kalimat berstruktur Kalimat Dasar yang terdapat pada pidato pelantikan presiden Joko Widodo periode II 2019 – 2024 adalah sebagai berikut :
1. Itulah target kita.
2. Inovasi adalah budaya.
3. Itulah target kita bersama.
4. Kita harus menuju ke sana.
5. Prosedur yang panjang harus dipotong.
6. Yang utama itu adalah hasilnya.
7. Eselonisasi harus disederhanakan.
8. Yang pertama adalah pembangunan SDM.
9. Yang kelima adalah transformasi ekonomi.
10. Investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan.
11. Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita.
12. Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar.
13. Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus.
14. Potensi kita untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah sangat besar.
15. Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi sekaligus.
16. Tugas birokrasi kita itu menjamin agar manfaat program itu dirasakan oleh masyarakat.
Pada keenam belas kalimat di atas, kalimat yang paling singkat dilafalkan adalah kalimat pertama dan kalimat yang paling lama dilafalkan adalah kalimat keenam belas. Penentuan singkat lama nya suatu lafal kalimat ditentukan berdasarkan jumlah suku kata.
Pada kalimat pertama memiliki 7 jumlah suku kata.
1. I-tu-lah tar-get ki-ta.
2. I-no-va-si a-da-lah bu-da-ya.
Pada kalimat ketiga memiliki 10 jumlah suku kata.
3. I-tu-lah tar-get ki-ta ber-sa-ma.
Pada kalimat keempat memiliki 10 jumlah suku kata.
4. Ki-ta ha-rus me-nu-ju ke sa-na.
Pada kalimat kelima memiliki 11 jumlah suku kata.
5. Pro-se-dur yang pan-jang ha-rus di-po-tong.
Pada kalimat keenam memiliki 12 jumlah suku kata.
6. Yang u-ta-ma i-tu a-da-lah ha-sil-nya.
Pada kalimat ketujuh memiliki 14 jumlah suku kata 7. E-se-lo-ni-sa-si ha-rus di-se-der-ha-na-kan.
Pada kalimat kedelapan memiliki 14 jumlah suku kata 8. Yang per-ta-ma a-da-lah pem-bang-un-an s-d-m.
Pada kalimat kesembilan memiliki 15 jumlah suku kata 9. Yang ke-li-ma a-da-lah trans-for-ma-si e-ko-no-mi.
Pada kalimat kesepuluh memiliki 22 jumlah suku kata
10. In-ves-ta-si un-tuk pen-cip-ta-an la-pang-an ker-ja ha-rus di-pri-ori-tas-kan.
Pada kalimat kesebelas memiliki 23 jumlah suku kata
11. Ki-ta per-lu en-dow-ment fu-nd yang be-sar un-tuk ma-na-je-men s-d-m ki-ta.
Pada kalimat kedua belas memiliki 26 jumlah suku kata
12. Pe-me-rin-tah a-kan meng-a-jak d-p-r un-tuk me-ner-bit-kan du-a un-dang un-dang be-sar.
Pada kalimat ketiga belas memiliki 28 jumlah suku kata
13. Pu-lu-han u-u yang meng-ham-bat pen-cip-ta-an la-pang-an ker-ja lang-sung di-re-vi-si se-ka-li-gus.
Pada kalimat keempat belas memiliki 30 jumlah suku kata
14. Po-ten-si ki-ta un-tuk ke-lu-ar da-ri je-ba-kan ne-ga-ra ber-peng-ha-si-lan me-neng-ah sang-at be-sar.
Pada kalimat kelima belas memiliki 31 jumlah suku kata
15. Pu-lu-han u-u yang meng-ham-bat peng-em-bang-an u-m-k-m ju-ga a-kan lang-sung di-re-vi-si se-ka-li-gus.
Pada kalimat keenam belas memiliki 32 jumlah suku kata
16. Tu-gas bi-rkra-si ki-ta i-tu men-ja-min a-gar man-fa-at prgram i-tu di-ra-sa-kan o-leh ma-sya-ra-kat.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
1. Intonasi yang terdapat dalam pidatonya, Jokowi banyak menggunakan nada tegas dan lembut yang telah menjadi ciri khas beliau sebagai pemimpin negara sama seperti periode sebelumnya dimana ia juga menjabat sebagai pemimpin negara berpasangan dengan bapak Yusuf Kalla. Penyampaian bapak Joko Widodo yang tenang menunjukan gaya kepemimpinannya yang stabil dan jelas demi mencapai target – target pemerintahan setiap tahun ia menjabat. Pada setiap kalimat – kalimat yang ia sampaikan hanya sedikit mengandung janji – janji dan lebih menekankan kepada ajakan bersama masyarakat dan para pejabat – pejabat tinggi negara untuk mencapai target – target jelas.
Sama sekali tidak terdapat tona sangat tinggi (4) atau nada fa dan hampir semua kalimat mengandung tona biasa (2) atau nada re pada pidato Joko Widodo. Hal tersebut menjadi hal yang lumrah karena pada dasarnya gaya berbicara bapak Joko Widodo yang tenang, membuat pembawaannya dalam berpidato juga tenang tetapi juga tegas.
2. Ritme pada pidato pelantikan presiden Joko Widodo periode II 2019-2024 hanya sedikit terdapat struktur kalimat dasar dan lebih banyak kalimat-kalimat yang mengandung struktur kalimat yang memiliki lebih dari satu klausa seperti terdapatnya induk kalimat dan anak kalimat, kalimat minor dan kalimat mayor, dsb.
5.2 Saran
1. Pidato politik memiliki kajian yang luas yang menyangkut berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini lebih menekankan kepada pengetahuan mengenai
intonasi dan ritme sehingga baik untuk dijadikan sebagai salah satu referensi penelitian dengan kajian lainnya seperti analisis wacana, semantik, morfologi, dan khususnya pada kajian fonologi untuk memahami motif di balik penyampaiannya.
2. Salah satu kelemahan dari penelitian ini yang ke depannya dapat menjadi fokus pertimbangan untuk penelitian berikutnya adalah objek penelitian berupa teks pidato yang menyangkut aspek kehidupan bernegara yang sangat luas, dan tidak bisa hanya dipandang dari satu aspek saja menjadikan penelitian ini mempunyai beragam macam asumsi makna di balik berbagai istilah yang bersifat interpretatif.
DAFTAR PUSTAKA
Afriani, S, H. 2017. ANALISIS UJI PERSEPSI: Intonasi Kalimat Perintah Bahasa Indonesia oleh Penutur Bahasa Jepang. (Jurnal) Vol.15 No.01. Tamaddun.
Alwi, H, dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi III cetakan ke-8. Balai Pustaka. Jakarta.
Halim, A. 1984. Intonasi Dalam Hubungannya Dengan Sintaksis Bahasa Indonesia.
Djambatan. Jakarta
Karomani. 2011. Keterampilan Berbicara. Matabaca. Ciputat Tangerang Selatan.
https://www.silabus.web.id/pidato/ . (online) diakses 27 November 2019.
Kudadiri, A. 2016. Fonologi Bahasa Indonesia I. Diktat. Medan.
Lapoliwa, H. 1988. Pengantar Fonologi I : Fonetik. Cetakan ke-1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Mahsun. 2017. Metode Penelitian Bahasa “Tahapan, Strategi, Metode, dan Tekniknya”.
Edisi I Cetakan ke-9. Rajawali Pers. Depok.
Maulidah, N. 2016. Intonasi Ceramah KH Achmad Choirul Muchlis. (Skripsi). Surabaya.
Muslich, M. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia “Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia”. Edisi I cetakan ke-2. Bumi Aksara. Jakarta.
Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik – Kualitatif. Tarsito. Bandung.
Ridho, M. 2017. Intonasi Agitatif dalam Pidato Soekarno. (Jurnal). Vol.01 No.01. 0 - 216.
Ritonga, P. 2018. Bahasa Indonesia Praktis. Bartong Jaya. Medan.
Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Cetakan ke-1. Sanata Dharma University Press.
Yogyakarta.
Suhandang, K. 2009. Retorika : Strategi, Teknik dan Taktik Berpidato. Cetakan ke-1.
Nuansa. Bandung.
Sumiati, S. 2011. Nilai Religiusitas Pada Dua Puisi Karya Abdul Hadi W.M. (Puisi Tuhan Kita Begitu Dekat dan Puisi Meditasi). (Skripsi). Jakarta.
Suwiryo, A. I. 2008. Tuturan Bermakna Perintah Berdasarkan Intonasi Imperatif, Deklaratif, dan Interogatif dalam Komedi Situasi Office Boy. (Skripsi). Depok.
Tantawi, I. 2014. Bahasa Indonesia Akademik. Ciptapustaka Media. Bandung.
Wikipedia. 2020. Joko Widodo. https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo# . (online) diakses 21 September 2020
Yuhesdi, L, dkk. 2019. Rethorika Khatib Dalam Penyampaian Khutbah Jumat. (Jurnal).
Vol.02 No.02. Al-Hikmah.
LAMPIRAN
~
PIDATO PRESIDEN RI
PADA SIDANG PARIPURNA MPR RI DALAM RANGKA
PELANTIKAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TERPILIH PERIODE 2019-2024
Jakarta, 20 Oktober 2019
Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,
Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.
Yang saya hormati para Pimpinan dan seluruh anggota MPR RI;
Yang saya hormati Bapak Prof Dr KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia;
Yang saya hormati Ibu Hj Megawati Soekarnoputeri, Presiden ke-5 Republik Indonesia;
Yang saya hormati Bapak Prof Dr Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 Republik Indonesia;
Yang saya hormati Bapak Hamzah Haz, Wakil Presiden ke-9 Republik Indonesia;
Yang saya hormati Bapak Prof Dr Boediono, Wakil Presiden ke-11 Republik Indonesia;
Yang saya hormati Bapak Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia;
Yang mulia yang saya hormati kepala negara dan pemerintahan serta utusan khusus dari negara-negara sahabat;
Yang saya hormati para pimpinan lembaga-lembaga tinggi negara;
Dan tentu saja, sahabat baik saya, Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Sandiaga Uno, para tamu yang saya hormati;
Bapak, Ibu, Saudara-Saudara sebangsa dan se-Tanah Air,
Mimpi kita, cita-cita kita, di tahun 2045, pada satu abad Indonesia merdeka, mestinya Insya Allah Indonesia telah keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah, Indonesia telah menjadi negara maju dengan pendapatan menurut hitung-hitungan Rp 320 juta per kapita per tahun atau Rp 27 juta per kapita per bulan.
Itulah target kita. Itulah target kita bersama.
Mimpi kita di tahun 2045, Produk Domestik Bruto Indonesia mencapai 7 triliun dollar AS dan Indonesia sudah masuk 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen.
Kita harus menuju ke sana.
Kita sudah hitung-hitung, kita sudah kalkulasi. Target tersebut sangat masuk akal dan sangat memungkinkan untuk kita capai.
Namun, semua itu tidak datang otomatis. Tidak datang dengan mudah. Harus disertai kerja keras dan kita harus kerja cepat. Harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif.
Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, yang sangat kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas yang monoton.
Harusnya, inovasi bukan hanya pengetahuan. Inovasi adalah budaya.
Ini cerita sedikit. Lima tahun yang lalu, tahun pertama saya di istana, saya mengundang pejabat dan masyarakat untuk halal-bihalal. Protokol meminta saya untuk berdiri di titik itu, saya ikut. Tahun pertama, saya ikut.
Tahun kedua, ada halal-bihalal lagi. Protokol meminta saya berdiri di titik yang sama, di titik itu lagi.
Langsung saya bisik-bisik, saya bilang ke Mensesneg, “Pak, ayo kita pindah lokasi. Kalau kita tidak pindah, ini akan menjadi kebiasaan, di titik itu lagi. Dan itu akan dianggap sebagai aturan. Dan kalau diteruskan bahkan nantinya akan dijadikan seperti undang-undang.”
Duduknya apa, berdirinya di situ terus. Ini yang namanya monoton dan rutinitas.
Sekali lagi, mendobrak rutinitas adalah satu hal dan meningkatkan produktivitas adalah hal lain yang menjadi prioritas kita. Jangan lagi kerja kita berorientasi pada proses, tapi harus berorientasi pada hasil, hasil yang nyata.
Saya sering mengingatkan kepada para menteri, tugas kita bukan hanya membuat dan melaksanakan kebijakan, tetapi tugas kita adalah membuat masyarakat menikmati pelayanan, menikmati pembangunan.
Sering kali birokrasi melaporkan bahwa program sudah dijalankan, anggaran telah dibelanjakan, dan laporan akuntabilitas telah selesai.
Kalau ditanya, jawabnya “Programnya sudah terlaksana, Pak.” Tetapi, setelah dicek di lapangan, setelah saya tanya ke rakyat, ternyata masyarakat belum menerima manfaat.
Ternyata rakyat belum merasakan hasilnya.
Sekali lagi, yang utama itu bukan prosesnya. Yang utama itu adalah hasilnya.
Dan cara mengeceknya itu mudah. Lihat saja ketika kita mengirim pesan melalui SMS atau WA. Di situ ada sent, artinya telah terkirim. Ada delivered, artinya telah diterima. Tugas kita itu menjamin delivered, bukan hanya menjamin sent.
Dan saya tidak mau birokrasi pekerjaannya hanya sending-sending saja. Saya minta dan akan saya paksa bahwa tugas birokrasi adalah making delivered. Tugas birokrasi kita itu menjamin agar manfaat program itu dirasakan oleh masyarakat.
~
Para hadirin dan seluruh rakyat Indonesia yang saya banggakan,
Potensi kita untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah sangat besar. Saat ini, kita sedang berada di puncak bonus demografi, di mana penduduk usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif.
Ini adalah tantangan besar dan sekaligus juga sebuah kesempatan besar. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan lapangan kerja.
Tapi akan menjadi kesempatan besar, peluang besar, jika kita mampu membangun SDM yang unggul. Dan dengan didukung oleh ekosistem politik yang kondusif dan didukung oleh ekosistem ekonomi yang kondusif.
Oleh karena itu, lima tahun ke depan yang ingin kita kerjakan:
Yang pertama adalah pembangunan SDM. Pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama kita.
Membangun SDM yang pekerja keras, yang dinamis. Membangun SDM yang terampil, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengundang talenta-talenta global untuk bekerja sama dengan kita.
Itu pun, tidak bisa diraih dengan cara-cara lama. Cara-cara baru harus dikembangkan. Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita.
Kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan. Dan juga penggunaan teknologi yang mempermudah jangkauan ke seluruh pelosok negeri.
Yang kedua, pembangunan infrastruktur akan kita lanjutkan.
Infrastruktur yang menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.
Yang ketiga, segala bentuk kendala regulasi harus kita sederhanakan, harus kita potong, harus kita pangkas.
Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar. Yang pertama, UU Cipta Lapangan Kerja. Yang kedua, UU Pemberdayaan UMKM.
Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU.
Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus.
Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi sekaligus.
Yang keempat, penyederhanaan birokrasi harus terus kita lakukan besar-besaran.
Investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan. Prosedur yang panjang harus dipotong.
Birokrasi yang panjang harus kita pangkas. Eselonisasi harus disederhanakan. Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV, apa enggak kebanyakan?
Saya akan minta untuk disederhanakan menjadi 2 level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, yang menghargai kompetensi.
Saya juga minta kepada para menteri, para pejabat, para birokrat, agar serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan.
Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, sekali lagi saya pastikan, pasti akan saya copot.
Pada akhirnya, yang kelima adalah transformasi ekonomi.
Kita harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
~
Para hadirin dan seluruh rakyat Indonesia yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang bersejarah ini, perkenankan saya atas nama pribadi, atas nama Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, dan atas nama seluruh rakyat Indonesia, menyampaikan
terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Drs Muhammad Jusuf Kalla yang telah bahu-membahu menjalankan pemerintahan selama 5 tahun terakhir.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh lembaga-lembaga negara, kepada jajaran aparat pemerintah, TNI dan Polri, serta seluruh komponen bangsa yang turut mengawal pemerintahan selama 5 tahun ini, sehingga dapat berjalan dengan baik.
Mengakhiri pidato ini, saya mengajak bapak, ibu, saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air untuk bersama-sama berkomitmen:
Pura babbara’ sompekku…
Pura tangkisi’ golikku…
Layarku sudah terkembang…
Kemudiku sudah terpasang…
Kita bersama, menuju Indonesia maju!!!
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Semoga Tuhan Memberkati,
Om Shanti Shanti Shanti Om, Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.
~
LATAR BELAKANG JOKO WIDODO Masa Kecil dan Keluarga
Joko Widodo lahir dari pasangan Widjiatno Notomihardjo dan Sudjiatmi. Ia merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Ia sebenarnya memiliki seorang adik laki-laki bernama Joko Lukito, tetapi meninggal saat persalinan. Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono. Ayahnya berasal dari Karanganyar, sementara kakek dan neneknya berasal dari sebuah desa di Boyolali.
Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 112 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah.
Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan sehari-hari. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai bekerja sebagai penggergaji di umur 12 tahun. Jokowi kecil telah mengalami penggusuran rumah sebanyak tiga kali. Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali pada masa kecil mempengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.
Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta. Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.
Jokowi menikah dengan Iriana di Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak, yaitu Gibran Rakabuming Raka (1988), Kahiyang Ayu (1991), dan Kaesang Pangarep (1995).
Masa Kuliah dan Berwirausaha
Dengan kemampuan akademis yang dimiliki, ia diterima di Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan judul skripsi "Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta". Selain kuliah, ia juga tercatat aktif sebagai anggota Mapala Silvagama.
Setelah lulus pada 1985, ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh, dan ditempatkan di area Hutan Pinus Merkusii di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Namun ia merasa tidak betah dan pulang menyusul istrinya yang sedang hamil tujuh bulan. Ia bertekad berbisnis di bidang kayu dan bekerja di usaha milik pamannya, Miyono, di bawah bendera CV Roda Jati.
Pada tahun 1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Usahanya sempat berjaya dan juga naik turun karena tertipu pesanan yang akhirnya tidak dibayar. Namun pada tahun 1990 ia bangkit kembali dengan pinjaman modal Rp30 juta dari Ibunya.
Usaha ini membawanya bertemu Micl Romaknan, yang akhirnya memberinya panggilan yang populer hingga kini, "Jokowi". Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dan bisa berkeliling Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya yaitu daerah Surakarta.
Kiprah Politik
Wali Kota Surakarta
Pada pilkada kota Solo pada tahun 2005, Jokowi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju sebagai calon wali kota Surakarta. Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut dengan persentase suara sebesar 36,62%. Setelah terpilih, dengan berbagai pengalaman pada masa muda, ia mengembangkan Solo yang sebelumnya buruk penataannya dan menghadapi berbagai penolakan masyarakat untuk ditertibkan. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan dan menjadi kajian di universitas dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah kemampuan komunikasi politik Jokowi yang berbeda dengan kebanyakan gaya komunikasi politik pemimpin lain pada masa itu, yang menjadi kajian riset mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, bus Batik Solo Trans diperkenalkan, berbagai kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan, dan Solo menjadi tuan rumah berbagai acara internasional. Selain itu, Jokowi juga dikenal akan pendekatannya dalam merelokasi pedagang kaki lima yang "memanusiakan manusia". Berkat pencapaiannya ini, pada tahun 2010, ia terpilih lagi sebagai Wali Kota Surakarta dengan suara melebihi 90%.
Kemudian, pada tahun 2012, ia dicalonkan oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta
Pilkada 2012
Jokowi diminta secara pribadi oleh Jusuf Kalla untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012. Karena merupakan kader PDI Perjuangan, maka Jusuf Kalla meminta dukungan dari Megawati Soekarnoputri, yang awalnya terlihat masih ragu. Sementara itu, Prabowo Subianto dari Partai Gerindra juga melobi PDI Perjuangan agar
bersedia mendukung Jokowi sebagai calon gubernur karena membutuhkan 9 kursi lagi untuk
bersedia mendukung Jokowi sebagai calon gubernur karena membutuhkan 9 kursi lagi untuk