INTONASI DAN RITME DALAM PIDATO PELANTIKAN PRESIDEN JOKO WIDODO PERIODE II 2019 - 2024
KAJIAN FONOLOGI
OLEH :
DAVID ANDREAS P. L NIM: 160701010
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : David Andreas Panahan Laut
NIM : 160701010
Jurusan : Sastra Indonesia
Fakultas : Ilmu Budaya USU
Judul : “Intonasi Dan Ritme Dalam Pidato Pelantikan Presiden Joko Widodo Periode II 2019 – 2024 Kajian Fonologi”
Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memeroleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila pernyataan yang saya buat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.
Medan, 19 Oktober 2020
Penulis,
David Andreas P. L
INTONASI DAN RITME DALAM PIDATO PELANTIKAN PRESIDEN JOKO WIDODO PERIODE II 2019 – 2024
KAJIAN FONOLOGI
SKRIPSI
OLEH
DAVID ANDREAS PANAHAN LAUT
NIM 160701010
ABSTRAK
Skripsi ini mendeskripsikan : Intonasi dan ritme dalam pidato pelantikan presiden Joko Widodo Periode ke-2 tahun 2019 – 2024. Masalah yang diteliti adalah bagaimana intonasi yang terdapat dalam video pidato dengan menentukan pola variasi nada dalam intonasi kalimat dilambangkan dengan angka arab (1,2,3) atau garis dan bagaimana ritme yang terdapat dalam pidato pelantikan presiden Joko Widodo berdasarkan setiap struktur kalimat dasar. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode simak. Teknik yang digunakan adalah teknik dasar sadap dengan teknik lanjutan yaitu teknik simak libat bebas cakap (SLBC). Metode penelitian data menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang dilanjutkan dengan teknik dasar pilah unsur tertentu (PUP). Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan teori Fonologi, Intonasi, dan Ritme. Selanjutnya, hasil penelitian ini pada intonasi dan ritme yang terjadi dalam video pidato pelantikan presiden Joko Widodo periode ke-2 ditentukan jenis-jenis kalimatnya seperti kalimat deklaratif (berita), kalimat interogatif (tanya), dan kalimat imperatif (perintah).
Kata Kunci : Pidato, Presiden, Intonasi, Ritme, dan Jenis Kalimat.
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Intonasi Dan Ritme Dalam Pidato Pelantikan Presiden Joko Widodo Periode II 2019-2024 ( Kajian Fonologi ). Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan memeroleh gelar Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis telah banyak menerima bantuan, bimbingan, pengarahan, saran-saran, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada :
1. Dr. Budi Agustono, M.S, sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya, dan juga Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, dan Wakil Dekan III.
2. Drs. Haris Sutan Lubis, M.SP, sebagai Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
3. Drs. Amhar Kudadiri, M.Hum, sebagai Sekretaris Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, juga sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan banyak bimbingan, dukungan, dan waktu untuk mengoreksi serta memberi jalan keluar atas setiap permasalahan yang penulis hadapi demi kesempurnaan skripsi ini.
4. Dra. Salliyanti, M.Hum, sebagai dosen penguji yang telah memberikan arahan, masukan, dan kritik yang sangat berguna bagi penulis.
5. Dr. Dwi Widayati, M.Hum, sebagai dosen penguji yang telah memberikan arahan, masukan, dan kritik yang sangat berguna bagi penulis.
6. Seluruh Staf Pengajar Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pengetahuan, baik dalam bidang
linguistik, sastra, serta bidang yang lain. Tidak lupa pula saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Slamet dan Bapak Djoko yang telah membantu penulis dalam hal administrasi di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
7. Kedua orangtua saya, Ayahanda Pinonda Siagian dan Ibunda Asnah Magdauli Hutapea, yang sudah mendukung saya dalam perkuliahan ini dan selalu mendoakan saya sampai saya bisa menyelesaikan skripsi ini, terima kasih selalu sabar dan memberi kasih sayang yang penuh.
8. Kakak-kakak saya Nova Fransiska Siagian, Cipta Dwi Damai Artha Siagian, Anggraeni Oktavia Siagian, dan Yolanda Soraya Siagian yang sudah mendukung dan mendoakan saya sampai skripsi selesai.
9. Kedua paman dan bibi saya, Juanda Hutapea dan Sondang Romauli Tobing, yang sudah menyediakan tempat tinggal bagi saya selama saya kuliah merantau ke kota Medan.
10. Buat teman baik saya Rahmat Pirmanto Saruksuk dan Julwan Syahrizal atas dukungan dan dorongan serta motivasi yang telah diberikan pada saya, terima kasih.
11. Buat teman spesial saya Jessica Josephine Hutagalung atas dukungan, dorongan, serta motivasi dan doa yang telah diberikan pada saya, terima kasih.
12. Seluruh angkatan 2016 Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu, terima kasih karena selalu memberi dukungan, dorongan, motivasi, dan pengetahuan dalam proses pembuatan skripsi saya.
Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran membangun untuk menyempurnakan hasil penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Medan, 19 Oktober 2020
Penulis,
David Andreas P. L
DAFTAR ISI
PERNYATAAN... i
ABSTRAK ... ii
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Batasan Masalah ... 4
1.3 Rumusan Masalah ... 4
1.4 Tujuan Penelitian ... 5
1.5 Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Konsep ... 6
2.1.1 Intonasi ... 6
2.1.2 Ritme ... 8
2.1.3 Jenis Kalimat ... 8
2.1.4 Pidato. ... 9
2.1.5 Fonologi ... 9
2.2 Landasan Teori... 9
2.3 Tinjauan Pustaka ... 10
3.1 Data dan Sumber Data ... 16
3.2 Metode Penelitian ... 16
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 17
3.4 Analisis Data ... 18
BAB IV PEMBAHASAN ... 21
4.1 Latar Belakang Singkat Joko Widodo ... 21
4.2 Intonasi Kalimat Dilihat dari Bentuk Sintaksis ... 22
4.2.1 Kalimat Deklaratif ... 22
4.2.2 Kalimat Imperatif ... 39
4.2.3 Kalimat Interogatif ... 50
4.3 Ritme Kalimat Dilihat dari Struktur Kalimat Dasar ... 51
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 55
5.1 Simpulan ... 55
5.2 Saran ... 55
DAFTAR PUSTAKA ... 57
LAMPIRAN... 59
Teks Pidato Pelantikan Presiden Joko Widodo Periode II 2019-2024 ... 59
Latar Belakang Joko Widodo... 67
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa lambang bunyi, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Pengertian bahasa itu meliputi dua bidang yaitu : bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan arti atau makna yang tersirat dalam arus bunyi itu sendiri.
Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengaran kita, serta arti atau makna adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan adanya reaksi terhadap hal yang kita dengar.
Bahasa Indonesia dalam konteks sosial adalah kedudukan bahasa Indonesia sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi (Suwito, 1985 : 19 dalam Ritonga P – dkk, 2018 : 6).
Penggunaan bahasa dalam komunikasi, hendaknya dapat memenuhi syarat-syarat komunikasi sehingga kemungkinan adanya salah paham dapat ditekan sekecil-kecilnya. Hal ini berarti bahwa materi bunyi harus dapat ditata sesuai dengan kaidah bahasa yang bersangkutan, diucapkan dengan jelas dan ketepatan yang wajar dengan intonasi yang berlaku dalam bahasa itu, serta menggunakan kalimat yang tidak berbelit-belit sehingga komunikasi dapat terlaksana dengan baik.
Terkait dengan bunyi bahasa yang merupakan intonasi dalam berbahasa yang berlaku, penulis terdorong untuk meneliti tentang intonasi dan ritme yang terjadi pada percakapan satu arah melalui pidato yang disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pelantikan presiden periode II 2019 – 2024, dengan kajian Fonologi.
Pidato merupakan wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. Pidato umumnya ditujukan kepada orang atau sekumpulan orang untuk menyatakan selamat,
menyambut kedatangan tamu, memeringati hari-hari besar tertentu dan lain sebagainya (Karomani, 2011: 12).
Pada pidato yang disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pelantikan presiden periode II 2019 – 2024, penulis ingin meneliti dan mendengarkan tentang bagaimana sang presiden berbicara mengeluarkan intonasi berbahasa terkait dengan kalimat- kalimat yang diujarkan sesuai dengan jenis-jenis kalimat yaitu kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif).
Berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya, jenis kalimat lazim dibagi atas (1) kalimat deklaratif atau kalimat berita, (2) kalimat imperatif atau kalimat perintah, (3) kalimat interogatif atau kalimat tanya, dan (4) kalimat eksklamatif atau kalimat seru (Alwi, H.
Dardjowidjojo, S. Lapowila, H. & Moeliono Anton, M. 2010 : 344).
Berbeda dengan nada, intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Bahkan, dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Pola variasi nada dalam intonasi kalimat bisa dilambangkan dengan angka arab (1,2,3) atau garis (Muslich M, 2009 : 115). Variasi-variasi nada pun bisa dipakai untuk menyatakan perbedaan makna pada tataran kata dan perbedaan maksud pada tataran kalimat. Pada tataran kata, variasi-variasi pembeda makna disebut tona, yang ditandai dengan angka arab [1] untuk nada rendah setingkat nada do, [2] untuk nada biasa setingkat nada re, [3] untuk nada tinggi setingkat nada mi, dan [4] untuk nada paling tinggi setingkat nada fa.
Contoh :
- Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun.
“Inovasi adalah budaya.”
(Pola variasi nada dalam intonasi kalimat dengan lambang garis)
“Inovasi adalah budaya.”
2 33 / 2 33 / 2 31t# (Pola variasi nada dalam intonasi kalimat dengan angka arab)
- Kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-naik.
“Eselon satu, eselon dua, eselon tiga, eselon empat, apa enggak kebanyakan?”
(Pola variasi nada dalam intonasi kalimat dengan lambang garis)
“Eselon satu, eselon dua, eselon tiga, eselon empat, apa enggak kebanyakan?"
3 31 / 3 31 / 3 31 / 3 31 / 3 31 / 3 31 / 2 31 / 2 31 / 1 32 / 2 33 n#
(Pola variasi nada dalam intonasi kalimat dengan angka arab)
- Kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi.
“Puluhan Undang-Undang yang menghambat pengembangan UMKM
juga akan langsung direvisi sekaligus.”
(Pola variasi nada dalam intonasi kalimat dengan lambang garis)
“Puluhan Undang-Undang yang menghambat pengembangan UMKM 3 33 / 2 21 / 2 21 /
juga akan langsung direvisi sekaligus.”
2 21 / 2 31g#
(Pola variasi nada dalam intonasi kalimat dengan angka arab)
Intonasi dalam berbahasa sering muncul dalam situasi percakapan sehari-hari yang dalam bentuk lisan baik secara bertatap muka, maupun percakapan satu arah. Baik secara langsung maupun melalui media online.
Pengertian ritme, kita berbicara tentang ritme jika kita membahas pola pemberian aksen pada kata dalam untaian tuturan (kalimat). Bahasa Indonesia mengikuti ritme yang berdasarkan jumlah suku kata: makin banyak suku kata, makin lama pula waktu untuk pelafalannya. (Kudadiri, A. 2016 : 53).
Contoh ritme adalah sebagai berikut : Inovasi /adalah /budaya.
Yang utama itu /adalah /hasilnya.
Kedua kalimat pada contoh di atas merupakan kalimat yang memilki struktur sama yaitu subjek, predikat, dan objek. Kalimat 2 pada contoh di atas dilafalkan dengan waktu yang lebih lama daripada kalimat 1 karena jumlah suku kata yang ada pada kalimat kedua itu lebih banyak daripada jumlah suku yang ada pada kalimat pertama.
Situasi percakapan satu arah yang menghasilkan intonasi dan ritme salah satunya adalah dengan berpidato.
1.2 Batasan Masalah
Pada kesempatan ini penelitian dibatasi hanya pada intonasi jenis kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif) serta ritme dalam setiap struktur kalimat dasar berbahasa Indonesia dalam pidato pelantikan presiden Joko Widodo Periode II, tahun 2019-2024. Kajian fonologi.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian, pokok permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah intonasi berbahasa yang diucapkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024 dalam setiap jenis kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif) ?
2. Bagaimanakah ritme berbahasa yang diucapkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024 ?
1.4 Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan tentang intonasi berbahasa yang diucapkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024 dalam setiap jenis kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif).
2. Mendeskripsikan ritme berbahasa yang diucapkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat Teoretis
Hasil pembahasan ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan wawasan mengenai teori tentang intonasi dan ritme berbahasa Indonesia oleh Bapak Presiden Joko Widodo.
Manfaat Praktis
1. Mendalami bagaimana cara orang nomor 1 di Indonesia dalam berbahasa Indonesia terkait intonasi dan ritme berbahasa melalui pidato yang disampaikan pada pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024.
2. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi peneliti, yang ingin meneliti pada bidang-bidang lain baik itu semantik, morfologi, analisis wacana, dll
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Rumusan konsep harus mengacu kepada pendapat ahli atau kamus, kecuali istilah atau konsep yang sudah umum (Tantawi I, 2014 : 56).
Penelitian intonasi dan ritme dalam pidato pelantikan presiden Joko Widodo periode II ini memiliki beberapa konsep, yaitu :
2.1.1 Intonasi
Berbeda dengan nada, intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Bahkan, dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Pola variasi nada dalam intonasi kalimat bisa dilambangkan dengan angka (1,2,3) atau garis (Muslich M, 2009 : 115).
Gejala intonasi, atau gejala prosodi, mempunyai hubungan yang erat dengan struktur kalimat dan dengan interelasi kalimat dalam sebuah wacana. Dengan kata lain, intonasi dan hubungannya dengan kalimat harus diteliti sekiranya kita bermaksud menjelaskan struktur kalimat sampai sejauh kemampuan penutur-pendengar (Halim A, 1984 : 77).
Interpretasi fonologis terhadap keluaran komponen sintaksis tata bahasa dapat dianggap memiliki dua tipe gambaran — gambaran segmental dan gambaran nonsegmental (atau prosodi). Yang pertama dimanifestasikan oleh bunyi ujaran dalam tingkat penampilan (yaitu ujaran sebenarnya) dan dikelola dengan subkomponen fonologis - segmental dari komponen fonologis tata bahasa. Gambaran fonologis total sebuah kalimat tanpa gambaran
segmentalnya adalah gambaran nonsegmental (satu prosodi)nya. Inilah yang dinamakan intonasi (Halim A, 1984 : 78).
Menurut Amran Halim (1984 : 14), penjelasan Notasional adalah sebagai berikut :
/ Jeda nonfinal (atau, percobaan), menandai akhir sebuah kelompok jeda nonfinal.
# Jeda final, menandai akhir sebuah kelompok jeda final kalimat atau akhir sebuah kelompok jeda medial wacana.
1 Tinggi nada tingkat 1 (satu), atau 'rendah'.
2 Tinggi nada tingkat 2 (dua), atau 'sedang', atau 'netral'.
3 Tinggi nada tingkat 3 (tiga), atau 'tinggi'.
Intonasi adalah lagu kalimat. Kalimat diucapkan dengan lagu/perhentian yang berbeda, dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda koma. (Tantawi, I. 2014 : 9)
Contoh : 1a) Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru.
1b) Dalam dunia, yang penuh risiko yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru.
Kalimat 1a) dan 1b) hanya dibedakan oleh letak tanda koma dan menimbulkan makna yang berbeda. Kalimat 1a) menjelaskan bahwa di dalam dunia ini banyak resiko serta dunia ini adalah dunia yang sangat dinamis dan yang kompetitif, masyarakat harus mengembangkan cara-cara baru dan nilai-nilai baru; sedangkan pada kalimat 1b) menjelaskan bahwa di dalam dunia ini banyak resiko yang sangat dinamis juga dunia yang kompetitif dimana masyarakat perlu mengembangkan cara-cara baru dan nilai-nilai baru.
Intonasi dalam berbahasa sering muncul dalam situasi percakapan sehari-hari yang dalam bentuk lisan baik secara bertatap muka, maupun percakapan satu arah. Baik secara langsung maupun melalui media online.
Penggunaan intonasi yang tidak sesuai dapat menciptakan kalimat taksa (ambigu).
Kalimat taksa adalah kalimat yang bermakna lebih dari satu. (Tantawi, I. 2014 : 18) Perhatikan contoh berikut :
1a) Membangun SDM yang terampil, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
1b) Membangun SDM, yang terampil yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kalimat 1a) dan 1b) benar. Namun, kedua kalimat tersebut mengandung arti yang berbeda.
Kalimat 1a) mengandung arti membangun SDM yang terampil untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; sedangkan kalimat 1b) mengandung arti membangun SDM yang hanya terampil dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.1.2 Ritme
Pengertian ritme, kita berbicara tentang ritme jika kita membahas pola pemberian aksen pada kata dalam untaian tuturan (kalimat). Bahasa Indonesia mengikuti ritme yang berdasarkan jumlah suku kata: makin banyak suku kata, makin lama pula waktu untuk pelafalannya. (Kudadiri, A. 2016 : 53).
Contoh ritme adalah sebagai berikut : Inovasi /adalah /budaya.
Yang utama itu /adalah /hasilnya.
Kedua kalimat pada contoh di atas merupakan kalimat yang memilki struktur sama yaitu subjek, predikat, dan objek. Kalimat 2 pada contoh di atas dilafalkan dengan waktu yang lebih lama daripada kalimat 1 karena jumlah suku kata yang ada pada kalimat kedua itu lebih banyak daripada jumlah suku yang ada pada kalimat pertama.
2.1.3 Jenis Kalimat
Berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya, jenis kalimat lazim dibagi atas (1) kalimat deklaratif atau kalimat berita, (2) kalimat imperatif atau kalimat perintah, (3) kalimat
interogatif atau kalimat tanya, dan (4) kalimat eksklamatif atau kalimat seru (Alwi, H.
Dardjowidjojo, S. Lapowila, H. & Moeliono Anton, M, 2010 : 344).
2.1.4 Pidato
Pidato atau istilah bahasa Inggris disebut public speaking, pada hakikatnya adalah berbicara di muka umum, baik langsung maupun tidak. Langsung dalam artian si pembicara langsung berkomunikasi secara berhadapan muka (face to face) dengan hadirinnya. Namun pidato pun bisa dilakukan secara tidak langsung, yaitu berbicara melalui media massa untuk konsumsi umum. Dalam hal ini pesan komunikasi atau materi pembicaraan disalurkan dari si pembicara melalui media massa kepada khalayak (Suhandang, K. 2009 : 207).
Pidato merupakan wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. Pidato umumnya ditujukan kepada orang atau sekumpulan orang untuk menyatakan selamat, menyambut kedatangan tamu, memeringati hari-hari besar tertentu dan lain sebagainya (Karomani, 2011: 12).
2.1.5 Fonologi
Menurut Chomsky dan Halle (dalam Kudadiri, A. 2016 : 3) Fonologi adalah “piranti penafsir’ yang menjembatani struktur luar (surface structure) dengan bentuk fonetisnya.
Fonologi hanyalah satu sistem dari keseluruhan sistem bahasa manusia. Oleh karena itu, sistem bunyi yang fonologis itu memperoleh masukan (input) dari sistem bahasa lainnya, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. (Kudadiri, A. 2016 : 5).
2.2 Landasan Teori
Teori yang digunakan dalam mengkaji Intonasi berbahasa Indonesia dalam bahasa pidato presiden yaitu teori Masnur Muslich yang mengatakan bahwa berbeda dengan nada, intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Bahkan, dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat
berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Pola variasi nada dalam intonasi kalimat bisa dilambangkan dengan angka (1,2,3) atau garis (Muslich M, 2009 : 115).
Teori yang digunakan dalam mengkaji intonasi dan ritme berbahasa Indonesia dalam bahasa pidato presiden yaitu teori Masnur Muslich yang mengatakan bahwa bidang sintaksis, yang konsentrasi analisisnya pada tataran kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat seru/perintah yang ketiganya mempunyai makna yang berbeda, dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologi, yaitu tentang intonasi. Begitu juga, persoalan jeda dan tekanan pada kalimat, yang ternyata bisa membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia (Muslich M, 2009 : 3).
Intonasi mengacu ke naik turunnya nada dalam pelafalan kalimat, sedangkan ritme mengacu ke pola pemberian tekanan pada kata dan kalimat (Kudadiri, A. 2016 : 51).
Teori yang digunakan dalam mengkaji Intonasi berbahasa Indonesia dalam bahasa pidato presiden yaitu teori Amhar Kudadiri yang mengatakan bahasa Indonesia mengikuti ritme yang berdasarkan jumlah suku kata: makin banyak suku kata, makin lama pula waktu untuk pelafalannya. (Kudadiri, A. 2016 : 53).
2.3 Tinjauan Pustaka
Penelitian yang berkaitan tentang Intonasi dan Ritme Berbahasa Indonesia pernah diteliti sebelumnya oleh :
1. Susi Herti Afriani, Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia dalam skripsi berjudul “ANALISIS UJI PERSEPSI: Intonasi Kalimat Perintah Bahasa Indonesia oleh Penutur Bahasa Jepang” 2015.
Menurut Afriani, salah satu faktor yang membuat pendengar memahami sebuah ujaran, baik itu kalimat tanya atau perintah, adalah intonasi dari penutur atau pembicara. Intonasi itu sendiri merupakan gejala prosodi, hubungannya erat dengan struktur kalimat dan interelasi kalimat dalam sebuah wacana.
Penelitan Afriani ini berfokus pada pendapat Halim yang mengungkapkan bahwa untuk memahami intonasi seorang penutur, diperlukan pengenalan karakterisasi intonasi bahasa Indonesia, seperti (i) pola intonasi (total); (ii) kelompok jeda; (iii) kontur, baik prakontur maupun kontur pokok atau kontur primer dan (iv) fonem intonasi yang meliputi tingkat tinggi nada (TT), tekanan, dan jeda. Akan tetapi, penelitian ini hanya menjelaskan masalah intonasi kalimat perintah bahasa Indonesia oleh penutur bahasa Jepang, dengan analisis karakterisasi intonasi bahasa Indonesia yang dikemukakan oleh Halim (1984: 80), dibatasi pada pembuktian hipotesis bahwa penutur asli bahasa Jepang yang berbahasa Indonesia mempunyai pola intonasi yang berbeda dengan karakterisasi intonasi bahasa Indonesia.
2. Luthfi Yuhesdi, dkk , Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol, Padang dalam Jurnal berjudul “Rethorika Khatib Dalam Penyampaian Khutbah Jum’at” 2019.
Menurut Luthfi Yuhesdi dkk, kiranya seorang khatib jum’at dalam menyampaikan pesan dakwahnya harus bisa menggunakan retorika yang baik sehingga isi pesan yang disampaikan dapat diterima dan dimengerti oleh mad’unya, dari kacamata ilmu, retorika itu seni kemahiran berbicara. (T.A. Lathief Rousydiy : 2005) Seorang khatib adalah orang yang mahir, ahli berbicara (Zulhasan Latif : 2011) atau berpidato dihadapan umum. Kemahiran dan keahliannya seorang khatib dalam menyampaikan khotbah harus didukung oleh tata bahasa
yang baik, lancar, dan benar sehingga dapat mempengaruhi sikap dan perasaan jamaah (Yusuf Zainal Abidin : 2013) yang mendengar khotbah.
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab seorang khatib harus mempunyai kemampuan dan pengalaman yang luas serta teruji, agar tugas yang dilaksanakannya bisa berjalan dengan baik dan lancar, sehingga masyarakatnya merasa puas. (Tohir M Natsir : 1999). Hal ini tentu menghendaki bahwa setiap khatib harus memiliki beberapa kemampuan yaitu, (i) Kemampuan berkomunikasi, (ii) Kemampuan penguasaan diri, (iii) Kemampuan pengetahuan psikologis, (iv) Kemampuan pengetahuan kependidikan, dan (v) Kemampuan pengetahuan di bidang pengetahuan umum.
3. Nafisatul Maulidah, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dalam skripsi berjudul “Intonasi Ceramah KH Achmad Choirul Muchlis” 2016.
Menurut Maulidah, intonasi adalah lagu kalimat. Di dalam intonasi tercakup nada, tempo cepat lambatnya pembacaan, tekanan (pada bagian yang dianggap penting), jeda (penghentian sesaat), dan volume (keras tidaknya ucapan). Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa intonasi suara berkontribusi sebesar 37% dari pesan yang ingin kita sampaikan, sedangkan isi pesan tersebut hanyalah 7% (sisanya sebesar 56% adalah bahasa tubuh). jika ada ketidak sinkronan dari intonasi suara dan isi perkataaan anda, maka yang dipercaya oleh si penerima pesan adalah komponen yang persentasenya lebih besar (dalam hal ini intonasi).
Intonasi merupakan faktor penting dalam menyampaikan materi dakwah bagi seorang da’i. Jika ada ketidak sinkronan dari intonasi suara dan isi ceramah para da’i, maka yang dipercaya oleh si penerima pesan adalah komponen yang persentasenya lebih besar (dalam hal ini intonasi). Jadi sangatlah penting untuk menyelaraskan intonasi suara dengan pesan
yang hendak kita sampaikan supaya audiens juga tidak sampai mensalahartikan pesan yang hendak kita sampaikan. Apabila di dalam penyampaian dakwah, seorang da’i tidak memberikan warna dan penyajian, maka isi pidato yang disampaikan akan menjadi kurang menarik dan bahkan tidak menarik sama sekali. Oleh karena memberikan warna penekanan di setiap kalimat-kalimat yang penting sesuai dengan apa yang akan disampaikan dan efek yang diharapkan, dijiwai dengan kehidupan, dan kualitas pribadi seorang da’i yang bisa memberikan daya tarik bagi audiens.
4. Adhika Irlang Suwiryo, Program Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia dalam skripsi berjudul “Tuturan Bermakna Perintah Berdasarkan Intonasi Imperatif, Deklaratif, dan Interogatif dalam Komedi Situasi Office Boy” 2008.
Menurut Suwiryo kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, mempunyai ciri utama berupa intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. Ada berbagai jenis kalimat, salah satunya adalah jenis kalimat menurut amanat wacana (Kridalaksana, 1999:192). Atas dasar amanat wacana, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan, dan kalimat perintah. Kalimat perintah sendiri terbagi ke dalam lima jenis, yaitu perintah biasa, larangan, ajakan, peringatan, dan penyilaan (Kridalaksana, 1999: 193).
Dasar kategori kalimat lain yang diungkapkan oleh Kridalaksana (1999) adalah intonasi.
Berdasarkan intonasi, kalimat dalam bahasa Indonesia terbagi menjadi lima macam. Kelima macam kalimat tersebut adalah deklaratif, interogatif, imperatif, aditif, reponsif, dan ekslamatif.
5. Maziatur Ridho, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya dalam jurnal berjudul “Intonasi Agitatif dalam Pidato Soekarno.” 2017.
Menurut Ridho, intonasi dalam kajian bahasa berperan penting dalam komunikasi lisan, khususnya pidato. Hal tersebut dikarenakan dalam sebuah pidato biasanya tersirat suatu maksud dan tujuan tertentu yang ingin disampaikan oleh penuturnya, seperti tujuan mempengaruhi, mengajak, atau menggerakkan. Melalui penggunaan intonasi yang tepat, tujuan atau maksud yang ingin disampaikan oleh penuturnya akan lebih jelas dan mudah tersampaikan. Selain itu, sikap atau emosi penutur ketika mengujarkan kata atau kalimat yang menyiratkan maksud tersebut juga lebih tampak secara jelas. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pane (Halim, 1984:28 dalam Ridho, M. 2017 : 2), yang menyatakan bahwa intonasi memiliki fungsi emosional, yaitu menyampaikan arti emosional dari penutur.
Selain dari segi bahasa berupa kata atau kalimat yang digunakan dalam pidato Soekarno, penggunaan intonasi yang menunjukkan suatu sikap atau emosi Soekarno pada saat mengujarkan kata atau kalimat yang sifatnya agitatif tersebut juga menjadi ciri khas dalam pidato Soekarno. Sikap atau emosi Soekarno tersebut dapat ditunjukkan dari penggunaan intonasinya di setiap akhir tuturan yang dapat berupa alir nada naik dan alir nada turun.
Intonasi merupakan bagian dari fonetik suprasegmental yang mengkaji tentang frekuensi fundamental dari gelombang bunyi yang dihasilkan oleh getaran pita suara. Intonasi juga dapat dikatakan sebagai lagu kalimat atau rima kalimat. Penjelasan tersebut sejalan dengan pemikiran Pane (Halim, 1984:28 dalam Ridho, M. 2017 : 2) yang menjelaskan bahwa intonasi merupakan lagu kalimat atau rima kalimat yang keduanya merupakan ekspresi tekanan kalimat. Lagu kalimat dalam hal ini menyampaikan arti emosional, sedangkan rima kalimat mengandung arti gramatikal. Menurut Keraf (1991 dalam Ridho, M. 2017 : 2)
intonasi merupakan kerja sama antara nada, tekanan, durasi, dan perhentian-perhentian yang menyertai suatu tutur, dari awal hingga perhentian yang terakhir.
6. Sri Sumiati, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dalam skripsi berjudul “Nilai Religiusitas Pada Dua Puisi Karya Abdul Hadi W.M. (Puisi Tuhan Kita Begitu Dekat dan Puisi Meditasi)” 2011.
Menurut Sumiati, irama pada umumnya sering disamakan dengan istilah ritme. Padahal irama sebetulnya ada dua macam, yaitu ritme dan metrum. Akan tetapi, karena metrum hanya ada dalam teori Barat yang sulit diaplikasikan pada puisi Indonesia, maka istilah irama dan ritme sering digunakan secara bergantian. Pengertian irama selalu memiliki ciri-ciri : (1) pengulangan bunyi, (2) pengertian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek, dan (3) memiliki keteraturan. Ketiga ciri tersebut pada akhirnya membentuk suatu alunan merdu, indah, dan enak didengar.
Ritme ialah pengulangan bunyi abik pada suku kata, kata, frase, maupun kalimat yang teratur, terus menerus, tidak terputus – putus, bagaikan air yang mengalir, sedangkan metrum ialah irama yang tetap. Artinya, pergantiannya sudah tetap dan mengikuti pola tertentu.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Data dan Sumber Data
Data primer dikumpulkan dengan menggunakan metode simak. Metode penyediaan data melalui cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa disebut metode simak. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2017 : 91). Data sekunder dikumpulkan dengan menggunakan metode studi pustaka. Studi pustaka adalah penelitian yang menggunakan buku sebagai objek penelitian (Tantawi I, 2014 : 61).
Data sekunder berupa tulisan pidato yang berisi informasi pengetahuan mengenai intonasi dan ritme berbahasa dalam fonologi dan sintaksis yang didapat dari sumber studi pustaka.
Objek yang dijadikan sumber dalam penelitian ini adalah pada pidato yang disampaikan secara lisan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024 yang tepat disampaikan seusai pelantikan presiden Joko Widodo periode II pada hari Minggu (20/10/2019).
3.2 Metode Penelitian
Pendekatan penelitian ini dipilih berdasarkan kesesuaian terhadap objek dan tujuan penelitian. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terbagi atas dua bagian, yaitu pendekatan secara teoretis dan pendekatan secara metodologis. Pendekatan secara teoretis dalam penelitian ini adalah fonologi. Pendekatan fonologi mengkaji bahasa dalam kaitannya dengan bunyi bahasa dan bentuk fonetisnya, sebagai “piranti penafsir” yang menjembatani struktur luar (surface structure) dengan bentuk fonetisnya (Duran, 1990 dalam Kudadiri, A. 2016 : 3).
Pendekatan metodologis yang digunakan adalah metodologi penelitian kualitatif.
Pendekatan kualitatif ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya (Nasution S, 1996 : 5). Namun pada kesempatan ini, penulis hanya berusaha memahami bahasa melalui penelitian terhadap media video. Pada pendekatan ini, prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang diamati dan perilaku yang diamati.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini mencakup dua macam data, yaitu data primer berupa data lisan dari video dan teks pidato menggunakan metode simak (pengamatan/observasi). Metode Simak memiliki teknik dasar yang disebut teknik sadap.
Berdasarkan jenis datanya, maka teknik dasar yang dipakai dalam pengumpulan data adalah teknik sadap, yang bertujuan untuk mendapatkan data dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang, peneliti juga menggunakan teknik lanjutan yang pertama yaitu teknik simak libat bebas cakap (SLBC), contohnya peneliti hanya berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh para informannya. Tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan bahasanya yang sedang diteliti (Mahsun, 2017 : 92). Dalam teknik simak dilakukan penyimakan terhadap pidato yang disampaikan secara lisan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan presiden periode II, tahun 2019-2024.
Penulis akan melaksanakan pengumpulan data selama dua minggu untuk mempersiapkan alat-alat penelitian seperti laptop, headset, dan internet untuk mengunduh video pidato pelantikan bapak Presiden Joko Widodo periode ke-2.
3.4 Analisis Data
Analisis data yang dilakukan oleh penulis ialah menggunakan metode padan dengan menggunakan teknik dasar yaitu teknik pilah unsur tertentu (PUP) yang bertujuan dengan daya pilah sebagai pembeda reaksi dan kadar keterdengaran.
Adapun dalam kaitannya dengan mitra wicara dapat dibedakan pula adanya reaksi yang bermacam-macam dari padanya di samping kadar keterdengaran olehnya. Dalam hal reaksi ialah empat hal berikut.
(i) Bertindak menuruti atau menentang apa yang diucapkan oleh si pembicara atau si penutur.
(ii) Berkata dengan isi yang informatif.
(iii) Tergerak emosinya.
(iv) Diam tetapi menyimak dan berusaha mengerti bahkan memahami apa yang diucapkan oleh si pembicara atau penutur; dan reaksi yang lain-lain lagi.
Dalam hal kadar keterdengaran ialah tiga hal berikut.
(v) Terdengar keras bertekanan atau biasa.
(vi) Terdengar melengking tinggi atau biasa.
(vii) Terdengar cepat atau biasa.
Kesemuanya itu dapat diketahui juga berkat daya pilah yang digunakan oleh si peneliti.
Berdasarkan hal yang disebutkan pada (i) sampai dengan (vii) itu maka satuan lingual lalu dapat dibedakan misalnya menjadi (i) sampai dengan (vii) berikut:
(i) kalimat perintah;
(ii) kalimat tanya;
(iii) kalimat afekti;
(iv) kalimat berita;
(v) topik;
(vi) kalimat seru;
(vii) segmen kalimat atau gatra; dan yang lain.
Dalam hal ini, yang bertanda (i) berhubungan dengan aktivitas yang bertanda (i); yang bertanda (ii) berhubungan dengan aktivitas yang bertanda (ii); demikian seterusnya.
(Sudaryanto, 2015 : 30).
Contoh Intonasi :
1. Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar.
2. Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, yang sangat kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru.
3. Yang kedua, UU Pemberdayaan UMKM.
4. Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU.
1. Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar.
Reaksi (i)
Kadar Keterdengaran (v) Satuan Lingual (iv)
2. Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, yang sangat kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru.
Reaksi : (i)
Kadar keterdengaran : (vi) Satuan Lingual : (i)
3. Yang kedua, UU Pemberdayaan UMKM.
Reaksi : (ii)
Kadar keterdengaran : (vi) Satuan Lingual : (iv)
4. Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU.
Reaksi : (ii)
Kadar Keterdengaran : (vi) Satuan Lingual : (iv) Contoh ritme :
Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar.
Pe-me-rin-tah a-kan meng-a-jak d-p-r un-tuk me-ner-bit-kan du-a un-dang un-dang be-sar.
Pada kalimat di atas memiliki 26 jumlah suku kata.
Penulis akan melaksanakan penganalisisan data selama tiga minggu untuk menyimak dan menganalisis video pidato pelantikan bapak Presiden Joko Widodo periode ke-2 guna memeroleh data deskriptif berupa intonasi, pola, dan penjelasan dari kumpulan intonasi tersebut dan ritme-ritme serta penjelasan dari pidato tersebut berdasarkan jenis kalimat yang sudah ditetapkan yaitu kalimat berita, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif.
BAB IV
PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
4.1 Latar Belakang Joko Widodo
Ir. H. Joko Widodo atau Jokowi (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 59 tahun) adalah Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014. Terpilih dalam Pemilu Presiden 2014, Jokowi menjadi Presiden Indonesia pertama sepanjang sejarah yang bukan berasal dari latar belakang elite politik atau militer Indonesia. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan kembali terpilih bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam Pemilu Presiden 2019. Jokowi pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur. Sebelumnya, ia adalah Wali Kota Surakarta (Solo), sejak 28 Juli 2005 hingga 1 Oktober 2012 didampingi F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota. Dua tahun menjalani periode keduanya menjadi Wali Kota Solo, Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), untuk bertarung dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Joko Widodo berasal dari keluarga sederhana, bahkan rumahnya pernah digusur sebanyak tiga kali ketika dia masih kecil, tetapi ia mampu menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Setelah lulus, dia menekuni profesinya sebagai pengusaha mebel. Karier politiknya dimulai dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005. Namanya mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah Kota Surakarta menjadi kota pariwisata, kota budaya, dan kota batik. Pada tanggal 20 September 2012, Jokowi berhasil memenangi Pilkada Jakarta 2012. Kemenangannya dianggap mencerminkan
dukungan populer untuk seorang pemimpin yang "muda" dan "bersih", meskipun umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun.
Semenjak terpilih sebagai gubernur, popularitasnya terus melambung dan menjadi sorotan media. Akibatnya, muncul wacana untuk menjadikannya calon presiden untuk pemilihan umum presiden Indonesia 2014. Ditambah lagi, hasil survei menunjukkan, nama Jokowi terus unggul. Pada awalnya, Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa ia tidak akan mengumumkan calon presiden dari PDI Perjuangan sampai setelah pemilihan umum legislatif 9 April 2014. Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Jokowi menerima mandat dari Megawati untuk maju sebagai calon presiden, tiga minggu sebelum pemilihan umum legislatif dan dua hari sebelum kampanye.
4.2 Intonasi Kalimat Dilihat dari Bentuk Sintaksis
4.2.1 Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif, yang juga dikenal dengan nama kalimat berita dalam buku-buku tata bahasa Indonesia, secara formal, jika dibandingkan dengan ketiga jenis kalimat yang lainnya, tidak bermarkah khusus. Dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara/penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya.
Dengan demikian, kalimat berita dapat berupa bentuk apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitaan. Dalam bentuk tulisannya, kalimat berita dengan tanda titik. Dalam bentuk lisan, suara berakhir dengan nada turun (Alwi. H ; dkk, 2010 : 360).
Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun.
Kalimat-kalimat deklaratif yang terdapat pada pidato pelantikan presiden Joko Widodo periode II 2019 – 2024 adalah sebagai berikut :
1. Itulah target kita.
1 2 2/ 22 1t#
-Terdapat empat tona biasa dan dua tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
2. Itulah target kita bersama.
2 33 /2 33/ 2 3 1t#
-Terdapat lima tona tinggi, tiga tona biasa, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona tinggi (3) atau nada mi, beberapa tona biasa (2) atau nada re, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
3. Kita sudah hitung-hitung, kita sudah kalkulasi.
1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 21t#
-Terdapat delapan tona biasa dan empat tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
4. Target tersebut sangat masuk akal dan sangat memungkinkan untuk kita capai.
2 2 1 / 1 2 2 / 2 21/2 21/1 2 2 / 1 2 1t#
-Terdapat sebelas tona biasa dan tujuh tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
5. Namun, semua itu tidak datang otomatis.
2 31/ 2 3 3 / 1 22/ 1 2 2/ 2 21t#
-Terdapat delapan tona biasa, empat tona rendah, dan tiga tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
6. Tidak datang dengan mudah.
2 3 3 / 2 2 1t#
-Terdapat dua tona biasa, tiga tona tinggi, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
7. Inovasi adalah budaya.
2 33 / 2 33 / 2 31t#
-Terdapat lima tona tinggi, tiga tona biasa, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona tinggi (3) atau nada mi, beberapa tona biasa (2) atau nada re, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
8. Ini cerita sedikit.
1 2 2 / 2 21t#
-Terdapat empat tona biasa dan dua tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
9. Lima tahun yang lalu, tahun pertama saya di istana, saya mengundang pejabat dan
1 2 2 / 2 2 1/ 1 2 2 / 2 2 1/ 1 22/1 2 2 / 1 22/1 22/
masyarakat untuk halal-bihalal.
1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat dua puluh tona biasa dan sepuluh tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
10. Protokol meminta saya untuk berdiri di titik itu, saya ikut.
2 33 / 2 3 3 / 2 2 1 / 1 2 1/ 1 2 1t#
-Terdapat enam tona biasa, lima tona rendah, dan empat tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
11. Tahun pertama, saya ikut.
2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat lima tona biasa dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
12. Tahun kedua, ada halal-bihalal lagi.
3 3 2 / 2 2 1t#
-Terdapat tiga tona biasa, dua tona tinggi, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
13. Protokol meminta saya berdiri di titik yang sama, di titik itu lagi.
3 3 3 / 2 3 3 / 1 22 / 2 2 2 /2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat sebelas tona biasa, lima tona tinggi, dan dua tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
14. Kalau kita tidak pindah, ini akan menjadi kebiasaan, di titik itu lagi.
2 2 2 / 2 2 1 / 2 2 1 / 2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat dua belas tona nada biasa dan tiga tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
15. Dan itu akan dianggap sebagai aturan.
3 3 3 / 3 3 2 / 2 2 1t#
-Terdapat tona lima tona tinggi, tiga tona biasa, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona tinggi (3) atau nada mi, beberapa tona biasa (2) atau nada re, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
16. Dan kalau diteruskan bahkan nantinya akan dijadikan seperti undang-undang.”
2 3 3 / 3 3 2 /2 21/ 2 2 1/ 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat sepuluh tona biasa, empat tona rendah, dan empat tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan beberapa tona rendah (1) atau nada do dan tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
17. Duduknya apa, berdirinya di situ terus.
3 3 2 / 3 3 3 / 3 32/2 21t#
-Terdapat tujuh tona tinggi, empat tona biasa, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona tinggi (3) atau nada mi, beberapa tona biasa (2) atau nada re, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
18. Ini yang namanya monoton dan rutinitas.
122/1 2 2/ 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat delapan tona biasa dan empat tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
19. Sekali lagi, mendobrak rutinitas adalah satu hal dan meningkatkan produktivitas
3 3 2 / 2 2 1 / 2 2 1 / 1 21/ 2 3 3 / 3 2 2 / adalah hal lain yang menjadi prioritas kita.
1 2 2/2 3 3 /1 22/1 2 2 /1 2 2/2 21t#
-Terdapat dua puluh tona biasa, sembilan tona rendah, dan tujuh tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada mi, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
20. Sering kali birokrasi melaporkan bahwa program sudah dijalankan, anggaran telah
1 2 2 / 1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1 / 3 3 di belanjakan, dan laporan akuntabilitas telah selesai.
2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 3 3 2 / 2 2 1t#
-Terdapat delapan belas tona nada biasa, delapan tona rendah, dan empat tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
21. Kalau ditanya, jawabnya “Programnya sudah terlaksana, Pak.”.
1 2 2 / 1 2 2 / 2 2 2 / 2 2 2 / 1 2 1t#
-Terdapat sebelas tona nada biasa dan empat tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
22. Tetapi, setelah dicek di lapangan, setelah saya tanya ke rakyat, ternyata masyarakat
2 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 3 3 / 3 3 2 / 1 2 2 / 2 2 2 / belum menerima manfaat.
2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat dua puluh tona biasa, enam tona rendah, dan empat tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona nada rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
23. Ternyata rakyat belum merasakan hasilnya.
2 3 3 / 2 3 3 / 3 2 2t#
-Terdapat lima tona tinggi dan empat tona biasa.
-Intonasi yang terdengar banyak tona tinggi (3) atau nada mi dan sedikit tona biasa (2) atau nada re.
-Tidak ada tona rendah (1) atau nada do dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
24. Sekali lagi, yang utama itu bukan prosesnya.
3 3 2 / 3 2 2 / 2 3 2t#
-Terdapat lima tona biasa dan empat tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona rendah (1) atau nada do dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
25. Yang utama itu adalah hasilnya.
2 3 3 / 3 3 2 / 1 2 1t#
-Terdapat empat tona tinggi, tiga tona biasa, dan dua tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona tinggi (3) atau nada mi, beberapa tona biasa (2) atau nada re, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
26. Dan cara mengeceknya itu mudah.
1 2 2 / 2 2 1 / 2 2 1t#
-Terdapat enam tona biasa dan tiga tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
27. Lihat saja ketika kita mengirim pesan melalui SMS atau WA.
1 2 1 / 2 2 1 / 1 2 1/ 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat delapan tona biasa dan tujuh tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
28. Di situ ada sent, artinya telah terkirim.
1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 1 2 1t#
-Terdapat tujuh tona biasa dan lima tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
29. Ada delivered, artinya telah diterima.
121/ 1 2 1 / 1 2 2/ 2 2 1t#
-Terdapat enam tona biasa dan enam tona rendah.
-Intonasi yang terdengar jumlah tona biasa (2) atau nada re dan tona rendah (1) atau nada do adalah sama.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
30. Potensi kita untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan
2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 1 2 2 /
menengah sangat besar.
2 2 1 / 2 2 1t#
-Terdapat enam belas tona biasa dan lima tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
31. Saat ini, kita sedang berada di puncak bonus demografi, dimana penduduk usia
2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1 / 2 2 1 / 2 2 1 / 2 produktif jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif.
2 1 / 2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat dua puluh dua tona nada biasa dan lima tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
32. Ini adalah tantangan besar dan sekaligus juga sebuah kesempatan besar.
2 2 2 / 2 2 1 / 1 2 1 / 1 2 1 / 2 2 1t#
-Terdapat sembilan tona biasa dan enam tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
33. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan lapangan kerja.
3 3 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat sebelas tona biasa, lima tona rendah, dan dua tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
34. Tapi akan menjadi kesempatan besar, peluang besar, jika kita mampu membangun
3 3 2 / 3 3 2 / 3 3 2 / 1 2 2 / 2 2 1 / SDM yang unggul.
2 2 1t#
-Terdapat sembilan tona biasa, enam tona tinggi, dan tiga tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
35. Dan dengan didukung oleh ekosistem politik yang kondusif dan didukung oleh
121/1 2 2 / 1 2 2 / 2 21 / 1 2 2 / 1 2 2 / ekosistem ekonomi yang kondusif.
1 2 2 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat tujuh belas tona biasa dan sembilan tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
36. Yang pertama adalah pembangunan SDM.
1 2 2 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat enam tona biasa dan tiga tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
37. Membangun SDM yang pekerja keras, yang dinamis.
2 2 1 / 2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat tujuh tona biasa dan dua tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
38. Membangun SDM yang terampil, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
2 2 2 / 2 2 1 / 2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat tiga belas tona biasa dan dua tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
39. Itu pun, tidak bisa diraih dengan cara-cara lama.
1 2 1 / 1 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat delapan tona biasa dan empat tona rendah
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
40. Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita.
3 3 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 1 2 1/ 2 2 1t#
-Terdapat delapan tona biasa, lima tona rendah, dan dua tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
41. Kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan.
1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat delapan tona biasa dan empat tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
42. Dan juga penggunaan teknologi yang mempermudah jangkauan ke seluruh
1 2 1 / 1 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1 / 1 2 1 /
pelosok negeri.
2 2 1t#
-Terdapat sebelas tona biasa dan tujuh tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
43. Infrastruktur yang menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi,
2 2 2 / 2 3 3 / 3 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1 / yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja
2 3 3 / 3 2 2 / 2 2 1 / 2 3 3 / 3 2 2 / 2 baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.
2 1 / 2 2 1 / 2 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat dua puluh sembilan tona biasa, sembilan tona tinggi, dan tujuh tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
44. Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar.
2 2 2 / 1 2 2 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat sembilan tona biasa dan tiga tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
45. Yang pertama, UU Cipta Lapangan Kerja.
1 2 1 / 1 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat lima tona biasa dan empat tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
46. Yang kedua, UU Pemberdayaan UMKM.
2 3 3 / 3 2 2 / 2 2 1t#
-Terdapat lima tona biasa, tiga tona tinggi, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
47. Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU
1 2 2 / 2 2 1 / 1 2 1 / 2 2 1 / 1 21 / 1 2 2 / yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU.
2 3 3 / 3 3 2 / 2 2 1 / 2 2 1t#
-Terdapat enam belas tona biasa, sepuluh tona rendah, dan empat tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
48. Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung
2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1 / 2 3 2 / direvisi sekaligus.
3 2 2t#
-Terdapat lima belas tona biasa, dua tona tinggi, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
49. Pada akhirnya, yang kelima adalah transformasi ekonomi.
2 2 2 / 2 2 1 / 1 2 1 / 2 2 1t#
-Terdapat delapan tona biasa dan empat tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
4.2.2 Kalimat Imperatif
Menurut Hasan Alwi ; dkk (2010 : 361) Perintah atau suruhan dan permintaan jika ditinjau dari isinya, dapat diperinci menjadi enam golongan:
1. Perintah atau suruhan biasa jika pembicara menyuruh lawan bicaranya berbuat sesuatu;
2. Perintah halus jika pembicara tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilakan lawan berbicara sudi berbuat sesuatu;
3. Permohonan jika pembicara, demi kepentingannya, minta lawan bicara berbuat sesuatu;
4. Ajakan dan harapan jika pembicara mengajak atau berharap lawan bicara berbuat sesuatu;
5. Larangan atau perintah negatif, jika pembicara menyuruh agar jangan dilakukan sesuatu;
dan
6. Pembiaran jika pembicara minta agar jangan dilarang.
Kalimat imperatif memiliki ciri formal seperti berikut.
1. Intonasi yang ditandai nada rendah di akhir tuturan,
2. Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, dan larangan.
3. Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subjek jika diperlukan, dan
4. Pelaku tindakan tidak selalu terungkap.
Kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi.
Kalimat-kalimat imperatif yang terdapat pada pidato pelantikan presiden Joko Widodo periode II 2019 – 2024 adalah sebagai berikut :
1. Kita harus menuju ke sana.
222/2 22 / 2 2 1g#
-Terdapat delapan tona biasa dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona tinggi (3) atau nada mi dan tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
2. Harus disertai kerja keras dan kita harus kerja cepat.
2 2 2 / 2 2 1 / 121/2 2 2 / 3 3 2g#
-Terdapat sepuluh tona biasa, tiga tona rendah, dan dua tona tinggi.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona rendah (1) atau nada do, dan sedikit tona tinggi (3) atau nada mi.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
3. Harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif.
3 3 3 / 2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1g#
-Terdapat delapan tona biasa, tiga tona tinggi, dan satu tona rendah.
-Intonasi yang terdengar banyak tona biasa (2) atau nada re, beberapa tona tinggi (3) atau nada mi, dan sedikit tona rendah (1) atau nada do.
-Tidak ada tona sangat tinggi (4) atau nada fa.
4. Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, yang sangat kompetitif,
1 2 2 / 2 2 3 / 2 3 3 / 2 2 1 / 2 3 3 / 2 2 1 / kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru.
2 2 2 / 2 2 2 / 2 2 1 / 2 2 1g#
-Terdapat dua puluh tona biasa, lima tona rendah, dan lima tona tinggi.