• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ritual Pertanian Individual

BAB IV RITUAL Keboan DESA ALIYAN PASCA

B. Ritual Pertanian Individual

Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari dunia ritual dan sosial, karena keduanya sebagai bentuk manifestasi ekspresi manusia

yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Esa, atau kekuatan gaib yang menguasai alam semesta dan eksistensi manusia yang satu dengan yang lainnya. Ritus adalah dimensi ekspresif dari agama, ia selalu mempunyai dua dimensi yang antara satu dengan lainnya tak dapat dipisahkan. Dimensi pertama adalah hubungan seseorang dengan yang kudus, sedangkan dimensi kedua adalah hubungan seseorang dengan yang lain. hubungan dengan yang kudus diekspresikan melalui ritus, selalu sekaligus memperkokoh hubungan antara seseorang dengan yang lain. Oleh karena itu, ritus selalu merupakan tindakan sosial (Darmaputra, 1992:83).

Bagi masyarakat agraris seperti masyarakat Using di Banyuwangi, ritus sawah atau selanjutnya disebut sebagai slametan sawah me-rupakan ekspresi lokalitas yang telah mendapat legitimasi secara budaya dan menjadi bahan pengetahuan lokal yang secara institusi pengetahuan itu tidak ada yang berani melanggarnya. Slametan

pertama-tama dimaksudkan untuk memuaskan roh-roh setempat, bagi terutama penduduk desa yang mayoritas adalah petani. Roh-roh yang terpuaskan diyakini tidak akan mengganggu mereka dalam bercocok tanam. Slametan tidak hanya mengungkap aspek mistik saja, tetapi juga kesatuan sosial para pesertanya. Peserta tidak terikat pada kepercayaan agamiah tertentu, semua tetangga dekat diundang dan tanpa memandang agama dan kepercayaannya (Darmaputra, 1992: 84). Dengan demikian, Slametan sawah merupakan wujud dari ekspresi hal-hal tersebut dan peserta slametan sawah merupakan kesatuan kolektivitas yang mendukung keberadaan ritus tersebut, dalam hal ini masyarakat Using.

Slametan tidak terlepas dari sesajen atau istilah orang Using menyebutnya dengan Peras. Sesajen mempunyai makna yang khusus, Koentjaraningrat dengan mengutip J.Van Baal seorang antropolog Belanda, mengatakan bahwa suatu sedekah (baca: sesajen) adalah suatu pemberian, dan bahwa suatu pemberian terutama merupakan cara untuk berkomunikasi simbolis dan untuk berpartisipasi dalam kehidupan serta pekerjaan dari orang yang diberi, dan bukan hanya

merupakan cara untuk memuaskan hubungan fisik seseorang untuk

sebagai suatu pemberian, sedekah (baca: sesajen) merupakan suatu alat untuk berkomunikasi secara simbolik dengan makhluk-makhluk gaib. Dengan demikian, setiap benda yang terdapat di atas tampah itu harus dianggap sebagai benda-benda yang dipergunakan sebagai alat untuk tujuan tersebut tadi (Koentjaraningrat, 1974)

Ritus atau slametan sawah selalu dilakukan oleh petani Using, uniknya setiap sawah mempunyai ciri khas tersendiri dalam beritual, jadi sawah satu dengan sawah yang lain meskipun berdekatan, tetapi perangkat slametannya berbeda-beda. hal ini disebabkan dulunya nenek moyang yang membuka sawah tersebut mempunyai nadzar

yang berbeda-beda sehingga ritus sawah sangat beragam dan unik. Berikut proses ritus sawah yang dilakukan oleh masyarakat Using. Ritual yang ada kaitannya dengan pertanian secara individual di Desa Aliyan masih banyak dilakukan oleh para petani. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Bam (April 2015) ritual yang sampai sekarang masih dilakukan oleh petani meliputi Labuh Tandur, ngrujaki, Metik (wiwit), Labuh nggampung, ngunjal/nylameti Lumbung.

Labuh Tandur. Ritual labuh tandur ini dilakukan sehari sebelum tanam. hal ini untuk menentukan jumlah bibit yang akan ditanam berjumlah dua belas batang satu tancapan. Pada hari pertama adalah melakukan slametan labuh tandur yang diikuti simbolisasi penanaman padi hanya di tempat-tempat tertentu. Labuh tandur sedekahnya adalah Kinangan dan Sega urap dengan kelapa, coloki menyan. Kedua sedekah tersebut ditaruh di uangan (tempat pertama kali air masuk di petak sawah).

Sedangkan adeg-adeg yang akan ditancapkan di tulakan sawah adalah tangkai pohon jarak beserta daunnya dan pohon laos beserta daunnya serta tangkai pohon dringo dan daunnya, serta tangkai pohon

kluwih beserta daunnya. Tujuan dari ditancapi pohon-pohon tersebut agar tanaman padi terbebas dari hama penyakit.

ngrujaki (nylameti pari meteng). Ritual ini menggunakan sarana sedekah Rujak Letog atau rujak buah yang berisi buah-buahan dan bahkan umbi-umbian seperti: timun, jambu kluthuk, kates, dan sawi

(ketela) yang dibuat sebagai rujak. Selain Rujak Letog sarana sedekahnya yang lain adalah Sega Punar (beras ketan yang diurap dengan kelapa

yang dikasih gula aren yang sudah dicairkan) kesemuanya baik rujak letog dan sega punar diletakkan di ethuk dan diletakkan di empat penjuru pematang sawah (salah satunya di uangan) dan satu ethuk

diletakkan di tengah sawah sebagai pusat keselamatan.

Dalam ritus ini memaknai bahwa ritual ini wujud petani dalam memenuhi ngidamnya padi yang berupa Rujak Letog dan Sega Punar. Selamatannya juga memakai Tumpeng Pecel Pitik dengan menyertai

duwo memohon keselamatan atas padi-padi yang ditanam agar terbebas dari hama penyakit.

Methik. Upacara methik dilakukan pada waktu petani akan panen. Kata methik artinya memotong tangkai padi, juga dapat diartikan ’menjemput’. Dalam hal ini dapat diartikan, upacara methik adalah men jemput Dewi Sri, dewi padi. Upacara ini dilakukan untuk meng-hormati Dewi Sri dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya diberi hasil panen yang melimpah.

Perlengkapan sesaji untuk ritual methik ini antara lain: nasi tumpeng (nasi golong dengan lauk pauk), kendhi berisi air putih, pisang setangkep, sebatang tebu, gembili, uwi, kacang, jadhah putih, jenang abang, lepat lepet, bunga telon dan godhongan. Tangkai padi yang dipotong dibawa pulang, disimpan untuk campuran bibit padi tanam berikutnya.

Labuh nggampung. Ritus selanjutnya adalah labuh nggampung, awal dari sebuah panen padi. Banyak ekspresi dalam melakukan ritual ini karena pesan dari nenek moyang yang bernadzar berbeda-beda. Tetapi, pada umumnya cara melakukan ritual ini sama, yakni me motong beberapa tangkai padi kemudian dikelabang (dijalin) 3 lanjaran seperti mengelabang rambut manusia, kemudian diminyaki, dibedaki, diberikan kaca layaknya wanita berhias, kemudian ditalikan kinangan (sirih yang diberi kapur lalu dilipat-lipat), uang gobang, lalu juga ditalikan bunga pecari atau sundel yang berwarna putih.

Sedekah slametannya adalah menggunakan Tumpeng Pecel Pitik

dan diduwoni dengan keselamatan agar padinya dan para pemanennya selamat semua. Ada beberapa kasus yang pada selametan labuh nggampung didahului dengan permainan tajen atau aduan ayam

meminum arak sebagai syarat, meskipun sedikit. Ayam yang kalah akan dimasak Uyah asem yang nantinya disuguhkan kepada orang-orang yang membantu labuh nggampung. Dalam kasus ini wragade

(kelengkapannya) adalah tape buntut, arang-arang, jenang dodol, apem mbleg, gedang goreng, coloki menyan, dan wanci kinangan.

Dalam tulisan Indiarti dkk., (2013: 92) dijelaskan bahwa Labuh nggampung merupakan prosesi kegiatan panen yang diawali dengan doa sebagai bentuk rasa syukur bahwa tanamannya memberikan hasil yang baik. Dalam prosesi ini yang harus disiapkan adalah lawe, bedak, cermin kecil, jarit kuwung, sisir, kembang telon (bunga tiga warna). Semuanya itu diletakkan di ruangan agar roh penjaga padi (Dewi Sri) memakainya untuk berhias. Prosesi ini juga dulunya dimanfaatkan oleh warga untuk mengadakan tunangan (bakalan). Pasangan yang akan bertunangan didandani dengan pakaian khas Using lalu melaksanakan prosesi di tengah sawah yang padinya sedang dipanen. hidangan yang dibuat adalah kue-kue sederhana seperti pisang goreng, nagasari, tape buntut, ketan rokok, apem bleg, kucur, dan lain-lain.

ngunjal dan nylameti Lumbung. Dalam tulisan Indiarti dkk., (2013: 92) dijelaskan bahwa prosesi ngunjal adalah proses mengangkut padi ke rumah sebagai bentuk syukur atas panen melimpah dan bisa dibawa pulang. Zaman dahulu ketika lumbung masih menjadi satu kesatuan dan bagian dari kehidupan petani, maka diadakan nylameti Lumbung. Selamatan ini sedekahnya berupa: tumpeng srakat dan

jenang abang. Sedangkan sandingannya (sesajen) berupa: banyu arum, pitung tawar, lenga klenthik, garu, wedak. Semua sandingan tersebut diletakkan di atas padi yang telah diikat secara ringgian.

Dokumen terkait