Penulis dilahirkan di Kota Padang panjang, Sumatera Barat pada tanggal 9 Maret 1981 sebagai anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari pasangan Suherman dan Nadiar. Telah menikah dengan Deddy Syefria dan dikaruniai satu orang anak; Haura Dayyini Syaqila.
Tahun 1999 penulis lulus SMA Negeri 3 Padang dan diterima di Universitas Andalas melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Jurusan Teknik Lingkungan , Fakultas Teknik dan lulus tahun 2003.
Pada tahun 2003 penulis diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil bertugas di Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi kemudian tahun 2008 penulis mendapat tugas di Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang. Tahun 2011 penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah pasca sarjana dan diterima pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB dengan bantuan pembiayaan dari Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Pusbindiklatren Bappenas).
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan terhadap air minum terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitasnya (Labadie 2004). Air minum dalam konteks ini adalah sumber air bersih untuk air minum, baik yang berasal dari sumber terlindungi, sumber tidak terlindungi, dan air perpipaan (Bappenas 2007).
Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok. Pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum rumah tangga merupakan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dilakukan dengan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pemenuhan kebutuhan air minum tersebut dapat dilakukan dengan sistem perpipaan atau non perpipaan sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
Pengembangan SPAM merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah terhadap Millennium Development Goals (MDG) atau tujuan pembangunan global. MDG disepakati secara internasional oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium PBB. Terdapat 8 tujuan dan 18 target MDG yang dideklarasikan dalam Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanggal 18 September 2000 tentang Deklarasi Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tujuan ketujuh dan target kesepuluh MDG adalah menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2015. Pencapaian Indonesia untuk target ini sebesar 47.71% pada tahun 2009, sedangkan target tahun 2015 adalah 68.87%, sehingga dibutuhkan perhatian khusus untuk meningkatkan akses terhadap air minum agar target dapat tercapai (Bappenas 2010).
Akses penduduk terhadap air minum di kawasan perkotaan terus mengalami penurunan menurut Laporan Pencapaian MDG Indonesia 2010, dimana penduduk perkotaan yang mendapatkan akses air minum pada tahun 2001 adalah 59.50% dan tahun 2009 turun menjadi 49.82%, sedangkan target akses terhadap air minum penduduk perkotaan yang harus dicapai pada tahun 2015 cukup tinggi yaitu 75.29%. Relatif rendahnya akses terhadap air minum tersebut mencerminkan tingkat pembangunan infrastruktur air minum belum bisa menyamai pertumbuhan penduduk khususnya di daerah perkotaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah fasilitas air minum yang tidak terawat dan tidak dikelola secara berkelanjutan.
Penyediaan air minum di kawasan perkotaan umumnya ditangani oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Penyediaan air minum yang lebih andal (reliable) dan lebih sehat adalah penyediaan air minum sistem perpipaan (Bappenas 2007). Disamping itu penyediaan air minum yang disarankan adalah air dengan sumber yang terlindungi.
2
Sistem penyediaan air minum di Kota Bogor ditangani oleh PDAM Tirta Pakuan sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Bogor. Data produksi PDAM Tirta Pakuan tahun 2011 mencatat bahwa pelanggan yang dilayani sebesar 103 841 pelanggan atau sekitar 56.28%penduduk kota, dengan kapasitas produksi 1 499 liter/detik dan debit distribusi sebesar 1 416 liter/detik. Untuk mencapai target MDG, penduduk yang terlayani tahun 2015 adalah 70.50%, dan target tahun 2031 sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor Tahun 2011-2031, adalah 87.71%. Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan perencanaan penyediaan air minum yang mengikuti pertumbuhan dan perkembangan kota untuk mencapai target tersebut.
Studi Environmental Health Risk Assesment (EHRA) yang dilaksanakan oleh Bappeda Kota Bogor tahun 2010, mencatat bahwa penduduk Kota Bogor yang menggunakan PDAM sebesar 43.78%, menggunakan sumur (sumur dangkal, sumur bor, sumur gali, dan sumur tidak terlindungi) sebesar 44.85%, menggunakan mata air 3.61%, dan lainnya 7.78%. Studi EHRA menemukan sekitar 10.50% rumah tangga mengalami kelangkaan dari sumber air yang digunakan dalam satu tahun terakhir (Bappeda 2010)
Sumber utama air baku PDAM Tirta Pakuan berasal dari Sungai Cisadane dan empat mata air yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane Hulu, yaitu Mata air Tangkil, Mata air Bantarkambing, Mata air Kotabatu dan Mata air Palasari. Keandalan mata air sebagai air baku yang ekonomis mengalami penurunan terus menerus karena dampak meningkatnya konversi lahan di catchment area. Sementara air baku dari Sungai Cisadane mengalami pencemaran yang tinggi yang membutuhkan biaya besar dalam pengolahan untuk menjadikannya air bersih dan layak untuk diminum.
Perubahan penutupan lahan di DAS Cisadane Hulu menyebabkan terjadinya pengurangan luas hutan dari 63.53% (tahun 2004) menjadi 15.41% (tahun 2008) dan terjadi peningkatan luas permukiman dari 10.13% pada tahun 2004 menjadi 34.66% pada tahun 2008 (Stevanus 2010). Tingginya perubahan penutupan lahan menjadi area terbangun menyebabkan kapasitas infiltrasi air hujan menjadi berkurang, dan pada akhirnya mempertinggi run off. Dengan kondisi yang demikian, jebakan air tanah akan berada jauh di dalam batuan dasarnya sehingga muka air tanah menjadi turun dan debit air yang tersedia di catchment area akan mengalami penurunan.
Laju konversi lahan di catchment area menyebabkan debit mata air semakin berkurang dari perkiraan rencana debit produksi. Data produksi PDAM Tirta Pakuan tahun 2011 menunjukkan debit Mata air Tangkil dari 170 liter/detik turun menjadi 124 liter/detik pada tahun 2011, kapasitas debit produksi Mata air Bantarkambing dari 170 liter/detik turun menjadi 150 liter/detik pada tahun 2011, dan debit Mata air Kotabatu pada tahun 2011 menurun menjadi 48 liter/detik, sedangkan debit tahun 2005 adalah 61 liter/detik.
Untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terus meningkat dan kondisi ketersediaan sumber air baku yang semakin menurun perlu direncanakan pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk Kota Bogor dalam pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) hingga 20 tahun kedepan, dan mensinergiskan rencana tersebut dengan RTRW Kota Bogor dan Rencana Induk PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
3 Perumusan Masalah
Masalah ketersediaan sumber air baku yang semakin terbatas dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan keseimbangan antara supply dan demand air minum penting untuk diestimasi, sehingga perlu diprediksi kebutuhan dan ketersediaan air minum hingga 20 tahun akan datang. Masih jauhnya target yang akan dicapai untuk melayani kebutuhan air minum Kota Bogor perlu dianalisis kemampuan pelayanan air bersih secara spasial untuk mengetahui proporsi penduduk yang dapat terlayani air minum PDAM dan yang dilayani non PDAM. Permasalahan selanjutnya yang menjadi fokus penelitian ini adalah terkait sistem penyediaan air minum yang belum terintegrasi antara pelayanan PDAM dengan non PDAM, agar target pelayanan air minum dapat tercapai maka arahan pengembangan SPAM yang tepat perlu disinergikan antara pihak pengelola, pelaksana dan pemangku kepentingan bidang air minum di Kota Bogor.
Permasalahan yang telah diuraikan tersebut menghasilkan beberapa pertanyaan yang akan dijawab pada penelitian ini, yaitu:
1. Berapa besarnya kebutuhan air minum hingga 20 tahun yang akan datang dan bagaimana keandalan air baku yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
2. Kelurahan apa yang dapat dilayani melalui sistem PDAM dan kelurahan apa saja yang berpotensi dikembangkan pelayanan non PDAM?
3. Bagaimana persepsi masyarakat dan stakeholders terhadap pengembangan sistem penyediaan air minum, dan arahan yang tepat untuk Kota Bogor hingga 20 tahun yang akan datang agar sistem SPAM yang terintegrasi dapat terwujud.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kebutuhan air minum hingga 20 tahun akan datang (tahun 2031) dan menganalisis ketersediaan sumber air baku yang dimanfaatkan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.
2. Menganalisis wilayah yang dapat dilayani dan berpotensi tidak terlayani oleh sistem distribusi perpipaan PDAM Tirta Pakuan.
3. Menyusun arahan untuk pengembangan sistem penyediaan air minum Kota Bogor.
Manfaat Penelitian
Hasil kajian dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai masukan untuk review Rencana Tata Ruang Kota Bogor tahun 2011-2031 khususnya arahan pengembangan infrastruktur air minum dalam rencana struktur ruang Kota Bogor.
4