Penulis dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 9 November 1975 dari pasangan M. Hatta Bannot dan Erlin Bahar sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Penulis menikah pada tahun 2002 dengan Haryanto dan dikaruniai dua orang anak bernama Khansa Alifah A.H. dan Aqsha Ramadhan D.H.
Penulis lulus dari SMA Negeri 3 Palembang pada tahun 1994 dan melanjutkan pendidikan diploma bidang pariwisata di Akademi Pariwisata Indonesia Jakarta Jurusan Usaha Wisata dan lulus tahun 1997. Penulis menyelesaikan pendidikan strata satu pada tahun 2002 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Internasional Jakarta Program Studi Manajemen dengan kepeminatan Manajemen Usaha Wisata. Pada tahun 2010 penulis berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana di Sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan.
Penulis bekerja sebagai tenaga pendidik di AKPINDO sejak tahun 1998 dengan spesialisasi Perencanaan dan Operasi Perjalanan Wisata serta Disain Paket Wisata, serta master trainer untuk Abacus Reservation System dan Amadeus Global Distribution System. Penulis juga bekerja sebagai tour planner pada Almapindo Wisata Jakarta sejak tahun 2005. Sejak tahun 2002 sampai sekarang penulis bertugas sebagai asesor kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bidang tour planning. Mulai tahun 2012 penulis juga ditugaskan sebagai Manajer Sertifikasi Bidang Usaha Wisata pada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Hospitalitas dan Wisata Hijau Jakarta.
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Wisata merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan). Kegiatan wisata dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan pendidikan lingkungan yang bertujuan untuk merubah aspek kognitif, pengetahuan partisipatif, ketrampilan dan perilaku pembelajar (Bhuiyan, Islam, Siwar, Ismail 2010). Agar sikap dan perilaku positif terhadap lingkungan tertanam dan melekat pada diri seseorang, maka pendidikan lingkungan sebaiknya diberikan sedini mungkin, antara lain dimulai pada anak usia sekolah dasar (SD). Dengan menanamkan pendidikan lingkungan sejak usia SD diharapkan kesadaran ini akan membentuk perilaku mereka dan terbawa hingga dewasa. Hasil akhirnya diharapkan dapat tercipta generasi yang merupakan agen perubahan (agent of change) yang mampu menjadi motor penggerak dalam menciptakan keseimbangan dengan alam dan lingkungan.
Minimnya kawasan yang dapat menjadi destinasi wisata pendidikan lingkungan menjadi salah satu kendala bagi sekolah dalam menerapkan pembelajaran praktek tentang pendidikan lingkungan. Kawasan yang dapat menjadi destinasi sebagian besar adalah kawasan yang dikelola secara mandiri (swasta) dengan mengenakan biaya masuk yang cukup tinggi sehingga menjadi beban bagi sekolah-sekolah. Hal ini berimbas kepada kurangnya pembelajaran secara langsung dan interaksi anak dengan alam karena pembelajaran dilakukan sebagian besar di dalam kelas saja. Untuk itu perlu dilakukan upaya mencari alternatif destinasi pendidikan lingkungan yang memiliki sumber daya yang memadai serta tidak membebani sekolah secara keuangan. Salah satu kawasan yang dapat dijadikan destinasi adalah kawasan industri yang ruang lingkupnya berkaitan dengan sumber daya alam. Pemilihan kawasan industri sebagai lokasi kegiatan wisata pendidikan lingkungan salah satunya disebabkan oleh pendidikan lingkungan tidak hanya merupakan tanggung jawab pihak sekolah atau aktivis lingkungan. Semua elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral yang sama dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan ketrampilan tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang ada.
Kota Palembang dilalui oleh Sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera (750 kilometer). Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, hubungan antara masyarakat kota Palembang dengan keberadaan sungai ini sangat erat, baik dari sisi sejarah, perekonomian dan budaya. Pada masa sekarang, berbagai pusat kegiatan dibangun di sepanjang Sungai Musi, termasuk di antaranya adalah PT. Pupuk Sriwijaya (PT. Pusri) Palembang. Pada penelitian ini, kawasan industri yang menjadi lokasi penelitian adalah PT Pusri. PT. Pusri merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran pupuk dan merupakan salah satu industri terbesar di kota Palembang. Selama lebih dari 50 tahun keberadaan PT. Pusri di Palembang, beberapa kegiatan yang bersifat sosial telah dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar
misalnya pemberian pelatihan bagi pedagang, pemberian paket sembako menjelang bulan puasa, dan lain-lain. Kegiatan yang bersifat insidental antara lain lomba foto dan menggambar kawasan PT. Pusri. Kegiatan-kegiatan ini diselenggarakan tanpa melibatkan langsung sarana dan prasarana kawasan pabrik.
Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74 menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sesuai dengan perundang-undangan tersebut maka PT. Pusri memiliki tanggung jawab sosial dalam memperhatikan aspek sosial dan lingkungan di luar perusahaan. Terkait dengan hal tersebut maka dalam kebijakan perusahaannya PT. Pusri menempatkan berbagai isu yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari laporan tahunan dan strategi jangka panjang. Sebagai implementasinya, Code of Conduct PT. Pusri menyebutkan upaya komitmen jangka panjang terhadap masyarakat sekitar sehingga tatanan sosial dan ekonomi masyarakat senantiasa terlindungi dan sedapat mungkin ditingkatkan
Dengan melaksanakan kegiatan wisata pendidikan lingkungan secara berkelanjutan di kawasannnya menunjukkan tanggung jawab PT. Pusri terhadap masyarakat di sekitarnya, khususnya dalam pengembangan kapasitas manusia di bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan jangka panjang. Selain itu, dengan menjadi destinasi wisata pendidikan lingkungan, PT. Pusri dapat memiliki kesempatan untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa bidang kerja dan aktivitas PT. Pusri sebagai produsen pupuk dan bahan kimia lainnya menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia, khususnya bidang pertanian serta aktivitas tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun lingkungan.
Memahami siapa yang menjadi sasaran pendidikan lingkungan sebelum membuat program sangat penting agar isi materi dapat dipahami sesuai dengan kemampuan peserta yang menjadi sasaran. Penelitian ini berupaya memadukan antara kegiatan wisata dan pendidikan lingkungan yang dikemas dengan memperhatikan kebutuhan peserta dengan lokasi kegiatan merupakan kawasan industri yang berada di sekitar lingkungan peserta. Untuk itu, penelitian terkait dengan pendidikan lingkungan yang dapat diselenggarakan di kawasan PT. Pusri penting dilakukan, agar PT. Pusri dapat menjadi destinasi wisata pendidikan lingkungan yang menarik dan terjangkau bagi sekolah-sekolah, sekaligus berperan aktif dalam membangun generasi pelestari lingkungan dan menunjukkan kepada masyarakat bentuk nyata partisipasi PT. Pusri dalam meningkatkan pembangunan kapasitas masyarakat.
Perumusan Masalah
Salah satu kegiatan menyenangkan yang digemari anak-anak adalah jalan-jalan atau berwisata. Kegiatan ini dapat digabungkan dengan pendidikan lingkungan sehingga menjadi sebuah program yang menyenangkan sekaligus dapat mencapai sasaran. PT. Pusri sebagai ikon industri kota Palembang memiliki hubungan sosial dan sejarah dengan masyarakat yang sangat erat. Sebagai industri yang bergerak di bidang pupuk dan bahan kimia lainnya, aktivitas PT.
Pusri dengan sendirinya akan berdampak pada bidang sosial, ekonomi dan lingkungan di masyarakat sekitar kawasan industri ini berdiri. Oleh karena itu PT. Pusri memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan masyarakat sekitar baik dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya sebagaimana yang dinyatakan dalam UU 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74. Untuk itu dibutuhkan kegiatan yang tidak hanya bersifat bantuan sosial, tetapi juga yang bersifat berkelanjutan dan melibatkan masyarakat secara aktif. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk masyarakat sekitar adalah menyelenggarakan kegiatan pendidikan lingkungan yang berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut PT. Pusri dapat memberikan citra positif kepada masyarakat Sumatera Selatan pada umumnya. Kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu upaya yang dilakukan PT. Pusri dalam memberikan sumbangsih terhadap kesejahteraan masyarakat. PT. Pusri juga dapat berperan dalam menciptakan generasi baru yang sadar akan pelestarian lingkungan.
Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimanakah menyusun perencanaan program wisata pendidikan lingkungan yang sesuai dengan persepsi dan preferensi anak usia Sekolah Dasar di PT. Pusri Palembang. Untuk itu, perlu diteliti juga hal-hal sebagai berikut :
1. Apakah yang menjadi daya tarik PT. Pusri sebagai destinasi program wisata pendidikan lingkungan?
2. Bagaimanakah persepsi dan preferensi anak usia SD terhadap lingkungan lingkungan?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan program wisata pendidikan lingkungan berdasarkan persepsi dan preferensi anak usia Sekolah Dasar di PT. Pusri Palembang. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui daya tarik PT. Pusri sebagai destinasi program wisata pendidikan lingkungan.
2. Mengetahui persepsi dan preferensi anak usia SD terhadap lingkungan.
3. Menyusun perencanaan program wisata pendidikan lingkungan berdasarkan persepsi dan preferensi anak usia SD di PT. Pusri Palembang.
Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai inovasi program wisata pendidikan lingkungan yang spesifik lokasi dengan mempertimbangkan potensi daya tarik yang ada dan persepsi dan preferensi anak usia SD. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis berupa :
1. Masukan bagi PT. Pusri sebagai salah satu komponen masyarakat yang memperhatikan pengembangan pendidikan lingkungan dalam merancang program wisata pendidikan lingkungan berkelanjutan.
2. Masukan bagi penyelenggara kegiatan wisata pendidikan bagi anak usia SD, baik di sekolah maupun di luar sekolah serta pihak-pihak lain yang memerlukannya dalam merancang wisata pendidikan lingkungan.
Kerangka Pikir
Pembuatan program wisata selalu diawali dengan langkah mendasar yaitu perencanaan. Melalui perencanaan wisata akan tergali informasi terkait dengan aspek penyedia sarana (supply), dalam hal ini adalah PT. Pusri dan aspek permintaan (demand), yaitu sasaran program (anak usia sekolah). Kawasan PT. Pusri seluas 170,31 ha dapat dijadikan destinasi wisata pendidikan lingkungan. Sebagai industri yang bergerak di bidang pupuk dan bahan kimia, akan digali potensi lain yang dimiliki sehingga penyelenggaraan program wisata dapat bervariasi.
Pendidikan lingkungan merupakan disiplin ilmu yang berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan melalui beragam kegiatan praktis, mulai dari pemberian informasi hingga pembangunan kapasitas. Fokus dari pendidikan lingkungan adalah mengidentifikasi perilaku yang menyebabkan ancaman terhadap kondisi lingkungan dan untuk kemudian melihat apakah pendidikan saja sudah cukup atau apakah harus disertai dengan strategi tambahan lain (Crohn dan Birnbaum 2010). Dimopoulos, Paraskevospoulos dan Pantis (2008) mengatakan bahwa pendidikan lingkungan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dan membuat struktur sosial baru, baik dengan partisipasi sederhana maupun kompleks terhadap keterlibatan dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Pendidikan lingkungan non formal dapat diberikan seawal mungkin dalam daur hidup manusia, dimulai pada tahap anak-anak usia pra sekolah dan usia SD. Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini maka peneliti merumuskan kerangka pemikiran seperti ditampilkan pada Gambar 1.
2 TINJAUAN PUSTAKA
Perencanaan Wisata
Dalam UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dinyatakan bahwa wisata merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Perjalanan merupakan istilah umum yang dilekatkan pada wisata, sehingga Coltman (1989) mendefinisikan wisata sebagai perjalanan yang melingkar, dimulai dari suatu titik tertentu dan pada akhirnya berakhir di tempat itu juga dengan mengikuti rencana perjalanan (itinerary) tertentu.
Wisata merupakan suatu produk yang unik karena terdiri atas komponen yang bersifat nyata (tangible) dan tidak nyata (intangible). Komponen yang nyata contohnya antara lain adalah makanan yang disajikan di suatu rumah makan, atau perlengkapan kamar di suatu hotel. Sementara komponen yang tidak nyata misalnya adalah kualitas pelayanan dari suatu perusahaan penerbangan, atau pemandangan indah di pegunungan. Manfaat dari komponen tidak nyata tidak secara langsung diperoleh oleh pengguna tetapi baru dapat dirasakan setelah pengguna melakukan kegiatan tersebut. Dengan kata lain, produk wisata merupakan kombinasi dari berbagai komponen yang memberikan pengalaman dan kepuasan total bagi konsumen (Coltman 1989). Hal ini menyebabkan wisata harus dikemas secara menarik agar dapat menarik perhatian calon penggunanya. Upaya untuk mengupayakan kemasan yang menarik dan sesuai dengan keinginan pengguna dilakukan melalui kegiatan perencanaan yang baik.
Perencanaan merupakan fungsi pertama dan yang paling mendasar dalam manajemen. Terkait dengan wisata, perencanaan yang baik dapat menjadi pedoman penyelenggaraan kegiatan sekaligus menjadi alat ukur keberhasilan penyelenggaraan kegiatan. Terdapat banyak pendekatan yang dapat digunakan oleh seorang perencana. Pendekatan perencanaan wisata apapun yang digunakan oleh seorang perencana, pembuatan suatu program wisata pada dasarnya menggabungkan antara ilmu pengetahuan dengan cita rasa seni dari perencana tersebut agar dapat menciptakan program yang menarik. Program wisata yang menarik akan berujung pada keputusan membeli produk, yang merupakan harapan dari semua perencana wisata.
Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah aspek supply dan demand. Aspek supply dan demand menjadi pokok yang harus dapat ditemukan sebagaimana dinyatakan Avenzora (2008), bahwa perencanaan wisata merupakan suatu upaya untuk mempertemukan aspek demand dan supply melalui pendekatan yang obyektif, yang dirancang dengan sentuhan seni, rasa, pengetahuan dan pengalaman serta berdasarkan argumen yang beralasan. Perencanaan wisata tidak dapat hanya memenuhi satu sisi demand saja atau sebaliknya memenuhi aspek supply saja, karena akan menciptakan produk yang kurang memenuhi harapan.
Proses Perencanaan Program Wisata
Perencanaan bukan merupakan suatu kegiatan yang tetap. Perencanaan yang baik harus terus berlangsung selama program tersebut berjalan sehingga merupakan sebuah proses. Mengacu pada Fiatiano (2009), perencanaan wisata bukan merupakan bentuk persiapan saja, tetapi merupakan proses yang berlangsung terus-menerus sehingga dapat menjadi acuan untuk perbaikan program-program selanjutnya. Perencanaan wisata menurut Fiatiano (2009) meliputi :
1 Penentuan visi dan misi
Kegiatan ini merupakan titik awal dari proses perencanaan. Pernyataan visi menggambarkan sasaran jangka panjang dari suatu program. Pernyataan ini menggambarkan posisi yang diinginkan yang dapat membantu memusatkan dan mengarahkan kegiatan-kegiatan pelaksanaan. Pernyataan misi menggambarkan bagaimana suatu program akan bergerak menuju visinya. Visi program wisata pendidikan lingkungan di PT. Pusri harus dapat menggambarkan upaya PT. Pusri membangun kesadaran dan kecintaan anak terhadap lingkungan yang indah dan lestari .
2 Tujuan
Tujuan program menjawab pertanyaan yang dikenal dengan 5W2H, yaitu 1) What (program apa yang akan dibuat?); 2) Why (mengapa program ini perlu dibuat?); 3) Who (siapa saja yang terlibat dalam program ini, baik sebagai pelaksana maupun peserta?); 4) Where (di mana program ini dapat dilaksanakan?); 5) When (kapan program ini dapat dilaksanakan?); 6) How (bagaimana program dapat dilaksanakan?); 7) How much (berapa besar biaya yang dibutuhkan?).
Tujuan dapat diukur pencapaiannya. Beberapa area yang dapat dijadikan pengukuran antara lain :
a. Kehadiran, yang diukur dengan jumlah peserta
b. Pertumbuhan program yang diukur dengan jumlah kegiatan yang diselenggarakan
c. Mutu program yang diukur dengan tanggapan dari peserta d. Kepuasan peserta yang diukur dari jumlah keluhan. 3 Observasi dan pengumpulan data
Tahap ini digunakan untuk menganalisis potensi dan kondisi yang ada di destinasi. Diawali dengan identifikasi dan observasi pada kawasan destinasi. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan kegiatan menghubungkan antara rumusan tujuan dengan kondisi yang ada di lapangan. Yang diobservasi adalah semua masalah yang dipertanyakan dalam rumusan tujuan. Untuk mempermudah pekerjaan observasi maka dapat digunakan alat bantu atau instrumen. Berbagai data yang diperoleh melalui observasi kemudian diolah dan dianalisis. Tahapan ini digunakan untuk menentukan strategi pencapaian tujuan, mengidentifikasi kendala yang mungkin timbul, dan mencari alternatif yang mungkin dapat diambil.
4 Disain produk
Disain produk merupakan tahapan dimana beberapa alternatif program dibuat. Sebagaimana produk wisata lainnya, disain produk ini juga memenuhi unsur-unsur daya tarik dan manfaat, keamanan dan unsur-unsur lain yang melengkapi suatu produk.
5. Pengujian dan operasional
Sebelum dilaksanakan, perencanaan yang telah dibuat diujicobakan untuk memperoleh umpan balik. Pengujian meliputi pengujian kemampuan pelaksanaan di lapangan dan pengujian terhadap respon pasar.
6. Evaluasi
Hasil umpan balik kemudian dievaluasi dan jika dianggap telah memenuhi harapan maka program dapat dijalankan.
7. Disain akhir
Hasil evaluasi digunakan untuk melakukan perbaikan dan perubahan yang diperlukan. Hasilnya merupakan produk yang siap ditawarkan kepada pasar.
Pada penelitian ini, proses perencanaan dibatasi pada tahap disain produk karena keterbatasan kemampuan peneliti.
.
Pendidikan Lingkungan
UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa lingkungan hidup sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Penggabungan kata “pendidikan” dan “lingkungan” membangkitkan rasa ingin tahu mengenai mengapa, kapan, dan apa tujuan kedua kata ini dipadankan. Jawabannya terentang mulai dari kepentingan individu hingga kepentingan global. Penggunaan istilah pendidikan lingkungan pertama kali pada level internasional menurut Palmer dan Neal (1994) adalah pada pertemuan The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) di Paris pada tahun 1948. Sejak saat itu semakin banyak para ahli dan praktisi yang mencoba untuk mendefinisikan istilah ini, terlebih ketika semakin banyak peristiwa kritis yang terjadi di dunia yang diketahui dan dipublikasikan. IUCN (1970) mendefinisikan pendidikan lingkungan sebagai suatu proses pengenalan nilai-nilai dan memperjelas konsep dalam rangka mengembangkan keterampilan dan perilaku yang diperlukan untuk memahami dan menghargai keterhubungan antara manusia, kebudayaannya, dan lingkungan biofisiknya.
Pendidikan lingkungan merupakan disiplin ilmu yang berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan melalui beragam kegiatan praktis, mulai dari pemberian informasi hingga pembangunan kapasitas. Fokus dari pendidikan lingkungan adalah mengidentifikasi perilaku yang menyebabkan ancaman terhadap kondisi lingkungan dan untuk kemudian melihat apakah pendidikan saja sudah cukup atau apakah harus disertai dengan strategi tambahan lain (Crohn dan Birnbaum 2010). Menurut Dimopoulos et al. (2008), pendidikan lingkungan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dan membuat struktur sosial baru, baik dengan partisipasi sederhana maupun kompleks terhadap keterlibatan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan.
Banyak upaya pendidikan lingkungan ditargetkan kepada anak-anak, dengan tujuan untuk merubah hubungan anak-anak dengan alam (Crohn dan Birnbaum 2010). Anak-anak usia sekolah merupakan sasaran yang tepat bagi pembelajaran mengenai lingkungan untuk jangka panjang karena perkenalan dini terhadap alam
akan menyentuh seseorang dan akan menjadi bagian dari dirinya sampai dia dewasa (Crowell 2001).
Crohn dan Birnbaum (2010) menyebutkan bahwa pendidikan lingkungan lebih sering dilakukan dalam bentuk non-formal, yang mengimplikasikan bahwa sebagian besar kegiatan pembelajaran dilakukan di luar dinding sekolah. Beberapa hal yang dapat diterapkan dalam pendidikan lingkungan adalah :
1. Pesan harus dibuat sederhana. Orang akan lebih cepat merespon gagasan yang jelas dan mudah dilaksanakan, sehingga pesan harus fokus pada satu gagasan saja dan mudah dimengerti.
2. Orang akan merespon pada pesan yang langsung terkait dengan dirinya. Untuk itu, buatlah pesan yang secara langsung terkait dengan individu.
3. Orang akan merespon pada gagasan jika mereka mengetahui tindakan apa yang dapat mereka lakukan kemudian. Pesan harus meminta individu untuk berbuat sesuatu.
Pesan yang terlalu rumit justru tidak akan mencapai sasaran karena tidak dimengerti anak (Newton 2001). Selain menyederhanakan pesan, pendidikan lingkungan sebaiknya memperhatikan sisi penerima pesan. Pesan pendidikan lingkungan yang tidak memperhatikan siapa sasarannya tidak akan berhasil dengan baik karena program yang dibuat belum tentu sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan anak dalam menyerap pesan. Caro et al. (2003) menemukan bahwa anak-anak yang dididik sejak dini memperoleh pengaruh yang kuat dan jangka panjang terhadap lingkungan alam.
Sekolah dan Pendidikan Lingkungan
Menyadari pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini, maka Inggris sejak tahun 1990 telah mencantumkan pendidikan lingkungan dalam kurikulum nasionalnya. Pada implementasinya, pendidikan lingkungan di Inggris tidak disampaikan melalui satu pendekatan atau metode pengajaran, tetapi melalui pendekatan yang bervariasi (Blum 2008). Perencanaan pendidikan lingkungan yang terintegrasi dalam kurikulum mengacu kepada tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu :
- Pendidikan tentang lingkungan - Pendidikan untuk lingkungan
- Pendidikan di atau melalui lingkungan
Pendidikan tentang lingkungan bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan memahami nilai-nilai serta perilaku. Pendidikan untuk lingkungan mendorong siswa untuk mengeksplorasi respon pribadi mereka terhadap lingkungan dan hubungan dengan lingkungan serta isu lingkungan. Hal ini terkait dengan pengembangan perilaku dan nilai-nilai, termasuk elemen pemahaman dan perilaku yang diperlukan untuk mengembangkan pemanfaatan lingkungan yang berkelanjutan. Pendidikan di atau melalui lingkungan menggunakan lingkungan sebagai sumber untuk pembelajaran. Lingkungan menjadi sumber yang mendorong pengembangan pengetahuan dan pemahaman sekaligus keterampilan.
Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya memberikan pendidikan lingkungan sejak dini dengan memasukkan penyampaian tentang masalah kependudukan dan lingkungan hidup secara integratif dalam kurikulum tahun 1984 pada hampir semua mata pelajaran jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Tindak lanjut pemerintah terkait pendidikan lingkungan dibuktikan dengan Memorandum Bersama antara Departemen Pendidikan Kebudayaan dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 0142/U/1996 dan Nomor Kep:89/MENLH/5/1996 tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup pada tanggal 21 Mei 1996. Dilanjutkan dengan Memorandum Bersama antara Menteri Pendidikan Nasional dengan Menteri Lingkungan Hidup