• Tidak ada hasil yang ditemukan

7 SIMPULAN DAN SARAN

RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Situjuh Batur, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 24 Desember 1981. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Faizul Abbas dan Ibu Yusmarni. Penulis menikah pada tahun 2011 dengan Ratna Mega Sari dan kini sedang menunggu kelahiran putra pertama.

Penulis menyelesaikan pendidikan Diploma tiga program studi Manajemen Hutan Produksi Fakultas Kehutanan IPB tahun 2000-2003. Selanjutnya penulis melanjutkan program sarjana S1 tahun 2004-2007 pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2010 penulis diterima di Program Studi Agribisnis Sekolah Pascasarjana IPB.

Penulis pernah bekerja sebagai Editor dan Quality Control di PT. ExsaMap Asia, Jakarta pada 2007-2010. Sejak 2012 sampai saat ini penulis bekerja sebagai Staf pendukung di Direktorat Perencanaan Industri Agribisnis dan Sumber Daya Alam lainnya, Deputi Perencanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman modal RI.

1

 

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Paradigma baru pembangunan pertanian adalah adanya perubahan dari orientasi produksi kearah orientasi bisnis untuk peningkatan nilai tambah. Paradigma baru tersebut mengarahkan pembangunan pertanian dimasa depan tidak lagi melalui pendekatan usaha tani melainkan melalui pendekatan agribisnis. Meningkatnya persaingan pada era globalisasi ekonomi saat ini, mendorong pertanian di Indonesia untuk dapat bertransformasi menjadi suatu bidang yang tidak hanya berkembang dalam peningkatan produksi tetapi juga dalam pengembangan industri pertanian sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian Indonesia.

Agribisinis sebagai suatu sistem dibangun oleh subsistem-subsistem yang melibatkan usaha dibidang pertanian meliputi subsistem agribisnis hulu, subsistem usaha tani, subsistem hilir, dan subsistem penunjang. Subsistem hulu mencakup usaha bisnis yang menghasilkan sarana produksi pertanian, subsistem usaha tani adalah proses menghasilkan komoditas pertanian, dan subsistem hilir merupakan usaha yang mengolah dan memasarkan komoditi pertanian sampai kepada konsumen. Subsistem tersebut bekerja dalam suatu mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain yang didukung oleh subsistem penunjang melalui kebijakan, permodalan, penelitian dan pengembangan, serta penyuluhan dan pelatihan. Pengembangan agribisnis sebagai suatu sistem memerlukan adanya sinergi antar subsistem yang terlibat sehingga dapat bekerja secara terkoordinasi dan tidak bekerja secara parsial.

Pengembangan agribisnis sebagai suatu sistem memprioritaskan pada peningkatan dan penciptaan nilai tambah komoditas petanian. Salah satu komoditas pertanian Indonesia yang penting dalam rangka pengembangan sistem agribisnis untuk penciptaan nilai tambah adalah komoditas kelapa sawit.

Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia yang memiliki peranan penting sebagai sumber devisa negara yang berasal dari sektor pertanian. Kelapa sawit sebagai salah satu komoditas utama subsektor perkebunan memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan devisa negara diantara 15 komoditas unggulan Kementerian Pertanian. Besaran nilai ekspor kelapa sawit melebihi setengah dari total nilai ekpsor komoditas unggulan pertanian pada beberapa tahun terakhir. Ekspor kelapa sawit tersebut sebagian besar berupa minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan sisanya berupa produk turunannya yaitu olein dan biodiesel.

Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia saat ini. Kontribusi Indonesia terhadap suplai minyak sawit dunia tahun 2011 adalah 46.2 persen dari total suplai dunia, lebih tinggi dari Malaysia yang kontribusinya sebesar 43.0 persen. Negara penyuplai minyak sawit lainnya adalah Papua New Guinea 1.3 persen, Thailand 1.1 persen dan sisanya 8.4 persen dari negara-negara lainnya (USDA, 2012). Suplai minyak sawit Indonesia dan Malaysia mencapai 89 persen terhadap suplai dunia. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya posisi Indonesia dalam perdagangan minyak sawit dunia.

2

 

Tabel 1 Perkembangan nilai ekspor dan pangsa ekspor komoditas unggulana Komoditas 2009 2010 2011b Nilai ekspor (000 US$) % Nilai ekspor (000 US$) % Nilai ekspor (000 US$) % Daging sapi 21.0 0.0001 0.6 0.000003 13.7 0.00005 Jahe 3 391.0 0.02 3 467.4 0.01 1 050.5 0.004 Kakao 1 413 441.2 8.22 1 643 648.5 6.51 1 042 362.6 3.72 Karet 3 195 324.2 18.57 7 178 782.4 28.42 10 213 064.3 36.45 Kelapa sawit 11 628 125.2 67.59 15 463 742.3 61.22 15 706 804.9 56.06 Kopi 824 015.3 4.79 814 310.7 3.22 894 641.2 3.19 Mangga 2 071.9 0.01 1 674.9 0.01 1 823.3 0.01 Manggis 6 451.9 0.04 8 754.4 0.03 5 736.5 0.02 Pisang 199.8 0.001 48.3 0.0002 792.4 0.003 Susu 76 893.9 0.45 72 269.0 0.29 56 813.6 0.20 Kunyit 69.8 0.0004 235.9 0.001 34.8 0.0001 Ubi kayu 31 470.6 0.18 49 291.1 0.20 74 301.5 0.27 Beras 596.5 0.003 578.4 0.002 428.4 0.002 Jagung 14 285.9 0.08 11 908.0 0.05 8 826.5 0.03 Kedelai 7 691.2 0.04 9 898.0 0.04 9 261.8 0.03 aSumber: Diolah dari Ditjen PPHP Kementerian Pertanian (2012); bData sampai Oktober.

Industri minyak sawit memiliki prospek yang cerah dalam persaingan dengan minyak nabati lainnya. Terdapat 14 jenis minyak nabati lainnya yang masing-masing saling bersubstitusi dengan minyak sawit (Pahan, 2008). Minyak sawit merupakan minyak nabati terbesar yang dikonsumsi dan diproduksi saat ini, diikutiminyak kedelai, minyak kanola dan minyak biji bunga matahari. Data Kementerian Peridustrian (2009) memperlihatkan konsumsi minyak sawit mulai menggeser konsumsi minyak kedelai sejak periode 2003-2007 dan terus berlanjut hingga saat ini. Pangsa konsumsi minyak sawit adalah 22.5 persen dari konsumsi minyak nabati dunia, dikuti konsumsi minyak kedelai sebesar 19 persen.

Gambar 1 Pangsa konsumsi minyak nabati dunia (Sumber: Kementerian Perindustrian, 2009)

3

 

Pertumbuhan produksi minyak sawit dunia juga mengalami kenaikan dan mulai menggeser produksi minyak kedelai sejak periode tahun 1998-2002. Pangsa produksi minyak sawit pada periode tersebut mencapai 12.4 persen dari total produksi minyak nabati, sedangkan minyak kedelai sebesar 11.9 persen. Kementerian Peridustrian (2009) memperkirakan kondisi demikian masih akan terus berlanjut hingga tahun 2020.

Gambar 2 Pangsa produksi minyak nabati dunia (Sumber: Kementerian Perindustrian, 2009)

Terjadinya pergeseran konsumsi dan produksi minyak nabati dunia dari minyak kedelai ke minyak sawit disebabkan karena terjadinya perubahan iklim global yang mengakibatkan kekeringan di negara produsen utama kedelai sehingga produksi kedelai mengalami penurunan. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan suplai dan permintaan minyak kedelai sehingga harganya semakin meningkat. Hal ini mendorong konsumen beralih mengkonsumsi minyak sawit sebagai produk substitusi minyak kedelai untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati. Selain itu, harga minyak sawit relatif lebih rendah dibandingkan minyak kedelai karena minyak sawit memiliki produktivitas yang lebih tinggi serta biaya produksi yang lebih efisien dibandingkan minyak kedelai. Kondisi demikian ikut mendorong pergeseran konsumsi minyak nabati dari minyak kedelai ke minyak sawit.

Potensi yang cukup besar di sektor hulu industri minyak sawit serta prospek industri minyak sawit yang cukup cerah menjadi faktor pendorong tumbuh dan berkembangnya sistem agribisnis sawit di Indonesia. Pengembangan sistem agribisnis sawit memprioritaskan pada penciptaan dan peningkatan nilai tambah berbasis komoditas sawit yang lebih berdaya saing. Salah satu industri hilir berbasis minyak sawit yang penting dan dominan di Indonesia adalah industri minyak goreng. Industri minyak goreng menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku utama dalam proses produksi. Menurut KPPU (2010), sebesar 87 persen biaya produksi pengolahan minyak goreng merupakan biaya bahan baku minyak sawit.

Minyak goreng memiliki peranan yang strategis dalam perekonomian nasional karena termasuk salah satu dari sembilan kebutuhan bahan pokok yang penting bagi masyarakat. Minyak goreng sebagian besar digunakan sebagai media pengolahan makanan yang akan dikonsumsi. Seiring bertambahnya jumlah

4

 

penduduk Indonesia, konsumsi minyak goreng untuk memasak cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari BPS (2011), jumlah konsumsi minyak goreng masyarakat Indonesia pada tahun 2008 sebesar 9.6 kg/kapita/tahun, dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan mencapai 10.7 kg/kapita/tahun.

Pertumbuhan jumlah penduduk juga mendorong semakin berkembangnya industri makanan yang menggunakan minyak goreng. Data Kementerian Perindustrian (2011) menyebutkan bahwa secara nasional jumlah konsumsi minyak goreng pada tahun 2011 sebesar 5.22 juta ton. Sebesar 62.10 persen di antaranya adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen rumah tangga, dan sisanya 37.90 persen untuk memenuhi kebutuhan konsumen industri makanan. Konsumsi pada tahun 2011 meningkat 63.12 persen dari konsumsi tahun 2008 yang hanya sebesar 3.2 juta ton. Konsumsi tersebut telah terpenuhi dari industri minyak goreng domestik karena Indonesia telah berswasembada minyak goreng, bahkan mengalami surplus yang secara konsisten meningkat terus dari tahun ke tahun (Sumaryanto dan Rantetana, 1996). Surplus produksi minyak goreng pada tahun 2008 mencapai 4.5 juta ton dan surplus tersebut diekspor ke negara lain.

Kondisi surplus minyak goreng serta posisi penting Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia tidak serta merta menjamin harga yang rendah dan stabil pada komoditas minyak goreng di dalam negeri. Harga minyak goreng berfluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan. Gejolak yang terjadi dapat menimbulkan dampak sosial, politik, dan ekonomi secara nasional. Oleh sebab itu, minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang penting untuk dikendalikan pemerintah karena menyangkut kepentingan masyarakat banyak.

Terkait dengan posisi strategis yang dimiliki industri berbasis komoditas sawit Indonesia, maka penting untuk memberi perhatian kebijakan holistik pada keseluruhan sistem agribisnisnya. Koordinasi dan keterhubungan antar bagian dalam keseluruhan sistem perlu mendapat perhatian, demi keberlanjutan sistem. Secara lebih khusus, keterhubungan yang dimaksud adalah sebuah mekanisme organisasional yang memungkinkan subsistem mendapatkan insentif dan bekerja sinergis membantu subsistem lain sehingga menghasilkan kinerja sistem yang memberi manfaat bagi semua stakeholder pelaku bisnis di sektor ini.

Berdasarkan konteks itulah diperlukan informasi ekonomi yang terkait dengan kinerja sistem agribisnis minyak sawit Indonesia. Informasi ekonomi yang dimaksud diantaranya adalah, struktur rantai nilai, efisiensi rantai pasokan, sistem harga dan kinerja pasar. Salah satu informasi tentang kinerja pasar yang penting adalah tingkat volatilitas harga, yakni informasi tentang besaran variasi perkembangan harga antar waktu. Informasi tentang volatilitas bisa menjadi input penting bagi lahirnya kebijakan yang efektif dan relevan dengan sistem ekonomi yang berlaku.

Hingga saat ini, pemerintah telah melakukan intervensi melalui berbagai kebijakan terhadap komoditas minyak goreng serta bahan bakunya yaitu minyak sawit. Salah satu tujuan dari kebijakan-kebijakan ini adalah untuk melakukan stabilisasi harga minyak goreng. Kebijakan yang pernah dilakukan antara lain kebijakan pada sisi input (minyak sawit) meliputi Domestic Market Obligation (DMO) dan pajak ekspor progresif, serta kebijakan pada sisi output (minyak goreng) mencakup kebijakan operasi pasar, pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah, dan kebijakan minyakita (KPPU, 2010).

5

 

Terkait dengan hal di atas maka sangat penting dilakukan analisis yang menyangkut kebijakan yang telah diambil pemerintah. Kajian ini diperlukan untuk memberi masukan apakah kebijakan yang telah diambil telah sesuai, tepat sasaran, atau tidak. Konsekuensi dari itu, analisis kebijakan akan memberi landasan tentang pentingnya atau perlu tidaknya opsi baru penggunaan instrumen kebijakan untuk menggantikan kebijakan yang ada.

Paparan di atas menjelaskan pentingnya studi volatilitas harga dan relevansi analisis kebijakan terkait. Dua alasan ini menjadi landasan yang menunjukkan pentingnya arti penelitian dimaksud bagi agribisnis kelapa sawit Indonesia.

Perumusan Masalah

Pergerakan harga minyak sawit dan minyak goreng di dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir semakin tak menentu dan cenderung volatil. Volatilitas harga minyak goreng maupun harga minyak sawit terlihat dari harga yang tidak stabil. Harga meningkat dengan cepat dan sangat tajam khususnya pada periode krisis finansial global, dan tidak berselang lama harga tersebut turun dengan drastis.

Harga minyak sawit relatif rendah dan stabil sampai dengan pertengahan tahun 2007. Kondisi demikian berubah memasuki akhir tahun 2007 yang memperlihatkan adanya peningkatan harga. Harga minyak sawit kian meningkat dengan sedikit variasi sepanjang tahun 2008 dan mencapai puncaknya pada bulan maret 2008. Harga tertinggi minyak sawit terjadi pada tanggal 4 Maret 2008 yang mencapai Rp 11 969 per kilogram. Meskipun terjadi penurunan harga pada awal tahun 2009, namun harga kembali meningkat tajam dan fluktuatif pada periode berikutnya.

Fluktuasi harga yang sangat tajam pada periode krisis global tahun 2007 dan 2008 belum menemukan tingkat keseimbangan baru pada harga minyak sawit. Pasca krisis global, harga minyak sawit terlihat lebih rentan dibandingkan sebelum terjadinya krisisi global. Kondisi tersebut berlangsung hingga saat ini.

Gambar 3 Pergerakan harga bulanan minyak sawit dan minyak goreng indonesia

6

 

Fenomena gejolak harga minyak sawit secara langsung mempengaruhi terjadinya gejolak harga minyak goreng di Indonesia. Pergerakan harga yang terjadi pada komoditas minyak sawit, diikuti pula oleh harga minyak goreng dengan pola yang hampir sama. Jika harga minyak sawit mencapai level tertinggi pada bulan maret 2008, hal yang sama juga terjadi pada harga minyak goreng. Harga minyak goreng tertinggi terjadi pada tanggal 10 maret 2008 yang mencapai Rp 13 131 per kilogram. Hal ini dapat terjadi karena minyak sawit merupakan bahan baku utama dalam memproduksi minyak goreng sehingga menjadi komponen terbesar dalam menentukan harga minyak goreng.

Berbagai pihak seperti pemerintah, petani sawit, produsen minyak sawit, produsen minyak goreng, serta konsumen minyak goreng, berkepentingan terhadap harga minyak sawit maupun harga minyak goreng yang stabil. Bagi pemerintah, stabilisasi harga minyak sawit dan minyak goreng dapat mencegah terjadinya gejolak sosial, politik, dan ekonomi secara nasional. Sementara itu bagi petani kelapa sawit, produsen minyak sawit, dan produsen minyak goreng, gejolak harga minyak sawit merupakan faktor risiko yang harus dihadapi yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan.

Di sisi lain, stabilisasi harga minyak goreng tentunya juga penting bagi konsumen. Stabilisasi harga minyak goreng akan berpengaruh secara langsung pada struktur pengeluaran rumah tangga konsumen. Dampaknya akan terasa semakin signifikan oleh masyarakat miskin ataupun industri kecil yang banyak menggunakan minyak goreng.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menciptakan harga yang stabil. Kebijakan tersebut meliputi kebijakan di sisi input (minyak sawit) dan kebijakan di sisi output (minyak goreng). Salah satu kebijakan disisi input adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.011l/2010 tentang penetapan bea keluar untuk minyak sawit secara progresif mengikuti harga minyak sawit internasional. Kebijakan ini dimaksudkan dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku minyak sawit untuk industri minyak goreng dalam negeri dalam rangka stabilisasi harga bahan baku yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap stabilisasi harga minyak goreng.

Selanjutnya, salah satu kebijakan stabilisasi harga di sisi output/minyak goreng yaitu kebijakan pembebasan pajak pertambahan nilai atau pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN-DTP) yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 188/011/2007. Kebijakan PPN-DTP adalah pajak terutang suatu perusahaan, baik swasta maupun BUMN yang ditanggung pemerintah melalui penyediaan anggaran dalam subsidi pajak. Kebijakan tersebut dilaksanakan pemerintah dalam rangka mendorong investasi di sektor hilir khususnya industri minyak goreng sehingga dapat menjaga stabilisasi harga minyak goreng. Dengan adanya kebijakan-kebijakan tersebut menjadi menarik untuk menganalisis bagaimana pola volatilitas harga minyak sawit dan minyak goreng sebelum dan sesudah adanya kebijakan tersebut.

Secara ringkas perumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana volatilitas harga minyak sawit dan minyak goreng Indonesia? 2. Bagaimana dampak kebijakan bea ekspor minyak sawit terhadap volatilitas

7

 

3. Bagaimana dampak kebijakan pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN-DTP) terhadap volatilitas minyak goreng?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis volatilitas harga minyak sawit dan minyak goreng.

2. Menganalisis dampak kebijakan bea ekspor minyak sawit terhadap volatilitas harga minyak sawit dan minyak goreng.

3. Menganalisis dampak kebijakan pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN-DTP) terhadap volatilitas minyak goreng.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat antara lain:

1. Bagi peneliti, sebagai sarana dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan untuk mengatasi masalah penelitian.

2. Bagi dunia akademik, penelitian ini diharapkan dapat sebagai referensi dalam melakukan analisis yang terkait dengan volatilitas harga.

3. Bagi pengambil kebijakan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan strategis untuk stabilisasi pasar minyak goreng dan meredam gejolak harga yang terjadi pada komoditas minyak goreng.

Batasan Penelitan

Batasan dan ruang lingkup penelitian ini adalah:

1. Minyak goreng yang dianalisis dalam penelitian ini difokuskan pada minyak goreng sawit.

2. Minyak goreng sawit yang dianalisis dalam penelitian ini adalah minyak goreng curah karena tingginya konsumsi minyak goreng curah di Indonesia.

8

 

2 TINJAUAN PUSTAKA

Volatilitas Harga Komoditas Pertanian

Karakteristik komoditas pertanian pada umumnya memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Menurut Tangerman (2011) ada tiga alasan yang dapat menjelaskan hal ini yaitu: (1) produksi pertanian bervariasi dari waktu ke waktu akibat faktor alam seperti cuaca dan hama, (3) elastisitas harga pada permintaan dan penawaran relatif kecil, khusus pada sisi penawaran terjadi dalam jangka pendek, dan (3) produksi sangat bergantung pada waktu sehingga penawaran tidak dapat terlalu merespon perubahan harga dalam jangka pendek, walaupun hal itu dapat dilakukan disaat siklus produksi telah tercapai. Selain faktor alami dan kondisi elastisitas permintaan dan penawaran tersebut, Jordaan et al (2007) menambahkan bahwa tingkat volatilitas harga produk pertanian juga dapat disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume perdagangan, saham perdagangan, dan nilai tukar.

Volatilitas harga komoditas pertanian cenderung meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini terungkap dari hasil penelitian Matthews (2010) dan Gilbert (2006). Matthews (2010) menemukan bahwa volatilitas harga pada komoditas pertanian meningkat sepanjang waktu. Kemudian Gilbert (2006) menunjukkan bahwa volatilitas harga komoditas pertanian yang rendah pada periode 1960-an, namun terjadi peningkatan pada 1970-an dan paruh pertama 1980-an. Meskipun volatilitas harga ditemukan turun pada paruh kedua 1980-an dan 1990-an, akan tetapi tetap masih berada jauh di atas tingkat volatilitas pada tahun 1960-an. Komoditas pertanian yang mengalami peningkatan volatilitas yang signifikan pada periode tahun 2007-2009 menurut penelitian Gilbert (2006) adalah komoditas minyak kacang tanah, kacang kedelai, dan minyak kacang kedelai.

Volatilitas harga komoditas pertanian juga dipengaruhi oleh situasi politik yang terjadi di suatu negara sehingga volatilitas harga yang terjadi pada suatu waktu dapat berbeda dengan waktu yang lain. Hal ini terungkap dari hasil penelitian Sumaryanto (2009) yang menemukan bahwa volatilitas harga eceran beberapa komoditas pertanian di Indonesia lebih volatil pada periode setelah reformasi tahun 1998 dibandingkan periode sebelum reformasi. Komoditas tersebut diantaranya beras, tepung terigu, dan gula pasir. Namun, pada komoditas cabai merah dan bawang merah, perbedaan volatilitas harga antara kedua periode tersebut tidak nyata.

Sumaryanto (2009) juga menjelaskan bahwa untuk komoditas beras, kondisi yang sangat tidak stabil (sangat volatil) terjadi pada periode krisis ekonomi yang melanda Indonesia yaitu Desember 1997 sampai Februari 1999 (14 bulan), dan puncaknya terjadi pada Juni 1998 sampai Desember 1998. Sementara itu, puncak volatilitas harga untuk beberapa komoditas pangan lainnya juga terjadi pada periode krisis ekonomi, yaitu tepung terigu pada Februari 1998-Juni 1999 (16 bulan) dan puncaknya terjadi bulan April 1998-Januari 1999 (9 bulan), gula pasir pada Februari 1998-November 1998 (9 bulan) dan puncaknya terjadi bulan Februari 1998-Agustus 1998 (6 bulan), cabai merah terjadi pada Juni 1998 - Mei 1999 (11 bulan) dan puncaknya terjadi pada Desember 1998-Maret 1999 (3 bulan), dan bawang merah terjadi pada Januari 1998-Maret 1999 (14 bulan) dan

9

 

mencapai puncaknya pada April 1998-November 1998 (7 bulan). Hal yang menarik dari hasil penelitian tersebut adalah secara empiris terbukti bahwa sejak reformasi harga komoditas pangan semakin volatil, sehingga kondisi tersebut menunjukkan adanya pengaruh stabilitas sosial politik terhadap volatilitas harga komoditas pangan. Di samping itu perubahan sistem perdagangan dan kebijakan yang mengarah ke sistem pasar yang lebih liberal sejak reformasi juga berdampak pada volatilitas harga komoditas pangan.

Tinjauan Kebijakan Tentang Volatilitas Harga Komoditas Pertanian

Pemerintah memiliki peranan yang besar dalam menetapkan kebijakan yang mampu mengatasi masalah volatilitas harga pada komoditas pertanian. OECD-FAO (2011) menjelaskan bahwa kebijakan yang koheren diperlukan untuk upaya mengurangi volatilitas dan membatasi dampak negatifnya. kebijakan tersebut terdiri atas: (1) mitigasi volatilitas melalui peningkatan transparansi pasar, perbaikan informasi global dan nasional serta peningkatan sistem pengawasan terhadap prospek pasar, dan (2) pengelolaan volatilitas melalui mekasnisme jaring pengaman sosial untuk membantu konsumen yang paling rentan ketika harga pangan naik. Lebih lanjut, Achsani et al. (2011) menguraikan bahwa kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengurangi efek volatilitas harga adalah melalui pengadaan persediaan barang, ketentuan terkait barang-barang publik, pengumpulan cadangan modal yang bukan merupakan bantuan luar negeri. Jenis kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengatasi volatilitas harga adalah kebijakan gabungan dan mengurangi hambatan ekspor, dan selanjutnya juga dibutuhkan stabilitas pada pasar berjangka di setiap negara (pasar jangka regional).

Bagi negara berkembang, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi volatilitas harga menurut Jordaan et al (2007) adalah berusaha meminimalisasi campur tangan secara langsung karena hal ini menyebabkan beberapa kerugian. Kerugian yang dimaksud yaitu kemungkinan tujuan yang tidak tercapai, tingginya biaya, permasalahan di pasar internasional. Komunitas donor internasional dapat menciptakan kontribusi yang penting dalam mempersiapan negara berkembang dalam merespon volatilitas harga khususnya pangan dengan cara membantu produsen pada saat krisis bahan bangan, mendirikan infrastruktur dan institusi yang memungkinkan pemerintah dan produsen untuk mengatur risiko, misalnya melalui pasar berjangka yang bisa meminimalisasi akibat dari risiko. Untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait upaya mengatasi fluktuasi harga maka tingkat pengetahuan terhadap pola volatilitas menjadi faktor penting dalam mempengaruhi tingkat keberhasilan.

Menurut Tangerman (2011) upaya perlindungan pasar domestik terhadap fluktuasi harga internasional melalui kebijakan stabilisasi oleh pemerintah hanya akan memperburuk volatilitas di pasar internasional. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tidak ada cara yang efektif dalam menanggulangi prilaku harga pasar komoditas pertanian. Cara yang mungkin dilakukan adalah meminimalisasi volatilitas. Alternatif kebijakan yang dapat diterapkan adalah dengan menciptakan peraturan pasar berjangka yang lebih baik.

10

 

Jika ditinjau pada ruang lingkup Indonesia, Arifin (2011) dan Daryanto (2010) memiliki pendapat yang berbeda, yaitu bahwa keterlibatan pemerintah melalui berbagai instrumen kebijakan perlu dilakukan untuk mengatasi volatilitas harga. Arifin (2011) menjelaskan bahwa untuk mengurangi volatilitas harga

Dokumen terkait