HASIL PENELITIAN
B. Riwayat paparan dan perilaku seksual
Tabel 4.2 Sebaran responden menurut jenis kelamin
Jenis Kelamin N %
Laki-laki 44 42,72%
Perempuan 59 57,28%
Total 103 100%
Sumber: Data Primer, 2012
B. Riwayat paparan dan perilaku seksual
Berikut pada tabel 4.3 dan 4.4 adalah hasil penyebaran kuesioner pada 103 responden mengenai riwayat paparan pornografi selama satu bulan terakhir dan tingkat perilaku seksualnya.
Tabel 4.3 Riwayat paparan pornografi
Keterangan N %
Terpapar 57 55,34%
Tidak terpapar 46 44,66%
Total 103 100
Sumber: Data Primer 2012
Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa, jumlah siswa-siswi yang pernah terpapar materi pornografi selama satu bulan terakhir berjumlah 57 anak atau 55,34 % dari total sampel. Sementara, yang tidak terpapar materi pornografi adalah 46 anak atau 44,66% dari total sampel.
commit to user Tabel 4.4 Tingkat perilaku seksual
Keterangan N %
Perilaku Buruk 21 20,39%
Perilaku Baik 82 79,61%
Total 103 100
Sumber : Data Primer, 2012
Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa, jumlah siswa-siswi yang perilaku seksualnya buruk berjumlah 21 anak atau 20,39%, sedangkan yang perilaku seksualnya baik berjumlah 82 anak atau 79,61%. Kemudian, tabel 4.5 menunjukkan distribusi frekuensi dari kedua item di atas.
Tabel 4.5 Distribusi perilaku antara yang pernah terpapar dan tidak Tingkat Perilaku Seksual
Buruk Baik Total % Riwayat
paparan
Ya 16 41 57 15,53%
Tidak 5 41 46 4,85%
Total 21 82 103 20,38%
Sumber: Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa jumlah siswa-siswi yang pernah terpapar pornografi selama satu bulan terakhir dan memiliki tingkat perilaku seksual yang buruk berjumlah 16 anak atau 15,53%, sedangkan yang tidak pernah terpapar selama satu bulan terakhir namun berperilaku seksual buruk berjumlah 5 anak atau 4,85%.
commit to user C. Analisis statistik
Sementara itu hasil analisis Chi-Square dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel 4.6 Analisis statitistik
Value Signifikansi Pearson Chi Square 4,640 0,031
Sumber: Data Primer, 2012 yang telah diolah
Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,031 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara paparan pornografi melalui media masa dengan perilaku seksual remaja.
commit to user
32 BAB V PEMBAHASAN
Berdasarkan analisi bivariat antara paparan pornografi di media masa dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 2 Surakarta, diperoleh nilai p = 0,031 < 0,05. Nilai p yang didapatkan yaitu sebesar 0,031 menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara proporsi dalam berperilaku seksual buruk antara siswa yang pernah terpapar dengan yang belum pernah terpapar pornografi melalui media masa. Dengan kata lain ada hubungan yang bermakna antara paparan pornografi melalui media masa dengan perilaku seksual remaja.
Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan antara paparan pornografi melalui media masa dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 2 Surakarta. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa paparan pornografi melalui media merupakan salah satu faktor yang dapat memicu remaja untuk melakukan perbuatan seksual yang buruk.
Remaja yang pernah terpapar materi pornografi baik melalui media cetak maupun elektronik akan lebih sering berkeinginan untuk melakukan perbuatan seksual baik ringan atau buruk di masa depan dibandingkan dengan yang belum pernah terpapar. Paparan melalui media ini merupakan yang paling signifikan dibandingkan faktor-faktor yang lainnya (L’Engle et al., 2005).
Hubungan yang kuat antara paparan pornografi melalui media dengan perilaku seksual remaja ini bisa dikarenakan peran media sebagai sebuah sumber sosialisasi seksual yang penting bagi remaja. Remaja sendiri adalah sebuah
commit to user
periode perkembangan yang ditandai dengan keingintahuan akan informasi yang tinggi. Kurangnya informasi yang memadai akan perilaku seksual dapat membuat remaja menjadikan media sebagai panutan akan norma-norma seksual.
Selain itu kemudahan akses yang diberikan media dalam mendapatkan berbagai jenis informasi semakin membuka peluang remaja untuk melakukan perbuatan seksual yang buruk. Akses media terutama internet dapat membuat seorang remaja terpapar materi pornografi berulang kali. Semakin sering remaja terpapar suatu materi yang berbau pornografi, semakin sering pula remaja berkeinginan untuk melakukan perilaku seksual mulai dari yang baik hingga yang buruk.
Menurut penelitian yang dilakukan Supriati dan Fikawati (2009), efek paparan semakin signifikan bagi orang yang baru terpapar selama kurang dari tiga bulan dibandingkan dari yang sudah lama terpapar yakni lebih dari tiga bulan. Orang yang baru terpapar memiliki rasa keingintahuan yang lebih tinggi dibandingkan yang sudah lama terpapar. Ditambah dengan kurangnya informasi yang cukup mengenai perilaku seksual yang baik dan benar, hal ini berpeluang akan timbulnya perilaku seksual yang buruk.
Meski demikian, terdapat 5 siswa (4,85%) yang belum terpapar pornografi melalui media masa selama satu bulan terakhir namun memiliki perilaku seksual yang buruk. Menurut peneliti hal ini sangat mungkin terjadi. Jika seseorang selama satu bulan terakhir ini tidak terpapar pornografi melalui media masa, bukan berarti tidak akan terpicu untuk melakukan perilaku seksual yang buruk.
commit to user
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti siswa tersebut pernah terpapar sebelum satu bulan terakhir ini dan siswa masih terpicu untuk melakukan perilaku seksual yang buruk meski paparan tersebut sempat terhenti selama satu bulan terakhir. Kemudian, frekuensi paparan yang tinggi sebelum satu bulan terakhir dan adanya faktor-faktor lain seperti faktor psikologis (kepribadian, stressor dan daya tahan mental), orang tua, teman sebaya dan jenis kelamin juga bisa memberikan dampak pada perilaku seksual remaja tersebut. Meski siswa tersebut tidak terpapar pornografi melalui media masa selama satu bulan terakhir, faktor-faktor di atas juga berpengaruh terhadap perilaku seksual yang buruk.
Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini juga harus diperhitungkan. Pertama, data ini didapatkan melalui pengisian kuesioner yang dilakukan oleh subyek penelitian yang kemungkinan dapat menimbulkan bias informasi dan mengisi tidak sebagaimana mestinya karena tidak jujur dalam mengisi kuesioner. Kedua, sampel hanya terbatas pada satu sekolah di Surakarta. Hal ini dapat membatasi generalisasi hasil di daerah dan populasi yang lain. Karena berbeda tempat maka berbeda remaja pula.
commit to user BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa didapatkan hubungan yang bermakna antara paparan pornografi melalui media masa dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 2 Surakarta dengan p = 0,031 (p < 0,05).
B. Saran
1. Perlu dilakukan sosialisasi kepada siswa-siswi tentang bahaya media pornografi dan dampak dari media pornografi.
2. Untuk remaja khususnya siswa-siswi SMU Negeri 2 Surakarta, hendaknya menjaga diri dari hal-hal yang bersifat merusak seperti pornografi itu sendiri.
3. Perlu adanya penelitian lain yang sejenis dengan sampel yang lebih besar mengenai faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja seperti faktor psikologis, faktor orang tua dan teman sebaya serta faktor biologis.
4. Perlu adanya penggunaan instrumen penelitian lain dan pendekatan terhadap subyek yang berbeda untuk menghindari adanya bias informasi.