• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Studi Agronom

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 12 April 1977 di Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, dari ayah M. Sarong dan Ibu Zainab (Alm). Penulis merupakan anak ke delapan dari delapan bersaudara.

Tahun 2002 penulis lulus Sarjana Pertanian pada Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh. Selama mengikuti perkuliahan, penulis bergabung dalam organisasi kemahasiswaan HIMAGRO dan aktif membantu mata kuliah Fisiologi Tumbuhan dan Agroklimatologi dengan menjadi asisten praktikum.

Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh Nanggroe Aceh Darussalam sampai sekarang. Bulan Juli 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa program Magister Sains (S2), pada Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ... xii DAFTAR GAMBAR ... xiii DAFTAR LAMPIRAN ... xiv PENDAHULUAN

Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 5 Hipotesis ... 5 TINJAUAN PUSTAKA

Botani tanaman manggis ... 6 Pengaruh pemupukan nitrogen, fosfor dan kalium ... 11 Pemupukan tanaman manggis ... 17 BAHAN DAN METODE

Waktu dan tempat penelitian ... 21 Metode penelitian ... 21 HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi umum percobaan ... 28 Studi pemupukan nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi .. 29 Studi pemupukan fosfor terhadap pertumbuhan dan produksi ... 40 Studi pemupukan kalium terhadap pertumbuhan dan produksi .... 46 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 54 Saran ... 55 DAFTAR PUSTAKA ... 57 LAMPIRAN ... 61

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Standar mutu buah manggis menurut SNI 01-3211-1992 ... 9 2. Ukuran buah manggis berdasarkan Codex Stand 204-1997 ... 10 3. Standar mutu buah manggis di Malaysia ... 10 4. Rekomendasi pemupukan manggis berdasarkan umur ... 17 5. Dosis pemupukan anjuran sementara tanaman jeruk ... 18 6. Pemberian pupuk tanaman manggis di Thailand ... 19 7. Pengaruh pemberian pupuk kalium terhadap tanaman manggis ... 20 8. Jenis dan contoh sampel untuk analisis zat endogen ... 23 9. Kandungan nitrogen daun pada empat periode analisis ... 30 10. Pengaruh dosis nitrogen terhadap pertumbuhan ... 33 11. Pengaruh pemupukan nitrogen terhadap produksi ... 34 12. Pengaruh pemupukan nitrogen terhadap kualitas ... 36 13. Persentase mutu buah berdasarkan SNI dan Standar Malaysia ... 38 14. Persentase mutu buah berdasarkan Codex Standar ... 39 15. Kandungan fosfor daun pada empat periode analisis ... 40 16. Pengaruh dosis fosfor terhadap pertumbuhan ... 42 17. Pengaruh dosis fosfor terhadap produksi ... 43 18. Pengaruh dosis fosfor terhadap kualitas ... 44 19. Persentase mutu buah berdasarkan SNI dan Standar Malaysia ... 45 20. Persentase mutu buah berdasarkan Codex Standar ... 46 21. Kandungan kalium daun pada empat periode analisis ... 47 22. Pengaruh dosis kalium terhadap pertumbuhan ... 49 23. Pengaruh dosis kalium terhadap produksi ... 50 24. Pengaruh dosis kalium terhadap kualitas ... 52 25. Persentase mutu buah berdasarkan SNI dan Standar Malaysia ... 53 26. Persentase mutu buah berdasarkan Codex Standar ... 54

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka pikir status hara nitrogen, fosfor dan kalium ... 4 2. Daun manggis pecah tunas, flushing dan dormansi ... 6 3. Buah manggis muda dan buah matang ... 7 4. Pola penyebaran CH dan HH di lokasi penelitian ... 28 5. Hubungan peningkatan nitrogen daun terhadap dosis nitrogen ... 31 6. Hubungan peningkatan jumlah buah jadi dan bobot individu buah ... 35 7. Hubungan penurunan tebal kulit, kerasan kulit, diameter horizontal

dan vertikal buah ... 37 8. Hubungan peningkatan fosfor daun terhadap dosis fosfor ... 41 9. Hubungan peningkatan jumlah buah jadi dan produksi per pohon pada

berbagai dosis fosfor ... 43 10. Hubungan peningkatan kalium daun terhadap dosis pemupukan kalium .. 48 11. Hubungan peningkatan jumlah buah jadi dan penurunan produksi per

pohon pada berbagai dosis kalium ... 51

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Rekapitulasi data analisis jaringan daun pada berbagai dosis nitrogen,

fosfor dan kalium selama periode produksi ketiga ... 61 2. Jadwal kegiatan penelitian ... 62 3. Metode penetapan nitrogen total tanah dan jaringan tanaman ... 63 4. Metode penentuan fosfor dan kalium tanah dan jaringan tanaman ... 64

PENDAHULUAN Latar belakang

Buah manggis (Garcinia mangostana, L.) adalah salah satu buah-buahan tropika eksotik yang telah lama dikenal di manca negara sebagai “Queen of fruit” (Eiseman dan Eiseman 1997). Bentuk buah manggis yang artistik dan citarasanya khas menyebabkan buah ini digemari oleh konsumen di luar dan dalam negeri (Siriphanick dan Luckanatinvong 1994).

Pengusahaan manggis di Indonesia mengalami kemajuan pesat mulai dekade 1990an. Peningkatan ini ditandai dengan meningkatnya produksi pada tahun 2003 mencapai 62117 ton. Nilai ekspor buah manggis Indonesia pada tahun-tahun terakhir juga cenderung meningkat. Peningkatan nilai ekspor tersebut ditandai dengan bertambahnya jumlah negara sasaran ekspor dan peningkatan volume ekspor, sampai tahun 2005 volume ekspor meningkat mencapai 6.012 ton dengan nilai US $ 5.885.038 atau sekitar 44% dari total ekspor buah-buahan Indonesia, dibandingkan pada tahun 2001 yang hanya tercatat sebanyak 4.869 ton dengan nilai US $ 3.887.816 (Ditjen. Hortikultura 2005). Namun buah manggis yang diperdagangkan dewasa ini umumnya berkualitas rendah karena berasal dari hutan manggis atau pekarangan yang tidak terpelihara. Meningkatnya permintaan ekspor tersebut membuka peluang untuk pengembangan manggis di Indonesia dan sekaligus mempertahankan serta bila memungkinkan meningkatkannya.

Keberhasilan produksi manggis baik secara kuantitas dan kualitas perlu didukung dengan teknik budidaya yang baik untuk memperoleh produksi maksimal. Peningkatan tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan memperbaiki teknik pemupukan agar masukan teknologi produksi yang diberikan dapat secara optimal meningkatkan produksi dimaksud. Rendahnya produksi manggis Indonesia dewasa ini salah satunya akibat belum adanya usaha pemupukan, karena kurangnya pengetahuan tentang nutrisi mineral yang optimum untuk pertumbuhan dan produksi tanaman (Poerwanto 2003). Demikian juga rekomendasi pemupukan yang diterapkan sekarang ini lebih didasarkan kepada pengalaman dan praktek-praktek secara tradisional (Yaakob dan Tindall 1995).

Produksi maksimum dapat dicapai apabila faktor yang menunjang baik internal maupun ekternal tersedia optimum, khususnya kebutuhan unsur hara untuk menunjang pertumbuhan dan produksi. Terdapat tiga unsur hara esensial yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman yaitu nitrogen, fosfor dan kalium. Kekurangan salah satu dari ketiga unsur tersebut tanaman akan mengalami gangguan pertumbuhan dan produksi baik kualitas maupun kuantitas. Nitrogen berperan dalam meningkatkan pertumbuhan, pembentukan jaringan vegetatif tanaman dan merupakan pengatur dari pengambilan kalium, fosfor dan penyusun lain (Tisdale et al. 1985). Fosfor berperan penting dalam proses metabolisme dan reaksi-reaksi biosintesis, akibatnya fosforilasi ADP menjadi ATP akan terganggu jika fosfor mengalami defisiensi. Demikian juga kalium, merupakan logam bewarna putih keperakan dan tidak terdapat bebas di alam, unsur ini berperan penting dalam mengatur proses metabolisme, menguatkan jaringan batang dan meningkatkan resistensi hama penyakit (Ruhnayat 1995).

Meningkatkan efisiensi pemupukan tanaman manggis dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan analisis tanah, analisis jaringan tanaman, pengamatan gejala defisiensi secara fenotip dan melakukan percobaan lapangan (Lozano 1992). Analisis tanah umumnya digunakan untuk pengelolaan pemupukan tanaman semusim. Analisis tanah sangat sulit diinterpretasikan untuk tanaman tahunan khususnya pohon buah-buahan, karena korelasi antara hasil analisis tanah dan produksi buah sering tidak baik (Poerwanto 2003). Pendekatan analisis tanah dan percobaan screen house untuk tanaman manggis dewasa juga sulit dilakukan, karena memiliki ukuran pohon yang tinggi dan sistem penyebaran akarnya vertikal, akibatnya pengambilan sampel tanah sering kurang mewakili (Hidayat 2002). Demikian juga untuk menentukan gejala kelebihan dan defisiensi hara mineral dengan cara memperhatikan gejala abnormalitas pada tanaman manggis sangat sukar dilakukan karena membutuhkan ketelitian yang tinggi dan pengalaman yang memadai. Berdasarkan kelemahan-kelemahan seperti tersebut di atas, maka pada penelitian ini dilakukan analisis jaringan daun dan disertai dengan analisis tanah.

Analisis jaringan tanaman lebih efektif untuk mengetahui kandungan hara tanaman manggis dibandingkan dengan cara lain. Penetapan cara analisis jaringan

tanaman lebih efektif, hal ini dengan mempertimbangkan kandungan hara dalam jaringan tanaman merupakan gambaran kandungan hara dalam tanah. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa konsentrasi unsur hara tertentu dalam tanaman merupakan hasil interaksi dari semua faktor yang mempengaruhi penyerapan unsur tersebut dari dalam tanah. Jaringan tanaman yang sering digunakan sebagai sampel analisis adalah daun. Hal ini karena daun merupakan tempat paling aktif terhadap proses fotosintesis dan metabolisme lain. Daun juga merupakan salah satu tempat penyimpanan karbohidrat hasil fotosintesis. Hara yang ada pada daun selain berperan dalam fotosintesis juga menggambarkan status hara dalam tanaman (Susila 2002).

Analisis jaringan daun dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam hal: mendiagnosis gejala yang terlihat, mengidentifikasi gejala yang terselubung, mengetahui gejala defisiensi lebih awal, mengetahui mekanisme serapan hara tanaman, mengetahui interaksi atau karakter antagonis antar unsur hara, membantu dalam identifikasi fungsi hara dalam tanaman, dan sebagai alat bantu dalam menentukan rekomendasi pemupukan (Leiwakabessy dan Sutandi 2004).

Guna mendapatkan data interpretasi ini metode yang sering digunakan adalah batas kritis dan kisaran kecukupan hara (Leiwakabessy dan Sutandi 2004). Interpretasi tersebut diperoleh dari hubungan antara pertumbahan atau produksi dengan kadar hara pada daun sehingga diperoleh status haranya. Metode lain adalah nilai standar. Nilai standar merupakan rata-rata konsentrasi hara yang diperoleh dari hasil analisis daun tanaman yang pertumbuhan dan produksinya normal (Poerwanto 2003).

Kebutuhan pupuk tanaman manggis yang telah berproduksi hingga kini belum ada atau belum cukup baik. Percobaan dengan mengaplikasikan teknologi- teknologi tersebut di atas diharapkan hasilnya dapat diaplikasikan petani sehingga efisiensi pemupukan diperoleh tanpa mengganggu kemampuan tanah untuk menyediakannya, oleh karena itu perlu dilakukan serangkaian percobaan untuk mempelajari tingkat status hara, waktu pemberian dan optimasi dosis nitrogen, fosfor dan kalium yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan rekomendasi pemupukan sebagai Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya tanaman manggis. Kerangka pikir penelitian disajikan pada Gambar 1.

Judul Æ

Bahan Æ

Perlakuan Æ

Target Æ

Tujuan Akhir Æ

Gambar 1 Kerangka pikir studi pemupukan nitrogen, fosfor dan kalium pada tahun produksi ketiga

Tanaman manggis umur 12 tahun (tahun produksi ketiga) Pemupukan nitrogen, pemupukan

fosfor dan pemupukan kalium

Kuantitatif a. Panjang daun b. Lebar daun c. Periode trubus d. Periode dormansi e. Jumlah buah f. Jumlah buah gugur g. Diameter Horizontal buah h. Diameter vertikal buah i. Bobot individu buah j. Bobot aril

k. Tebal kulit buah l. Kekerasan kulit buah

Analisis

1. Analisis tanah

1. Analisis nitrogen jaringan 2. Analisis fosfor jaringan 3. Analisis kalium jaringan

Mengetahui kandungan hara, respon pertumbuhan, dosis optimum nitrogen, fosfor dan kalium pada tanaman manggis yang telah berproduksi

Menyusun SOP (Standar Operasional Prosedur) pemupukan tanaman manggis untuk menunjang produksi maksimum

Variabel pengamatan

Dosis Waktu

STUDI PEMUPUKAN NITROGEN, FOSFOR DAN KALIUM PADA TANAMAN MANGGIS TAHUN PRODUKSI KETIGA

Tujuan Penelitian

Studi tentang pemupukan terhadap tanaman manggis yang telah berproduksi merupakan suatu bentuk penelitian awal, sehingga tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui kandungan hara nitrogen, fosfor dan kalium jaringan daun pada tanaman manggis tahun produksi ketiga.

2. Mengetahui respon pertumbuhan, produksi dan kualitas buah manggis pada berbagai dosis nitrogen, fosfor dan kalium.

3. Mendapatkan dosis optimum nitrogen, fosfor dan kalium terhadap produksi tanaman manggis.

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Kandungan nitrogen, fosfor dan kalium jaringan dipengaruhi oleh dosis

yang diberikan.

2. Pertumbuhan vegetatif, produksi dan kualitas buah manggis dipengaruhi oleh dosis nitrogen, fosfor dan kalium.

3. Produksi maksimum baik kualitas dan kuantitas sangat dipengaruhi oleh optimasi kandungan unsur hara jaringan tanaman.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Manggis Pertumbuhan vegetatif tanaman manggis

Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk dalam famili Cluciaceae yang terdiri atas sejumlah besar kelompok tanaman tropis yang meliputi 35 genus dan lebih dari 400 species dalam genus Garcinea (Bailey 1994), sekitar 40 species diantaranya merupakan tanaman buah yang dapat dimakan (Verheij 1992). Tanaman manggis merupakan tanaman asli Malaysia yang juga tumbuh secara luas di Indonesia, Filipina, Thailand, Birma dan Srilangka. Lokasi penyebaran umumnya terdapat pada zone 100 LU- 100 LS (Richard 1990b, Cox 1988).

Tanaman manggis dewasa mempunyai ukuran kanopi sedang, berbentuk piramid dan tajuk rimbun sehingga sangat cocok sebagai tanaman peneduh. Manggis tergolong evergreen dengan tinggi pohon mencapai 10-25 m dengan diameter batang 25-35 cm. Bentuk batang lurus dan memiliki percabangan melengkung ke bawah serta menghasilkan getah kuning. Kulit batang dewasa berwarna cokelat tua sampai kehitaman. Ranting muda berwarna hijau dan seiring pertambahan umur menjadi cokelat (Verheij 1992).

Daun manggis letaknya berhadapan, bentuknya membujur bulat panjang (lonjong), bagian pucuknya tajam dengan tekstur tebal dan kasar. Panjang daun berkisar antara 15-25 cm dan lebarnya 7-13 cm (Gambar 2). Bentuk permukaan atas daun mengkilap, licin dan berwarna hijau muda sampai hijau tua tergantung umurnya, sedangkan bagian bawahnya berwarna hijau muda sampai kekuningan (Zomlefer 1994).

Gambar 2 Daun manggis pecah tunas (a), flushing (b) dan dorman (c).

Dibandingkan dengan pohon buah lainnya, tanaman manggis memiliki sistem perakaran yang kurang berkembang. Salah satu faktor yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan tanaman manggis disebabkan karena sistem perakaran yang buruk, sifat akar rapuh, pertumbuhan akar lambat dan peka terhadap kondisi lingkungan. Sangat sedikit ditemukan bulu akar pada semua stadia pertumbuhan (Wiebel 1993).

Pertumbuhan generatif tanaman manggis

Buah manggis bersifat partenokarpi, artinya buah tetap terbentuk walaupun tidak terjadi penyerbukan atau pembuahan. Buah yang masak memiliki berat antara 30-140 g berbentuk bulat (Gambar 3), daging buah (aril) terdiri atas 5-7 segmen berwarna putih, rasanya manis dan hanya mengandung 1-2 biji. Kulit buah berwarna merah keunguan (purple), dan tebal 5 mm. Karakter morfologi buah manggis lainnya yaitu : getah berwarna kuning, petal berwarna merah, stikma berupa sessile dengan permukaan halus dan diameter stikma 8-12 mm (Richards 1990b).

Gambar 3 Perkembangan buah : bunga (a), buah muda (b) dan buah matang (c).

Biji manggis terbentuk secara apomiksis dan sering disebut sebagai agamospermi, direproduksi melalui tunas adventif proembrio dan jaringan ovular, berwarna cokelat, bentuk pipih, tidak memiliki endosperm yang permukaannya ditutupi oleh jaringan pembuluh vaskular (vascular bundles) (Lim 1984, Richards 1990a). Biji manggis bersifat poliembrioni dengan nutrisi untuk perkembangan embrionya didukung oleh nucellus atau jaringan integument. Sekitar 10% dari biji yang berkecambah akan tumbuh menjadi lebih dari 1 tunas dan masing-masing

tunas akan tumbuh pada posisi yang berlainan dan masing-masing membawa perakaran sendiri-sendiri (Lim 1984).

Pematangan buah manggis ditandai dengan melunaknya kulit buah. Buah manggis yang telah masak dan siap dikonsumsi relatif lebih lunak dan kulitnya mudah dibuka dari pada buah yang belum matang. Kulit buah yang telah lunak merata merupakan tanda buah bermutu baik, sedangkan jika kulit buah keras dan sulit dibuka merupakan salah satu ciri bahwa daging buah telah rusak (Satuhu et al. dalam Gunawan 2006).

Buah manggis sebagian besar terdiri dari kulit dan hanya 18.7 % berupa daging buah beserta biji (Daryono dan Sasrodiharjo 1986). Nilai tersebut menunjukkan bahwa buah manggis memiliki edible portion yang nilainya jauh lebih kecil dibanding dengan buah-buahan lain yang umumnya sekitar 60%. Konsumen manggis umumnya menyukai buah manggis yang berdaging tebal dan tidak mengandung banyak biji. Bobot daging buah merupakan salah satu kriteria yang sangat penting dalam penentuan mutu buah manggis. Sedangkan standar mutu buah manggis yang didasarkan pada minat konsumen dalam negeri adalah daging buah tebal dan persentase edible portionnya lebih besar (Hadisutrisno 2002).

Kualitas Manggis

Penampilan merupakan aspek mutu yang dapat dilihat secara nyata seperti : ukuran, bentuk, warna, kemulusan, bebas dari cacat fisik dan kerusakan. Cacat dan kerusakan buah manggis diantaranya disebabkan kekurangan unsur hara seperti busuk pangkal buah, adanya serangan hama penyakit, kerusakan fisik karena hempasan angin (menyebabkan kerusakan secara mekanis melalui geretan pada buah oleh dahan) dan pelukaan oleh bahan kimia. Mutu merupakan sesuatu yang menunjukkan keistimewaan atau derajat keunggulan dalam membedakan produk satu dengan produk lain terutama yang berhubungan dengan daya terima dan tingkat kepuasan konsumen, sehingga untuk mendefinisikan mutu perlu dibuat standar. Salah satu standar penilaian buah manggis yang paling sering dilakukan adalah dari segi fisik. Parameter mutu secara fisik yang dinilai diantaranya adalah ukuran buah, warna kulit, warna daging buah, kekerasan,

keseragaman dan tingkat kebersihan kulit buah. Persyaratan mutu buah manggis untuk standar ekspor dewasa ini lebih diutamakan dari penampilan fisik buah dari pada kandungan kimia (Setiawan 2005).

Indonesia memiliki standar nasional mutu beberapa komoditas hortikultura, termasuk buah manggis, namun standar tersebut hanya digunakan untuk komoditi ekspor. Sedangkan untuk komoditi yang diperdagangkan dalam negeri dan untuk komoditi impor, ketentuan mengenai standar mutu tersebut belum diberlakukan. Adanya APEC dan AFTA menuntut untuk diberlakukannya standar mutu. Standar mutu buah manggis Indonesia mengacu kepada SNI seperti tertera dalam Tabel 1.

Tabel 1 Standar mutu buah manggis menurut SNI 01-3211-1992

Jenis Uji Satuan Persyaratan

Mutu Super Mutu I Mutu II

Keseragaman Seragam Seragam Seragam

Diameter mm >65 55-65 <55

Tingkat

Kesegaran Segar Segar Segar

Warna Kulit Hijau kemerahan s/d merah muda mengkilap Hijau kemerahan s/d merah muda mengkilap Hijau kemerahan Buah cacat dan atau busuk (jumlah) % 0 0 0 Tangkai dan

atau kelopak Utuh Utuh Utuh

Kadar kotoran

(b/b) % 0 0 0

Serangga hidup dan atau mati

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Warna daging

buah

Putih bersih khas manggis

Putih bersih khas manggis

Putih bersih khas manggis

Sumber : Direktorat Bina Produksi tanaman pangan dan hortikultura 2001

Salah satu standar mutu buah manggis untuk perdagangan internasional adalah ukuran buah, hal ini mengacu pada standar Codex Stand 204-1997 seperti tertera pada Tabel 2. Kriteria mutu buah manggis untuk pasar internasional adalah : utuh, sepal lengkap dan segar, penampakan buah segar, bentuk buah, warna buah dan rasa sesuai varietas, kondisi fisik tidak rusak/busuk, layak dikonsumsi, bersih

dan bebas dari benda-benda asing lainnya, bebas getah kuning, bebas dari kerusakan oleh hama penyakit, bebas dari bau dan rasa asing, bebas dari cacat, dan kondisi fisik aril setelah dibuka nampak normal (Setiawan 2005).

Tabel 2 Ukuran buah manggis berdasarkan standar Codex Stand 204-1997

No Kode Berat (gram) Diameter buah (mm)

1 A 30-50 38-45 2 B 51-75 46-52 3 C 76-100 53-58 4 D 101-125 59-62 5 E >125 >62 Sumber : Setiawan 2005.

Indonesia sampai sekarang menetapkan standar mutu buah manggis berdasarkan ukuran (diameter buah), sedangkan Codex Stand 204-1997 selain menggunakan diameter juga menggunakan bobot buah (gram). Di Malaysia standar mutu buah manggis ditetapkan berdasarkan bobot (gram), yaitu seperti tertera pada Tabel 3.

Tabel 3 Standar mutu buah manggis di Malaysia

No Kelompok Ukuran Berat (gram)

1 Besar A ≥120

2 Sedang B 100-119

3 Kecil C 80-99

Sumber : Setiawan 2005.

Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, dengan mempertimbangkan pada ukuran buah yang merupakan kriteria utama, hal ini berhubungan dengan daya tarik konsumen dan untuk keperluan penanganan dan pengolahan lebih lanjut. Ukuran biasanya dinyatakan dengan salah satu atau kombinasi dari tiga parameter, yakni : dimensi, bobot dan volume (Hariyadi 2000). Dimensi suatu produk meliputi ukuran panjang, lebar, diameter, dan keliling dari produk. Buah manggis dikelompokkan kedalam empat grade berdasarkan diameter dan bobotnya, yaitu : 1) grade Super A (diameter 20.36 ± 1.02 mm, bobot 135.14 ± 15.44 g), grade A (diameter 18.70 ± 0.96 mm, bobot 105.81 ± 12.11 g), grade B (diameter 17.02 ± 0.61 mm, bobot 78. 07 ± 6.31 g), dan grade C (diameter 15.58 ± 0.25 mm, bobot 62 30 ±2.83 g) (Satuhu et al. dalam Setiawan 2005).

Pengaruh pemupukan nitrogen, fosfor dan kalium

Ketersediaan hara dalam keadaan cukup dan seimbang merupakan faktor penentu untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik. Untuk menambah unsur hara pada tanah agar diperoleh pertumbuhan dan produksi lebih baik serta mengganti hara tanah yang terangkut pada saat panen perlu dilakukan pemupukan (Murni dan Faodji 1990).

Nitrogen

Nitrogen sangat besar peranannya dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Urea (Co(NH2)2 adalah salah satu sumber nitrogen yang digunakan untuk menggantikan nitrogen yang telah terserap oleh tanaman. Nitrogen merupakan unsur penting penyusun amida, nukleotida dan nukleoprotein serta esensial untuk pembelahan dan pembesaran sel. Nitrogen selalu bergerak dalam jaringan tanaman, pada daun yang lebih muda dan organ yang sedang tumbuh seperti buah dan biji akan memanfaatkan nitrogen dari daun-daun yang lebih tua atau lebih bawah. Terbatasnya asupan nitrogen menyebabkan proses redistribusi akan menyebabkan penuaan dan klorosis pada daun-daun bagian bawah (Gardner et al. 1977).

Nitrogen dipergunakan tanaman dalam jumlah yang relatif besar. Kebanyakan tanaman mengandung 1-2 % nitrogen dari berat keringnya dan jumlahnya terbesar setelah unsur carbon (C), oksigen (O), dan Hidrogen (H) (Salisburry dan Ross 1992). Kenyataan menunjukkan bahwa 15-18 % dari bobot senyawa albumin atau protein terdiri dari nitrogen dan protein ada pada semua sel-sel hidup, dalam protoplasma dan juga inti. Selain pada protein, nitrogen juga ditemukan pada senyawa lain yang berperan penting dalam metabolisme seperti klorofil, nukleotida, fosfotida, alkaloid, protein, hormon dan vitamin, namun kekurangan nitrogen berpengaruh pada hasil (Marschner 1995).

Kisaran kecukupan nitrogen dalam jaringan tanaman adalah 1-5% (Havlin et al. 1999). Namun kisaran kecukupannya antara 2-5% dari berat tanamannya, hal ini tergantung pada jenis tanaman, tahap perkembangan, dan organ tanaman. Nitrogen jarang menyebabkan toksisitas, namun dalam kondisi berlebih

menyebabkan ketidakseimbangan hara dan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu (Marschner 1995). Selanjutnya daun tanaman jeruk berumur 4-6 bulan, pada cabangnya yang tidak berbuah yang diukur berdasarkan berat keringnya, maka konsentrasi nitrogen yang cukup adalah 2,5-2,8%. Pada konsentrasi di bawah 1,5 tanaman akan kekurangan nitrogen dan di atas 2,8% menyebabkan nitrogen berlebih dalam jaringan daun (Wudscher dan Smith 1996).

Prawitasari (2001) melakukan pengamatan perubahan kandungan nitrogen pada pucuk terinduksi, pucuk terdeferensiasi dan pucuk berbunga pada tanaman lengkeng melaporkan bahwa kandungan nitrogen pada ketiga fase tersebut tidak berbeda nyata. Kandungan nitrogen yang tinggi pada musim dingin akan menghambat perkembangan bunga, sedangkan kandungan nitrogen yang tinggi pada musim semi atau musim panas akan merangsang perkembangan stamen dan pistil pada tanaman apel. Suplai nitrogen pada sebagian besar tanaman buah mempengaruhi pembentukan dan inisiasi tunas bunga, memberikan respon terhadap fruitset dan waktu pembungaan (Marschner 1995).

Liferdi (2000) menyatakan bahwa peningkatan kandungan nitrogen sejalan dengan perubahan morfologi daun dan mencapai maksimum saat daun berwarna hijau tua hingga muncul tunas baru pada tanaman rambutan, selanjutnya kandungan nitrogen mulai menurun dengan semakin tua dan berkembangnya daun yang muncul di atasnya. Kandungan nitrogen daun menurun secara drastis saat tanaman memasuki fase generatif, hal ini diduga karena pucuk terinduksi

Dokumen terkait