Fokus 5. Peningkatan Sinkronisasi dan Efektivitas Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan serta Harmonisasi antar Pelaku.
II. 1-40 RKP 2012 telah ditarik tersebut diusahakan masuk dalam satuan pendidikan, baik pendidikan formal,
kesetaraan, maupun non-formal.
Untuk meningkatkan perlindungan bagi anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), pada tahun 2009 telah ditandatangani Surat Keputusan Bersama tentang Penanganan ABH antara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Sosial, Kepala Kepolisian Negara RI, Jaksa Agung, dan Ketua Mahkamah Agung. Selain itu, telah ditandatangani pula Surat Kesepakatan Bersama tentang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial ABH antara Departemen Sosial, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan, Departemen Agama, dan Kepolisian RI. Selanjutnya, pada tahun 2010 telah tersusun RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan ditetapkan kebijakan terpadu tentang penanganan ABH berbasis restorative justice.
1.2.4.2.Permasalahan dan Sasaran
Meskipun telah ada kemajuan yang dicapai di bidang perlindungan anak sebagaimana diuraikan di atas, namun masih terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi dan terus menjadi perhatian pemerintah, para pembuat kebijakan, para pemangku kepentingan lain, serta masyarakat pada umumnya.
Permasalahan pertama, masih belum optimalnya akses terhadap layanan pemenuhan hak tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh masih rendahnya cakupan layanan pengembangan anak usia dini yang holistik dan integratif, cakupan layanan pendidikan untuk anak, dan cakupan akte kelahiran. Di bidang kesehatan, permasalahan terkait anak antara lain masih rendahnya tingkat keberlanjutan pelayanan kesehatan (continuum of care), khususnya pada penduduk miskin; masih tingginya prevalensi anak yang pendek (stunting) sebagai indikasi kekurangan gizi kronis; dan adanya tantangan baru keadaan gizi berlebih yang menyebabkan obesitas (kegemukan) akibat asupan makanan yang tidak seimbang.
Permasalahan kedua, masih kurangnya perlindungan terhadap anak dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, penelantaran, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya. Data Susenas 2006 menunjukkan bahwa sekitar 4 juta anak mengalami kekerasan setiap tahun. Sementara itu, data Komnas Perempuan mencatat hanya sekitar 20,000 kasus anak dan perempuan korban kekerasan yang mendapat dampingan hukum dan sosial yang layak, baik sebagai korban maupun saksi dalam proses peradilan, sehingga dapat dibayangkan betapa banyaknya kasus anak yang tidak terdampingi oleh bantuan medis, hukum, dan psikososial yang layak. Dalam kajian paruh waktu terhadap Program Kerjasama Pemerintah RI dan UNICEF tahun 2008, tercatat sedikitnya 80.000-100.000 perempuan dan anak-anak adalah korban eksploitasi seksual atautelah diperdagangkan untuk keperluan itu setiap tahunnya.
Permasalahan ketiga, masih rendahnya kapasitas kelembagaan perlindungan anak. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh belum maksimalnya peraturan perundang-undangan terkait upaya perlindungan anak dalam mengatur dan mengupayakan kepentingan terbaik anak. Kemajuan pesat di bidang regulasi dan kebijakan ternyata tidak selalu berhubungan langsung dengan kecepatan perbaikan dalam struktur, kapasitas, dan bagaimana kebijakan
dan regulasi tersebut diterjemahkan dalam tataran praktek di tingkat lembaga, masyarakat, keluarga, dan individu.
Permasalahan keempat, berbagai laporan penelitian, hasil studi maupun kajian masih menunjukkan rendahnya pemahaman keluarga dan masyarakat tentang hak-hak anak. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan keluarga tentang pengasuhan anak juga masih rendah. Hal ini mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak anak dan segala bentuk perlakuan salah sebagian besar dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan anak. Dengan memperhatikan permasalahan tersebut di atas, maka sasaran pembangunan perlindungan anak pada tahun 2012 adalah:
1. Meningkatnya akses anak atas layanan yang berkualitas untuk kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang. Hal ini antara lain diukur dengan meningkatnya cakupan kunjungan neonatal, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, APK PAUD, APS 7-12 tahun, APS 13-15 tahun, APS 16-18 tahun, serta menurunnya persentase balita yang kekurangan gizi.
2. Meningkatnya perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan segala bentuk perlakuan salah. Hal ini antara lain diukur dengan meningkatnya upaya-upaya pencegahan untuk menurunkan resiko anak menjadi korban perlakukan salah, akses anak korban perlakukan salah dan anak berkebutuhan khusus atas layanan yang berkualitas, cakupan anak balita/anak yang mempunyai akte kelahiran, cakupan penanganan ABH berbasis restorative justice, serta menurunnya pekerja anak.
3. Meningkatnya efektivitas kelembagaan perlindungan anak, baik di tingkat nasional maupun daerah. Hal ini ditunjukkan antara lain oleh meningkatnya ketersediaan dan kualitas data/informasi perlindungan anak, sinergi perundang-undangan dan kebijakan terkait perlindungan anak, kuantitas dan kualitas tenaga pelaksana perlindungan anak, koordinasi antar kementerian/lembaga/SKPD dan antar pusat dan daerah dalam perlindungan anak, dan pengawasan terhadap efektivitas perlindungan anak.
4. Meningkatnya pemahaman para pengambil keputusan dan masyarakat tentang hak- hak anak dan pengetahuan dan keterampilan keluarga tentang pengasuhan anak.
1.2.4.3.Strategi dan Arah Kebijakan
Berdasarkan sasaran yang akan dicapai di atas, kebijakan peningkatan perlindungan anak diarahkan pada: (a) peningkatan akses anak terhadap pelayanan yang berkualitas dalam rangka mendukung tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak; (b) peningkatan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan segala bentuk perlakuan salah; (c) peningkatan efektivitas kelembagaan perlindungan anak; dan (d) peningkatan advokasi dan sosialisasi tentang hak anak dan pengasuhan anak.
Kebijakan perlindungan anak tersebut dilaksanakan melalui tiga fokus prioritas.
Pertama, peningkatan kualitas tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak. Kedua,
perlindungan anak dari segala bentuk tindak kekerasan dan diskriminasi. Ketiga,
peningkatan kapasitas kelembagaan perlindungan anak. Detil kegiatan prioritas dari 3 (tiga) fokus prioritas diatas dapat dilihat di Tabel 2.2.A tentang Target Kinerja Lintas Bidang Perlindungan Anak.
II.1-42 RKP 2012
1.2.5. Pembangunan Karakter Bangsa 1.2.5.1.Kondisi Umum
Pembangunan karakter bangsa merupakan suatu kebutuhan asasi dalam proses berbangsa agar bangsa Indonesia memiliki karakter dan jati diri yang tangguh. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pencapaian visi dan misi pembangunan nasional, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN Tahun 2005−2025 antara lain yaitu mewujudkan )ndonesia sebagai bangsa yang maju, mandiri, dan adil, serta mewujudkan masyarakatIndonesiayang berakhlak mulia, bermoral, beretika dan berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.
Berbagai upaya untuk memperkuat jati diri dan karakter bangsa dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur, telah memberikan kemajuan yang cukup berarti, di antaranya adalah semakin kokohnya konsolidasi demokrasi yang dilandasi oleh empat pilar bangsa yakni NKRI, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh: (1) semakin berkembangnya proses internalisasi nilai- nilai luhur, pengetahuan dan teknologi tradisional, serta kearifan lokal yang relevan dengan tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti nilai-nilai persaudaraan, solidaritas sosial, saling menghargai, serta rasa cinta tanah air, (2) meningkatnya kondisi kebebasan sipil di daerah-daerah seluruh Indonesia, dan (3) meningkatnya kebebasan berpendapat dengan menguatnya posisi media massa sebagai pilar yang penting dalam pembentukan nilai-nilai kebangsaan dan kemasyarakatan.
Berbagai pencapaian tersebut didukung oleh meningkatnya koordinasi dan kerjasama lintas bidang dan lintas sektor, masyarakat dan dunia usaha, serta peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan karakter bangsa secara berkelanjutan. Untuk menjaga keberlanjutan, dalam RPJMN 2010-2014 pembangunan karakter bangsa diarahkan untuk mewujudkan karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoralberdasarkan falsafah Pancasila yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia danmasyarakatIndonesia yang beragam, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.
1.2.5.2.Permasalahan dan Sasaran
Pembangunan karakter bangsa sampai dengan tahun 2010 telah mencapai berbagai kemajuan, namun masih terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi pada tahun 2012.
Pertama, belum optimalnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai- nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa. Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi ideologi dan dasar negara, merupakan kristalisasi nilai-nilai kehidupan masyarakat yang bersumber dari nilai-nilai luhur budaya Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup dijiwai oleh moral dan etika yang dimanifestasikan dalam sikap perilaku dan kepribadian, baik dalam hubungan manusia dengan yang Maha Pencipta, hubungan antara manusia, maupun hubungan manusia dengan lingkungannya. Namun kaidah tersebut belum dapat terlaksana dengan
baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga terjadi pergeseran nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dengan menumbuhkembangkan watak, perilaku, dan etika kehidupan berbangsa bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kedua, semakin memudarnya ketahanan budaya luhur bangsa. Semakin derasnya arus globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah membuka peluang terjadinya interaksi budaya antarbangsa. Proses interaksi budaya tersebut di satu sisi berpengaruh positif terhadap perkembangan dan perubahan orientasi nilai dan perilaku bangsa Indonesia, namun di sisi lain, dapat menimbulkan pengaruh negatif, seperti semakin memudarnya penghargaan pada nilai budaya dan bahasa, nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, rasa cinta tanah air, kurangnya penghargaan terhadap produk dalam negeri, serta berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai, norma, dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Dengan demikian tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan upaya pelestarian dan penanaman nilai-nilai luhur budaya dan bahasa, nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, dan rasa cinta tanah air sebagai identitas budaya yang berfungsi sebagai perekat persatuan bangsa.
Ketiga, masih rendahnya daya saing dan kemandirian bangsa. Kemampuan bangsa yang berdaya saing tinggi adalah kunci untuk membangun kemandirian bangsa. Daya saing yang tinggi, akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. Daya saing dan kemandirian suatu bangsa antara lain tercermin pada (a) ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan dan kemajuan pembangunan; (b) kemandirian aparatur pemerintahan dan aparatur penegak hukum dalam menjalankan tugas dan fungsinya; (c) kemampuan pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri; dan (d) kemampuan memenuhi kebutuhan pokok. Namun hingga saat ini daya saing dan kemandirian bangsa belum sepenuhnya memenuhi keempat ciri-ciri diatas. Dengan demikian tantangan yang dihadapi adalah mewujudkan bangsa yang mandiri, berdaya saing, memiliki etos kerja melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia , serta kemandirian aparatur pemerintahan dan aparatur penegak hukum.
Dengan memperhatikan permasalahan tersebut, maka sasaran pembangunan karakter bangsa pada tahun 2012 adalah meningkatnya upaya orientasi dan penyadaran pentingnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan falsafah Pancasila untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa.
1.2.5.3.Strategi dan Arah Kebijakan
Berdasarkan uraian di atas, kebijakan pembangunan karakter bangsa diarahkan pada (a) Pengembangan karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, dinamis, dan berorientasi iptek yang dilandasi oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila, dan (b) Peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya karakter dan jati diri bangsa agar memiliki ketahanan budaya yang tangguh di tengah pergaulan global; dan (c) Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter dalam rangka mewujudkan daya saing dan kemandirian bangsa dalam era globalisasi.
II.1-44 RKP 2012