[Type text]
[Type text]
LAMPIRAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 29 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA KERJA PEMERINTAH
TAHUN 2012
BUKU II:
Prioritas Pembangunan Bidang
DIPERBANYAK OLEH :
LAMPIRAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 29 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA KERJA PEMERINTAH
TAHUN 2012
BUKU II :
i
DAFTAR ISI
Daftar Isi --- i Daftar Tabel --- viii Daftar Gambar --- ix
BAB I
KEBIJAKAN PENGARUSUTAMAAN DAN LINTAS BIDANG
1.1 Pengarusutamaan --- II.1-1 1.1.1 Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan --- II.1-1 1.1.1.1 Kondisi Umum --- II.1-1 1.1.1.2 Permasalahan dan Sasaran --- II.1-2 1.1.1.3 Strategi dan Arah Kebijakan --- II.1-3 1.1.2 Tata Kelola Pemerintahan yang Baik --- II.1-4 1.1.2.1 Kondisi Umum --- II.1-4 1.1.2.2 Permasalahan dan Sasaran --- II.1-6 1.1.2.3 Strategi dan Arah Kebijakan --- II.1-8 1.1.3 Pengarusutamaan Gender --- II.1-12
1.1.3.1 Kondisi Umum --- II.1-12 1.1.3.2 Permasalahan dan Sasaran --- II.1-13 1.1.3.3 Strategi dan Arah Kebijakan --- II.1-14 1.2 Kebijakan Lintas Bidang --- II.1-24 1.2.1 Penanggulangan Kemiskinan --- II.1-24 1.2.1.1 Kondisi Umum --- II.1-24 1.2.1.1.1 Pendahuluan --- II.1-24 1.2.1.1.2 Pelaksanaan Program Tahun 2010 dan Rencana
ii
1.2.4.1 Kondisi Umum --- II.1-38 1.2.4.2 Permasalahan dan Sasaran --- II.1-40 1.2.4.3 Strategi dan Arah Kebijakan --- II.1-41 1.2.5 Pembangunan Karakter Bangsa --- II.1-42 1.2.5.1 Kondisi Umum --- II.1-42 1.2.5.2 Permasalahan dan Sasaran --- II.1-42 1.2.5.3 Strategi dan Arah Kebijakan --- II.1-43 1.2.6 Peningkatan Status Gizi Masyarakat --- II.1-46 1.2.6.1 Kondisi Umum --- II.1-46 1.2.6.2 Permasalahan dan Sasaran --- II.1-47 1.2.6.3 Kebijakan dan Strategi --- II.1-47
BAB II
BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA
2.1 Kondisi Umum --- II.2-1 2.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.2-16
2.2.1 Permasalahan --- II.2-16 2.2.2 Sasaran --- II.2-22 2.3 Arah Kebijakan --- II.2-29
BAB III
BIDANG EKONOMI
iii
3.2.7 Sektor Keuangan --- II.3-27 3.2.8 Industri dan BUMN --- II.3-28 3.2.9 Ketenagakerjaan --- II.3-29 3.2.10 Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah --- II.3-30 3.2.11 Jaminan Sosial --- II.3-31 3.3 Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.3-32 3.3.1 Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan --- II.3-32 3.3.2 Peningkatan Investasi --- II.3-37 3.3.3 Peningkatan Ekspor --- II.3-37 3.3.4 Peningkatan Daya Saing Pariwisata --- II.3-38 3.3.5 Peningkatan Daya Beli Masyarakat --- II.3-39 3.3.6 Keuangan Negara --- II.3-40 3.3.7 Stabilitas Harga --- II.3-41 3.3.8 Stabilitas Sektor Keuangan --- II.3-42 3.3.9 Revitalisasi industri --- II.3-43 3.3.10 Daya Saing Ketenagakerjaan --- II.3-44 3.3.11 Pemberdayaan Koperasi dan UMKM --- II.3-45 3.3.12 Jaminan Sosial --- II.3-45
BAB IV
BIDANG ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
4.1 Kondisi Umum --- II.4-1 4.1.1 Sistem Inovasi Nasional --- II.4-1 4.1.2 Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan (P3) Iptek --- II.4-2 4.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.4-5 4.3 Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.4-5
BAB V
BIDANG SARANA DAN PRASARANA
5.1 Kondisi Umum --- II.5-1 5.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.5-6 5.3 Arah Kebijakan dan Strategi --- II.5-12
BAB VI
BIDANG POLITIK
iv
6.2.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.6-20 6.2.3 Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.6-25
BAB VII
BIDANG PERTAHANAN DAN KEAMANAN
7.1 Kondisi Umum --- II.7-1 7.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.7-6 7.2.1 Permasalahan --- II.7-6 7.2.1.1 Kesenjangan Postur dan Struktur Pertahanan Negara --- II.7-6 7.2.1.2 Wilayah Perbatasan dan Pulau Terdepan --- II.7-7 7.2.1.3 Industri Pertahanan --- II.7-7 7.2.1.4 Gangguan Keamanan dan Pelanggaran Hukum
di Wilayah Laut Yurisdiksi Nasional --- II.7-8 7.2.1.5 Keamanan dan Keselamatan Pelayaran
di Selat Malaka dan ALKI --- II.7-8 7.2.1.6 Terorisme --- II.7-8 7.2.1.7 Kejahatan Lintas Negara dan Kejahatan Serius (serious crime) --- II.7-9 7.2.1.8 Intensitas dan Variasi Kejahatan Konvensional --- II.7-9 7.2.1.9 Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
serta Keselamatan Publik --- II.7-9 7.2.1.10 Penanganan dan Penyelesaian Perkara --- II.7-10 7.2.1.11 Kepercayaan Masyarakat Terhadap Polisi --- II.7-10 7.2.1.12 Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba --- II.7-11 7.2.1.13 Deteksi dini yang Masih Belum Memadai --- II.7-11 7.2.1.14 Keamanan Informasi Negara yang Masih Lemah --- II.7-11 7.2.1.15 Kesenjangan Kapasitas Lembaga Penyusun
Kebijakan Pertahanan-Keamanan Negara --- II.7-12 7.2.2 Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.7-12 7.3 Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.7-13
BAB VIII
BIDANG HUKUM DAN APARATUR
8.1 Kondisi Umum --- II.8-1 8.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.8-10
v
8.3.4 Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN -- II.8-16 8.3.5 Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik --- II.8-17 8.3.6 Peningkatan Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah --- II.8-19 8.3.7 Pemantapan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi --- II.8-21
BAB IX
BIDANG WILAYAH DAN TATA RUANG
vi
9.2.2.7 Kawasan Strategis --- II.9-33 9.2.2.8 Kawasan Perbatasan --- II.9-34 9.2.2.9 Daerah Tertinggal --- II.9-34 9.2.2.10 Kawasan Rawan Bencana --- II.9-34 9.2.2.11 Desentralisasi, Hubungan Pusat Daerah dan Antardaerah --- II.9-35 9.2.2.12 Tata Kelola dan Kapasitas Pemerintahan Daerah --- II.9-35 9.3 Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.9-36 9.3.1 Pembangunan Data dan Informasi Spasial --- II.9-36 9.3.2 Penyelenggaraan Penataan Ruang --- II.9-36 9.3.3 Pengelolaan Pertanahan --- II.9-37 9.3.4 Pembangunan Perkotaan --- II.9-37 9.3.5 Pembangunan Perdesaan --- II.9-39 9.3.6 Pengembangan Ekonomi Lokal dan Daerah --- II.9-39 9.3.7 Pengembangan Kawasan Strategis--- II.9-40 9.3.8 Pengembangan Kawasan Perbatasan --- II.9-41 9.3.9 Pengembangan Daerah Tertinggal --- II.9-41 9.3.10 Penanggulangan Bencana dan Pengurangan Resiko Bencana --- II.9-43 9.3.11 Pemantapan Desentralisasi, Hubungan Pusat Daerah dan Antardaerah --- II.9-43 9.3.12 Tata Kelola dan Kapasitas Pemerintahan Daerah --- II.9-44
BAB X
BIDANG SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP
10.1 Kondisi Umum --- II.10-1 10.1.1 Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian
Perikanan, dan Kehutanan --- II.10-2 10.1.2 Peningkatan Ketahanan dan Kemandirian Energi --- II.10-6 10.1.3 Peningkatan Pengelolaan Sumber daya Mineral dan Pertambangan --- II.10-7 10.1.4 Perbaikan Kualitas Lingkungan Hidup --- II.10-8 10.1.5 Peningkatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan --- II.10-11 10.1.6 Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan --- II.10-12 10.1.7 Peningkatan Kualitas Informasi Iklim dan Bencana Alam
serta Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim --- II.10-14 10.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012 --- II.10-15 10.2.1 Permasalahan --- II.10-15
10.2.1.1 Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian
Perikanan, dan Kehutanan --- II.10-16 10.2.1.2 Peningkatan Ketahanan dan Kemandirian Energi --- II.10-17 10.2.1.3 Peningkatan Pengelolaan Sumber daya Mineral
vii
10.2.1.6 Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan --- II.10-22 10.2.1.7 Peningkatan Kualitas Informasi Iklim dan Bencana Alam
serta Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim --- II.10-23 10.2.2 Sasaran --- II.10-23
10.2.2.1 Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian
Perikanan, dan Kehutanan --- II.10-23 10.2.2.2 Peningkatan Ketahanan dan Kemandirian Energi --- II.10-24 10.2.2.3 Peningkatan Pengelolaan Sumber daya Mineral
dan Pertambangan --- II.10-25 10.2.2.4 Perbaikan Kualitas Lingkungan Hidup --- II.10-25 10.2.2.5 Peningkatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan --- II.10-25 10.2.2.6 Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan --- II.10-26 10.2.2.7 Peningkatan Kualitas Informasi Iklim dan Bencana Alam
serta Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim --- II.10-26 10.3 Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.10-26
10.3.1 Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian
Perikanan, dan Kehutanan --- II.10-29 10.3.2 Peningkatan Ketahanan dan Kemandirian Energi --- II.10-31 10.3.3 Peningkatan Pengelolaan Sumber daya Mineral dan Pertambangan --- II.10-33 10.3.4 Perbaikan Kualitas Lingkungan Hidup --- II.10-34 10.3.5 Peningkatan Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Hutan --- II.10-34 10.3.6 Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan --- II.10-35 10.3.7 Peningkatan Kualitas Informasi Iklim dan Bencana Alam
serta Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim --- II.10-36
BAB XI
SISTEM PENDUKUNG MANAJEMEN PEMBANGUNAN NASIONAL
11.1 Kondisi Umum --- II.11-1 11.2 Permasalahan dan Sasaran Pembangunan --- II.11-3 11.2.1 Peraturan Perundang-undangan --- II.11-3 11.2.2 Sumber Daya Manusia Perencana --- II.11-3 11.2.2 Desentralisasi dan Otonomi Daerah --- II.11-3 11.2.2 Sinergi Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Nasional --- II.11-4 11.2.2 Globalisasi --- II.11-4 11.3 Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2012 --- II.11-7 11.3.1 Penguatan Perencanaan dan Pengembangan --- II.11-7 11.3.2 Perkuatan Data dan Statistik --- II.8-8 11.3.3 Perkuatan Pengadaan Barang dan Jasa Publik --- II.8-9
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Implementasi Kebijakan Pengarusutamaan Tata Kelola Pemerintah yang Baik RKP Tahun 2011 Melalui Rencana Kerja Kementerian/Lembaga
Tahun 2012 Beserta Indikatornya --- II.1-8 Tabel 1.2 Target Kinerja Pembangunan Pengarusutamaan Gender Tahun 2012--- II.1-15 Tabel 2.1 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia, 2000-2010 --- II.2-2 Tabel 2.2 Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial--- --- II.2-13 Tabel 2.3 Cakupan Layanan Kementerian Sosial --- II.2-13 Tabel 3.1 Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2008-2010 --- II.3-2 Tabel 3.2 Realisasi Penanaman Modal Sektor Non Migas 2004-2010 --- II.3-3 Tabel 3.3 Realisasi Penanaman Modal Sektor Non Migas Berdasarkan Lokasi--- II.3-3 Tabel 3.4 Nilai dan Pertumbuhan Ekspor (2008-2010) --- II.3-5 Tabel 3.5 Perkembangan Pembangunan Kepariwisataan Tahun 2009-2010 --- II.3-6 Tabel 3.6 Perkembangan Aset Lembaga Keuangan dan Pasar Modal
Tahun 2008-2010 --- II.3-13 Tabel 3.7 Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas--- --- II.3-14 Tabel 3.8 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas yang Bekerja di Sektor Industri
Pengolahan--- II.3-15 Tabel 3.9 Penanaman Modal dan Penyaluran Kredit di Sektor Industri --- II.3-15 Tabel 3.10 Perkembangan BUMN Tahun 2005-2010 --- II.3-16 Tabel 3.11 Pelaksanaan Jaminan Kesehatan di Indonesia Tahun 2010--- --- II.3-19 Tabel 6.1 Statistik Pelayanan Perlindungan WNI dan BHI --- II.6-16 Tabel 8.1 Perkembangan Pencapaian Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih
dan Bebas KKN --- II.8-5 Tabel 8.2 Perkembangan Pencapaian Pelayanan Publik --- II.8-7 Tabel 8.3 Perkembangan Pencapaian Peningkatan Kapasitas dan Akuntabilitas
Birokrasi, serta Reformasi Birokrasi pada Instansi Pemerintah --- II.8-9 Tabel 9.1 Alur Pikir Prioritas Bidang Penyelenggaraan Penataan Ruang dalan
RPJMN 2010-2014--- II.9-6 Tabel 9.2 Daerah yang Menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Perkembangan Angka Kemiskinan Indonesia Tahun 2004-2010---- II.1-27 Gambar 2.1 Kerangka Pikir Kebijakan Pembangunan Bidang Sosial Budaya
dan Kehidupan Beragama--- --- II.2-1 Gambar 3.1 Kinerja Aliran Investasi Langsung (FDI) di Indonesia--- --- II.3-4 Gambar 3.2 Nilai Indeks Penjualan Ritel--- --- II.3-7 Gambar 3.3 Gambaran Pertumbuhan Industri Non Migas--- II.3-14 Gambar 3.4 Kontribusi BUMN untuk APBN--- II.3-16 Gambar 3.5 Kontribusi Ekspor Berdasarkan Sektor--- II.3-21 Gambar 3.6 Perkembangan Kunjungan Wisman --- II.3-22 Gambar 3.7 Perbandingan Kunjungan Wisman Antar Negara ASEAN
Tahun 2006-2009 --- II.3-22 Gambar 4.1 Kerangka Pikir Pembangunan IPTEK--- II.4-1 Gambar 5.1 Kerangka pikir kebijakan pembangunan sarana dan Prasarana... --- II.5-1 Gambar 6.1 Indeks Demokrasi Indonesia 2007 dan 2009 --- II.6-2 Gambar 6.2 Komposisi Parpol Koalisi dan Oposisi di DPR-RI --- II.6-2 Gambar 6.3 Jumlah Pembangunan dan Penguatan Media Center 2007-2010 ---- II.6-5 Gambar 6.4 Sebaran Media Tradisional Per Provinsi 2010 --- II.6-6 Gambar 6.5 Sebaran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) --- II.6-6 Gambar 7.1 Kerangka Pikir Pembangunan Bidang Pertahanan dan Keamanan
Tahun 2010-2014 --- II.7-2 Gambar 7.2 Kerangka Pikir RKP 2012 Bidang Pertahanan dan Keamanan --- II.7-15 Gambar 8.1 Kerangka Pikir Pembangunan Bidang Hukum dan Aparatur --- II.8-2 Gambar 9.1 Alur Berpikir Pencapaian Sasaran Pembangunan Bidang Wilayah
dan Tata Ruang --- II.9-3 Gambar 9.2 Alur Pikir Pembangunan Bidang Pengelolaan Bencana --- II.9-18 Gambar 10.1 Alur Pembangunan Bidang Sumber Daya Alam
BAB I
BAB I
KEBIJAKAN PENGARUSUTAMAAN
DAN LINTAS BIDANGPENGARUSUTAMAAN
1.1. Pengarusutamaan
1.1.1. Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan 1.1.1.1.Kondisi Umum
Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai proses pembangunan yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Untuk mencapai keberlanjutan yang menyeluruh, diperlukan keterpaduan antara 3 (tiga) pilar utama pembangunan, yaitu keberlanjutan dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berintegrasi dan saling memperkuat satu dengan yang lain. Selain ketiga pilar tersebut, untuk mendukung terlaksananya ketiga pilar utama dan menjaga dan menjamin pencapaian pembangunan berkelanjutan, diperlukan aspek kelembagaan yang meliputi kerangka kerja kelembagaan dan kemampuan lembaga/ institusi-institusi yang ada.
Salah satu bentuk penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan yang sudah dimulai Indonesia yaitu dengan disusunnya National Sustainable Development Strategy (Agenda 21) pada tahun 1997. Dokumen ini berisi rekomendasi strategi untuk sektor-sektor terkait dalam menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan hingga tahun 2020. Selanjutnya, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ini telah ditetapkan sebagai salah satu kebijakan pengarusutamaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009, RPJMN 2010-2014 serta Rencana Kerja Tahunannya. Langkah ini penting, karena meskipun pembangunan dalam setiap aspek telah berjalan, namun sinergi dan sinkronisasinya untuk menjamin keberlanjutan perlu dilakukan dan dijaga bersama.
II.1-2 RKP 2012 Untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan, Pemerintah Indonesia menekankan strategi pembangunan yang pro-growth, pro-job, dan pro-environment. Strategi tersebut dilaksanakan dengan menerapkan model pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan atau disebut sebagai Green Economy. Green economy adalah suatu model pendekatan pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan menuju pembangunan yang berkelanjutan. Dalam pemahaman konsep green economy,
kesejahteraan masyarakat akan tidak menurun/ meningkat secara terus menerus dalam kualitas lingkungan fisik dan sosial yang tidak semakin menurun. Dalam pertemuan Special Session on Governing Council ke-11 UNEP di Bali, Pemerintah Indonesia menyatakan green economyparadigm pembangunan yang berlandaskan pendekatan efisiensi sumberdaya dengan penekanan kepada internalisasi biaya deplesi dan degradasi lingkungan, usaha untuk memerangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja yang layak, dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Beberapa inisiatif yang sudah dilakukan untuk menerapkan green economy/ ekonomi hijau di Indonesia antara lain melalui penerapan efisiensi energi, pemakaian energi terbarukan, penerapan mekanisme pembangunan bersih, subsidi dan pajak lingkungan, peningkatan transportasi massal yang rendah karbon, penerapan penangkapan ikan berkelanjutan, penerapan pola pertanian berkelanjutan, serta pemanfaatan hasil hutan yang lestari.
Dalam tataran internasional, Indonesia berperan aktif dalam forum internasional yangmembahas implementasi pembangunan berkelanjutan seperti pertemuan-pertemuan para pihak untuk tiga konvensi hasil pertemuan tingkat tinggi bumi di Rio de Janeiro (UNFCCC, UNCBD, dan UNCCD) serta berbagai pertemuan terkait lainnya. Pada pertemuan
Intergovernmental Preparatory MeetingComission Sustainable Development (IPM-CSD) ke-19 di New York pada bulan Maret 2011, dibahas enam isu tematik yang perlu mendapat perhatian khusus dalam rangka pencapaian pembangunan berkelanjutan, yaitu: (1) transportasi (efisiensi energi, peningkatan alternatif mode transportasi yang rendah karbon, peningkatan teknologi, dan sistem transportasi berkelanjutan); (2) bahan kimia (peran SAICM, sinergi antara the Basel, Rotterdam and Stockholm Conventions, dukungan pendanaan dan teknologi, kebijakan nasional, dan kerjasama dengan para pihak.); (3) manajemen limbah (pentingnya pendekatan 3Rs (reducing, reusing, recycling) dan pengelolaan sampah sebagai salah satu opsi untuk menyelesaikan masalah persampahan, menyediakan peluang kerja, dan menurunkan angka kemiskinan); (4) pertambangan (kebijakan dan institusi di tingkat nasional untuk menangani dampak sosial dan lingkungan akibat penambangan, peningkatan teknologi bersih, dan efisiensi energi); (5) pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan sebagai salah satu langkah konkrit green economy (membahas proses penyusunan 10th Year Framework of Programmes on Sustainable Consumption and Production, terutama untuk sektor energi, limbah padat dan limbah B3, air dan sanitasi, serta tata kota dan mobilitasnya); dan (6) isu lintas bidang yang mengindikasikan banyaknya keterkaitan antar lima thematic issues sebelumnya.
Permasalahan dan Sasaran
Pembangunan Indonesia sebagian besar saat ini masih bertumpu pada peningkatan perekonomian yang didominasi penggunaan sumber daya alam secara berlebihan, penggunaan teknologi yang belum efisien dan tidak ramah lingkungan, yang menyebabkan turunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan perlu diaplikasikan dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari di setiap bidang/ aktivitas pembangunan.
Dari sisi lingkungan, walaupun sudah dilakukan berbagai upaya untuk menanggulangi kerusakan lingkungan hidup, pencemaran dan penurunan kualitas daya dukung lingkungan hidup terus terjadi. Untuk itu, pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang/ sektor yang telah mengkoordinasikan aspek dampak terhadap lingkungan secara terintegrasi masih perlu terus dilakukan.
Permasalahan lain yang dihadapi dari sisi lingkungan adalah belum adanya indikator/ ukuran secara nasional yang dipakai untuk mengetahui perkembangan kondisi kualitas lingkungan di Indonesia. Saat ini, BPS dan KLH telah menyusun Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH), dan data-data serta konsep indikator sudah disusun. Namun demikian, Indeks yang bersifat komposit tersebut masih perlu dipertajam dan disederhanakan agar mudah dan dapat dilaksanakan di lapangan. Dengan demikian monitoring dan evaluasi dapat dilakukan.
Banyaknya pemangku kepentingan yang berperan dalam pembangunan
berkelanjutan mengharuskan adanya koordinasi serta sinergi yang baik antar berbagai pihak tersebut. Setiap pihak mempunyai peran dan fungsi dalam menggerakkan subsistem yang membentuk sistem pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, konsep pembangunan berkelanjutan harus bersifat transparan dan membuka akses seluruh pihak (masyarakat, swasta dan pemerintah) untuk dapat berperan aktif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan itu. Pemerintah diharapkan dapat memberikan arah kebijakan, standar-standar, manual, serta kerangka kebijakan penunjang lainnya yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan.
Memperhatikan kondisi dan permasalahan diatas, sasaran pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2012 adalah: (1) Teradopsinya secara bertahap prinsip pembangunan berkelanjutan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan; (2) Terpadunya pelaksanaan program-program pembangunan yang mengarah kepada perwujudan pembangunan berkelanjutan, yaitu: MDGs, Green Economy/ Ekonomi Hijau, serta Penerapan KLHS dalam perencanaan pembangunan; (3) Disepakati, disusunnya satu alat untuk mengukur pencapaian pembangunan yang berkelanjutan; serta (4) Terwujudnya peningkatan kapasitas kelembagaan dan aparat pemerintah di Indonesia untuk penerapan Pembangunan yang Berkelanjutan.
Strategi dan Arah Kebijakan
Sesuai arahan RPJMN 2010-2014, prinsip pengarusutamaan dilakukan dengan cara yang terstruktur dengan kriteria sebagai berikut: (1) kegiatan yang dilakukan merupakan upaya integral dalam kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan; (2) kegiatan tidak mengimplikasikan adanya tambahan pendanaan (investasi) yang signifikan karena
berasaskan koordinasi dan sinergi; (3) pembangunan dilakukan dengan
II.1-4 RKP 2012 tampung lingkungan dalam proses perencanaan dan pelaksanaannya; dan (4) pengarusutamaan terutama dilakukan pada sektor yang memberikan dampak besar terhadap kualitas lingkungan dan di wilayah/daerah yang rawan kerusakan lingkungan, diprioritaskan pada kegiatan strategis pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan serta keadilan dan keberlanjutan sosial.
Sebagai kelanjutan dari capaian yang sudah diperoleh dan adanya permasalahan yang dihadapi, arah kebijakan pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan tahun 2012 adalah:
(1) Melanjutkan proses internalisasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam 3 (tiga) pilar utama pembangunan berkelanjutan.
(2) Menjabarkan hal-hal konkrit dalam pilar kerangka kelembagaan terutama untuk memastikan berbagai pemangku kepentingan dalam kerangka kelembagaan yang tepat dan dapat memercepat internalisasi 3 (tiga) prinsip pembangunan berkelanjutan.
(3) Menyepakati ukuran-ukuran untuk pembangunan berkelanjutan yang tepat dan dapat digunakan baik di tingkat nasional dan daerah sehingga prinsip pembangunan berkelanjutan dapat berjalan nyata di lapangan.
1.1.2. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik 1.1.2.1.Kondisi Umum
Tata kelola pemerintahan yang baik merupakan tatanan manajemen pemerintahan yang ditandai dengan penerapan prinsip-prinsip tertentu, seperti keterbukaan, akuntabilitas, efektivitas dan efisiensi, supremasi hukum, keadilan, dan partisipasi. Penerapan tata kelola pemerintahan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan oleh sebuah negara mempunyai peranan yang sangat penting bagi tercapainya sasaran pembangunan nasional secara efektif dan efisien. Terbangunnya tata kelola yang baik
dalam manajemen pemerintahan,tercermin dari berkurangnya angka korupsi,
meningkatnya keberhasilan pembangunan di berbagai bidang, meningkatnya kualitas pelayanan publik, dan terbentuknya birokrasi pemerintahan yang profesional dan berkinerja tinggi. Oleh karena itu, guna mewujudkan visi pembangunan nasional yaitu terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan, maka tata kelola pemerintahan yang baik dalam manajemen pemerintahan harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.
instansi yang melibatkan 31.121 peserta, yang terdiri dari jajaran eksekutif, legislatif, maupun LSM.
Terkait dengan sistem penegakan disiplin PNS, pemerintah telah mengeluarkan PPNomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS. Peraturan tersebut telah ditindaklanjuti dengan Peraturan Kepala BKN No. 21/2010 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.Diharapkan peraturan ini dapat dijadikan pedoman bagi K/L untuk menerapkan sistem penegakan disiplin di instansi masing-masing. Sedangkan terkait dengan mekanisme pengadaan barang dan jasa, pemerintah telahmenerbitkan Perpres 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, sebagai revisi Keppres Nomor 80 Tahun 2003, yang kemudian akan diperkuat melalui penyusunan RUU Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Langkah-langkah untuk mengurangi praktek KKN dalam pengadaan barang dan jasa diperkuat dengan penerapan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), yang diatur melalui Perka LKPP Nomor 2 Tahun 2010.
Dalam bidang pelayanan publik, pemerintah menyadari bahwa masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik, dan demikian juga sebaliknya peemrintah berkewajiban menyelenggarakan pelayanan secara professional, cepat, murah dan tidak diskriminatif. Oleh karena itu, beberapa langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah, antara lain telah diterbitkannya UU. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, yang kemudian akan diikuti dengan penyusunan PP yang mengatur tentang penerapan sistem pelayanan terpadu, standar pelayanan publik, tata cara peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik, dan manajemen pengaduan. Selain itu, sampai dengan tahun 2010 telah ditetapkan 8 SPM, yaitu SPM Bidang Kesehatan, SPM Bidang Lingkungan Hidup, SPM Bidang Sosial, SPM Bidang Perumahan Rakyat, SPM Bidang Pemerintahan Dalam Negeri, SPM Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, SPM Bidang Pendidikan dan SPM Bidang Keluarga Berencana.
Dari segi kapasitas dan akuntabilitas birokrasi, pemerintah telah menyusun berbagai peraturan perundangan sebagai landasan penataan birokrasi pemerintah. Selain itu, dalam aspek kelembagaan akan terus diupayakan penataan menyeluruh pada instansi pemerintah. Dari sisi akuntabilitas, berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja instansi pemerintah pusat tahun 2010, tercatat 50 K/L atau 63,29% mendapatkan kategori cukup baik ke atas. Prosentase ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang hanya 47,37%. Capaian tersebut tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk senantiasa mendorong upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas birokrasi, sebagai langkah untuk mengembangkan manajemen pemerintahan berbasis kinerja.
II.1-6 RKP 2012 a. Implementasi kebijakan pengarusutamaan tata kelola pemerintahan yang baik oleh K/L, untuk mencapai sasaran penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN adalah sebesar 60%, yang diimplementasikan dalam bentuk kebijakan yang harus diatur pada level instansi maupun penerapan dari kebijakan yang sifatnya nasional. Indikator yang diukur antara lain, penegakan disiplin, penerapan pakta
integritas, kepatuhan penyampaian LHPKN, penerapan SPIP, penerapan
e-procurement, tindaklanjut hasil temuan, dan lainnya.
b. Implementasi kebijakan pengarusutamaan tata kelola pemerintahan yang baik oleh K/L, untuk mencapai sasaran peningkatan kualitas pelayanan publik adalah sebesar 43%. Indikator yang diukur antara lain, penerapan standar pelayanan, penerapan maklumat pelayanan, penerapan manajemen pengaduan, dan lainnya.
c. Implementasi kebijakan pengarusutamaan tata kelola pemerintahan yang baik oleh K/L, untuk mencapai sasaran peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi adalah sebesar 50%. Indikator yang diukur antara lain penataan kelembagaan, penyusunan SOP utama, manajemen SDM aparatur, penerapan SAKIP, dan lainnya.
Capaian tersebut menunjukkan komitmen K/L dalam mengimplementasikan kebijakan pengarusutamaan tata kelola pemerintahan yang baik, sesuai mandat RPJMN 2010-2014. Namun demikian, capaian tersebut harus terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, mengingat sesuai dengan target RPJMN 2010-2014, pada tahun 2014 diharapkan seluruh K/L telah sepenuhnya mengimplementasikan kebijakan tersebut. Hal itu sekaligus sebagai salah satu upaya dalam rangka perluasan dan peningkatan kualitas reformasi birokrasi nasional.
1.1.2.2.Permasalahan dan Sasaran
Dalam aspek penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, permasalahan yang munculdiantaranya belum tuntasnya berbagai landasan peraturan perundang-undangan, seperti peraturan yang mengatur pengawasan nasional; kualitas pengelolaan keuangan negara belum sepenuhnya dikelola secara akuntabel dan transparan sesuai standar akuntansi pemerintah; praktek pengadaan barang dan jasa pemerintah belum transparan; kualitas dan kompetensi aparat pengawas internal pemerintah belum memadai Demikian pula dengan penerapan sistem integritas di lingkungan instansi pemerintah masih cukup rendah.
Dari sisi pelayanan publik, penyelenggaraan pelayanan publik belum berjalan secara maksimal. Pelayanan dasar belum dapat dinikmati secara optimal oleh masyarakat; sistem perizinan masih berbelit-belit; SDM sebagai ujung tombak pelayanan belum bertindak secara profesional, responsif dan penuh integritas; dan manajemen pelayanan belum memanfaatkan TIK secara optimal.Selain itu, penerapan standar pelayanan minimal (SPM) belum dilaksanakan secara konsisten; dan pengaduan masyarakat belum dimanfaatkan sebagai input untuk evaluasi dan perbaikan kualitas pelayanan.
pemerintah belum disertai dengan SOP utama yang mencerminkan tugas pokok dan pelayanan. Pada aspek SDM aparatur, penerapan sistem merit dalam manajemen kepegawaian belum diterapkan secara maksimal di lingkungan instansi pemerintah.Pada aspek akuntabilitas kinerja, meskipun terdapat kemajuan dalam pelaksanaan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, namun masih terdapat beberapa permasalahan pokok yang harus ditangani.
Sasaran prioritas pembangunan bidang hukum dan aparatur adalah: (1) peningkatan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN; (2) Peningkatan kualitas pelayanan publik; dan (3) Peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. Sasaran tersebut, diuraikan lebih lanjut pada RKP 2012 Bab VIII Bidang Hukum dan Aparatur.
Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut di atas, sasaran kebijakan pengarusutamaan tatakelola pemerintahan yang baik adalah sebagai berikut:
1. Meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, yang ditandai dengan, antara lain:
a. Meningkatnyaprosentasepenegakan disiplin PNS di seluruh instansi pemerintah; b. Makin meningkatnya penerapan pakta integritas bagi pejabat pemerintah;
c. Meningkatnya Kepatuhan penyampaian LHKPN;
d. Meningkatnya prosentase pelaporan gratifikasi; e. Meningkatnya kualitas penyelenggaraan SPIP;
f. Meningkatnya penerapan e-procurement dalam pengadaan barang dan jasa; g. Meningkatnya prosentase tindaklanjut atas hasil pemeriksaan BPK
h. Meningkatnya akuntabilitas pengelolaan anggaran; dan
i. Meningkatnya prosentase tindaklanjut atas pengaduan masyarakat 2. Meningkatnya kualitas pelayanan publik, yang ditandai dengan, antara lain:
a. Meningkatnya prosentase penerapan Standar Pelayanan pada Unit
Penyelenggara Pelayanan Publik;
b. Meningkatnya prosentase penerapan Maklumat Pelayanan pada unit pelayanan
publik;
c. Meningkatnya jumlah Pelayanan Terpadu Satu Pintu untuk pelayanan utama dan investasi;
d. Meningkatnya prosentase penerapan manajemen pengaduan yang efektif pada unit penyelenggara pelayanan publik;
e. Tersusun dan terlaksananya rencana percepatan peningkatan kualitas pelayanan publik; dan
f. Terlaksananya evaluasi dan penilaian terhadap kinerja pelayanan publik.
3. Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi, yang ditandai dengan, antara lain:
a. Meningkatnya prosentase kelembagaan dan tatalaksana instansi pemerintah yang proporsional, efektif dan efisien;
b. Meningkatnya prosentase instansi pemerintah yang telah menyusun SOP utama; c. Meningkatnya kualitas penerapan manajemen SDM (transparan dan berbasis
merit/kompetensi);
II.1-8 RKP 2012 e. Meningkatnya prosentase penerapan manajemen kearsipan dan dokumentasi
berbasis TIK; dan
f. Meningkatnya prosentase penerapan SAKIP (renstra, penilaian kinerja, kontrak kinerja, pengendalian, dan lain-lain)
1.1.2.3.Strategi dan Arah Kebijakan
Untuk mendorong implementasi kebijakan pengarusutamaan tata kelola
pemerintahan yang baik maka akan ditempuh strategi dan arah kebijakan sebagai berikut:
1. Peningkatan sosialisasi dan asistensi kebijakan nasional tatakelola pemerintahan yang baik;
2. Pengintegrasian implementasi kebijakan pengarusutamaan tatakelola
pemerintahan yang baik dalam sistem perencanaan dan penganggaran;
3. Pengembangan sistem reward and punishment atas implementasi kebijakan tatakelola pemerintahan yang baik;
4. Peningkatan monitoring dan evaluasi implementasi kebijakan pengarusutamaan tatakelola pemerintahan yang baik.
TABEL 1.1
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGARUSUTAMAAN TATA KELOLA PEMERINTAHANYANG BAIK RKP TAHUN 2011 MELALUI RENCANA KERJA
KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN 2012 BESERTA INDIKATORNYA
No. Isu/Kebijakan
1. Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN
1.1 Penegakan disiplin PNS di seluruh instansi
1.2 Penerapan pakta integritas bagi pejabat pemerintah
Penerapan pakta integritas bagi pejabat Eselon I, II, dan III
1.3 Kepatuhan
% pejabat yang telah melaporkan LHKPN
1.4 Kebijakan antikorupsi Mewajibkan pelaporan gratifikasi
1.5 Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Internal
1.6 Pengembangan Sistem
e-Procurement Nasional
1.7 Tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK
1.9 Pengaduan masyarakat Tindaklanjut
pengaduan masyarakat
-Tersedianya sistem pengaduan masyarakat yang efektif
-% Penyelesaian tindak lanjut atas pengaduan yang disampaikan masyarakat
2. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
2.1 Penerapan Standar Pelayanan pada Unit
2.2 Penerapan Maklumat Pelayanan pada unit pelayanan publik
Menerapkan maklumat pelayanan untuk unit pelayanan publik
II.1-10 RKP 2012
menerapkan
maklumat pelayanan
2.3 Penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu untuk pelayanan utama dan investasi
Penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Pemerintah Daerah
2.4 Penerapan Manajemen Pengaduan
% unit pelayanan publik yang menerapkan pada K/L yang telah menerapkan manajemen pengaduan yang efektif
2.5 Percepatan peningkatan kualitas pelayanan pelayanan publik pada unit penyelenggara pelayanan
3. Peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi
3.1 Penataan kelembagaan instansi pemerintah visi, misi, strategi dan analisis obyektif, serta tupoksi.
% Tersusunnya struktur kelembagaan (organisasi dan tata kerja) yang proporsional, efektif, penyusunan SOP utama
% SOP utama telah tersusun sesuai dengan proses bisnis yang lebih sederhana
Tersusunnya 50% SOP utama pada setiap K/L sesuai dengan proses bisnis yang lebih sederhana
3.3 Pemantapan kualitas manajemen SDM
rekrutmen yang transparan
-Tersedia sistem
promosi dan mutasi yang terbuka dan transparan
II.1-12 RKP 2012
1.1.3. Pengarusutamaan Gender 1.1.3.1.Kondisi Umum
Pembangunan nasional selama ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Untuk itu, pembangunan nasional selayaknya memberikan akses yang memadai serta adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan, serta turut mempunyai andil dalam proses pengendalian/kontrol pembangunan. Hal ini juga tercermin pada salah satu agenda pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, yaitu agenda kelima, pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan menerapkan strategi pengarusutamaan gender di setiap bidang pembangunan.
Pengarusutamaan gender (PUG) dilakukan dengan mengintegrasikan perspektif (sudut pandang) gender ke dalam proses pembangunan di setiap bidang. Penerapan pengarusutamaan gender akan menghasilkan kebijakan publik yang lebih efektif untuk mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh penduduk Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan. Piranti analisis yang dapat digunakan untuk strategi pengarusutamaan gender antara lain adalah 'Alur Kerja Analisis Gender' (Gender Analysis Pathway – GAP). GAP digunakan untuk melakukan analisis gender dalam rangka pengarusutamaan gender ke dalam perencanaan kebijakan/ program/kegiatan
-Tersedianya sistem penegakan kode etik yang efektif, disertai penerapan penerapan e-Government yang konkrit dan terukur
Tersusunnya rencana sistem berbasis TIK
Tersedia sistem
pembangunan. Hasil analisis gender ini kemudian digunakan untuk melakukan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Dengan demikian, diharapkan bahwa pengintegrasian gender ke dalam siklus perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat dan daerah akan membuat pengalokasian sumber daya pembangunan menjadi lebih efektif, akuntabel, dan adil dalam memberikan manfaat kepada perempuan dan laki-laki.
1.1.3.2.Permasalahan dan Sasaran
Permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pengarusutamaan gender dalam pembangunan adalah sebagai berikut. Pertama,meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan. Rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan, antara lain, disebabkan oleh terjadinya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat, dan partisipasi dalam pembangunan, serta penguasaan terhadap sumber daya, terutama di bidang politik, jabatan-jabatan publik, dan di bidang ekonomi, baik di tatanan antarprovinsi dan antarkabupaten/kota; serta rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial, serta terjadinya penyakit.
Pada lembaga yudikatif, data tahun 2010 menunjukkan bahwa dari 7.974 hakim yang ada, terdapat 1.869 hakim perempuan (23,4 persen), dan dari 39 hakim agung, 6 diantaranya adalah perempuan (15,4 persen).Sementara itu, data Kejaksaan RI menunjukkan bahwa pada tahun 2010, jumlah jaksa perempuan sebanyak 2.357 orang (29,50 persen), sedangkan laki-laki sebanyak 5.632 orang (70,50 persen). Di lembaga eksekutif, walaupun terjadi peningkatan partisipasi perempuan yang menduduki jabatan eselon, namun jabatan yang diduduki perempuan masih berpusat pada eselon IV. Dari uraian tersebut terlihat bahwa posisi, komposisi, serta peran perempuan di lembaga yudikatif dan eksekutif masih relatif kecil. Di samping itu, marginalisasi perempuan di sektor informal merupakan masalah yang masih harus dihadapi, mengingat bahwa sektor informal ini menyerap tenaga kerja perempuan yang terbesar, dan telah terbukti menjadi 'sabuk pengaman' perekonomian keluarga.
Kedua,meningkatkan perlindungan bagi perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan. Hal ini terlihat dari masih belum memadainya jumlah dan kualitas tempat pelayanan bagi perempuan korban kekerasan karena banyaknya jumlah korban yang harus dilayani dan luasnya cakupan wilayah yang harus dijangkau. Data Susenas 2006 menunjukkan bahwa prevalensi kekerasan terhadap perempuan sebesar 3,1 persen atau sekitar 3-4 juta perempuan mengalami kekerasan setiap tahun. Namun, hingga saat ini, pusat krisis terpadu (PKT) untuk penanggulangan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perdagangan perempuan hanya tersedia di 3 provinsi dan 5 kabupaten. Di samping itu, masih terdapat ketidaksesuaian antarproduk hukum yang dihasilkan, termasuk antara produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dengan daerah, sehingga perlindungan terhadap perempuan belum dapat terlaksana secara komprehensif.
II.1-14 RKP 2012 memadainya kapasitas kelembagaan dalam pelaksanaan PUG, terutama sumber daya manusia, serta ketersediaan dan penggunaan data terpilah menurut jenis kelamin dalam siklus pembangunan; dan (3) masih rendahnya pemahaman mengenai konsep dan isu gender serta manfaat PUG dalam pembangunan, terutama di kabupaten/kota.
Sasaran pengarusutamaan gender adalah meningkatnya kesetaraan gender, yang ditandai dengan: (a) meningkatnya kualitas hidup dan peran perempuan terutama di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi termasuk akses terhadap penguasaan sumber daya, dan politik dan pengambilan keputusan; (b) meningkatnya persentase cakupan perempuan korban kekerasan yang mendapat penanganan pengaduan; dan (c) meningkatnya efektivitas kelembagaan PUG dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan yang responsif gender di tingkat nasional dan daerah.
1.1.3.3.Strategi dan Arah Kebijakan
Berdasarkan permasalahan, tantangan, dan sasaran sebagaimana tersebut di atas, maka strategi dan arah kebijakan pengarusutamaan gender dilakukan melalui tiga isu nasional, yaitu:
1. peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan, melalui peningkatan akses terhadap pelayanan yang berkualitas serta harmonisasi peraturan perundangan dan pelaksanaannya di semua tingkat pemerintahan, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan;
2. perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan, melalui upaya-upaya pencegahan, pelayanan, dan pemberdayaan; dan
3. peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan.
TABEL 1.2
TARGET KINERJA PEMBANGUNAN PENGARUSUTAMAAN GENDER TAHUN 2012
No Isu/Kebijakan
1. Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan
1.1 Penjaminan Kepastian Layanan Pendidikan SD
1)
Rasio kesetaraan gender SD/SDLB
Rasio APM peserta didik perempuan:laki laki pada MI
>0,98 Program
Rasio kesetaraan gender SMP/SMPLB
Rasio APM peserta didik perempuan:laki laki pada MTs
>0,98 Program Pendidikan Islam
Kementerian Agama
1.5 Penyediaan dan Peningkatan Pendidikan SMA
1)
Rasio kesetaraan gendersiswa SMA
Rasio APK peserta didik perempuan:laki laki pada MA
>0,9 Program
Rasio kesetaraan gender PT 104,6 %
Rasio APK peserta didik perempuan:laki laki pada PTA
1,12 Program
1 Persentase kab/kota yang telah menerapkan
1 Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (cakupan PN)
2 Persentase ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal (cakupan K4)
II.1-16 RKP 2012 sesuai standar dan pedoman
496 Pembinaan
Persentase penduduk yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas
Jumlah kebijakan, strategi, dan materi pembinaan ketahanan remaja yang dilaksanakan dan dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan pembangunan sektor lainnya (NSPK, pedoman, juklak/juknis, SPM, mekanisme operasional, dan peta kerja)
4 Program
Persentase PUS, WUS, remaja, dan keluarga yang mengetahui informasi Kependudukan dan KB melalui media massa (cetak dan elektronik) dan media luar ruang
1 Persentase komplikasi berat yang dilayani
2 Persentase kegagalan KB yang dilayani
Jumlah kebijakan, strategi, dan informasi tentang akses dan kualitas pelayanan KB yang dapat dioperasionalkan di daerah galciltas, wilayah khusus, sasaran khusus, dan berwawasan gender (NSPK,
Jumlah lanjut usia terlantar yang berhasil dilayani, dilindungi dan direhabilitasi baik di dalam maupun di luar panti (jiwa)
1.19 Bantuan Sosial Korban Bencana Alam 1)
Jumlah korban bencana alam yang berhasil dibantu dan dilayani (jiwa)
1.20 Bantuan Sosial Korban Bencana Sosial 1)
1.21 Pedoman,
1 Jumlah modul pendidikan pemilih untuk kelompok
2 Jumlah kegiatan pendidikan pemilih bagi caleg perempuan
10
3 Jumlah kader parpol
perempuan yang mendapatkan pendidikan politik
150
1.22 Bina Ideologi dan Wawasan
1.23 Fasilitasi Politik Dalam Negeri3)
Jumlah materi/modul pendidikan politik bagi calon pemilih pemula
1.24 Fasilitasi Politik Dalam Negeri3)
Jumlah kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil menyusui dan kelompok resiko tinggi yang memperoleh
2. Perlindungan Perempuan terhadap Berbagai Tindak Kekerasan
2.1 Penyusunan
Tingkat penanganan isu illegal migrant dan human traficking
II.1-18 RKP 2012
Tingkat penanganan isu illegal migrant dan human traficking
serta isu-isu lainnya
% pemberian bantuan hukum (advokasi dan lawyer) bagi WNI terutama tenaga kerja wanita
2.6 Pencegahan dan Penanggulangan
1 Tingkat pelibatan dan penyikapan aparat negara dalam upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk
3 Hasil kajian dan rekomendasi yang ditindaklanjuti terkait isu kekerasan terhadap
4 Jumlah pemantauan termasuk pencarian fakta dan
pendokumentasian
pelanggaran HAM perempuan
5 Prosentase respon pengaduan perempuan korban kekerasan
80%
6 Presentase sistem pemulihan korban pelanggaran HAM yang dikembangkan
45%
7 Meningkatnya fungsi kelembagaan Komnas
3. Peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan
3.1
1 Jumlah kebijakan pelaksanaan PUG dalam penerapan ARG di bidang pendidikan
1 Jumlah kebijakan
pelaksanaan PUG di bidang kesehatan penerapan ARG di bidang kesehatan
pelaksanaan PUG di bidang sumber daya alam dan lingkungan penerapan ARG di bidang sumber daya alam dan lingkungan
K/L 2
prov 5
3
Jumlah K/L dan pemda yang difasilitasi dalam penyusunan data
terpilah di bidang sumber daya alam dan lingkungan
pelaksanaan PUG di bidang politik dan pengambilan
1 Program Kesetaraan Gender dan
II.1-20 RKP 2012 penerapan ARG di bidang politik dan pengambilan di bidang politik dan pengambilan keputusan
1 Jumlah kebijakan
pelaksanaan PUG di bidang hukum
Jumlah K/L dan pemda yang difasilitasi dalam penerapan ARG di bidang hukum
1 Jumlah kebijakan
pelaksanaan PUG di bidang ketenagakerjaan penerapan ARG di bidang ketenagakerjaan
1 Jumlah kebijakan
pelaksanaan PUG di bidang koperasi, usaha mikro dan kecil, industri, dan penerapan ARG di bidang koperasi, usaha mikro dan kecil, industri, dan
perdagangan
prov 8 3 Jumlah K/L dan pemda
yang difasilitasi dalam penyusunan data terpilah di bidang koperasi, usaha mikro dan kecil, industri, dan perdagangan
pelaksanaan PUG di bidang pertanian, kehutanan, penerapan ARG di bidang pertanian, kehutanan,
1 Jumlah kebijakan
pelaksanaan PUG di bidang IPTEK dan sumber daya ekonomi penerapan ARG di bidang IPTEK dan sumber daya ekonomi di bidang IPTEK dan sumber daya ekonomi
1 Jumlah kebijakan
pelaksanaan PUG di bidang infrastruktur penerapan ARG di bidang infrastruktur
K/L 1
II.1-22 RKP 2012
1 Jumlah kebijakan
perlindungan perempuan
4 Persentase cakupan perempuan korban kekerasan yang mendapat penanganan pengaduan
70
5 Persentase cakupan anak korban kekerasan yang
1 Jumlah kebijakan penerapan sistem data
3 Tersedianya sistem data gender
prov 5
II.1-24 RKP 2012
1.2. Kebijakan Lintas Bidang
1.2.1. Penanggulangan Kemiskinan 1.2.1.1.Kondisi Umum
1.2.1.1.1. Pendahuluan
Kemiskinan merupakan permasalahan multidimensi sehingga dalam penyelesaiannya memerlukan penanganan lintas bidang dengan dukungan dari berbagai pihak mulai dari kementerian/lembaga di pusat maupun dinas teknis di tingkat daerah, sampai pada perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, swasta maupun masyarakatnya sendiri. Penurunan kemiskinan yang ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat miskin dapat dicapai jika terjadi peningkatan dan perluasan terhadap akses pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan keberdayaan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam proses pembangunan serta peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan usaha mereka. Kebijakan yang bersifat affirmative/keberpihakan menjadi sangat penting untuk diperluas cakupannya (inklusif), baik dari sisi sasaran maupun program serta perlu memperhatikan keadilan dalam pelaksanaannya. Selain itu, perlu adanya sinergitas antara pusat dan daerah dalam menyusun kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan, serta didukung dengan strategi dan kebijakan ekonomi makro yang kondusif, sehingga
2 Penerapan Sistem Teknologi Informasi di
1) Kegiatan ini tercantum pada Bab II (Bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama) 2) Kegiatan ini tercantum pada Bab III (Bidang Ekonomi)
3) Kegiatan ini tercantum pada Bab VI (Bidang Politik)
dapat menciptakan kestabilan ekonomi yang dibutuhkan dalam menurunkan angka kemiskinan. Sampai dengan tahun 2010, tingkat kemiskinan nasional telah dapat diturunkan menjadi 13,33 persen dari 14,15 persen pada tahun 2009. Diharapkan tingkat kemiskinan ini akan dapat diturunkan kembali menjadi 11,5 – 12,5 persen pada tahun 2011.
1.2.1.1.2. Pelaksanaan Program Tahun 2010 dan Rencana Pelaksanaan Tahun 2011
Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan fokus pada masyarakat miskin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan. Pada tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1 persen dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 2,9 persen. Kestabilan pertumbuhan sektor pertanian merupakan faktor penting dalam mempertahankan mata pencaharian petani dan juga menjaga serta mencukupi pasokan bahan komoditas pokok terutama bahan pangan. Pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6,4 persen, dan sektor pertanian diharapkan tumbuh 2,8 persen.
Penyerapan tenaga kerja sebagai salah satu upaya untuk mengurangi jumlah pengangguran yang sedikit banyak juga berpengaruh pada tingkat kemiskinan juga terus ditingkatkan. Selama bulan Agustus 2009 sampai dengan Agustus 2010 telah dapat diciptakan 3,34 juta kesempatan kerja. Pada bulan Agustus 2010 terdapat 108,21 juta tenaga kerja, dimana sebanyak 72,43 juta (66,93%) adalah tenaga kerja di sektor informal. Penyerapan tenaga kerja di sektor informal yang meningkat ini memberikan kelangsungan pendapatan bagi masyarakat di sekitar garis kemiskinan. Pada periode tahun 2010-2014, sasaran penciptaan kesempatan kerja adalah sebesar 9,6 – 10,7 juta pekerja.
Sejalan dengan berbagai upaya perbaikan kondisi ekonomi makro, meliputi upaya-upaya untuk stabilisasi ekonomi termasuk penciptaan lapangan kerja, upaya-upaya penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat keberpihakan (affirmative) kepada masyarakat miskin melalui 3 (tiga) klaster program penanggulangan kemiskinan. Secara umum, pelaksanaan berbagai kegiatan di dalam ketiga klaster tersebut berjalan dengan baik.
II.1-26 RKP 2012 Selanjutnya, pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat miskin terus ditingkatkan pelaksanaannya dengan cakupan wilayah serta jumlah penerima yang semakin diperluas. PKH dimaksudkan untuk menjaga agar anak-anak dari rumah tangga miskin tetap berada di sekolah untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya serta memelihara kesehatan balita serta ibu yang sedang hamil agar pertumbuhan anak di masa golden years dapat optimal mulai dilakukan saat anak masih dalam kandungan. PKH pada tahun 2010 telah dilaksanakan bagi 772.000 rumah tangga sangat miskin (RTSM) pada 20 provinsi dan pada tahun 2011 akan ditingkatkan menjadi 1.116.000 RTSM di 25 provinsi.
Pelaksanan program Klaster II Pemberdayaan Masyarakat terus diperluas dan ditingkatkan kualitasnya, agar semakin efektif dalam mewujudkan kemandirian dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Pada tahun 2010 sudah dilaksanakan pelayanan PNPM Mandiri Inti di 6.328 Kecamatan di seluruh Indonesia. Pada tahun 2011 PNPM Mandiri Inti akan mencakup di 6.623 Kecamatan. Pelaksanaan PNPM Mandiri juga didukung oleh pelaksanaan PNPM Penguatan (pendukung) yaitu diantaranya: (i) PNPM Generasi sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan generasi penerus, yang pada tahun 2010 dilakukan di 212 kecamatan di 27 kabupaten pada 5 provinsi, dan pada tahun 2011 akan dilaksanakan di 217 kecamatan di 26 kabupaten pada 5 provinsi; (ii) PNPM Kelautan dan Perikanan (PNPM-KP) yang ditujukan untuk memberikan fasilitas bantuan sosial dan akses usaha modal pada tahun 2010 dilaksanakan di 120 Kabupaten pada 33 Provinsi. Pada tahun 2011 PNPM-KP akan dilaksanakan melalui Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP) dan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR); (iii) PNPM Agribisnis (PUAP) yang pada tahun 2010 dilaksanakan di 10.000 desa, dan pada tahun 2011 akan menjangkau 10.000 desa lainnya, ditujukan agar usaha agribisnis berkembang dan meningkat kualitasnya; (iv) PNPM Pariwisata yang baru masuk kedalam PNPM Penguatan dengan tujuan mengembangkan kapasitas masyarakat dan memperluas kesempatan berusaha dalam kegiatan kepariwisataan, pada tahun 2010 telah melaksanakan kegiatannya di 200 desa pada 83 kabupaten/kota dan pada tahun 2011 akan dikembangkan di 569 desa pada 248 kabupaten/kota.
Program-program Klaster III dilaksanakan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk UMKM dan koperasi, yang sejak tahun 2007 sampai dengan akhir tahun 2010 mencapai hampir Rp 34,42 triliun, dan mencakup sekitar 3,81 juta nasabah. Pada periode tahun 2010, dana KUR yang sudah disalurkan mencapai Rp 17,23 triliun dengan jumlah nasabah lebih dari 1,44 juta nasabah dan rata-rata kredit/pembiayaan sebesar Rp 11,98 juta. Pada tahun 2011, direncanakan penyaluran KUR mencapai Rp 20 triliun. Pelaksanaan Klaster III juga diperluas dengan penyediaan dana melalui koperasi untuk 2.600 koperasi/kelompok UMKM, serta pelatihan budaya/motivasi usaha dan teknis dan manajemen bagi sekitar 1.000 usaha mikro.
1.2.1.1.3. Pencapaian Hasil Pelaksanaan
Pelaksanaan dari berbagai program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan di atas, serta didukung oleh pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sebesar 6,1 persen yang melebihi dari target yang ditetapkan sebesar 5,8 persen, telah menyumbang pada penurunan tingkat kemiskinan dari 14,15 persen pada tahun 2009 menjadi 13,33 persen pada tahun 2010.
Walaupun cenderung menurun, pada tahun 2010 masih terdapat sebanyak 31,02 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, jika dilihat dari kecenderungan penurunan kemiskinan, terjadi pelambatan penurunan tingkat kemiskinan yaitu dari tahun 2008 ke 2009 tingkat kemiskinan menurun 1,27 persen, sedangkan dari tahun 2009 ke 2010 hanya menurun 0,82 persen. Perkembangan angka kemiskinan disajikan dalam Gambar 1.
GAMBAR 1: PERKEMBANGAN ANGKA KEMISKINAN INDONESIA TAHUN 2004-2010
Sumber: BPS, berbagai tahun (diolah)
1.2.1.2.Permasalahan dan Sasaran
Permasalahan penanggulangan kemiskinan yang diperkirakan akan dihadapi di tahun 2012 adalah: (1) semakin besarnya jumlah penduduk yang rentan terhadap kemiskinan (penduduk hampir miskin) serta ketepatan sasaran program penanggulangan kemiskinan. Pelaksanaan PPLS 2011 mengalami perubahan, yaitu dengan mengubah basis pendataan dari rumah tangga menjadi keluarga sehingga diperkirakan akan menambah jumlah keluarga miskin sebagai sasaran program penanggulangan kemiskinan.; (2) masih belum berkembangnya iklim usaha yang kondusif di daerah, sehingga belum mampu menarik investasi lokal, mendorong berkembangnya budaya usaha di masyarakat, dan meningkatkan akses masyarakat miskin yang memiliki kegiatan produktif kepada sumber permodalan, yang berakibat pada belum optimalnya kesempatan usaha ekonomi untuk peningkatan pendapatan dan daya beli di daerah.; (3) dampak iklim global juga masih
36,15 35,1
39,3
37,17
34,96
32,53 31,02
16,66 15,97 17,75 16,58 15,42
14,15 13,33
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
II.1-28 RKP 2012 menjadi tantangan dalam penanggulangan kemiskinan karena akan berpengaruh pada kehidupan ekonomi nelayan seperti berkurangnya waktu melaut, maupun pada petani dengan terjadinya banjir dan cuaca yang tidak menentu sehingga mempengaruhi waktu tanam dan hasil panen.; (4) masih rendahnya tingkat pemenuhan beberapa kebutuhan dasar (indikator kemiskinan non pendapatan) seperti pada kecukupan pangan (kalori), layanan kesehatan, air bersih dan sanitasi, perumahan serta kebutuhan listrik dan bahkan terjadi ketimpangan antar golongan pendapatan.; (5) semakin termarjinalkannya masyarakat miskin, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam pemenuhan hak dasar dan mereka kurang memiliki akses terhadap penguasaan dan legalitas lahan untuk mengembangkan kehidupan mereka secara layak.; (6) masih kurang efektifnya penyelenggaraan bantuan sosial, serta keterbatasan jumlah dan kapasitas sumber daya manusia, seperti tenaga lapangan yang terdidik, terlatih dan memiliki kemampuan dalam penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial.; (7) belum optimalnya lembaga pelaksanaan program-program jaminan sosial terutama untuk menjaga agar masyarakat miskin atau hampir miskin tidak semakin parah kondisi sosial ekonominya; (8) permasalahan kemiskinan dan tingkat keparahan kemiskinan yang berbeda antara Jawa/Bali dengan daerah lainnya, sehingga memerlukan penanganan yang berbeda. Kondisi di beberapa daerah yang sangat terpencil, tertinggal dan di perbatasan juga memerlukan perhatian khusus dalam pelaksanaaan berbagai program kemiskinan agar memberikan dampak yang signifikan dalam penurunan kemiskinan; dan (9) masih kurang optimalnya pelibatan masyarakat terutama masyarakat miskin dalam perencanaan dan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan, baik karena keterbatasan akses, informasi, teknologi dan budaya, juga karena terbatasnya jumlah dan kapasitas sumber daya manusia dalam melakukan pendampingan.
Selanjutnya, dengan memperhatikan perkembangan capaian tahun 2010 serta perkiraan permasalahan pada tahun 2012 sebagaimana diuraikan di atas, serta proyeksi kondisi ekonomi makro nasional pada tahun 2012, tingkat kemiskinan ditargetkan dapat diturunkan hingga pada kisaran 10,5-11,5 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2012.
1.2.1.3.Strategi dan Arah Kebijakan
Dalam rangka mendukung pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, upaya-upaya penurunan tingkat kemiskinan untuk mencapai sasaran pada tahun 2012 perlu lebih diperluas baik sasaran maupun cakupan kegiatannya yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, arah kebijakan penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut: (i) mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan pro-rakyat miskin dengan memberi perhatian khusus pada usaha-usaha yang melibatkan orang-orang miskin serta usaha-usaha yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan; (ii) meningkatkan kualitas serta memperluas kebijakan afirmatif/keberpihakan untuk penanggulangan kemiskinan melalui perluasan 3 klaster program pro-rakyat yang dituangkan dalam pelaksanaan klaster 4; (iii) meningkatkan efektivitas pelaksanaan penurunan kemiskinan di daerah termasuk percepatan pembangunan daerah terpencil dan perbatasan; dan (iv) menata dan meningkatkan kualitas pelaksanaan lembaga jaminan sosial.
Fokus 1. Peningkatan dan Penyempurnaan Kualitas Kebijakan Perlindungan Sosial Berbasis Keluarga.
Untuk tahun 2012, Fokus 1 mengenai bantuan sosial terpadu akan diarahkan pada peningkatan perlindungan sosial berbasis keluarga bagi rumah tangga miskin. Hal ini dilakukan melalui penggunaan data keluarga miskin terpadu yang dihasilkan dari Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 yang berbasis keluarga. Selanjutnya, pada tahun 2012 akan dilakukan pula: (i) penyempurnaan kriteria, proses penargetan, serta proses seleksi penerima bantuan sosial, pengembangan sistem informasi manajemen yang berkualitas, serta peningkatan jumlah dan perluasan cakupan sasaran program; (ii) perluasan cakupan Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi 1,516 juta Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) serta mencakup wilayah timur Indonesia; (iii) peningkatan cakupan pelayanan, perlindungan, dan rehabilitasi sosial bagi 170 ribu anak telantar, 38 ribu lanjut usia telantar, dan 51 ribu penyandang cacat berat telantar; (iv) penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) melalui pemberian aset tanah yang layak terutama bagi kalangan kurang mampu sebanyak 219.391 bidang; (v) serta penguatan akses dan kualitas pelayanan program KB bagi keluarga miskin di daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan didukung dengan promosi kebijakan pengendalian kependudukan serta peningkatan dukungan sarana dan prasarana pelayanan program KB dalam rangka mengendalikan pertumbuhan penduduk miskin serta meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin.
Fokus 2. Penyempurnaan dan Peningkatan Efektivitas Pelaksanaan PNPM Mandiri.
Dalam Fokus 2, pada tahun 2012, penyempurnaan pelaksanaan PNPM Mandiri dilakukan dengan: (i) melanjutkan pelaksanaan PNPM Mandiri inti di 6.625 kecamatan di seluruh Indonesia; (ii) peningkatan efektivitas dampak PNPM Mandiri dan peningkatan kualitas lembaga keswadayaan masyarakat yang sudah terbangun melalui PNPM Mandiri; (iii) peningkatan kualitas dan perluasan integrasi PNPM Mandiri Inti dengan Penguatan, dengan pemanfaatan lembaga keswadayaan sebagai wadah partisipasi masyarakat terhadap pembangunan di wilayahnya dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan kecamatan; (iv) peningkatan keterkaitan perencanaan di tingkat masyarakat dengan perencanaan reguler dalam mendukung proses perencanaan dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin; (vi) peningkatan kegiatan ekonomi produktif dan infrastruktur skala kecil untuk memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat miskin dalam rangka meningkatkan kesejahterannya.
Fokus 3. Peningkatan Akses Usaha Mikro dan Kecil kepada Sumberdaya Produktif.
II.1-30 RKP 2012 (linkage), dan peningkatan penyaluran KUR pada sektor-sektor produktif. Peningkatan akses permodalan juga dilakukan melalui peningkatan peran dan jangkauan lembaga pembiayaan non perbankan, termasuk koperasi simpan pinjam dan lembaga keuangan mikro non koperasi. Upaya-upaya tersebut diperkuat dengan peningkatan kapasitas pengelolaan usaha mikro dan kecil terutama dari sisi kewirausahaan, penerapan teknologi tepat guna, dan praktik berkoperasi. Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat mandukung usaha mikro dan kecil untuk tumbuh menjadi usaha yang memiliki daya tahan yang tinggi sehingga mempuyai kontribusi yang signifikan dalam penanggulangan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.
Fokus 4. Peningkatan dan Perluasan Program-Program Pro-Rakyat
Dalam Fokus 4, pada tahun 2012 akan dilakukan peningkatan dan perluasan program-program yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan termarjinalkan. Program-program ini ditujukan untuk melengkapi berbagai program dan kegiatan yang telah dijalankan melalui tiga klaster program penanggulangan kemiskinan. Dengan demikian, cakupan sasaran, program dan kegiatan untuk pengurangan kemiskinan akan diperluas termasuk juga keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan program. Program-program tersebut dituangkan kedalam Klaster 4 program pro-rakyat. Klaster 4 program pro-rakyat yang menjadi Fokus 4 ini akan dilakukan melalui 6 program, yaitu: (i) pembangunan rumah murah dan sangat murah bagi masyarakat sangat miskin dan miskin; (ii) penyediaan angkutan umum murah yang dilakukan melalui : (a) pengembangan mobil perdesaan dengan daya mesin 650 cc dimulai dengan ujicoba produksi dan segitiga klaster industri tahun 2011 dan produksi awal serta perluasan segitiga klaster industri tahun 2012; dan (b) pengembangan industri kendaraan bermotor roda empat hemat energi, ramah lingkungan, dan harga terjangkau (low cost and green car/LCGC) dengan dukungan kebijakan yang mendorong produksi dalam negeri dan kebijkan pemberian fasilitas fiskal daam rangka investasi dan pengembangan pasar dalam negeri dan ekspor; (iii) penyediaan air bersih untuk rakyat yang ditekankan untuk daerah rawan air dan tetap dilakukan dengan pendekatan tanggap kebutuhan (demand-responsive), dengan sasaran fasilitasi penyediaan air minum di 894 desa, 249 kawasan MBR perkotaan, 124 sistem penyediaan air minum (SPAM) di Ibu Kota Kecamatan (IKK), dan 140 kawasan khusus termasuk kawasan nelayan; (iv) penyediaan listrik murah dan hemat serta terjangkau bagi masyarakat miskin dengan sasaran terpenuhinya kebutuhan tenaga listrik dan meningkatkan rasio elektrifikasi desa, meningkatnya pemanfaatan energi baru terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik, dan meningkatnya penghematan pemanfaatan tenaga listrik.; (v) peningkatan kehidupan nelayan yang diarahkan pada 400 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI); serta (vi) peningkatan kehidupan masyarakat pinggir perkotaan mencakup pembangunan rumah murah atau upaya realokasi jika kondisi sangat buruk, pengembangan ekonomi masyarakat melalui KUR dan UKM juga penyediaan fasilitas khusus sekolah dan puskesmas.
mendapatkan bantuan dari berbagai program yang ada pada Klaster 4 dan ketiga klaster lainnya. Kelompok masyarakat pada program 5 dan 6, pada umumnya masuk pada 60% masyarakat termiskin, yaitu kelompok RTSM dan RTM, serta sebagian kecil dari RTHM. Selain 6 program dalam Klaster 4, juga terdapat 3 program tambahan, yaitu Program Surplus Beras, Transportasi Jakarta, dan Lapangan Kerja. Dalam rangka penanggulangan kemiskinan, Program Lapangan Kerja sangat terkait dengan keempat Klaster program pro-rakyat. Keterkaitan Program Lapangan Kerja terutama mencakup kebijakan-kebijakan seperti yang telah diuraikan pada fokus-fokus prioritas di atas, seperti sumbangan peningkatan kesempatan kerja dari Program PNPM Mandiri dan KUR. Secara Makro kebijakan Peningkatan dan Perluasan Program Pro-Rakyat ini tidak terlepas dari kebijakan dalam Master Plan Ekonomi yang dijelaskan pada Buku I.
Fokus 5. Peningkatan Sinkronisasi dan Efektivitas Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan serta Harmonisasi antar Pelaku.
Dalam Fokus 5 pada tahun 2012 akan dilakukan: (i) peningkatan efektivitas koordinasi dan sinkronisasi melalui Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K); (ii) pemantapan agenda kerja Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dalam melakukan koordinasi program-program penanggulangan kemiskinan untuk percepatan penurunan kemiskinan di daerah; (iii) penguatan kelembagaan pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang lebih berpihak pada masyarakat miskin; (iv) memperkuat kemandirian desa dalam pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan; meningkatkan ketahanan desa sebagai wilayah produksi; serta meningkatkan daya tarik perdesaan melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan pendapatan seiring dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan lingkungan; dan (v) penanganan kantung-kantung kemiskinan terutama yang berada di daerah tertinggal, terdepan dan terluar, termasuk pembangunan sarana dan prasarana dasar dan pendukung (meliputi listrik, air, jalan penghubung antarpulau) di pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecil terluar. Upaya (iv) dan (v) ini terkait dengan arah kebijakan pada Bab IX Bidang Wilayah dan Tata Ruang.
1.2.2. Perubahan Iklim Global 1.2.2.1.Kondisi Umum
Perkembangan perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini telah berdampak signifikan terhadap berlangsungnya kehidupan, yaitu (1) kenaikan permukaan air laut, (2) perubahan/ pergeseran musim hujan dan musim kering yang berdampak pada produksi pertanian, dan (3) peningkatan frekuensi dan intensitas banjir, kekeringan dan kebakaran hutan. Secara global, perubahan iklim juga telah berdampak pada gagalnya produksi komoditas pangan yang mengakibatkan naiknya harga komoditas pangan pokok dunia.