Bab I. Pendahuluan
Bab 4. Road Map
Sasaran Operational and Service Excellences 2014 kemudian dijabarkan menjadi target tahunan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 16. Tabel 16 ‐ Roadmap to Operational & Service Excellences 2010‐2014 PARAMETER SATUAN 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Availability TL % 99.703 99.703 99.848 99.851 99.852 99.900 Trx % 99.654 99.654 99.775 99.800 99.804 99.828 Reliability SI % 96.48 97.00 97.50 98.00 98.50 99.00 DI % 97.40 97.00 97.50 98.00 98.50 99.00 LOSSES % 2.12 2.08 2.05 2.00 1.95 1.90 Ekskursi Tegangan
Diluar range % jumlah GI 20.00 16.20 12.40 8.60 4.80 1.00 Ekskursi Frekuensi
Diluar range 49,5 – 50,5 Hz Kali 398 338 279 219 160 100
(t > 60 s)
Efisiensi
Efektifitas Biaya
Pemeliharaan/ Aset Bruto % 0.91 1.29 1.30 1.20 1.10 1.00
Ramah Lingkungan
(Jumlah Komplain terhadap
keberadaan Instalasi ) Kali 20 17 14 11 8 5
Produktivitas Pegawai
MVA Avlb/ peg MVA / Peg 7.30 7.36 9.11 11.06 12.69 14.26
4.1. Availability
Availability meliputi kesiapan sistem transmisi dan trafo menyalurkan
energi listrik ke konsumen. Hal‐hal yang mempengaruhi availability antara lain: keterbatasan kemampuan sistem transmisi dan trafo, gangguan pada sistem transmisi dan trafo, menurunnya fleksibilitas operasi dan pelaksanaan pemeliharaan yang tidak tepat waktu. Roadmap avaliability adalah sebagaimana ditunjukan oleh Tabel 17.
Tabel 17 – Roadmap Avaliability
PARAMETER SATUAN 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Availability
TL % 99.703 99.703 99.848 99.851 99.852 99.900
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 27
Availibility Trafo dan Transmisi adalah parameter yang digunakan untuk menghitung tingkat kesiapan trafo dan transmisi yang disajikan dalam bentuk prosentase, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
( )
( )
100% 8760 1 x x MVA MVA MVA Avlb Total n JamGanggua araan JamPemelih Trafo=⎜⎜⎝⎛ − + ⎟⎟⎠⎞( )
( )
100% 8760 1 x x CC CC CC Avlb Total n JamGanggua araan JamPemelih Transmisi=⎜⎜⎝⎛ − + ⎟⎟⎠⎞Asumsi yang digunakan dalam menentukan proyeksi availability ditunjukkan pada Tabel 18.
Tabel 18 ‐ Asumsi Perhitungan Availability Parameter Asumsi Sat 2010 2011 2012 2013 2014 Penambahan Trafo s.d Desember tahun sebelumnya MVA Sudah merupakan penetapan kontrak kinerja 6470 10494 12256 5020 Penambahan Transmisi s.d Desember tahun sebelumnya CC 59 76 83 68 Gangguan Tx terhadap jumlah gangguan Tx 2009 % 25 40 41 46 Gangguan TL terhadap jumlah Gangguan TL 2009 25 40 41 46 Waktu Pemeliharaan IBT 500/150 Jam 48 48 48 48 Waktu Pemeliharaan Trafo selain IBT 500/150 KV Jam 12 12 12 8 Pemeliharaan Transmisi Jam 12 12 12 8
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perhitungan target Availability, antara lain:
1. MVA yang digunakan dalam perhitungan Availability Trafo adalah MVA total dari seluruh trafo termasuk IBT.
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 28
2. Rencana Penambahan asset Trafo dan Transmisi dalam perhitungan ini diambil dari Buku RUPTL 2010‐2019 dengan asumsi asset yang direncanakan terealisasi tepat waktu.
3. Durasi pemeliharaan Trafo dan Transmisi didapatkan dari rencana pemeliharaan. Khusus untuk 2014, jam pemeliharaan untuk Transmisi dan Trafo (selain IBT 500/150 kV) ditargetkan 8 jam/planning outage demi mencapai Availability 99,90%. 4.2. Reliability
Reliability atau keandalan didefinisikan sebagai kemungkinan suatu sistem proteksi dapat bekerja benar sesuai fungsi yang diinginkan dalam kondisi dan jangka waktu tertentu. Reliability dapat dinilai berdasarkan derajat kepastian suatu sistem proteksi akan bekerja benar pada kondisi yang diperlukan dalam jangka waktu tertentu (Dependability Index/DI) dan derajat kepastian suatu sistem proteksi tidak mengalami kesalahan kerja pada kondisi yang ditentukan dalam jangka waktu tertentu (Security Index/SI). Realisasi SI pada tahun 2009 adalah sebesar 96.48%, sedangkan DI adalah sebesar 97.4 %.
Pada tahun 2014 PLN P3B Jawa Bali ditargetkan untuk mencapai DI dan SI sebesar 99.00 %. Nilai tersebut didasarkan pada Grid Code dari beberapa Negara pembanding. Berdasarkan target tersebut maka dibuat target – target pencapaian SI dan DI untuk masing – masing tahun seperti ditunjukkan pada Tabel 19 berikut: Tabel 19 ‐ Roadmap Reliability Reliability Sat 2009 2010 2011 2012 2013 2014 SI % 96.48 97.00 97.05 98.80 98.50 99.00 DI % 97.40 97.00 97.05 98.80 98.50 99.00
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 29
4.3. Efisiensi
Efisiensi diukur dari perbandingan antara biaya pemeliharaan dengan jumlah aktiva tetap bruto. Dari Tabel 12, terlihat bahwa rasio biaya pemeliharaan terhadap aset bruto negara‐negara ASEAN berkisar pada 0.247% – 11.25%. Realisasi biaya pemeliharaan dibandingkan dengan jumlah aset total bruto PLN P3B pada tahun 2009 adalah 0.91 %. Untuk mencapai operational and service excellences 2014, perlu dilakukan pemeliharaan secara intensif sampai tahun 2012. Dengan demikian, rasio biaya pemeliharaan terhadap aset bruto sampai tahun 2011, akan meningkat. Setelah itu, rasio biaya pemeliharaan terhadap jumlah aset brutto akan menurun menjadi sebesar 1.00 % pada tahun 2014. Hal ini ditunjukkan pada Tabel 20. Efisiensi ini harus dilakukan tanpa mengorbankan keandalan sistem dan peralatan. Tabel 20 Roadmap Efisiensi Parameter 2009 2010 2011 2012 2013 2014 AKTIVA TETAP BRUTO (Milyar) 46,382 49,047 58,761 70,155 74,526 79,865 BIAYA PEMELIHARAAN / AKTIVA TETAP BRUTO(Milyar) 424 631 763 842 820 799 BIAYA PEMELIHARAAN / AKTIVA TETAP BRUTO (%) 0.91 1.29 1.30 1.20 1.10 1.00 4.4. Losses
Losses atau susut transmisi dapat diakibatkan oleh kondisi peralatan maupun sistem sehingga tidak dapat dihilangkan tetapi bisa dikurangi. Nilai susut juga dipengaruhi oleh besarnya beban, komposisi pembangkitan dan panjang transmisi.
Usaha penekanan biaya produksi pembangkitan yang diterapkan di P3B Jawa Bali juga ikut menyumbang timbulnya susut. Hal ini disebabkan adanya transfer energi dari wilayah timur ke barat yang cukup besar. Jika pembangkitan merata, susut akan menjadi lebih rendah dari kondisi sekarang. Akan tetapi untuk menyeimbangkan kondisi tersebut tidaklah murah, untuk menaikkan pembangkitan di sisi barat, biaya pembangkitannya akan jauh lebih tinggi, dengan asumsi pembangkit berbahan bakar minyak harus dioperasikan, sementara energi dari sisi timur yang menggunakan gas atau batubara tidak digunakan. Dengan kondisi sistem jawa bali yang memiliki pembangkitan yang tidak merata dan jumlah cadangan yang relatif kecil, maka pengurangan losses dengan pengaturan komposisi pembangkitan tidak mudah dilaksanakan,
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 30
dikarenakan konsekuensi biaya pembangkitan yang timbul akibat pemerataan suplai energi akan sangat besar.
Maka dari itu, pendekatan lain yang dapat dilakukan adalah dari sisi optimasi penyaluran di level tegangan tinggi atau skala sub sistem. Di samping hal tersebut, penambahan beberapa pembangkit baru di sisi barat akan membuat pembangkitan menjadi lebih merata.
Nilai susut yang dihitung di PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali sekarang ini adalah susut sistem Jawa Bali dan susut masing‐masing region di sisi tegangan tinggi. Riwayat susut P3B Jawa Bali sejak dari tahun 1996 adalah sebagai berikut: 2.88 2.45 2.31 2.61 2.53 2.32 2.55 2.42 2.33 2.22 2.11 2.17 2.11 2.12 1.5 1.7 1.9 2.1 2.3 2.5 2.7 2.9
Losses Sistem Jawa Bali 1996 ‐ 2009 (%)
Gambar 14 ‐ Losses Sistem Jawa Bali 1996 ‐ 2009Nilai susut yang ditargetkan pada tahun 2014 adalah sebesar 1.9%. Selisih 0,22% dari target tersebut akan dikejar selama 5 tahun dengan proyeksi pencapaian target sebagai berikut:
Tabel 21 – Roadmap Losses
Besaran 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Susut (%) 2.12 2.10 2.05 2.00 1.95 1.90
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 31
Nilai pencapaian susut diatas merupakan proyeksi linier atas besarnya gap target susut di tahun 2014. Proyeksi tersebut diambil dengan asumsi jumlah pembangkit baru yang masuk dapat mengikuti peningkatan beban.
Dari nilai‐nilai susut yang sudah ada sekarang, pemetaan susut transmisi masih belum dapat dilaksanakan. Hal ini dikarenakan cakupannya yang masih luas. Cakupan tersebut masih bisa dibagi‐bagi lagi menjadi susut sub sistem tegangan tinggi dan tegangan ekstra tinggi sehingga dapat diambil tindakan yang tepat dalam rangka pengurangan nilai susut, khususnya pada sub sistem yang memiliki nilai susut yang relatif tinggi.
Penyeragaman sistem metering untuk keperluan penghitungan susut diperlukan agar perhitungan setara, dalam artian data diperoleh dari peralatan dengan kelas akurasi yang seragam yang sama dari hulu ke hilir. Sistem penghitungan susut yang terpadu akan memenuhi sasaran penghitungan susut yang akurat dan cepat.
4.5. Ekskursi Tegangan
Tegangan merupakan salah satu besaran pokok dalam sistem tenaga listrik yang perlu dikendalikan. Hal ini disebabkan karena tegangan merupakan salah satu tolak ukur kualitas layanan (Quality of Supply) yang harus dijaga sesuai dengan spesifikasi. Selain itu, tegangan juga berkaitan erat dengan kehandalan sistem, dalam rangka menghindari terjadinya voltage collapse di sistem tenaga listrik. Dalam aspek keekonomisan, profil tegangan di jaringan tenaga listrik juga berpengaruh terhadap susut jaringan. Susut jaringan ini dapat diminimalisir jika, profil tegangan di jaringan relatif mendekati nilai nominal (flat).
Dalam aturan jaringan sistem Jawa Bali, ekskursi tegangan didefinisikan sebagai kejadian penyimpangan tegangan di jaringan listrik melebihi rentang sebagai berikut:
Jaringan 500 kV : +/‐ 5% (475 – 525 kV) Jaringan 150 kV : +5/‐10% (157.5 – 135 kV) Jaringan 70 kV : +5/‐10% (73.5 – 63 kV)
Pada tahun 2009, di sistem Jawa Bali ekskursi tegangan terjadi di 13 GITET dari 23 GITET, 149 GI dari 294 GI 150 kV, dan 40 GI dari 91 GI 70 kV yang ada. Ekskursi tegangan paling banyak terjadi di Jawa bagian barat (Region Jakarta Banten dan Region Jawa Barat). Hal ini disebabkan utamanya adalah karena daerah‐daerah tersebut merupakan pusat beban yang sebagian daya aktifnya
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 32
dipasok dari Jawa bagian timur. Sementara di sisi lain, karena daya reaktif sifatnya lokal dan tidak dapat ditransfer melalui jarak yang jauh, daerah‐daerah tersebut mengalami kekurangan pasokan daya reaktif dan mengalami ekskursi tegangan.
Sifat daya reaktif yang tidak dapat ditransfer melalui jarak yang jauh, mengakibatkan profil tegangan sangat dipengaruhi oleh komposisi pembangkitan. Tegangan akan menjadi lebih baik jika komposisi pembangkitan merata di setiap area. Sebaliknya, jika transfer antar area tinggi maka tegangan sistem akan cenderung lebih buruk. Hal ini akan menjadi kompleks jika pembangkit harus didispatch sesuai dengan merit order sedemikian hingga mengakibatkan transfer antar area tinggi.
Sampai dengan tahun 2014, P3BJB mentargetkan ekskursi tegangan dapat ditekan hingga hanya 1% dari GI dan GITET yang ada, yang mengalami ekskursi tegangan seperti ditunjukkan pada Tabel 22. Tabel 22 ‐ Road Map Perbaikan Ekskursi Tegangan 4.6. Ekskursi Frekuensi Dalam pengoperasian sistem tenaga listrik, frekuensi sistem harus dijaga agar selalu mendekati nilai nominalnya, yaitu 50 Hz. Frekuensi nominal ini menandakan adanya keseimbangan antara beban ditambah susut transmisi dan pembangkitan. Jika frekuensi sistem lebih rendah dari frekuensi nominal, yang menandakan adanya kekurangan pembangkitan tenaga listrik, maka produk listrik tidak sesuai dengan Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) nya. Sebaliknya, jika frekuensi sistem melebihi frekuensi nominal, selain tidak sesuai dengan TMP, hal ini juga menandakan adanya kelebihan pembangkitan sehingga meningkatkan biaya produksi tenaga listrik dan mengurangi keekonomisannya.
Dalam aturan jaringan sistem Jawa Bali, ekskursi frekuensi didefinisikan sebagai kejadian naik atau turunnya frekuensi sistem melebihi 50.5 Hz atau
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 33
kurang dari 49.5 Hz. Terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab utama ekskursi frekuensi ini, antara lain:
1. Fluktuasi beban yang disebabkan adanya perubahan permintaan beban konsumen
2. Gangguan pada unit‐unit pembangkit 3. Gangguan pada sistem penyaluran
4. Defisit Daya dimana kemampuan pasokan daya pembangkit lebih rendah dari permintaan beban konsumen
Pada tahun 2009, Sistem Jawa Bali mengalami 398 kali ekskursi frekuensi. Dari jumlah tersebut, 80% disebabkan oleh fluktuasi beban. Sampai dengan tahun 2014, P3BJB mentargetkan ekskursi frekuensi dapat ditekan hingga hanya 100 kali dalam setahun seperti ditunjukkan pada tabel dibawah. Tabel 23 ‐ Road Map Perbaikan Ekskursi Frekuensi 4.7. Ramah Lingkungan PLN P3B Jawa Bali mempunyai wilayah kerja yang cukup luas dan sangat rawan dengan masalah social dan tindak kejahatan, terutama disepanjang jalur SUTT/SUTET, sekitar instalasi dan asset PLN lainnya. Kehadiran SUTT/SUTET juga sering dijadikan kambing hitam oleh masyarakat sebagai salah satu penyebab rendahnya harga tanah milik mereka.Namun dari sisi yang sebaliknya kehadiran SUTT/SUTET ditengah‐tengah masyarakat menjadi sebuah harapan baru yang diharapkan membawa perubahan yang dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian dan mendorong mereka dalam mencapai kesejahteraan. Jumlah Komplain terhadap keberadaan instalasi yang berada di wilayah kerja PLN P3B JB dan proyeksinya hingga tahun 2014 seperti ditunjukkan oleh Tabel 24 berikut:
PLN P3B Jawa Bali | Serving Quality and Reliability 34
Tabel 24 ‐ Roadmap Ramah Lingkungan
PARAMETER SATUAN 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Ramah Lingkungan
(Jumlah Komplain terhadap
keberadaan Instalasi ) Kali 20 17 14 11 8 5
4.8. Produktivitas Pegawai
Indikator produktivitas pegawai adalah MVA Available per pegawai. MVA Available dihitung pada akhir tahun berjalan sedangkan jumlah pegawai pada awal tahun. MVA Available hanya memperhitungkan MVA Trafo Distribusi (150/20 KV dan 70/20KV) dan Konsumen tegangan Tinggi (KTT). Jumlah pegawai dihitung berdasarkan jumlah pegawai pensiun normal tanpa memperhitungkan jumlah pegawai baru. Sampai dengan tahun 2014 diperkirakan MVA/peg akan mencapai 14.26. Roadmap produktivitas pegawai ditunjukan oleh Tabel 25. Nilai tersebut masih perlu dikaji ulang untuk menemukan nilai optimumnya. Tabel 25 – Roadmap Produktivitas Pegawai PARAMETER 2009 2010 2011 2012 2013 2014 MVA/PEG 7.30 7.36 9.11 11.06 12.69 14.26 MVA AVAILABLE 31,639 31,999 37,889 43,555 47,575 50,775 JUMLAH PEGAWAI 4336 *) 4,349 4,160 3,939 3,749 3,561 *) per 1 des 09