PANDEMI COVID 19
ROCCIPI Hasil Analisis
dan
Interpretasi
Interpretasi
Rule 98% responden mengetahui bahwa salah satu tujuan ditetapkannya PMK 78/2020 adalah untuk melaksanakan Perpres 64/2020 dalam rangka menjaga kualitas dan kesinambungan program JKN termasuk kebijakan iuran yang perlu disinergikan dengan kebijakan keuangan negara.
Dengan sebagian besar responden (74%) hanya membaca di bawah 3 kali, namun 98% responden sudah mengetahui tujuan utama ditetapkannya PMK 78/PMK.02/2020.
Salah satu asas menurut Undang-Undang 12 Tahun 2011 yang berpengaruh pada efektifitas implementasi dari sebuah peraturan perundang-undangan adalah “Asas
56
Kejelasan Rumusan”, baik kejelasan sistematika, pilihan kata atau istilah, serta bahasa yang digunakan. Dengan demikian maka peraturan perundang-undangan menjadi jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.
Terkait dengan isi dalam PMK 78/PMK.02/2020:
97% responden menyatakan kewenangan para pihak yang diatur sudah jelas.
96% responden menyatakan rumusan pasal dalam PMK 78/PMK.02/2020 mudah dipahami
96% responden menyatakan PMK 78/PMK.02/2020 telah disusun secara sistematis
Dengan demikian maka tidak ada masalah dalam perumusan kata, kalimat, dan sistematika dari PMK 78/PMK.02/2020 yang berpengaruh terhadap implementasi PMK 78/PMK.02/2020 itu sendiri.
Asas lainnya yakni asas kepastian hukum (Het Rechtszekerheids Beginsel). Dalam asas ini peraturan perundang-undangan harus selaras dengan peraturan perundang-undangan
57
lainnya, dengan demikian maka tidak boleh ada peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lain.
Terkait dengan isi dalam PMK 78/PMK.02/2020:
84% responden menyatakan tidak terdapat pasal yang bertentangan dengan pasal lain di dalam PMK 78/PMK.02/2020.
98% responden menyatakan PMK 78/PMK.02/2020 Selaras dan saling melengkapi dengan peraturan lain yang terkait
Opportunity 76% responden menyatakan bahwa pelaksanaan pembayaran kewajiban iuran sebagaimana diatur dalam PMK 78/PMK.02/2020 berdampak pada pencapaian target kinerja unit/instansinya. Sebagian besar responden menyatakan pencapaian target kinerja menjadi lebih baik. Hal ini memperlihatkan bahwa dengan adanya ketentuan yang mengatur dalam PMK tersebut, secara umum mempengaruhi kinerja unit/instansi menjadi semakin optimal.
Capacity salah satu asas peraturan adalah asas dapat dilaksanakan (Het Beginsel van Uitvoerbaarheid). Oleh karenanya agar
58
peraturan tersebut dapat dilaksanakan, perlu mempertimbangkan aspek kemampuan dari pihak yang akan melaksanakan aturan tersebut
82% responden menyatakan
pemberlakuan PMK
78/PMK.02/2020 pada 1 Juli 2020 menyediakan waktu yang memadai untuk dapat dilaksanakannya pembayaran sesuai ketentuan dalam PMK dimaksud.
88% responden menyatakan pengaturan baru mengenai kewajiban iuran dalam PMK
78/PMK.02/2020 dapat
diakomodasi dalam penganggaran pada instansi/unit masing-masing.
95% responden menyatakan sistem, prosedur, dan mekanisme yang ada pada instansi/unit masing-masing dapat mengakomodasi pelaksanaan ketentuan yang diatur dalam PMK 78/PMK.02/2020.
Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kapasitas instansi/unit telah memadai dalam rangka memenuhi
ketentuan-ketentuan dalam PMK
78/PMK.02/2020
Communication Adagium hukum mengatakan bahwa begitu peraturan diundangkan dalam
59
Lembaran Negara, maka setiap orang dianggap tahu peraturan tersebut.
Peraturan akan lebih efektif bila disosialisasikan dan disampaikan kepada masyarakat. Bahkan lebih jauh dari itu, peraturan akan lebih efektif bila dilakukan proses internalisasi baik melalui bimbingan teknis yang intensif maupun melalui advokasi (pendampingan).
72% responden menyatakan pernah mendapatkan informasi mengenai PMK 78/PMK.02/2020 dari Kementerian Keuangan (DJA)?
97% responden menyatakan informasi yang pernah didapatkan tersebut membantu dalam menegakkan ketentuan dalam PMK 78/PMK.02/2020.
46% responden yang pernah melakukan konsultasi mengenai pelaksanaan PMK 78/PMK.02/2020 dengan pihak Kementerian Keuangan apakah Kementerian Keuangan (DJA) menyampaikan tanggapan.
Secara umum DJA sudah menyampaikan informasi PMK 78/PMK.02/2020 secara optimal, namun demikian, dalam hal komunikasi dua arah, responden yang pernah
60
melakukan konsultasi ke DJA hanya sedikit yang mendapatkan tanggapan yang sesuai. Proses komunikasi yang baik merupakan proses komunikasi dua arah, masing-masing pihak harus melaksanakan dua fungsi secara bersamaan, baik sebagai penyampai pesan (sender) maupun sebagai penerima pesan (receiver) dengan baik dan efektif, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan.
Interest Minat stakeholders untuk melaksanakan PMK 78/PMK.02/2020 dapat juga ditentukan oleh keuntungan apa yang dapat diperoleh stakeholders jika mematuhi ketentuan yang ada di dalamnya. Jika berdampak positif bagi instansi atau memberikan manfaat bagi instansi, maka tanpa ada sanksi pun, PMK 78/PMK.02/2020 akan terlaksana dengan efektif. Dalam hal ini, 87%
responden menyatakan bahwa dengan diimplementasikannya ketentuan dalam PMK 78/PMK.02/2020, hal tersebut membawa dampak positif bagi instansi/unit masing-masing
Process Kejelasan mekanisme yang diatur dalam PMK 78/PMK.02/2020 juga merupakan hal yang berpengaruh terhadap efektifitas implementasi PMK
61
78/PMK.02/2020. Semakin jelas mekanisme yang diatur, semakin tinggi tingkat kepatuhan dalam melaksanakan PMK 78/PMK.02/2020. Sebaliknya jika mekanisme yang diatur tidak jelas, stakeholders enggan melaksanakannya.
Dalam hal ini,
98% responden menyatakan bahwa
ketentuan dalam PMK
78/PMK.02/2020 sudah jelas.
85% responden menyatakan bahwa prosedur/mekanisme dalam PMK
78/PMK.02/2020 mudah
dilaksanakan.
Ideology Pemantauan dan evaluasi atas PMK 78/PMK.02/2020 merupakan bagian penting dari manajemen sebagai bentuk kontrol atas keefektifan peraturan maupun pelaksanaan ketentuan di dalamnya oleh para stakeholders, namun demikian, 54% responden menyatakan bahwa sampai dengan saat ini, telah dilaksanakan monitoring dan evaluasi atas implementasi PMK 78/PMK.02/2020 di unit/instansi masing-masing.
Adapun kesimpulan dari hasil yang telah disampaikan di atas adalah :
1) Hampir seluruh responden mengetahui dan memahami
62
PMK 78/2020 (tujuan pengaturan, kejelasan rumusan, kewenangan para pihak, serta mekanisme dan prosedur yang diatur, dan dampak dari pengaturan).
2) Mengenai substansi, seluruh responden menyatakan PMK 78/2020 telah selaras dengan regulasi yang ada, berdampak pada target kinerja, berdampak positif bagi unit/instansi, kewenangan para pihak jelas, mekanisme mudah dipahami.
3) Mengenai implementasi, sebagian besar responden menyatakan PMK 78/2020 dapat diimplementasikan, dan menyediakan waktu yang cukup untuk alokasi dan pelaksanaan pembayaran.
4) Mengenai sosialisasi, meskipun sebagian besar telah mendapatkan informasi mengenai PMK 78/2020, dan yakin bahwa sosialisasi mampu membantu menegakkan ketentuan dalam PMK, namun sebagian responden mengharapkan adanya feedback dalam konsultasi, demikian juga dengan monev atas implementasinya.
5) PMK 78/2020 berdampak utamanya kepada iuran (34%), anggaran (18%), peserta/kepesertaan (14%), pendapatan (12%), kolektabilitas (11%).
6) Dampak jika PMK 78/2020 tidak diimplementasikan:
penundaan/pemotongan DAU (15%), pelayanan
kesehatan/perlindungan (12%),
sustainabilitas/keberlangsungan JKN (9%), anggaran (6%), kolektabilitas (5%), defisit (3%)
7) Meskipun telah dilakukan sosialisasi secara intensif
63
terutama oleh BPJS Kesehatan, namun responden
menilai masih diperlukan
sosialiasi/koordinasi/monitoring/evaluasi dari pemangku kepentingan (kementerian, Pemda, inspektorat dsb) yang lebih massif.
8) Hasil analisis interpolasi untuk responden KC BPJS Kesehatan (52) dan responden Pemda (70) searah dengan hasil analisis untuk seluruh responden (122).
Hubungan antara Komitmen dan Kemampuan Komitmen
Komitmen merupakan kesepakatan/perikatan antara dua pihak atau lebih untuk melakukan sesuatu secara bersama.3 Karena komitmen merupakan hasil sebuah kesepakatan/konsensus maka diperlukan adanya permufakatan bersama yang dicapai melalui kebulatan suara. Dengan adanya kesepakatan yang dibangun melalui proses dialogis, maka diharapkan munculnya komitmen bersama untuk mematuhi peraturan secara sukarela dan sadar (voluntary compliance). Dalam konteks pembentukan peraturan, hal ini dalam rangka memenuhi asas consensus (Het Beginsel van Consencus). Namun asas ini dapat pula diperluas penggunaannya, bukan sekedar digunakan dalam pembentukan awal sebuah peraturan, asas ini dapat pula dijadikan dasar dalam mengkaji mengapa sebuah peraturan yang telah ditetapkan tidak efektif dalam pelaksanaannya. Kesepakatan-kesepakatan
3 Kamus Besar Bahasa Indonesia
64
tersebut dibuat dengan melibatkan dan mendengarkan masukan pelaku kunci (key stakeholders) yang terkena dampak langsung dari sebuah peraturan. Kesepakatan-kesepakatan yang dibangun dapat berupa perubahan atas peraturan atau bukan perubahan peraturan melainkan cara implementasi peraturan secara kreatif dan efektif. Dalam hal efektifitas implementasi peraturan maka kesepakatan harus dibangun dengan melibatkan seluruh stakeholders.
Kemampuan
Efektifitas implementasi peraturan selain dipengaruhi oleh faktor komitmen sebagaimana disebut di atas, sangat dipengaruhi pula oleh faktor kemampuan dari para stakeholders dalam memenuhi apa yang diperintahkan oleh PMK 78/2020.
Tanpa mempertimbangkan faktor kemampuan, maka komitmen yang telah dibuat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tadi maka tidak dapat terlaksana dengan baik.
Hubungan antara komitmen dan kemampuan merupakan hal yang berpengaruh terhadap efektifnya implementasi PMK 78/PMK.02/2020. Berikut adalah hubungan antara komitemen dan kemampuan dari hasil survey yang telah dilakukan Kombinasi kedua faktor kunci tersebut sangatlah menentukan efektifitas peraturan.
65
KOMITMEN REFEENSI PERTANYAAN Score Keselarasan
Improvement (18) Responden yang melakukan konsultasi
Mentaati (19) Responden menyatakan Implementasi PMK
membawa dampak positif bagi instansi/unit telah dilakukan monev atas PMK
54