• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eko Budi Poerwanto, Ayu Paramita Hapsari, Juniartha Reysisca Pinem dan Dhias Purwa Kusuma KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL DI MASA PANDEMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Eko Budi Poerwanto, Ayu Paramita Hapsari, Juniartha Reysisca Pinem dan Dhias Purwa Kusuma KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL DI MASA PANDEMI"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Eko Budi Poerwanto, Ayu Paramita Hapsari, Juniartha Reysisca Pinem dan Dhias Purwa Kusuma

KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL

DI MASA PANDEMI

(3)

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam bentuk apapun secara

elektronik maupun mekanis tanpa izin tertulis dari Pustaka Amma Alamia Bogor

(4)

iii

Eko Budi Poerwanto, Ayu Paramita Hapsari, Juniartha Reysisca Pinem dan Dhias Purwa Kusuma

KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL DI MASA PANDEMI

Judul

(5)

iv

KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL DI MASA PANDEMI

Penulis

Eko Budi Poerwanto, Ayu Paramita Hapsari, Juniartha Reysisca Pinem dan Dhias Purwa Kusuma

Desain Sampul dan Lay Out:

Abu Aisyah

Diterbitkan oleh:

Pustaka Amma Alamia

Sukaharja, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat Telp. 085885753838

Email: [email protected] Cetakan pertama: April 2021

ISBN : 978-623-96823-2-3

Dilarang memperbanyak, menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa

izin tertulis dari penerbit atau penulis.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Syallom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam kebajikan

Puji syukur pada Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan untuk dapat menyelesaikan buku ini sesuai dengan waktu yang ditentukan. Tanpa adanya berkat dan rahmat Allah SWT tidak mungkin rasanya dapat menyelesaikan buku ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Buku ini merupakan rangkaian tulisan yang disampaikan oleh beberapa penulis yang diantaranya merupakan kebijakan- kebijakan di Bidang Jaminan Sosial yang secara khusus dikawal oleh Sub Direktorat Jaminan Sosial- Direktorat Harmonisasi Peraturan Penganggaran.

Terlebih penulis ingin mengucapkan terima kasih pada Bapak Didik Kusnaini Direktur Harmonisasi Peraturan Penganggaran, Bapak Jani Arjanto Kasubdit Harmonisasi Jaminan Sosial, para Kepala Seksi di lingkungan Subdit Harmonisasi Jaminan Sosial dan semua pihak yang mendukung dan membantu para penulis untuk menyelesaikan buku yang berjudul “Kebijakan Jaminan Sosial di kala Pandemi.”

Kami menyadari bahwa penulisan pada buku ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis sangat mengharapkan partisipasi pembaca untuk memberikan masukan baik berupa kritikan maupun saran untuk membuat

(7)

vi

buku ini menjadi lebih baik dari segi isi dan baik dari segi yang lainnya.

Kami mohon maaf bila ada hal yang kurang berkenan dalam penulisan buku ini. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih dan selamat membaca.

Jakarta, April 2021 Kasubdit HP Jamsos

Jani Arjanto

(8)

vii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...………...

Daftar Isi………...

v vii

PENERBITAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 64 TAHUN 2020 DAN DEFISIT DANA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN PADA MASA PANDEMI COVID 19

Oleh: Eko Budi Poerwanto

Latar Belakang ...

Sejarah Regulasi Jaminan Kesehatan ...

Sejarah Iuran Jaminan Kesehatan ...

Defisit Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan ...

Penerbitan Perpres 64/2020 dan Kebijakan di dalamnya Defisit Dana DJS Kesehatan Pasca Penerbitan Perpres 64/2020 di Masa Pandemi ...

Rekomendasi ...

Daftar Pustaka ...

2 3 5 10

13 31 32 EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI PMK 78/PMK.02/2020 DI DAERAH DALAM MASA PANDEMI COVID 19

Oleh : Ayu Paramita Hapsari

Pengertian Jaminan Kesehatan ... 34

(9)

viii

Kondisi Jaminan Kesehatan Nasional ...

Perpres 64 Tahun 2020 tentang perubahan Kedua atas Peraturan Presiden nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan ...

PMK No. 78/PMK.02/2020 tentang Pelaksanaan Pembayaran Kontribusi Iuran Peserta PBI Jaminan Kesehatan, Iuran Peserta PBPU dan Peserta BP dengan Manfaat Pelayanan di Ruang Perawatan Kelas III, dan Bantuan Iuran Bagi Peserta PBPU dan Peserta BP dengan Manfaat Pelayanan di Ruang Perawatan Kelas III Oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah ...

Survey Efektivitas Implementasi PMK 78 ...

Hubungan antara Komitmen dan Kemampuan ...

Komitmen ...

Rekomendasi ...

Daftar Pustaka ...

Lampiran: Kuesioner Survei Implementasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/Pmk.02/2020 ...

35

38

42 47 63 63 69 70

72

PEMBERIAN RELAKSASI IURAN BPJS

KETENAGAKERJAAN SEBAGAI KEBIJAKAN DI MASA PANDEMI UNTUK MENDORONG PEMULIHAN EKONOMI

Oleh: Juniartha Reysisca Pinem

Dampak Pandemi tersebar di Segala Arah ...

Pemulihan Ekonomi Nasional dan Ketenagakerjaan di Indonesia ...

80 83

(10)

ix

Teori Pertumbuhan Ekonomi ...

Bagaimana Latar belakang penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2020? ...

Dinamika Pembahasan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2020 ...

Muatan Substansi Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2020 ...

Penutup ...

Rekomendasi ...

88

93 101 104 110 114

DAMPAK PANDEMI TERHADAP INVESTASI PT TASPEN PERSERO

Oleh: Dhias Purwa Kusuma

Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Negara-Negara di Dunia ...

Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Indonesia ...

Penurunan Rating KIK EBA dan MTN pada beberapa BUMN ...

Penurunan Rating Instrumen Investasi PT Taspen Persero ...

Kebijakan yang Perlu Diambil Kementerian Keuangan ..

116 118 119 122 151

(11)

x

(12)

1

PENERBITAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 64 TAHUN 2020 DAN DEFISIT DANA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN PADA MASA

PANDEMI COVID 19

(13)

2

PENERBITAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 64 TAHUN 2020 DAN DEFISIT DANA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN PADA MASA

PANDEMI COVID 19

Oleh: Eko Budi Poerwanto

Latar Belakang

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berjalan selama 6 (enam) tahun. Semenjak program mulai berjalan tahun 2014, terdapat permasalahan utama pada program JKN yang terus terjadi setiap tahun, yaitu Defisit Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan. Pada awal tahun permulaan program yaitu tahun 2014 tersebut, defisit dana jaminan sosial kesehatan berada di kisaran Rp1,9 triliun, kemudian defisit tersebut melonjak tajam hingga mencapai Rp9,4 triliun pada tahun 2015, kemudian defisit mengalami penurunan menjadi Rp6,7 triliun pada tahun 2016, dan defisit kembali melambung hingga mencapai Rp13,8 triliun pada tahun 2017, serta melandai di angka Rp10,45 triliun pada tahun 2018.

Pada tahun 2018, defisit DJS Kesehatan terjadi pelandaian setelah Pemerintah melakukan penggantian Perpres 12/2013 menjadi Perpres 82/2018 dengan memasukkan 8 paket kebijakan Pemerintah dalam penanganan defisit DJS Kesehatan.

Namun paket kebijakan yang dimasukkan dalam Perpres

(14)

3

82/2018 tersebut tetap belum menyentuh akar pokok penyelesaian defisit DJS Kesehatan, sehingga pada tahun 2018 defisit DJS Kesehatan masih tetap lebar.

Pada tahun 2019, Pemerintah kembali menerbitkan Perpres nomor 75 Tahun 2019 sebagai perubahan Peraturan Presiden nomor 82/2018. Inti utama penerbitan Perpres 75/2020 adalah untuk melakukan perbaikan mismatch antara penerimaan dan pengeluaran DJS Kesehatan melaui perbaikan premi iuran (kenaikan iuran).

Namun, belum satu tahun berjalan, Perpres No.75/2019 digugat dan berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) untuk kenaikan iuran bagi PBPU dibatalkan. Agar program JKN tetap berkesinambungan, sekaligus menjamin layanan kesehatan bagi peserta, maka Pemerintah menerbitkan kembali Perpres Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Perpres 82 Tahun 2020. Penerbitan Perpres 64/2020 dilakukan pada masa pandemi Covid 19 yang sedang mewabah di dunia yang tentunya sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan pembayaran iuran. Namun demikian dengan diterbitkannya Perpres No.64/2020 meskipun pada masa pandemi Covid 19 ini, diharapkan tetap dapat menyelesaikan permasalahan defisit DJS Kesehatan, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan program.

Sejarah Regulasi Jaminan Kesehatan

Pokok inti regulasi dari jaminan kesehatan program JKN BPJS Kesehatan tersebut sejatinya ialah realisasi dari

(15)

4

perwujudan penghormatan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia. Dalam hal ini, konteksnya ialah hak asasi milik warga negara sebagaimana termaktub di dalam Pasal 28 dan 34 UUD NRI Tahun 1945 yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 28H Ayat (1)

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat

tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang

baik dan

sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan Ayat

(2)

Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan

Ayat (3)

Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan

pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat

Pasal 34 Ayat (1)

Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara

Ayat (2)

Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh

rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah

(16)

5

dan tidak

mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan Ayat

(3)

Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan

kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak

Dari nilai nilai hak asasi sebagaimana yang termaktub dalam UUD RI tersebut, Pemerintah bersama dengan DPR menyusun UU nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) dan UU No.24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS).

UU SJSN menetapkan program JKN sebagai salah satu program jaminan sosial dalam sistem jaminan sosial nasional.

Di dalam UU ini diatur asas, tujuan, prinsip, organisasi, dan tata cara penyelenggaraan program jaminan kesehatan nasional. UU SJSN menetapkan asuransi sosial dan ekuitas sebagai prinsip penyelenggaraan JKN. Kedua prinsip dilaksanakan dengan menetapkan kepesertaan wajib dan penahapan implementasinya, iuran sesuai dengan besaran pendapatan, manfaat JKN sesuai dengan kebutuhan medis, serta tata kelola dana amanah Peserta oleh badan penyelenggara nirlaba dengan mengedepankan kehati-hatian, akuntabilitas efisiensi dan efektifitas. UU SJSN membentuk dua organ yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan program jaminan sosial nasional, yaitu Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). UU ini mengatur secara umum fungsi, tugas, dan kewenangan kedua organ tersebut. UU SJSN

(17)

6

mengintegrasikan program bantuan sosial dengan program jaminan sosial. Integrasi kedua program perlindungan sosial tersebut diwujudkan dengan mewajibkan Pemerintah untuk mensubsidi iuran JKN dan keempat program jaminan sosial lainnya bagi orang miskin dan orang tidak mampu. Kewajiban ini dilaksanakan secara bertahap dan dimulai dari program JKN. UU SJSN menetapkan dasar hukum bagi transformasi PT Askes (Persero) dan ketiga Persero lainnya menjadi BPJS.

UU BPJS menetapkan pembentukan BPJS Kesehatan untuk penyelenggaraan program JKN dan BPJS Ketenagakerjaan untuk penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian. UU BPJS mengatur proses transformasi badan penyelenggara jaminan sosial dari badan usaha milik negara (BUMN) ke badan hukum publik otonom nirlaba (BPJS).

Perubahan-perubahan kelembagaan tersebut mencakup perubahan dasar hukum, bentuk badan hukum, organ, tata kerja, lingkungan, tanggung jawab, hubungan kelembagaan, serta mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban. UU BPJS menetapkan bahwa BPJS berhubungan langsung dan bertanggung jawab kepada Presiden

Dari kedua UU tersebut, telah ditetapkan beberapa peraturan baik itu Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Presiden serta peraturan pelaksanaan lainnya dibawah itu. Di bagian JKN, telah diterbitkan 7 (tujuh) peraturan dalam bentuk Peraturan Pemerintah, 5 (lima) peraturan dalam bentuk

(18)

7

Peraturan Presiden, dan peraturan-peraturan teknis lainnya di level Kementerian/Lembaga khususnya Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), dan BPJS Kesehatan.

No No Peraturan Tentang

1 PP No. 86 Tahun 2013

Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif

Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima Bantuan Iuran Dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial

2 PP 53 Tahun 2018

Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Kesehatan

3 PP No. 2 Tahun 2018

Standar Pelayanan Minimal

4 PP No. 76 Tahun 2015

Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor

101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan 5 PP No. 88 Tahun

2013

Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Bagi Anggota Dewan

(19)

8

Pengawas Dan Anggota Direksi Badan penyelenggara Jaminan Sosia

6 PP No. 89 Tahun 2013

Pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991 Tentang Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun, Veteran, Perintis Kemerdekaan Beserta Keluarganya

7 PP No. 90 Tahun 2013

Pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2003 Tentang Subsidi Dan Iuran Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan Bagi Pegawai Negeri Sipil Dan Penerima Pensiun

8 PP No. 85 Tahun 2013

Tata Cara Hubungan Antar Lembaga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

9 Perpres No. 12 Tahun 2013, Perpres No. 111 Tahun 2013, Perpres No. 19 Tahun 2016, Perpres No 28 Tahun 2016,

Tentang Jaminan Kesehatan (Sudah Dicabut)

(20)

9 10 Perpres No. 64

Tahun 2020

Perubahan Kedua Perpres No.82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan

11 Perpres No. 108 Tahun 2013

Bentuk Dan Isi Laporan Pengelolaan Program Jaminan Sosial

12 Perpres No. 109 Tahun 2013

Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial

13 Perpres No. 107 Tahun 2013

Pelayanan Kesehatan Tertentu Berkaitan Dengan Kegiatan Operasional Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia, Dan Kepolisian Negara Republik Indonesia

14 Perpres No. 32 Tahun 2014

Pengelolaan dan pemanfaatan Dana Kapitasi JKN pada FKTP Milik pemerintah

Dalam regulasi-regulasi jamkes tersebut, peraturan yang sering mengalami perubahan adalah Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan. Perpres Jamkes pertama kali digulirkan pada tahun 2013 melalui Perpres nomor 12 Tahun 2013, dan sampai saat ini telah dilakukan 5 kali perubahan dan/atau penggantian Perpres. Substansi yang menyeluruh dan lengkap tentang kepesertaan, iuran, dan layanan diatur secara rinci dalam Perpres Jaminan Kesehatan. Termasuk pengaturan dalam Perpres ini adalah terkait dengan peninjauan iuran, yang secara

(21)

10

rutin dilakukan setiap 2 (dua) tahun. Dengan demikian, dalam hal ketika peninjauan iuran perlu dilakukan perubahan iuran, maka otomatis Perpres Jamkes perlu dilakukan perubahan.

Sejarah Iuran Jaminan Kesehatan

Apabila dilihat sejarah kenaikan iuran BPJS Kesehatan selama enam tahun perjalanan program ini, terhitung 3 (tiga) kali iuran program ini mengalami kenaikan iuran. Hal ini sebenarnya selaras dengan regulasi yang mengaturnya yaitu Perpres Jamkes bahwa setiap 2 (dua) tahun sekali akan dilakukan peninjauan iuran. Setiap kali ada kenaikan iuran sebagai salah satu fundamental penyelesaian deficit ditanggapi beragam oleh masyarakat. Bahkan, Perpres Jamkes yang telah diterbitkan Pemerintah yang terdapat kenaikan iuran, selalu ada perubahan bahkan ada yang hanya bertahan dalam hitungan bulan. Padahal, apabila kita lihat terhadap kondisi keuangan DJS kesehatan tidak kunjung membaik sedangkan jumlah peserta terus mengalami

(22)

11

kenaikan karena harus menuju kepada universal health coverage (UHC).

Pada awal pelaksanaan program, Iuran awal BPJS Kesehatan di 2014 pada awalnya untuk ruang perawatan kelas III adalah Rp 25.500 per orang per bulan, kelas II Rp 42.500 per bulan, dan kelas I Rp 59.500 per bulan. Di tahun pertama, dana jaminan sosial ini langsung mengalami defisit Rp 1,65 triliun hal ini karena jumlah iuran yang terkumpul tak sebanding dengan jaminan kesehatannya

KELAS APR-JUN 2020 PERPRES

82/2018

JAN-MAR 2020 PERPRES

75/2019

JUL-DES 2020 PERPRES

64/2020

2021-DST PERPRES 64/2020

KELAS I Rp25.500,- Rp42.000,- Rp42.000,- Rp42.000,- KELAS II Rp51.000,- Rp110.000,- Rp100.000,- Rp100.000,-

KELAS III

Rp80.000,- Rp160.000,- Rp150.000,- Rp150.000,-

Kenaikan pertama Iuran BPJS Kesehatan dilakukan pada tahun 2016, tepatnya pada 1 April 2016 untuk pertama kalinya tarif naik dengan ditetapkannya Perpres No.19/2016. Iuran kelas I menjadi Rp 80.000 per bulan, kelas II iurannya Rp 51.000 ribu per bulan, dan kelas III menjadi Rp30.000 per bulan. Dalam perjalanan waktu, khusus untuk kenaikan iuran kelas III batal dilaksanakan dan besaran iuran kembali seperti semula yaitu

(23)

12

Rp25.500. Hal ini sesuai dengan dalam Peraturan Presiden No.28/2016 sebagai perubahan Perpres No.19/2016.

Kenaikan kedua iuran BPJS Kesehatan dilakukan pada tahun 2019 melalui penetapan Perpres No.75/2019. Melalui Perpres ini, terjadi perubahan fundamental terkait dengan iuran baik besaran iuran, % (prosentase) iuran bagi Pekerja/PPU, dan gaji/upah yang menjadi dasar pengenaan iuran. Ada beberapa iuran BPJS Kesehatan akhirnya naik dua kali lipat. Kelas I iuran menjadi Rp 160.000, kelas II iuran menjadi Rp 110.000, dan Kelas III iuran Rp 42.000, termasuk dalam hal ini iuran peserta PBI naik menjadi Rp42.000 Namun, angka ini hanya berlaku tiga bulan saja. Kenaikan iuran PBPU kembali kembali seperti sebelumnya setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan uji materi Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2019. Pengajuan gugatan dilakukan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia yang merasa keberatan dengan kenaikan iuran tersebut. Dengan keputusan MA tersebut, kenaikan iuran PBPU dibatalkan dan kembali semula, sedangkan iuran untuk PBI tetap mengalami kenaikan termasuk dalam hal ini penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah.

Kenaikan ketiga iuran BPJS ditandai dengan penrerbitan Perpres 64/2020. Perpres ini pada intinya menindaklanjuti keputusan MA tersebut, sekaligus memperbaiki sisi-sisi lainnya dari program dan tetap melanjutkan kenaikan iuran sebagaimana yang telah dilakukan oleh Perpres 75/2020. Pemerintah mengeluarkan Perpres 64/2020 dengan nominal angka Rp 10.000 lebih kecil untuk Kelas I dan II sebagaimana besaran

(24)

13

iuran di Perpres 75/2019 yaitu masing-masing menjadi sebesar Rp 150.000 dan Rp100.000.

Defisit Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan

Defisit secara harfiah berarti adalah berkurangnya kas dalam keuangan. Defisit biasa terjadi ketika suatu organisasi (biasanya pemerintah) memiliki pengeluaran lebih banyak daripada penghasilan. Dalam dana jaminan sosial kesehatan, defisit diartikan sebagai adanya mismatch antara pendapatan yang diterima oleh dana jaminan sosial dengan pengeluaran (biaya manfaat) untuk pembayaran fasilitas kesehatan. Dalam hal ini, pendapatan yang diterima oleh dana jaminan sosial lebih rendah atas pengeluaran yang dilakukan.

(25)

14

Pendapatan dana jaminan sosial diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2011, yaitu bersumber dari:

1. Iuran jaminan sosial, termasuk bantuan iuran.

2. Hasil pengembangan Dana Jaminan Sosial.

3. Hasil pengalihan aset program jaminan sosial yang menjadi hak peserta dari BUMN yang menyelenggarakan program jaminan sosial.

4. Sumber lain yang sah sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Adapun dalam penggunaan/ pengeluaran Dana Jamina Sosial telah dibatasi untuk 3 (tiga) kegiatan di bawah ini:

1. Pembayaran manfaat atau pembiayaan layanan jaminan sosial.

2. Biaya operasional penyelenggaraan program jaminan sosial.

3. Investasi dalam instrumen investasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan

Untuk masalah defisit ini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah melakukan menyampaikan enam poin pendapatnya kepada pemerintah untuk mengatasi defisit keuangan Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan. Enam Pendapat tersebut merupakan bagian dari Pendapat BPK terkait Pengelolaan atas Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dalam dokumen Pendapat BPK disebutkan, defisit dalam pendanaan penyelenggaraan program JKN terus terjadi meski pemerintah telah memberikan bantuan keuangan kepada DJS

(26)

15

Kesehatan. Terkait hal tersebut, BPK berpendapat pemerintah harus segera mewujudkan kesinambungan kemampuan keuangan DJS Kesehatan, sehingga meminimalkan defisit keuangan.

Pendapat pertama BPK untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menyusun mekanisme pengumpulan iuran yang efektif untuk menjamin kolektibilitas dan validitas besaran iuran. Terutama dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) dan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

Pendapat itu disampaikan BPK karena BPJS Kesehatan belum memiliki mekanisme pengumpulan iuran yang efektif, terutama untuk menjamin kolektibilitas dan validitas besaran iuran segmen PPU dan PBPU. Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan BPK, permasalahan defisit keuangan DJS Kesehatan, antara lain, disebabkan oleh pemungutan dan pengumpulan iuran dari peserta PPU dan PBPU yang belum optimal.

Sampai dengan saat ini, BPJS Kesehatan tidak dapat memastikan jumlah iuran dan penghasilan peserta PPU yang sebenarnya, karena hanya mengandalkan data dari pemberi kerja.

Selain itu, berdasarkan Laporan Keuangan DJS Kesehatan Tahun 2019 (audited), diketahui bahwa piutang iuran segmen PBPU sebesar Rp11,35 triliun dengan penyisihan piutang sebesar Rp10,40 triliun (93,33 persen). Hal ini menunjukkan bahwa peserta PBPU merupakan pembayar iuran dengan

(27)

16

kolektibilitas rendah. Di sisi lain, segmen PBPU memiliki rasio klaim tertinggi (232,42 persen) dibandingkan segmen lainnya.

Pendapat kedua, melakukan reformasi besaran pembayaran kapitasi kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama

(FKTP). Ini dilakukan dengan mengacu pada standar besaran tarif dan capaian indikator kinerja yang merujuk pada kualitas pelayanan medis dan nonmedis yang diberikan, kelengkapan sumber daya kesehatan, serta kepatuhan dan komitmen dalam pencegahan kecurangan.

Pendapat Ketiga, melakukan reformasi peran FKTP yang merupakan garda terdepan dalam sistem layanan kesehatan di Indonesia, melalui optimalisasi dana bidang kesehatan dari

(28)

17

APBN/APBD di fasilitas kesehatan milik pemerintah dalam rangka meningkatkan upaya promotif, preventif, dan pola rujukan layanan kesehatan yang ideal.

Pendapat Keempat, melakukan penyempurnaan aplikasi verifikasi klaim pelayanan kesehatan pada BPJS Kesehatan dengan mempertimbangkan risiko kecurangan yang mungkin terjadi.

Pendapat Kelima, mengatasi defisit keuangan DJS Kesehatan sesuai dengan kemampuan fiskal. Sedangkan Pendapat keenam adalah mendorong kolaborasi pendanaan dengan pemerintah daerah sehingga memberi ruang bagi APBD untuk berkontribusi dalam program JKN.

Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah mengeluarkan rekomendasi atas defisit yang terjadi di DJS Kesehatan. Inti dari rekomendasi tersebut adalah dissi

(29)

18

efisiensi pengeluaran agar pengerluaran dapat ditekan seefisien mungkin. 6 (enam) rekomendasi tersebut yaitu:

Pertama, Kemenkes mempercepat penyusunan Pedoman Nasional Praktik Kedokteran untuk mencegah unnecessary treatment atau biaya tidak perlu, yang dapat meningkatkan pengeluaran. saat baru ada 32 PNPK dari target yang diminta KPK pada 2015 sebanyak 80 PNPK. Ia menilai ketiadaan PNPK itu mengakibatkan unnecessary treatment atau pengobatan yang tidak perlu. KPK memandang PNPK saat ini baru selesai 32 PNPK sampai Juli 2019 yang seharusnya 80 PNPK. Akibatnya, karena masih ada sekitar 48 yang belum selesai,

Kedua, membuka opsi pembatasan klaim untuk penyakit katastroupik yang disebabkan gaya hidup tidak sehat seperti jantung, diabetes, kanker, stroke, dan gagal ginjal.

Ketiga, mengakselerasi coordination of benefit dengan asuransi kesehatan swasta. berdasarkan data Dewan Asuransi Indonesia, ada 1,7 persen penduduk Indonesia yang memiliki asuransi atau sekitar 4,5 juta orang. Dengan asumsi besaran CoB seperti yang diterapkan di Jepang dan Korea Selatan, yaitu 20- 30 persen, dapat mengalihkan beban klaim peserta PPU (pekerja penerima upah) nonpemerintah dan PBPU sebesar Rp 600-900 miliar kepada asuransi swasta

Keempat, mengimplementasikan co-payment sebesar 10 persen bagi peserta mandiri sesuai Permenkes 51 Tahun. Kelima, mengevaluasi penetapan kelas rumah sakit. Kemudian, keenam adalah menindaklanjuti verifikasi klaim untuk mengatasi tindakan curang (fraud) di lapangan

(30)

19

Penerbitan Perpres 64/2020 dan Kebijakan di dalamnya Perpres 64/2020 disusun untuk menindaklanjuti rekomendasi putusan Mahkamah Agung (MA) dalam Putusan Nomor 7 P/HUM/2020 tanggal 27 Februari 2020. Dalam pertimbangannya, Majelis Hakim saat itu menekankan perlunya perbaikan holistik dari hulu ke hilir yang mencakup sistem, manajemen, dan pelayanan. Atas hal itulah, Pemerintah dengan segera melakukan pembenahan dan mendorong percepatan reformasi JKN melalui penerbitan Perpres 64/2020.

Melalui penerbitan Perpres 64/2020 ini pula yang menunjukkan komitmen Pemerintah untuk membangun ekosistem jaminan kesehatan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Penyesuaian iuran JKN mulai 1 Juli 2020, didasarkan semangat gotong royong, di mana peserta yang mampu membantu yang kurang mampu, dan peserta yang sehat

(31)

20

membantu yang sakit atau berisiko tinggi. Melalui prinsip gotong-royong, jaminan kesehatan nasional dapat menumbuhkan keadilan sosial dan keberlanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia. Di bawah ini adalah kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemerintah yang tertuang dalam Perpres 64/2020.

1) Penyesuaian Iuran

Dalam penyesuaian iuran pada Perpres 64/2020 dilakukan dengan mempertimbangkan 3 (tiga) hal yaitu: (i) perhitungan teknis aktuaria. Berdasarkan perhitungan aktuaria, nilai nominal iuran yang seharusnya adalah Besaran iuran yang sesuai dengan perhitungan aktuaria dan kemampuan membayar iuran PBPU Kelas 1 (K1)

=Rp286.085, K2=Rp184.617, K3=Rp137.221 (ii) kemampuan membayar dari peserta dan (iii) keadilan social.

Saat ini tercatat sebanyak 132,6 juta orang miskin dan tidak mampu adalah peserta BPJS Kesehatan (JKN) secara gratis (PBI), dengan mendapatkan layanan setara Kelas 3 dan Segmen Perpres

64/2020

Iuran Aktuaria

Selisih PBPU Kelas

1

Rp150.000,- Rp 286.085,- Rp136.085,- PBPU Kelas

II

Rp 100.000,- Rp 184.617,- Rp 84.617,- PBPU Kelas

III

Rp 42.000,- Rp 137.221,- Rp 95.221,-

(32)

21

iuran sebesar Rp42.000,- per orang per bulan. Iuran tersebut ditanggung oleh Pemerintah melalui APBN untuk Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebesar 96,6 juta orang, dan APBD sebesar 36 juta orang oleh Pemerintah Daerah. Pada Perpres 64/2020 mulai dikenalkan kontribusi dari Pemerintah Daerah untuk PBI APBN.

Sementara itu pada peserta PBPU dan BP, berdasarkan Perpres 64/2020, mulai 1 Juli 2020 iuran peserta PBPU dan BP Kelas 1 disesuaikan menjadi Rp150.000,- per orang per bulan. Kemudian untuk iuran peserta PBPU dan BP Kelas 2 adalah Rp100.000 per orang per bulan. Iuran tersebut masih relative jauh di bawah perhitungan aktuaria, artinya bahwa peserta Kelas 1 maupun Kelas 2 masih dibantu oleh segmen kepesertaan yang lain. Peserta yang tidak mampu membayar layanan kesehatan Kelas 1 dan Kelas 2 dapat berpindah ke Kelas 3 yang hanya membayar Rp25.500,- per orang per bulan, yaitu tarif yang jauh lebih murah dari tarif untuk orang miskin sebesar Rp42.000,- yang dibayar oleh negara. Adapun sisanya yaitu sebesar Rp16.500,- per orang per bulan akan dibantu oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui skema bantuan iuran peserta PBPU dan BP kelas III.

2) Denda Layanan

(33)

22

Pada Perpres 64/2020 terjadi kenaikan denda layanan bagi penunggak iuran menjadi 5% yang akan dikenakan mulai tahun 2021. Pada pengaturan sebelumnya, yaitu di Perpres 82/2018, denda layanan adalah sebesar 2,5 % Denda (untuk tahun 2021) yaitu sebesar 5% (lima persen) dari perkiraan biaya paket Indonesian Case Based Groups berdasarkan diagnosa dan prosedur awal untuk setiap bulan tertunggak dengan ketentuan:

a. jumlah bulan menunggak paling banyak 12 (dua belas) bulan; dan

b. besar denda paling tinggi Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).

(34)

23

3) Relaksasi iuran pada masa pandemic Covid 19

Perpres 64/2020 diterbitkan pada situasi pandemi Covid-19.

Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, peserta JKN yang menunggak dapat mengaktifkan kembali kepesertaannya dengan hanya melunasi tunggakan iurannya selama 6 bulan, hal ini memberikan kelonggaran dari keharusan pelunasan selama 24 bulan.

TAHUN PERHITUNGAN BESAR DENDA

PALING TINGGI 2020 2,5% X Bulan Tunggakan

(Maksimal 12 Bulan) X Diagnosa CBG’s Awal

Rp 30 juta

2021 5% X Bulan Tunggakan

(Maksimal 12 Bulan) X Diagnosa CBG’s Awal

Rp 30 juta SKEMA PEMBAYARAN DENDA TAHUN 2020 DAN

2021

(35)

24

LAMA TUNGGAKAN

PEMBAYARAN STATUS KET.

1 – 6 Bulan 1 – 6 Bulan Aktif Berlaku spt saat ini; tidak membayar 1 bulan (sd 31 bulan berjalan), tidak aktif 6 – 24 Bulan Maksimal 6

Bulan

Aktif Sisa Tunggakan harus dilunasi 2021

Sisa tunggakan yang belum terbayar, akan diberikan kelonggaran sampai dengan tahun 2021. Demikian juga perlakukan untuk permasalahan denda pada masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020 ini pemberian dukungannya adalah pengenaan denda yang masih menggunakan % (persentase) awal yaitu 2,5% belum dikenakan denda sebesar 5%.

4) Waktu Peninjauan Iuran dan Standar yang Digunakan Perpres 64/2020 ini juga mengatur bahwa besaran iuran untuk setiap segmen kepesertaan akan ditinjau paling lama 2 (dua) tahun sekali menggunakan standar praktik aktuaria jaminan sosial yang lazim dan berlaku umum. Tentunya dengan mempertimbangkan tingkat inflasi di bidang

SIMULASI RELAKSASI IURAN

(36)

25

kesehatan, biaya kebutuhan jaminan kesehatan, dan kemampuan membayar iuran. Pengusulannya dilakukan oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) kepada Presiden RI.

5) Perbaikan Tata Kelola

Melalui Perpres 64/2020 ini, Pemerintah juga terus mengupayakan perbaikan tata kelola sistem layanan kesehatan. Menteri Kesehatan bersama Kementerian/

Lembaga terkait, organisasi profesi, dan asosiasi fasilitas kesehatan (faskes) melakukan peninjauan manfaat sesuai kebutuhan dasar kesehatan dan rawat inap kelas standar paling lambat Desember 2020.

Defisit Dana DJS Kesehatan Pasca Penerbitan Perpres 64/2020 di Masa Pandemi

Defisit DJS kesehatan merupakan mismatch antara penerimaan dengan pengeluaran. Defisit ditunjukkan dengan kondisi pengeluaran lebih besar dari pada penerimaan yang diperoleh sehingga menyebabkan kas negatif (defisit). Telah diketahui di atas, bahwa dari awal pelaksanaan program JKN, DJS telah mengalami defisit. Defisit yang dialami oleh DJS Kesehatan bisa bertambah besar dalam hal tidak ada intervensi Pemerintah secara langsung untuk menutup/mengurangi defisit tersebut.

Pada awal perjalanan program, untuk menutup defisit DJS yang dilakukan adalah melakukan penggunaan dana yang ada pada

(37)

26

BPJS Kesehatan selaku korporasi dan hal ini dimungkinkan secara regulasi. Mekanisme yang dimungkinkan oleh BPJS Kesehatan selaku korporasi dalam membantu DJS Kesehatan adalah melalui hibah surplus korporasi kepada DJS Kesehatan.

Selain itu, terdapat mekanisme lainnya yaitu penggunaan mekanisme dana talangan dari aset BPJS kepada aset DJS.

Kedua mekanisme tersebut telah dilakukan pada awal-awal DJS Kesehatan mengalami defisit, sehingga tidak ada mekanisme lainnya diluar menaikkan iuran selain dari intervensi Pemerintah melalui mekanisme penanaman modal negara (PMN) dan bantuan Pemerintah. Dukungan Pemerintah pada Program JKN dalam bentuk:

a. Bantuan iuran kepada masyarakat miskin (PBI);

b. Iuran Pemberi kerja bagi PNS/TNI/Polri (PPU Pemerintah); dan

c. Last resort pembiayaan JKN (PMN & Dana Cadangan) Intervensi Pemerintah dilakukan setelah semua kebijakan yang ditempuh dalam bauran kebijakan Pemerintah dan BPJS Kesehatan dilakukan secara maksimal. Sehingga bisa dikatakan bahwa intervensi Pemerintah disini Pemerintah sebagai last resort pendanaan program. Defisit DJS Kesehatan sebagaimana dijelaskan di awal telah terjadi pada awal-awal pelaksanaan program, sehingga mulai tahun 2015, Pemerintah telah mennyuntikkan dana bantuan kepada DJS Kesehatan. Secara berurutan, bantuan yang diberikan Pemerintah yaitu:

 Tahun 2015; intervensi Pemerintah dilakukan dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp5

(38)

27

triliun yang terdiri dari Rp3,46 triliun sebagai pengganti dana operasional dan 1,5 triliun PMN murni.

 Tahun 2016; mengingat kondisi DJS Kesehatan masih dalam kondisi defisit, maka Pemerintah melakukan interensi sebagaimana tahun sebelumnya yaitu dengan menggunakan mekanisme PMN sebesar 6,8 triliun.

 Tahun 2017, kondisi defisit DJS masih berlanjut, sehingga Pemerintah tetap melakukan intervensi.

Namun, dalam intervensi yang dilakukan oleh Pemerintah tersebut, mekanisme yang digunakan tidak dalam bentuk PMN namun dalam bentuk belanja.

Sebesar Rp3,6 triliun

 Tahun 2018, keadaan Dana Jaminan Sosial (DJS) BPJS Kesehatan masih defisit. Pemerintah berusaha untuk mengurangi defisit tersebut dalam bentuk belanja sebesar Rp10,3 triliun.

Namun, mekanisme intervensi Pemerintah dalam bentuk PMN ini menjadi sorotan Badan Pemeriksa Keuangan karena tidak sesuai dengan filosofis dari PMN, sehingga Pemerintah ketika melakukan intervensi DJS Kesehatan yang masih dalam keadaan defisit adalah melalui mekanisme bantuan Pemerintah (model belanja). Dalam mekanisme belanja ini, maka bantuan pemerintah tidak menjadi tanggungan/kewajiban DJS Kesehatan untuk mengembalikan dana tersebut ke Pemerintah.

(39)

28

Meskipun intervensi yang dilakukan oleh Pemerintah telah dilakukan baik dalam bentuk PMN/ bantuan pemerintah maupun dalam bentuk kebijakan kebijakan (bauran kebijakan), namun kondisi DJS Kesehatan tetap menunjukkan defisit yang berkelanjutan setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat titik kunci penyelesaian defisit DJS Kesehatan belum tersentuh yaitu iuran premi yang masih belum ekonomis.

Meskipun tahun 2016 telah dilakukan perbaikan iuran, namun secara penghitungan aktuaria masih jauh dari ekonomis sehingga defisit masih terjadi. Untuk itulah Perpres 75/2019 diterbitkan agar defisit DJS Kesehatan segera terselesaikan.

Namun ketika defisit kesehatan telah mulai berangsur angsur berkurang, Perpres 75/2019 terhenti dengan keputusan MA yang membatalkan pemberlakukan kenaikan iuran PBPU yang hal ini tentunya berpengaruh kembali kepada kembalinya trend defisit DJS kedepan. Untuk itulah Perpres 64/2020 diterbitkan oleh Pemerintah sebagai pelanjut Perpres 75/2019 sekaligus memperbaiki kondisi-kondisi lainnya di bidang layanan.

(40)

29

Pengaruh Perpres 64/2020 yang diterbitkan pada masa pandemi sebagai kelanjutan Perpres 75/2019 dalam penanganan defisit dapat dilihat dari sisi laporan arus kas DJS Kesehatan sebagai berikut:

Uraian Tahun

2018 (dalam triliun)

2019 (dalam triliun)

2020 (dalam triliun)

Penerimaan 83,09 107,61 135,40

Pengeluaran 93,54 107,63 116,66

Defisit/

Surplus

(10,45) (0,02) 18,74

Dari tabel diatas terlihat adanya kenaikan perbaikan defisit secara signifikan telah terjadi pada tahun 2019, meskipun secara nominal masih menunjukkan adanya negatif. Tahun 2020 pada prinsipnya hanya melanjutkan adanya trend positif yang telah dilakukan sejak tahun 2019. Artinya kenaikan iuran yang diambil pemerintah adalah kebijakan produktif yang mampu menyelesaikan permasalahan defisit DJS Kesehatan. Dari tabel dimaksud dapat dipahami juga bahwa trend perbaikan defisit yang telah dimulai pada tahun 2019 tersebut tidak terlepas dari penerbitan Perpres No.75/2019 yang secara substansi adalah kenaikan iuran jamkes secara proporsional dengan mempertimbangkan penghitungan aktuaria. Adapun penerbitan

(41)

30

Perpres 64/2020 adalah berperan sebagai penghubung dari Perpres 75/2019 yang kenaikan iuran dibatalkan MA tersebut.

Dengan diterbitkannya Perpres 64/2020 kenaikan iuran tetap dilakukan oleh Pemerintah namun dengan tetap mempertimbangkan kemampuan peserta.

Kondisi keuangan DJS Kesehatan yang berangsur sehat ini ditunjukkan dengan kemampuan BPJS Kesehatan dalam membayar seluruh tagihan pelayanan kesehatan secara tepat waktu kepada seluruh fasilitas kesehatan, termasuk juga penyelesaian pembayaran atas tagihan tahun 2019. Kondisi tersebut diharapkan terus membaik dan dapat diertahankan setiap tahunnya, sehingga diharapkan mulai tahun ini BPJS Kesehatan bisa melakukan pencadangan memenuhi persyaratan tingkat kesehatan keuangan DJS Kesehatan sesuai regulasi.

Di sisi lain, masih ada satu pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan yaitu terkait dengan upaya pemenuhani amanat Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial Kesehatan. Dalam pasal 37 disebutkan kesehatan keuangan aset DJS Kesehatan diukur berdasarkan aset bersih DJS Kesehatan dengan ketentuan yaitu paling sedikit harus mencukupi estimasi pembayaran klaim untuk 1,5 bulan ke depan, dan paling banyak sebesar estimasi pembayaran klaim untuk 6 bulan ke depan.

Aset neto yang sehat ini dihitung, jika dalam istilah asuransi bisa dikatakan sebagai modal minimum atau Risk Based Capital (RBC) dari DJS Kesehatan untuk mengelola

(42)

31

Program JKN-KIS. Tentu upaya penyehatan DJS Kesehatan ini terus diupayakan Pemerintah untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi peserta tetap optimal.

Kondisi saat ini di tahun 2020, asset netto masih membukukan posisi negative sebesar Rp6,3T. Apabila dibandingkan dengan kondisi aset netto pada posisi akhir tahun 2019 sebesar negative Rp51 triliun, hal ini tentunya mengalami perbaikan yang cukup pesat. Apabila kondisi ini tetap dipertahankan pada tahun 2021, maka bisa dipastikan kondisi kesehatan aset DJS kesehatan yang tercermin dengan kondisi aset netto pada tahun 2021 akan bisa mencapai angka positif.

Rekomendasi

1. Pandemi covid 19 masih belum bisa ditentukan waktu penyelesaiannya. Hal ini tentunya akan menurunkan tingkat ekonomi secara makro yang berdampak pada penghasilan PBPU dan BP sehingga menurunkan kemampuan membayar iuran dan menyebabkan terjadinya tunggakan iuran.

2. Perpres 64/2020 memberikan ruang bagi Pemerintah daerah untuk berkontribusi khususnya dalam pendanaan, sehingga perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara simultan.

3. Bantuan Pemerintah terhadap PBPU dan BP kelas III perlu dimitigasi risiko dengan kemampuan keuangan negara, karena beban APBN yang besar telah dilakukan untuk pembayaran iuran JKN melaui kepesertaan PBI dan PNS/TNI Polri. Langkah ini diperlukan karena kenaikan

(43)

32

iuran akan memberikan peluang peserta kelas I dan kelas II memilih untuk turun ke kelas III sehingga bantuan Negara dan Pemda menjadi bertambah.

4. Koordinasi yang intens antara seluruh pemangku kepentingan dalam mengawal pelaksanaan Perpres 64/2020 perlu dilakukan secara intenn, demikian juga sosialisasi atas Perpres 64/2020 dan peraturan turunannya perlu diintenskan secara masif agar diperoleh pemahaman yang sama dalam implementasi di lapangan.

5. Aturan-aturan pendukung/ teknis Perpres 64/2020 perlu segera diselesaikan, sekaligus melakukan evaluasi atas peraturan peraturan yang ada selama ini.

DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia (2004). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Negara

Republik Indonesia, (2011). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Republik Indonesia, 2020. Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua tentang Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. Jakarta Kajian Defisit Komisi Pemberantasan Korupsi, 2019-2020

(44)

33

EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI PMK 78/PMK.02/2020 DI DAERAH DALAM MASA

PANDEMI COVID 19

(45)

34

EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI PMK 78/PMK.02/2020 DI DAERAH DALAM MASA

PANDEMI COVID 19

Oleh : Ayu Paramita Hapsari

Pengertian Jaminan Kesehatan

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diamanatkan bahwa tujuan negara adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tujuan tersebut semakin dipertegas yaitu dengan mengembangkan sistem jaminan sosial bagi kesejahteraan seluruh rakyat.

Sistem jaminan sosial nasional merupakan program negara yang bertujuan memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selain itu, dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor X/MPR/2001, Presiden ditugaskan untuk membentuk sistem jaminan sosial nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat yang lebih menyeluruh dan terpadu.

(46)

35

Dengan ditetapkannya UU SJSN dan UU BPJS, bangsa Indonesia telah memiliki sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam rangka memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat yang lebih menyeluruh dan terpadu.

Penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip: kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat wajib, dana amanat, dan hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan Peserta. Jenis – jenis program jaminan sosial dalam UU SJSN meliputi : jaminan Kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian.

Definisi Jaminan Kesehatan berdasarkan Perpres 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana diubah yang kedua dengan Perpres 64 tahun 2020 adalah Jaminan berupa perlindungan kesehatan agar Peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar Iuran Jaminan Kesehatan atau Iuran Jaminan Kesehatannya dibayar oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.

Kondisi Jaminan Kesehatan Nasional

Jumlah peserta JKN telah mencapai mencapai 82% dari

(47)

36

total penduduk atau sebesar 223 juta jiwa,1 dengan komposisi sebagai berikut:

(i) Penerima Bantuan Iuran

(Program Jaminan Kesehatan fakir miskin dan orang tidak mampu yang dibayar oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan Pemda melalui APBD) sebanyak 133,5 juta jiwa atau 59,9% dan

(ii) Bukan Penerima Bantuan Iuran yang terdiri dari

a. Pekerja Penerima Upah (Setiap orang yang bekerja pada pemberi kerja dengan menerima gaji atau upah.

antara lain: PNS, BUMN, BUMD, dan Swasta) sebanyak 54,1 juta jiwa atau 24,2%,

b. Pekerja Bukan Penerima Upah (Setiap orang yang bekerja atau berusaha atas risiko sendiri yang mampu membayar iuran. Antara lain: Dokter/ Bidan Prakter Swasta, Pedagang/ Penyedia Jasa, Petani/ Peternak, Nelayan, Supir, Ojek) sebesar sebanyak 30,4 juta jiwa atau 13,6%,

c. Bukan Pekerja (Setiap orang yang bukan termasuk masyarakat yang didaftarkan dan iurannya dibayar oleh Pemerintah Pusat/ Daerah, PPU serta PBPU) sebanyak 5 juta jiwa atau 2,2%.

Pemerintah sangat mendukung keberlangsungan program

1 Disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara pada Media Birefing “Anggaran Jaminan Kesehatan Nasional“ tanggal 14 Mei 2020.

(48)

37

JKN hal itu dibuktikan dengan dukungan pemerintah kepada BPJS Kesehatan sebagai badan penyelenggara dari tahun 2018 sampai dengan 2020, yaitu sebagai berikut:

Dukungan Pemerintah

Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020

PBI 25,5T 35,8T 48,8T

Tambahan Pemda 6,8T 13,0T 18,1T

Bantuan Pemerintah 10,3T - -

PPU 5,4T 6,5T 11,1T

PBPU dan BP - - 3,1T

Total 48,0T 55,3T 81,1T

Sejak awal dilaksanakannya program JKN pada tahun 2014 telah terjadi defisit DJS Kesehatan yaitu sebesar Rp1,9 T, pada tahun 2015 sebesar Rp9,4 T, tahun 2016 sebesar Rp6,7 T dan melonjak tinggi pada tahun 2017 yaitu Rp13,8 T. Pada tahun 2018 telah diterbitkan Perpres 82 Tahun 2018 dengan harapan dapat mengurangi defisit dan memang defisit DJS Kesehatan sedikit berkurang yaitu sebesar Rp 9,1 T pada tahun 2018.

Hal tersebut terjadi karena penyebab utama defisit belum teratasi yaitu mismatch antara penerimaan iuran dengan pengeluaran. Untuk itu pada tahun 2019 diterbitkan Perpres 75 Tahun 2019 dengan harapan dapat mengatasi defisit DJS Kesehatan. Dalam Perpres 75 diatur penyesuaian besaran iuran

(49)

38 JKN yaitu:

Kelas Perawatan

Perpres 82 Tahun 2018

Perpres 75 Tahun 2019

PBI Rp42.000 Rp42.000

Kelas III Rp25.500 Rp42.000

Kelas II Rp51.000 Rp110.000

Kelas I Rp80.000 Rp150.000

Tentu terbitnya Perpres 75 Tahun 2019 telah melalui pembahasan yang panjang dan sesuai dengan Pasal 38 ayat (1) Perpres 82 Tahun 2018 bahwa “Besaran iuran ditinjau paling lama 2 (dua) tahun sekali.”

Perpres 64 Tahun 2020 tentang perubahan Kedua atas Peraturan Presiden nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan

Tidak lama setelah terbit Perpres Nomor 75 Tahun 2019 tentang Jaminan Kesehatan, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mengajukan permohonan judicial review dan atas permohonan tersebut terbit Putusan Mahkamah Agung (MA) No: 7 P/HUM/2020 yang intinya menyatakan bahwa Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) Perpres Nomor 75 Tahun 2019 mengenai kenaikan iuran Jaminan Kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan untuk kelas I, II dan III tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dampak Putusan MA tersebut antara lain: (i) besaran iuran peserta PBI menjadi lebih besar dari iuran kelas III, (ii)

(50)

39

kondisi keuangan DJS Kesehatan akhir tahun 2020 diperkirakan akan mengalami defisit sebesar Rp6,9T apabila dihitung dengan carry over defisit tahun 2019 sekitar Rp15,5 T, (iii) mulai tahun 2021, DJS Kesehatan akan mengalami defisit yang semakin melebar, dan (iv) putusan MA akan mempercepat terjadinya defisit JKN yang apabila dilakukan menggunakan iuran sesuai Perpres 75/2019 mulai tahun 2014, dan (iv) diperlukan langkah signifikan untuk menjaga kesinambungan program.

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka disusunlah Perpres perubahan kedua atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 yaitu Perpres Nomor 64 Tahun 2020. Penyusunan tersebut dilakukan melalui mekanisme pengajuan izin prakarsa kepada Presiden. Pemrakarsa dari penyusunan Perpres ini adalah Menteri Keuangan, yang dalam hal ini dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Anggaran dimana secara teknisnya dilaksanakan oleh Direktorat Harmonisasi Peraturan Penganggaran. Tujuan utama Perpres 64/2020 untuk memperbaiki struktur iuran, meningkatkan kepatuhan pembayaran iuran, dan memberikan relaksasi di masa pandemi covid-19. Beberapa kebijakan yang diatur dalam Perpres 64/2020 antara lain:

a. Kebijakan Iuran

Kebijakan iuran yang mulai berlaku 1 Juli 2020, yaitu: (i) Iuran bagi Peserta PBI JK yaitu sebesar Rp42.000 per orang per bulan (POPB), (ii) Iuran bagi Peserta PPU yaitu 5% dari gaji atau upah per bulan dengan ketentuan 4%

(51)

40

dibayar oleh Pemberi kerja dan 1% dibayar oleh Peserta dengan batas tertinggi Rp12.000.000,- dan batas terendah adalah upah minimum Kab/Kota., (iii) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas III yaitu sama dengan PBI JK tetapi dengan ketentuan: Tahun 2020, sebesar Rp25.500 POPB dibayar oleh peserta dan sebesar Rp16.500 POPB dibayar oleh Pemerintah Pusat sebagai bantuan iuran, serta sebesar Rp25.500 POPB dibayar oleh Pemda untuk penduduk Ex PBI Pemda dan untuk Tahun 2021, sebesar Rp35.000 POPB dibayar oleh peserta, dimana sebesar Rp7.000 POPB dibayar oleh Pemerintah Pusat dan Pemda sebagai bantuan iuran, serta Rp35.000 POPB dapat dibayar oleh Pemda Sebagian atau seluruhnya, (iv) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas II yaitu Rp100.000 POPB, dan (v) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas I yaitu Rp150.000 POPB.

Kebijakan iuran untuk bulan Januari – Maret 2020, yaitu:

(i) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas III sebesar Rp42.000 POPB, (ii) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas II sebesar Rp110.000 POPB, dan (iii) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas I sebesar Rp160.000 POPB.

Kebijakan iuran untuk bulan April – Juni 2020, yaitu: (i) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas III sebesar Rp25.500 POPB, (ii) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas II sebesar Rp51.000 POPB, dan (iii) Iuran bagi peserta PBPU dan BP kelas I sebesar Rp80.000 POPB b. Relaksasi Pengaktifan kepesertaan

(52)

41

Karena pandemi covid-19 peserta JKN yang menunggak dapat mengaktifkan kembali kepesertaannya dengan melunasi tunggakan iuran selama 6 bulan, yang sebelumnya harus melunasi 24 bulan. Apabila masih memiliki sisa tunggakan akan diberi kelonggaran sampai dengan tahun 2021.

c. Relaksasi pembayaran denda

Untuk tahun 2020, Peserta yang sebelumnya menunggak dan telah aktif kembali hanya diwajibkan membayar denda sebesar 2,5% dari perkiraan paket INACBG, atas pelayanan yang diperolehnya di faskes rujukan tingkat lanjutan. Sebelum Perpres 64/2020 berlaku, denda yang dikenakan adalah 5%, dan denda ini akan kembali berlaku pada tahun 2021 dan seterusnya.

(53)

42

PMK No. 78/PMK.02/2020 tentang Pelaksanaan Pembayaran Kontribusi Iuran Peserta PBI Jaminan Kesehatan, Iuran Peserta PBPU dan Peserta BP dengan Manfaat Pelayanan di Ruang Perawatan Kelas III, dan Bantuan Iuran Bagi Peserta PBPU dan Peserta BP dengan Manfaat Pelayanan di Ruang Perawatan Kelas III Oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah

Untuk melaksanakan Peraturan Presiden 64/2020 Pasal 29 ayat (5) yang terkait dengan kontribusi pembayaran Iuran bagi Peserta PBI Jaminan Kesehatan yang dibayarkan oleh Pemerintah Daerah dan Pasal 34 ayat (5) yang terkait dengan bantuan Iuran kepada Peserta PBPU dan Peserta BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III telah pula disusun Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2020, yang efektif berlaku mulai 1 Juli 2020.

Peraturan Menteri Keuangan dimaksud antara lain mengatur mengenai:

a. pelaksanaan pembayaran Bantuan Iuran oleh Pemerintah Pusat, dan

b. pelaksanaan pembayaran Kontribusi Iuran Peserta PBI, Iuran Peserta PBPU dan Peserta BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III, dan bantuan iuran oleh Pemda.

Adapun beberapa hal pokok yang di atur dalam PMK 78/PMK.02/2020 adalah:

a. Sharing kewajiban iuran antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

(54)

43 Kewajiban

Pemerintah Pusat

Kewajiban Pemerintah Daerah

Bantuan Iuran PBPU dan BP Kls 3

Thn 2020: Rp16.500

Thn 2021 dst: Rp 4.200 (dibagi Pusat: Daerah yaitu 60:40; dari total bantuan Rp7.000)

Kontribusi Pemda dalam PBI

Thn 2020: (tidak ada, kapasitas Pemda belum mampu)

Thn 2021 dst: dibayar oleh Provinsi

sebesar Rp2.000; Rp2.100; atau Rp2.200 sesuai kapasitas fiskal Iuran Peserta PBPU dan BP Kls 3

Thn 2020: Atas kewajiban Peserta ex PBI Pemda:

Rp25.500

Thn 2021 dst: dapat membayar

sebagian/seluruhnya dari total kewajiban iuran Peserta sebesar Rp35.000

Bantuan Iuran PBPU dan BP Kls 3

Thn 2020: - (tidak ada, semua ditanggung Pusat)

Thn 2021 dst: Rp2.800 (dibagi Pusat:

Daerah yaitu 60:40; dari total bantuan Rp7.000)

b. Pembayaran bantuan iuran oleh Pemerintah Pusat dilakukan

(55)

44

melalui pembayaran Bantuan Iuran oleh KPA BUN kepada BPJS Kesehatan. KPA pembayaran adalah Kemenkeu c.q.

Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Pembayaran bantuan iuran tersebut meliputi tata cara:

(i) Penyediaan dana: bantuan iuran dialokasikan dalam APBN dan/atau APBNP pada BA 999.08 Pos Cadangan Lainnya

(ii) Pencairan dana: BPJS Kesehatan setiap bulan menyampaikan surat tagihan berdasarkan perhitungan iuran jamkes peserta kelas III dengan status aktif kepada KPA BUN.

(iii) Pertanggungjawaban dana

KPA BUN bertanggung jawab secara formal atas penyaluran Bantuan Iuran dari rekening Kas Negara ke rekening BPJS Kesehatan.

Direksi BPJS Kesehatan bertanggung jawab secara formal dan materiil atas kebenaran data Peserta Aktif, kebenaran perhitungan Bantuan Iuran dan penggunaan Bantuan Iuran yang diterimanya.

(iv) Pengawasan

APIP melakukan pengawasan atas pembayaran bantuan iuran.

c. Mekanisme pembayaran iuran yang menjadi kewajiban Pemerintah Daerah meliputi mekanisme:

(i) Pembayaran oleh KPA Pemda terkait, dapat diuraikan sebagai berikut:

(56)

45

Pemerintah Daerah membayar kewajiban iuran setiap bulan kepada BPJS Kesehatan berdasarkan data aktif peserta PBI jaminan Kesehatan dan peserta PBPU dan peserta BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III. Pemerintah Daerah dan BPJS Kesehatan melakukan rekonsiliasi untuk menyepakati dan menetapkan: jumlah peserta dan besaran kontribusi iuran peserta PBI, jumlah peserta dan iuran peserta kelas III, dan jumlah peserta dan Bantuan iuran atas peserta kelas III

Pemerintah daerah melakukan pembayaran kontribusi iuran peserta PBI, iuran peserta kelas III dan bantuan iuran sesuai tagihan dari BPJS Kesehatan

(ii) Penetapan tunggakan, dengan uraian sebagai berikut:

BPJS Kesehatan mencatat tunggakan pembayaran kontribusi iuran peserta PBI, iuran peserta PBPU dan peserta BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III sebagai piutang BPJS Kesehatan paling banyak 24 bulan

Dalam hal pemerintah daerah tidak dapat menyelesaikan pembayaran, BPJS Kesehatan dapat menyampaikan permohonan penyelesaian tunggakan pembayaran melalui pemotongan DAU dan/atau DBH

Tunggakan yang dapat diajukan permohonan pemotongannya dilakukan setelah melampaui

(57)

46

jangka waktu 6 bulan setelah upaya penagihan optimal oleh BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan dan Pemerintah Daerah melakukan rekonsiliasi untuk menyepakati besaran jumlah tunggakan.

Penetapan besaran tunggakan memperhitungkan:

selisih lebih dari jumlah realisasi kontribusi penerimaan pajak rokok dan pemotongan penerimaan pajak rokok yang telah disetor

BPJS dapat meminta bantuan BPKP untuk melakukan audit besaranya tunggakan, dalam hal:

Pemda tidak bersedia melakukan rekonsiliasi; atau tidak tercapai kesepakatan besarnya tunggakan.

(iii) Pemotongan DAU/DBH dengan KPA: Kemenkeu c.q.

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (berdasarkan permintaan BPJS setelah melakukan upaya penagihan optimal)

BPJS Kesehatan mengajukan permohonan pemotongan DAU dan/atau DBH berdasarkan penetapan besaran tunggakan

DJPK melakukan perhitungan pemotongan DAU dan/atau DBH dengan mempertimbangkan besarnya permintaan pemotongan, besarnya penyaluran, sanksi pemotongan dan/atau penundaan lainnya dan kapasitas fiskal daerah.

(58)

47

Survey Efektivitas Implementasi PMK 78

Mengingat substansi yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2020 berdampak luas bagi masyarakat terkait dengan kesinambungan program JKN, namun di sisi lain juga membawa konsekuensi beban anggaran tambahan bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka dipandang perlu untuk melakukan survey guna memperoleh gambaran riil mengenai efektivitas implementasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2020 di daerah.

Adapun survey dimaksud telah dilakukan pada bulan Oktober 2020 pada Pemerintah Daerah dan Kantor Cabang BPJS Kesehatan, yang dipilih secara sampling mewakili 34 provinsi di Indonesia.

Gambaran terkait survey Efektivitas Implementasi PMK 78/2020 antara lain:

a. Tujuan :

memperoleh gambaran riil mengenai efektivitas implementasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.02/2020 di daerah

b. Responden :

berjumlah 122 orang dengan 52 orang responden KC BPJS Kesehatan dan 70 orang responden Pemda yang disampling di tiap Kedeputian wilayah BPJS Kesehatan.

c. Metode Analisis :

(59)

48

metode ROCCIPI (Rule, Opportunity, Communication, Interest, Process dan Ideology). Metode ini digunakan untuk mencari penyebab yang melatarbelakangi tingkat kepatuhan stakeholders dalam melaksanakan PMK 78/PMK.02/2020 dengan uraian sebagai berikut:

Uraian Tujuan

Rule (Peraturan) keterkaitan antara PMK 78/PMK.02/2020 dengan peraturan perundang-undangan lain yang terkait. Di samping itu aspek substansi, sistematika dan redaksional sudah dirumuskan dengan baik dan benar atau tidak yang berpengaruh pada pemahaman, komitmen dan kemampuan stakeholders untuk melaksanakan kewajiban yang

diatur dalam PMK

78/PMK.02/2020.

Opportunity (Kesempatan)

sejauh apa stakeholders merespon aturan yang telah ditetapkan PMK 78/PMK.02/2020. Apakah aturan- aturan tersebut menciptakan peluang baru (eksternalitas) bagi pemangku kepentingan untuk tidak mematuhi ketentuan yang diatur dalam PMK 78/PMK.02/2020.

(60)

49 Capacity

(Kemampuan)

melihat kemampuan stakeholders dalam menenuhi kewajiban yang

diatur dalam PMK

78/PMK.02/2020 baik karena sebab aturan itu sendiri maupun faktor lain seperti ketersediaan waktu, anggaran, dan mekanisme kerja.

Communication (Komunikasi)

dilihat apakah masalah yang timbul dikarenakan permasalahan komunikasi baik yang disebabkan oleh Kementerian Keuangan (DJA) atau stakeholders itu sendiri.

Interest (Minat) dieksplorasi keuntungan dan kelebihan yang menjadi penyebab minat stakeholders mematuhi ketentuan yang diwajibkan oleh PMK 78/PMK.02/2020.

Process (Proses) dilihat sejauh apa mekanisme yang

diatur dalam PMK

78/PMK.02/2020 dipahami oleh stakeholders.

Ideology (Keyakinan)

dilihat sejauh apa stakeholders meyakini bahwa pengendalian dan evaluasi merupakan bagian penting dari sistem perencanaan sehingga

(61)

50

stakeholders secara sukarela (voluntary) ketentuan dalam PMK 78/PMK.02/2020.

Dengan ROCCIPI, survei ini pada intinya mencoba mengeksplorasi Komitmen dan Kemampuan: (i) sejauh apa konsensus dan komitmen stakeholders dalam melaksanakan kewajiban yang diatur dalam PMK 78/2020; dan (ii) sejauh apa kemampuan stakeholders dalam memahami dan melaksanakan PMK 78/2020, termasuk peran instansi dalam meningkatkan kemampuan stakeholders. Namun sebelum alat analisa ROCCIPI ini diterapkan, perlu dibuat kriteria kunci yang nantinya akan digunakan untuk mengukur tingkat komitmen dan kemampuan dalam menjalankan kewajiban yang diatur dalam PMK 78/PMK.02/2020. Namun karena keterbatasan yang ada, maka kajian ini tidak mengeksplorasi seluruh kriteria.

Kajian ini hanya mengkaji 15 (lima belas) kriteria prioritas yang ditentukan sebagai berikut:2

2 Kriteria dikembangkan dalam forum rapat Direktorat HPP pada tanggal 1 Oktober 2020.

(62)

51

ROCCIPI KRITERIA

SKOR

(1=kurang berpengaruh, 9=sangat berpengaruh) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 RULE Keselarasan dengan

peraturan perundang- undangan lainnya

v

Rumusan substansi jelas

dan dapat dimengerti v

Tugas dan fungsi

(kewenangan) para puhak diuraikan dengan jelas dan terukur

v

Para pihak terkait dicantumkan dengan lengkap dan jelas

v

Telah dilengkapi dengan peraturan perundang- undangan turunan atau aplikasi bagi

implementasi

v

OPPORTUNI

TY Munculnya eksternalitas

(perlikau dampak) positif v

Munculnya ekternalitas

(perilaku dampak) negatif v

CAPACITY Ketersediaan waktu v

Ketersediaan SDM/

kompetensi

v

Ketersediaan anggaran v

(63)

52

ROCCIPI KRITERIA

SKOR

(1=kurang berpengaruh, 9=sangat berpengaruh) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 RULE Keselarasan dengan

peraturan perundang- undangan lainnya

v

Ketersediaan sarana

prasarana v

Mekanisme implementasi (mudah/sulit)

v

COMMUNIC

ATION Sosialisasi regulasi

(campaign dll) v

Internalisasi regulasi

(fasilitasi, bimtek) v

Upaya pentaatan melalui

komunikasi v

Feedback for

improvement v

Recognition (penghargaan atas ketaatan)

v

INTEREST Keuntungan bila mentaati v Biaya atau kerugian bila

tidak mentaati v

Peluang yang diperoleh bila mentaati

v

Resiko bila tidak mentaati v

Gambar

Grafik 3  Keterangan:

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan skripsi ini dengan skripsi yang penulis bahas adalah skripsi di atas hanya menjelaskan tentang kecocokan teori al-Qur‘an dengan teori biologi, tapi

Dibandingkan dengan survey tahun 2015, pada survey kepuasan pasien tahun 2016 terdapat 1 % responden kurang puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan, diperkirakan hal

Zirconia merupakan bahan keramik yang mempunyai sifat mekanis baik dan banyak digunakan sebagai media untuk meningkatkan ketangguhan retak bahan keramik lain diantaranya

[r]

pelajaran IPS siswa kelas VII SMPN 1 Singosari - Motivasi belajar Penelitian ini sebagai betujuan untuk independen mengetahui variabel tingkat pengaruh - Subjek pola asuh

3= Jika siswa menjawab 3 bagian akar monokotil beserta fungsi sesuai dengan teori di buku.. Judul kegiatan: Teknologi yang terinspirasi dari struktur jaringan

Pada bagian-bagian selanjutnya akan diturunkan bahwa parameter mean dan variansi pada distribusi tersebut di dasarkan kepada hasil pendekatan bagi matriks korelasi R, dan..