kerjarnya di lantai dua. Jaksa agung muda itu mengon-tak anak buahnva, antara lain Direktur Penyelidikan Pidana Khusus Arminsyah dan salah seorang jaksa yang menelisik kasus Sisminbakurn, Esther PT Subea, untuk bergabung.
Yang “mimpin" bukan Amari, melainkan Martin. Kepada "junior"-nya, Martin memperkenalkan kliennya sekaligus maksud kedatanganva. Hary menjelaskan perihal keterlibatan kakaknya dalam kasus Sisminbakum. Menurut Hary, kakak sulungnya, Hartono, tidak bersalah dalam kasus ini. Bos Media Nusantara Citra (MNC) ini—grup perusahaan yang antara lain membawahkan RCTI. Global TV dan koran
Seputar Indonesia–menekankan tak ada duit yang dikorupsi dalam perkara Sisminbakum oleh grup perusahaannya.
Menjelang akhir pertemuan, Martin dan Hary menembakkan pertanvaan inti: bagaimana kemungkinannya jika mereka membayar ganti rugi uang negara, yang menurut kejaksaan, diselewengkan dalam kasus Sisminbakum. Amari, menurut sumber
Tempo, saat itu menjawab, “Itu sangat terbuka dilakukam- Hary mengejar: apakah jika pembayaran ganti rugi itu dilakukan, kasus ini akan selesai?
“Maksudnya tidak merembet ke mana-mana," ujar sumber itu. Pertanyaan ini tidak dijawab tegas Amari. Martin dan Hary meninggalkan Gedung Bundar sekitar pukul lima. Kehadirannya sepertinya tak tercium wartawan.
Martin's “entourage” was received by Amari in his office on the second floor- He then contacted his subordinates, including among others, Special Crimes Investigations Director Arminsyah and one of the prosecutors investigating the Sisminbakum case, Esther PT Subea, to join in welcoming his guests.
Despite being the host, according to a Tempo
source, the person who dominated the meeting was not Amari, but Martin. To his “juniors,” Martin introduced his client and the reason for their visit. Hary then explained his older brother's involvement in the Sisminbakum case. According to Hary, his brother Hartono was not at fault. The boss of Media Nusantara Citra (MNC) —a business group in charge of, among others, RCTI television, Global TV and the
Seputar Indonesia newspaper—emphasized that his business group did not embezzle any money in the Sisminbakum case.
Towards the end of the meeting, Martin and Hary fired the key question: would it be possible for them to pay compensation to the state for the money that according to the AGO was embezzled in the Sisminbakum case. Amari, according to a Tempo
source, answered, “[I'm] very open to that.” Hary quickly jumped in with: if such a compensation payment were made, would the case be resolved? “Meaning it would not spread around," said the source. Amari did not explicitly answer the question. Martin and Hary left the Rotunda Building at around 5pm. No journalists appeared to have got wind of the visit. kamar kerja[nya] → menelisik (implicit) → untuk bergabubg → Yang…Amari → tidak…ini → membawahkan (implicit) → menembakkan (implicit) → saat itu menjawab → dilakukan → mengejar (implicit) → selesai → merembet kemana-mana (implicit) → tegas (implicit) → tercium (implicit) → office (mp) investigating (mp) to join in welcoming his guests (higher level)
the…Amari (higher level) was…fault (omitted lowerlevel)
in charge of (mp)
fired (mp)
answered (omitted lowerlevel) to that (mp)
quickly…with (mp+higher) be resolved (mp)
spread around (mp) rexplicitly (mp) have got wind of (mp)
30
Sejak kasus ini merebak, Amari sulit ditemui juru tinta. Sebelumnva, kepada wartawan, Senin dua pekan lalu, dia menegaskan kedatangan Hary bukan untuk melobi kejaksaan. Ia menerima Hary karena status yang bersangkutan bukan tersangka atau terdakwa korupsi. Ditemui pada Kamis pekan lalu di Gedung Bundar, Arminsyah pun tak bersedia berkomentar tentang per-temuannya dengan Hary. “Untuk yang ini saya tak akan bicara." Katanya.
Kepada Tempo, Kamis pekan lalu, Martin Pongmkun bercerita, kedatanganya menemui Amari untuk mengklarifikasi kasus kliennya. “Ide pertemuan dari sava,” katanya. Sebagai pengacara, Martin mengharap kasus yang melibatkan khennya segera rampung, Gara-gara kasus Sisminbakum ini Hartono stress. Kasihan dia."
***
DISIDIK kejaksaan sejak akhir 2008, kasus Sisminbakum kini menuju titik akhir. Sejumlah tersangka kasus ini juga sudah divonis pengadilan. Bekas Direktur Jenderal Administrasi Badan Hukum Departemen Kehakiman Romli Atmasasmita dan Svamsuddin Manan Sinaga, misalnya, divonis pengadilan tinggi hukuman satu tahun penjara, Direktur Utama PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD) Yohanes Waworuntu dihukum Mahkamah Agung lima tahun penjara, plus membayar ganti rugi Rp 378 miliar. Adapun tersangka terakhir yang ditetapkan kejaksaan,
Since the case came to light, reporters have found it hard to meet with Amari Speaking with journalists prior to this on Monday two weeks go, he insisted that Hary’s visit was not to lobby the AGO. He received Hary because the person concerned was not a corruption suspect or defendant. When Tempo
ran into him at the Rotunda on Thursday last week, Arminsyah was also not prepared to comment on the meeting with Hary, "I will say nothing on the matter," he said.
On Thursday last week, Martin said that his visit to meet with Amari was to clarify his client's case. "The idea for the meeting came from me,” he said. As an attorney, said Martin, he hoped that the case involving his client will soon be resolved. “Hartono has been stressed out because of the Sisminbakum case. Have pity on him.”
***
SUBJECT to a criminal investigation since late
2008, the Sisminbakum
case is now approaching its conclusion. Several defendants in the case have already been sentenced by the courts. Former Ministry of Justice Legal Administration director-generals, Romli Atmasasmita and Syamsudin Manan Sinaga, for example, were sentenced by the High Court to one year in jail, PT Sarana Rekatama Dinamika, CEO Yohanes Waworuntu, was sentenced to five years jail by the Supreme Court and ordered
merebak (implicit) → menegaskan → tak bersedia → Ditemui → bercerita → Ide pertemuan → Martin → rampung → Kasihan → Disidik kejaksaan → titik akhir (implicit) → tersangka → plus → tersangka [terakhir] → ditetapkan kejaksaan → came to light (mp) insisted (mp) not prepared (mp) ran into (mp) said (mp)
The idea for the meeting (higher level)
he (mp)
be resolved (mp)
Have pity on (higher level)
Subject…investigation (mp) Its conclusion
defendants (mp) ordered (mp)
[final] two suspects (higher level)
31
Yusril rhza Mahendra dan Hartono, perkaranya kini tengah diproses untuk dinaikkan ke tingkat penuntutan
Jika Hary Tanoesoedibjo ikut khawatir kasus ini merembet ke mana-mana, itu sangat wajar. Beroperasi sejak Oktober 2000, proyek Sisminbakum terbilang erat berkaitan dengan Hary dan perusahaannya, Bhakti Investama. Modal pembuatan Sisminbakum sebesar Rp 500 juts. misaInva, dikucurkan dari kas Bhakti Investama. Kepada Tempo. Jumat pekan Wit, John Sarodja, pencipta Sisminbakum itu, bercerita ke kantor Bhakti Investama di Bapindo Plaza, pada 2000-an, mengambil upah proyek membuat Sisminbakum itu. “Waktu itu mereka belum punya gedung sendiri,” kata John. “Pembayarannya juga dicicil."
Adapun saham PT Sarana juga dimiliki Bhakti Asset Management. Di sini, selain sempat menjabat wakil komisaris utama, Hartono memiliki saham. Didirikan pada 30 Juni 2000, PT Sarana inilah yang mengeruk duit dari sekitar 6.000 notaris yang ingin mendaftarkan badan hukum klien mereka. Selama delapan tahun beroperasi, kejaksaan menghitung duit yang masuk rekening SRD di Bank Danamon sekitar Rp 420 mihar. Duit itulah yang kemudian, menurut Yohanes, antara lain, dialirkan untuk kepentingan grup Hary.
to pay Rp378 billion in compensation. The case against the final two suspects, former Justice & Human Rights Minister Yusril Ihza
Mahendra and Hartono,
is currently being processed in preparation for prosecution.
Hary Tanoesoedibjo's concerns that the case would spread far and wide is quite natural. Operating since October 2000, the Sisminbakum project is regarded as being closely linked with Hary and his company, PT Bhakti Investama. The Rp500 million in capital to establish Sisminbakum, for example, came out of Bhakti Investama's coffers- On Friday last week, the creator of Sisminbakum, John Sarodja, told
Tempo how it Ryas upon moving to Bhakti In-vestama's offices in the Bapindo Plaza, some time around 2000, that he received a project wage to create Sisminbakum. "At the time they did not yet have their own building," said John. "The payment was also made in installments.”
It turns out that PT Sarana shares are also owned by Bhakti Asset Management. Aside from managing to become the companys deputy president com-missioner, Hartono owns shares as well. Established on June 30, 2000, it was PT Sarana that collected the money from around 6.000 notaries wanting to register their clients- corporate entities. Over eight years of operation, the AGO calculates that around Rp 420 billion ended up in PT Sarana’s account in Bank Danamon. It is this money, according to Yohanes, among others, that was then channeled into Hares business group. merembet (implicit) → kemana-mana (implicit) → terbilang (implicit) → pembuatan → dikucurkan (implicit) → kas → mengambil (implicit) → Adapun (implicit) → selain sempat (implicit) → menjabat → wakil…utama → mengeruk (implicit) → memiliki saham → yang masuk (implicit) → dialirkan (implicit) →
spread (mp) far and wide (mp) is regarded (mp) establish (mp) came out of (mp) coffers (mp) received (mp)
It turns out [that](higher level) Aside from (mp)
managing to become (higher level)
the…commissioner (higher level)
collected (mp)
owns…well (higher level) ended up in (mp) channeled (mp)
32
Sejak divonis Mahkamah pads 20 Mei silam, Yohanes sering bercerita mengungkap kebobrokan SRD. Sepanjang Juni, misalnya, dia mendatangi ber-bagai institusi: Lembaga Bantuan Hukum, DPR, Komisi Yudisial, dan Satuan Tugas Antikorupsi, mengadukan nasibnya. Dia mengaku hanya jadi alat di perusahaan itu. “Semua yang mengendalikan Hartono,” ujarnya,
“semua uang dan pengeluarannya yang memegang dia.” Karena itu, ia mengaku hanya korban. “Dari awal penyidikan kasus Sisminbakum oleh kejaksaan, saya sudah dikorbankan oleh bos saya, pemilik PT SRD, Hartono Tanoesoedibjo dan Hary Tanoesoedibjo,” tulis Yohanes dalam testimoninya. Dihubungi pada Kamis malam pekan lalu, Yohanes tak lagi banyak bicara. “Jantung saya sakit.- katanya, saya tak mau banyak cerita lagi.”
Sumber Tempo di kejaksaan mengungkapkan salah satu alasan yang membuat kejaksaan sangat berhati-hati mengusut kasus ini: ia akan menyenggol sejumlah pejabat penting. “Aliran uang SRD itu ke mana-mana,” ujar seorang jaksa yang terlibat dalam penelisikan kasus ini. Jaksa ini, misalnya, menunjuk adanya duit yang diduga untuk membeli rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, pads 2008- yang kemudian dijadikan museum di bawah pengawasan Dinas Sejarah Angkatan Darat. “Nilainva USS 10 juta,” kata sumber ini. “Kami peroleh dari dokumen pengeluaran uang SRD.”
Since being sentenced by the Supreme Court on May 20, Yohanes has often told stories about the crimes committed by PT Sarana. Throughout June, for example, he visited several institutions including the Legal Aid Foundation, the House of Representatives (DPR), the Judicial Commission and the Anti-Cor-ruption Task Force to complain about his misfortunes. He claims to simply have been used as a tool by the company. “Everything was controlled by Hartono,” he said, all of the money and expenditures were handled by him.” Because of this he claims to simply be a victim. “Right from the start of the criminal investigation into the Sisminbakum case by the AGO, I was sacrificed by my boss, the owner of PT Sarana Hartono Tanoesoedibjo and Hary Tanoesoedibjo,” wrote Yohanes in his testimony. When contacted on Thursday evening last week, Yohanes declined to say much. “My heart is unwell,” he said, "I don t want to talk much any more.”
A Tempo source at the AGO revealed that one of the reasons that the AGO is being extremely careful in investigating the case is that it could implicate several important officials. “The PT Sarana money ended up all over the place,” said a prosecutor that was involved in the investigation. They indicated, for example, that in 2008 the money was allegedly used to purchase the house of the late General Abdul Haris Nasution on JI. Teuku Umar in Central Jakarta, which was later turned into a museum under the supervision of the Army's Historical Office. “It was valued at USS 10 million,” said the source. “We obtained [the infor-mation] from PT Sarana 's financial expenditure
bercerita → mengungkapkan → kebobrokan (implicit) → mengadukan → nasib[nya] → mengaku → jadi alat → Karena itu → mengaku → dari awal penyidikan → tak lagi → cerita →
menyenggol (implicit) → kemana-mana (implicit) → penelisikan
penelisikan [kasus ini] (implicit) → Jaksa ini → menunjuk (implicit) → dari…SRD →
told stories (higher level) about (mp)
crime committed (mp) complain about (mp+higher) [his] misfortunes (mp) claims (mp)
have…tool (higher level) Because of this (mp) claims (mp) Right…investigation (higher level) declined (mp) say (mp) implicate (mp)
ended up all over the places ( + higher level) the investigating (mp) They (reference+mp) indicated (mp) [information]…documents (higher level)
33
Jumat pekan lalu, Tempo menemui Yanti Nurdin Nasution, putri Jenderal Nasution, meminta klarifikasi mengenai hal ini. Menurut Yanti, pada 2007 keluarganya memang menjual rumah itu kepada seseorang bernama Mitra Abidin. Tapi pembayarannya lalu macet. “Presiden Yudhoyono, yang kemudian mengetahui rumah ini hendak dijual, turun tangan, dan rumah ini pun dibeli Angkatan Darat,” ujarnya. Dari mana Angkatan Darat mendapat dana membeli untuk rumah itu, Yanti menyatakan tidak tahu. “Yang penting. bagi kami, rumah ini jadi museum. Ini perjanjian kami dengan Angkatan Darat.”
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Soewarno Widjonarko, membenarkan bahwa rumah di Jalan Teuku Umar itu dimiliki TNI-AD. Namun ia mengaku tidak mengetahui proses pembeliannya. “Saya belum menjabat waktu itu. Nanti saya cari tahu,” kata Soewarno, yang menjabat sejak Januari 2010, kepada Tito Sianipar dari Tempo melalui sambungan telepon Sabtu pekan lalu.
Museum Nasional Jenderal Besar A.H. Nasution seluas 2.000 meter persegi itu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Desember 2008. Turut pula hadir istri Nasution- Johana Sunarti, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri-Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Pariwisata Jero Wacik, dan pars Kepala Staf TNI.
documents.”
On Friday last week, Tempo met with General Nasution"s daughter, Yanti Nurdin Nasution, in order to clarify the matter. According to Yanti, in 2007 her family did indeed sell the house to a person named Mitra Abidin. But the payment fell through. “President Yudhoyono, who then found out that the house was up for sale interceded, and the house was bought by the Army." she said. As to where the Army was able to obtain the funds to buy the house, Yanti stated that she did not know. “What is important for us is that the house became a museum. This was the agreement we had with the Army."
Chief Spokesman for the Indonesian Army, Brig. Gen. Soewarno Widjonarko, confirmed that the house on Jalan Teuku Umar belonged to the Army. But he claimed to have no idea of the process of its purchase. "I wasn't yet in office at the time. I'll find out later.” Soewarno, holding the post since January 2010, told Tempo's Tito Sianipar over the phone on Saturday last week.
The National Museum of Great General AH Nasution, measuring 2.000 square meters, was in-augurated by President Susilo Bambang Yudhoyono on December 3. 2008. Attending the event were Nasution's widow, Johana Sunarti, Vice President Jusuf Kalla, Minister/ State Secretary Hatta Rajasa, Minister of Tourism Jero Wacik, and Indonesian Military Chiefs of Staff.
meminta → macet (implicit) → turun tangan (implicit) → Dari mana → mendapat → membenarkan → mengaku → menjabat → menjabat →
Turut [pula hadir] →
in order (mp) fell through (mp) interceded (mp) to where (mp)
was…obtain (higher level)
confirmed (mp) claimed (mp) in office (mp)
holding the post (higher level)
34
Adapun pengacara PT Sarana, Andi F Simangunsong, ketika dihubungi pada Sabtu pekan lalu, menyatakan tidak mengetahui hal tersebut. “Kalau soal ini saya belum tahu. Tapi perusahaan itu keuangannya transparan, bisa dilihat ke mana saja aliran dananya.
***
DERASNYA uang yang mengalir ke berbagai penjuru itulah, menurut sumber Tempo, yang jika ditelusuri, akhirnya bisa merembet ke mana-mana. “Ini yang membuat Jaksa Agung sangat hati-hati menetapkan Hartono jadi tersangka,” ujar seorang jaksa yang sejak awal ditunjuk menangani kasus Sisminbakum. Menurut jaksa ini, saat kasus ini mulai ditelisik pada Oktober 2008, tim penyidik sudah memiliki bukti keterlibatan Hartono dan Yusril. “Bahkan tim sudah melakukan gelar perkara, menunjukkan pelanggaran hukum yang dilakukan Hartono dan Yusril.
Seorang petinggi kejaksaan mengakui peran Hary Tanoe besar dalam meredam kasus ini. Salah satu petinggi yang dimintai bantuan oleh Hary, ujar sumber ini, adalah Menteri-Sekretaris Negara Sudi Silalahi. Sumber Tempo lainnya, juga pejabat kejaksaan,. menyatakan Hendarman pernah bercerita dirinva diminta -mengerem- kasus ini. “Kepada kami Jaksa Agung bilang: 'Ada yang meminta demikian'.”
Baik Hary Tanoesoedibjo maupun Sudi Silalahi menolak keras dituduh ikut campur perkara ini. Kepada
Contacted on Saturday last week, PT Sarana 's attorney, Andi F. Simangunsong, said he did not know about the matter. “I don't know anything about the matter. But the company and its finances have been transparent, right? You can see where the funds went.”
***
IT is the deluge of money that flowed to various quarters, according to a Tempo source, which if followed up, could end up spreading all over the place. “This is what is making the Attorney General wary about declaring Hartono as a suspect,” said the prosecutor who was appointed from the start to handle the Sisminbakum case- According to the prosecutor, when the case began to be looked into in October 2008, the team of investigators already had evidence of Hartono's and Yusril:s involvement.”The team even conducted a presentation of a case, indicating the legal violations committed by Hartono and Yusril.”
A senior AGO official claims that Hary played a major role in having the case hushed up. One of the senior officials from whom Hary asked for help, said the source, was State Secretary Sudi Silalahi. Another
Tempo source, also an AGO official, stated that Hendarman once related how he had been asked to ‘put the brakes- on the case. “The Attorney General told us: ‘Someone asked that it be so’.”
Both Hary and Sudi strongly rejected charges of being involved in the case. Speaking with Erwin
itu → kemana…dananya → Derasnya → penjuru → ditelusuri → merembet (implicit) → ditelisik (implicit) → gelar (implicit) → mengakui → meredam (implicit) → dirinya [diminta] → mengerem (implicit) → Kepada → Urusan…Sisminbakum → and (mp) where…went (mp) deluge (mp) quarters (mp) followed up (mp) spreading (mp) be looked into (mp) presentation (mp) claims (mp)
having [the case] hushed up (mp)
he [had been asked] (mp) put the brakes (mp)
Speaking with (mp) Legal…case (higher level)
35
Erwin Daryanto dari Tempo yang menemuinva pada Jumat malam pekan lalu, Sudi menegaskan bahwa ia ti-dak pernah mencampuri urusan hukum kasus Sisminbakum. “Kalau telepon dengan Pak Hendarman pernah, tapi bukan untuk mencampuri urusan hukum,” katanva. Sebelumnya, pertengahan bulan lalu, saat bertandang ke Tempo, Hary Tanoe juga membantah dirinva melobi Sudi agar membantu keluarganya keluar dan kemelut perkara ini.
***
RABU pekan lalu Hendarman menyatakan permintaan maafnya atas terjadinya polemik setelah pertemuan Amari-Hary. “Says minta maaf kepada masyarakat," ujarnva. Kendati demikian, Hendarman terkesan tetap membela anak buahnya. Menurut Hendarman, iktikad Amari sebenarnya baik. Hanya, ujarnya, karena dibaca lain oleh publik, hal itu kemudian jadi polemik-
Tapi. seorang petinggi kejaksaan tak sependapat dengan Hendarman. Menurut dia, dalam kasus ini Amari jelas salah, dia ini melanggar peraturan internal kejaksaan yang dikeluarkan Hendarman pada 15 April 2008. “Pada butir satu di situ jelas tertulis, ‘setiap jaksa dilarang menenma tamu yang berhubungan dengan perkara’,” katanya. -Hary itu kan kakak pihak yang beperkara?”
Suara yang sama muncul dari Komisi Hukum DPR. Bekas Ketua Komisi Hukum DPR Trimedya Panjaitan melihat memang ada yang ganjil dalam kasus ini. “Sebab,” ujarnya, “pertemuan itu dilakukan setelah ada putusan yang dijatuhkan pengadilan terhadap
Daryanto from Tempo who met with him on Friday evening last week, Sudi insisted that he had never interfered with legal matters related to the Sis-minbakum case. “There was a phone call with Pak
Hendarman at least once, but not to meddle with legal matters,” he said. Prior to this, when Hary visited
Tempo mid-last month, he also denied having lobbied Sudi to help his family get out of the crucial case.
***
On Wednesday last week Hendarman gave his