• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ketel uap

2. Unplanned Maintenance

2.4 Metode – metode Analisa Kegagalan

2.4.2 Root Cause Analysis(RCA)

http://kantorberitadunia.blogspot. co.id /2017/01/teori-persamaan-aljabar-boolean.html(diakses 27 Februari 2018)

Pengertian Root cause analysis (RCA) adalah proses pemecahan masalah untuk melakukan investigasi ke dalam suatu masalah, kekhawatiran atau ketidaksesuaian masalah yang ditemukan. RCA membutuhkan investigator untuk menemukan solusi atas masalah mendesak dan memahami penyebab fundamental atau mendasar suatu situasi dan memperlakukan masalah tersebut dengan tepat, sehingga mencegah terjadinya kembali permasalahan yang sama. Oleh karena itu mungkin melibatkan pengidentifikasian dan pengelolaan proses, prosedur, kegiatan, aktivitas, perilaku atau kondisi (British Retail Consortium, 2012).

Tahap-tahap dalam Root Cause Analysis (RCA) adalah sebagai berikut:

a. Mendefinisikan masalah (Define the non-conformity).

Dalam tahap ini yang harus diketahui dan terdefinisi secara jelas adalah masalah apa yang sedang terjadi saat ini, kemudian menjelaskan simptom secara spesifik yang menandakan terjadinya masalah.

b. Melakukan investigasi akar penyebab masalah (investigate the root cause).

Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam RCA karena ketika salah dalam menemukan akar penyebab masalah maka action plan yang diambil tidak akan dapat menyelesaikan masalah secara tepat sehingga tidak dapat menghindari permasalahan yang sama terulang kembali. Pada tahap ini akan digunakan tools ataupun metode untuk menggali akar penyebab permasalahan.

c. Mengajukan action plan (create proposed action plan).

Pada tahap ini akan dihasilkan solusi yang ditawarkan berupa action plan untuk mencegah masalah muncul kembali.

d. Mengimplementasikan action plan (implement proposed action).

Pada tahap ini akan ditetapkan siapa yang bertanggung jawab untuk implementasi atas action plan, bagaimana agar action plan agar dapat dijalankan, kemudian yang paling penting juga adalah menetapkan time scales, yaitu jadwal waktu dan target implementasi ini dilaksanakan.

e. Melakukan monitoring (verification & monitoring of effectivenenss).

Tindakan ini sangat diperlukan untuk memastikan bahwa perubahan ataupun kegiatan baru yang dilaksanakan benar-benar telah berjalan sesuai dengan action plan yang diusulkan. kemudian tahap ini juga membantu memberi keyakinan apakah langkah perbaikan yang dilakukan sudah tepat untuk mengelola akar penyebab masalah atau malah memunculkan masalah tambahan.

Metode dari pencarian akar masalah / Root Cause Analysis (RCA) : a. The 5-whys.

5-whys adalah metode paling sederhana untuk analisis akar penyebab terstruktur. Ini adalah metode mengajukan pertanyaan yang digunakan untuk mengeksplorasi penyebab hubungan yang mendasari masalah. Investigator terus bertanya pertanyaan 'Mengapa?’ Sampai kesimpulan yang berarti tercapai.

Gambar 2.31 The 5-Whys Sumber: Dogget, A. M. 2005.

Hal yang umumnya disarankan minimal lima kali pertanyaan yang perlu ditanyakan, meskipun kadang-kadang pertanyaan tambahan juga diperlukan atau berguna, karena sangat penting untuk memastikan bahwa 22 pertanyaan-pertanyaan terus diminta sampai penyebab sebenarnya diidentifikasi.

b. Fishbone diagrams atau The Cause-and-Effect Diagrams (CED).

Metode kedua adalah fishbone diagram. Tujuan menggambarkan masalah dalam suatu diagram atau gambar adalah untuk lebih memudahkan kita memahami gambaran permasalahan dan faktor-faktor penyebab munculnya permasalahan dalam satu diagram atau gambar. Menurut Scarvada (2004) dalam Asmoko (2012, 2), konsep dasar dari diagram fishbone adalah permasalahan mendasar diletakkan pada bagian kanan dari diagram atau pada bagian kepala dari kerangka tulang ikannya. Penyebab permasalahan digambarkan pada sirip dan durinya.

Gambar 2.32 Fishbone Diagrams atau The Cause and Effect Diagrams Sumber:

Langkah-langkah dalam penyusunan Diagram Fishbone atau CED menurut Ishikawa (1982) dalam Dogget (2005) yaitu:

https:// eriskusnadi.wordpress.com/2011/12/24/fishbone-diagram-dan-langkah-langkah-pembuatannya/(diakses 27 Februari 2018)

a. Tetapkan permasalahan yang akan dipecahkan atau dikendalikan.

b. Tuliskan permasalahan dibagian kanan dan gambar panah dari arah kiri ke kanan.

c. Tuliskan faktor-faktor utama yang berpengaruh atau berakibat pada permasalahan pada cabang utama.Faktor-faktor utama permasalahan dapat ditentukan dengan menggunakan 4M (Material, Method, Mechanism, dan Manpower) atau menggunakan 4P (Parts (raw material), Procedures, Plant (equipment) dan people). Namun, kategori juga bisa ditentukan sendiri tergantung permasalahannya (Dogget, A M. 2005, 36).

d. Menemukan penyebab untuk masing-masing kelompok penyebab masalah dan tuliskan pada ranting berdasarkan kelompok faktor-faktor penyebab utama. Penyebab masalah ini dirinci lebih lanjut dengan mencari sebab dari sebab yang telah diidentifikasi sebelumnya menjadi lebih detail.

Penyebab detail ini dapat diperoleh dengan menggunakan metode “5-Whys” dalam wawancara dan FGD yang dilaksanan.

e. Pastikan bahwa setiap detail dari sebab permasalahan telah digambarkan pada diagram.

Pengujian distribusi diperlukan, agar diketahui apakah data berdistribusi secara Normal, Lognormal, Exponential atau Weibull. Pengujian distribusi ini bisa dilakukan dengan bantuan Software Minitab, ANOVA dan berbagai macam software analisis statistik lainnya, lalu diambil koefisien korelasi (correlation coefficient) yang terbesar.

2.5 Reliability Block Diagram (RBD)

Reliability Block Diagram (RBD) adalah metode diagram untuk menunjukkan bagaimana komponen keandalan kontribusi bagi keberhasilan atau kegagalan sistem yang kompleks. RBD juga dikenal sebagai diagram ketergantungan (DD).

Sebuah RBD atau DD diambil sebagai rangkaian blok terhubung dalam konfigurasi paralel atau seri. Setiap blok merupakan komponen dari sistem dengan tingkat kegagalan. jalur paralel yang berlebihan, yang berarti bahwa semua jalur paralel harus gagal untuk jaringan paralel untuk gagal. Sebaliknya, kegagalan sepanjang jalan seri menyebabkan seluruh jalan seri gagal.

Sebuah RBD dapat dikonversi menjadi pohon sukses dengan mengganti jalur seri dengan gerbang AND dan jalur paralel dengan gerbang OR. Sebuah

pohon sukses kemudian dapat dikonversi ke pohon kesalahan dengan menerapkan de teorema Morgan.

Dalam rangka untuk mengevaluasi RBD, ditutup bentuk solusi yang tersedia dalam kasus kemerdekaan statistik antara blok atau komponen. Dalam hal asumsi independensi statistik tidak puas, formalisme spesifik dan alat-alat solusi, seperti dinamis RBD, telah dipertimbangkan.

Sebuah ReliabilityBlock Diagram (RBD) melakukan kehandalan sistem dan ketersediaan analisis sistem yang besar dan kompleks menggunakan blok diagram untuk menunjukkan hubungan jaringan. Struktur kehandalan blok diagram mendefinisikan interaksi logis dari kegagalan dalam sistem yang diperlukan untuk mempertahankan sistem operasi.

Kursus rasional dari RBD berasal dari node masukan yang terletak di sisi kiri diagram. Itu node input mengalir ke pengaturan seri atau blok paralel yang menyimpulkan ke node output pada sisi kanan diagram. Menurut Akbar (2017).

Diagram hanya harus berisi satu input dan satu output simpul. Sistem RBD terhubung dengan konfigurasi paralel atau seri.

a. Sistem Seri

Suatu sistem dapat dimodelkan dengan susunan seri, jika komponen-komponen yang ada didalam sistem itu harus bekerja atau berfungsi seluruhnya agar sistem tersebut sukses dalam menjalankan misinya. Atau dengan kata lain bila ada satu komponen saja yang tidak bekerja, maka akan mengakibatkan sistem itu gagal menjalankan fungsinya. Sistem yang mempunyai susunan seri dapat dikategorikan sebagai sistem yang tidak berlebihan (non-redundant system).

Gambar 2.33 Rangkaian Sistem Seri (Dhillon, 2005) Sumber:

Sistem berfungsi ≈ semua komponen harus berfungsi

http://akbarartikel-akbar.blogspot.co.id/2017/06/reliability-block-diagram-rbd.html(diakses27 Februari 2018)

Kehandalan sistem (Rs) ≈ Probabiltas peralatan tersebut berfungsi

Rs = R1 . R2 . R3 . Rn ... (1)

Dimana: Rs = Reliabiliti Seri

Rn = Reliabiliti komponen ke-n b. Sistem Pararel

Suatu sistem dapat dimodelkan dengan susunan parallel, jika seluruh komponen-komponen yang ada didalam sistem itu gagal berfungsi maka akan mengakibatkan sistem itu gagal menjalankan fungsinya. Sistem yang memiliki konfigurasi paralel dapat dikategorikan sebagai sistem yang sangat berlebihan (fully redundant system).

Gambar 2.34 Rangkaian Sistem Pararel (Dhillon, 2005) Sumber:

Rp = 1 – [(1 – R1) X (1 – R2) X (1 – Rn)] ... (2) http://akbarartikel-akbar.blogspot.co.id/2017/06/reliability-block-diagram-rbd.html(diakses27 Februari 2018)

Dimana:Rp = Reliabiliti parallel

Sistem operasional yang sukses membutuhkan setidaknya satu jalur dipertahankan antara sistem input dan sistem output. ekspresi aljabar Boolean digunakan untuk menggambarkan kombinasi minimum kegagalan diperlukan untuk menyebabkan kegagalan sistem. Minimal cut set merupakan jumlah minimal dari kegagalan yang dapat menyebabkan sistem gagal.

Menurut Ramesh (2012) untuk menghitung keandalan maka yang harus dilakukan adalah menghitung MTBF dan failure rate, rumus menghitung MTBF adalah sebagai berikut :

MTBF = 𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂 𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑂𝑂

𝑁𝑁𝑁𝑁𝑎𝑎𝑁𝑁𝑂𝑂𝑂𝑂𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑎𝑎𝑎𝑎𝑁𝑁𝑁𝑁𝑂𝑂𝑂𝑂 ... (3) setelah mendapatkan nilai MTBF maka selanjutnya adalah menghitung laju kegagalan (failure rate), adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

λ =

1

𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀𝑀 ... (4) untuk menghitung nilai keandalan (reliability) setelah didapat nilai MTBF dan failure rate, maka dapat menggunakan rumus :

R(t) =

e

-(λ)(t) ... (5) 2.6 Korelasi metode FTA, RCA, dan RBD

Korelasi dari metode FTA, RCA, dan RBD sangat membantu dalam menganalisa suatu objek, suatu peluang kegagalan pada objek dapat diketahui nilai persentase peluangkegagalannya dengan menggunakan metode FTA, dan untuk mengetahui faktor inti dari penyebab peluang kegagalan objek dan cara memecahkan masalah pada objek itu sendiri dapat diketahui dengan metode RCA setelah mendapat faktor dan peluang maka objek akan dianalisa tentang kehandalan nya dalam bekerja selama periode atau jam tertentu agar dapat dilakukan perawatan secara tersistem sehingga mengurangi peluang kegagalan dan untuk mengetahui nya maka digunakan metode RBD yang nantinya juga berfungsi untuk menaikkan kehandalan mesin itu sendiri

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait