Tahap ini merupakan siklus kedua dari keseluruhan proses recoverability. Tahapan ini berisi diskusi tentang systems thinking about real word. Tahap ketiga dalam SSM ini, peneliti akan menentukan root definitions (RDs). RDs adalah deskripsi terstruktur dari sebuah sistem aktivitas manusia yang relevan dengan situasi permasalahan yang menjadi perhatian di dalam penelitian SSM yang berbasis tindakan.
RDs merupakan satu-satunya cara untuk menggambarkan sistem untuk membantu proses pemodelan sistem. Checkland dan Poulter (2006) menyarankan supaya digunakan rumus umum PQR dalam menyusun sebuah RDs. Formula PQR yaitu mengerjakan P dengan Q untuk mewujudkan R.
Dalam konteks penelitian pengembangan UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu dengan menggunakan rich picture (Gambar 45), penelitian ini mengelompokkan real world dalam tiga sistem yang paling relevan. Berdasarkan tiga sistem yang paling relevan yaitu sistem yang berjalan di tataran makro, meso, dan mikro, dihasilkan 6 (enam) RDs dengan memperhatikan elemen CATWOE untuk menganalisa proses transformasi.
Makro 1. Pengorganisasian
2. Program, kegiatan, dan anggaran Meso 3. 3. Peran koperasi dan asosiasi Mikro 4. Kualitas SDM
5. Permodalan 6. Bahan baku
1) Root definition 1, untuk tataran makro berupa regulasi (Tabel 19) yaitu sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam rangka membentuk Sekretariat/Tim Pokja Pengembangan UKM (P) melalui penerbitan regulasi oleh Bupati (Q) untuk tercapainya keterpaduan program dan pembinaan pengembangan UKM di bawah koordinator satu pintu (R).
Tabel 19 CATWOE dan 3E dalam root definition 1 Customers Tataran makro, meso, dan mikro
Actors Pemerintah pusat dan daerah
Transformasi Pembentukan Sekretariat/Tim Pokja: dari tidak ada menjadi ada Worldview Penerbitan regulasi oleh Bupati dalam pembentukan Sekretariat/
Tim Pokja sangat penting untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya pengembangan UKM di bawah koordinator satu pintu
Owners Pemerintah pusat dan daerah
Environment Dukungan Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Gubernur Jawa Barat, dan Bupati Kabupaten Indramayu, ketersediaan anggaran, dan sumber daya
Efikasi Penerbitan regulasi oleh Bupati dalam pembentukan Sekretariat/ Tim Pokja Pengembangan UKM
Efisiensi Menggunakan SDM, sumber keuangan, dan waktu yang minimum
Efektif Tercapainya pembentukan Sekretariat/Tim Pokja Pengembangan UKM sesuai tugas, pokok, dan fungsinya masing-masing bidang
2) Root definition 2, untuk tataran makro berupa regulasi (Tabel 20) yaitu sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam rangka menetapkan mekanisme penyerapan aspirasi masyarakat (P) melalui penerbitan regulasi oleh Bupati (Q) agar tersusunnya program dan kegiatan pengembangan UKM yang lebih aspiratif (R).
Tabel 20 CATWOE dan 3E dalam root definition 2 Customers Tataran makro, meso, dan mikro
Actors Pemerintah pusat dan daerah
Transformasi Penyerapan aspirasi masyarakat: dari kurang optimal menjadi lebih optimal
Worldview Penerbitan regulasi oleh Bupati dalam penyusunan program, kegiatan, dan anggaran sangat penting, untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya program dan kegiatan pengembangan UKM melalui APBN dan APBD yang sesuai usulan dari aspirasi masyarakat (bottom up)
Owners Pemerintah pusat dan daerah
Environment Dukungan DPR/DPRD, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemda Provinsi Jawa Barat, Pemda Kabupaten Indramayu, ketersediaan anggaran, dan sumber daya
Efikasi Penerbitan regulasi oleh Bupati dalam program dan kegiatan pengembangan UKM
Efisiensi Menggunakan SDM dan sumber anggaran yang minimum Efektif Tersusunnya program dan kegiatan pengembangan UKM yang
lebih aspiratif
3) Root definition 3, untuk tataran meso berupa tata kelola (Tabel 21) yaitu sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran meso (Koperasi Kerupuk Mitra Industri dan Asosiasi Pengusaha Kerupuk Indramayu) dalam rangka meningkatkan peran koperasi dan asosiasi (P) melalui pemanfaatan jaringan antara tataran meso, makro dan mikro (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya koperasi dan asosiasi sebagai fasilitator yang mewakili kepentingan UKM di tataran mikro (R).
Tabel 21 CATWOE dan 3E dalam root definition 3 Customers Tataran makro, meso, dan mikro
Actors Koperasi Kerupuk Mitra Industri (KKMI) dan Asosiasi Pengusaha Kerupuk Indramayu (APKI)
Transformasi Peningkatan peran koperasi dan asosiasi: dari rendah menjadi tinggi
Worldview Peningkatan peran koperasi dan asosiasi sangat penting untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya koperasi dan asosiasi sebagai fasilitator yang mewakili kepentingan UKM di tataran mikro
Owners KKMI dan APKI
Environment Dukungan pemerintah pusat dan daerah, serta pelaku usaha/ UKM
Efikasi Pemanfaatan jaringan antara tataran meso dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha/UKM dalam peningkatan peran koperasi dan asosiasi
Efisiensi Menggunakan SDM, sumber keuangan, dan waktu yang minimum
Efektif Tercapainya peningkatan peran koperasi dan asosiasi sebagai fasilitator yang mewakili kepentingan UKM di tataran mikro
4) Root definition 4, untuk tataran mikro berupa permasalahan (Tabel 22) yaitu sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran mikro (pelaku usaha/ UKM) dalam rangka meningkatkan kualitas SDM (P) melalui interaksi dan kerja sama dengan lembaga pelatihan/pendidikan (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya kualitas/mutu produk yang lebih baik (R).
Tabel 22 CATWOE dan 3E dalam root definition 4
Customers Tataran makro, meso, mikro, dan unit usaha penunjang (lembaga keuangan/permodalan, lembaga pendidikan/pelatihan, dan unit usaha besar)
Actors Pelaku usaha/UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu
Transformasi Peningkatan kualitas SDM: dari rendah ke tinggi Interaksi dan kerja sama: dari rendah ke tinggi
Worldview Peningkatan kualitas SDM sangat penting untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya kualitas/mutu produk yang lebih baik
Owners Pelaku usaha/UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu
Environment Dukungan pemerintah pusat dan daerah, koperasi dan asosiasi, lembaga keuangan/permodalan, lembaga pendidikan/pelatihan, unit usaha besar dan ketersediaan sumber daya (manusia, anggaran, dan waktu)
Efikasi Interaksi dan kerja sama antar pelaku usaha/UKM dengan basis keterlekatan dalam peningkatan keterampilan SDM
Efisiensi Menggunakan SDM, sumber keuangan, dan waktu yang minimum
Efektif Tercapainya peningkatan kualitas SDM dalam rangka meningkatkan kualitas/mutu produk yang lebih baik
5) Root definition 5, untuk tataran mikro berupa permasalahan (Tabel 23) yaitu sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran mikro (pelaku usaha/ UKM) dalam rangka memperkuat permodalan (P) melalui interaksi dan kerja sama dengan lembaga pembiayaan/keuangan (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya keberlangsungan/ kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu (R).
Tabel 23 CATWOE dan 3E dalam root definition 5
Customers Tataran makro, meso, mikro, dan unit usaha penunjang (lembaga keuangan/permodalan, dan unit usaha besar)
Actors Pelaku usaha/UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu
Transformasi Pemenuhan modal usaha: dari sulit menjadi mudah Interaksi dan kerja sama: dari rendah menjadi tinggi
Worldview Pemenuhan modal usaha sangat penting untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya keberlangsungan/kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu
Owners Pelaku usaha/UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu
Environment Kemampuan menyediakan dana/anggaran untuk keberlangsungan produksi/pembelian bahan baku/pelatihan, dukungan tataran makro dan meso, serta kerja sama antar pelaku usaha/UKM dan unit usaha penunjang
Efikasi Interaksi dan kerja sama antar pelaku usaha/UKM berbasiskan keterlekatan dalam pemenuhan modal usaha
Efisiensi Menggunakan SDM, sumber keuangan, dan waktu yang minimum
Efektif Tercapainya pemenuhan modal usaha untuk keberlangsungan/ kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu
6) Root definition 6, untuk tataran mikro berupa permasalahan (Tabel 24) yaitu sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran mikro (pelaku usaha/ UKM) dalam rangka memperkuat manajemen bahan baku (P) melalui interaksi dan kerja sama dengan pemasok bahan baku (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya keberlangsungan/ kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu (R).
Tabel 24 CATWOE dan 3E dalam root definition 6
Customers Tataran makro, meso, mikro, dan unit usaha penunjang (lembaga keuangan/permodalan, pemasok bahan baku di TPI/dalam sentra/ luar sentra, dan unit usaha besar)
Actors Pelaku usaha/UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu
Transformasi Pemenuhan bahan baku: dari sulit menjadi mudah Interaksi dan kerja sama: dari rendah menjadi tinggi
Worldview Pemenuhan bahan baku sangat penting untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya keberlangsungan/kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu
Owners Pelaku usaha/UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu
Environment Ketersediaan bahan baku, kemampuan menyediakan dana/ anggaran untuk pembelian bahan baku, dukungan tataran makro dan meso, serta kerja sama antar pelaku usaha/UKM dan unit usaha penunjang
Efikasi Interaksi dan kerja sama antar pelaku usaha/UKM berbasiskan keterlekatan dalam pemenuhan bahan baku
Efisiensi Menggunakan SDM, sumber keuangan, dan waktu yang minimum
Efektif Tercapainya pemenuhan bahan baku untuk keberlangsungan/ kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu
Secara ringkas, root definitions pengembangan UKM sentra industri pengolahan kerupuk ikan dan udang di Indramayu pada Tabel 25.
Tabel 25 Root definitions penelitian
Tataran Root Definitions Keterangan
Makro
Sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran makro dalam rangka membentuk Sekretariat/Tim Pokja Pengembangan UKM (P) melalui penerbitan regulasi oleh Bupati (Q) untuk tercapainya keterpaduan program dan pembinaan pengembangan UKM di bawah koordinator satu pintu (R)
RD 1
Sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran makro dalam rangka menetapkan mekanisme penyerapan aspirasi masyarakat (P) melalui penerbitan regulasi oleh Bupati (Q) agar tersusunnya program dan kegiatan pengembangan UKM yang lebih aspiratif (R)
RD 2
Meso
Sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran meso (Koperasi Kerupuk Mitra Industri dan Asosiasi Pengusaha Kerupuk Indramayu) dalam rangka meningkatkan peran koperasi dan asosiasi (P) melalui pemanfaatan jaringan antara tataran meso, makro dan mikro (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya koperasi dan asosiasi sebagai fasilitator yang mewakili kepentingan UKM di tataran mikro (R)
RD 3
Mikro
Sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran mikro (pelaku usaha/UKM) dalam rangka meningkatkan kualitas SDM (P) melalui interaksi dan kerja sama dengan lembaga pelatihan/pendidikan (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka meningkatkan mutu/kualitas produk yang lebih baik (R)
RD 4
Sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran mikro (pelaku usaha/UKM) dalam rangka memperkuat permodalan (P) melalui interaksi dan kerja sama dengan lembaga pembiayaan/keuangan (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya keberlangsungan/kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra industri pengolahan di Indramayu (R)
RD 5
Sistem yang dimiliki dan dioperasikan oleh tataran mikro (pelaku usaha/UKM) dalam rangka memperkuat manajemen bahan baku (P) melalui interaksi dan kerja sama dengan pemasok bahan baku (Q) untuk membangun kerangka kelembagaan dalam rangka tercapainya keberlangsungan/kontuinitas produksi kerupuk ikan dan udang pada UKM sentra pengolahan di Indramayu (R)