GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
2.4. Ruang dan Lahan
Secara garis besar penggunaan lahan di wilayah Sumedang terdiri dari perkampungan, industri, persawahan, tegalan, kebun campuran, perkebunan, hutan dan lain-lain. Dari penggunaan lahan tersebut diatas, penggunaan lahan persawahan seluas 28.041,85 Ha, yang kedua adalah hutan lindung seluas 24.588,68 Ha. 2.4.1. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kedudukan Kabupaten Sumedang Dalam RTRW Provinsi
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029, wilayah Provinsi Jawa Barat terbagi ke dalam 6 (enam) Wilayah Pengembangan (WP), yaitu WP Bodebekpunjur, WP Purwasuka, WP Ciayumajakuning, WP Priangan Timur dan Pangandaran, WP Sukabumi dan sekitarnya, serta WP Kawasan Khusus (KK) Cekungan Bandung, dengan potensi masing-masing wilayah adalah:
1) WP Bodebekpunjur, yang mencakup wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Bogor dan sebagian Kabupaten Cianjur (Kecamatan Cugenang, Kecamatan Pacet, Kecamatan Sukaresmi dan Kecamatan Cipanas). Wilayah ini memiliki potensi untuk dikembangkan dalam sektor pariwisata, industri manufaktur, perikanan, perdagangan, jasa,pertambangan, agribisnis dan agrowisata;
2) WP Purwasuka, yang meliputi daerah Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang. Wilayah ini memiliki potensi pengembangan pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan,perikanan, bisnis kelautan, industri pengolahan, pariwisata, dan pertambangan;
3) WP Ciayumajakuning, yang mencakup Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu dan Kota Cirebon. Wilayah ini merupakan wilayah yang potensial untuk dikembangkan dalam sektor agribisnis, agroindustri, perikanan, pertambangan, dan pariwisata;
4) WP Priatim – Pangandaran, yang mencakup Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Tasikmalaya, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran. Wilayah ini memiliki potensi pengembangan dalam sektor pertanian, perkebunan, perikanan tangkap, pariwisata, industri pengolahan, dan pertambangan mineral;
5) WP Sukabumi, wilayahnya mencakup Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Wilayah ini memiliki potensi untuk dikembangkan dalam sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan tangkap, pariwisata, industri pengolahan, bisnis kelautan, dan pertambangan mineral. 6) WP Kawasan Khusus Cekungan Bandung, yang meliputi Kabupaten
Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung dan sebagian Kabupaten Sumedang (Kecamatan Jatinangor, Kecamatan Tanjungsari, Kecamatan Cimanggung, Kecamatan Sukasari dan Kecamatan Pamulihan). Wilayah ini memiliki potensi pengembangan pada sektor pertanian hortikultura, industri non-polutif, industri kreatif, perdagangan dan jasa, pariwisata, dan perkebunan.
Dari pembagian wilayah pengembangan tersebut, terlihat bahwa wilayah kabupaten Sumedang bagian selatan dan timur tidak termasuk dalam WP Ciayumakuning, namun ditinjau dari sektor sumber air baku, Wilayah Kabupaten Sumedang Bagian Timur dan selatan tersebut mempunyai peran penting untuk menunjang kebutuhan air baik kebutuhan pertanian maupun kebutuhan air Industri dan Rumah tangga di wilayah WP Ciayumajakuning, khususnya kebutuhan air Metropolitan Cirebon Raya dan Rencana pembangunan Aerocity Kertajati serta Bandara Internasional Jawa Barat di Kabupaten Majalengka yang letaknya berbatasan dengan Kecamatan Ujungjaya (Kabupaten Sumedang). Visualisasi kawasan metropolitan di Jawa Barat dapat diamati pada Gambar 2.2.
II-19
Gambar 2.2. Kawasan Metropolitan di Jawa Barat
(Sumber: West Java Province Metropolitan Development Management (WJP-MDP)-Bappeda Propinsi Jawa Barat, 2012)
Selain tata ruang Kabupaten Sumedang berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029. Terdapat Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang Tahun 2011-2031 yang didalamnya menerangkan tentang program pemanfaatan ruang di Kabupaten Sumedang, khususnya mengenai prasarana sumber daya air seperti pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8. Indikasi Program Pemanfaatan Ruang
(Sumber: Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang Tahun 2011-2031, 2012)
Program Utama Lokasi Besaran Sumber
Dana Instansi Pelaksana Prasarana Sumber Daya Air Prasarana Air Baku/Air Bersih *Peningkatan prasarana dan perluasan air baku/bersih Perkotaan Permukiman perkotaan di Kab. Sumedang Sesuai kapasitas PDAM APBD Kab/Prov, APBN PDAM/ Pemkab *Peningkatan prasarana dan perluasan air baku/bersih Pedesaan Permukiman pedesaan di Kab. Sumedang Sesuai program Dinas PU APBD Kab/Prov, APBN, Swasta/Publik Pemkab/ DPU/ Masyarakat
2.4.2. Penggunaan Lahan dan Tata Guna Lahan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang Tahun 2011 – 2031 Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Sumedang terdiri atas:
o Rencana pengembangan sistem perkotaan; dan
o Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah.
Visualisasi rencana struktur ruang di Kabupaten Sumedang dapat diamati pada Lampiran I.6.
1) Rencana Sistem Perkotaan
Rencana sistem perkotaan terdiri atas; o Pusat kegiatan; dan
o Peran pusat kegiatan.
A-1 Pusat kegiatan sebagaimana ditentukan secara hirarkis meliputi:
o Kecamatan Jatinangor, Kecamatan Tanjungsari, Kecamatan Cimanggung, Kecamatan Sukasari dan Kecamatan Pamulihan sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Kawasan Perkotaan Bandung Raya;
II-21
o Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di Kawasan Perkotaan Sumedang, yang meliputi Kelurahan Kotakaler, Kelurahan Talun, Kelurahan Situ, Desa Padasuka, Desa Mulyasari, Desa Girimukti, Desa Mekarjaya, Desa Margamukti, Desa Kebonjati, Desa Jatihurip, Desa Jatimulya, Desa Rancamula Kecamatan Sumedang Utara. Kelurahan Regolwetan, Kelurahan kotakulon, Kelurahan Pasanggrahan, Kelurahan Cipameungpeuk, Desa Baginda, Desa Sukagalih, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan;
o Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) meliputi: Tanjungsari di Kecamatan Tanjungsari; Tanjungkerta di Kecamatan Tanjungkerta; Conggeang di Kecamatan Conggeang; Wado di Kecamatan Wado; dan Tomo di Kecamatan Tomo;
o Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) meliputi: Desa Hegarmanah di Kecamatan Jatinangor; Desa Sindangpakuan di Kecamatan Cimanggung; Desa Sukarapih di Kecamatan Sukasari;
Desa Pamulihan di Kecamatan Pamulihan; Desa Nagarawangi di Kecamatan Rancakalong; Desa Ganeas di Kecamatan Ganeas;
Desa Linggajaya di Kecamatan Cisitu; Desa Situraja di Kecamatan Situraja; Desa Darmajaya di Kecamatan Darmaraja; Desa Tarikolot di Kecamatan Jatinunggal; Desa Cijeungjing di Kecamatan Jatigede; Desa Ujungjaya di Kecamatan Ujungjaya; Desa Buahdua di Kecamatan Buahdua; Desa Legok Kidul di Kecamatan Paseh ; Desa Surian di Kecamatan Surian;
Desa Jingkang di Kecamatan Tanjungmedar; Desa Cimalaka di Kecamatan Cimalaka; Desa Cisarua di Kecamatan Cisarua; dan Desa Cibugel di Kecamatan Cibugel. A-2 Peran pusat kegiatan sebagaimana meliputi:
o PKL Perkotaan Sumedang sebagai pusat pemerintahan kabupaten, pusat bisnis regional, pusat jasa, pusat pendidikan menengah, jasa pariwisata danpertanian;
o PPK Tanjungsari sebagai pusat pemerintahan kecamatan, pusat perdagangan lokal, pusat industri, pertanian, jasa pariwisata dan pusat pendidikan tinggi;
o PPK Tanjungkerta sebagai pusat pemerintahan kecamatan, pertanian, peternakan, pariwisata, perkebunan, dan pusat perdagangan lokal;
o PPK Conggeang sebagai pusat pemerintahan kecamatan, pertanian, peternakan, pariwisata, perkebunan, dan pusat perdagangan lokal;
o PPK Wado sebagai pusat pemerintahan kecamatan, pertanian, peternakan, dan pusat perdagangan lokal;
o PPK Tomo sebagai pusat pemerintahan kecamatan, industri, pertanian, pusat perdagangan regional, dan pariwisata; dan
o PPL Hegarmanah, Sindangpakuan, Sukarapih, Pamulihan, Nagarawangi, Ganeas, Linggajaya, Situraja, Darmajaya, Tarikolot, Cijeungjing, Ujungjaya, Buahdua, Legok Kidul, Surian, Jingkang, Cimalaka, Cisarua, dan Cibugel sebagai pusat pemerintahan desa, pusat permukiman, pusat pengolahanpertanian, pusat koleksi dan distribusi, jasa dan pelayanan sosial ekonomi skala lingkungan.
2.4.3. Kawasan Lindung
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, terdapat 10 jenis kawasan lindung meliputi :
o Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Hutan lindung, terletak di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH);
II-23
Kawasan berfungsi lindung di luar kawasan hutan;
Kawasan resapan air terdiri dari Gunung Cakrabuana 560 ha, Gunung Tampomas 1.280,39 ha, Gunung Kareumbi 8.624,80 ha, Gunung Manglayang 1.800 ha.
o Kawasan perlindungan setempat. Sempadan pantai;
Sempadan sungai, meliputi 215 sungai yang terbagi dalam DAS Cimanuk (Sub-DAS Cimanuk 38 sungai, Sub-DAS Cipeles 85 sungai, Sub-DAS Cipelang 9 sungai, Sub-DAS Cilutung 5 sungai) dan DAS Citarum (Sub-DAS Citarik 18 sungai dan (Sub-DAS Cipunagara Sub-(Sub-DAS Cikandung 50 sungai);
Kawasan sekitar danau / waduk, Waduk Jatigede; Kawasan sekitar mata air, terdapat 331 sumber mata air; Tanah timbul / Delta, di Tomo, Ujungjaya dan lainnya. o Kawasan suaka alam dan cagar budaya.
Cagar Alam, Cagar Alam Gunung Jagat seluas 126,6 ha (SK Mentan tahun 1954);
Suaka margasatwa;
Suaka alam laut dan perairan; Kawasan hutan payau.
o Kawasan pelestarian alam. Taman nasional;
Taman hutan raya, Taman Hutan Raya Gunung Palasari dan Gunung Kunci 35,81 ha;
Taman wisata alam, Taman Wisata Alam Gunung Tampomas 1.280,39 ha (SK Mentan Tahun 1979) Ha dan Gunung Lingga 1,20 ha.
o Taman buru, Taman Buru Masigit Kareumbi (di Kabupaten Sumedang, Garut dan Sumedang) seluas 8.624,80 ha.
o Kawasan perlindungan plasma nutfah, antara lain Ubi Cilembu, Talas Semir, Jeruk Cikoneng.
o Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan Cadas Pangeran, Desa Adat Rancakalong,
o Museum Geusan Ulun, Makam Cut Nyak Dien, dan Makam Dayeuh Luhur. o Kawasan konservasi geologi, terdiri dari kawasan cagar alam geologi dan
kawasan kars.
o Kawasan rawan bencana alam
Kawasan rawan bencana alam gunung berapi.
Kawasan rawan gempa bumi, terdiri dari kawasan rawan gempa bumi dan kawasan rawan gerakan tanah seperti di Kawasan Cadas Pangeran, Paseh, Tomo, Ujungjaya, Wado, Jatinunggal, Jatigede, Situraja, Ganeas, Sumedang Selatan, Rancakalong, Pamulihan.
Kawasan rawan banjir, seperti Ujungjaya, Tomo, Cimangung, Jatinangor. o Hutan Kota, antara lain taman hutan raya, taman hutan raya Gunung Palasari
dan Gunung Kunci 35,81 ha.
2.4.4. Rencana Pemanfaatan Ruang Sumedang
Rencana Pemanfaatan Ruang di Sumedang terdiri atas 2 pemanfaatan yaitu rencana pemanfaatan ruang kawasan lindung dan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya. Untuk lebih jelasnya rencana pemanfaatan ruang di Sumedang dapat dilihat pada Tabel 2.9.
Tabel 2.9. Rencana Pemanfaatan Wilayah Sumedang (Sumber: RTRW Sumedang 2009-2029, 2015)
No Jenis Pemanfaatan Luas (Ha) Luas (%) Lokasi A Hutan Suaka Alam dan Perlindungan Alam
Cagar Alam Gunung
Jagat 126,70 0,08 Jatinungal Jatigede
TWA Gunung Tampomas 1.250 0,80 Cimalaka, Conggeang, dan Buahdua
Tahura (Taman Hutan
Rakyat) Gunung Palasari 35,81 0,02 Sumedang Selatan Taman Buru Gunung
Masigit Kareumbi 12.300,42 7,89
Cimanggung, Pamulihan, Sumedang Selata, Situraja, Darmaraja, Cibugel
II-25
No Jenis Pemanfaatan Luas (Ha) Luas (%) Lokasi
Hutan Lindung 24.588,68 15,77 % terdapat di semua kecamatan
Areal Genangan 3.330,21 2,14 Kecamatan Cisitu, Darmaraja, Wado, Jatinunggal, Jatigede,dan Surian Jumlah 41.631,82 26,71
B Kawasan Budidaya dengan fungsi Perlingdungan
Kawasan Hutan Produksi
Terbatas 15.825,49 10,15
Paseh, Cisitu’ Tanjungkerta, Tanjungmedar, Darmaraja, Cibugel, Surian, Jatigede, Tomo, Ujungjaya, Conggeang, Buahdua
Kawasan Hutan Produksi
Tetap 11.203,96 7,19
Sumedang Selatan, Ganeas, Cimalaka, Tanjungkerta, Tanjungmedar, Cisitu, Darmaraja, Cibugel, Wado Jatigede, Tomo, Conggeang, Buahdua dan Surian.
Kawasan Perkebunan 20.635,16 13,24 Perkebunan Besar : Pamulihan, Sumedang Selatan, Tanjungkerta, Buahdua.Perkebunan Rkyat di seluruh Kecamatan Kawasan Pertanian Lahan
Kering 17.892,80 11,48 Seluruh Kecamatan Kawasan Budidaya
Kawasan Pertanian Lahan
Basah 28.041,85 17,99 Seluruh Kecamatan Kawasan permukiman 18.866,92 12,10 Seluruh Kecamatan
Kawasan Industri 1.773,98 1,14 Jatinangor, Cimanggung dan Ujungjaya
2.4.5. Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
Rencana Induk dan Rencana Teknis Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum merupakan jawaban bagi dasar pengembangan air minum suatu wilayah. Diharapkan, dengan adanya Rencana Induk Air Minum, dapat menjadi dasar tersusunnya suatu program pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum wilayah yang berkelanjutan (sustainable) dan terarah. Selain itu dengan adanya rencana teknis pengembangan SPAM yang memenuhi syarat peraturan berlaku (Permen PU No. 18/2007), maka pengembangan SPAM di suatu lokasi/ kawasan akan mendukung keberfungsian dan keberlanjutan yang sistematis.
Berdasarkan uraian di atas maka sudah selayaknya Kabupaten Sumedang memiliki Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum sebagai panduan dasar bagi penyediaan air baku air minum, rencana pengembangan mata air potensial, regulasi, kelembagaan dan rencana investasi perkawasan pengembangan.
Maksud dari Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kabupaten Sumedang adalah merencanakan pengembangan SPAM secara umum, baik sistem dengan jaringan perpipaan maupun bukan jaringan perpipaan serta menjadi pedoman bagi penyelenggara dan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam mengembangkan SPAM di daerah masing-masing.
Tujuan dari RISPAM Kab. Sumedang ini yaitu menghasilkan dokumen rencana induk pengembangan SPAM, yang dapat menjadi pedoman pengembangan SPAM di Kabupaten Sumedang hingga tahun 2030.
Di Kabupaten Sumedang terdapat beberapa wilayah yang dalam penyediaan air bersihnya direncanakan menggunakan sistem regional dimana sistem pelayanan yang ada di wilayah tersebut merupakan satu kesatuan dengan sistem pelayanan di daerah lain di luar Kabupaten Sumedang. Adapun yang termasuk ke dalam sistem pelayanan air bersih regional antara lain adalah:
Kecamatan Jatinangor (Sistem Regional Metropolitan Bandung) Kecamatan Cimanggung (Sistem Regional Metropolitan Bandung) Kecamatan Tomo (Sistem Regional Jatigede)
Kecamatan Ujungjaya (Sistem Regional Jatigede) Kecamatan Jatigede (Sistem Regional Jatigede)
II-27
Sistem Regional Metropolitan Bandung merupakan sistem penyediaan air bersih yang sumber airnya berasal dari Waduk Saguling, dan wilayah pelayanannya meliputi beberapa kabupaten/kota seperti Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kota Cimahi, dan Kota Bandung. Sedangkan Sistem Regional Jatigede merupakan sistem penyediaan air bersih yang sumber airnya berasal dari Waduk Jatigede, dan wilayah pelayanannya meliputi Kabupaten Sumedang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon. Pada Gambar 2.3. merupakan skema sistem pelayanan regional Jatinangor-Cimanggung. Dan pada Gambar 2.4. merupakan skema sistem pelayanan regional Jatigede.
RESEVOIR TANGJUNGANSARI SUNGAI GOA WALET SUKASARI E : 55 lpd PERKOTAAN JATINANGOR Q kebutuhan : 220,88 lpd PERKOTAAN CIMANGGUNG Q kebutuhan : 210 lpd