BAB I DESKRIPSI
1.2. Ruang Lingkup
BAB I
Deskripsi
1.1 Maksud dan Tujuan 1.1.1 Maksud
Tata cara pembuatan kolam retensi dan polder ini dimaksudkan sebagai pegangan untuk bahan acuan kepada para penyelenggara PLP dalam perencanaan dan pembangunan kolam retensi dan polder sebagai bagian dari penyelenggaraan sistem drainase di daerah.
1.1.2 Tujuan
Tujuan tata cara pembuatan kolam retensi dan polder ini adalah tersedianya Tata Cara Pembuatan Kolam Retensi dan Polder yang dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan penyelenggaraan prasarana sarana drainase perkotaan di daerah.
1.2 Ruang Lingkup
Tata cara umum pembuatan ini mencakup : 1) Ketentuan – ketentuan
2) Survei dan Penyelidikan
3) Perencanaan Teknik Perhitungan Kolam Retensi dan Polder.
4) Pelaksanaan Kontruksi 5) Operasi dan Pemeliharaan 1.3 Pengertian
Pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah diatur dalam SK menteri PU 239 tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang dimaksud drainase kota adalah:
“Jaringan pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam kota”.
Untuk memahami drainase secara menyeluruh, berikut ini diperlihatkan beberapa pengertian pokok tentang drainase :
1) Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke bangunan resapan buatan.
2) Drainase perkotaan adalah sistem drainase dalam wilayah administrasi kota dan daerah perkotaan (urban) yang berfungsi untuk mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah permukiman yang berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan hidup manusia.
3) Drainase berwawasan lingkungan adalah pengelolaan drainase yang tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai : a. Pola detensi (menampung air sementara), misalnya dengan membuat kolam
penampung.
b. Pola retensi (meresapkan ), antara lain dengan membuat sumur resapan, bidang resapan atau kolam resapan
4) Pengendali banjir adalah bangunan untuk mengendalikan tinggi muka air agar tidak terjadi limpasan atau genangan yang menimbulkan kerugian.
5) Badan penerima air adalah sungai, danau, atau laut yang menerima aliran dari sistem drainase perkotaan.
6) Bangunan pelengkap adalah bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan daerah curam, bangunan tersebut seperti gorong-gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, street inlet, pompa, pintu air.
2 7) Daerah genangan adalah kawasan yang tergenang air akibat tidak ada ataupun tidak
berfungsinya sistem drainase.
8) Daerah pengaliran adalah daerah tangkapan air yang mengalirkan air ke dalam saluran.
9) Kala ulang adalah selang waktu pengulangan kejadian hujan atau debit banjir rencana yang mungkin terjadi.
10) Tinggi jagaan adalah ketinggian yang diukur dari permukaan air maksimum sampai permukaan tanggul saluran.
11) Waktu pengaliran permukaan adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dan mengalir ke titik saluran drainase yang diamati.
12) Waktu drainase adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang mengalir dari satu titik ke titik lain dalam saluran drainase yang diamati.
13) Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang jatuh pada permukaan tanah mengalir sampai di suatu titik di saluran drainase yang terpanjang.
14) Zona adalah sub sistem pelayanan satu aliran saluran drainase.
15) Kolam Retensi adalah kolam/waduk penampungan air hujan dalam jangka waktu tertentu. Fungsinya untuk memotong puncak banjir yang terjadi dalam badan air/sungai.
16) Sistem Polder adalah sistem penanganan drainase perkotaan dengan cara mengisolasi daerah yang dilayani dari pengaruh limpasan air hujan / air laut serta limpasan dari prasarana lain (jalan, jalan kereta api), yang terdiri dari kolam penampung, sistem drainase serta perpompaan.
17) SOP adalah Standar Operasi Prosedur 1.4 Fungsi Drainase Perkotaan 1.4.1 Secara Umum :
• Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.
• Mengalirkan air permukaan ke badan air penerima terdekat secepatnya.
• Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.
• Meresapkan air pemukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air).
• Melindungi prasarana dan sarana yang sudah terbangun.
1.4.2 Berdasarkan fungsi layanan : a) Sistem drainase lokal :
Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek permukiman, areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial. Sistem ini melayani areal kurang dari 10 ha. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau instansi lainnya.
b) Sistem drainase utama :
Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan pelengkapnya yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kota.
c) Pengendalian banjir (Flood Control) :
Adalah ruas sungai yang melintasi wilayah kota yang berfungsi mengendalikan aliran air sungai, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia. Pengelolaan/pengendalian banjir merupakan tugas dan tanggung jawab dinas pengairan (Sumber Daya Air).
3 1.4.3 Berdasarkan fisiknya :
a) Sistem saluran primer :
Adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran sekunder.
Dimensi saluran ini relatif besar. Akhir saluran primer adalah badan penerima air.
b) Sistem saluran sekunder :
Adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer. Dimensi saluran tergantung pada debit yang dialirkan.
c) Sistem saluran tersier :
Adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal.
4 BAB II
KETENTUAN - KETENTUAN
2.1 Umum
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :
- Pembuatan Kolam Retensi dan Sistem Polder disusun dengan memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota.
- Kelayakan pelaksanaan Kolam Retensi dan Sistem Polder harus berdasarkan tiga faktor antara lain : biaya konstruksi, biaya operasi dan biaya pemeliharaan.
- Ketersediaan dan tata guna lahan
- Kolam Retensi dan Kolam Polder dilaksanakan berdasarkan prioritas zona yang telah ditentukan dalam Rencana Induk Sistem Drainase.
2.2 Teknis
2.2.1 Data dan Informasi
Data dan informasi yang diperlukan adalah sebagai berikut :
a. Data klimatologi yang terdiri dari data hujan, angin, temperatur dari BMG (Badan Meterologi dan Geofisika) terdekat.
b. Data hidrologi terdiri dari data tinggi muka air sungai, debit, laju sedimen, peil banjir, pengaruh back water, karakteristik daerah aliran, data pasang surut sungai / laut.
c. Data sistem drainase yang ada yaitu daerah genangan / banjir serta, permasalahannya yang dihasilkan dari hasil studi rencana induk sistem.
d. Data peta yang terdiri dari peta dasar, peta sistem drainase, sistem jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta topografi dengan skala antara 1 : 5000 sampai dengan 1 : 50.000 disesuaikan dengan tipologi kota.
e. Data kependudukan yang terdiri dari jumlah, kepadatan, laju pertumbuhan dan penyebarannya serta data kepadatan bangunan.
2.2.2 Kala ulang
Kala ulang untuk desain kolam retensi & polder harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Kala ulang yang dipakai berdasarkan luas daerah pengaliran (catchment area), tipologi kota yang akan direncanakan kolam retensi / polder.
Tabel 1 Kala ulang berdasarkan tipologi kota & luas daerah pengaliran Tipologi Kota
Cathcment Area ( Ha )
< 10 10 - 100 100 - 500 > 500 Kota Metropolitan 2 thn 2 - 5 thn 5 - 10 thn 10 - 25 thn Kota Besar 2 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 5 - 20 thn Kota Sedang / Kecil 2 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 5 - 10 thn
b. Perhitungan curah hujan berdasarkan data hujan paling sedikit 10 tahun yang berurutan.
c. Bangunan pelengkap dipakai kala ulang yang sama dengan saluran dimana bangunan pelengkap itu berada.
5 2.2.3 Kriteria Perencanaan Hidrologi
Kriteria perencanaan hidrologi adalah sebagai berikut : 1) Hujan
a. Perkiraan hujan rencana dilakukan dengan analisis frekuensi terhadap data curah hujan harian maksimum tahunan, dengan lama pengamatan paling sedikit 10 tahun yang berurutan.
b. Analisis frekuensi terhadap curah hujan, menggunakan metode Log Pearson tipe III, atau metode Gumbel sesuai dengan kala ulang 1, 2, 5, 10 dan 25 tahun (mengacu pada tata cara perhitungan debit desain saluran).
c. Untuk pengecekan data hujan, lazimnya digunakan metode lengkung masa ganda atau yang sesuai.
d. Perhitungan intensitas hujan ditinjau dengan menggunakan metode Mononobe.
2) Debit banjir
a. Debit banjir rencana dihitung dengan metode Rasional yang telah dimodifikasi (lihat pada lampiran A.6)
b. Koefisien limpasan (run off) ditentukan berdasarkan tata guna lahan daerah tangkapan.
c. Waktu konsentrasi adalah jumlah waktu pengaliran di permukaan dan waktu drainase.
d. Koefisien penyimpangan dihitung dari perbandingan waktu konsentrasi dan waktu drainase.
2.2.4 Kriteria Hidrolika
Kriteria perencanaan hidrolika ditentukan sebagai berikut :
a. Kapasitas saluran dihitung dengan rumus Manning atau yang sesuai.
b. Saluran drainase yang terpengaruh oleh pengempangan (back water effect) perlu diperhitungkan pasang surutnya dengan metode Standard Step Method.
c. Kecepatan maksimum (V) ditentukan oleh kekasaran dinding dan dasar saluran.
Untuk saluran tanah V = 0,7 m/dt, pasangan batu kali V = 2 m/dt dan pasangan beton V = 3 m/dt.
d. Kecepatan minimum untuk saluran drainase ditentukan V = 0,4 m/det, kecuali untuk saluran storage memanjang kecepatan minimumnya bisa mencapai 0,1 m/det dengan konsekuensi terjadi endapan di saluran tersebut.
2.2.5 Kriteria Konstruksi
Kriteria perencanaan konstruksi ditentukan sebagai berikut :
a. Pembebanan yang digunakan sesuai standar teknik praktis yang berlaku,
b. Kombinasi muatan atas konstruksi ditentukan secara individual sesuai fungsi, cara, dan tempat penggunaannya.
c. Stabilitas konstruksi bangunan penahan tanah dikontrol keamanannya terhadap daya dukung tanah (terhadap penurunan tanah / amblas), gaya geser dan gaya guling. Faktor-faktor keamanan minimumnya sebagai berikut :
Fdaya dukung tanah ≥ 1,5
Fgeser (kondisi biasa) ≥ 1,5 Fgeser (kondisi gempa) ≥ 1,2
Fguling ≥ 1,5
d. Bahan konstruksi yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan bahan bangunan yang telah ditetapkan.
2.2.6 Parameter Penentuan Prioritas Penanganan
6 Parameter penentuan prioritas penanganan meliputi hal sebagi berikut :
a. Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan, dan lamanya genangan terjadi.
b. Parameter frekuensi terjadinya genangan setiap tahunnya.
c. Parameter ekonomi, dihitung perkiraan kerugian atas fasilitas ekonomi yang ada, seperti : kawasan industri, fasum, fasos, perkantoran, perumahan, daerah pertanian dan pertamanan.
d. Parameter gangguan sosial, seperti : kesehatan masyarakat, keresahan sosial dan kerusakan lingkungan.
7 BAB III
SURVEI DAN PENYELIDIKAN TANAH
3.1 Survey
1) Gunakan peta Topografi skala 1 : 5000 s/d 1 : 50.000 untuk mengidentifikasikan Daerah Aliran Polder / Kolam Retensi.
2) Hitung luas masing-masing DAS / daerah tangkapan air.
3) Petakan rencana sistem retensi/polder dengan pengukuran geodetik. Dibuat garis kontur ketinggian lahan dengan interval setiap ketinggian 0.25 s/d 0.50 m.
3.2 Penyelidikan Tanah
1) Rencanakan dimana instalasi pompa akan ditempatkan beserta konstruksi outlet dan konstruksi bangunan yang terkait dengan instalasi pompa yaitu pada lokasi yang paling dekat dengan badan air.
2) Lakukan investigasi Geologi terutama mekanika tanah untuk perencanaan pondasi bangunan air.
3) Paramater mekanika tanah yang digunakan mengikuti standar teknik yang telah ditetapkan.
8 BAB IV
PERENCANAAN TEKNIK
PERHITUNGAN KOLAM RETENSI & POLDER
Gambar 1 Bagan alir perencanaan sistem kolam retensi dan polder 4.1 Tahap Perencanaan Daerah Kolam Retensi dan Polder
1) Pastikan daerah genangan dan parameter genangan yang meliputi luas genangan, tinggi genangan, lamanya genangan dan frekuensi genangan;
2) Pastikan bahwa elevasi muka air di muara saluran lebih tinggi dari elevasi muka tanah di daerah genangan;
3) Tentukan lokasi Kolam Retensi yang akan dijadikan tempat penampungan kelebihan air permukaan dan perkirakan batas luas Kolam Retensi tersebut;
4) Tentukan daerah pengaliran saluran primer (DPSAL) yang mengalir ke Kolam Retensi melalui peta topografi.
5) Tentukan sistem dan arah aliran inlet, outlet dan stasiun pompa
6) Muka air di kolam retensi / kolam polder direncanakan dari dasar muka tanah terendah di daerah perencanaan dan ditarik dengan lamanya tertentu sesuai dengan kemiringan lahan.
7) Alternatif tipe kolam retensi, antara lain :
a) Kolam retensi tipe di samping badan sungai
9 Gambar 2 Kolam retensi tipe di samping badan sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam retensi - Pintu inlet
- Bangunan pelimpah samping - Pintu outlet
- Jalan akses menuju kolam retensi - Ambang rendah di depan pintu outlet - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi - Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia - Tidak mengganggu sistem aliran yang ada - Pemeliharaan lebih mudah
- Pelaksanaan lebih mudah
b) Kolam retensi tipe di dalam badan sungai
10 Gambar 3 kolam retensi tipe di dalam badan sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam retensi - Tanggul keliling - Pintu outlet - Bendung
- Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila lahan sulit didapat - Kapasitas kolam retensi terbatas - Mengganggu aliran yang ada dihulu - Pelaksanaan lebih sulit
- Pemeliharaan lebih mahal c) Kolam retensi tipe storage memanjang
11 Gambar 4 Kolam retensi tipe storage memanjang
• Kelengkapan Sistem:
- Saluran yang lebar dan dalam - Cek Dam/ bendung setempat
• Kesesuaian tipe:
- Mengoptimalkan saluran drainase yang ada karena lahan tidak tersedia
- Kapasitasnya terbatas - Mengganggu aliran yang ada - Pelaksanaan lebih sulit 8) Alternatif tipe polder, antara lain :
a) Sistem polder dengan pompa dan kolam di samping badan saluran/sungai
12 Gambar 5 Sistem polder dengan pompa dan kolam di samping
badan saluran/sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam Retensi - Stasion Pompa - Pintu Inlet - Saluran Inlet - Pintu Pembagi - Pintu Outlet - Saluran Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi - Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia - Tidak mengganggu sistem aliran yang ada - Pemeliharaan lebih mudah
- Pelaksanaan lebih mudah
b) Sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan saluran/sungai
13 Gambar 6 Sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan
saluran/sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam retensi - Stasion Pompa - Saluran Inlet - Pintu Outlet - Saluran Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila lahan sulit didapat - Kapasitas kolam retensi terbatas - Mengganggu aliran yang ada dihulu - Pelaksanaan lebih sulit
- Pemeliharaan lebih mahal
c) Sistem polder dengan pompa dan kolam tipe storage memanjang
14 Gambar 7 Sistem polder dengan pompa dan kolam tipe storage
memanjang
• Kelengkapan Sistem:
- Storage Memanjang - Stasion Pompa - Pintu Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Mengoptimalkan saluran drainase yang ada karena lahan tidak tersedia
- Kapasitasnya terbatas - Mengganggu aliran yang ada - Pelaksanaan lebih sulit 4.2 Tahap Perencanaan Hidrologi
1) Kumpulkan data curah hujan harian maksimum tahunan untuk periode minimum terakhir selama 10 tahun yang berurutan, dari beberapa stasiun curah hujan di daerah pengaliran saluran (DPSAL);
2) Hitung tinggi curah hujan harian rata-rata dari butir 1) diatas dengan metode Aritmatik atau Thiesen atau Isohyt, apabila tidak ada peta stasiun curah hujan dianjurkan menggunakan metode Aritmatik;
3) Hitung hujan rencana beberapa kala ulang dengan menggunakan persamaan Log Pearson Tipe III atau persamaan Gumbel, dengan menggunakan data curah hujan harian rata-rata dari butir 2);
4) Tentukan koefisien pengaliran (C) berdasarkan literatur dan penelitian di lapangan sesuai dengan tata guna lahan (lihat lampiran A.6.2)
5) Tentukan koefisien pengaliran ekivalen (Ceq), apabila daerah pengaliran saluran (DPSAL) terdiri dari beberapa sub-DPSAL;
15 6) Hitung waktu konsentrasi (tc) dengan menggunakan rumus Kirpich;
7) Kolam Retensi dipakai apabila diinginkan memotong puncak banjir yang terjadi, juga untuk mengurangi dimensi saluran;
8) Sistem Polder dipilih apabila daerah yang akan dikeringkan, relatif lebih rendah dari muka air tinggi sungai / badan air penerima atau muka air laut pasang 9) Hitung intensitas curah hujan dengan menggunakan rumus Mononobe dari nilai
hujan rencana dari butir 3), dan waktu konsentrasi dari butir 6);
10) Hitung debit banjir rencana dengan metode rasional praktis dengan koefisien pengaliran dari butir 4) atau dari butir 5), dan intensitas curah hujan dari butir 7);
11) Hitung debit banjir rencana dengan menggunakan unit hidrograph untuk daerah perkotaan;
12) Hitung debit banjir rencana dengan metode Rasional Modifikasi.
4.3 Tahap Perencanaan Hidrolika
1) Hitung profil basah saluran eksisting sesuai bentuknya (lingkaran, trapesium, atau segiempat);
2) Hitung keliling basah saluran eksisting sesuai bentuknya (lingkaran, trapesium, atau segiempat);
3) Hitung jari-jari hidraulis saluran dari perbandingan butir 1 dan butir 2;
4) Hitung kemiringan dasar saluran rata-rata dari penelitian hasil lapangan;
5) Hitung kecepatan aliran rata-rata maksimum menggunakan rumus Manning.
Apabila kekasaran dinding bervariasi maka harus dihitung kekasaran dinding ekivalen;
6) Hitung kapasitas maksimum saluran eksisting;
7) Bandingkan kapasitas maksimum saluran eksisting dari butir 6) dengan debit banjir rencana dari butir 10), 11) dan 12) di sub-bab 4.2.
8) Dari ketiga perhitungan debit banjir rencana tersebut pilih yang terbesar.
Apabila kapasitas eksisting lebih besar dari debit banjir rencana yang terbesar, maka saluran eksisting tidak perlu direhabilitasi.
4.4 Tahap Perencanaan Kapasitas Kolam Retensi dan Pompa
1) Buat unit hidrograph daerah perkotaan, kemudian jumlahkan masing-masing ordinatnya. Sehingga diperoleh debit rencana maksimum dengan gambar hidrographnya;
2) Hitung volume komulatif air yang masuk ke dalam kolam retensi dari hidrograph;
3) Gambarkan hasil perhitungan volume komulatif dari butir 2) di atas dalam koordinat orthogonal dengan ordinat besarnya volume komulatif dan absis besarnya waktu;
4) Hitung volume komulatif pompa untuk berbagai kapasitas pompa dan terapkan pada komulatif air yang masuk kolam retensi dari butir 3) di atas;
5) Ukur ordinat yang terletak antara garis volume komulatif pompa dengan garis singgung volume komulatif air yang masuk ke dalam kolam retensi seperti pada butir 4) di atas, menunjukkan volume air yang tertinggal di dalam kolam retensi;
6) Hitung luas kolam retensi yang diperlukan dengan membagi volume komulatif yang tertinggal di dalam kolam retensi seperti butir 5) di atas dengan rencana dalamnya air efektif di kolam retensi;
7) Lakukan langkah butir 4), butir 5) dan butir 6) di atas berulang-ulang, sehingga diperoleh biaya yang efisien dan efektif dalam menentukan luas kolam retensi dan kapasitas pompa yang dibutuhkan. Contoh perhitungan kapasitas kolam retensi dan pompa dapat dilihat di lampiran A.
8) Hitung kebutuhan head pompa dari elevasi muka air minimum di kolam retensi ke muka air maksimum banjir di sungai atau muka air pasang tertinggi di laut.
16 9) Pilih tipe pompa sesuai dengan kebutuhan yang ada. Tipe-tipe pompa yang
dimaksud adalah sebagai berikut : a) Pompa Archemedian Screw.
Pompa archemedian screw digunakan untuk kondisi elevasi muka air yang dipompa relatif aman, tidak sesuai untuk elevasi muka air yang
perubahannya relatif besar.
ELEV. PEMASUKAN MOTOR
ELEVASI. MAKS PENGELUARAN
H
Gambar 8 Pompa archemedian screw
Pompa ini tidak terganggu dengan adanya tumbuhan air dan sampah, oleh sebab itu pompa ini mampu beroperasi tanpa dijaga dalam jangka waktu yang lama.
b) Pompa Rotodynamic.
Pompa rotodynamic dipilih sesuai dengan keperluan perencanaan. Pompa ini terdiri atas :
(1) Pompa Centrifugal (aliran radial)
Dipergunakan untuk memompa air dengan ketingian yang besar dan aliran sedang.
Gambar 9 Pompa centrifugal (2) Pompa Axial (baling-baling)
Dipergunakan untuk memompa air dengan ketinggian yang rendah sampai aliran yang besar.
17 Gambar 10 Pompa axial
c) Pompa Aliran campuran
Digunakan dengan karakteristik tengah-tengah antara Pompa Centrifugal dengan Pompa Axial.
Gambar 11 Pompa aliran campuran
18 BAB V
PEPELALAKKSSAANNAAAANN KKOONNSSTTRRUUKKSSII 5.1 PEKERJAAN PERSIAPAN
1) Buat rencana kerja dan jadwal pelaksanaan.
2) Persiapkan bahan material dan tenaga kerja.
3) Sediakan atau buat direksi keet, gudang dan bengkel kontraktor.
4) Gunakan titik benchmark (usahakan yang tidak mudah bergeser) yang ada di lapangan sebagai titik referensi untuk ketinggian dan koordinat.
5) Lakukan pengukuran konstruksi untuk mendapatkan tata letak bangunan sistem polder.
6) Lakukan penyelidikan tanah yang diperlukan (boring, sondir, dll) di tempat yang akan memikul konstruksi dan bangunan pelengkap.
7) Buat akses sementara berupa jalan kerja untuk memudahkan mobilisasi pengangkutan bahan, alat dan pekerja ke lokasi pekerjaan.
8) Buatkan pagar pengaman dari kayu atau bahan lainnya.
5.2 PEKERJAAN KOLAM RETENSI
1) Bersihkan permukaan lokasi kolam retensi dari pohon, kayu-kayu, pecahan benda, semak-semak, sampah dan semua bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki.
2) Kerjakan penggalian tanah sampai kedalaman dasar kolam retensi yang telah direncanakan dengan menggunakan alat-alat berat.
3) Periksa elevasi dasar kolam retensi apakah telah sesuai dengan elevasi yang direncanakan dengan menggunakan alat ukur waterpass.
4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan.
5) Buatkan tanggul kolam retensi dari timbunan tanah atau bahan lainnya (perhatikan pemadatan dan keamanan terhadap longsor).
6) Periksa elevasi puncak tanggul dengan menggunakan alat ukur waterpass apakah telah sesuai dengan elevasi yang direncanakan.
7) Buatkan talud kolam di sekeliling kolam retensi dari bahan yang telah direncanakan.
8) Rapikan semua pekerjaan sampai selesai.
5.3 PEKERJAAN TANGGUL KELILING
1) Tanggul keliling biasanya memakai kontruksi dari tanah atau pasangan
2) Jika kontruksi tanggul memakai bahan dari tanah maka cara pekerjaan pelaksanaan kontruksi sebagai berikut :
• Bersihkan permukaan lokasi tanggul dari rumput-rumput dan pohon-pohon serta akar-akarnya.
• Kupas atau gali permukaan pondasi hingga mencapai lapisan tanah asli yang baik.
• Hamparkan tanah timbunan lapisan per lapisan ke lokasi tanggul keliling yang direncanakan setinggi 40 cm setiap lapisannya.
• Padatkan setiap lapisan timbunan secara menyeluruh dengan alat pemadat setiap lapisan harus benar-benar padat.
• Pemadatan dilakukan sampai pada elevasi tanggul yang direncanakan.
• Parameter untuk lapisan menggunakan faktor CBR yang berlaku di Bina Marga.
3) Jika konstruksi tanggul memakai bahan pasangan maka cara pekerjaan pelaksanaan kontruksi sebagai berikut :
• Gali tanah sampai elevasi dasar pondasi tanggul yang direncanakan jika keadaan konstruksi tanah untuk dudukan pondasi kurang baik maka
19 dilakukan dulu perbaikan tanah dengan membuat cerucuk bambu, dolken atau pancang dari beton bertulangan.
• Buat lantai kerja untuk tanggul yang dibuat dari beton bertulang jika memakai
• Buat lantai kerja untuk tanggul yang dibuat dari beton bertulang jika memakai