BAB II KETENTUAN-KETENTUAN
2.2. Teknis
2.2.2 Kala Ulang
Kala ulang untuk desain kolam retensi & polder harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Kala ulang yang dipakai berdasarkan luas daerah pengaliran (catchment area), tipologi kota yang akan direncanakan kolam retensi / polder.
Tabel 1 Kala ulang berdasarkan tipologi kota & luas daerah pengaliran Tipologi Kota
Cathcment Area ( Ha )
< 10 10 - 100 100 - 500 > 500 Kota Metropolitan 2 thn 2 - 5 thn 5 - 10 thn 10 - 25 thn Kota Besar 2 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 5 - 20 thn Kota Sedang / Kecil 2 thn 2 - 5 thn 2 - 5 thn 5 - 10 thn
b. Perhitungan curah hujan berdasarkan data hujan paling sedikit 10 tahun yang berurutan.
c. Bangunan pelengkap dipakai kala ulang yang sama dengan saluran dimana bangunan pelengkap itu berada.
5 2.2.3 Kriteria Perencanaan Hidrologi
Kriteria perencanaan hidrologi adalah sebagai berikut : 1) Hujan
a. Perkiraan hujan rencana dilakukan dengan analisis frekuensi terhadap data curah hujan harian maksimum tahunan, dengan lama pengamatan paling sedikit 10 tahun yang berurutan.
b. Analisis frekuensi terhadap curah hujan, menggunakan metode Log Pearson tipe III, atau metode Gumbel sesuai dengan kala ulang 1, 2, 5, 10 dan 25 tahun (mengacu pada tata cara perhitungan debit desain saluran).
c. Untuk pengecekan data hujan, lazimnya digunakan metode lengkung masa ganda atau yang sesuai.
d. Perhitungan intensitas hujan ditinjau dengan menggunakan metode Mononobe.
2) Debit banjir
a. Debit banjir rencana dihitung dengan metode Rasional yang telah dimodifikasi (lihat pada lampiran A.6)
b. Koefisien limpasan (run off) ditentukan berdasarkan tata guna lahan daerah tangkapan.
c. Waktu konsentrasi adalah jumlah waktu pengaliran di permukaan dan waktu drainase.
d. Koefisien penyimpangan dihitung dari perbandingan waktu konsentrasi dan waktu drainase.
2.2.4 Kriteria Hidrolika
Kriteria perencanaan hidrolika ditentukan sebagai berikut :
a. Kapasitas saluran dihitung dengan rumus Manning atau yang sesuai.
b. Saluran drainase yang terpengaruh oleh pengempangan (back water effect) perlu diperhitungkan pasang surutnya dengan metode Standard Step Method.
c. Kecepatan maksimum (V) ditentukan oleh kekasaran dinding dan dasar saluran.
Untuk saluran tanah V = 0,7 m/dt, pasangan batu kali V = 2 m/dt dan pasangan beton V = 3 m/dt.
d. Kecepatan minimum untuk saluran drainase ditentukan V = 0,4 m/det, kecuali untuk saluran storage memanjang kecepatan minimumnya bisa mencapai 0,1 m/det dengan konsekuensi terjadi endapan di saluran tersebut.
2.2.5 Kriteria Konstruksi
Kriteria perencanaan konstruksi ditentukan sebagai berikut :
a. Pembebanan yang digunakan sesuai standar teknik praktis yang berlaku,
b. Kombinasi muatan atas konstruksi ditentukan secara individual sesuai fungsi, cara, dan tempat penggunaannya.
c. Stabilitas konstruksi bangunan penahan tanah dikontrol keamanannya terhadap daya dukung tanah (terhadap penurunan tanah / amblas), gaya geser dan gaya guling. Faktor-faktor keamanan minimumnya sebagai berikut :
Fdaya dukung tanah ≥ 1,5
Fgeser (kondisi biasa) ≥ 1,5 Fgeser (kondisi gempa) ≥ 1,2
Fguling ≥ 1,5
d. Bahan konstruksi yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan bahan bangunan yang telah ditetapkan.
2.2.6 Parameter Penentuan Prioritas Penanganan
6 Parameter penentuan prioritas penanganan meliputi hal sebagi berikut :
a. Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan, dan lamanya genangan terjadi.
b. Parameter frekuensi terjadinya genangan setiap tahunnya.
c. Parameter ekonomi, dihitung perkiraan kerugian atas fasilitas ekonomi yang ada, seperti : kawasan industri, fasum, fasos, perkantoran, perumahan, daerah pertanian dan pertamanan.
d. Parameter gangguan sosial, seperti : kesehatan masyarakat, keresahan sosial dan kerusakan lingkungan.
7 BAB III
SURVEI DAN PENYELIDIKAN TANAH
3.1 Survey
1) Gunakan peta Topografi skala 1 : 5000 s/d 1 : 50.000 untuk mengidentifikasikan Daerah Aliran Polder / Kolam Retensi.
2) Hitung luas masing-masing DAS / daerah tangkapan air.
3) Petakan rencana sistem retensi/polder dengan pengukuran geodetik. Dibuat garis kontur ketinggian lahan dengan interval setiap ketinggian 0.25 s/d 0.50 m.
3.2 Penyelidikan Tanah
1) Rencanakan dimana instalasi pompa akan ditempatkan beserta konstruksi outlet dan konstruksi bangunan yang terkait dengan instalasi pompa yaitu pada lokasi yang paling dekat dengan badan air.
2) Lakukan investigasi Geologi terutama mekanika tanah untuk perencanaan pondasi bangunan air.
3) Paramater mekanika tanah yang digunakan mengikuti standar teknik yang telah ditetapkan.
8 BAB IV
PERENCANAAN TEKNIK
PERHITUNGAN KOLAM RETENSI & POLDER
Gambar 1 Bagan alir perencanaan sistem kolam retensi dan polder 4.1 Tahap Perencanaan Daerah Kolam Retensi dan Polder
1) Pastikan daerah genangan dan parameter genangan yang meliputi luas genangan, tinggi genangan, lamanya genangan dan frekuensi genangan;
2) Pastikan bahwa elevasi muka air di muara saluran lebih tinggi dari elevasi muka tanah di daerah genangan;
3) Tentukan lokasi Kolam Retensi yang akan dijadikan tempat penampungan kelebihan air permukaan dan perkirakan batas luas Kolam Retensi tersebut;
4) Tentukan daerah pengaliran saluran primer (DPSAL) yang mengalir ke Kolam Retensi melalui peta topografi.
5) Tentukan sistem dan arah aliran inlet, outlet dan stasiun pompa
6) Muka air di kolam retensi / kolam polder direncanakan dari dasar muka tanah terendah di daerah perencanaan dan ditarik dengan lamanya tertentu sesuai dengan kemiringan lahan.
7) Alternatif tipe kolam retensi, antara lain :
a) Kolam retensi tipe di samping badan sungai
9 Gambar 2 Kolam retensi tipe di samping badan sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam retensi - Pintu inlet
- Bangunan pelimpah samping - Pintu outlet
- Jalan akses menuju kolam retensi - Ambang rendah di depan pintu outlet - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi - Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia - Tidak mengganggu sistem aliran yang ada - Pemeliharaan lebih mudah
- Pelaksanaan lebih mudah
b) Kolam retensi tipe di dalam badan sungai
10 Gambar 3 kolam retensi tipe di dalam badan sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam retensi - Tanggul keliling - Pintu outlet - Bendung
- Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila lahan sulit didapat - Kapasitas kolam retensi terbatas - Mengganggu aliran yang ada dihulu - Pelaksanaan lebih sulit
- Pemeliharaan lebih mahal c) Kolam retensi tipe storage memanjang
11 Gambar 4 Kolam retensi tipe storage memanjang
• Kelengkapan Sistem:
- Saluran yang lebar dan dalam - Cek Dam/ bendung setempat
• Kesesuaian tipe:
- Mengoptimalkan saluran drainase yang ada karena lahan tidak tersedia
- Kapasitasnya terbatas - Mengganggu aliran yang ada - Pelaksanaan lebih sulit 8) Alternatif tipe polder, antara lain :
a) Sistem polder dengan pompa dan kolam di samping badan saluran/sungai
12 Gambar 5 Sistem polder dengan pompa dan kolam di samping
badan saluran/sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam Retensi - Stasion Pompa - Pintu Inlet - Saluran Inlet - Pintu Pembagi - Pintu Outlet - Saluran Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi - Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia - Tidak mengganggu sistem aliran yang ada - Pemeliharaan lebih mudah
- Pelaksanaan lebih mudah
b) Sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan saluran/sungai
13 Gambar 6 Sistem polder dengan pompa dan kolam di dalam badan
saluran/sungai
• Kelengkapan Sistem:
- Kolam retensi - Stasion Pompa - Saluran Inlet - Pintu Outlet - Saluran Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Dipakai apabila lahan sulit didapat - Kapasitas kolam retensi terbatas - Mengganggu aliran yang ada dihulu - Pelaksanaan lebih sulit
- Pemeliharaan lebih mahal
c) Sistem polder dengan pompa dan kolam tipe storage memanjang
14 Gambar 7 Sistem polder dengan pompa dan kolam tipe storage
memanjang
• Kelengkapan Sistem:
- Storage Memanjang - Stasion Pompa - Pintu Outlet - Tangggul Keliling - Saringan sampah
- Kolam penangkap sedimen
• Kesesuaian tipe:
- Mengoptimalkan saluran drainase yang ada karena lahan tidak tersedia
- Kapasitasnya terbatas - Mengganggu aliran yang ada - Pelaksanaan lebih sulit 4.2 Tahap Perencanaan Hidrologi
1) Kumpulkan data curah hujan harian maksimum tahunan untuk periode minimum terakhir selama 10 tahun yang berurutan, dari beberapa stasiun curah hujan di daerah pengaliran saluran (DPSAL);
2) Hitung tinggi curah hujan harian rata-rata dari butir 1) diatas dengan metode Aritmatik atau Thiesen atau Isohyt, apabila tidak ada peta stasiun curah hujan dianjurkan menggunakan metode Aritmatik;
3) Hitung hujan rencana beberapa kala ulang dengan menggunakan persamaan Log Pearson Tipe III atau persamaan Gumbel, dengan menggunakan data curah hujan harian rata-rata dari butir 2);
4) Tentukan koefisien pengaliran (C) berdasarkan literatur dan penelitian di lapangan sesuai dengan tata guna lahan (lihat lampiran A.6.2)
5) Tentukan koefisien pengaliran ekivalen (Ceq), apabila daerah pengaliran saluran (DPSAL) terdiri dari beberapa sub-DPSAL;
15 6) Hitung waktu konsentrasi (tc) dengan menggunakan rumus Kirpich;
7) Kolam Retensi dipakai apabila diinginkan memotong puncak banjir yang terjadi, juga untuk mengurangi dimensi saluran;
8) Sistem Polder dipilih apabila daerah yang akan dikeringkan, relatif lebih rendah dari muka air tinggi sungai / badan air penerima atau muka air laut pasang 9) Hitung intensitas curah hujan dengan menggunakan rumus Mononobe dari nilai
hujan rencana dari butir 3), dan waktu konsentrasi dari butir 6);
10) Hitung debit banjir rencana dengan metode rasional praktis dengan koefisien pengaliran dari butir 4) atau dari butir 5), dan intensitas curah hujan dari butir 7);
11) Hitung debit banjir rencana dengan menggunakan unit hidrograph untuk daerah perkotaan;
12) Hitung debit banjir rencana dengan metode Rasional Modifikasi.
4.3 Tahap Perencanaan Hidrolika
1) Hitung profil basah saluran eksisting sesuai bentuknya (lingkaran, trapesium, atau segiempat);
2) Hitung keliling basah saluran eksisting sesuai bentuknya (lingkaran, trapesium, atau segiempat);
3) Hitung jari-jari hidraulis saluran dari perbandingan butir 1 dan butir 2;
4) Hitung kemiringan dasar saluran rata-rata dari penelitian hasil lapangan;
5) Hitung kecepatan aliran rata-rata maksimum menggunakan rumus Manning.
Apabila kekasaran dinding bervariasi maka harus dihitung kekasaran dinding ekivalen;
6) Hitung kapasitas maksimum saluran eksisting;
7) Bandingkan kapasitas maksimum saluran eksisting dari butir 6) dengan debit banjir rencana dari butir 10), 11) dan 12) di sub-bab 4.2.
8) Dari ketiga perhitungan debit banjir rencana tersebut pilih yang terbesar.
Apabila kapasitas eksisting lebih besar dari debit banjir rencana yang terbesar, maka saluran eksisting tidak perlu direhabilitasi.
4.4 Tahap Perencanaan Kapasitas Kolam Retensi dan Pompa
1) Buat unit hidrograph daerah perkotaan, kemudian jumlahkan masing-masing ordinatnya. Sehingga diperoleh debit rencana maksimum dengan gambar hidrographnya;
2) Hitung volume komulatif air yang masuk ke dalam kolam retensi dari hidrograph;
3) Gambarkan hasil perhitungan volume komulatif dari butir 2) di atas dalam koordinat orthogonal dengan ordinat besarnya volume komulatif dan absis besarnya waktu;
4) Hitung volume komulatif pompa untuk berbagai kapasitas pompa dan terapkan pada komulatif air yang masuk kolam retensi dari butir 3) di atas;
5) Ukur ordinat yang terletak antara garis volume komulatif pompa dengan garis singgung volume komulatif air yang masuk ke dalam kolam retensi seperti pada butir 4) di atas, menunjukkan volume air yang tertinggal di dalam kolam retensi;
6) Hitung luas kolam retensi yang diperlukan dengan membagi volume komulatif yang tertinggal di dalam kolam retensi seperti butir 5) di atas dengan rencana dalamnya air efektif di kolam retensi;
7) Lakukan langkah butir 4), butir 5) dan butir 6) di atas berulang-ulang, sehingga diperoleh biaya yang efisien dan efektif dalam menentukan luas kolam retensi dan kapasitas pompa yang dibutuhkan. Contoh perhitungan kapasitas kolam retensi dan pompa dapat dilihat di lampiran A.
8) Hitung kebutuhan head pompa dari elevasi muka air minimum di kolam retensi ke muka air maksimum banjir di sungai atau muka air pasang tertinggi di laut.
16 9) Pilih tipe pompa sesuai dengan kebutuhan yang ada. Tipe-tipe pompa yang
dimaksud adalah sebagai berikut : a) Pompa Archemedian Screw.
Pompa archemedian screw digunakan untuk kondisi elevasi muka air yang dipompa relatif aman, tidak sesuai untuk elevasi muka air yang
perubahannya relatif besar.
ELEV. PEMASUKAN MOTOR
ELEVASI. MAKS PENGELUARAN
H
Gambar 8 Pompa archemedian screw
Pompa ini tidak terganggu dengan adanya tumbuhan air dan sampah, oleh sebab itu pompa ini mampu beroperasi tanpa dijaga dalam jangka waktu yang lama.
b) Pompa Rotodynamic.
Pompa rotodynamic dipilih sesuai dengan keperluan perencanaan. Pompa ini terdiri atas :
(1) Pompa Centrifugal (aliran radial)
Dipergunakan untuk memompa air dengan ketingian yang besar dan aliran sedang.
Gambar 9 Pompa centrifugal (2) Pompa Axial (baling-baling)
Dipergunakan untuk memompa air dengan ketinggian yang rendah sampai aliran yang besar.
17 Gambar 10 Pompa axial
c) Pompa Aliran campuran
Digunakan dengan karakteristik tengah-tengah antara Pompa Centrifugal dengan Pompa Axial.
Gambar 11 Pompa aliran campuran
18 BAB V
PEPELALAKKSSAANNAAAANN KKOONNSSTTRRUUKKSSII 5.1 PEKERJAAN PERSIAPAN
1) Buat rencana kerja dan jadwal pelaksanaan.
2) Persiapkan bahan material dan tenaga kerja.
3) Sediakan atau buat direksi keet, gudang dan bengkel kontraktor.
4) Gunakan titik benchmark (usahakan yang tidak mudah bergeser) yang ada di lapangan sebagai titik referensi untuk ketinggian dan koordinat.
5) Lakukan pengukuran konstruksi untuk mendapatkan tata letak bangunan sistem polder.
6) Lakukan penyelidikan tanah yang diperlukan (boring, sondir, dll) di tempat yang akan memikul konstruksi dan bangunan pelengkap.
7) Buat akses sementara berupa jalan kerja untuk memudahkan mobilisasi pengangkutan bahan, alat dan pekerja ke lokasi pekerjaan.
8) Buatkan pagar pengaman dari kayu atau bahan lainnya.
5.2 PEKERJAAN KOLAM RETENSI
1) Bersihkan permukaan lokasi kolam retensi dari pohon, kayu-kayu, pecahan benda, semak-semak, sampah dan semua bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki.
2) Kerjakan penggalian tanah sampai kedalaman dasar kolam retensi yang telah direncanakan dengan menggunakan alat-alat berat.
3) Periksa elevasi dasar kolam retensi apakah telah sesuai dengan elevasi yang direncanakan dengan menggunakan alat ukur waterpass.
4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan.
5) Buatkan tanggul kolam retensi dari timbunan tanah atau bahan lainnya (perhatikan pemadatan dan keamanan terhadap longsor).
6) Periksa elevasi puncak tanggul dengan menggunakan alat ukur waterpass apakah telah sesuai dengan elevasi yang direncanakan.
7) Buatkan talud kolam di sekeliling kolam retensi dari bahan yang telah direncanakan.
8) Rapikan semua pekerjaan sampai selesai.
5.3 PEKERJAAN TANGGUL KELILING
1) Tanggul keliling biasanya memakai kontruksi dari tanah atau pasangan
2) Jika kontruksi tanggul memakai bahan dari tanah maka cara pekerjaan pelaksanaan kontruksi sebagai berikut :
• Bersihkan permukaan lokasi tanggul dari rumput-rumput dan pohon-pohon serta akar-akarnya.
• Kupas atau gali permukaan pondasi hingga mencapai lapisan tanah asli yang baik.
• Hamparkan tanah timbunan lapisan per lapisan ke lokasi tanggul keliling yang direncanakan setinggi 40 cm setiap lapisannya.
• Padatkan setiap lapisan timbunan secara menyeluruh dengan alat pemadat setiap lapisan harus benar-benar padat.
• Pemadatan dilakukan sampai pada elevasi tanggul yang direncanakan.
• Parameter untuk lapisan menggunakan faktor CBR yang berlaku di Bina Marga.
3) Jika konstruksi tanggul memakai bahan pasangan maka cara pekerjaan pelaksanaan kontruksi sebagai berikut :
• Gali tanah sampai elevasi dasar pondasi tanggul yang direncanakan jika keadaan konstruksi tanah untuk dudukan pondasi kurang baik maka
19 dilakukan dulu perbaikan tanah dengan membuat cerucuk bambu, dolken atau pancang dari beton bertulangan.
• Buat lantai kerja untuk tanggul yang dibuat dari beton bertulang jika memakai pasangan batu kali hamparkan urugan pasir kemudian dipadatkan.
• Buat kontruksi tanggul seperti bentuk rencana baik memakai pasangan beton bertulang atau pasangan batu kali dari mulai bawah sampai atas pada elevasi tanggul yang direncanakan.
4) Urug kembali dengan tanah, lubang galian yang tidak terpakai oleh kontruksi pasangan dan padatkan.
5) Rapikan kontruksi tanggul sampai selesai semuanya.
5.4 PEKERJAAN BANGUNAN STASIUN POMPA
1) Bersihkan permukaan lokasi bangunan stasiun pompa.
2) Gali tanah sampai kedalaman dasar bangunan yang telah direncanakan dengan menggunakan alat berat.
3) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan.
4) Perkuat daya dukung tanah dengan menggunakan cerucuk atau bahan lainnya.
5) Buat lantai kerja dari pasangan beton.
6) Pasang lantai dasar dengan konstruksi yang direncanakan.
7) Pasang pondasi
8) Urug tanah sampai ketinggian lantai dasar.
9) Pasang sloof, balok, kolom dan dinding penahan tanah sesuai yang direncanakan.
10) Buatkan pelat atas dengan konstruksi beton bertulang.
11) Sediakan angker-angker untuk penempatan pompa.
12) Pasang pipa hisap, pipa outlet dan aksesoris lainnya.
13) Sambungkan pompa dengan pipa hisap dan pipa outlet.
14) Pasang panel listrik dan lakukan instalasi elektrik.
15) Pasang pintu-pintu air.
16) Pasang pintu-pintu saringan sampah.
17) Lakukan uji coba terhadap pompa air, sebelumnya periksa aliran listrik baik dari PLN maupun dari Genset terlebih dahulu.
5.5 PEKERJAAN BANGUNAN RUMAH GENSET 1) Bersihkan lokasi permukaan.
2) Gali tanah sampai kedalaman dasar bangunan yang telah direncanakan.
3) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan.
4) Perkuat daya dukung tanah dengan menggunakan cerucuk atau bahan lainnya.
5) Pasang lantai kerja dari pasangan beton.
6) Pasang pondasi
7) Urug tanah sampai ketinggian lantai dasar.
8) Pasang sloof, balok, kolom dan dinding penahan tanah sesuai yang direncanakan.
9) Buatkan pelat atap dengan konstruksi beton bertulang.
10) Sediakan angker-angker untuk penempatan genset.
11) Lakukan instalasi mesin genset dan panel-panel listrik.
12) Lakukan uji coba genset
5.6 PEKERJAAN SALURAN INLET/OUTLET
1) Bersihkan permukaan lokasi untuk saluran inlet/outlet.
2) Gali tanah untuk kedalaman saluran inlet/outlet sesuai dengan elevasi dasar saluran yang direncanakan.
3) Periksa elevasi dasar saluran hasil galian dengan menggunakan alat waterpass.
20 4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan.
5) Buat konstruksi saluran dengan pasangan sesuai dengan yang telah direncanakan.
6) Kerjakan perapihan pekerjaan saluran inlet/outlet.
5.7 PEKERJAAN BANGUNAN PINTU AIR INLET/OUTLET
1) Bersihkan permukaan lokasi untuk bangunan pintu air inlet / outlet.
2) Gali tanah sesuai dengan kedalaman dan lebar bangunan pintu air yang telah direncanakan.
3) Periksa elevasi dasar bangunan pintu air dengan alat waterpass.
4) Buang sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai ke lokasi yang telah ditentukan.
5) Pasang kontruksi bangunan pintu air dari mulai lantai, dinding sampai ke atas.
6) Pasang pintu air.
7) Lakukan uji coba pintu air apakah berfungsi dengan baik.
21 BAB VI
OPERASI DAN PEMELIHARAAN
6.1 UJI COBA DAN PENGOPERASIAN POMPA
1) Hidupkan mesin diesel sesuai SOP atau petunjuk kerja yang berlaku atau kontakkan handle sakelar utama apabila menggunakan PLN.
2) Pastikan tegangan, frekuensi, arus listrik sesuaikan dengan ketentuan atau SOP.
3) Geser sakelar utama pada posisi “ON”.
4) Hidupkan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi melebihi elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP.
5) Lakukan kegiatan seperti butir 3), sesuai dengan kecepatan naiknya elevasi muka air di dalam kolam retensi dengan kapasitas pompa menurut ketentuan di dalam SOP.
6) Atur aliran air dari saluran yang masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air terutama pada musim kering. Apabila pengaturan air masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air, supaya air limbah dari saluran tidak masuk ke dalam kolam retensi.
7) Matikan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi sudah mencapai elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP.
6.2 PEMELIHARAAN STASIUN POMPA
1) Stasiun pompa sekalipun dibangun dengan konstruksi beton bertulang tetap harus dipelihara agar jangan terkesan angker dan kumuh. Untuk itu secara rutin petugas harus menjaga kebersihan lingkungan instalasi.
2) Secara berkala stasiun pompa harus dicat agar dari segi estetika indah dan nyaman untuk dijadikan sarana rekreasi bila perlu.
3) Sewaktu pompa tidak dioperasikan periksa kelengkapan saringan sampah di bagian depan pompa. Lakukan pembersihan terutama dari sampah-sampah plastik yang dapat merusak poros dan propeller pompa.
4) Periksa secara rutin panel operasi jangan sampai ada kabel yang putus karena termakan usia atau oleh binatang pengerat seperti tikus dll.
5) Perhatikan engsel-engsel pintu instalasi agar jangan sampai kering. Sebab semua petugas operasional pompa harus tetap siaga menjaga kemungkinan terjadi banjir dadakan.
6.3 PENGOPERASIAN PINTU AIR INLET, OUTLET DAN PEMBAGI 1. Untuk kolam retensi tipe di samping badan sungai
a. Pada saat banjir datang pintu inlet dibuka, air dari sungai akan masuk dan mengisi kolam retensi.
b. Jika muka air di kolam retensi telah mencapai level maksimum maka pintu air outlet dibuka secukupnya sehingga air di kolam retensi bisa keluar kembali ke sungai, tetapi muka air dalam kolam retensi harus dijaga agar tetap pada level maksimum.
c. Pada saat banjir telah surut maka air di kolam retensi dikeluarkan melalui pintu outlet sampai mencapai muka air minimum, hal ini dimaksudkan untuk menerima banjir berikutnya/yang akan datang.
d. Di musim kemarau pintu inlet ditutup, sesekali dibuka hanya untuk memasukkan air ke kolam retensi, agar muka air di kolam retensi tetap terjaga dalam keadaan normal.
2. Untuk kolam retensi tipe di dalam badan sungai
a. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup, air dari sungai akan masuk dan mengisi kolam retensi.
22 b. Meskipun muka air di kolam retensi telah mencapai elevasi maksimum, pintu air outlet tetap ditutup, sehingga air dari kolam retensi mengalir ke sungai melalui pelimpah bendung
c. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka air di kolam retensi dikeluarkan melalui pintu outlet sampai mencapai muka air minimum, keadaan ini untuk menerima banjir berikutnya / yang akan datang.
d. Di musim kemarau pintu outlet ditutup, sehingga di kolam retensi tetap ada air.
3. Untuk sistem polder dengan pompa dan kolam di samping badan saluran/sungai a. Pada saat banjir datang pintu pembagi ditutup. Sebaliknya pintu inlet dibuka,
sehingga air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi.
Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa.
b. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka pintu pembagi dibuka agar air di saluran drainase bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Selain itu pintu air
b. Pada saat banjir di sungai telah surut, maka pintu pembagi dibuka agar air di saluran drainase bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Selain itu pintu air