BAB I PENDAHULUAN
1.2. Ruang Lingkup dan Metodologi
Buku outlook teknologi pangan ini membahas tentang inisiasi pengembangan industri berbasis sagu jagung dan ubi kayu. Pembahasan dimulai dengan memetakan potensi ketiga komoditas tersebut, kemudian memahami prinsip-prinsip teknologi dan industri yang mengolahnya, dan terakhir mengidentifikasi arah strategi pengembangannya. Potensi komoditas yang diangkat berasal dari aspek produksi, konsumsi, ekspor, impor, kebijakan, dan proyeksi kedepan.
Pemahaman teknologi dan industri dibagi atas tiga tahap, yakni tahap pertama pengolahan sagu jagung dan ubi kayu, kedua diversifikasi pati-patian, dan ketiga inovasi teknologi dan perkiraan industri kedepan. Identifikasi strategi pengembangan meliputi identifikasi potensi dan peluang, isu dan permasalahan yang dihadapi, dan strategi pengembangan kedepan.
Inisiasi pengembangan industri berbasis sagu jagung dan ubi kayu menggunakan beberapa metoda pengumpulan data dan pengolahannya.
Metoda pengumpulan data dibagi atas jenis data yang dikumpulkan, yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dari sumber asli atau pertama. Metode pengumpulannya melalui wawancara, Focus Group Discussion, dan observasi langsung di lapangan. Wawancara mendalam (In-depth interview) dilakukan terhadap pakar atau pelaku yang memahami kondisi komoditas. Responden ini berasal dari pelaku bisnis, pemerintah daerah, dan peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga litbang.
Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan dengan mengundang beberapa pihak untuk diskusi bersama tentang suatu topik atau isu tertentu.
FGD bertujuan untuk menggali informasi dari pakar-pakar yang diundang tentang permasalahan sagu jagung dan ubi kayu di Indonesia. FGD juga bertujuan untuk melakukan verifikasi dan validasi terhadap data yang diperoleh dan hasil sebuah analisis.
8 Observasi merupakan pengamatan langsung ke lokasi dimana komoditas tersebut diolah. Metoda ini juga dilakukan untuk verifikasi dan validasi data terutama dalam aspek penggunaan teknologi pengolahan. Lokasi yang dikunjungi antara lain Kabupaten Meranti Riau, Kota Cirebon Jawa Barat, Kabupaten Pati Jawa Timur, dan Kota/Kabupaten Gorontalo.
Untuk melengkapi analisa data-data primer yang diperoleh dari wawancara dan observasi di atas, dalam kegiatan ini juga dianalisis data-data sekunder yang terkait dengan kajian inisiasi pengembangan industri berbasis sagu jagung dan ubi kayu. Data sekunder diperoleh dari lembaga resmi pemerintah seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kemeterian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, Kemeterian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Data-data yang diperoleh di atas kemudian diolah melalui beberapa metoda, antara lain trend analysis, interpolasi data, bilibiometrik, scenario analysis, dan SWOT analysis. Trend analysis dan interpolasi data dilakukan dalam memahami kecenderungan perilaku sebuah data sehingga dapat diperkirakan perkembangannya ke depan. Bilibiometrik disini diterapkan sebagai suatu teknik technology forecasting, digunakan untuk mengidentifikasi perkembangan sebuah inovasi teknologi ke depan sehingga dapat diprediksi kecenderungan sebuah industri di masa akan datang.
Scenario analysis dilakukan dengan mengidentifikasi issu utama dan permasalahan yang dihadapi komoditas ini untuk berkembang. Kemudian menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa akan datang sehingga kejadian tersebut dapat diantisipasi dari sekarang.
SWOT analysis dilakukan untuk memetakan kelemahan, kekuatan, ancaman dan peluang setiap komoditas. Metoda ini memudahkan dalam mengidentifikasi solusi dan pilihan strategi, yang dinilai paling penting dalam mengoptimalkan sagu jagung dan ubi kayu di tanah air.
PPIPE 9
PPIPE 11
12
2.1. KOMODITAS SAGU
PPIPE 13 2.1.1. Produksi dan Konsumsi Sagu
Produksi Sagu
Produksi sagu Indonesia meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir (Gambar 2.1). Jika tahun 2008 produksi sagu nasional tercatat sebesar 31.767 ton, tahun 2017 meningkat menjadi 489.643 ton. Meskipun dalam 4 tahun pertama (2008 – 2011) produksi sagu cenderung menurun, sagu hanya diproduksi dari perkebunan rakyat, namun sejak tahun 2012 dimana perusahaan besar swasta mulai terlibat, produksi sagu meningkat signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 33,81% pertahun.
Perkebunan rakyat masih mendominasi dalam share produksi sagu nasional. Perkebunan yang dikelola secara sederhana ini memberi kontribusi sebesar 67% dari produksi sagu dalam negeri, perkebunan besar swasta menyumbang sisanya. Sementara itu, produktivitas sagu nasional cenderung tetap yakni 2,2 ton/ha. Hal ini menunjukkan pola budidaya sagu masih mengandalkan tanaman yang sudah tersedia tanpa penanganan khusus.
Sumber: Kementan 2016 (diolah)
Gambar 2.1. Produksi Sagu Nasional Tahun 2008 - 2017
31.767
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Produksi (ton)
Tahun
14 Konsumsi Sagu
Berdasarkan data Kementerian Pertanian tahun 2018, tingkat konsumsi sagu nasional mengalami kenaikan (Gambar 2.2). Dalam 5 tahun terakhir (2013-2017), tingkat konsumsi mengalami peningkatan yang signifikan, hampir dua kali lipat dari tahun 2 tahun pertama. Tahun 2013 dan 2014, konsumsi sagu masih 148.000 ton, melonjak naik pada tahun 2015 menjadi 482.000 ton, setelah itu tumbuh dengan konsumsi rata-rata 8,4% pertahun.
Konsumsi sagu dalam negeri umumnya untuk bahan makanan, hanya sedikit yang diolah untuk non makanan. Hal ini menunjukkan bahwa sagu, tanaman yang menjadi sumber makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia, belum dikembangkan secara optimal, belum banyak diolah menjadi bahan industri. Kenaikan konsumsi sagu juga dapat dilihat dari meningkatnya konsumsi sagu perkapita nasional, dimana tahun 2015 nilainya sebesar 1,6 kg/kapita/tahun, naik pada tahun 2017 menjadi 1,71 kg/kapita/tahun.
Sumber : Kementan 2018 (diolah)
Gambar 2.2. Konsumsi Sagu Nasional Tahun 2013 - 2017
148.000 148.000
413.000 433.000
482.000
0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000
2013 2014 2015 2016 2017
Konsumsi (ton)
Tahun
PPIPE 15 2.1.2. Ekspor dan Impor Sagu
Ekport Sagu
Ekspor sagu nasional cenderung meningkat (Gambar 2.3). Merujuk data Kementan 2016 bahwa nilai ekspor sagu tahun 2012 adalah sebesar 1.013 ribu US$, naik pada tahun 2016 menjadi 4.584 US$, atau naik rata-rata 88,13% per tahun. Walaupun sempat jatuh tahun 2015 namun harga sagu internasional cenderung naik. Hal ini menjadi peluang bagi industri sagu nasional untuk meningkatkan ekspornya di masa akan datang.
Berdasarkan data sagu Kementerian Pertanian (2015), tujuan ekspor sagu Indonesia umumnya ke negara Asia, terbesar adalah Jepang, Malaysia, Filipina dan Singapura. Sekitar 70% dari nilai ekpor sagu nasional berasal dari ekspor ke Jepang, 22,32% ke Malaysia, sisanya ke berbagai negara lainnya.
Ekspor sagu terbesar dalam bentuk pati (sago starch) dengan negara tujuan terbesar Jepang dan Malaysia. Lebih 90% sagu yang diekspor dalam bentuk pati, sisanya berupa tepung dan bahan makanan.
Sumber: Kementan 2018 (diolah)
Gambar 2.3. Ekspor Sagu Nasional Tahun 2012 - 2016
1.013
2012 2013 2014 2015 2016
T a h u n
Nilai ekspor (000 US$)
16 Impor Sagu
Data impor sagu sulit ditemukan sehingga data yang disajikan tidak serta merta merepresentasikan kondisi impor sagu nasional. Meskipun demikian, data tahun 2015 cukup menarik untuk dianalisis. Nilai impor sagu pada tahun tersebut sebesar 282.631 ribu US$. Impor sagu terbesar dalam bentuk empulur sagu (sago pith) dengan nilai 184.438 ribu US$. Impor empulur sagu terbesar berasal dari Timor Leste (73 %) dengan volume sebesar 247,45 ton, menyusul dari China dan Jepang.
Selain empulur sagu, impor sagu juga ada dalam bentuk pati sagu (sago starch) dengan negara asal China sebesar 42.900 ton. Sagu dalam bentuk tepung (flour & powder) di impor dari Australia sebesar 29.910 ton. Jika dibanding dengan produksi nasional maka impor sagu belum mempengaruhi daya saing sagu Indonesia di pasar dalam negeri.
Sumber: Kementan 2018 (diolah)
Gambar 2.4. Impor Sagu Nasional Tahun 2012 - 2016
26
52 56
282
52
0 100 200 300
2012 2013 2014 2015 2016
T a h u n
Nilai impor (000 US$)
PPIPE 17 2.1.3. Distribusi Komoditas Sagu
Luas perkebunan sagu di Indonesia berdasarkan status pengusahaan tahun 2017 tercatat seluas 219.978 ha. Provinsi yang paling luas lahan sagunya adalah Provinsi Riau 91.544 ha (41,80 %), Maluku 41.496 ha (18,86 %) dan Papua 39.843 ha (18,11 %). Sedangkan daerah lainnya di bawah 10 ribu ha.
Data luas perkebunan sagu ini masih sangat kecil dibandingkan potensi hutan sagu Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas hutan sagu mencapai 1,25 juta ha, dengan rincian 1,20 juta ha di Papua dan Papua Barat serta 50 ribu ha di Maluku. Perkebunan sagu Indonesia umumnya skala Perkebunan Rakyat, sedangkan yang dikuasai Perusahaan Besar Swasta sangat kecil, Sebagian besar sagu yang tumbuh di Papua dan Papua Barat merupakan hutan sagu alami.
Sumber: Kementan 2016 (diolah)
Gambar 2.5. Sebaran Lahan Sagu Tahun 2017
Maluku 41.496 ha Sulteng 6.106 ha
Kaltim 29 ha Aceh 7.860 ha
Kalbar 1.296 ha Kepri 6.374 ha
Riau 91.944 ha
Kalsel 7.857 ha
Sulsel 4.383 ha
Sulbar 1.759 ha
Sultra 5.105 ha
Malut 3.645 ha
Papua 39.843 ha Papua Barat 2.279 ha
18 2.1.4. Kebijakan Terkait Sagu
Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) RI Nomor 43/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal mendorong daerah seperti Riau, Papua dan Maluku membuat berbagai program diversifikasi produk makanan dari sagu. Dalam pedoman Permentan disebutkan sagu sebagai salah satu sumber pangan lokal yang diharapkan dapat diolah sebagai pangan pokok substitusi beras dan terigu sebagai sumber karbohidrat.
Beberapa kebijakan lainnya yang menjadi acuan kebijakan pengembangan sagu:
a) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 94/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Standar Operasional Prosedur Sertifikasi Benih dan
Pengawasan Mutu Benih Tanaman Sagu.
Kebijakan ini ada karena sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 39/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina bahwa benih yang beredar harus disertifikasi.
b) Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 134/Permentan/OT.140/12/2013 tentang Pedoman Budidaya Sagu yang Baik.
Melalui Permen ini diperoleh pedoman budidaya sagu yang baik sebagai panduan bagi petani. Tujuan disusunnya pedoman ini adalah :
1. Meningkatkan produksi, produkstivitas dan mutu hasil sagu 2. Meningkatkan efisiensi produksi
3. Meningkatkan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan.
PPIPE 19 c) Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 75/M-IND/PER/12/2013 tentang Peta Panduan Pengembangan Kompetensi Inti Industri Kabupaten Sorong Selatan. Kompetensi inti Kabupaten Sorong Selatan adalah industri pengolahan sagu dengan fokus pada kemampuan mengolah sagu menjadi tepung sagu.
d) Peraturan Daerah Kabupaten Jayapura No 3/2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu. Pelestarian kawasan hutan sagu di Kabupaten Jayapura merupakan kegiatan terus-menerus sepanjang pembangunan daerah dilaksanakan.
e) Peraturan Daerah Provinsi Maluku No 10/2011 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Sagu. Pengelolaan dan pelestarian sagu dilaksanakan berlandaskan asas kelestarian nilai-nilai budaya lokal, asas manfaat, berkelanjutan, kepastian hukum dan keadilan, partisipatif serta tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.
Sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009, APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) membentuk FOKUS-KAPASSINDO (Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Seluruh Indonesia) untuk memajukan persaguan nasional sebagai pendukung dan penyangga sumber pangan dan energi alternatif yang mampu memperkuat kedaulatan pangan dan energi nasional. Daerah penghasil sagu yang tergabung dalam Fokus-Kapassindo terdiri dari sebelas kabupaten, yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Lingga, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Serdang.
20 2.1.5. Proyeksi Sagu
Proyeksi produksi dan konsumsi sagu Indonesia dapat dilihat dalam Gambar 2.6. Proyeksi produksi dibuat dengan asumsi produktivitas perkebunan sagu sampai dengan tahun 2034 sama dengan tahun 2017 yakni 2,2 ton/ha/tahun dan luas lahan perkebunan sagu meningkat sesuai tren 2009-2017 (sesuai data acuan Buku Statistik Sagu 2015-2009-2017, Dirjen Perkebunan Kementan). Proyeksi konsumsi dibuat dengan asumsi konsumsi per kapita sampai dengan tahun 2034 sama dengan tahun 2017 yakni 1,84 kg/kapita/tahun dan jumah penduduk meningkat sesuai prediksi BPS.
Gambar 2.6. Proyeksi Produksi dan Konsumsi Sagu 2018-2034
Berdasarkani proyeksi di atas maka diperkirakan hingga tahun 2034 terjadi surplus produksi sagu nasional. Kelebihan produksi ini akan berpengaruh pada harga sagu yang berakibat pada tingkat kesejahteraan petani dan industri pengolahan sagu. Oleh karena itu, permasalahan kelebihan produksi ini perlu diantisipasi dengan jalan diversifikasi produk. Jika selama ini sagu umumnya dimanfaatkan untuk bahan makanan, kedepannya dikembangkan untuk aneka produk industri non makanan.
2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 Produksi 514.7 552.1 589.5 626.9 664.3 701.7 739.1 776.5 813.8 851.2 888.6 926.0 963.4 1.000 1.038 1.075 1.113 Konsumsi 488.4 495.0 501.6 508.3 515.1 522.0 529.0 536.1 543.3 550.6 558.0 565.4 573.0 580.7 588.5 596.4 604.3
400.000
PPIPE 21
22
2.2. KOMODITAS JAGUNG
PPIPE 23 2.2.1. Produksi dan Konsumsi Jagung
Produksi Jagung
Selama lima tahun terakhir produksi jagung nasional terus mengalami peningkatan (Gambar 2.7). Produksi jagung tahun 2013 sebesar 18,5 juta ton, meningkat pesat pada tahun 2016 menjadi 23,5 juta ton, dan tahun 2017 meningkat lagi menjadi 28,9 juta ton. Menurut catatan FAO tahun 2014, Indonesia termasuk 10 negara produsen jagung terbesar dunia. Kesepuluh negara ini menguasai produksi jagung dunia sebesar 78,76%, Indonesia memberi kontribusi 1,99%. Tiga negara teratas adalah Amerika Serikat, China, dan Brasil. Ketiga negara ini memiliki kontribusi 63,63% dari produksi jagung dunia.
Sumber : 1. Badan Pusat Statistik 2018
2. Kementerian Pertanian, 2018 (diolah)
Gambar 2.7. Produksi Jagung Nasional Tahun 2013-2017
18.512.000 19.008.000 19.612.000
23.578.000
28.926.000
0 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 25.000.000 30.000.000 35.000.000
2013 2014 2015 2016 2017
Produksi (ton)
Tahun
24 Konsumsi Jagung
Kebutuhan jagung nasional dihitung atas konsumsi langsung berupa makanan, kebutuhan industri pakan dan industri lainnya, benih dan yang tercecer. Berdasarkan data BPS tentang neraca jagung nasional, untuk kadar air 25%, kebutuhan nasional meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, kebutuhan jagung nasional sebesar 17,7 juta ton dengan konsumsi langsung sebesar 355 ribu ton, meningkat sampai dengan tahun 2018 sebesar 19,6 juta ton dengan konsumsi langsung sekitar 400 ribu ton. Konsumsi langsung proporsinya relatif kecil, sekitar 2% dari kebutuhan jagung nasional, sedangkan jagung untuk pakan (industri pakan dan peternak lokal) proporsinya sebesar 68
% dari kebutuhan.
Sumber : 1. Badan Pusat Statistik 2018
2. Kementerian Pertanian, 2018 (diolah)
Gambar 2.8. Konsumsi Jagung Nasional Tahun 2013-2018
17.727.536 17.805.989
18.081.240 18.069.797
18.874.523 19.630.024
16.500.000 17.000.000 17.500.000 18.000.000 18.500.000 19.000.000 19.500.000 20.000.000
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Konsumsi (ton)
Tahun
PPIPE 25 2.2.2. Ekspor dan Impor Jagung
Impor jagung Indonesia mulai mengalami fluktuasi sejak tahun 2013 dan puncaknya pada tahun 2015 dengan volumen 3,5 juta ton. Di samping impor, Indonesia telah mulai melakukan ekspor tahun 2013 ke negara tetangga dengan jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan impor pada tahun yang sama. Pada tahun 2018 ekspor dilakukan dengan negara tujuan Filipina. Tiga daerah penopang ekspor ini adalah Nusa Tenggara Barat, Gorontalo dan Sulawsi Selatan. Pasar potensial lainnya untuk ekspor jagung yang harus diraih adalah Malaysia yang diperkirakan membutuhkan jagung sebanyak 3 juta ton setiap tahunnya. Saat ini sudah mulai diekspor dengan nilai yang sangat kecil (< 50.000 ton).
Sumber : 1. Badan Pusat Statistik 2018
2. Kementerian Pertanian, 2018 (diolah)
Gambar 2.9. Ekspor dan Impor Jagung Tahun 2013 – 2017
3.190.000 3.170.000
2013 2014 2015 2016 2017
Impor Ekspor
Volume (ton)
26 2.2.3. Distribusi Komoditas Jagung
Jumlah produksi tahun 2017 sebesar 28.926.000 ton yang berasal dari luas lahan 5.533.000 ha (produktivitas rata rata 5,22 ton/ha). Luasan yang paling besar terdapat di Jawa Timur 1.257.000 ha dan Jawa Tengah 588.000 ha. Untuk luar Jawa, Lampung merupakan salah satu sentra produksi jagung dengan luasan 482.000 ha selanjutnya NTT dan NTB 624.000 ha. Sentra produksi lainnya di Sulawesi Utara 445.000 ha, Sulawesi Selatan 411.000 ha dan Gorontalo 336.000 ha. Produksi jagung di Pulau Jawa proporsinya 49%
dibandingkan dengan luar Jawa. Dilhat dari sebarannya, areal di pulau Jawa sudah sangat sulit dikembangkan karena harus bersaing dengan komoditas lainnya (padi, kedele dll). Peluang pengembangan areal ada di Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua.
Gambar 2.10 Sebaran Lahan Jagung Tahun 2017
2.2.4. Kebijakan Terkait Jagung
Kebijakan Pertanian
Untuk meningkatkan produksi jagung nasional menuju swasembada jagung pada tahun 2018, Indonesia menghentikan impor jagung untuk memenuhi kebutuhan jagung industri. Kebijakan terkait dengan swasembada jagung, antara lain peraturan Menteri tentang pelepasan benih unggul hibrida
PPIPE 27 sejak tahun 2006, dengan harapan produktivitas meningkat. Selain itu untuk menambah luasan lahan dilakukan dengan memberikan insentif berupa penetapan harga jagung yang baik, sehingga petani menjadi giat menanam jagung. Setiap tahun Kementan juga mengeluarkan pedoman pelaksanaan kegiatan tahun berjalan yang berisi antara lain rencana, sasaran kinerja terkait luasan lahan panen, sasaran rencana produksi, neraca jagung nasional.
Adapun peraturan peraturan yang dikeluarkan antara lain :
- Peraturan Menteri Pertanian Nomor 03/Permentan/Ot.140/2/2015, tentang Pedoman Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung Dan Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi Dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015
- Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 27/M-Dag/Per/5/2017, tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian Di Petani Dan Harga Acuan Penjualan Di Konsumen
- Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 129/Kpts/Sr.120/3/2006 tentang Pelepasan Galur Jagung Hibrida Su 3545 Sebagai Varietas Unggul Dengan Nama N 35
- Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 128/Kpts/Sr.120/3/2006 tentang Pelepasan Galur Jagung Hibrida Sx 44 Sebagai Varietas Unggul Dengan Nama Nt 10
- Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 19/Kpts/Sr.120/1/2007 tentang Pelepasan Jagung Manis Hibrida Kencana Sebagai Varietas Unggul - Lampiran Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 456/ Kpts / SR.
120/ 12/ 2005 Tanggal : 26 Desember 2005 Golongan varietas : Hibrida silang tunggal F 2139 X M 2139
- Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 23/ Permentan / Sr.120/2/2007 Tentang Pedoman Umum Peningkatan Produktivitas Dan Produksi Padi, Jabung Dan Kedelai Melalui Bantuan Benih Tahun 2007 - Keputusan Menteri Pertanian tentang Pelepasan Galur Jagung Hibrid
A 12 Sebagai Varietas Unggul Dengan Nama Supra 1
- Peraturan Menteri Pertanian Nomor :18/ Permentan /Ot.140/2/2010 tentang Blue Print Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk
28 Pertanian Dengan Pemberian Insentif Bagi Tumbuhnya Industri Perdesaan
- Kebijakan Industri Nasional 2015 – 2019 disusun untuk melaksanakan amanat UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian Pasal 12 dan PP No. 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015 – 2035
- Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 9/Permentan/Ot.140/6/ 2010 tentang Pedoman Perizinan Usaha Budidaya Tanaman Pangan Kebijakan Perdagangan
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Jagung.
- Kementerian Perdagangan membuka izin impor jagung untuk industri sebanyak 77.750 ton kepada PT Miwon Indonesia dari sejumlah negara seperti Argentina, Amerika Serikat, Brazil, dan Ukraina.
Peraturan tersebut melarang perusahaan swasta melakukan impor jagung untuk kebutuhan pangan dan pakan ternak.
- Dalam aturan tersebut disebutkan, jagung dapat diimpor untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan, dan bahan baku industri. Impor jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan sendiri, hanya bisa dilakukan oleh Perum Bulog setelah mendapatkan penugasan dari pemerintah. Sedangkan impor jagung untuk pemenuhan kebutuhan pangan hanya dapat dilakukan oleh Perum Bulog dan perusahaan pemilik API-P (Angka Pengenal Importir Produsen). Sementara impor jagung untuk bahan baku industri hanya bisa dilakukan oleh perusahaan pemegang API-P saja. Sementara impor untuk kebutuhan bahan baku dapat langsung diberikan oleh Menteri Perdagangan tanpa rekomendasi dari Menteri Pertanian.
- Jagung yang diimpor oleh perusahaan pemilik API-P hanya dapat digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong untuk kebutuhan proses sendiri. Komoditas impor tersebut dilarang untuk diperdagangkan atau dipindahtangankan kepada pihak lain.
PPIPE 29 - Di samping itu dikeluarkan aturan tentang Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 27/M-Dag/Per/5/2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen.
Kebijakan Resi Gudang
- Sistem Resi Gudang (SRG) merupakan instrumen perdagangan dan keuangan yang memungkinkan komoditas yang disimpan dalam gudang memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan tanpa diperlukan jaminan lainnya. Pelaksanaan SRG mengacu pada Undang-Undang No.
9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 9 Tahun 2011. Sistem Resi Gudang adalah kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan, pengalihan, penjaminan, dan penyelesaian transaksi Resi Gudang. Resi Gudang adalah dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di Gudang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang.
Kebijakan Daerah
- Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 7 tahun 2008 tentang Pembentukan organisasi dan Tata Kerja Badan Pusat Informasi Jagung Provinsi Gorontalo di terbitkan dalam rangka meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam menangani pengembangan jagung sebagai komoditas unggulan serta menjaga kelestarian sumberdaya pertanian - Peraturan Bupati Rembang no.1 tahun 2007 tentang Petunjuk teknis
Pelaksanaan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk pengendalian harga gabah/beras, jagung dan kedelai ditingkatkan petani kabupaten Rembang
- Peraturan Daerah Provinsi Jatim Daerah Provinsi Jatim nomor 14 tahun 2013 tentang Percepatan Pelaksanaan Sistem Resi Gudang
- Peraturan Gubernur NTB no 6 tahun 2011 tentang dukungan dana Perkuatan Modal Kepada Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) di provinsi NTB
30 2.2.5. Proyeksi Jagung
Produksi
Produksi jagung cenderung terus meningkat sejak tahun 2016 (Gambar 2.13). Kenaikan ini dipicu oleh intensifikasi Pemerintah melalui penerapan benih unggul hibrida. Benih ini berpotensi meningkatkan produktivitas 6-7 % dan jagung komposit dengan peningkatan produktivitas 4-5 %. Varietas yang sudah dilepas ke pasar antara lain benih yang dapat mencapai peningkatan produktivitas hingga 14%. Dengan peningkatan produksi tersebut, kebutuhan jagung nasional mulai dapat terpenuhi, meskipun di sisi lain terdapat jenis jagung khusus yang memang masih harus diimpor (industri makanan) dan penerapan program ekstentifikasi melalui perluasan lahan hingga 15%.
Kendala yang ada terkait produksi adalah kecilnya lahan milik petani (±
0,25 ha) dan tersebar, sehingga mobilisasi saat panen dan pasca panen mengalami hambatan. Jagung mengandung aflatoksin yang bila panen dan tidak langsung dikeringkan (kadar air tertentu) maka akan mengalami kerusakan, selain itu berbahaya untuk ternak yang mengkonsumsi, dan ini mengurangi jumlah produksi.
Konsumsi
Konsumsi kebutuhan nasional dihitung berdasarkan neraca jagung nasional.
Konsumsi jagung meliputi benih, industri pakan, pakan mandiri, konsumsi langsung dan industri (makanan, non pangan non pakan). Proporsi penyerapan jagung nasional adalah untuk kebutuhan industri pakan dan pakan mandiri hingga mencapai 60%. Sedangkan konsumsi langsung pangan manusia sangat kecil sebesar 2%.
Berdasarkan proyeksi produksi dan konsumsi, sampai tahun 2034 diperkirakan jagung dalam keadaan surplus.
PPIPE 31 Gambar 2.11. Proyeksi Ketersediaan dan Konsumsi Jagung
2018-2034
Proyeksi Produksi dan Konsumsi Jagung
2018-2034
32
2.3. KOMODITAS UBI KAYU
PPIPE 33 2.3.1. Produksi dan Konsumsi Ubi Kayu
Produksi
Produksi ubi kayu nasional cenderung menurun (Gambar 2.12). Jika tahun 2012 produksi ubi kayu nasional sebesar 24.178 ton, berkurang tiap tahun hingga 2016 menjadi 20.745 ton, atau mengalami penurunan rata-rata 2,38% pertahun. Penurunan ini dipicu oleh harga komoditas di tingkat petani yang sangat rendah yang menyebabkan petani sulit bertahan dalam usaha pertanian ini. Permasalahan ini terlihat dari luas panen ubi kayu yang turun rata-rata 5,37% per tahun. Penurunan luas panen ubi kayu juga disebabkan banyaknya pengalihan fungsi lahan, semula lahan tanaman ubi kayu berubah fungsi menjadi lahan perumahan dan kawasan industri.
Walaupun luas panen cenderung berkurang namun produktivitas ubi kayu meningkat dengan rata-rata 228,16 ku/ha. Hal ini dikarenakan inovasi
Walaupun luas panen cenderung berkurang namun produktivitas ubi kayu meningkat dengan rata-rata 228,16 ku/ha. Hal ini dikarenakan inovasi