Akhlak secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni akhlak yang baik yaitu akhlak Mahmudah dan akhlak yang buruk yaitu akhlak Madzmudah.
48Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf (Cet. X; Bandung: CV Pustaka setia, 2010), h. 25.
49Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. XII; Jakarta: Kalam Mulia, 2015), h. 149.
50Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pres, 2013), h. 13.
Adapun akhlak terbagi atas dua kategori antara lain:
1. Akhlak yang baik (akhlak al-Mahmudah) yaitu perilaku yang dimana akal pikiran (rasio) maupun syari’at agama Islam tidak menolaknya, artinya bahwa perilaku-perilaku tersebut sesuai dengan norma dan ajaran-ajaran agama Islam.
2. Akhlak tercela (akhlak al-Madzmudah) yaitu perilaku atau perbuatan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan akal pikiran dan syari’at agama Islam.
Ruang lingkup akhlak adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu sendiri, yaitu pola hubungan manusia dengan Allah (khaliq) dan hubungan dengan sesama makhluk (baik manusia maupun selain manusia). Adapun akhlak mahmudah dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Akhlak terhadap Allah swt. (Khaliq)
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan/khalik.
Menurut Abudin Nata sekurang kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah. Pertama, karena Allah-lah yang telah menciptakan manusia dan dia menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan ke luar dari antara tulang punggung dan tulang rusuk. Dalam ayat lain Allah juga menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang kemudian diproses menjadi benih yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim), lalu ia menjadi segumpal darah, segumpal daging, dijadikan tulang dan dibalut dengan daging, dan selanjutnya diberi roh. Dengan demikian sebagai yang diciptakan sudah sepantasnya berterima kasih kepada yang menciptakannya.
Kedua, karena Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan panca indra, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota tubuh yang kokoh dan sempurna kepada manusia.
Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagaibahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan sebagainya.
Keempat, Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.51 Itulah empat alasan mengapa kita sebagai makhluk-Nya harus menunjukkan akhlak kita kepada sang khaliq, dan sudah sepatutnya bagi manusia yang telah diberikan berbagai nikmat oleh Allah swt. untuk berakhlak baik kepada Allah swt. banyak cara yang dapat dilakukan dalam berakhlak kepada Allah swt. Di antaranya adalah:
1) Menauhidkan Allah swt
Tahuid adalah mengesahkan Allah, mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Tahuid dapat berupa pengakuan bahwa Allah swt. satu-satunya yang memiliki sifat rububiyah, uluhiyah, dan Asma wa shifat 2) Tobat
Tobat adalah sikap menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan berusaha menjahuinya, serta menggantikannya dengan perbuatan baik. Menurut Imam al-Nawawi dalam Riyadhush shalihin, tobat itu wajib bagi setiap dosa. Apabila seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah swt., ada 3 syarat yang harus dipenuhi, pertama,
51 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Pres, 2013), h. 149.
meninggalkan maksiat; kedua, menyesali perbuatannya; dan ketiga berjanji untuk tidak melakukan maksiat kembali.52
Apabila dosa tersebut berkenaan dengan hak manusia, tiga syarat tersebut di tambah satu hal, yaitu keempat, mengembalikan hal tersebut kepada pemiliknya. Dalam hal ini, apabila berbentuk harta atau sejenisnya, harus mengembalikan harta tersebut. Apabila berbentuk tuduhan, harus meminta maaf kepada orang yang di tuduh. Adapun berbentuk ghiba, harus meminta halalnya.
3) Husnuzhan (Baik sangka)
Husnuzhan terhadap keputusan Allah swt. merupakan salah satu akhlak terpuji. Diantara ciri akhlak terpuji ini, adalah ketaatan yang sungguh-sungguh kepada-Nya. Karena sesungguhnya, apa yangdi tentukan oleh Allah kepada seorang hamba, adalah jalan terbaik baginya.53
Maka dari itu kita sebagai umat muslim wajib untuk taat kepada Allah dan selalu berprasangka baik terhadap ketentuan yang diberikan Allah kepada kita.
4) Dzikrullah
Secara etimologi, dzikir berakar dari kata dzakara yang artinya mengingat, memerhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti, dan ingatan.
Dzikrullah adalah ibadah yang ringan dan mudah untuk dilakukan. Akan tetapi di dalamnya tersimpan hikma dan pahala yang besar, berlipat ganda.
52 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak (Jakarta: Amzah, 2016), h. 183.
53 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 185.
Al-Qusyairi dalam risalah Al-Qusyairiyah, menjelaskan bahwa dzikir adalah rukun (tiang) yang paling kuat sebagai jalan menuju Allah swt., atau bahkan sokoguru tarikat. Artinya, seorang tidak akan bisa sampai kepada Allah, apabila tidak menjalankan dzikir secara terus menerus.54
Dengan melakukan zikir setiap hari berarti kita selalu mengingat Allah swt. dan selalu berusaha untuk menjahui segala larangan-Nya serta mendekatkan diri kepada-Nya.
5) Tawakkal
Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berbuat semaksimal mungkin, untuk mendapatkan sesuatu yang di harapkan. Oleh karena itu, syarat utama bagi seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu yang diharapkannya, ia harus berusaha sekuat tenaga, kemudian menyerahkan ketentuannya kepada Allah swt.
Menurut al-Ghazali tahuid merupakan landasan dari bagi tawakkal.
Sementara itu, tawakkal mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pemahaman mnusia akan takdir, ridha, ikhtiar dan do’a. tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah swt., untuk mrendapatkan kemaslahatan serta mencegah kemunduran, baik menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat.55
54 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 187.
55 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 189.
Sebagai orang yang beriman kita wajib bertawakkal kepada Allah, karena dengan tawakkal kepada Allah berarti kita sudah menyerahkan semua urusan kepada Allah baik di dunia maupun di akhirat.
6) Tadharru (merendahkan diri kepada Allah)
Tadharru adalah merendahkan diri kepada Allah swt. Beribadah atau memohon kepada Allah hendaklah dengan cara merendahkan diri kepada-Nya, dengan sepenuh hati mengucapkan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, dan memuja asma Allah swt.56
Orang yang tadharru, hatinya bergetar apabila mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, imannya bertambah, dan bertawakkal. Mereka juga menjalankan segala perintah Allah dan menjahui segala larangan-Nya.
b. Akhlak terhadap sesama manusia
Adapun akhlak terhadap sesama manusia adalah sebagai berikut:
1) Akhlak terhadap Rasulullah saw
Nabi Muhammad saw. adalah Nabi utusan Allah swt. yang harus dimuliahkan oleh seluruh umat Islam. Setiap orang beriman haruslah menyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir, penutup semua nabi dan rasul, tidak ada Nabi sesudah Nabi Muhammad saw. Beliau diutus oleh Allah swt. untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat.
Kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin.
56 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 191.
Oleh karena itu, memuliakan dan menghormati Rasulullah menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam.57
Di antara akhlak kepada Rasulullah saw. adalah Sebagai berikut:
a) Mencintai Rasulullah sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa’/4: 69.
ِذ َّ
لا َع َم َكِٕىٰۤلو ُ ا َ
ف َ
ل ْو ُس َّرلا َو َ ٰ
للّا ِع ِطُّي ْن َم َو َنْي ِقْي ِ د ِ صلاَو َنّٖ يِبَّنلا َنِ م ْم ِهْي َ
لَع ُ ٰ للّا َم َعْن َ
ا َنْي ا ً
قْي ِف َر َكِٕىٰۤلو ُ
ا َن ُس َح َو ۚ َنْي ِحِل ٰصلا َو ِءۤا َدَه ُّشلاَو
Terjemahnya:
“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para pencinta kebenaran, orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”58
Ketika seseorang mencintai Rasulullah maka kelak dia akan dikumpulkan bersama dengan beliau dan orang-orang yang mencintai beliau.
b) Mengikuti dan menaati Rasulullah
Diantara akhlak kepada Rasulullah ada mengikuti dan menaati apa yang di perintahkan dan di ajarkan Rasulullah saw. Mengikuti dan menaati rasulullah adalah salah satu bukti bahwa seseorang mencintai Allah swt., Tuhan semesta alam.59
Kita sebagai orang yang beriman wajib untuk mengikuti dan menaati Rasulullah saw. sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah swt., karena barang siapa yang taat kepada Rasulullah berarti dia sudah menaati Allah.
c) Mengucapkan Shalawat dan Salam kepada Rasulullah
Sebagaimana dalam firmna Allah dalam QS Al-Ahzab/33: 56.
57 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 193-194.
58 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 89.
59 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 195.
ا ْو ُم ِ ل َس َو ِهْي َ لَع ا ْو ُّ
ل َص ا ْوُن َم ٰ ا َنْي ِذ َّ
لا اَهُّي َ
آٰي ِ ي ِب َّنلا ىَلَع َنْوُّل َصُي ٗهَتَكِٕىٰۤلَمَو َ ٰللّا َّنِا اًم ْيِل ْس َ
ت
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”60
Dengan membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah saw., berarti seseorang mencintai beliau, karena memebaca shalawat dan salam adalah mendo’akan, menyebut, dan juga mencintai Rasulullah saw. Bahkan Allah dan para malaikat-Nya juga mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau.
2) Akhlak terhadap diri sendiri
Islam mengajarkan agar manusia menjaga diri meliputi jasmani dan rohani. Organ tubuh kita harus dipelihara dengan memberikan konsumsi makanan yang halal dan baik. Apabila kita memakan makanan yang tidak halal dan tidak baik, berarti kita telah merusak diri sendiri. Akal kita juga perlu dipelihara dan dijaga agar tertutup oleh pikiran kotor. Jiwa harus di sucikan agar menjadi orang yang beruntung.61
Banyak cara untuk berakhlak terhadap diri sendiri diantaranya:
a) Sabar
Sabar menurut terminology adalah keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan, pendiriannya tidak berubah bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi. Al-Qusyairi menyebutkan bahwa sabar adalah lebur (fana) dalam cobaan, tanpa
60 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 426.
61 Pendidikan Guru Skolah Dasar (PGSD), Jurnal Pesona Dasar, Vol I (Universitas Syiah Kuala, 2015), h. 83.
menampakkan keluhan sedikitpun. Sikap sabar dilandasi oleh anggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan iradah Tuhan.62
Orang yang sabar dan menjaga kebersihan hati dengan mengendalikan hawa nafsunya, ia akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan.
b) Syukur
Syukur secara etimologi adalah membuka dan menyatakan. Adapun menurut terminologi, syukur adalah menggunakan nikmat Allah untuk taat kepada Allah, dan tidak menggunakannya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt.63
Syukur merupakan pengetahuan yang membangkitkan kesadaran, bahwa satu-satunya pemberi nikmat adalah Allah swt. kedudukan syukur mengisyaratkan kesadaran ihwal keluasan rahmat Allah atas hamba-hambahnya.64
Bentuk syukur terhadap nikmat yang Allah berikan tersebut, adalah dengan cara menggunakan nikmat Allah swt. itu dengan sebaik-baiknya.
Adapun karunia yang di berikan oleh Allah swt. harus kita manfaatkan dan kita pelihara, seperti pancaindra, harta benda, dan ilmu pengetahuan.
c) Amanah (Setia)
Menurut etimologi, amanat adalah kesetian ketulusan hati kepercayaan (tsiqah), atau kejujuran. Amanat merupakan kebalikan dari khianat. Adapun menurut terminologi, amanat adalah suatu sifat dan sikap pribadi yang setia,
62 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 198.
63 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 201-202.
64 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 202.
jujur, dan tulus hati dalam melaksanakan suatu hak yang di percayakan kepadanya, baik hak itu milik Allah (haqullah) maupun hak hamba (haqul adam).65
Oleh karena itu, sifat amanah dapat disimpulkan bahwa, memelihara dan melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Sifat amanah juga adalah suatu tugas yang berat dipikul, kecuali bagi orang yang memiliki sifat dan sikap amanah.
d) Shidqu (Jujur)
Shidqu secara etimologi berarti jujur, benar. Adapun yang dimaksud jujur, adalah memberitahukan, menuturkan sesuatu dengan sebenarnya, sesuai dengan fakta (kejadian)nya. Pemberitahuan ini tidak hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam perbuatan. Dengan demikian, shidqu adalah berlaku benar dan jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan.66
Orang yang menanamkan sifat benar atau jujur akan mendapatkan manfaat baik dalam hidupnya. Antara lain perasan tenang, dijauhkan dari perilaku melanggar norma, dan dapat dipercaya orang lain.
e) Wafa’ (Menepati janji)
Dalam ajaran Islam, janji adalah utang yang harus di bayar. Apabila kita mengadakan perjanjian pada suatu waktu, kita harus menunaikannya tepat pada waktunya. Artinya jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi, dalam padangan Allah swt. kita termasuk orang yang bersalah dan berdosa.67
65 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 203-204.
66 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 205.
67 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 207.
Menepati janji adalah kewajiban setiap umat muslim, sebab jika ia tidak menepati janjinya dia akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.
f) Al-Iffah (Memelihara kehormatan diri)
Iffah adalah menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah, dan memelihara kehormatan. Upaya memelihara kesucian diri hendaknya dilakukan setiap hari agar diri tetp terjaga kesuciannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memelihara hati (qalbu) untuk tidak membuat rencana dan angan-angan yang buruk.68
Di dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk memiliki sifat al-Iffah.
Karena dengan sifat al-Iffah kita akan menjahukan diri kita dari meminta-minta dan sifat yang tidak pantas lainnya.
g) Ihsan (Berbuat baik)
Ihsan ialah berbuat baik dalam hal ketaatan terhadap Allah swt. Adapun secara kaifiyatnya, adalah menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, atau jika tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kita. Jadi, selain mengerjakan perintah-perintah yang wajib, ihsan juga mengamalkan hal-hal yang sunnah. Berbuat ihsan juga akan dapat menciptakan suasana yang harmonis dalam hubungan dengan masyarakat. 69
Seseorang yang mempunyai sifat ihsan akan mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain dan mencurahkan kabaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan, dan badannya.
h) Al-Haya’ (Malu)
68 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 208.
69 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 209-210.
Al-haya’ adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang tidak baik. Orang-orang yang memiliki sifat malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut atau tidak baik akan terlihat gugup, misalnya wajah menjadi merah. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki rasa malu, akan melakukan hal tersebut dengan tenang tanpa ada rasa gugup sedikit pun.
Sifat malu dapat dibagi menjadi tiga jenis, pertama, malu kepada Allah swt., kedua, malu kepada diri sendiri, dan ketiga, malu kepada orang lain.70
Seseorang yang mempunyai sifat malu akan mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang mencoreng jiwa dan martabat dirinya.
3) Akhlak terhadap keluarga
Akhlak terhadap keluarga meliputi ayah, ibu, anak, dan keturunannya.
Kita harus berbuat baik kepada anggota keluarga terutama kepada orang tua. Ibu yang telah mengandung, menyusui, dan mengasuh kita memberikan kasih sayang yang tiada tara.
Begitu juga ayah dialah sosok seorang pria yang hebat dalam hidup yang telah menafkahi kita tanpa memperdulikan panasnya terik matahari, maut yang akan menghadang demi anak apapun akan dilakukan, mendidik kita tanpa lelah meski terkadang kita melawan perintahnya ia tidak pernah bosan memberi yang terbaik agar anakanya selamat dunia dan akhirat, menyekolahkan anaknya hingga sukses. Tak pernah lupa dalam do’a mereka untuk kita.71 Akhlak terhadap keluarga antara lain:
70 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 212-213.
71 Pendidikan Guru Skolah Dasar (PGSD), Jurnal Pesona Dasar, Vol I (Universitas Syiah Kuala, 2015), h. 85.
a) Birrul Waalidain (Berbakti kepada kedua orang tua)
Di antara akhlak terhadap keluarga adalah berbakti kepada kedua orang tua.
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan amal shaleh paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim, juga merupakan do’a seseorang. Salah satu keutamaan berbuat baik kepada kedua orang tua, selain sebagai wujud ketaatan atas perintah Allah swt., adalah menghapus dosa-dosa besar.72
Setiap muslim wajib mentaati perintah kedua orang tua dengan cara menghormati kedua orang tua dan menyanyanginya, hal ini menujukkan betapa muliahnya kedudukan orang tua.
b) Bersikap baik kepada saudara
Ajaran Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada sanak saudara, setelah menuaikan kewajiban kepada Allah swt. dan kedua orang tua. Apabila mereka memerlukan pertolongan yang bersifat materi, bantulah dengan materi. Apabila mereka mengalami kegelisahan, cobalah menghibur atau menasehati. Sebab, bantuan itu tidak hanya berwujud materi (benda), tetapi juga bantuan moril. Terkadang bantuan moril lebih besar artinya daripada bantuan materi.73
Bersikap baik kepada saudara sangat dianjurkan dalam Islam apalagi saudara adalah orang yang paling dekat dengan kita. Dan Allah juga menjanjikan pahala bagi orang yang membantu saudaranya.
c) Membina dan mendidik keluarga
Membina dan mendidik keluarga merupakan akhlak mulia. Pendidikan dalam keluarga menjadi tanggung jawab kepala keluarga. Namun demikian
72 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 214.
73 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 216.
seluruh anggota keluarga juga tidak lepas dari tanggung jawab tersebut, agar tercipta pendidikan yang mulia dan sesuai dengan ajaran Islam yang dikehendaki Allah. Pendidikan keluarga dengan landasan pendidikan Islam, haruslah menjadi prioritas dalam sebuah keluarga muslim. Sebaliknya, pendidikan keluarga yang mengabaikan perintah Allah adalah contoh pendidikan yang buruk dan tercela.74
d) Memelihara keturunan.
Keluarga adalah penerus keturunan yang harus dipelihara dengan baik, sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, untuk memelihara keturunan dengan tetap berpegang kepada ajaran agama Islam. Dengan demikian, hal tersebut merupakan akhlak yang mulia yang dianjurkan Allah swt.75
Dengan demikian, Isla>m jelas mengatur tata pergaulan hidup dalam keluarga yang saling menjaga akhlak. Sebab, dalam Isla>m semua anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang sama-sama harus dilaksanakan. Seluruh anggota keluarga berperan untuk memberikan kontribusi menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Hal ini akan terwujud hanya jika semua menjalankan hak dan kewajiban berdasarkan akhlak al-karimah.
4) Akhlak terhadap masyarakat
Adapun akhlak terhadap masyarakat antara lain:
74 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 218.
75 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 218
a) Berbuat baik kepada tetangga
Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita. Dalam hal ini, dekat bukan karena pertalian darah atau pertalian persaudaraan. Meskipun mungkin tidak seagama dengan kita. Dekat di sini, adalah orang yang tinggal berdekatan dengan rumah kita.
Para ulama membagi tetangga menjadi tiga macam. Pertama, tetangga muslim yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Tetangga semacam ini mempunyai tiga hak yaitu sebagai tetangga, hak Islam, dan tetangga hak kekerabatan. Kedua, tetangga muslim tetapi bukan kerabat. Tetangga semacam ini mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan hak Islam. Ketiga, tetangga kafir walaupun kerabat. Tetangga semacam ini hanya mempunyai satu hak, yaitu hak tetangga saja.76
Di dalam agama Islam sangat dianjurkan berbuat baik kepada tetangga karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim. Sampai-sampai Allah dan Rasulnya menekankan untuk berbuat baik terhadap tetangganya.
b) Ta’awun (Saling menolong)
Ta’awun adalah sikap saling menolong terhadap sesama. Dalam hidup ini, tidak ada orang yang tidak memerlukan pertolongan orang lain. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, manusia tidak dapat hidup sendirian. Ia membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain, meskipun ia orang kaya atau mempunyai kedudukan tinggi.77
76 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 219-220
77 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 221-222
Tolong-menolong terhadap sesama muslim, adalah akhlak dan perbuatan terpuji, selama dilakukan dalam hal kebaikan. Oleh karena itu, saling membantu dan memberikan pertolongan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.
c) Tawadhu (Merendahkan diri terhadap sesama)
Tawadhu adalah memelihara pergaulan dan hubungan dengan sesama manusia, tanpa merasakan melebihkan diri sendiri di hadapan orang lain.
Selain itu, tawadhu juga mengandung pengertian tidak merendahkan orang lain. Tawadhu tidak akan menjadikan seseorang menjadi rendah dan tidak terhormat, sebaliknya akan menyebabkan diri memperoleh ketinggian dan kemuliaan.78
Oleh karena itu, orang yang tawadhu terhadap sesama manusia, ia akan disenangi, disegani, dan di hormati orang lain dalam pergaulan.
d) Hormat kepada teman dan sahabat
Sikap hormat kepada teman dan sahabat merupakan sikap terpuji dalam akhlak Islam. Karena teman dan sahabat adalah orang yang kita ajak bergaul dalam kehidupan, berbuat baik terhadap teman dan sahabat sangat dianjurkan.
Sikap hormat kepada teman dan sahabat ini telah diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada para sahabatnya.79
Akhlak terhadap teman dan sahabat hendaklah mengedepankan nilai-nilai budi pekerti yang mulia, di samping bersumber kepada petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.
78 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 222-223.
79 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 223.
e) Silaturahim dengan kerabat.
Silaturahim adalah menyambung kekerabatan. Istilah ini menjadi sebuah simbol dari hubungan baik penuh kasih sayang antara sesama kerabat yang asal-usulnya berasal dari satu rahim.80
Di samping meningkatkan hubungan kekerabatan, silaturahim juga memberi manfaat lain yang lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara silaturahim adalah mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah swt., dapat memudahkan masuk surga dan jauh dari neraka, melapangkan rezeki, serta panjang umur.
5) Akhlak terhadap lingkungan hidup
Adapun akhlak terhadap lingkungan hidup antara lain:
a) Lingkungan Alam dan Sekitar
Allah swt. menciptakan alam semesta dan segala isinya; daratan, lautan, angkasa, flora, fauna, adalah untuk kepentingan manusia. Manusia sebagai khalifah Allah, diamanati untuk melakukan usaha-usaha agar alam semesta dan segala isinya tetap lestari. Pada dasarnya, Al-Qur’an mengajarkan manusia agar berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada lingkungan.81
Menjaga lingkungan akan menciptakan hubungan interaksi yang baik pula bagi binatang, tumbuhan, dan benda-benda yang tidak bernyawa. Jadi, segala sesuatu yang berkenaan dengan lingkungan hendaknya dijaga kelestariannya untuk kepentingan bersama.
80 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 224.
81 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, h. 226-227
b) Cinta kepada Tanah air dan Negara
Tanah air adalah tempat kita dilahirkan, tempat kita tinggal, dan tempat hidup dengan keluarga dan sanak saudara. Dari Negara yang kita tempati ini, Indonesia, airnya kita minum, hasil buminya kita makan, udaranya kita hirup.
Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mencintai dan menjunjung tinggi keberadaan Negara kita. Negara ini harus diselamatkan oleh setiap penduduk dan warga negaranya. Ibarat sebuah rumah tinggal, keberadaannya wajib di jaga dan di pertahankan dari setiap rongrongan yang akan menghancurkannya.
Dengan demikian, akhlak penduduk dan warga negaranya yang beragama Islam, harus mencintai dan ikut menegakkan keberlangsungan Negara Indonesia tercinta. Menjadi bagian dari ajaran akhlak yang baik bagi seorang muslim, untuk ikut mengisi kemerdekaan dengan amal kebaikan, termasuk dengan menaati Allah, rasul, dan para pemimpin (Ulil amri).82
Cinta kepada tanah air dan Negara adalah akhlak yang terpuji yang sangat ditekankan dalam Islam karena Raulullah sendiri yang menekankan untuk cinta kepada tanah air dan Negara.