BAB III METODE PENELITIAN
3.2 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Sumut cabang Kota Tebing Tinggi dan akan berlangsung selama beberapa bulan, dimulai dari bulan Juni 2017 hingga selesai.
32
3.3 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan.
Adapun definisi operasional variabel penelitian seperti yang terdapat pada tabel dibawah ini:
3.3.1 Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat yang disebabkan atau dipengaruhi oleh adanya variabel bebas atau independen. Dalam penelitian ini variabel terikat (dependen) yang digunakan adalah pendapatan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Pendapatan UMKM adalah jumlah pendapatan yang diperoleh pelaku UMKM sebelum dan setelah menerima KUR.
3.3.2 Variabel Independen
Variabel Independen atau variabel bebas yaitu yang mempengaruhi variabel terikat. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah KUR, Dampak, dan Efektivitas.
- KUR adalah kredit atau pembiayaan kepada UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif.
- Dampak adalah benturan,pengaruh yang mendatangkan akibat baik positif maupun negatif.
- Efektivitas adalah adalah sesuatu yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil dan merupakan keberhasilan
dari suatu usaha atau tindakan dalam hal ini efektivitas dapat dilihat dari tercapai tidaknya suatu instruksional khusus yang telah dicanangkan.
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 Populasi
Populasi yang penulis gunakan sebagai objek penelitian adalah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Sumut cabang Tebing Tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 jumlah UMKM penerima KUR sebanyak 35 nasabah debitur dan seluruh jumlah ini yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini.
3.4.2 Sampel
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik sampling jenuhyang artinya adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan apabila jumlah populasi relatif kecil, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil atau biasa disebut dengan sensus dimana semua anggota populasi dijadikan sampel (Sugiyono, 2012: 85). Dalam penelitian ini mengukur tentang efektivitas dan dampak KUR, maka sumber datanya adalah pelaku UMKM yang menerima KUR (dalam hal ini 35 orang).
Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 134) apabila subjeknya kurang dari 100 maka lebih baik diambil semuanya. Penggunaan sampling jenuh pada penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu: (1) jumlah populasi yang relatif kecil, (2) dapat memperoleh informasi yang lengkap tentang ciri dan
sifat populasi, (3) dan dapat menghasilkan gambaran yang lengkap dan dapat dipercaya tentang KUR pada PT Bank Sumut Cabang Tebing Tinggi oleh nasabah debitur.
Adapun Usman Rianse dan Abdi (2011: 210) menuliskan kelebihan menggunakan sampling jenuh adalah simpulan penelitian memberikan gambaran yang komprehensif tentang populasi. Karena dalam penelitian ini menggunakan seluruh populasi sebagai sampel penelitian, maka dapat juga disebut penelitian populasi.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pengumpulan data dengan wawancara melalui kuesioner yaitu melakukan wawancara dengan membuat daftar pertanyaan yang relevan dengan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.
Metode ini ditujukan kepada pelaku UMKM penerima KUR Bank Sumut cabang Tebing Tinggi untuk menggali informasi terkait penelitian ini.
Apabila dipandang dari bentuknya, maka jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan skala Guttman atau disebut juga dengan skala sederhana. Menurut Sugiyono (2012: 96) Skala Guttman digunakan apabila ingin mendapatkan jawaban yang jelas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Riduwan (2010: 91) menjelaskan bahwa skala guttman adalah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.
Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan ataupun pernyataan.
Tabel 3.1 Skala Guttman
Interval Nilai
Tidak 1
Ya 2
Sumber : Darwin (2010:54)
Dengan adanya skala guttman, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan maupun pernyataan. Instrumen penelitian yang menggunakan skala Guttmen ini dapat dibuat dalam bentuk checklist atau pilihan berganda. Skala Guttman merupakan skala yang memberikan respon yang tegas dan terdiri atas dua alternatif jawaban, yaitu “ya”atau “tidak”. Kedua opsi tersebut mempunyai skor masing-masing adalah 1 untuk jawaban “ya” dan 0 untuk jawaban “tidak”. Adapun total skor dari masing-masing responden adalah hasil penjumlahan skor dari seluruh butir yang tersedia. Untuk setiap penelitian dalam angket penelitian ini disediakan 2 jawaban dengan kiteria skor sebagai berikut:
Tabel 3.2
Kriteria Skor Alternatif Skala Guttman
Pertanyaan Ya Tidak
Positif (skor) 1 0
Negatif (skor) 0 1
Sumber : Darwin (2010:54)
3.6 Teknik Analisis Data 3.6.1 Analisis Deskriptif
Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisa deksriptif. Menurut Sugiyono (2012:
148) analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa datadengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimanaadanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
3.6.2 Uji Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin di ukur (Singarimbun dan Effendi: 1989).
Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan nilai r hasil corrected Item Total Correlation.
Pengujian dilakukan dengan software IBM SPSS Statistis 22 dengan kriteria sebagai berikut :
1. Jika , maka pertanyaan dinyatakan valid.
2. Jika , maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat pengukur (Nazir: 2005). Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk
mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliabel atau handal apabila jawaban seseorang terhadap pertanyaan atau pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2013: 47).
Uji reliabilitas berhubungan dengan konsistensi jawaban kuesioner.
Dalam penelitian ini reabilitas diukur dengan menggunakan metode Alpha Cronbach dengan menggunakan program software IBM SPSS Statistis 22,
nilai alpha yang diperoleh akan dibandingkan dengan Apabila nilai alpha lebih besar daripada , maka interumen tersebut dapat disebut reliebel. Indikator pengukuran reliabilitas yang dibuat J.P. Gurlford dengan taraf kepercayaan 95% dengan kriteria adalah sebagai berikut :
0,00 0,20 : Reliabilitas sangat rendah 0,20 0,40 : Reliabilitas rendah 0,40 0,60 : Reliabilitas sedang/cukup 0,60 0,80 : Reliabilitas tinggi
0,80 1,00 : Reliabilitas sangat tinggi.
3.6.3 Analisis Efektivitas
Untuk menganalisis efektivitas program bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap pendapatan UMKM dipergunakan metode statistik sederhana.
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menghitung tingkat efektivitas adalah sebagai berikut (Halim, 2004).
Keterangan:
Realsisasi : Jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan
Target : Seluruh responden UMKM yang mendapatkan KUR Efektivitas menggambarkan kemampuan dalam merealisasikan target yang direncanakan dan ditetapkan berdasarkan potensi. Tingkat efektivitas dikategorikan sebagai berikut:
Tabel 3.3 Kategori Efektivitas
Persentase Kriteria
Lebih dari 100% Sangat Efektif
80% - 100% Efektif
60% - 79,99% Cukup Efektif 40% - 59,99% Kurang Efektif Kurang dari 40% Tidak Efektif Sumber : Darwin (2010:62)
3.6.4 Uji Mc Nemar
Uji Mc Nemar digunakan untuk menentukan perubahan perubahan dalam proporsi bagi sampel-sampel yang berhubungan. dan untuk penelitian yang membandingkan sebelum dan sesudah peristiwa. Dalam penelitian ini metode Mc Nemar digunakan untuk menentukan perubahan tingkat pendapatan sebelum dan sesudah menggunakan program KUR Bank Sumut Cabang Tebing Tinggi.
Dengan Uji Statistik:
Dalam penelitian ini digunakan uji Mc Nemaruntuk menguji perbandingan tingkat pendapatan pelaku UMKMsebelum dan sesudah menggunakan program KUR pada Bank Sumut Cabang Tebing Tinggi. Pengujian dilakukan dengan software SPSS Statistis 17.0. Uji Mc Nemarberdistribusi Chi Kuadrat (χ2) dan
(| | ) ( )
rumus yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah rumus Chi kuadrat.
Apabila p value > α = 0,05 maka dinyatakan tidak signifikan, sedangkan apabila p value α = 0,05 maka dinyatakan signifikan (Sugiyono, 2010).
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Sejarah PT. Bank Sumut
PT. Bank SUMUT dahulu dikenal sebagai Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU) didirikan pada tanggal 4 November 1961 dengan Akte Notaris Rusli Nomor 22 dalam bentuk Perseroan Terbatas. Berdasarkan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 1962 tentang ketentuan pokok bank pembangunan daerah, bentuk badan usaha diubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sesuai dengan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara nomor 5 Tahun 1965, dengan modal dasar sebesar Rp 100 Juta dan saham dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah daerah Tingkat II Sumatera Utara.
Dalam perjalanan sejarahnya BPDSU mengawali usahanya dengan berkantor menyewa satu lantai rumah toko (ruko) disebuah gedung milik Sutan Naga di Jl. Palang Merah No.62 Medan, yang kemudian hari dikembangkan ke No.64-66, dimana pada saat itu lantai dua masih dipakai pemilik sebagai kantornya. Tidak ada merk BPDSU didinding depan ruko tersebut, yang ada hanya tulisan “Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara” yang ditulis dengan kapur tulis dan digantung dekat pintu masuk. Baru dalam pertengahan tahun 1967 setelah BPDSU berlaba, gudang kantor yang disewa tersebut dibeli dan menjadi milik sendiri.Setelah lebih kurang 13 tahun berkantor di Jl. Palang Merah, maka pada tahun 1975, gedung baru kantor Pusat BPDSU yang terletak di Jl. Imam Bonjol No.7 Medan. Selanjutnya, pada tahun 1984, atas petunjuk Gubernur
41
Kaharuddin Nasution, dilakukan pembelian tanah eks Konsultan Inggris di Jl.
Imam Bonjol No.18 Medan. Dan setelah menghabiskan waktu pembangunan lebih kurang 29 bulan, maka 20 April 1989 Menteri Dalam Negeri telah meresmikan gedung baru Kantor Pusat dan Kantor Cabang Utama Medan yang berlantai 12 cukup megah dan representative yang terletak dijantung bisnis Kota Medan (Wall Street).
Pada tahun 1999, bentuk hukum BPDSU dirubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara atau lebih dikenal dengan nama PT. Bank Sumut yang berkedudukan dan berkantor pusat di Medan, JL. Imam Bonjol No. 18 Medan. Modal dasar pada saat itu menjadi Rp.
400 Milyar yang selanjutnya dengan pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan Bank, di tahun yang sama modal dasar kembali ditingkatkan menjadi Rp. 500 Milyar,
Laju pertumbuhan Bank Sumut kian menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan diliat dari kinerja dan prestasi yang di peroleh dari tahun ke tahun, tercatat total asset Bank Sumut mencapai Rp. 10,75 Triliun pada taun 2009 dan menjadi Rp. 12,76 Triliun pada tahun 2010. Didukung semangat menjadi Bank Profesional dan tangguh menghadapi persaingan dengan digalakkanya program to be the best yang sejalan dengan road map BPD Regional Champion 2014, tentunya dengan konsekuensi harus memperkuat permodalan yang tidak lagi mengandalkan peryertaan saham dari pemerintah daerah, melainkan juga membuka akses permodalan lain seperti penerbitan obligasi, untuk itu modal dasar Bank Sumut kembali ditingkatkan dari Rp. 1 Triliun pada tahun 2008
menjadi Rp. 2 Triliun pada tahun 2011 dengan total asset meningkat menjadi Rp.
18,95 Triliun.
Hingga saat ini asset PT. Bank Sumut telah mencapai Rp. 27 Triliun dengan dukungan 200 unit kantor yang terdiri dari Kantor Cabang Utama, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas, serta payment point, dengan cakupan wilayah kerja hingga DKI Jakarta (Cabang Atrium Senen, Cabang Melawai dan Capem Cideng). Untuk mendukung layanan syariah, sejak tahun 2004 Bank Sumut juga telah membuka Unit Usaha Syariah yang saat ini telah memiliki 18 Kantor Cabang dan Cabang Pembantu dengan asset telah mencapai Rp. 1,5 Triliun. Dalam rangka mendukung layanan jasa perbankan kepada nasabah ataupun masyarakat ATM Bank Sumut juga telah tergabung dengan jaringan ATM Bersama, BANKCARD Malaysia, pembelian pulsa, pembayaran listrik dan air, dan berbagai macam jasa perbankan lainnya.
4.2 PT. Bank Sumut Cabang Tebing Tinggi
PT. Bank SUMUT Cabang Kota Tebing Tinggi resmi beroperasi pada tanggal 20 Oktober 1976. Kantor Cabang ini berada di pusat kota Tebing Tinggi yang beralamat di Jl. Dr. Sutomo No.26 Tebing Tinggi. Kantor ini diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara yang menjabat pada saat itu yaitu Kaharuddin Nasution pada tanggal 7 September 1976. Kantor cabang ini memiliki dua kantor cabang pembantu yaitu Kantor Cabang Pembantu Dolok Masihul dan Cabang Pembantu Pasar Bunga.
4.3 Visi Misi dan Statement Budaya PT. Bank Sumut 4.3.1 Visi PT. Bank Sumut
Visi dari PT. Bank Sumut adalah menjadi bank andalan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah dari segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan taraf hidup rakyat.
4.3.2 Misi PT. Bank Sumut
Misi dari PT. Bank SUMUT adalah mengelola dana Pemerintah dan masyarakat secara professional yang didasarkan pada prinsip–prinsip compliance.
4.3.3 Statement Budaya PT. Bank SUMUT
Statement budaya perusahaan atau yang sering dikenal dengan nama motto dari PT. Bank SUMUT adalah memberikan pelayanan terbaik. Adapun penjabaran dari kata TERBAIK adalah sebagai berikut:
Berusaha untuk selaluTerpercaya
Energik di dalam melakukan setiap kegiatan Senantiasa bersikap Ramah
Membina hubungan secara Bersahabat
Menciptakan suasana yang Aman dan nyaman
Memiliki Integritas Tinggi
Komitmen penuh untuk memberikan yang terbaik.
4.4 Analisis Deskriptif
Keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 50 orang pelaku UMKM di Kota Tebing Tinggi. Aspek-aspek yang diteliti dalam penelitian ini dapat dilihat seperti berikut:
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 29 orang (persentase 82,9%) dan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 6 orang (persentase 17,1%). Hal ini menggambarkan bahwa pelaku UMKM yang menerima KUR didominasi oleh jenis kelamin laki-laki. Untuk lebih jeas dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
1. Laki-Laki 29 82,9 %
2. Perempuan 6 17,1 %
Total 35 100 %
Sumber : Hasil Olahan Data
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa jumlah responden yang berada pada usia rentang 20-29 tahun sebanyak 6 orang (17,1%), rentang 30-39 tahun sebanyak 16 orang (45,7%), rentang 40-49 tahun sebanyak 12 orang (34,3%), dan hanya 1 orang responden yang berusia rentang 50-59 tahun (2,9%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki usia
rentang 30-39 tahun lebih dominan daripada rentang usia yang lain. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No. Usia Frekuensi Persentase
1. 20-29 6 17,1%
2. 30-39 16 45,7%
3. 40-49 12 34,3%
4. 50-59 1 2,9%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa jumlah responden yang berpendidikan SD sebanyak 3 orang (8,6%), pendidikan SMP sebanyak 5 orang (14,3%), pendidikan SMA sebanyak 15 orang (42,9%), pendidikan Diploma sebanyak 5 orang (14,3%), dan pendidikan Sarjana sebanyak 7 orang (20%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang paling dominan adalah tingkat SMA daripada tingkat pendidikan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
No. Pendidikan Frekuensi Persentase
1. SD 3 8,6%
Sumber : Hasil Olahan Data
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Usaha
Berdasarkan hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan jenis usaha menunjukkan bahwa jumlah responden yang memiliki jenis usaha di bidang Kuliner sebanyak 17 orang (48,6%), di bidang Fashion sebanyak 5 orang (14,3%), di bidang Otomotif sebanyak 6 orang (17,1%), dan di bidang lainnya sebanyak 7 orang (20%). Hal ini menyimpulkan bahwa pelaku UMKM yang menerima KUR didominasi oleh jenis usaha di bidang Kuliner daripada jenis usaha yang lainnya Untuk lebih jelas dapat dilihat dapat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Usaha
No. Jenis Usaha Frekuensi Persentase
1. Kuliner 17 48,6%
2. Fashion 5 14,3%
3. Otomotif 6 17,1%
4. Lainnya 7 20%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
5. Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan status perkawinan menunjukkan yang mempunyai status belum menikah sebanyak 3 orang (8,6%), status menikah sebanyak 29 orang (82,9%), status cerai hidup sebanyak 1 orang (2,9%), dan yang memiliki status cerai mati sebanyak 2 orang (5,7%). Hal ini sudah jelas bahwa pelaku UMKM penerima KUR yang telah menikah jauh paling banyak atau dominan dibanding status yang lainnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada table 4.5 berikut:
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan
No. Status Frekuensi Persentase
1. Belum Menikah 3 8,6%
2. Menikah 29 82,9%
3. Cerai Hidup 1 2,9%
4. Cerai Mati 2 5,7%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
6. Karakteristik Responden Berdasarkan Lamanya Usaha
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan lamanya usaha bahwa jumlah responden yang telah menjalani usaha mereka selama 1-3 tahun sebanyak 13 orang (37,1%), 3-5 tahun sebanyak 14 orang (40%), dan diatas 5 tahun sebanyak 8 orang (22,9%). Hal ini menunjukkan bahwa usaha yang telah dijalani selama 3-5 tahun lebih banyak dari pada lamanya usaha yang lain. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini:
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Lamanya Usaha No. Lamanya Usaha Frekuensi Persentase
1. 1-3 tahun 13 37,1%
2. 3-5 tahun 14 40%
3. >5 tahun 8 22,9%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
7. Karakteristik Responden Berdasarkan Informasi Tentang KUR
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan informasi tentang KUR menunjukkan bahwa jumlah responden yang mengetahui informasi tentang KUR diperoleh dari Bank/Lembaga Keuangan sebanyak 18 orang (51,4%), dari Internet/Sosial Media
sebanyak 3 orang (8,6%), dan dari Keluarga/Teman sebanyak 14 orang (14%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa informasi tentang KUR yang diperoleh dari Bank/Lembaga Keuangan lebih banyak daripada yang lainnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7
Karakteristik Responden Berdasarkan Informasi Tentang KUR
No. Informasi Frekuensi Persentase
1. Bank/Lembaga Keuangan 18 51,4%
2. Internet/Sosial Media 3 8,6%
3. Keluarga/Teman 14 40%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
8. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Pinjaman KUR
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan lama pinjaman KUR menunjukkan bahwa jumlah responden yang telah meminjam KUR selama <1 tahun sebanyak 23 orang (65,7%), 1 sampai 3 tahun sebanyak 7 orang (20%), dan 3 sampai 5 tahun sebanyak 5 orang (14,3%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa responden yang telah meminjam KUR selama <1 tahun lebih banyak dari waktu yang lainnya.
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Pinjaman KUR
No. Lama Pinjaman Frekuensi Persentase
1. <1 tahun 23 65,7%
2. 1-3 tahun 7 20%
3. 3-5 tahun 5 14,3%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
9. Karakteristik Responden Berdasarkan Plafond Pinjaman KUR
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan plafond pinjaman KUR menunjukkan bahwa jumlah responden meminjam KUR dengan plafond 10.000.000 – 50.000.000 sebanyak 7 orang (20%), plafond 50.000.000 – 100.000.000 sebanyak 12 orang (34,3%), dan plafond diatas 100.000.000 sebanyak 16 orang (45,7%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa jumlah pinjaman dengan plafond diatas 100.000.000 lebih banyak dari jumlah plafond yang lainnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9
Karakteristik Responden Berdasarkan Plafond Pinjaman KUR
No. Plafond Frekuensi Persentase
1. 10.000.000 – 50.000.000 7 20%
2. 50.000.000 – 100.000.000 12 34,3%
3. >100.000.000 16 45,7%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
10. Karakteristik Responden Berdasarkan Pinjaman Pihak Lain
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan pinjaman pihak lain menunjukkan bahwa responden yang tidak memiliki pinjaman pihak lain lebih banyak daripada responden yang memiliki pinjaman pihak lain yakni masing-masing sebanyak 30 orang (85,7%) dan 5 orang (14,3%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada table 4.10 berikut:
Tabel 4.10
Karakteristik Responden Berdasarkan Pinjaman Pihak Lain No. Pinjaman Pihak Lain Frekuensi Persentase
1. Ada 5 14,3%
2. Tidak Ada 30 85,7%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
11. Karakteristik Responden Berdasarkan Kegunaan Meminjam KUR
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan kegunaan meminjam KUR menunjukkan bahwa responden yang menggunakan pinjaman KUR untuk menambah modal usaha sebanyak 16 orang (45,7%), untuk menambah fasiliitas usaha sebanyak 16 orang (45,7%), untuk membayar upah karyawan sebanyak satu orang (2,9%), dan untuk kebutuhan sehari-hari sebanyak dua orang (5,7%). Hal tersebut menyimpulkan bahwa responden meminjam KUR untuk menambah modal usaha dan menambah fasilitas usaha sama banyaknya atau berimbang, dan dari kedua kegunaan tersebut lebih banyak dilakukan reponden daripada kegunaan lain. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11
Karakteristik Responden Berdasarkan Kegunaan KUR
No. Kegunaan KUR Frekuensi Persentase
1. Menambah Modal Usaha 16 45,7%
2. Menambah Fasilitas Usaha 16 45,7%
3. Membayar Upah Karyawan 1 2,9%
4. Kebutuhan Sehari-hari 2 5,7%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
12. Karakteristik Responden Berdasarkan Modal Awal
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan modal awal menunjukkan bahwa responden yang memiliki modal awal untuk melakukan usaha dengan menjual aset sebanyak 10 orang (28,6%), dari hasil tabungan sebanyak 13 orang (37,1%), dari warisan orang tua sebanyak sembilan orang (25,7%), dan dari hasil gadai barang sebanyak tiga orang (8,6%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa modal awal dari hasil
tabungan lebih banyak dari pada modal yang lain yaitu sebanyak 13 orang (37,1%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut:
Tabel 4.12
Karakteristik Responden Berdasarkan Modal Awal
No. Modal Awal Frekuensi Persentase
1. Jual Aset 10 28,6%
2. Hasil Tabungan 13 37,1%
3. Warisan Orangtua 9 25,7%
4. Gadai Barang 3 8,6%
Total 35 100%
Sumber : Hasil Olahan Data
13. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan
Dari hasil tabulasi kuesioner menurut karakteristik responden berdasarkan jumlah karyawan menunjukkan bahwa responden yang memiliki jumlah karyawan hanya satu orang sebanyak delapan orang (22,9%), jumlah karyawan 2-3 orang sebanyak 17 orang (48,6%), 4-5 orang sebanyak 5 orang (14,3%), dan diatas lima orang sebanyak 5 orang (14,3%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki jumlah karyawan 2-3 orang lebih banyak dari pada jumlah yang lainnya yaitu sebanyak 17 orang (48,6%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut:
Tabel 4.13
Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan
Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan