• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN ........................................ Error! Bookmark not defined

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini yaitu uji toksikologi embrio ikan endemik Sulawesi Oryzias celebensis untuk mendeteksi toksisitas plastik jenis stiren.

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pencemaran plastik

Selama beberapa dekade limbah plastik yang dilepaskan ke lingkungan global telah mengalami peningkatan (Gall & Thompson, 2015;Hale, 2017).

Proses degradasi plastik sangat lambat, dan ia dapat hancur menjadi partikel-partikel yang kecil dan tipis di bawah pengaruh jangka panjang radiasi matahari atau faktor-faktor kimiawi,biologi dan fisik. Di perairan laut, plastik yang besar hancur menjadi potongan-potongan kecil dengan ukuran lebih kecil dari mikrometer (Andrady, 2015;Chubarenko et al., 2016) atau disebut dengan debris.

Debris dari plastik ini dipertimbangkan sebagai problem lingkungan yang paling utama (UNEP, 2005); (Gorycka, 2009) dan diidentifikasi bersama dengan perubahan iklim sebagai isu yang baru yang memengaruhi kemampuan manusia untuk mengonservasi keanekaragaman hayati dalam jangka pendek maupun panjang (Sutherland et al., 2011). Item debris plastik dari ukuran mikroskopik sampai ukuran meter ditemukan di habitat bentik dan pelagik di seluruh lautan di dunia hingga di wilayah terpencil seperti di lautan Artik, lautan di bagian Selatan dan laut dalam (Barnes et al., 2009; Browne et al., 2011; Van Cauwenberghe et al., 2013;Obbard et al., 2014).

Debris dari plastik menjadi topik penelitian yang hangat di perairan laut, tapi kurang mendapat perhatian di lingkungan perairan tawar (Wagner et al., 2014;Eerkes-Medrano et al., 2015;Yu et al., 2018). Meskipun pengetahuan tentang mikroplastik yang juga tersebar luas di lingkungan terestrial sebagai hasil dari aktivitas manusia, tetapi penelitian yang mengkuantifikasi mikroplastik di lingkungan terestrial masih sangat kurang. Sebagian dari informasi tentang keberadaan mikroplastik yang berkaitan dengan terestrial dan perairan tawar hanya sebagai sumber dan jalur transportasi mikroplastik ke laut. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan bahwa seluruh plastik digunakan dan dibuang ke tanah, baik lingkungan terestrial dan perairan tawar pada dirinya akan menjadi

sasaran polusi plastik di seluruh ukurannya berdasarkan jumlah sampah antropogenik dari kedua sumber. Dengan demikian sangat mungkin bahwa tanah akan bertindak sebagai tempat jangka panjang untuk puing-puing mikroplastik (Rillig, 2012; Zubris & Richards, 2005). Oleh karena itu, penting untuk memahami laju pelepasan, rute keberadaan dan transportasi mikroplastik yang masuk baik di lingkungan terestrial maupun perairan tawar untuk menyediakan upaya asesmen bahya dan resiko mikroplastik, dan juga plastik secara umum terhadap ekosistem (Horton et al., 2017).

Debris plastik secara garis besar dikelompokkan menjadi mega debris (>100 mm), makro debris (> 20 mm), meso debris (20-5 mm) dan mikro debris (<

5mm)(Barnes et al., 2009). Mikroplastik meskipun sudah diobservasi sejak awal tahun 1970-an (Carpenter & Smith, 1972), tetapi setelah tahun 2004 istilah mikroplastik baru umum digunakan dalam dunia ilmiah sebagai hasil studi yang dilakukan (Thompson et al., 2004). Mikroplastik sekarang ini secara umum didefinisikan sebagai benda berbahan plastik yang mempunyai dimensi lebih kecil dari 5 mm, meskipun tidak ada batasan ukuran yang lebih kecil yang lebih spesifik telah ditentukan (Arthur et al., 2009; Duis & Coors, 2016). Akan tetapi Browne et al., (2007) mendefinisikan mikroplastik sebagai partikel yang berukuran ≤ 1 mm. Selanjutnya mikroplastik itu akan mengalami degradasi menjadi ukuran yang lebih kecil atau yang disebut dengan nanoplastik. Yang disebut dengan plastik berukuran nano atau nanoplastik adalah plastik dengan ukuran kurang dari 1 µm (da Costa et al., 2016). Andrady, (2011) dan Koelmans et al., (2015) menyebut bahwa partikel plastik kurang dari 100 nm disebut nanoplastik. Sedikit penelitian terhadap nanoplastik karena terbatasnya metodologi untuk mengidentifikasinya (Hidalgo-Ruz et al., 2012);(Imhof et al., 2016).

2.1.2. Efek plastik terhadap organisme perairan

Efek racun mikroplastik telah diteliti dan diinvestigasi sejak akhir 1980-an dan awal 1990-an. Penelitian tentang variasi toksisitas, karakterstik, dan efek letal atau sub letal beberapa mikroplastik telah dilakukan dengan menggunakan

organisme akuatik seperti alga, ciliata, crustacea dan beberapa jenis ikan (Chae &

An, 2017). Mikroplastik dari jenis polivinil klorida (PVC) dengan ukuran partikel 1 μm dapat menghambat rasio pertumbuhan Skeletonema costatum hingga 39,7%

setelah pemaparan selama 96 jam, sedangkan yang berukuran 1 mm tidak memunyai pengaruh terhadap pertumbuhan alga (Zhang et al., 2017). Alasan yang rasional dari toksisitas mikroplastik terhadap S. Costatum yaitu absorbsi dan agregasi yang terjadi pada komunitas S. Costatum (Anbumani & Kakkar, 2018).

Sebaliknya tidak ada inhibisi pertumbuhan Tetraselmis chuii setelah dipapar mikroplastik jenis polietilen (1–5μm) dengan atau tanpa keberadaan copper. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil ukuran partikel mikroplastik semakin kuat daya tosisitasnya (Davarpanah & Guilhermino, 2015).

Di perairan tawar Murphy & Quinn, (2018) mengamati bahwa mikroplastik memunyai efek negatif pada feeding behaviour Hydra attenuata dan memengaruhi morfologinya meskipun tidak berakibat pada kematian.

Mikroplastik dari polystyrene menyebabkan gangguan saraf ikan Nila Oreachromis niloticus dengan penghambatan terhadap aktivitas acetylcholinesterase (Ding et al., 2018). Pemaparan ikan nila dengan mikroplastik polystyrene dengan konsentrasi 1, 10, and 100 μg L−1 selama 14 hari menyebabkan akumulasi mikroplastik di dalam tubuh ikan nila yaitu pada lambung > insang > hati ≈ otak (Ding et al., 2018). Mikroplastik juga diketahui memengaruhi organisme yang hidup di sedimen seperti Chironomus tapperi.

Ziajahromi et al., (2018) memapar C. tapperi dengan polyetelene dengan ukuran (1–4, 10–27, 43–54 and 100–126 μm) dan konsentrasi 500 particles/kgsediment. Hasilnya menunjukkan bahwa efek mikroplastik terhadap C. Tapperi sangat tergantung pada ukuran mikropalstik. Ukuran mikroplastik yang paling berpengaruh buruk pada pertumbhan dan kelangsungan hidupnya yaitu 10–27 μm.

Risiko yang utama berkaitan dengan mikroplastik adalah keberadaan biologisnya bagi organisme laut yang memunyai kapasitas untuk memakan atau menelan plastik seperti Ikan (Lusher et al., 2013), burung (Van Franeker et al., 2011), polikaeta(Wright et al., 2013a), zooplankton (Cole et al., 2013);(Desforges et al., 2015), mussel (Van Cauwenberghe et al., 2015); (Wright et al., 2013b) dan

orgnisme laut dalam (Taylor et al., 2016). Konsumsi mikroplastik dapat menurunkan Darwinian Fitnesses suatu biota seperti berkurangnya proses pemakanan (Cole et al., 2013), hilangnya penyimpanan energi (Wright et al., 2013a), stress hati (Rochman et al., 2013), mereduksi fekunditas (Lee et al., 2013) dan kelangsungan hidup dan secara potensial mikroplastik dapat menjadi agen pemindahan aditif bahan beracun dan pelekatan bahan polutan yang berasal dari perairan ke organisme (Bakir et al., 2014).

2.1.3. Peran uji toksisitas dalam analisis resiko lingkungan bahan pencemar Konsep pendugaan risiko ekologis (PRE) muncul di awal tahuan 1990-an, sebagai suatu proses yang ditujukan untuk mengevaluasi kemungkinan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pemaparan stresor seperti bahan kimia, spesies asing, perubahan fisik dan lain sebagaianya (Suter II, 2016;Van Leeuwen et al., 1996). Sekarang ini proses PRE mendapatkan relevansinya dalam proses pengambilan keputusan, telah disatukan secara progresif dalam kebijakan-kebijakan lingkungan di seluruh dunia, baik sebagai regulasi bagi otoritas maupun marketing untuk bahan-bahan kimia baru (PRE prospektif) dan untuk evaluasi lingkungan-lingkungan yang secara potensial terkontaminasi (PRE retrospektif)(Pereira et al., 2018)

Menurut Van Leeuwen et al., (1996) tahapan dalam PRE adalah identifikasi bahaya yang terdiri dari asesmen pemaparan dan efek; karakteriasi resiko, klasifikasi risiko, analisis keuntungan risiko, reduksi risiko dan monitoring. Pada tahap awal PRE yaitu identifikasi bahaya sampai analisis keuntngan risiko semuanya berbasis pada uji toksisitas. Dari uji toksisitas baik yang dilakukan secara in vitro maupun in vivo akan dihasilkan tingkat kerusakan organisme dari yang dapat pulih sampai yang tidak dapat pulih. Data ini sangat berguna untuk asessmen pemaparan dan efek. Dari data ini dapat dilanjutkan untuk mengkarakterisasi dan mengkalsifikasi risiko. Dalam kaitannya dengan mikroplastik, perlu dilakukan PRE terhadap mikroplastik melalui uji toksisitas.

Hal ini karena mikroplastik memunyai kandungan dan sifat-sifat bahan kimia yang berbeda (Lambert et al., 2017).

2.1.4. Ikan oryzias sebagai hewan model

Menurut Lammer et al., (2009) keunggulan ikan sebagai hewan model dalam pedoman ekotoksisitas dan penilaian risiko lingkungan memiliki beberapa alasan:

1. Lingkungan perairan merupakan tempat tenggelam atau larutnya banyak bahan kimia, sebagaimana diilustrasikan oleh kejadian tingginya level pencemaran dan seringnya kejadian tumpahan minyak.

2. Ikan memainkan peranan yang penting di dalam jaring-jaring makanan akuatik dengan proses pengaturan tinggi rendahnya nutrien dan aliran energi.

3. Ikan sudah sering digunakan sebagai organisme sentinel untuk kualitas air yang digunakan sebagai air baku air minum untuk manusia

4. Adanya kejadian kematian ikan adalah sesuatu yang nyata secara publik dan secara sosiologis mengindikasikan kepada masyarakat pentingnya melindungi perairan alami dari bahan pencemar.

5. Ikan adalah sumber makanan utama manusia

6. Ikan memunyai nilai rekreasi yang tinggi di banyak kebudayaan manusia.

Ikan Oryzias adalah ikan yang berukuran kecil yang bersifat ovipar yang berasal dari wilayah Jepang, Taiwan dan Asia tenggara seperti Indonesia (Parenti, 2008). Ikan ini memunyai dua karakteristik yang menyebabkannya sangat bermanfaat untuk uji toksikologi berbagi bahan beracun pada reproduksi. Ikan betina dewasa memijah tiap hari selama 3-4 bulan di laboratorium yang oleh karenanya menyediakan suplai yang terus menerus spesiemen uji untuk berbagai eskperimen, dan korionnya transparan sehingga embrio dapat diobservasi selama perkembangannya tanpa menghilangkan cangkang telur (Leung & Bulkley, 1979).

Di samping itu ikan Oryzias yang dalam bahasa lokal disebut Binnisi, berdasarkan standard yang dikeluarkan oleh American Standard Testing Material (1994), telah memenuhi sebagai hewan model untuk uji toksikologi. Beberapa persyaratan itu adalah sebagai berikut; 1. Memunyai data dasar uji toksikologi yang memerlihatkan sensitivitasnya secara relatif terhadap bahan pencemar

penting dalam sedimen; 2. Memunyai data dasar prosedur tes antar laboratorium;

3. Dalam hidupnya terjadi kontak langsung dengan sedimen; 4. Dapat dengan mudah didapatkan baik dari alam maupun budi daya; 5. Mudah dipelihara pada level laboratorium dan diidentifikasi; 6. Mempunyai nilai ekologi dan ekonomi penting; 7. Berdistribusi luas dan diutamakan spesies asli atau memunyai niche yang sama dengan habitat yang diteliti; 8. Memunyai kisaran tolerasi yang luas terhadap sifat fisika-kimiawi perairan; 9. Bersesuaian dengan metode tes dan end point yang sudah ada; 10. Hasil penelitian sudah pernah dipublikasi; 11. Respon ikan telah teruji secara in situ (Puspitasari, 2017).

Bahkan (Dong et al., 2014) menyebutkan bahwa Oryzias melastigmais memunyai; 1. Ukuran yang kecil (4.5 to 23 mm) dan waktu beregenarsi yang pendek (2-3 bulan) sehingga dapat dibudi dayakan dalam jumlah banyak di laboratorium untuk memudahkan eskperimen; 2. Perbedaan antara jantan dan betina tampak jelas terutama setelah berumur 1 bulan. Hal ini memudahkan untuk penelitian gender; 3. Memunyai toleransi yang kuat terhadap perbedaan ekosistem; 4. Telur ikan O. melastigma sensitif terhadap bahan pencemar. 5.

Oleh karena itu ikan Oryzias spp dewasa telah lama digunakan sebagai ikan model dalam uji toksikologi dengan berbagai varian bahan pencemar, seperti logam (Woo et al., 2009; Mohamat-Yusuff et al., 2018;Chen et al., 2018), pestisida (Heath et al., 1993;Dong et al., 2018;Kang et al., 2017), limbah farmasi (Kang et al., 2005;Chiffre et al., 2016), mikroplastik (O’Neil, 2017). Untuk pencemaran mikroplastik terhadap Oryzias celebensis masih jarang dilakukan, bahkan disertasi (O’Neil, 2017) untuk saat ini satu-satunya karya ilmiah yang membahas penggunaan Oryzias latipes sebagai hewan model untuk pencemaran plastik.

Kami telah melakukan studi pada ikan medaka sulawesi (Oryzias selebensis) sebagai hewan model dalam studi toksikopatologi (2017). Hasil dari penelitian adalah beberapa artikel di jurnal internasional dan buku :

1. Sari, Dwi Kesuma, Irma Andriani, and Khusnul Yaqin. "Histological study of the circulatory system of Sulawesi Medaka fish (Oryzias celebensis) for

animal model research." In Journal of Physics: Conference Series, vol.

1028, no. 1, p. 012008. IOP Publishing, 2018.

2. Sari, D.K., Andriani, I. and Yaqin, K., 2018. Micromorphological Observation of the Anterior Gut of Sulawesi Medaka Fish (Oryzias celebensis). Int. J. Curr. Microbiol. App. Sci, 7(2), pp.2942-2946.

3. Sari, D.K., Andriani, I dan Yaqin, K. 2017. Atlas Histologi Ikan Medaka Sulawesi (Oryzias celebensis). YADITA/978-602-61579-4-2/Regional.

100 hal.(buku)

2.1.5. Embrio sebagai hewan model dalam bidang ekotoksikologi

Pendekatan alternatif yang paling menjajikan terhadap uji toksisitas akut dengan menggunakan ikan adalah uji toksisitas dengan menggunakan embrio ikan (Lammer et al., 2009). Uji toksisitas embrio ikan adalah komponen yang wajib pada uji efluen secara rutin di German (DIN, 2001). Uji untuk keseluruhan efluen dengan menggunakan embrio ikan zebra (Danio rerio) telah dikembangkan pada level internasional (ISO, 2007), dan versi modifikasinya telah dilakukan oleh German Federal Environment Agency sebagai suatu draft petunjuk untuk suatu alternatif uji kimiawi dengan menggunakan ikan secara utuh (Braunbeck et al., 2005). Lammer et al., (2009) telah melakukan re-evaluasi terhadap uji toksistas yang menggunakan ikan dan embrio ikan untuk 143 bahan kimia dan pendekatan statistik dikembangkan untuk mengevaluasi hubungan antara data pengujian yang menggunakan ikan dan embrio ikan. Hasilnya menunjukkan bahwa uji toksisitas dengan menggunaan embrio tidak menunjukkan hasil yang lebih baik atau lebih buruk dari uji toksisitas akut dengan menggunakan ikan dewasa, akan tetapi hasil re-evalusi itu menunjukkan bahwa ada dukungan ilmiah bagi penggunaan uji toksikologi dengan menggunakan embrio sebagai pengganti uji toksitas akut dengan menggunakan ikan.

Embrio ikan Oryzias sp telah digunakan sebagai hewan model dalam berbagai penelitian untuk mendeteksi toksistas logam (Bentivegna & Piatkowski, 1998;Barjhoux et al., 2012; Horie et al., 2018), pestisida (Zhu et al., 2015;

Wagner et al., 2017), Poliaromatik Hidrokarbon (Kawano et al., 2017), limbah farmasi (Maranho et al., 2015; Mazzitelli et al., 2018). Masih jarang penelitian yang menggunakan embrio Oryzias sp, terutama Oyzias celebensis untuk menduga efek mikroplastik.

BAB III.

METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatif dan semikualitatif.

3.2. Lokasi dan Waktu

Lokasi penelitian ini yaitu Sungai Pita di Kabupaten Maros sebagai tempat pengambilan induk ikan Oryzias celebensis. Lokasi kedua yaitu Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.

Gambar 1. Lokasi pengambilan Induk Ikan Oryzias celebensis, Sungai Pita di kampung Ta’deang, desa Semangki, Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Garis lintang: 5° 2'37.48"S, Garis Bujur : 119°42'10.22"T.

Waktu penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai bulan September 2020.

3.3. Metode Pengumpulan Data dan Sampel

Karena memnggunakan rancangan percobaan sebagai basis penelitian, maka data dikumpulkan dari penelitian ini berbasis pada rancangan percobaan.

a. Persiapan Penetasan Telur Oryzias celebensis 3.3.1. Pengumpulan ikan Oryzias celebensis

Ikan Oryzias celebensis dikumpulkan dari sungai Sungai Pita di kampung Ta’deang, desa Semangki, Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros (Gambar 1). Dengan bantuan nelayan, ikan dikumpulkan pada tanggal 29 April 2020 sebanyak 150 ekor. Ikan yang ditangkap dari perairan diseleksi yang panjangnya empat cm, karena pada ukuran tersebut ikan sudah dalam kondisi matang gonad ke IV. Selanjutnya ikan dibawa ke laboratorium untuk dipelihara sehingga dapat melakukan fertilisasi secara eksternal. Ikan calon induk yang berada pada ukuran sedikit di bawah empat cm tetap dipelihara dalam akuarium yang berbeda hingga berukuran siap untuk melakukan fertilisasi. Sistem penyaringan akuarium yang digunakan yaitu sistem undergravel, yaitu saringan berada di bagian bawa akuarium yang diberikan dasar kapas penyaringan, pasir malang dan batu sungai.

Dengan cara itu diharapkan akuarium dapat melakukan filterisasi secara alami dan menyerupai habitat ikan O. celebensis di alam (Gambar 3). Perbandingan antara jantan dan betina, yaitu 1:2

Selama pemeliharaan ikan diberi pakan naupli Artemia sp (532 individu/ml) (Gambar 1), pakan buatan merk Otohime B1 dan B2 serta vitamin E (satu sendok teh perhari) untuk menstimulasi produksi telur dengan merk Evagrow 1%. Pada pengambilan sampel pertama, kedua, dan ketiga terjadi kematian ikan indukan, maka dilakukan lagi pengambilan sampel ikan indukan ke empat pada tanggal 20 Mei 2020.

Gambar 2. Pakan induk Oryzias celebensis; Ovagrow, Otohime B1 dan B2.

Bagaimana mengenali ikan jantan dan betina? Terdapat perbedaan morfologi yang mencolok antara ikan jantan dan betina dewasa pada O.

celebensis. Ikan jantan dicirikan dengan sirip punggung yang lebih panjang dibandingkan dengan sirip punggung betina. Jika sirip punggung betina pada bagian belakangnya dari ujung atas sampai bawah tegak lurus, sirip punggung ikan jantan pada bagian belakang atas meruncing ke belakang Gambar 2. Sirip dubur ikan jantan lebih besar bila dibandingkan dengan sirip dubur ikan betina.

Perbedaan morfologi jantan betina ini memudahkan bagi peneliti untuk melakukan fertilisasi baik alami maupun buatan.

Gambar 3. Perbedaan sirip punggung antara ikan O. celebensis jantan (atas) dan betina (bawah).

Gambar 4. Sistem penyaringan akuarium: undegravel system.

Gambar 5. Naupli Artemia sp, Panjang 0,47 mm.

3.3.2. Fertilisasi Oryzias celebensis

Pada tanggal 12 Juni 2020, induk ikan O. celebensis melakukan fertilisasi dan memproduksi telur (Gambar 4). Ikan O celebensis betina yang akan melakukan fertilisasi dicirikan oleh bagian perut yang membuncit dan warna agak cerah bila dibandingkan dengan ikan yang belum siap memijah. Ikan jantan yang siap melakukan fertilisasi dicirikan oleh warna tubuh yang kontras garis-garis warnanya. Sirip dada, perut, punggung dan anal akan memperlihatkan warna hitam. Sirip ekor bagian pinggir bawa dan atas akan menampakan garis berwarna kuning sedangkan di bagian tengah ada dua garis hitam yang jelas yang bersabung

menjadi satu garis pada pangkal sirip ekor sampai kira-kira 1/3 bagian dari badan.

Jantan yang siap fertilisasi berukuran sekitar 4,5 cm. Warna jantan yang kontras ini segera memudar menjadi warna seperti sebelum dia mengalami birahi, kalau ada gangguan atau mengalami stress, misalnya ketika akan ditangkap.

Di dalam akuarium, jantan yang sudah siap fertilisasi ini bersifat agresif dan biasanya dalam beberapa saat dia berada di pinggir akuarium seolah-olah menunggu betina yang siap dibuahi. Bila ada jantan yang lewat di depannya, jantan yang siap membuahi ini segera menyambar jantan yang lewat. Beberapa jantan juga kadang-kadang mendekati ikan betina yang siap dibuahi untuk melakukan fertilisasi eksternal.

Gambar 6. Induk ikan setelah melakukan fertilisasi eksternal.

Gambar 7. Induk ikan setelah melakukan fertilisasi eksternal.

Setelah fertilisasi, ikan betina akan meletakkan telur di bagian bawah perutnya (Gambar 4). Selanjutnya dtelur dipanen dengan cara menangkap induk betina yang bertelur dengan menggunakan jaring kecil. Telur dipisahkan dari induk betina dan dimasukkan ke dalam petri dish yang sudah diisi dengan larutan ERM (Embryo Rearing Media). Media ini terdiri dari 10.0 g NaCl, 0.3 g KCl, 0.4 g CaCl 2 H2O, 1.63 g MgSO4 yang dicampur dengan 1 ml of NaHCO3 (0.25 g/20 ml H2O). Setelah itu dilarutkan dengan aqubides 1: 10.

Untuk memisahkan benang-benang yang menautkan antara satu telur dengan telur yang lain, kumpulan telur yang ada di cawan petri digosok berputar secara halus dengan jari telunjuk sampai semua telur terpisah satu dengan yang lainnya. Cara ini juga akan membersikan telur dari benang-benang rambut yang melekat pada telur, sehingga didapatkan telur dengan penampilan yang bersih, ketika difoto di bawah mikroskop (Gambar 9).

Gambar 8. Kumpulan telur ikan Oryzias Celebensis yang difoto dengan camera Miconos optilab yang melengkapi mikroskop stereo dengan pembesaran 10x.

Gambar 9. Embrio ikan Oryzias celebensis yang terbuahi dan aktif yang difoto dengan camera Miconos optilab yang melengkapi mikroskop trinokuler dengan pembesaran 40x.

3.3.3. Gambaran morfologi embrio ikan Oryzias celebensis

Analisis perkembangan embrio ikan Oryzias celebensis dilakukan untuk menghasilkan base-line penentuan kerusakan embrionik akibat bahan pencemar plastik. Setiap telur ikan dimasukkan ke dalam ke dalam ke 24 well plate yang sudah berisi MPE. Pengamatan embrio ikan dilakukan dengan mikroskop yang dilengkapi dengan kamera. Gambar yang diperoleh disimpan dalam bentuk PNG atau JPG.

Dari penelitian tahap awal ini diharapkan dapat menghasilkan base-line gambaran morfologi embrio ikan Oryzias celebensis yang berasal dari sungai Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

c. Analisis efek bahan luruhan plastik, stiren (styerene), terhadap embrio Oryzias celebensis.

Pada tahap kedua akan dilakukan penelitian untuk mengetahui efek bahan luruhan plastik dengan menggunakan stiren sebagai bahan pencemar model terhadap embrio Oryzias celebensis. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap. Stiren yang digunakan adalah dalam

bentuk cairan dengan konsentrasi kontrol, 0,01, 0,1, 750, 900 dan 1000 µg/l (Wathsala et al., 2018) dengan 10 kali ulangan. Dilakukan juga pemaparan dengan menggunakan kadmium sebagai kontrol posistif dengan konsentrasi 0,1, 0,2 dan 0,5 mg/l. Pemaparan dilakukan pada stadia 17-18 embrio ikan O.

Celebensis sekitar 8 hari. Pemaparan ini dilakukan secara semi-statis, oleh karenanya media pemeliharaan diganti tiap hari. Volume media pemelihatran 2,5 ml di dalam micro-plate. Perkembangan embrio diamati dengan mikroskop yang dilengkapi dengan kamera optilab. Gambar yang diperoleh disimpan dalam bentuk PNG atau JPG untuk dinalisis dengan menggunakan Image Raster 3.0.

Gambar 10. Sketsa microplate yang digunakan dalam penelitian

3.4. Indikator/Parameter

Parameter yang diamati dalam penelitian;

Parameter embrio yang diukur yaitu diameter telur dan lensa mata. Dua parameter itu digunakan, karena pada kedua parameter merupakan parameter yang paling mungkin untuk diamati secara kuantitatif. Bagian-bagian morfologi yang paling sangat sulit diukur karena, letak obyek pengamatan yang berbeda akan menghasilkan ukuran-ukuran yang berbeda. Diameter telur dan lensa mata relatif stabil dan mudah untuk diamati secara kuantitatif meskipun posisi di bawah mikroskop agak berbeda.

3.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang ada akan diuji normalitas dan homogenitasnya. Bila data tidak normal dan homogen maka dilakukan trasformasi. Untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan dengan kontrol digunakan uji ANOVA yang dilanjutkan dengan post hoc test dengan uji Bonferoni. Untuk melihat pola pengaruh stiren terhadap end-point yang digunakan dilakukan analisis regresi linear. Untuk menentukan kuat dan lemahnya kooefisien regresi ditentukan berdasarkan tabel yang disarankan oleh Fowler et al., (2013).

Tabel 1. Nilai kekuatan regresi (Fowler et al., (2013).

Nilai koefisien R (positif atau

negatif)

Makna Korelasi

0,00– 0,19 Sangat lemah

0,20-0,39 Lemah

0,40-0,69 Sedang

0,70-0,89 Kuat

0,90-1,00 Sangat kuat

3.6. Etika Penelitian

Pada penelitian ini, pengumpulan data pada sampel tidak melibatkan spesies langka dan dilindungi serta memenuhi aspek-aspek ilmiah dan sesuai kaidah etika penelitian.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil

4.1.1. Perkembangan embrio

Perkembangan embrio ini didasarkan pada perkembangan embrio ikan medaka Jepang (Oryzias latipes) yang ditelah dideskripsikan dengan baik oleh (Iwamatsu, 2004) maupun (González-Doncel et al., 2005).

Gambar 11. Telur tidak terbuahi. Telur yang tidak dibuahi ini dicirikan oleh filamen korionik yang menempel pada korion, yang terikat erat ke korteks.

Gambar 12. . Stadia 1. Telur yang dibuahi (5 menit).

Pada saat pembuahan, korion terangkat dari korteks bola kuning telur

Pada saat pembuahan, korion terangkat dari korteks bola kuning telur