BAB III METODE PENELITIAN
E. Populasi dan Sampel
Suharsimi Arikunto (1998:115), mengemukakan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yakni sekumpulan dari sejumlah elemen pengamatan atau obyek yang menjadi perhatian kita. Populasi menggambarkan suatu yang sifatnya ideal atau teoritis.
Dari keterangan diatas, dapat dipahami bahwa populasi adalah seluruh anggota objek yang akan diteliti dalam suatu kegiatan penelitian.
Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah guru dan siswa di SMA Negeri 22 Makassar. Jumlah tenaga kependidikan di SMA Negeri
22 Makassar berjumlah 49 orang sedangkan untuk siswa mulai dari kelas X, XI, dan XII berjumlah 998 orang siswa. Namun yang diambil sebagai populasi adalah siswa-siswi kelas XII sebanyak 337 orang.
Adapun rincian populasi guru dan siswa digambarkan dengan tabel berikut :
Tabel I
Populasi Guru dan Siswa SMA Negeri 22 Makassar No. Populasi Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Guru 18 31 49
2. Siswa Kelas X 164 231 395
3. Siswa Kelas XI 124 142 266
4. Siswa Kelas XII 149 188 337
Jumlah 455 592 1047
Sumber data :dari kantor tata usaha SMA Negeri 22 Makassar 2015/2016
2. Sampel
Sebagaimana lazimnya dalam suatu penelitian ini, tidak semua populasi dapat diteliti, tetapi dapat dilakukan sebagian saja dari populasi tersebut. Hal ini di dasarkan pada pertimbangan bahwa peneliti mengalami keterbatasan waktu, biaya dan tenaga serta kemampuan sehingga penelitian yang dilakukan ini bukan terhadap populasi akan tetapi dilakukan berdasarkan sampel.
Untuk memperjelas pengertian sampel, akan di kemukakan beberapa pengertian sebagai berikut ;
a. Menurut Muhammad Arief Tiro (2000:3),
“Sampel adalah sejumlah anggota yang dipilih / diambil dari suatu populasi. Jadi proses menarik sebagian subjek, gejala, atau objek yang ada pada populasi di sebut sampel.”
b. Menurut Purnomo Setiady Akbar (2011:43) mengemukakan :
“Sampel adalah sebagian anggota populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu yang disebut dengan teknik sampling”.
c. Suharsimi Arikunto (2013:177) berpendapat bahwa :
“Sampel adalah bagian dari populasi yang objeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga peneliti menjadi peneliti populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih.”
Maka dari itu, penentuan banyaknya sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 15% dari jumlah populasi siswa kelas XII sebanyak 337 orang, sedangkan guru merupakan sampel purposive sampling yakni pengambilan data dengan pertimbangan tertentu misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan.
Dengan demikian, yang menjadi sampel siswa dalam hal ini adalah 15% dari jumlah populasi kelas XII sebanyak 337 orang.
Rumusnya adalah :
=337 × 15
100
= 337 × 0.15
= 50,55 𝑑𝑖 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 50 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 Jadi, sampel dari siswa sebanyak 50 orang.
Sedangkan sampel untuk guru yaitu guru yang aktif mengajar di kelas dalam proses pembelajaran. Adapun rincian sampel guru dan siswa digambarkan dengan tabel berikut :
Tabel II
Sampel Guru dan Siswa SMA Negeri 22 Makassar
No. Objek Populasi Sampel
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
1. Guru 49 6 5 1
2. Siswa Kelas XII 337 50 25 25
Jumlah 56 30 36
Sumber data :dari kantor tata usaha SMA Negeri 22 Makassar 2015/2016 F. Instrumen Penelitian
Suharsimi Arikunto (2005:30), instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti dalam menggunakan metode pengumpulan data. Instrumen penelitian yang penulis maksud adalah alat untuk menyatakan kebenaran dan persentase dalam bentuk data kuantitatif. Dengan instrumen tersebut, semua data keterangan yang menyangkut objek penelitian dapat diperoleh sekaligus dengan pengukurannya.
Dalam mengadakan penelitian di SMA Negeri 22 Makassar, penulis menggunakan instrument dalam bentuk catatan observasi, pedoman angket, pedoman wawancara dan catatan dokumentasi. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai ke empat instrument tersebut penulis akan menguraikan secara sederhana.
1. Catatan Observasi
Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2009:145) menjelaskan bahwa :
“observasi merupakan proses yang kompleks, suatu proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan”.
A. Kadir Ahmad (2003:33) mendefinisikan bahwa :
“observasi adalah “pengumpulan informasi dengan menggunakan indra terhadap realitas atau pengalaman manusia”.
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati dan mencatat secara langsung dan sistematis yang berkaitan dengan korelasi kemampuan guru mengelola kelas terhadap kedisiplinan belajar siswa, pengamatan dilakukan dengan melihat cara-cara guru dalam mengajar, bagaimana guru menciptakan situasi belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan mengelola kelas yang ia miliki sehingga dapat menumbuhkan kedisiplinan belajar peserta didik agar para siswa lebih mudah menerima pelajaran dengan baik terutama di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan observasi ini pengamatan yang dilakukan bukan sekedar mengamati sesuatu, seperti mengamati pemandangan yang indah. Namun, pengamatan dalam penelitian harus berada dalam lingkup kegiatan ilmiah. Jadi, pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan langsung untuk mendapatkan data mengenai bagaimana korelasi kemampuan guru mengelola kelas terhadap kedisiplinan belajar siswa di SMA Negeri 22 Makassar.
2. Pedoman Angket
Muhammad Natsir (2006:246) mendefinisikan bahwa :
“Angket adalah kuesioner atau tidak lain dari sebuah pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa”
Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa pedoman angket adalah alat atau sarana yang digunakan untuk memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab secara langsung dengan responden.
3. Pedoman Wawancara
Menurut Mardalis (2009:64), mendefinisikan bahwa :
“Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti”
Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa Pedoman wawancara adalah alat atau sarana yang digunakan untuk memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab secara langsung dengan responden.
4. Catatan Dokumentasi
Menurut Moleong (2010:216), catatan dokumtasi adalah setiap bahan tertulis maupun film yang bersifat dukumen pribadi maupun dokumen resmi.
Dari uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa catatan dokumentasi yaitu alat atau sarana yang digunakan untuk memperoleh data melalui arsip-arsip atau dokumen sekolah yang dianggap penting
yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas yaitu korelasi kemampuan guru mengelola kelas terhadap kedisiplinan belajar siswa di SMA Negeri 22 Makassar.
G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam kegiatan penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh seorang peneliti. Penggunaan teknik pengumpulan data ini sifatnya lebih disesuaikan pada analisis kebutuhan dan kemampuan penulis itu sendiri. Oleh sebab itu, dapat dipilih sesuai dengan keperluan. Pengumpulan data yang penulis gunakan ada dua cara yakni :
1. Library reseach
Library reseach yaitu penulis mengumpulkan data melalui buku-buku yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas. Cara ini dilakukan dalam rangka memperoleh kerangka berfikir sebagai tolak ukur dalam suatu pembahasan yang berhubungan dengan materi dalam skripsi ini.
Pada reseach kepustakaan ini, penulis menggunakan kutipan langsung, yaitu mengutik karangan tanpa merubah redaksi aslinya, serta kutipan tidak langsung yakni penulis mengutip pendapat para ahli atau mengambil suatu pendapat serta ide-ide yang akan dituangkan ke dalam reaksi penulis sendiri dengan mengubah sebagian reaksinya, baik isi maupun tanda baca akan tetapi maksud dan tujuan tetap sama dengan sumber aslinya.
2. Field research
Field research yaitu suatu metode pengumpulan data dengan jalan mengadakan penelitian lapangan di SMA Negeri 22 Makassar melalui observasi, angket, wawancara, angket, dan dokumentasi.
a. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung dilapangan.
Yang di observasi adalah korelasi kemampuan guru dalam pengelolaan kelas terhadap kedisiplinan siswa di SMA Negeri 22 Makassar.
b. Angket
Angket yang penulis maksud adalah instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dari siswa dan guru yang diedarkan dalam bentuk pertanyaan tertulis untuk di jawab responden.
c. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu bentuk instrumen penelitian yang dilakukan dengan cara berhadapan langsung orang yang di anggap dapat memberikan keterangan terhadap objek yang akan diteliti.
d. Catatan Dokumentasi
Catatan dokumentasi dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data yang bersumber dari arsip-arsip atau dokumen sekolah yang dianggap penting. Jenis-jenis dokumentasi itu seperti keadaan guru, pegawai tata usaha, keadaan siswa, atau kelengkapan lainnya dari fasilitas sekolah yang ada di SMA Negeri 22 Makassar.
H. Teknik Analisis Data
Seluruh data yang dihimpun, selanjutnya akan dianalisis secara kuantitatif deskriptif. Langkah-langkah analisis data dilakukan melalui cara menganalisis data. Menganalisis data adalah suatu langkah yang sangat penting karena peneliti harus memastikan pola analisis yang digunakan sesuai dengan data yang diperoleh. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Teknik analisis deduktif yaitu menganalisis data yang bersifat khusus kemudian mengambil kesimpulan yang bersifat umum.
2. Teknik analisis induktif yaitu menganalisis data dari yang bersifat umum kemudian mengambil kesimpulan yang bersifat khusus.
3. komparatif yaitu menganalisis data dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lainnya kemudian di interpretasikan untuk mendapatkan kesimpulan.
4. Presentase yaitu teknik yang digunakan untuk mengetahui secara tepat tingkat presentase ekor jawaban dan mengdeskripsikan hasil data dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
𝑷 = 𝑭
𝑵 × 𝟏𝟎𝟎
Dimana :
P : Nilai
F : Frekuensi yang dicari presentasinya N : Banyaknya Subjek yang Memiliki Nilai
51
A. Kondisi Objektif SMA Negeri 22 Makassar 1. Sejarah berdirinya
Sebelum penulis melangkah dan membahas lebih jauh tentang SMA Negeri 22 Makassar, maka selayaknya penulis mengulas terlebih dahulu asal-usul berdirinya, sebab dengan mengetahui asal-usul berdirinya akan memudahkan untuk mengetahui apa dan bagaimana SMA Negeri 22 Makassar tersebut.
SMA Negeri 22 Makassar berdiri tahun 2007 dengan jumlah siswa 40 Orang. Penamatan I tahun 2010/2011 berjumlah 40 orang, Penamatan II tahun 2011/2012 berjumlah 133 orang, Penamatan III tahun 2012/2013 berjumlah 135 orang, Penamatan IV tahun 2013/2014 berjumlah 207 orang, Penamatan V tahun 2014/2015 berjumlah 252 orang. SMA Negeri 22 Makasar ini terletak di Jln. Pajjaiang Komp. KOR/KNPI Sudiang Makassar Kelurahan Sudiang Raya Kecamatan Biringkanayya. Letak sekolah ini sangat strategis karena mudah dijangkau dan jauh dari kebisingan kendaraan karena SMA Negeri 22 Makassar ini memiliki pekarangan yang luas dan gedung kelasnya jauh masuk ke dalam sehingga suara kendaraan tidak terdengar dari ruang belajar.
SMA Negeri 22 Makassar merupakan salah satunya sekolah Olahragawan dan Umum yang ada di Makassar bahkan di kawasan Indonesia Timur. Berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Kota Makassar No. 675/Kep./42/.4/2007, sekolah ini juga dijadikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Olahraga Pelajar (PPLP), yang dapat dinilai memiliki posisi yang sangat strategis untuk membuat landasan pembangun prestasi olahraga di Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia, mengingat para siswa di SMA Negeri 22 Makassar berada pada usia potensial untuk dikembangkan bakatnya.
Menjadikan SMA Negeri 22 Makassar sebagai sekolah yang maju dibidang Imtaq, IPTEK, Berbudi Luhur, Olahraga, Seni serta berwawasan Global di tahun 2015, dengan indikator :
a. Unggul dalam Bidang Keagamaan b. Unggul dalam kedisiplinan
c. Unggul dalam bidang Penelitian
d. Unggul dalam bidang Olahraga dan Seni
Cita-cita Sekolah berorientasi kedepan dan memperhatikan dengan norma dan harapan masyarakat sekolah membentuk langkah-langkah strategis yang dinyatakan sebagi berikut :
VISI
MISI
a. Melaksanakan Pembelajaran dan Bimbingan secara intensif
b. Menumbuhkan semangat keunggulan dan rasa memiliki, rasa bangga, rasa tanggungjawab terhadap sekolah
c. Mengoptimalkan fungsi dan peran struktur organisasi sekolah
d. Mengoptimalkan kerjasama dengan orang tua siswa, masyarakat, dunia usaha dan Industri ( Dudi ).
Tujuan :
1. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas guru dan staf melalui pendidikan dan pelatihan
2. Meningkatkan sistem perawatan fasilitas sarana dan prasarana
3. Meningkatkan disiplin siswa dalam pelaksanaan tata tertib sekolah melalui pendidikan budi pekerti
4. Meningkatkan prestasi Ekstrakurikuler, Olahraga, Seni, dan KIR
5. Mengembangkan keterampilan siswa dalam mengoperasikan komputer 6. proses pembelajaran berbasis Informasi Teknologi sebagaimana
diamanatkan dalam kurikulum baru 2013
7. Melengkapi media pembelajaran guna menunjang proses pembelajaran berbasis ITC
8. Terlaksananya pengelolaan administrasi pendidik dan Tata kelola administrasi sekolah yang efektif, efisien dan tepat sasaran
9. Meningkatkan budaya hidup bersih dan indah di lingkungan sekolah serta Terjalinnya kebersamaan antar sesama staf,guru dan siswa.
2. Keadaan Tenaga Pendidik SMA Negeri 22 Makassar
Guru adalah merupakan salah satu komponen manusia dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha membentuk sumber daya manusia yang berpotensi di bidang pembangunan, kususnya dalam pembangunan agama dan pembangunan manusia seutuhnya, yakni utuh jasmani dan rohani, manusia yang berguna dalam pembangunan bangsa dan negara.
Dari berbagai tanggung jawab yang diemban oleh seorang guru, hal itu menunjukkan bahwa guru menempatkan bagian tersendiri dengan berbagai ciri kekhususannya. Demikian pula halnya dengan guru-guru yang ada di SMA Negeri 22 Makassar tidak lepas dengan tanggung jawabnya sebagai guru, tanggung jawab keprofesionalannya, maka guru harus memiliki sifat dan persyaratan sebagai berikut :
a. Memiliki kemampuan professional b. Memiliki kapasitas intelektual c. Memiliki sifat edukasi sosial
Ketiga sifat tersebut di atas mutlak harus dimiliki oleh seorang guru.
Guru yang dimaksud oleh penulis disini adalah guru yang ada di SMA Negeri 22 Makassar. Dengan demikian ketiga sifat tersebut di atas, guru akan
mampu memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pengajar.
Sebagai seorang seorang guru dituntut untuk mengajar saja, tetapi harus memberikan dorongan atau motivasi belajar serta membantu mengarahkan anak didik atau siswa kepencapaian tujuan pendidikan. Begitu pula dengan guru-guru yang ada di SMA Negeri 22 Makassar.
Untuk tenaga edukatif, SMA Negeri 22 Makassar memiliki 1 orang
Keadaan tenaga pendidik dan kependidikan SMA Negeri 22 Makassar Tahun pelajaran 2015/2016
19620907. 198903. 1. 015 Kurikulum 11 Abd.Razak Naiba, S.Pd,M.Kes
IV/b PNS Biologi
13 Hj. Muktamiratu, S.Pd. M.Pd
IV/b PNS Seni
Budaya Guru Tetap 19691015. 199103. 2. 014
14 Dra. Suarni, M.Si
IV/b PNS Bhs
Indonesia Guru Tetap 19670302. 199303. 2. 008
15 Hj. Vida Indriana, S.Pd. MM
19691024. 199303. 2. 002 IV/b PNS Matematika Guru Tetap 16 Dra. Hj. Asnawati
19661016 199412 2 007 IV/b PNS BK Guru Tetap 17 Sitti Umrah, S.Pd. M.Pd
19670708. 199103. 2. 014 IV/a PNS PKN Kepala
Perpustakaan 18 Syamsuddin, S.Pd. M.Si
19691231 199412 1 012 IV/a PNS Bhs. Inggris Wakasek
19820516 200604 1 006 28 Erma Thalib, S.Pd. M.Si
19720708. 200502. 2. 003 III/d PNS Sejarah Guru Tetap 29 Yuli Astati, S.Pd. M.Pd
19750621 200801 2 013 III/c PNS Bhs.
Indonesia Guru Tetap 30 Junaede, S.Pd. M.Pd
19761215 200801. 1. 004 III/c PNS Fisika Guru Tetap 31 Rahman, S.Ag. M.si. M.Pd
19720509. 200801. 1. 007 III/c PNS Matematika Guru Tetap 32 Sri Churia Agustini, SE, S.Pd
19760831 200605 2 003 III/c PNS Ekonomi Guru Tetap 33 Asriani, S.Pd. M.Pd
19851212 201001 2 052 III/b PNS Bhs. Inggris Guru Tetap 34 Arisamdi, S.Pd. M.Pd
19770707 200801 2 026 III/b PNS Matematika Guru Tetap
35 Nadarlia, S.Pd - Honor PAK GTT
Sumber: Kantor Tata Usaha SMA Negeri 22 Makassar 2014/2015
3. Kedaan Siswa SMA Negeri 22 Makassar
Dalam dunia pendidikan formal, siswa merupakan objek atau sasaran utama untuk dididik. Jika tugas guru adalah mengajar, maka tugas siswa adalah belajar. Oleh karena itu keduanya amat berkaitan dan salingbergantung satu sama lain, tidak dapat dipisahkan dan berjalan seiring dalam proses belajar mengajar.
Jumlah peserta didik (siswa) di SMA Negeri 22 Makassar pada tahun ajaran 2015/2016 yaitu berjumlah 998 orang, kelas X sebanyak 395 siswa, kelas XI sebanyak 266 siswa, kelas XII sebanyak 337 siswa. Adapun perinciannya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel IV
Keadaan Siswa SMA Negeri 22 Makassar Tahun pelajaran 2015/2016
No. Kelas Jumlah
1. Kelas X 395
2. Kelas XI 266
3. Kelas XII 337
Jumlah 998 orang
Sumber data :dari kantor tata usaha SMA Negeri 22 Makassar 2015/2016
4. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Negeri 22 Makassar
Tidak dapat dipungkiri bahwa kelangsungan proses belajar mengajar tidak saja ditentukan oleh adanya siswa dan pengajar yang profesional, akan tetapi ditentukan pula oleh tersedianya sarana dan fasilitas yang cukup
memadai. Demikian pula halnya dengan SMA Negeri 22 Makassar harus meningkatkan kualitasnya, sehingga semakin banyak peminatnya.
Berdasarkan pengamatan dan data tertulis yang diperoleh, dapat diketahui bahwa keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMA Negeri 22 Makassar cukup memadai. sarana dan prasarana yang dimiliki SMA Negeri 22 Makassar, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel V
Keadaan Sarana Dan Prasarana SMA Negeri 22 Makassar
RUANG JUMLAH Luas/ M2 Keterangan
Kepala Sekolah 1 32 Permanen
Wakasek - - Belum ada
Dewan Guru 1 150 Permanen
Guru BK - - Belum ada
Tata Usaha 1 32 Permanen
Ruang Belajar 22 685 Permanen
Praktikum - - Belum ada
Laporatorium IPA 1 150 Permanen
Laboratorium Komputer - - Belum ada
Perpustakaan 1 120 Permanen
OSIS 1 14 Permanen
Tempat Ibadah (Masjid) - - Belum ada
Kantin - - Belum ada
Olah Raga - - -
Komite Sekolah - - Belum ada
Pos Jaga 1 6 Permanen
Media Belajar - - Belum ada
Keterampilan - - Belum ada
Kreativitas - - Belum ada
Multimedia - -
Belum ada
WC Siswa 2 12
Kurang
WC Guru/Pegawai 2 12
Kurang Sumber data :dari kantor tata usaha SMA Negeri 22 Makassar 2015/2016
Memperhatikan tabel tersebut di atas, dapat diketahui bahwa keadaan sarana dan prasarana di SMA Negeri 22 makassar sudah cukup menunjang dalam segala kegiatannya.
B. Tingkat Kemampuan Guru dalam Mengelola kelas di SMA Negeri 22 Makassar
Membahas tentang tingkat kemampan guru dalam mengelola kelas di SMA Negeri 22 Makassar, seperti kita ketahui bahwa tingkat kemampuan tiap-tiap guru dalam mengelola kelas berbeda-beda.
Kesesuaian pendidikan, kompotensi, keahlian, keterampilan dan pengalaman seorang guru sangat menentukan kesuksesan dan keberhasilan dalam mengelola kelas. Guru yang bisa mengelola kelas dengan baik akan lebih mudah melaksanakan tugas dan tanggung jawab serta mampu
memberikan konstribusi pada efektifitas pengelolaan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Seseorang dikatakan kompeten dalam bidang tertentu apabila ia menguasai kecakapan kerja atau keahlian yang selaras dengan tuntutan pada bidang yang bersangkutan, sehingga ia mempunyai wewenang dalam pelayanan sosial masyarakat. Secara nyata pula orang yang mempunyai kompetensi mampu bekerja di bidangnya secara efektif dan efisien. Oleh karena itu kadar kompetensi seseorang tidak mengarah kepada tujuan kerja tetapi mengarah kepada kualitas kerja.
Dari penelitian yang dilakukan tentang kualitas dan kapabilitas pendidikan dan kompetensi guru SMA Negeri 22 Makassar sudah cukup memadai dari ketegori berhasil, hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan kepala sekolah Abdul Rahman Umar yang mengatakan :
“Guru yang ada di SMA Negeri 22 Makassar sudah sebagian besar adalah sarjana, sehingga tidak sulit untuk dipimpin, meskipun masih perlu adanya peningkatan SDM berupa keterampilan, sikap, nilai sehingga secara kolektif memiliki kualitas yang esuai dengan tugas masing-masing” (27 Juli 2015).
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa berhasil tidaknya pengaplikasian pengelolaan sangat ditentukan pendidikan dan kompetensi seorang guru. Untuk menukur kemampuan guru dalam mengelola kelas bukanlah hal yang mudah sebab masalah tersebut
merupakan intervening atau proses dalam diri dan psikologi yang dapat diamati secara langsung, melainkan hanya dapat dinilai melalui hasil pengamaan tingkah laku. Bagi seorang guru atau pegawai kemampuan tersebut nampak dalam kegiatan dan pelaksanaan sehari-hari.
Penulis akan membahas tentang tingkat kemampuan guru mengelola kelas sesuai dengan hasil angket yang diperoleh dari siswa-siswi SMA Negeri 22 Makassar sebagai berikut.:
Tabel VI
Pernyataan Siswa SMA Negeri 22 Makassar Tentang Tingkat Kemampuan Guru dalam Mengelola Kelas
No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase 1 tingkat kemampuan guru mengelola kelas “Tinggi”. Hal ini terbukti dengan tanggapan responden sebesar 7 orang atau 14% pada kategori jawaban
“Sangat Tinggi”, dan 39 orang atau 78% memberikan pernyataan “Tinggi”, sedangkan kategori jawaban lainnya “Kurang Tinggi” sebanyak 4 orang atau 8% dan 0% responden mengatakan “Tidak Tinggi”.
Hal ini senada yang disampaikan oleh kepala sekolah SMA Negeri 22 Makassar Abdul Rahman Umar dari hasil wawancara mengatakan bahwa:
“Tingat kemampuan guru rata-rata sudah berpengalaman dalam artian sudah baik dan dapat menyesuaikan dengan kondisi siswa di SMA Negeri 22 makassar” (27 Juli 2015).
Jadi ini berarti bahwa pernyataan siswa dan kepala sekolah SMA Negeri 22 Makassar tentang tingkat kemampuan guru dalam mengelola kelas
“Tinggi” sesuai hasil angket dengan jumlah 50 responden. Hal ini harus dijaga demi untuk pendidikan yang lebih baik di Makassar ataupun di Indonesia pada umumnya.
Hal senada disampaikan oleh Asidin, pembantu kurikulum sekaligus guru mata pelajaran fisika di SMA Negeri 22 Makassar yang mengatakan bahwa:
“Pada umumnya guru di SMA Negeri 22 Makassar Sudah mampu mengelola kelas dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan siswa dalam proses belajar mengajar” (28 Juli 2015).
Tabel VII
Pernyataan Siswa SMA Negeri 22 Makassar Tentang Kemampuan Guru Dalam Mengelola Kelas Berkorelasi dengan Prestasi Belajar Siswa No Kategori Jawaban Frekuensi Prosentase
1
Pada tabel di atas dari 50 orang siswa sebagai responden yang telah memberikan jawaban. Adapun jawabannya dapat dijelaskan bahwa sebanyak 28 orang atau 56% menjawab “sangat berkorelasi”, 15 orang atau sebanyak 30% menjawab “berkorelasi”, seterusnya 5 orang atau 10% memberikan jawaban “kurang Berkorelasii” dan 0% yang menjawab “tidak Berkorelasi.
Dalam hal ini penulis menganalisis bahwa kemampuan guru mengelola kelas sangat berkorelasi dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 22 Makassar.
C. Tingkat Kedisiplinan Belajar Siswa di SMA Negeri 22 Makassar
Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian yang bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berprilaku tertib dan efisien. Adapun belajar diartikan sebagai proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan yang mengarah kepada penguasan pengetahuan, kecakapan, kebijaksanaan.
Berdasarkan dua pengertian diatas maka dapat disimpulkan kedisiplinan belajar adalah suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan siswa untuk melakukan aktifitas belajar yang sesuai dengan keputusan-keputusan, peraturan-peraturan dan norma-norma yang telah ditetapkan bersama, baik persetujuan tertulis maupun tidak tertulis antara dengan siswa dan guru di
sekolah maupun dengan orang tua di rumah untuk mendapatkan
sekolah maupun dengan orang tua di rumah untuk mendapatkan