BAB I. PENDAHULUAN
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang menjadi dalam batasan dan landasan hukum penyusunan Renstra Bisnis BPIPI ini adalah :
1. Renstra ini disusun untuk jangka waktu 5 tahun mulai tahun 2015 – 2019.
2. Penyusunan Renstra mengacu kepada pedoman dan peraturan-peraturan yang terdiri atas :
a. Keputusan Kepala LAN Nomor : 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
b. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
c. Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.
d. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Kementerian Perindustrian Tahun 2006.
e. Keputusan Menperind No. 103/M-IND/PER/12/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia.
f. Naskah-naskah lain yang relevan.
3. Renstra Bisnis adalah rencana menyeluruh yang bersifat umum sehingga isinya merupakan garis-garis besar rencana yang akan dijadikan acuan oleh Rencana Kinerja Tahunan yang lebih rinci.
4. Renstra Bisnis mencakup : visi, misi, tujuan, sasaran, formulasi strategi, penyusunan kebijakan, program dan kegiatan berikut indikatornya.
F. Sistematika Penyusunan Rencana Strategis Bisnis
Bab I. Pendahuluan
37 Penyusunan Rencana Strategis Bisnis 2015 – 2019 BPIPI dilakukan sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 1.
VISI
MISI
TUJUAN
SASARAN
STRATEGI
• KEBIJAKAN
• PROGRAM
• KEGIATAN
• INDIKATOR
• RPJM RI
• KEBIJAKAN PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL
• RENSTRA KEMENPERIN
• RENSTRA IKM
• TUPOKSI BPIPI
ANALISIS SWOT
• KONDISI SAAT
• KONDISI YANG INI DIINGINKAN
Gambar 1.5 Pola Pikir Penyusunan Rencana Strategis
Sistematika Penyusunan Rencana Strategis Bisnis BPIPI adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Visi,Misi dan tujuan unit kerja Bab III : Arah Kebijakan Strategi
Bab IV : Target Kinerja dan Kerangka Pendanaan Bab V : Penutup
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
38
BAB II
VISI,MISI,DAN TUJUAN
A. VISI
Dalam mewujudkan visi dan melaksanakan misi pembangunan industri, Kementrian Perindustrian menetapkan tujuan pembangunan industri untuk 5 (lima) tahun kedepan yaitu:
" Meningkatnya peran idustri dalam perekonomian".
Dalam tujuan tersebut menempatkan sektor industri sebagai motor penggerak perekonomian di Indonesia sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang Nasional (RPJPN) 2005 - 2025. Pembangunan industri diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing dengan struktur industri yang sehat dan berkeadilan salah satunya dengan:
"Dalam hal skala usaha, struktur industri akan dikuatkan dengan menjadikan industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai basis industri nasional, yaitu terintegrasi dalam mata rantai pertambahan nilai dengan
industri skala besar".
Dengan arah pembangunan industri Kementrian Perindustrian maka Direktorat Jendral IKM Kementrian Perindustrian mempunyai Visi:
"Mewujudkan Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berdaya saing global"
Sesuai dengan RPJMN 2015 - 2019 arah kebijakan dan strategi pembangunan industri nasional menempatkan Industri Tekstile, Kulit, Alas kaki dan Aneka merupakan industri prioritas yang merupakan industri andalan. Sehingga dalam kinerja Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah, menempatkan industri tersebut dalam kerangka kerja.
Sebagai implementasi dari visi Kementrian Perindustrian dan visi Direktoral Jenderal Indsutri Kecil dan Menengah (IKM) maka Balai Pengembangan Industri
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
39 Persepatuan Indonesia (BPIPI) telah menetapkan visinya untuk memberikan suatu pedoman dan pendorong untuk mencapai tujuanya.
Visi Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia adalah :
”Mewujudkan Pusat Pelayanan yang Profesional Menuju Industri Persepatuan Berdaya Saing Global”
Deskripsi Organisasi :
1. Mewujudkan : Merupakan bentuk lain dari komitmen semangat tim baik secara fisik maupun spirit terhadap sasaran dan tujuan bersama
2. Pusat Pelayanan : Sebuah konsep sekaligus implementasi bagaimana secara total memberikan penghargaan kepada pelanggan dengan layanan, dimana masing-masing personil organisasi adalah pelayan dengan sebaik-baiknya melayani orang lain dan diri sendiri.
3. Profesional : Sebuah tahapan organisasi atau personil yang sudah melalui proses panjang pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan lingkungan sehingga sangat layak baik secara organisasi atau personil memberikan layanan sesuai kapasitas dan wewenangnya
4. Industri Persepatuan : Sebuah potensi bangsa yang layak untuk dijadikan pengabdian bagi generasi bangsa. Sebuah potensi yang menggerakkan sumber daya dan ekonomi lokal, yang harus terus menerus dikembangkan guna kepeningan bangsa.
5. Berdaya : Tidak hanya tuntutan semata, menjadi organisasi sekaligus yang berdaya, mempunyai kekuatan, energi positif, kapasitas, wewenang, fokus dan kejujuran sudah menjadi kewajiban.
6. Saing : Merupakan konteks kompetitif bagaimana posisi tawar organisasi/personil di mata pihak lain, sekaligus merupakan konten
komparatif bagaimana organisasi/personil mempunyai kinerja yang mampu di nilai oleh ukuran-ukuran normatif.
7. Global : Ruang lingkup organisasi yang semakin hari semakin tiada batas dan dinamis menuntut perubahan pola pikir/paradigma yang inivatif dan tiada batas.
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
40
B. MISI BPIPI
M I S I :
Memberikan pelayanan pendidikan dan pelatihan
Memberikan bantuan konsultasi teknis dan manajemen
Mengembangkan pusat desain persepatuan
Memberikan informasi teknologi dan promosi persepatuan
Memberikan pelayanan pengujian mutu / sertifikasi
1. Memberikan pelayanan pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan Pelatihan menjadi salah satu fokus program BPIPI dalam jangka waktu 5 tahun kedepan. Sebagai salah satu misi utama organisasi, pendidikan dan pelatihan yang diberikan BPIPI. Saat ini BPIPI sudah menyusuan kurikulum dan silabus pelatihan untuk desain, pecah pola, teknologi produksi, manajemen produksi, jahit Alas Kaki
”upper” dan lean manufacture. Kedepan masih sangat memungkinkan adanya perbaikan dan perbaruan kurikulum sesuai standard industri.
2. Memberikan bantuan konsultasi teknis dan manajemen
Program konsultasi ini terkait dengan tugas dan fungsi pokok pembinaan industri persepatuan. Tidak hanya terbatas pada konsultasi teknis, tim BPIPI dengan kompetensi masing-masing juga memberikan konsultasi manajemen kepada industri, terutama manajemen produksi.
3. Mengembangkan pusat desain persepatuan
Salah satu program organisasi kedepan ialah, bagaimana menyiapkan database design dengan didukung piranti hardware dan software sebagai salah satu referensi model dan desain untuk Alas Kaki casual (berbahan kulit) di Indonesia.
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
41 4. Memberikan informasi teknologi dan promosi persepatuan
Sebagai salah satu tugas penting lembaga pelayanan ialah menyediakan informasi yang cukup mengenai perkembangan teknologi produksi, kondisi pasar, design terbaru dan informasi perdagangan dengan tujuan membantu percepatan penyampaian informasi.
5. Memberikan pelayanan pengujian mutu dan sertifikasi
Untuk memenuhi kebutuhan industri terhadap pelayanan uji produk, maka BPIPI memberikan jasa layanan tes uji laboratorium untuk produk Alas Kaki. Pelayanan uji ini penting untuk peningkatan kualitas dan pelaksanaan standard produk Alas Kaki.
C. Tujuan BPIPI
Tujuan merupakan suatu hasil akhir yang ingin dicapai oleh Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), dalam menetapkan tujuan memperhatikan penjabaran atau implementasi dari misi yang akan dicapai dalam kurun lima tahun.
Sesuai dengan tugas dan fungsi BPIPI sebagai pusat pendidikan dan pelatihan, desain dan pengembangan dibidang persepatuan maka tujuan utama BPIPI adalah:
"Meningkatkan industri persepatuan menjadi industri yang tangguh dan berdaya saing global"
Dengan indikator tujuan utama adalah sebagai berikut :
Kontribusi IKM persepatuan terhadap IKM keseluruhan di Indonesia
D. Kondisi yang diharapkan tahun 2005 - 2025
Penentuan arah Kebijakan Industri Nasional Jangka Panjang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005 – 2025 sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 17
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
42 Tahun 2007. Dalam jangka panjang, pembangunan industri diarahkan untuk:
1. Mampu memberikan sumbangan nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
2. Membangun karakter budaya bangsa yang kondusif terhadap proses industrialisasi menuju terwujudnya masyarakat modern, dengan tetap berpegang kepada nilai-nilai luhur bangsa.
3. Menjadi wahana peningkatan kemampuan inovasi dan wirausaha bangsa di bidang teknologi industri dan manajemen, sebagai ujung tombak pembentukan daya saing industri nasional menghadapi era globalisasi/ liberalisasi ekonomi dunia.
4. Mampu ikut menunjang pembentukan kemampuan bangsa dalam pertahanan diri dalam menjaga eksistensi dan keselamatan bangsa, serta ikut menunjang penciptaan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat.
Arah kebijakan industri 2005-2025 seperti dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJPN adalah sebagai berikut:
1. Struktur perekonomian diperkuat dengan mendudukkan sektor industri sebagai motor penggerak yang didukung oleh kegiatan pertanian dalam arti luas, kelautan, dan pertambangan yang menghasilkan produk-produk secara efisien, modern, dan berkelanjutan, serta jasa-jasa pelayanan yang efektif, yang menerapkan praktik terbaik dan ketatakelolaan yang baik agar terwujud ketahanan ekonomi yang tangguh.
2. Efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah sektor primer terutama sektor pertanian dalam arti luas, kelautan, dan pertambangan ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar lokal dan internasional serta untuk memperkuat basis produksi secara nasional.
3. Pembangunan industri diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing, baik di pasar lokal maupun internasional, dan terkait
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
43 dengan pengembangan Industri Kecil dan Menengah, dengan struktur industri yang sehat dan berkeadilan serta mendorong perkembangan ekonomi di luar Pulau Jawa.
4. Struktur dalam hal penguasaan usaha akan disehatkan dengan meniadakan praktik-praktik monopoli dan berbagai distorsi pasar melalui penegakan persaingan usaha yang sehat dan prinsip-prinsip pengelolaan usaha yang baik dan benar.
5. Struktur industri dalam hal skala usaha akan diperkuat dengan menjadikan Industri Kecil dan Menengah sebagai basis industri nasional yang sehat sehingga mampu tumbuh dan terintegrasi dalam mata rantai pertambahan nilai dengan industri hilir dan industri berskala besar.
6. Dalam rangka memperkuat daya saing perekonomian secara global, sektor industri perlu dibangun guna menciptakan lingkungan usaha mikro (lokal) yang dapat merangsang tumbuhnya rumpun industri yang sehat dan kuat melalui:
a. Pengembangan rantai pertambahan nilai melalui diversifikasi produk (pengembangan ke hilir), pendalaman struktur ke hulu, atau pengembangan secara menyeluruh (hulu-hilir).
b. Penguatan hubungan antar industri yang terkait secara horizontal termasuk industri pendukung dan industri komplemen, termasuk dengan jaringan perusahaan multinasional terkait, serta penguatan hubungan dengan kegiatan sektor primer dan jasa yang mendukungnya.
c. Penyediaan berbagai infrastruktur bagi peningkatan kapasitas kolektif, antara lain: sarana dan prasarana fi sik (transportasi, komunikasi, energi), sarana dan prasarana teknologi, prasarana pengukuran, standardisasi, pengujian, dan pengendalian kualitas, serta sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan tenaga kerja industri.
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
44 Sesuai dengan visi 2025, menjadikan Indonesia Negara Industri Tangguh di dunia, dan arah kebijakan 2005-2025 di atas, serta dengan asumsi bahwa pencapaian industri di tahun-tahun sebelumnya sesuai dengan yang diharapkan,maka dapat dirumuskan kondisi yang diharapkan untuk kurun waktu tahun2020-2025 sebagai berikut:
1. Peran Industri Kecil dan Menengah telah mencapai keseimbangan denganIndustri Besar dalam hal kontribusi terhadap PDB Industri.
2. Persebaran industri ke luar Pulau Jawa telah terwujud dengan baik, sehingga peran Pulau Jawa sebagai lokasi industri telah berkurang sampai di bawah50 persen, sedangkan sisanya tersebar di luar Pulau Jawa.
3. Berbagai infrastruktur untuk peningkatan kapasitas kolektif, antara lain:sarana dan prasarana fisik (transportasi, komunikasi, energi), sarana dan prasarana teknologi, prasarana pengukuran, standardisasi, pengujian, dan pengendalian kualitas, serta sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan tenaga kerja industri telah tersedia secara memadai.
4. Regulasi yang meniadakan praktik-praktik monopoli dan berbagai distorsipasar serta mendorong persaingan usaha yang sehat dan ditegakkannyaprinsip-prinsip pengelolaan usaha yang baik dan benar telah tersedia danditegakkan secara memadai.
Sesuai dengan visi jangka panjang industri alas kaki 2010-2025, menjadikan Produk Industri Alas Kaki Indonesia menjadi Produk Unggulan Kelas Dunia dengan sasaran sebagai berikut:
1. Menjadikan merek Nasional mendominasi pasar domestik dan regional 2. Meningkatnya penyerapan tenaga kerja
3. Meningkatnya share dan peran yang signifikan dalam pertumbuhan ekonomi nasional
4. Sebagai pemicu pertumbuhan UKM yang akan meratakan perolehan berusaha dan kesempatan kerja
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
45 5. Meningkatnya pendalaman struktur industri
6. Meningkatnya peran lembaga R&D sebagai fasilitator pelaku usaha dalam pengembangan teknologi, desain dan kemampuan SDM
7. Meningkatnya peran dalam pengembangan wilayah melalui penyebaran industri alas kaki ke luar pulau Jawa.
E. Kondisi yang diharapkan tahun 2015 - 2019
BPIPI memiliki program utama yang merupakan pilar utama yaitu Kowledge, Training dan Design. Tahapan yang ingin dicapai BPIPI periode 2015 – 2019 dimana BPIPI akan menjadi lembaga penyelenggaraan pengembangan SDM Industri alas kaki, pengembangan design, dan pengembangan pengetahuan. Focus pada periode ini adalah menempatkan BPIPI sebagar center of human development bagi industry alas kaki secara nasional. Langkah - langkah yang akan dilakukan dalam lima tahun kedepan yang ditikberatkan pada 3 pilar diantaranya :
Training : Layanan pelatihan yang diselenggarakan oleh BPIPI akan menitikberatkan pada pencapaian kebutuhan alas kaki nasional melalui pelatihan operator maupun supervisor dan manajer, pelatihan untuk penumbuhan wira usaha baru. Materi pembelajaran mengarah pada pengembangan kreatifitas yang ditetapkan di produk alas kaki beserta prosesnya.
Design : BPIPI akan berperan sebagai konstributor desain alternative bagi buyer/pembeli alas kaki melalui kegiatan lomba, bank data desain las kaki.
Fashion designer direkrut untuk menjadi bagian penting dalam proses menghasilkan desain alas kaki yang bersifat local tetapi mampu masauk pasar global
Knowledge : BPIPI akan berperan sebagai administrator pengelola pengetahuan pasar, pengembangan usaha alas kaki dengan kepentingan kemajuan dan perkembangan alas kaki naisonal. Pengembangan riset material dan desain yang mampu mendukung kreatifitas desain. Material
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
46 yang unik dan memiliki daya saing global menjadi focus pengembangan pengetahuan di BPIPI.
F. Sasaran Strategis BPIPI
Sasaran strategis merupakan ukuran pencapaian dari tujuan dan mencerminkan berfungsinya outcome dari semua program yang telah ditetapkan. Penetapan sasaran strategis dilakukan dengan balance scorecard terhadap tujuan dengan perspektif customer, internal bussines process, dan learning and growth serta perspektif financial. Sasaran strategis Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia tahun 2015 – 2019 adalaha sebagai berikut :
I. PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN :
Sasaran Strategis 1. Penumbuhan Jumlah Wirausaha Baru
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) merupakan unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah, Kementrian Perindustrian. Dalam tusi utama Dirjen IKM salah satunya adalah penumbuhan wirausaha baru yang kemudian menjadi tusi BPIPI dalam sektor persepatuan. Sasaran ini akan dicapai dengan star up kelompok usaha baru melalui bimtek bidang persepatuan, pendampingan dan evaluasi hasil pendampingan.
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah : a. Jumlah wirausaha industri kecil baru
Program kegiatan
a. Bimbingan teknis kelompok usaha baru b. Bimbingan teknis industri kecil
c. Melakukan pendampingan dengan kelompok usaha baru dan industri kecil
d. Konsultasi teknis sektor alas kaki
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
47 e. Kerjasama dengan dinas terkait dalam pelaksanaan progres
kegiatan
II. PERSPEKTIF PROSES INTERNAL :
Sasaran Strategis 1. Meningkatnya kemampuan sentra, unit pelayanan teknis (UPT),tenaga penyuluh lapangan (TPL) serta konsultan industri kecil dan menengah.
Untuk meningkatkan industri kecil dan menengah yang berdaya saing harus didukung kemapuan SDM yang kompeten yang akan meninggkatkan kompetensi sentra IKM di daerah – daerah di seluruh Indonesia khususnya daerah yang memiliki potensi IKM alas kaki.
Untuk itu BPIPI melakukan peningkatan skill terhadap sentra,dan TPL
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) sasaran ini adalah:
a. Jumlah Tenaga Penyuluh Lapangan
Program kegiatan :
a. Rekruitmen peserta b. Bimbingan teknis TPL
c. Verifikasi oleh dinas setempat d. Validasi oleh BPIPI
Sasaran Strategis 2. Meningkatnya kerjasama dengan lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan pengembangan serta asosiasi industri dan asosiasi profesi terkait
Untuk mendukung peningkatan SDM kompetensi bidang persepatuan dan desain pengembangan perlu adanya kerjasama dengan lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan pengembangan serta asosiasi industri dan asosiasi profesi terkait.
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
48 Indikator Kinerja sasaran kinerja (IKSS) adalah :
a. Jumlah kerjasama dengan lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan pengembangan serta asosiasi industri.
b. Penyerapan jumlah tenaga kerja industri c. Perluasan ruang lingkup LSP P1 BPIPI
Program kegiatan
a. MoU dengan perusahaan atau lembaga penelitian dan pengembangan
b. Training of Trainer ke lembaga pendidikan yang mempnyai lingkup alas kaki
c. Verifikasi uji coba bahan uji kompetensi ( praktek dan teori) d. Validasi oleh BNSP terkait dengan perluasan ruang lingkup
Sasaran Strategis 3. Meningkatnya kompetensi SDM dan Sertifikasi kompetensi
Sebagai target utama, BPIPI menginginkan terwujudnya sebuah lembaga yang memfasilitasi SDM Indonesia dengan keterampilan dan pengetahuan industri persepatuan yang dipercaya. Sasaran ini akan dicapai dengan program-program pelatihan, pendampingan secara konsisten kepada pelaku industri kecil, menengah dan besar kemudian hasil pelatihan akan di disertifikasi kompetensi sesuai dengan bidangnya.
Indikator Kinerja :
a. Jumlah IKM/Tenaga Kerja/Alumni yang mendapat sertifikat kompetensi
Program Kegiatan:
a. Bimbingan teknis IKM/perusahaan
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
49 b. Uji kompetensi
c. Kerja sama dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja
Sasaran Strategis 4. Terfasilitasnya Bantuan Bimbingan Teknis Bimbingan teknis untuk SDM IKM alas kaki bertujuan untuk meningkatkan Ju SDM alas kaki yang harapanya dapat mendorong peningkatan kualitas produk yang dihasilkan dan memiliki daya saing yang tinggi. Hal yang sangat penting dalam mencipatakan produk yang mampu menembus pasar nasional maupun pasar internasional adalah SDM. Sudah menjadi tanggungjawab BPIPI sesuai dengan tugas dan fungsi BPIPI sebagai pusat pendidikan dan pelatihan alas kaki.
Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS) adalah :
a. Jumlah pelaku usaha dari IKM yang mendapat bimbingan teknis alas kaki
Program kegiatan :
1. Rekruitmen peserta pelatihan
2. Verifikasi peserta pelatihan oleh dinas setempat 3. Validasi peserta pelatihan oleh BPIPI
4. Uji Kompetensi
Sasaran Strategis 5. Peningkatan Pengembangan Produk
Salah satu langkah dalam meningkatkan industri persepatuan yang berdaya saing adalah peningkan pengembangan produk yang terbaru.
Sasaran ini dapat dilakukan dengan pengembangan produk alas kaki melalui pengembangan prototype sepatu dengan desain yang menarik dan dikemas dalam bingkai yang menarik.
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
50 Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) adalah sebagai berikut :
a. Jumlah IKM/peserta yang mengikuti Lomba Desain Alas Kaki Nasional
b. Jumlah IKM/peserta yang mengikuti Lomba Fotografi Alas Kaki Nasional
c. Jumlah IKM/peserta yang mengikuti Lomba videografi Alas Kaki Nasional
d. Jumlah Prototype hasil desain BPIPI
e. Jumlah prototype yang di produksi oleh IKM
Program kegiatan :
a. Lomba desain alas kaki dengan berbagai kategori b. Lomba fotografi alas kaki dengan berbagai kategori c. Lomba videografi alas kaki dengan berbagai kategori d. Pengembangan prototype alas kaki
e. Implementasi protoype yang diproduksi IKM
Sasaran Strategis 6. Peningkatan Segmen dan Perluasan Pasar Promosi mempunyai peranan yang penting , karena merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan organisasi dalam mencapai tujuan perusahaan.
Indikator kinerja :
a. Jumlah media promosi
Program Kegiatan :
a. Promosi organisasi BPIPI dan IKM alas kaki melalui website, pameran, temu bisnis/temu pelanggan
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
51 III. PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ORGANISASI :
Sasaran Strategis 1. SDM yang kompeten
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah
” Jumlah SDM yang kompeten”
Sasaran Strategis 2. Sistem Informasi yang andal
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah
”Jumlah aplikasi system informasi yang dikembangkan berjalan 90%”
Sasaran Strategis 3. Sistem Perencanaan dan penganggaran yang berkualitas
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah
”Tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan”
Sasaran Strategis 4. Sistem tatakelola keuangan dan BMN yang transparan dan akunable
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah
”Tingkat Penyerapan anggaran”
Sasaran Strategis 5. Sistem Pengendalian internal yang efektif Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah : 1. Temuan audit eksternal SNI ISO 17025 : 2008 dan ISO 9001 :2015 2. Perluasan ruang lingkup laboratorium uji (SNI ISO 17025:2008) 3. Laporan Hasil uji Laboratorium BPIPI
4. Level Keluhan Pelanggan
Sasaran 5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pembangunan industry
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah :
”Nilai SAKIP BPIPI”
Program kegiatan : a. Diklat teknis b. Diklat Struktural
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
52 c. Program pendidikan formal
d. Pengadaan baru/renovasi/rehabilitasi gedung e. Pengadaan peralatan laboratorium
f. Pembuatan 5 modul aplikasi informasi g. Penyusunan rencana kerja dan anggaran
h. Penerapan sistem manajemen mutu laboratorium uji i. Akreditasi/reakreditasi/survelen
j. Penambahan ruang lingkup Lab Uji k. Keluhan pelanggan yang ditindaklanjuti
l. Penyusunan laporan monev triwulan dan tahunan m. Penyusunan SAP dan BMN
n. Penyusunan SPIP
F. Indikator Kinerja Utama (IKU)
Dari indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) diatas, ditetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU)BPIPI untuk menilai pencapaian kinerja BPIPI. Indikator- indikator tersebut adalah sebagai berikut :
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
53 Tabel 2.1 Indikator Kinerja Utama
Bab II. Visi, Misi dan Tujuan
54
2017 2018 2019
1 2 3 5 6 7 8 9
SS.S1 Meningkatnya jumlah wirausaha
baru/wirausaha menengah baru S1..1 Jumlah wirausaha industri kecil baru
IKM 50 50 50
SS.T1 Meningkatnya Kemampuan sentra, Unit Pelayanan Teknis, Tenaga Penyuluh Lapangan serta Konsultan Industri Kecil dan Menengah
Perluasan ruang lingkup LSP RL 1 1 1
SS.T3 Meningkatnya kompetensi SDM dan sertifikasi Kompetensi
SS.T4 Terfasilitasinya bantuan bimbingan
teknis T4.1 Jumlah IKM yang mendapat
bimbingan teknis
IKM 240 240 240
T5.1
Jumlah IKM/ Peserta yang mengikuti Lomba Desain Alas Kaki Nasional
Karya 400 400 400
T5.2
Jumlah IKM/ Peserta yang mengikuti Lomba Fotografi Alas Kaki Nasional
Karya 400 400 400
T5.3
Jumlah IKM/ Peserta yang mengikuti Lomba Videografi Alas Kaki Nasional
Karya 50 50 30
T5.4 Jumlah Prototype yang diproduksi oleh IKM
Prototype 20 20 24
SS.T6 Peningkaan Segmen dan Peluasan
Pasar T6.1 Jumlah Media Promosi Paket 3 3 3
SS.L1 Sistem informasi yang andal
L1.1
Jumlah aplikasi Sistem informasi yang
dikembangkan berjalan 90 %
Modul 2 2 2
SS.L2 Sistem perencanaan dan
penganggaran yang berkualitas L2.1
Tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan
persen 95 95 95
SS.L3 Sistem tatakelola keuangan dan BMN
yang transparan dan akuntabel L3.1 Tingkat penyerapan
yang transparan dan akuntabel L3.1 Tingkat penyerapan