i
RENCANA STRATEGIS BISNIS 2015 – 2019
BALAI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERSEPATUAN INDONESIA (BPIPI)
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH
BALAI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERSEPATUAN INDONESIA
Kompleks Pasar Wisata , Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo 031 8855149, Fax 031 8856150
Website. http://bpipi.kemenperin.go.id
SIDOARJO – 2017
Kata Pengantar
ii
KATA PENGANTAR
Berdasarkan Instruksi Presiden no. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan juga di amanahkan dalam Undang – undang no.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), mengamanatkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah, dan Rencana Pembangunan Tahunan atau Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Dimana amanat undang – undang tersebut dijabarkan ke dalam Peraturan Pemerintah nomor 40 tahun 2006 tentang Tatacara penyusunan RPJM Nasional, Rencana Strategis Kementrin/Lembaga, Rencana Kerja Pemerintah, Rencana Kerja Kementrian/Lembaga, dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan maka setiap unit kerja/satuan kerja diwajibkan untuk membuat Rencanan Strategis jangka waktu 5 tahun. Berdasarkan hal tersebut maka Balai Pegembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) menyusun Rencana Strategis untuk menjawab lingkungan strategi lokal, nasional, dan global, serta tetap berada dalam tatanan Sistem admnistrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Penyusunan Renstra BPIPI periode 2015 – 2019 adalah ssebagai tindak lanjut telah berakhirnya renstra periode 2010 – 2014. Rencana Strategis ini merupakan revisi dari rencana strategis periode 2015 – 2019 yang ditetapkan di akhir tahun 2014. Revisi dilakukan setelah dilakukan review renstra ditahun 2017.
Misi utama Balai Pengembangan Industri Persepatuan adalah Memberikan
pelayanan pendidikan dan pelatihan, Memberikan bantuan konsultasi teknis dan
manajemen, Mengembangkan pusat desain persepatuan, Memberikan informasi
teknologi dan promosi persepatuan, Memberikan pelayanan pengujian mutu /
sertifikasi. Dimana melalui misi tersebut dilakukan penyusunan program BPIPI
dalam jangka 5 tahun kedepan sehingga dapat diacu oleh program atau kegiatan
yang lebih rinci dalam bentuk Rencana Bisnis dan Anggaran tahunan.
Kata Pengantar
iii Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, telah tersusun Rencana Strategis (Renstra) Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) periode 2015 – 2019 sebagai acuan kegiatan dan pengembangan organisasi. Kepada semua pihak, baik dari komponen yang ada dilingkungan Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia yang terlibat maupun yang memberikan masukan dalam proses penyusunan Rencana Strategis (renstra) periode 2015 – 2019 , kami mengucapkan terimakasih.
Harapan kami Renstra ini dapat memberikan manfaat dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan organisasi BPIPI.
Sidoarjo, Januari 2017 Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia
(BPIPI)
(E. Ratna Utarianingrum)
Daftar Isi
iv
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ...viii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Maksud dan Tujuan ... 3
C. Kondisi Umum ... 4
D. Potensi dan Permasalahan ... 18
E. Ruang Lingkup ... 36
F. Sistematika Penyusunan Renstra... 36
BAB II. VISI, MISI dan TUJUAN ... 38
A. Visi ... 38
B. Misi...40
C. Tujuan ... 41
D. Kondisi yang Diharapkan Tahun 2005 – 2025 ... 41
E. Kondisi yang Diharapkan Tahun 2015 – 2019 ... 45
F. Indikator Kinerja Utama (IKU) ... 53
G. Program Kegiatan ... 54
H. Output ... 55
BAB III. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI ... 62
A. Arah Kebijakan dan Strategi Kementrian Perindustrian Industri Alas Kaki ... 63
B Kebijakan Umum Pembangunan Nasional ... 63
C. Arak Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Industri Kecil dan
Menengah ... 71
Daftar Isi
v
D. Arah Kebijakan dan Strategi Balai Pengembangan Industri
Persepatuan Indonesia (BPIPI) ... 76
B AB V. PENUTUP ... 80 LAMPIRAN ... ...81
Daftar lampiran
v
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Kerangka Pendanaan ... 81
Daftar tabel
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Capaian Renstra BPIPI 2011 – 2014 ... 7
Tabel 1.2 Capaian Kinerja Tahun 2011 ... 8
Tabel 1.3 Capaian Kinerja Tahun 2012 ... 9
Tabel 1.4 Capaian Kinerja Tahun 2013 ... 10
Tabel 1.5 Capaian Kinerja Tahun 2014 ... 11
Tabel 1.6 Capaian Kinerja Tahun 2015 ... 12
Tabel 1.7 Capaian Kinerja Tahun 2016 ... 14
Tabel 1.8 Capaian Anggaran Tahun 2011 - 2015 ... 17
Tabel 1.9 Tupoksi Kinerja BPIPI Per Periode 2003 - 2014 ... 19
Tabel 1.10 Jumlah Pelatihan yang sudah Dilakukan Oleh BPIPI ... 19
Tabel 1.11 Pagu Anggaran 2011 – 2015 ... 20
Tabel 1.12 Profil SDM Berdasarkan Jabatan ... 21
Tabel 1.13 Profil SDM Berdasarkan Pendidikan ... 21
Tabel 1.14 Kontribusi Asset dan Dana Operasional Kelembagaan ... 22
Tabel 1.15 Proyeksi Penduduk Indonesia hingga Tahun 2035 ... 24
Tabel 1.16 Data Eksport Alas Kaki Negara Indonesia ... 25
Tabel 1.17 Matriks SWOT BPIPI... 35
Tabel 2.1 Indikator Kinerja Utama (IKU) ... 53
Tabel 2.2 Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja SS ... 59
Tabel 3.1 Sasaran Pokok Pembangunan RPJMN 2015 – 2019 ... 68
Daftar gambar
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Struktur Organisasai BPIPI ... 6
Gambar 1.2 Grafik Nilai Ekspor Alas Kaki ... 26
Gambar 1.3 Peringkat Ekspor Alas Kaki ... 27
Gambar 1.4 Peringkat Produsen Alas Kaki ... 28
Gambar 1.5 Sasaran Pengembangan Industri Alas Kaki Nasional ... 31
Gambar 1.6 Pola Pikir Penyusunan Rencana Strategis ... 33
Gambar 2.1 Peta Strategis BPIPI ... 58
Gambar 3.1 Strategi Pembangunan Nasional ... 66
Bab I. Pendahuluan
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era globalisasi ekonomi yang berdampak pada perkembangan teknologi menjadikan persaingan di dunia industry sangat ketat, dan perubahan lingkungan usaha menjadi sangat cepat. Berdasarkan hal tersebut pembangunan industry harus mampu menjawab tantangan globalisasi ekonomi dunia dan mampu mengantisipasi perkembangan perubahan lingkungan yang sangat cepat. Dalam melaksanakan proses pembangunan industry kondisi saat ini merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh masyarakat industry serta harus menjadi pertimbangan yang menentukan dalam setiap kebijakan yang akan dibuat.
Era Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat dan berdampak luas bagi perekonomian baik nasional maupun internasional. Dampak yang paling dirasakan saat ini adalah persaingan di dunia industry yang semakin ketat. Untuk itu sector industry harus dapat berkembang dalam arena persaingan dan sekaligus menjadikanya sebagai motor penggerak perekonomian nasional di masa depan. Untuk membangun daya saing yang berkelanjutan, diperlukan upaya pemanfaatan seluruh potensi sumber daya dan kemampuan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada di luar negeri maupun di dalam negeri.
Industri alas kaki merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan
penting sebagai penggerak perekonomian nasional. Kementrian
Perindustrian telah menetapkan industry alas kaki nasional sebagai industry
prioritas. Selain alas kaki merupakan kebutuhan primer dari manusia juga
merupakan fesyen yang dibutuhkan oleh setiap kalangan. Disamping itu
Bab I. Pendahuluan
2
dalam beberapa dekade ini industry alas kaki mempunyai nilai perdagangan yang terus meningkat dengan rata – rata nilai surplus dalam lima tahun terakhir mencapai 2,84 miliar dollar AS. Berdasarkan hal tersebut maka tak pelak apabila industry alas kaki menjadi industry prioritas yang oleh pemerintah didorong perkembanganya. Industri alas kaki di Indonesia menggarap dua pasar yaitu pasar nasional dan pasar internasional . Pertumbuhan ekonomi sector tersebut pada tahun 2016 sebesar 4.1%.
Dimana ditahun 2015 pertumbuhan industry alas kaki dan barang dari kulit sebesar 4 % dan naik menjadi 8.1% pada tahun 2016.
Secara total , pertumbuhan industry alas kaki dan barang dari kulit naik sebesar 1,9 trilyun rupiah. Dari sebelumnya 23,8 miliar rupiah pada tahun 2015 menjadi 25,8 miliar rupiah pada tahun 2016. Kenaikan ini jelas memberikan harapan besar bagi para pelaku industry alas kaki dan barang dari kulit.
dimana nilai eksport industry alas kaki nasional mengalami peningkatan yang berarti dimana pada tahun 2016 nilai eksport alas kakinasional tercatat hingga USD 4,11 miliar atau naik sekitar 6,43% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain ekspor alas kaki mempunyai andil yang cukup besar dalam menguatkan perekonomian Negara.
Seperti yang diungkapkan sebelumnya untuk meningkatkan bahwa perkembangan teknologi merupakan hal yang sangat berpangaruh dalam persaingan didunia industry. begitu halnya dengan sector industry alas kaki, dimana teknologi merupakan hal yang paling dibutuhkan mengingat alas kaki akan selalu berubah mengikuti perkembangan trend fashion. Desain, kualitas menjadi sisi utama oleh pengguna dalam memilih alas kaki. Untuk itu diperlukan inovasi dan kreatifitas terus menerus agar produksi alas kaki dapat bersaing di pasar internasional.
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) sebagai unit
pelayanan teknis yang menangani pengembangan industri persepatuan di
Indonesia, memiliki peran dalam melaksanakan kebijakan pengembangan
industry nasional di bidang alas kaki melalui media kreatif dan fashion alas
Bab I. Pendahuluan
3
kaki di Indonesia. Dengan melaksanakan tugas tersebut maka diharapkan akan berkembang industri keratif alas kaki sehingga dapat meningkatkan daya saing industri dan mendorong percepatan pembangunan industri nasional.
Di samping tugas pembangunan yaitu mendorong tumbuhnya industri kreatif alas kaki nasional, BPIPI secara internal mempunyai tugas untuk meningkatkan kemampuan diri melalui peningkatan kompetensi serta mememberikan jasa layanan teknis kepada industri kecil, menengah dan besar. Pada dasarnya upaya peningkatan kompetensi balai merupakan inti yang dapat meningkatkan peran BPIPI dalam menunjang program pembangunan industri yang berwawasan lingkungan maupun meningkatkan jasa pelayanan teknis yang diberikan. Maka sangat perlu di buat kerangka kinerja perencanaan hingga evaluasi untuk mendukung pembangunan industri Nasional Kementrian Perindustrian.
B. Maksud dan Tujuan
Renstra merupakan dokumen perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5 tahun sehubungan dengan tugas dan fungsi dari Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) serta disesuaikan dengan memperhitungkan perkembangan lingkungan strategis. Dari proses perencanaan strategis tersebut akan dihasilkan Rencana Strategis yang memuat visi, misi, tujuan sasaran, strategi dan program pelaksanaannya.
Maksud penyusunan Rencana Strategis adalah untuk meningkatkan kinerja Organisasi BPIPI dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam mencapai visi, misi, dan program yang telah ditetapkan. Selain itu, juga untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai arah yang akan di capai Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) jangka waktu 5 tahun kedepan.
Tujuan penyusunan renstra adalah sebagai panduan atau acuan mengenai
arah dan focus kegiatan, serta langkah – langkah yang akan dilakukan
Bab I. Pendahuluan
4
untuk mencapai tujuan dari organisasi. Sehingga masyarakat akan mampu menilai program – program yang dilakukan oleh BPIPI secara transparan dan manfaatnya bagi pengembangan usaha. Selain itu Renstra ini dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kinerja tahunan, pengguatan stakeholder dalam pelakanaan Rencana Kinerja serta evaluasi dan pelaporan atas kinerja dalam 5 (lima)tahun.
C. Kondisi Umum
1. Tugas Pokok dan Fungsi
Peran pertumbuhan industri sangat besar untuk meningkatkan perekonomian Negara. Untuk mewujudkan pertumbuhan dalam industri memerlukan strategi yang tepat agar industri di Indonesia bisa berkembang pesat dan dapat bersaing dengan industry nasional. Industri alas kaki merupakan industry yang proses perkembangannya baik secara teknologi dan kualitas dari tahun ke tahun cukup pesat. Hal ini karena alas kaki merupakan fashion yang cukup berperan penting bagi masyarakat. Tantangan ekonomi dunia sekarang bahwa industri harus mampu meningkatkan daya saing produknya di kanca internasional merupakan amanah yang harus diemban industri alas kaki di Indonsia. Bagaimana industri alas kaki harus mampu bersaing dan meningkatkan inovasi – inovasi dalam produk yang dihasilkan dan memenuhi persyaratan pelanggan. Inovasi baru tentang teknologi alas kaki sangat dituntut untuk mengembangkan hasil – hasil industri local. Untuk itu industri harus menyediakan sumber daya yang cukup untuk memenuhi hal tersebut.
Selain sumber daya berupa sarana dan rasarana serta teknologi yang maju
tetapi juga sumber daya manusia yang terampil dan kompeten. Tantangan
terbesar pemerintah dalam hal ini adalah bagiamana harus menyediakan
sumber daya manusia yang kompeten dan terampil sehingga dapat bersaing
dengan sumber daya dari luar negri. Tantangan terbesar industri alas kaki
sekarang adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) khususnya dalam
mengadapi tenaga kerja yang handal dan profesional. Dalam MEA pasar
tenaga kerja dari negara anggota ASEAN akan bebas masuk ke Indonesia.
Bab I. Pendahuluan
5
Untuk itu industri alas kaki nasional harus menyiapkan tenaga kerja yang handal dan professional untuk mengisi sekaligus mendominasi pasar tenaga kerja domestik maupun internasional. Pemberlakukan MEA menjadi sebuah tantangan bagi industri alas kaki ,ditengah perbandingan kebutuhan pasar dengan tenaga kerja industri saat ini. Apa lagi dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimana banyak tenaga kerja asing yang akan bersaing dengan tenaga kerja Indonesia. Salah satu upaya dalam peningkatan kualitas tenaga kerja adalah dengan diberikan pendidikan dan pelatihan yang berbasis kompetensi. Sehingga selain ilmu yang bisa diterima juga pengakuan kompetensi oleh sebuah lembaga. Hal ini merupakan salah satu kekuatan untuk menghadapi MEA. Dalam hal inilah Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia sebagai institusi pendidikan dan pengembangan desain mempunyai peran untuk menjawab tantangan tersebut terutama dalam industri alas kaki dan mendukung pengembangan industri alas kaki yang inovatif. Peran Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) sesuai tugas dan fungsinya yang sudah ditetapkan menjadi point penting.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 103/M- IND/PER/12/2008 perihal Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang langsung dibawah tanggung jawab Kementerian Perindustrian cq Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah dengan level struktur organisasi eselon III.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 103/M- IND/PER/12/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia mempunyai fungsi :
1. Penyusunan rencana, program, dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dibidang persepatuan
2. Pelaksanaan layanan bimbingan teknis produksi sepatu dan manajemen persepatuan
3. Pengembangan desain di bidang persepatuan
Bab I. Pendahuluan
6
4. Pelayanan informasi teknologi persepatuan
5. Pelaksanaan urusan kepegaiwaian, keuangan, inventarisasi barang milik Negara, tata persuratan, perlengkapan, kearsipan, rumah tangga, koordinasi penyusunan bahan rencana dan program , penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan serta pengelolaan perpustakaan BPIPI.
Gambar 1.1. Struktur Organisasi BPIPI
Tugas Pokok masing-masing bagian/unit kerja adalah sebagai berikut:
1. Kepala BPIPI
Mengemban tugas memimpin Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia dalam hal perumusan pengembangan organisasi, pembinaan dan dukungan adminitrasi di lingkungan BPIPI.
2. Subbag Tata Usaha
Mengemban tugas pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, inventarisasi barang milik negera, tata persuratan, perlengkapan, kearsipan, tumah tangga, kordinasi penyusunan bahan rencana dan program, penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan serta pengelolaan perpustakaan BPIPI.
3. Pendidikan & Pelatihan
Mengemban tugas pelaksanaan penyusunan rencana, program dan pendidikan dan pelatihan di bidang persepatuan dan pelaksanaan layanan bimbingan teknis produksi sepatu dan manajemen persepatuan.
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia
Pendidikan & Pelatihan
Kelompok Fungsional
Desain &
Pengembangan Subbag Tata Usana
Bab I. Pendahuluan
7
4. Desain & Pengembangan
Mengemban tugas Pelaksanaan pengembangan desain di bidang persepatuan dan pelayanan informasi teknologi persepatuan.
Disamping itu terdapat kelompok fungsional yang mengemban tugas memberikan dukungan teknis untuk semua pelaksanaan operasional organisasi sesuai kompetensi yang dimiliki.
2. Capaian Renstra 2011 -2014
Berikut capaian renstra periode 2011 – 2014 Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia.
Tabel 1. 1 Capaian RENSTRA BPIPI 2011 - 2014
No.
ARAH KEBIJAKAN DAN INDIKATOR UTAMA 2011 2012 2013 2014
SASARAN STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
SATUAN TAR
GET T R T R T R T R
1. Terciptanya SDM alas kaki yang kompeten
Terpenuhinya kebutuhan SDM IKM alas kaki yang terampil
Jumlah 4000 1000 1000 1000 1010 1000 1000 1000 1000
2. Meningkatnya mutu produk alas kaki dalam negeri
Meningkatnya kualitas proses produksi alas kaki sesuai standard nasional.
Kegiatan 5 1 1 2 2 1 1 1 1
3 Terciptanya desain-desain yang inovatif,
Jumlah kegiatan yang berbasis pada inovasi dan komunitas kreatif
Kegiatan 8 2 2 2 2 2 2 2 2
Pemanfaatan hasil inovasi &
prototype dan pengembangan produk industri
Pasang 96 24 24 24 24 24 24 24 24
4 Terwujudnya Alas Kaki sebagai produk unggulan nasional
Jumlah kegiatan promosi, pameran dan akses pasar
Kegiatan 10 2 2 3 3 3 3 2 2
5 Tersedianya sertifikasi hasil uji mutu produk Alas Kaki
Semakin lengkap dukungan infrastuktur uji produk alas kaki
Ruang Lingkup
Uji
25 6 6 6 6 8 8 5 5
Pemanfaatan peralatan uji oleh industri alas kaki
LHU 400 100 100 100 100 100 100 100 100
Bab I. Pendahuluan
8
Program layanan yang disusun pada RENSTRA BPIPI 2011 – 2014 adalah program pada peningkatan industri alas kaki pada Industri Kecil dan Menengah. Aspek yang menjadi prioritas BPIPI yang sinergi dengan tugas dan fungsi BPIPI dalam RENSTRA BPIPI 2011 – 2014 adalah peningkatan sumber daya manusia, peningkatan layanan kebutuhan sector alas kaki, peningatan desain dan pengembangan sector alas kaki. Indikator pengukuran yang dilakukan terhadap target prioritas tersebut adalah indikator outcame yang artinya ukuran keberhasilan dilihat jika indicator yang ditetapkan sudah berdampak terhadap hasil yang dimanfaatkan oleh Industri Kecil dan Menengah Alas Kaki.
Sesuai dengan table tersebut diatas bahwa capaian realisasi RENSTRA 2011 – 2014 sesuai dengan target yang ditetapkan.
3. Capaian Penetapan Kinerja Tahun 2011 – 2014
Penetepan Kinerja merupakan lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari Direktur Jenderal IKM Kementrian Perindustrian sebagai amanah kepada pimpinan BPIPI sebagai penerima amanah untuk mlaksanakan program/kegiatan yang disertai indicator kinerja. Dalam kinerja yang disepakati BPIPI tidak hanya pada kinerja yang dihasilkan atas kegiatan tahun bersangkutan, tetapi termasuk (outcame) yang seharusnya terwujud akibat kegiatan tahun – tahun sebelumnya. Selama periode RENSTRA 2011 – 2014 capaian penetapan kinerja seperti pada table berikut:
Tabel 1.2 Capaian Kinerja Tahun 2011
No.
ARAH KEBIJAKAN DAN INDIKATOR UTAMA 2011 SASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA UTAMA
SATUAN
Target Realisasi 1. Terciptanya SDM
alas kaki yang kompeten
Terpenuhinya kebutuhan SDM IKM alas kaki yang terampil
Jumlah 1000 1000
2. Meningkatnya mutu produk Alas Kaki dalam negeri
Meningkatnya kualitas proses produksi alas kaki sesuai standard nasional.
Kegiatan 1 1
Bab I. Pendahuluan
9
3 Terciptanya desain- desain yang inovatif,
Jumlah kegiatan yang berbasis pada inovasi dan komunitas kreatif
Kegiatan 2 2
Pemanfaatan hasil inovasi & prototype dan pengembangan produk industri
Pasang 24 24
4 Terwujudnya Alas Kaki sebagai produk unggulan nasional
Jumlah kegiatan promosi, pameran dan akses pasar
Kegiatan 2 2
5 Tersedianya sertifikasi hasil uji mutu produk Alas Kaki
Semakin lengkap dukungan infrastuktur uji produk alas kaki
Ruang Lingkup Uji
6 6
Pemanfaatan peralatan uji oleh industri alas kaki
LHU 100 100
Pada tahun 2011 semua Indikator kinerja utama Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia tercapai semua. Semua Realisasi sesuai dengan target yang diharapkan.
Tabel 1.3 Capaian Kinerja Tahun 2012
No.
ARAH KEBIJAKAN DAN INDIKATOR UTAMA 2012
SASARAN STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA UTAMA
SATUAN
Target Realisasi 1. Terciptanya SDM
alas kaki yang kompeten
Terpenuhinya kebutuhan SDM IKM alas kaki yang terampil
Jumlah 1000 1010
2. Meningkatnya mutu produk Alas Kaki dalam negeri
Meningkatnya kualitas proses produksi alas kaki sesuai standard nasional.
Kegiatan 2 2
3 Terciptanya desain- desain yang inovatif,
Jumlah kegiatan yang berbasis pada inovasi dan komunitas kreatif
Kegiatan 2 2
Pemanfaatan hasil inovasi & prototype dan pengembangan produk industri
Pasang 24 24
4 Terwujudnya Alas Kaki sebagai produk unggulan nasional
Jumlah kegiatan promosi, pameran dan akses pasar
Kegiatan 3 3
5 Tersedianya sertifikasi hasil uji mutu produk Alas
Semakin lengkap dukungan infrastuktur uji
Ruang Lingkup Uji
6 6
Bab I. Pendahuluan
10
Kaki produk alas kaki
Pemanfaatan peralatan uji oleh industri alas kaki
LHU 100 100
Dalam periode 2012 semua indikator kinerja BPIPI yang ditetapkan tercapai antara target dan realisasi. Terpenuhinya kebutuhan SDM alas kaki yang terampil tercapai hingga 101% dari target persentase yang ditetapkan.
Sesuai dengan tugas dan fungsi Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia menyediakan tenaga terampil di bidang alas kaki merupakan target utama kinerja BPIPI.
Tabel 1.4 Capaian Kinerja tahun 2013
No.
ARAH KEBIJAKAN DAN INDIKATOR UTAMA 2013 SASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA UTAMA
SATUAN
Target Realisasi 1. Terciptanya SDM
alas kaki yang kompeten
Terpenuhinya kebutuhan SDM IKM alas kaki yang terampil
Jumlah 1000 1000
2. Meningkatnya mutu produk Alas Kaki dalam negeri
Meningkatnya kualitas proses produksi alas kaki sesuai standard nasional.
Kegiatan 1 1
3 Terciptanya desain- desain yang inovatif,
Jumlah kegiatan yang berbasis pada inovasi dan komunitas kreatif
Kegiatan 2 2
Pemanfaatan hasil inovasi & prototype dan pengembangan produk industri
Pasang 24 24
4 Terwujudnya Alas Kaki sebagai produk unggulan nasional
Jumlah kegiatan promosi, pameran dan akses pasar
Kegiatan 3 3
5 Tersedianya sertifikasi hasil uji mutu produk Alas Kaki
Semakin lengkap dukungan infrastuktur uji produk alas kaki
Ruang Lingkup Uji
8 8
Pemanfaatan peralatan uji oleh industri alas kaki
LHU 100 100
Seperti pada tahun sebelumnya ditahun 2013 capaian kinerja Balai
Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) tecapai hingga
Bab I. Pendahuluan
11
100% sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Walaupu demikian, BPIPI berupaya dalam meningkatkan potensi untuk pengembangan Industri Kecil dan Menengah sector alas kaki. Dalam mewujudkan hal tersebut masih diperlukan penambahan ruang lingkup untuk meningkatkan IKM alas kaki.
Tabel 1.5 Capaian Kinerja tahun 2014
No.
ARAH KEBIJAKAN DAN INDIKATOR UTAMA 2014 SASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA UTAMA
SATUAN
Target Realisasi 1. Terciptanya SDM
alas kaki yang kompeten
Terpenuhinya kebutuhan SDM IKM alas kaki yang terampil
Jumlah 1000 1000
2. Meningkatnya mutu produk Alas Kaki dalam negeri
Meningkatnya kualitas proses produksi alas kaki sesuai standard nasional.
Kegiatan 1 1
3 Terciptanya desain- desain yang inovatif,
Jumlah kegiatan yang berbasis pada inovasi dan komunitas kreatif
Kegiatan 2 2
Pemanfaatan hasil inovasi & prototype dan pengembangan produk industri
Pasang 24 24
4 Terwujudnya Alas Kaki sebagai produk unggulan nasional
Jumlah kegiatan promosi, pameran dan akses pasar
Kegiatan 2 2
5 Tersedianya sertifikasi hasil uji mutu produk Alas Kaki
Semakin lengkap dukungan infrastuktur uji produk alas kaki
Ruang Lingkup Uji
5 5
Pemanfaatan peralatan uji oleh industri alas kaki
LHU 100 100
Pada tahun 2014 capaian kinerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia tercapai sesuai dengan target yang ditetapkan.
secara keseluruhan periode Renstra 2011 – 2014 semua indicator kinerja
realisasinya tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Namun
demikian, dalam pelaksanaanya masih diperlukan peningkatan untuk
merealisasikan kinerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan
Indonesia diantara : peningkatan promosi layanan BPIPI maupun IKM
Bab I. Pendahuluan
12
sector alas kaki, perlengkapan laboratorium uji untuk meningkatkan kinerja teknis BPIPI dalam pelayanan terhadap IKM, peningkatan SDM BPIPI terkait dengan tusi desain dan pengembangan maupun pendidikan dan pelatihan. Dari hasil penetapan kinerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) periode 2011 - 2014, menunjukan bahwa target dan realisasi yang dicapai mempunyai kinerja yang baik. Capaian ini menjadi dasar penetapan kinerja BPIPI untuk Rencana Strategis Balai Pengembangan Industri Perspatuan Indonesia (BPIPI) periode 2015 - 2019.
Pada tahun pertama periode renstra 2015 - 2019 Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) menetapkan penetapan kinerja dengan menambahhkan sasaran strategis pada Perspektif Pemangku Kepentingan/ Stakeholder, Perspektif proses pelaksanaan tugas pokok dan Persepktif Peningkatan kapasitas kelembagaan. Penetapan kinerja beserta target dan realisasinya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.6 Capaian kinerja 2015
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase Perspektif Pemangku Kepentingan / Stakeholder (S)
1 Meningkatnya jumlah Wirausaha Industri Baru
Jumlah Wirausaha Industri Kecil yang mendapatkan program pengembangan usaha
200 orang 230 orang 170%
Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok (T)
1 Tersusunnya arah
pembangunan IKM
Jumlah rencana pembangunan IKM Alas Kaki
1 dokumen (POK)
1 dokumen (POK)
100%
2 Meningkatnya kerjasama dengan Lembaga Pendidikan, Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta asosiasi industri dan asosiasi profesi terkait
Jumlah kerjasama 1
kerjasama
4 kerjasama 400%
Tempat Uji Komepetensi (TUK_
BPIPI)
1 TUK 1 TUK 100%
Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-1)
1 LSP-1 1 LSP-1 90%
3 Meningkatnya kompetensi SDM dan sertifikasi Kompetensi
Jumlah IKM/Tenaga Kerja/Alumni yang memperoleh sertifikat kompetensi
200 orang 2000 orang 1000%
Jumlah SDM internal BPIPI yang memperoleh sertifikat kompetensi
5 orang 17 orang 340%
4 Terfasilitasinya bantuan bimbingan teknis
Jumlah IKM yang mendapat pelatihan
300 IKM 340 IKM 106,25 % 5 Peningkatan
pengembangan produk
Jumlah IKM/ Peserta yang mengikuti Lomba Desain Alas Kaki Nasional
300 orang 571 Orang 190,3 %
Bab I. Pendahuluan
13
Kegiatan Lomba Desain Alas Kaki
Nasional
1 kegiatan 1 kegiatan 100%
Jumlah Prototype 20 desain 24 desain 120%
Keikutsertaan Pameran Dalam Negeri
3 kegiatan 3 kegiatan 100%
Keikutsertaan Pameran Luar Negeri
1 kegiatan 1 kegiatan 100%
6 Menguatnya keterkaitan dan hubungan kemitraan antara IKM dengan Industri Besar dan sektor ekonomi lainnya
Jumlah IKM yang mendapat fasilitasi
75 IKM 40 IKM 53.3 Kegiatan Temu Bisnis 2 kegiatan 2 kegiatan 100%
Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan (L)
1 Sistem informasi yang
andal
Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) Sistem Informasi Pelanggan
1 paket 1 paket 100%
2 Sistem perencanaan dan penganggaran yang berkualitas
Tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan
100 % 90% 90%
3 Sistem tatakelola keuangan dan BMN yang transparan dan akuntabel
Tingkat penyerapan anggaran 100 % 96,78 96,78
4 Sistem pengendalian internal yang efektif
Pemeliharaan Sertifikasi ISO 9001-2008
1 dokumen 1 dokumen 100%
Pemeliharaan Akreditasi ISO 17025-2005
1 dokumen 1 dokumen 100%
Level Keluhan Pelanggan 100 % 100% 100%
5 Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pembangunan industry
Jumlah laporan kegiatan/ monev/
pendukung
1 laporan (LAKIP)
1 laporan (LAKIP)
100%
penetapan kinerja ditahun 2015 terdapat 4 ketetapan yang tidak tercapai diantaranya:
1. Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-1)
BPIPI mengajukan permohonan pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) ke BNSP pada tahun anggaran 2015 ini, dan pada tanggal 18 Desember 2015 BNSP melakukan asesmen atas permohonan pendirian LSP BPIPI tersebut. Hingga akhir desember untuk status LSP BPIPI sedang dalam tahap pengesahan oleh BNSP
2. Jumlah IKM yang mendapat fasilitasi
Jumlah IKM yang mendapat fasilitas dengan target 75 orang. Output dari
kegiatan ini adalah terbentuknya Wira Usaha Baru dalam bentuk
kelompok atau sentra, yang kemudian dapat membantu kebutuhan dari
Bab I. Pendahuluan
14
industri besar, baik dari kebutuhan tenaga terampil maupun support dalam penyediaan barang setengah jadi. Kegiatan berupa bantuan peralatan dan bahan, serta Pelatihan Alas Kaki pada tanggal 21 Agustus s/d 3 September 2015. Kegiatan ini tercapai 53.3 % yaitu hanya 40 IKM dari target yang ditetapkan sebanyak 75IKM. Hal direncanakan ada KUB dengan rincian wilayah pacitan 20IKM, Trenggalek 20 IKM,Tulung Agung 20 IKM, Surabaya 20 IKM,Jombang 20 IKM ditahun 2015 tetapi realisasinya terkendala dengan keterbatasan instruktur yang mempunyai jadwal yang cukup padat.
3. Tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan Ada satu kegiatan yang dari 10 kegiatan ketidaksesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan yaitu kegiatan lelang hal ini dikarenakan Lelang “Belanja Revitalisasi Laboratorium Uji & Desain”, mengalami keterlambatan pembayaran kepada pihak penyedia dikarenakan barang lelang yaitu alat uji laboratorium yang diimpor dari Inggris mengalami keterlambatan kedatangan (shipment).
4. Tingkat penyerapan anggaran
Sampai akhir Desember 2015, meningkatkan sistem tata kelola keuangan dan BMN yang transparan dan akuntabel dengan indikator tingkat penyerapan anggaran dan dengan target penyerapan anggaran sebesar 100
% (persen) mempunyai capaian kinerja sebesar 96,78 % (persen) hal ini dikarenakan ketidak sesuaian antara anggaran dengan realisasi, yaitu sisa anggaran kegiatan.
Capain kinerja tahun 2016 adalah sebagai berikut :
Tabel 1.7 Capaian kinerja 2016
No. SasaranStrategis Indikator Kinerja Target Realiasai Persentase
Bab I. Pendahuluan
15 No. Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Realiasai Persentase Perspektif Pemangku Kepentingan / Stakeholder (S)
1 Meningkatnya jumlah
Wirausaha Industri Baru
Jumlah Wirausaha Industri Kecil yang mendapatkan program pengembangan usaha
30 WUB 0 100%
Jumlah Wirausaha industri Kecil Baru
20 IKM 0 100%
Jumlah Wirausaha Industri Menengah Baru
5 IKM 0 100%
Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok (T) 1 Meningkatnya
Kemampuan sentra, Unit Pelayanan Teknis, Tenaga Penyuluh Lapangan serta Konsultan Industri Kecil dan Menengah
Jumlah Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL)
20 TPL 20 TPL 100%
Jumlah Konsultan IKM 5
Konsultan
0 100%
2 Meningkatnya kerjasama dengan Lembaga Pendidikan, Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta asosiasi industri dan asosiasi profesi terkait
Jumlah kerjasama 1
kerjasama 5
kerjasama
500%
3 Terfasilitasinya bantuan
bimbingan teknis
Jumlah IKM yang mendapat pelatihan
300 IKM 280 IKM 93%
4 Peningkatan pengembangan produk
Jumlah IKM/peserta yang mengikuti Lomba Desain Alas Kaki Nasional
300 Karya 423 karya 141 %
Jumlah IKM/peserta yang mengikuti Lomba Desain Alas Kaki Nasional
300 Karya 522 karya 174 %
Jumlah Prototype 24 Desain 24 Desain 100%
5 Peningkatan segmen dan
Jumlah IKM yang difasilitasi ikut pameran
60 IKM 44 IKM 70%
Bab I. Pendahuluan
16 No. Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Realiasai Persentase
perluasan pasar Jumlah Media Promosi 3 Paket 3 Paket 100%
6 Menguatnya keterkaitan dan hubungan kemitraan antara IKM dengan Industri Besar dan sektor ekonomi lainnya
Jumlah IKM yang berpartisipasi dalam
kegiatan temu bisnis BPIPI
30 IKM 30IKM 100%
Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan (L) 1 Sistem
informasi yang andal
Jumlah Aplikasi system informasi yang dikembangkan
5 Modul 5 modul 100%
2 Sistem perencanaan dan
penganggaran yang
berkualitas
Tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan
95 persen 98,91% 100,24%
3 Sistem tatakelola keuangan dan BMN yang transparan dan akuntabel
Tingkat penyerapan anggaran
95 persen 9 dari 10 kegiatan tepat waktu
90%
4 Sistem pengendalian internal yang efektif
Tingkat Kualitas Organisasi 90 persen 90 % 100%
LHU Laboratorium Uji 200 LHU 187 LHU 93.5%
Level Keluhan Pelanggan 0% 0% 100%
5 Monitoring dan evaluasi
pelaksanaan kebijakan pembangunan industry
Jumlah laporan
kegiatan/monev/pendukung
1 Laporan LAKIP
1 100%
Sasaran strategis dalam perjanjian kinerja BPIPI, ada 5 sasaran yang
belum sesuai dengan target tetapi 3 dari 5 sasaran tersebut tidak sesuai
dengan target dikarenakan karena pemotongan anggaran Balai
Bab I. Pendahuluan
17
Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia. Adapun ke 3 sasaran stretegis tersebut adalah :
1. Meningkatnya jumlah Wirausaha Industri Baru 2. Terfasilitasinya bantuan bimbingan teknis 3. Peningkatan segmen dan perluasan pasar
Dua diantara sasaran strategis yang lain yang tidak tercapai adalah 1. Sistem perencanaan dan penganggaran yang berkualitas
Dengan indicator persentase tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan yang hanya tercapai 90% dari target yang di capai adalah 95%
2. Sistem pengendalian internal yang efektif
Dengan indicator jumlah LHU (Laporan Hasil Uji) dengan target 200 LHU hanya tercapai 187 dengan persentase 93.5%
4. Capaian Kinerja Tahun 2011 – 2016
Dalam melaksanakan fungsi tesebut BPIPI didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, personil yang kompeten di berbagai kualifikasi, serta laboratorium yang sudah terakreditasi. Pada periode tahun 2011 – 2016 , kinerja BPIPI adalah sebagai berikut :
Tabel 1.8 Capaian Anggaran tahun 2011 – 2016 TA Total Pagu Realiasai Pagu RM PNBP Belanja
Pegawai Belanja Barang Belanja Modal % Realisasi
2011 11,000,000,000 9,292,616,272 9,292,616,272 - 257,827,148 5,768,731,624 3,266,057,500 84.48 2012 10,781,494,000 10,091,423,497 10,091,423,497 - 592,047,592 6,436,358,405 3,063,017,500 93.60 2013 9,400,000,000 8,690,334,617 8,690,334,617 - 994,658,497 6,883,780,344 1,115,652,000 92.45 2014 9,150,000,000 8,800,078,217 8,800,078,217 - 1,042,826,927 6,914,713,502 878,691,000 96.18 2015 13,825,000,000 13,374,154,060 13,374,154,060 - 1,274,892,728 7,130,273,632 4,968,987,700 96.74 2016 9,460,050,000 9,357,359,750 9,365,048,000 77,354,250 1,300,172,217 7,447,527,533 609,660,000 98.91
Pada periode Renstra tahun 2010 – 2014 Balai Pengembangan Indsutri
Persepatuan Indonesia pertama kali mendapatkan anggaran APBN dari
Kementrian Perindustrian pada tahun 2011. Sumber anggaran BPIPI pada
periode 2010 – 2014 hanya dari rupiah murni saja. Capain ankuntabilitas
kinerja tahun 2011 sebesar 84,48%, capaian ini cukup baik dengan masa
Bab I. Pendahuluan
18
transisi BPIPI dari IFSC. Tahun berikutnya hingga tahun 2015 capain realisasi anggaran BPIPI semakin baik dengan persentase di atas 90%.
Pada tahun 2016 Balai Pengembangan Industri Persepatuan mendapatkan sumber dana dari rupiah murni dan Penerimaan Negara Bukan Pajak. Pada tahun 2016 BPIPI dapat memungut biaya jasa layanan yang ada
berdasarkan SK Kementrian Keuangan dengan target penerimaan sebesar Rp 200.000.000,-.tetapi karena pemotongan anggaran di tahun 2016 maka
target PNBP BPIPI menjadi sebesar 95.002.000,- dan terealisasi sebesar 77.354.250,- atau sebesar 81,42%. Persentase Realisasi anggaran total 2016 sebesar 98,91%, realisasi ini paling tinggi dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya.
D. Potensi dan Permasalahan
Potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) secara internal maupun eksternal dapat dilihat sebagai berikut :
1. Potensi
Dalam melaksanakan fungsi tesebut BPIPI didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, personil yang kompeten di berbagai kualifikasi, serta laboratorium yang sudah terakreditasi. Pada periode tahun 2010 – 2014 , kinerja BPIPI adalah sebagai berikut :
a) Aspek Layanan
Sesuai dengan fungsi dari BPIPI, kinerja BPIPI pada aspek layanan
meliputi pelatihan, konsultasi manajemen teknis, akses pasar & promosi,
Riset dan Pengambangan dan layanan laboratorium uji. Kontribusi
Tupoksi terhadap kinerja BPIPI per periode 2003 – 2014 dapat dilihat
dalam table berikut:
Bab I. Pendahuluan
19 Tabel 1.9 Tupoksi Kinerja BPIPI per periode 2003 – 2016
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2014 2015 2016
Pelatihan 50 38 35 35 35 36 35 30 30 30
Konsultasi teknis & Manajemen 20 17 19 17 19 16 16 16 16 15
Akses Pasar & Promosi 15 17 15 18 15 17 15 16 20 21
Riset & Pengembangan 10 18 18 17 18 18 19 21 17 18
Laboratoium & Sertifikasi 5 10 13 14 13 14 16 17 17 16
Total 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100
Misi/Program/Aktifitas (% ) Kontribusi Tupoksi terhadap Kinerja BPIPI per periode 2003 -2016
Hingga tahun 2016 BPIPI sudah mempunyai alumni yang tersebar diseluruh Indonesia lebih dari 8290 orang. Berbagai macam pendidikan dan pelatihan dari teknologi sampai kewirausahaan sudah pernah dilaksanakan.
Perbaikan kurikulum pelatihan secara periodik senantiasa dilakukan dalam upaya perbaikan kualitas. Berikut data jumlah pelatihan yang sudah dilakukan BPIPI
Tabel 1.10 Jumlah Pelatihan yang sudah dilakukan oleh BPIPI
Stakeholder tahun 2004 2005-
2006 2007 - 2008 2009 -
2010 2011-2012 2013 - 2014
2015- 2016
Angk =15 angk=46 Angk=50 Angk=28 Ankt=65 Ankt=36 Ankt=31
jml=311 jml=1120 jml=1355 jml=881 jml=1621 Jml 810 Jml=620
Total Angkatan 2003 - 2016 271 angkatan 5420
Instansi Pusat, aerah, Swasta dan Swadaya
Total alumni 2003 -2016
b) Aspek Keuangan
BPIPI dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi nya didukung oleh anggaran yang berasal dari Rupiah Murni . Anggaran Rupiah Murni ini digunakan untuk belanja pegawaai, belanja barang dan belanja modal.
Pada tahun 2010 , adalah awal masa transisi dari aspek penganggaran,
dimana BPIPI sepenuhnya dibiayai dari dana APBN ditaun 2011. Pada
tahun 2011 BPIPI sebagai satker baru eselon III mendapatkan anggaran
sebesar 11 milyar rupiah untuk seluruh kegiatan biaya operasional
Bab I. Pendahuluan
20
satker. Untuk tahun 2014 BPIPI kembali mendapatkan anggaran DIPA awal sebesar 9 milyar rupiah
Tabel 1.11 Pagu anggaran 2011 - 2016
Stakeholder Pagu Anggaran 2011
Pagu anggaran 2012
Pagu Anggaran 2013
Pagu Anggaran 2014
Pagu Anggaran 2015
Pagu Anggaran 2016 Kementrian
Perindustrian- Ditjen IKM
11,000,000,000 10,781,000,494 9,400,000,000 9,150,000,000 13,825,000,000 9,460,050,000
BPIPI di akhir tahun 2014 masih dalam proses adaptasi sekaligus pemantapan khususnya terkait dengan tata kelola anggaran APBN.
Dengan Pengelolaan anggaran yang mandiri, diharapkan target, otput, sekaligus dampak (outcome) dari tugas pokok dan fungsi BPIPI semakin dapat dirasakan oleh masyarakat alas kaki nasional khususnya IKM.
Dengan capain akuntabilitas tahun 2014 yang cukup baik yaitu 96,18%
ditahun 2015 mendapatkan pagu sebesar Rp. 13.825.000.000,-. Pada tahun 2016 Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia mendapatkan pagu anggaran awal tahun sebesar 13.500.000.000,- namun ditengah tahun BPIPI mendapat pemotongan anggaran sehingga anggaran yang digunakan oleh BPIPI sebesar 9.460.000.000,-
c) Aspek Sumber Daya Manusia
BPIPI terus berupaya optimalisasi kinerja SDM dengan cara pemberdayaan dan peningkatan kapasitas personil secara internal.
Untuk meningkatkan kinerja SDM yang lebih baik, secara umum BPIPI/BPIPI mempunyai kendala bagaimana mengembangkan kompetensi SDM untuk mensejajarkan diri dengan dunia luar. Apapun argumennya, jika visi dan misi organisasisecaraideal dilaksanakan, dibutuhkan peningkatan kompetensi SDM dengan biaya yang besar.
Aspek pengembangan diri/SDM inilah yang cukup menjadi kendala
Bab I. Pendahuluan
21
BPIPI untuk mensejajarkan diri dengan dunia luar yang terus meningkat kompetensinya. Berikut Profile SDM BPIPI:
Tabel 1.12 Profil SDM berdasarkan jabatan
No Jabatan 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Struktural eselon III 1 1 1 1 1 1 1
2 Struktural eselon IV 3 3 3 3 3 3 3
3 Bendahara
penerimaan 1 1 1 1 1 1 1
4 Fungsional umum 34 34 34 34 33 36 37
Jumlah 39 39 39 39 38 40 41
Tabel 1.13 Profil SDM berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
1 Magister 1 1 2 2 2 2 2
2 Sarjana 9 9 9 9 10 11 13
3 Diploma III 9 9 9 9 8 9 9
4 SMA/Sederajat 20 20 20 20 19 17 15
5 SD 1 1 1 1 1 1 1
Jumlah 39 39 39 39 38 40 41 40
d) Aspek sarana dan Prasarana
Secara susbtansi, maka MOU yang perlu diadendum kembali dimana 4
(empat) stake holder harus memberikan kewenangan dalam mengelola
aset yang sudah menjadi kontribusi masing-masing pihak untuk dikelola
dengan cara pinjam pakai, namun aset tetap menjadi milik masing-
masing pihak dan tercatat di masing-masing daftar inventarisasi pihak-
pihak tersebut. Tahun 2010 semua stakeholder sudah memberikan
kontribusi aset dan dana operasional kelembagaan dengan rincian
sebagai berikut :
Bab I. Pendahuluan
22 T
a b e l
1.14 Kontribusi asset dan dana oprasional Kelembagaan
Laboratorium Uji Alas Kaki
BPIPI memiliki laboratorium pengujian alas kaki yang sudah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional dan menjadi member SATRA yang merupakan kiblat alas kaki dunia. Lingkup pengujian di laboratorium BPIPI adalah sepatu, sandal, kulit dan asesoris sepatu maupun sandal.
Lembaga Sertifikasi Personel
Salah satu tugas dan fungsi dari BPIPI adalah pengembangan SDM alas kaki diseluruh Indonesia. Untuk melindungi SDM alas kaki di Indonesia dalam menghadapi MEA makan BPIPI mendirikan Lembaga Sertfikasi Personel Alas Kaki. LSP BPIPI sudah disertifikasi oleh BNSP.
Dimana SDM alas kaki harus memiliki sertifikat kompetensi untuk dapat bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Negara asing. Lingkup sertifikasi LSP BPIPI adalah jahit upper alas kaki.Dimana ditahun 2017 akan di lakukan penambahan lingkup pada sektor alas kaki.
Tempat Uji Kompetensi
Tahun
Stakeholder
Per November
2003 (dalam juta)
2004 (dalam
juta)
2005 (dalam
juta)
2006 (dalam
juta)
2007 (dalam
juta)
2008 (dalam
juta)
Per Agustus
2009 (dalam
juta)
2011 (dalam
juta)
2012 (dalam
juta) Kementerian
Perindustrian 0
1.500
(Mesin &
Alat))
5.135
(Mesin &
Alat))
6.300
(Mesin &
Alat)
9.181
(Mesin &
Alat))
13.066
(Mesin &
Alat)
14.700
(Mesin &
Alat)
25.700 (mesin &
alat)
36.700 (mesin
&& alat)
Pemprov.
Jawa Timur
2.500
(Bangunan)
2.500
(Bangunan )
2.500
(Bangunan )
2.500
(Bangunan )
3.100
(Bangunan
& Mesin)
3.100
(Bangunan
& Mesin)
3.100
(Bangunan
& Mesin)
3.100 (banguna
n &
Mesin)
3.100 (Banguna
n &
Mesin)
Pemkab Sidoarjo
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600
(Tanah &
Bangunan)
7.600 (tanah &
Banguna n)
7.600 (tanah &
Banguna n)
APRISINDO 50
(Alat Kantor)
50
(Alat Kantor)
50
(Alat Kantor)
50
(Alat Kantor)
50
(Alat Kantor)
50
(Alat Kantor)
75
(Alat Kantor
& Mesin)
75 (Alat Kantor
&mesin)
75 (Alat Kantor &
Mesin)
Bab I. Pendahuluan
23
BPIPI memiliki Tempat Uji Kompetensi lingkup jahit untuk ujian sertifikasi personel yang disertifikasi oleh LSP
e.) Aspek Jejaring Kerja
Dalam mendukung kegiatan BPIPI dalam hal teknis maupun manajemen, beberapa diantaranya adalah kerjasama dengan perusahaan asosiasi maupun universitas. Berikut daftar Mou BPIPI : 1. Dinas perindustrian dan Perdagangan kota Pasuruan
2. CV. Fortuna Shoes
3. PT.Kharisma Baru Indonesia 4. PT.Widaya Inti Plasma 5. PT.Sengdam Jaya Abadi 6. PT Dwi Prima Sentosa 7. PT Adis Dinamika Sentosa 8. Aprisindo
9. Universitas Ciputra 10. STTS Surabaya
11. Universitas Nahdatul Ulama
f.) Aspek Geografis
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) terletak di Jawa Timur tepatnya di komplekwisata tanggulangin, desa Kedensari.
wilayah ini merupan sentra IKM produk kulit (tas, alas kaki, dompet dll) di Jawa Timur, menjadikan BPIPI sebagai ujung tombak untuk peningkatan IKM di Jawa Timur khususnya untuk sektor alas kaki dan Indonesia pada umumnya.
g.) Aspek Eksternal
Karena pentingnya peranan alas kaki yang merupakan produk konsumsi
masyarakat, maka banyak industry alas kaki yang berkembang di
Indonesia. Dimana menurut data dari BPS jumlah perusahaan Industri
Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki tahun 2016 perusahaan mikro
Bab I. Pendahuluan
24
sebanyak 30.789 dan perusahaan kecil 12.477. Industry alas kaki termasuk dalam klasifikasi industry padat karya sehingga dapat dijadikan industry unggulan dalam penyerapan tenaga kerja dan pemasukan devisa Negara. Selain itu, industri ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan eksport.
Kebutuhan akan produk alas kaki baik dalam negeri maupun luar negeri terus meningkat. Pertambahan jumlah penduduk berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi alas kaki, mengingat pentingnya kegunaan alas kaki yang merupakan kebutuhan primer setiap manusia Apabila dilihat dari proyeksi pertambahan penduduk Indonesia maka alas kaki merupakan peluang bisnis yang cukup bagus. Menurut BPS data proyeksi penduduk di Indonesia hingga tahun 2035 adalah sebagai berikut:
Tabel 1.15 Proyeksi penduduk Indonesia hingga tahun 2035 Tahun
2020 2025 2030 2035
Penduduk
Indonesia (ribuan)
271.066,40 284,829.00 296.405,10 305.652,40
Berdasarkan table tersebut diatas hingga tahun 2035 penduduk Indonesia mencapai 305.652,40 ribu jiwa. Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat maka peluang permintaan industry alas kaki akan meningkat.
Menurut data industry di Indonesia, pasar Industri alas kaki di Indonesia
menggarap dua pasar yaitu pasar luar negri dan pasar dalam negeri. Di
tahun 2015 kuartal yang I laju pertumbuhan ekonomi sangat pelan
pencapainya hanya sebatas 4,7 persen. Namun, menurut Ketua Dewan
Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Harijanto kepada
pers mengungkapkan bahwa membaiknya kemajuan perekonomian
negara – negara lain seperti Amerika Serikat atau Eropa, dapat dijadikan
sebagai momentum peningkatan ekspor sepatu produksi local sebab
Bab I. Pendahuluan
25
alas kaki merupakan produk konsumsi sehingga selalu diperlukan masyarakat. Yang menjadi fakta adalah walaupun terjadi krisis kebutuhan alas kaki tetap menjadi kebutuhan primer dan tetap terbeli oleh masyarakat.
Peluang lain untuk Industri alas kaki dalam nilai ekspor. Pertumbuhan ekonomi sector tersebut pada tahun 2016 sebesar 4.1%. Dimana ditahun 2015 pertumbuhan industry alas kaki dan barang dari kulit sebesar 4 % dan naik menjadi 8.1% pada tahun 2016.
Secara total , pertumbuhan industry alas kaki dan barang dari kulit naik sebesar 1,9 trilyun rupiah. Dari sebelumnya 23,8 miliar rupiah pada tahun 2015 menjadi 25,8 miliar rupiah pada tahun 2016. Kenaikan ini jelas memberikan harapan besar bagi para pelaku industry alas kaki dan barang dari kulit.
dimana nilai eksport industry alas kaki nasional mengalami peningkatan yang berarti dimana pada tahun 2016 nilai eksport alas kakinasional tercatat hingga USD 4,11 miliar atau naik sekitar 6,43% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain ekspor alas kaki mempunyai andil yang cukup besar dalam menguatkan perekonomian Negara. Data eksport alas kaki adalah sebagai berikut:
Tabel 1.16 Data Ekspor alas kaki
2012 2013 2014 2015 2016
Volume Ekspor Alas
Kaki (Ton) 199,135.5 212,924.6 215,018.8 235,242.5
239,778.9 Nilai Ekspor Alas Kaki
(Ribu US$) 3,524,592.2 3,860,393.9 4,108,448.5 4,507,024.3
4,639,859.3
Bab I. Pendahuluan
26
Gambar 1.2 Grafik Nilai Ekspor Alas Kaki
Dari table diatas dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun volume ekspor Indonesia semakin naik baik dalam satuan berat atapun dengan satian USD. Hal ini menunjukan peluang alas kaki buatan Indonesia mempunyai kualitas yang tidak kalah dengan kualitas dari Negara lain. Untuk itu pengembangan sector alas kaki harus diperhatikan untuk dapat berkontribusi banyak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
0,0 500.000,0 1.000.000,0 1.500.000,0 2.000.000,0 2.500.000,0 3.000.000,0 3.500.000,0 4.000.000,0 4.500.000,0 5.000.000,0
0,0 50.000,0 100.000,0 150.000,0 200.000,0 250.000,0 300.000,0
2012 2013 2014 2015 2016
Volume Ekspor Alas Kaki (Ton) Nilai Ekspor Alas Kaki (Ribu US$)
Bab I. Pendahuluan
27
Gambar 1.3 Peringkat Ekspor Alas Kaki
Indonesia mendapatkan peringkat ke 3 dunia tahun 2016 untuk ekspor alas kaki setela china dan Vietnam. Dengan jumlah total eksport sebanyak 259 juta pasang menurut Negara tujuan ekspor alas kaki dari Indonesia diantaranya Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Belanda , Jerman, Belgia, Italia, Spanyol dll. Negara tujuan ekspor terbesar dari tahun ketahun adalah Amerika Serikat.
Indonesia merupakan salah satu produsen sepatu/alas kaki terbesar
didunia. Terbukti dengan Indonesia menduduki peringkat ke empat dunia
sebagai produsen setelah China, India dan Vietnam. Industri alas kaki
diprioritaskan menjadi industri fashion yang memiliki kontribusi besar pada
PDB Indonesia. Tak pelak bahwa industri alas kaki yang merupakan
industri manufacture di Indonesia berpotensi untuk berperan sebagai
leading sector penguatan perekonomian. Berbicara tentang alas kaki tentu
erat kaitanya dengan fashion mode tren yang paling terupdate, alas kaki
kini bukan hanya menjadi kebutuhan primer yang digunakan sebagai
pelindung kaki saja tetapi juga merupakan trend mode yang setiap saat
selalu berubah/update. Ini merupakan suatu peluang bagi produsen alas
Bab I. Pendahuluan
28
kaki di Indonesia untuk meningkatkan produksi alas kaki. Industri sepatu/alas kaki nasional memiliki potensi untuk berkembanglebih besar selain dengan seiring dengan pertumbuhan mode juga dipengaruhi pertumbuhan penduduk dunia. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk dunia secara garis lurus maka semakin tinggi kebutuhan akan alas kaki.
Selain itu, pemerintah menggalakkan ekspor sektor non migas dimana industri alas kaki merupakan salah satu alternatif yang menjanjikan dari berbagai komoditi lainya dalam fenomena perekonomian dewasa ini.
Potensi – potensi ini menjadi peluang bagi industri alas kaki di Indonesia dalam meningkatkan produksi. Tentunya produsen harus bisa menciptakan alas kaki yang berdaya saing, misalnya dari segi kualitas, kuantitas, mode, design agar mampu bersaing dengan pasar dunia.
Gambar 1.4 Peringkat Produsen Alas Kaki
Bab I. Pendahuluan
29
2. Permasalahan
Tidak lepas dari peluang yang ada, beberapa permasalahan yang harus diwaspadai sebagai dampak langsung dari perkembangan pasar global adalah sebagai berikut :
Permasalahan internal :
a) Budaya Kerja yang belum cukup optimal
Budaya kerja merupakan pandangan hidup sebagi nilai - nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita - cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja. Budaya Kerja manajemen meliputi pengembangan, perencanaan, produksi, dan layanan jasa yang memuaskan. Untuk mencapai tujuan organisasi budaya kerja merupakan faktor yang penting. Cara kerja pegawai yang identik dengan birokrasi yang berbelit - belit, kurang terbuka dengan orang lain, lamban bekerja, kaku, serta kurang percaya pada kemampuan seseorang menjadi pemicu belum optimalnya budaya kerja di lingkungan Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia. Hal ini juga disebabkan adanya masa transisi dari IFSC menjadi Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia. Dimana IFSC merupakan organisasi hasil kerjasama antara pemerintah Italy dengan pemerintah Indonesia yang secara birokrasi belum menjadi milik pemerintah (swasta) dan kemudian beralih ke birokrasi pemerintahan (BPIPI).
b) SDM mayoritas belum bersertifikat profesi
Balai Pengembangan Indsutri Persepatuan Indonesia merupakan organisasi teknis yang sektor alas kaki yang menjadi pusat pengembangan alas kaki di Indonesia, untuk itu maka kemampuan teknis personal yang membidangi alas kaki menjadi hal yang paling penting.
Bukan secara informal tetapi secara formal SDM yang mendukung BPIPI
harus diakui oleh suatu Badan/ Lembaga salah satunya dengan sertifikasi
Bab I. Pendahuluan
30
personil bidang alas kaki. SDM teknis di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) belum bersertifikat profesi walaupun secara teknis SDM BPIPI sangat berkompeten. Oleh karena itu sistem manajemen yang berkualitas menjadi pendukung dalam memperbaiki permasalahan ini.
c) Hambatan administrasi untuk perluasan layanan
Dalam meningkatkan kinerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) pada layanan IKM sektor alas kaki maka perluasan layanan BPIPI sangat diperlukan diantaranya perluasan lingkup lab uji, perluasan lingkup sertifikasi personel dan jasa layanan yang lainya. Dalam perluasan tersebut diperlukan anggaran yang cukup besar.
d) Konsolidasi internal organisasi masih lemah
Dalam bekerja secara team komunikasi menjadi hal yang cukup penting.
Terjadinya mis komunikasi yaitu terjadinya kesalahan dalam salah satu proses komunikasi antar personal menghambat kimerja satuan organisasi.
Seringnya terjadi mis komunikasi menyebabkan perbedaaan pendampat yang akhirnya berdampak pada tercapainya tujuan atau misi organisasi yang telah ditetapkan.
Permasalahan Eksternal : a) Masalah Visi Nasional
Sebagaimana RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) pemerintah yang menempatkan industri persepatuan sebagai prioritas pembangunan, perlu digarisbawahi bahwa bahwa belum adanya persepsi yang sama tentang Visi Nasional pengembangan industri persepatuan menjadi hambatan utama pengembangan di level mikro/teknis. Kendala sikronisasi, koordinasi dan komunikasi menjadi masalah klasik yang seolah-olah terjadi berulang-ulang pada tataran pengambil kebijakan.
Sementara itu, pelaku teknis/pengusaha/asosiasi mengharapkan fungsi
Bab I. Pendahuluan
31