5.2. Ruang pada Rumah Tinggal Madura, Cinadan Permukiman Pejagalan
5.2.3. Ruang pada Rumah Tinggal Akulturasi Madura dan Cina
Dari keseluruhan rumah di desa Atas Taman, kurang lebih ada sepuluh rumah yang sebelumnya mempunyai kolam atau taman di dalam rumahnya. Kolam tersebut berhubungan langsung dengan aliran sumber air dan taman (kolam) yang berada di dalam keraton atau biasa disebut dengan taman sari.
Gambar 5.2 Gamb Hamp mempuny Dalam sat beberapa mandi (pa mempuny tamu. Pan Gambar 5.4 2. Titik ruma Kelurahan ar 5.3. Beber Pejag pir setiap ru yai pekarang tu tanah te massa yait akeban/jedin yai banguna ngkeng ini h 4. Pangkeng rumah unt ah-rumah yan n Pejagalan. rapa kolam p galan umah di des gan yang c ersebut, terd tu rumah i ng). Beberap an lain yang hanya dimili yang ada di tuk menerima ng memiliki pada rumah-r sa ini memi cukup lebar diri dari be inti, pendap pa dari mer g disebut P iki oleh kelu
rumah deng a tamu taman (kola rumah di De iliki halama r dan terdir eberapa ban pa, taman reka yang m Pangkeng at uarga yang an ekonomi am) di Desa A
esa Atas Tam an yang cuk ri dari bebe ngunan yan (kolam), da masih keturu tau tempat tergolong m yang berkec Atas Taman, man, Keluraha kup luas. M erapa bang ng terbagi d apur dan k unan keraton tidur untuk mampu. cukupan dan an Mereka unan. dalam kamar n dan k para Teras
Seperti yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo, 2002, bahwa pembagian rumah Madura berdasarkan golongan dan kedudukan dalam masyarakat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu rumah bangsawan, rumah menengah dan rumah rakyat. Rumah-rumah tinggal di desa Atas Taman, kelurahan Pejagalan ini adalah tergolong rumah bangsawan, meskipun dari keturunannya saja. Salah satu cirinya yaitu adanya pangkeng pada gambar di atas yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan atau bangsawan dan keluarga dengan ekonomi yang berkecukupan.
Fungsi pangkeng adalah untuk tempat menginap para tamu. Sehingga rumah induk sifatnya memang benar-benar privat. Hanya keluarga yang bisa masuk daerah ini. Hal ini sama dengan konsep tanean lanjang, rumah induknya hanya berfungsi sebagai tempat istirahat saja tidak untuk aktivitas yang lain. Sifatnya sangat privat. Adanya pangkeng pada rumah-rumah tinggal di desa ini adalah bukti bahwa masyarakat Madura menganut pedoman yang kuat tentang aturan kehormatan bu, pa, babu, guru, ratu, yang membuat tingkatan kehormatan hanyalah berdasarkan usia dan hubungan kekeluargaan.
Fungsi langgar pada konsep rumah Madura, Tanean Lanjang, adalah untuk menerima tamu dan tempat ibadah. Fungsi tersebut digantikan oleh pendopo dan pangkeng di dalam tapak dan teras yang ada di bagian depan rumah induk. Selain itu, hampir semua rumah di desa Atas Taman tidak mempunyai langgar karena saat ini proses ibadah mereka bisa dilakukan di dalam rumah atau di masjid.
Rumah tinggal di desa Atas Taman sebagian besar memiliki pendopo di depannya. Selain itu terdapat taman (kolam/sumber air) di masing-masing rumah, mulanya dapur serta kamar mandi lokasinya terpisah dengan rumah tinggal, namun sekarang juga tidak sedikit yang merubahnya menjadi satu ruangan di dalam rumah tinggal utama / induk. Rumah-rumah tersebut memiliki lahan yang cukup luas dan bisa ditinggali oleh keluarga yang lain. Dari sepuluh sampel yang diambil, lima di antaranya membagi lahan mereka bersama dengan saudara mereka. Penyusunan tatanan ruang ini seperti konsep tanean lanjang yang membagi area lahannya untuk beberapa keluarga baik untuk putri keluarga atau saudara.
Sistem ruang rumahnya closed ended plan dan open ended plan. Bagian depan bersifat semi publik berupa teras untuk menerima tamu dan bagian dalam bersifat
privat berupa ruang tidur atau kamar dan ruang keluarga. Area servis sudah banyak yang berada di bangunan yang sama dengan rumah tinggal. Rata-rata denah rumah di sini bersifat simetri seperti tatanan ruang rumah Cina.
Pada arsitektur rumah tinggal khas Cina, prinsip hierarki diterapkan cukup ketat pada arsitektur Cina. Misalnya bangunan yang memiliki pintu di depan dan menghadap lahan, memiliki hierarki yang lebih tinggi ketimbang bangunan dengan pintu di samping. Bangunan yang menghadap ke selatan dengan terpaan matahari yang melimpah untuk anggota keluarga tertua sebagai bentuk penghormatan. Bangunan yang menghadap ke timur dan barat untuk anggota keluarga yang lebih muda. Sementara bangunan yang dekat dengan area terdepan biasanya untuk para penjaga dan pembantu. Urutan tersebut sedikit mirip dengan penataan massa pada tanean lanjang di rumah Madura.
Seperti teori yang diungkapkan oleh Wiryoprawiro (1986), pada awalnya bangunan hanya terdiri dari langgar yang berada di barat tanean, rumah tinggal induk (Tongghu), dapur dan kandang. Jika ada rumah tinggal baru yang dibangun, maka dibangun di sebelah timur dan semakin banyak semakin ke timur kemudian diikuti ke selatan dan tanean sebagai center atau pusatnya. Kanan dan kiri ini ternyata mengandung superioritas atau kedudukan yang lebih tinggi dan inferioritas atau kedudukan yang lebih rendah. Jadi, rumah tinggal yang baru akan selalu di sebelah kiri bangunan rumah tinggal sebelumnya.
Sama halnya dengan hirarki yang ada pada rumah-rumah keluarga keturunan kerajaan di desa Atas Taman. Rumah-rumah tersebut menghadap ke selatan seperti keraton. Arah hadap ini sama halnya dengan arah hadap rumah tinggal Madura yang menghadap ke selatan dengan alasan rumah yang menghadap ke laut (selatan) adalah hal yang baik. Rumah pada komplek keluarga Cina Lauw Pia Ngo sedikit berbeda dengan adat yang sudah ada. Rumah ini menghadap ke timur yaitu menghadap ke arah keraton. Menurut Wiryoprawiro (1986), alasannya adalah sebagai penghormatan kepada kesultanan yang memberikan mereka lahan tempat tinggal.
Rumah-rumah di sekitar keraton, baik rumah di desa Atas Taman dan rumah komplek keluarga Cina Lauw Pia Ngo masih memperlihatkan pengaruh keraton. Bangunan pendopo berada di depan bangunan rumah induk yang mendominasi
seluruh komplek. Gambar di bawah ini adalah gambar perbandingan tatanan massa komplek keraton, komplek rumah keluarga Cina dan rumah tanean lanjang.
Gambar 5.5. Pola penataan massa pada keraton, komplek rumah keluarga Cina dan rumah Tanean Lanjang. Sumber: Wiryoprawiro, 1986
Halaman depan rumah-rumah di desa Atas Taman cukup luas dan terdapat bangunan lain yang berfungsi sebagai pendopo juga bangunan lain seperti kamar mandi dan dapur. Tata ruang luar bangunan-bangunan tersebut menunjukkan adanya kesamaan bahwa kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi, sedangkan ruang luar di dalam tapaknya dibagi dua oleh tembok aling-aling di samping dalem sehingga terbentuk halaman depan yang bersifat umum dan halaman belakang yang bersifat pribadi.
Gambar 5.6. Rumah-rumah dengan halaman luas di desa Atas Taman
Gambar 5.8. Salah satu rumah yang memiliki pendopo di depan rumah
Halaman depan di dalam tapak mempunyai ukuran yang luas sehingga sudut pandang orang dapat melihat secara keseluruahan komplek rumah tersebut. Rumah induknya menghadap ke utara atau selatan seperti keraton. Rumah-rumah ini umumnya berbentuk Pamengkang yang ditinggali beberapa keluarga namun tidak banyak jumlahnya berbeda dengan konsep Tanean dan Meji yang bisa menampung lebih dari lima keluarga.
Komposisi ruang dalamnya memakai konsep simetri dengan opened ended plan. Begitu pula komposisi massanya. Komposisi ruang dalam dan massanya berkonsep simetri dengan opened ended plan. Hal ini sama dengan konsep arsitektur Cina yang mengusung konsep simetri pada tatanan ruangnya yang berarti seimbang. Di sini terlihat bahwa ada akulturasi dari arsitektur Cina pada rumah tersebut.
Tata ruang dalamnya menunjukkan bahwa semakin ke belakang semakin bersifat pribadi. Urutannya yaitu, daerah umum, semi publik, semi pribadi, pribadi dan kembali ke semi pribadi. Komposisi ruang dalamnya tampak adanya konsep keseimbangan simetri seperti keraton yang menerus dan tembus pandang sampai ke belakang sehingga sifatnya open ended plan. Terdapat ruang depan yang berlapis dan cukup luas (pendopo, pangkeng, teras depan, ruang duduk, baru berikutnya yaitu ruang tengah). Ruang pendoponya bersifat terbuka sesuai dengan sifatnya yang umum sebagai tempat menerima tamu. Banyak rumah yang sudah menghilangkan pendopo tersebut. Selain alasan ekonomi, mereka membutuhkan ruang yang lebih besar untuk bertempat tinggal.
R S P Ruang Site Plan Kom Madur sembah mengh rumah barat. K awalny banyak dan ko masing DAPU U Rum
mplek rumah tin a dan cenderun hyang seperti pa hadap ke timur, r Madura rumah Kesamaan dari k ya, hal tersebut k yang menjadik mplek rumah tin g-masing keluarg
UR
mah Madura
nggal di desa Ata ng tidak teratur
ada rumah Mad rumah sembahy
ibadahnya dilet kedua komplek nampak juga pa kannya dalam sa
nggal Cina menj ga sudah mempu
as Taman yang b namun berkelom dura dan Cina, yang berada di b
takkan di sebela rumah ini yaitu ada rumah di de atu bangunan. M jadi hilang deng unyai dapur dan
Sumber: Wiryo
berakulturasi me mpok sesuai de sehingga tidak barat, sumur dan
h barat juga den u, baik dapur, ka esa Atas Taman Makna kebersama an perubahan te kamar mandi se Rumah Cina oprawiro, 1986 empunyai banya engan keluarga terjadi akulturas n WC terpisah d
ngan makna yan amar mandi, WC , ada akulturasi aan dengan kelu ersebut. Saat ini, ehingga kebersam ak massa seperti masing-masing. si di sini. Ruma dengan bangunan ng sama yaitu te C dan lainnya b yang terjadi di uarga lain dalam
meskipun ada b maan mereka be
Rumah Akul dan
komplek rumah . Tidak ada lan ah tinggal Cina n dan berada di empat yang suci berada di luar ru bagian ini nam m satu lahan dala beberapa rumah
rkurang.
lturasi Madura n Cina
h tinggal Cina da nggar atau temp
rumah indukny i timur sedangka berkiblat ke ara umah induk. Pad mun saat ini suda am tanean lanjan dalam satu laha
U an at ya an ah da ah ng an,
Z T R L Kom di teng hadap r untuk r Zonasi Tata Ruang Luar Pem publik pada ru ruang rumah namun DAPU U mplek bangunan gah, aktivitas pen rumah tinggal ke rumah tinggal ju
mbagian ruang p dan sangat men umah Madura h dalam sebagai t induk. Area ser n tetap terbagi are
R
n dari ketiga rum nghuni rumah ter etiganya ke utar uga sebagai ruma
pada rumah Cina nguntungkan da hanya terdiri dar
tempat beristirah rvis terpisah den
ea publik, semi p
mah di atas cukup rpusat di halama ra atau selatan da ah sembahyang,
a hingga rumah lam segi keseha ri semi publik d hat dan tempat ngan bangunan la
publik dan priva
p sistematis den an. Bangunan ru an memanjang. P demikian juga d Sumber: Wiryo di desa Atas T atan karena vent dan privat yaitu berkumpul kelu ain. Bentuk ban atnya. Rumah ya
ngan courtyard, t umah tinggal Cin Pada rumah Cin dengan rumah M
oprawiro, 1986
aman terbagi m tilasi dalam kom
teras sebagai te uarga inti. Umu ngunannya tidak ang berakulturasi
tanean atau peka na dibangun berd a terlihat banyak Madura.
menjadi area pub mplek ini menja empat perantara umnya tidak ada
selalu simetri d i menunjukkan h
arangan. Rumah dasarkan sumbu k bangunan yang
lik, semi publik di sangat baik.
rumah tinggal a pembagian rua dan penataan rua hal yang sama.
U
h induknya berad dan simetri. Ara g fungsinya sela
k dan privat. Are Pembagian ruan dan halaman da ang lagi di dalam angnya juga beba
da ah in ea ng an m as
D / R D Denah Tata Ruang Dalam Bai tinggal yang a meneri yang b tanean mengh Rumah Rumah k rumah Madur l yang terletak d akhirannya temb ima tamu dan ba berbeda. Bentuk Madura yaitu hadap ke selatan
h Tinggal Tipe I
h Tinggal Tipe II
ra, rumah Cina d di depan, dipakai
bus seperti yan agian dalam ber denahnya bersi semakin ke uta dan bagian ruma
dan rumah di de i sistem closed e
g ditunjukkan p rsifat privat beru
ifat simetri yang ara semakin pr ah tinggal yang
U
Sumbe
esa Atas Taman
ended plan yang
pada gambar d upa ruang tidur g berarti seimba rivat dan suci.
utamanya diperu
U
er: Wiryoprawiro,
n, tata ruang dala akhiran ruangny i atas. Bagian atau kamar dan ang seperti pada Semakin ke sel untukkan bagi ka
, 1986
amnya ada dua ya buntu dan tip depan bersifat ruang keluarga a rumah-rumah latan semakin t aum perempuan U Rumah Ti Rumah Tin
tipe. Pada tipe pe kedua bersifat semi publik be . Area servis be Cina. Hirarki ru terbuka. Oleh k n berada di utara. inggal Tipe I nggal Tipe II
satu, yaitu ruma t open ended pla erupa teras untu erada di banguna uang pada ruma karena itu ruma
. U ah an uk an ah ah U
Rangkuman
Dari temuan berdasarkan parameter site plan, tata ruang luar dan tata ruang dalam pada rumah tinggal di desa Atas Taman, kelurahan Pejagalan dengan membandingkannya pada rumah tinggal Madura di Sumenep dan rumah tinggal Cina, terdapat beberapa kesimpulan berupa karakteristik umum pada rumah tinggal di desa tersebut terkait dengan tatanan ruangnya yang mengalami akulturasi. Komposisi tatanan ruang luarnya memiliki halaman utama seperti courtyard pada arsitektur rumah tinggal Cina dan tanean lanjang meskipun tidak utuh seperti konsep tanean yang sebenarnya. Komposisi massanya lebih acak atau tidak teratur, namun selalu meletakkan pendopo dan pangkeng di depan rumah induk karena sifatnya publik. Letak dapur dan kamar mandi, bagi rumah yang belum merubah komposisinya, berada di belakang rumah induk karena sfiatnya bersifat privat. Perbedaannya dengan rumah Madura dan Cina, setiap rumah tinggal mempunyai dapur dan kamar mandi tersendiri meskipun dalam satu lahannya terdapat beberapa rumah tinggal.
Areanya terbagi menjadi area publik, semi publik dan privat, baik untuk tatanan ruang luarnya maupun tatanan ruang dalamnya. Ruang publik untuk menemui tamu di pendopo, teras bersifat semi publik untuk tamu yang cukup dikenal dan privat untuk bagian dalam rumah. Pembagian area ini sudah sedikit bergeser saat ini. Area semi publik yang pada rumah Madura dan rumah Cina berada di luar rumah, pada rumah di desa Atas Taman semi publik juga berada di bagian dalam rumah induk karena tamu yang bukan keluarga bisa memasuki ruang tamu di dalam rumah induk.
Sistem yang dipakai untuk ruang dalamnya pada umumnya adalah open ended plan yaitu dari pintu luar menerus tembus ke belakang. Selain itu, konsep penataan ruangnya memakai konsep keseimbangan seperti konsep hirarki ruang Cina. Tidak ada urutan primordial pada rumah-rumah di permukiman Pejagalan seperti rumah Tanean. Pada rumah Tanean, semakin ke utara semakin privat dan semakin ke barat semakin sakral. Oleh karena itu teras dan bangunan yang bersifat publik berada di selatan dan rumah induk di mulai dari barat yang berisi orang tua, rumah berikutnya ke arah timur.
Bangunan rumah tinggal di permukiman Pejagalan sudah banyak yang berubah dan tidak memiliki makna. Para pemiliknya mementingkan fungsi dan kebutuhan penghuninya. Tempat sembahyang bisa diletakkan di mana saja, hanya arah hadapnya saja yang masih tetap menghadap ke barat. Pembagian ruang yang simetri bermakna keseimbangan dan berfungsi agar ventilasi rumah menjadi baik tetap dipertahankan namun makna di dalamnya tidak diketahui para pemilik rumah. Mereka hanya menempati rumah apa mengikuti peninggalan pemilik sebelumnya atau merubahnya sesuai kebutuhan mereka.
5.3. Bentuk pada Rumah Tinggal Madura, Cina dan Permukiman Pejagalan