• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENELITIAN

4.2. Temuan Data dan Penyajian Data

4.2.2. Ruang Tempat Tinggal Yang Terbatas

Fenomena tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, secara umum berdampak pada tingginya persoalan yang dihadapi oleh kota-kota di Indonesia. Peningkatan pertumbuhan penduduk juga mempengaruhi tingginya tingkat urbanisasi. Kondisi inilah yang menjadikan perumahan padat penduduk sering ditemui di daerah-daerah kota-kota besar. Terbatasnya lahan yang ada disertai tingginya tingkat urbanisasi membuat mereka membangun tempat tinggal ditempat-tempat yang sesunguhnya tidak diperuntukkan untuk lahan tempat tinggal, tentu saja dengan keterbatasan ruang yang ada sesuai dengan kemampuan mereka membangun tempat tinggal mereka.

Pada dasarnya rumah tinggal merupakan satu kesatuan yang terpadu dari berbagai ruang dengan fungsi yang berbeda. Dalam kaitannya dengan ruang pada rumah tinggal, perlu dipahami terlebih dahulu gambaran ruang yang ada pada rumah tinggal.

Adapun ketentuan dari rumah sederhana sehat adalah :

1. Kebutuhan minimal ruang per orang yang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia didalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya.

Berdasar standar kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan ketinggian rata-rata langit-langit adalah 2,80 m. Sesuai dengan KepMen Pemukiman dan Prasarana Wilayah Nomor :403/KPTS/M/2002 tentang Standar Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan Rumah Sederhana sehat).

2. Kebutuhan kesehatan dan kenyamanan yang dipengaruhi oleh tiga aspek : pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan kelembaban dalam ruangan. 3. Kebutuhan minimal keamanan dan keselamatan.

Dalam perancangan rumah sederhana sehat, harus memenui tuntutan kebutuhan ruang mendasar bagi penghuni dalam upaya peningkatan kualitas kenyamanan dan kesehatan. Dengan demikian maka bahwa rumah tinggal merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia karena di dalam rumah inilah tempat manusia tinggal, tempat pembinaan keluarga, tempat bekerja dan menentukan produktivitas keluarga.

4.2.2.1 Ruang Tempat Tinggal

Tabel 4.10

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya Menganggap Bahwa Tempat Tinggal Saya Masih Kurang Memenuhi Kehidupan yang Layak bagi

Keluarga Saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 73 91,3

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 7 8,8

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Dari tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden menjawab setuju bahwa tempat tinggal mereka masih kurang memenuhi kehidupan yang layak bagi keluarga mereka berdasarkan data yang ditemukan di lapangan responden yang menjawab setuju berfrekuensi 73 responden dengan persentase sebanyak 91,3 sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 7 responden dengan persentase 8,8 %. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas responden menganggap bahwa tempat tinggal mereka masih kurang nyaman dan layak untuk keluarga mereka. Dan terdapat juga responden yang menyatakan bahwa tempat tinggal mereka merasa sudah layak untuk mereka tempati. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengganggap tempat tinggal merupakan kebutuhan primer yang sangat perlu diperhatikan kelayakan dan kenyamanan unutk ditinggali dan melakukan aktifitas sehari-hari didalam rumah.

Tabel 4.11

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya Merasa Bahwa Lubang Penghawaan Tempat Tinggal Saya Masih Kurang Memadai bagi

Pertukaran Udara yang Baik.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 71 88,8

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 9 11,3

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011 Pada tabel 4.11 dapat dilihat bahwa mayoritas responden menjawab setuju dengan jumlah frekuensi 71 responden dengan persentase 88,8 %, sedangkan

responden yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 9 responden dengan persentase 11,3 %. Hal itu menunjukkan mayoritas responden merasa bahwa lubang penghawaan yang mereka miliki masih kurang memadai bagi pertukaran udara yang baik sedangkan sekitar 11,3 % responden yang menjawab bahwa mereka merasa lubang penghawaannya rumah sudah cukup memadai bagi pertukaran udara yang baik. Hal ini dikarenakan keberadaan rumah mereka yang berdekatan dengan tepi sungai sehingga angin yang masuk dari lubang penghawaan mereka sungguh besar kuantitasnya dan mereka merasa kalau pertukaran udara sudah baik dan lubang penghawaan sudah memadai pula.

Tabel 4.12

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya Berpendapat Bahwa Keadaan Ruang di Tempat Tinggal Saya Masih Kurang Memenuhi Kebutuhan Ruang Sesuai dengan Aktifitas Seluruh Anggota Keluarga yang

Tinggal didalam Rumah.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 78 97,5

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 2 2,5

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Kecukupan ruang yang ada di rumah tempat tinggal dapat mempengaruhi rangakaian aktifitas penghuni didalamnya. Berdasarkan data di lapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 78 responden dengan persentase 97,5 %, dan responden yang menyatakan tidak setuju memiliki frekuensi 2 responden dengan persentase 2,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden di lingkungan

tersebut berpendapat bahwa luasan ruang di rumah tempat tinggal mereka merupakan tempat yang terbatas, kurang dapat memenuhi kebutuhan ruang berdasarkan aktivitas penghuni didalamnya.

Tabel 4.13

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya menggangap ruang di rumah saya terlalu sempit bagi keluarga saya terutama dalam melaksanakan

aktifitas sehari-hari di rumah.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 74 92,5

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 6 7,5

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pada tabel 4.13 diatas memperlihatkan bahwa responden yang menjawab setuju bahwa ruangan tempat tinggalnya terlalu sempit bagi keluarga terutama dalam beraktifitas lebih banyak daripada responden yang memberikan jawaban tidak setuju. Berdasarkan data yang ditemukan di lapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 74 responden dengan persentase 92,5 % dan responden yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 6 responden dengan persentase 7,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden menyadari bahwa ruangan rumah tinggal mereka terlalu sempit, dan tidak memiliki luasan ruangan sesuai dengan kebutuhan aktifitas mereka . Dengan kata lain kecukupan ruang dapat memberikan pengaruh kepada pelaksanaan aktifitas sehari-hari seluruh anggota keluarga mereka.

4.2.2.2 Lingkungan Daerah Tempat Tinggal Tabel 4.14

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya merasa lingkungan daerah tempat tinggal saya memberikan pengaruh yang buruk bagi

kenyamanan keluarga saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 62 77,5

3 Netral 2 2,5

4 Tidak setuju 16 20,0

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Melihat tabel 4.14 diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden menjawab setuju dibandingkan pilihan jawaban yang lain. Berdasarkan data dilapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 62 responden dengan persentase 77,5 %, sedangkan yang memberikan jawaban netral memiliki frekuensi 2 responden dengan persentase 2,5 %, sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 16 responden dengan persentase 20,0 %, hal ini menunjukkan bahwa responden menjawab bahwa pengaruh lingkungan memang sangat penting bagi kenyamanan keluarga mereka dan mayoritas responden mnyatakan bahwa lingkungan mereka dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kenyamanan keluarga mereka.

Tabel 4.15

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya menganggap bahwa lingkungan tempat tinggal saya tempat yang kurang baik bagi perkembangan

moral anak saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 68 85,0

3 Netral 1 1,3

4 Tidak setuju 11 13,8

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Lingkungan merupakan faktor pendukung terhadap cara berprilaku pada setiap orang khususnya pada anak-anak, hal ini dikarenakan anak-anak paling gampang meniru cara berprilaku orang dewasa di sekitarnya. Pada tabel 4.15 dapat dilihat berdasarkan data di lapangan responden yang menjawab setuju bahwa lingkungan tempat tinggal merupakan tempat yang kurang baik bagi perkembangan moral anak memiliki frekuensi 68 responden dengan persentase 85,0% sedangkan yang menyatakan netral memiliki frekuensi 1 responden dengan persentase 1,3 %, dan yang menjawab tidak setuju dan merasa bahwa lingkungan tidak memberikan pengaruh terhadap perkembangan moral anak memiliki frekuensi 11 responden dengan prsentase 13,8 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden menganggap bahwa lingkungan dapat memberikan pengaruh perkembangan moral kepada anak-anak.

Tabel 4.16

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya merasa bahwa lingkungan daerah tempat tinggal saya sering terjadi perilaku menyimpang

yang dapat memberikan rasa khawatir bagi keluarga saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 60 75,0

3 Netral 2 2,5

4 Tidak setuju 18 22,5

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pengaruh lingkungan dapat memberikan efek positif dan negatif terhadap kenyamanan tergantung dari keadaan dan perilaku di sekitar lingkungan tersebut. Berdasarkan data di lapangan seperti pada tabl 4.16 responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 60 responden dengan prsentase 75,0 %, sedangkan yang menjawab netral memiliki frekuensi 2 responden dengan persentase 2,5 % dan yang memberikan jawaban tidak setuju memiliki frekuensi 15 responden dengan persentase 18,8 %. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan tersebut dapat memberikan rasa khawatir kepada keluarga meskipun ada beberapa responden yang menjawab tidak setuju bahwa perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka tidak sepenuhnya memberikan rasa khawatir bagi keluarga mereka.

Tabel 4.17

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya berpendapat bahwa keadaan lingkungan saya memberikan pengaruh terhadap pola pengasuhan

yang saya terapkan terhadap anak-anak saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 73 91,3

3 Netral 0 0,0

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Cara mengasuh anak berbeda-beda tergantung faktor-faktor yang mempengaruhi dan salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah faktor lingkungan. Berdasarkan data yang didapat dari lapangan pada tabel 4.17 responden yang menjawab setuju bahwa lingkungan dapat mempngaruhi penerapan pola pengasuhan kepada anak memiliki frekuensi 73 responden dengan persentase 91,3%, sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 7 responden dengan persentase 8,8 %. Hal ini menunjukkan faktor lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap penerapan pola pengasuhan kepada anak-anak akan tetapi tidak sepenuhnya memberikan pengaruh yang besar terhadap penerapan pola pengasuhan kepada anak-anak mereka.

4.2.2.3 Komunikasi dan Interaksi Penghuni Rumah Tabel 4.18

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya lebih sering menghabiskan waktu luang saya dengan anggota keluarga saya di dalam rumah.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 71 88,8

4 Tidak setuju 9 11,3 5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Menghabiskan waktu luang dengan keluarga merupakan hal penting untuk tetap menjaga interaksi dengan semua anggota keluarga. Berdasarkan data dilapangan yang diperlihatkan pada tabel 4.18 responden menjawab setuju memiliki frekuensi 71 responden dengan persentase 88,8 % sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 9 responden dengan persentase 11,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang berada di lingkungan tersebut ternyata lebih sering menghabiskan waktu luang mereka bersama keluarga meskipun terkadang mereka tidak bisa menghabiskan waktu luang bersama dikarenakan kesibukan beraktifitas masing-masing dan setelah mereka selesai melakukan aktifitas sehari-hari mereka akan beristirahat guna mempersiapkan kondisi tubuh untuk aktifitas keesokan harinya.

Tabel 4.19

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya berkumpul sehari-hari dengan seluruh anggota keluarga di ruang-ruang rumah saya, misalnya

menonton televisi bersama.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 78 97,5

3 Netral 0 0,0

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pada tabel 4.19 diatas memperlihatkan jawaban responden berdasarkan data dilapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 78 responden dengan persentase 97,5 % sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 2 responden dengan persentase 2,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden tetap berinteraksi dengan anggota keluarga misalnya menonton televisi bersama dan ada beberapa yang terkadang tidak dapat melakukan hal tersebut dikarenakan berbedanya aktifitas antara yang satu dengan yang lain sehingga berlainan memiliki waktu luang.

Tabel 4.20

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya menganggap menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama dan saling bercerita dengan seluruh anggota

keluarga lainnya di ruang keluarga harus selalu diterapkan.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 6 7,5

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Berdasarkan data dilapangan dapat dilihat pada tabel 4.20 diatas bahwa responden yang menjawab setuju menghabiskan waktu dengan berkumpul dan saling bercerita di ruang keluarga memiliki frekuensi 74 responden dengan persentase 92,5 %, sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 6 responden dengan persentase 7,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga menjadi sebuah pertimbangan didalam menjaga interaksi dengan seluruh anggota keluarga tetapi tidak menjadi keharusan untuk diterapkan karena keterbatasan waktu setelah beraktifitas cenderung untuk langsung beristirahat, dan karena keterbatasan ruang yang mereka miliki sehingga hal itu menjadi sesuatu yang perlu diterapkan akan tetapi bukan keharusan untuk selalu diterapkan.

Tabel 4.21

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Setiap harinya saya menemani anak-anak saya tidur dan bercerita kepada mereka sebelum tidur.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 62 77,5

4 Tidak setuju 16 20,0 5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Interaksi dengan anak memang perlu diterapkan untuk menjaga interaksi yang dekat antara orang tua dan anak seperti menemani mereka tidur dan brcrita kepada mereka. Berdasarkan data dilapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 62 responden dengan persentase 77,5 %, sedangkan yang menjawab netral memiliki frekuensi 2 responden dengan persentase 2,5 %, dan yang mnjawab tidak setuju memiliki frekuensi 16 responden dengan frekuensi 20,0 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden sebagai orangtua tetap mengupayakan menjalin interaksi kepada anak mereka menemani anak mereka dan bercerita dengan anak mereka sebelum tidur meskipun ada sebagian yang tidak dapat menerapkannya karena kelelahan setelah beraktifitas dan langsung beristirahat yang membuat mereka tidak dapat menemani dan bercerita kepada anak mereka sebelum tidur.

4.2.3 Pola Pengasuhan Anak

Pengasuhan anak dalam keluarga mutlak dibutuhkan untuk menghasilkan anak yang berkualitas. Proses membentuk dan menciptakan anak yang berkualitas, berkompeten dan dapat mandiri, membutuhkan lingkungan keluarga yang baik dan

lingkungan di sekitar kehidupan anak yang kondusif. Peran ayah dan ibu sama-sama dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut. Latar belakang budaya orangtua mempengaruhi nilai-nilai apa yang akan diwariskan pada anak dalam keluarga tersebut melalui pola asuh yang diterapkan. Jumlah anak yang dimiliki keluarga dan usia anak akan mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orangtua. Semakin banyak jumlah anak dalam sebuah keluarga maka ada kecenderungan bahwa orangtua tidak begitu menerapkan pola pengasuhan secara maksimal pada anak karena perhatian dan waktunya terbagi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Pengasuhan kerap didefinisikan sebagai cara mengasuh anak mencakup pengalaman, keahlian, kualitas dan tanggung jawab yang dilakukan orangtua dalam mendidik dan merawat anak, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan oleh keluarga dan masyarakat dimana ia berada atau tinggal. Tugas pengasuhan juga mencakup pemenuhan kebutuhan psikis anak dan pemberian stimulasi untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan anak secara maksimal. Beberapa aspek dalam pola pengasuhan yaitu mencakup pola asuh makan, pola asuh hidup sehat, pola asuh akademik atau intelektual, pola asuh sosial emosi serta pola asuh moral dan spiritual.

4.2.3.1 Pola Pengasuhan Anak

Tabel 4.22

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya merasa bahwa setiap hari sudah menyediakan makanan sehat dan bergizi untuk anggota keluarga saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

2 Setuju 68 85,0

3 Netral 1 1,3

4 Tidak setuju 11 13,8

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pentingnya memberikan makanan sehat dan bergizi bagi keluarga merupakan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga. Berdasarkan data dilapangan seperti yang diperlihatkan pada tabel 4.22 responden yang menjawab setuju merasa sudah menyediakan makanan bergizi kepada anggota memiliki frekuensi 68 responden dengan persentase 85,0 % dan yang menjawab netral memiliki frekuensi 1 responden dengan persentase 1,3 % dan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 11 responden dengan persentase 13,8 %. Hal ini menunjukkan mayoritas responden merasa sudah memberikan makanan yang cukup layak dan bergizi untuk keluarga mereka yang sesuai dengan kemampuan mereka akan tetapi tidak setiap harinya bias memberikan makanan yang sehat dan bergizi bagi keluarga mereka dikarenakan keterbatasan yang mereka miliki sehingga mengharuskan mereka untuk tidak dapat menyantap makanan yang sehat dan bergizi bagi anggota keluarga.

Tabel 4.23

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Setiap harinya saya selalu makan bersama dengan seluruh anggota keluarga lainnya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 20 25,0

4 Tidak setuju 60 75,0 5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pada tabel 4.23 responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 20 responden dengan persentase 25,0 % sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 60 responden dengan persentase 75,0 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden selalu mengupayakan untuk makan bersama dengan anggota keluarga karena ketiadaan ruang bagi mereka untuk makan bersama menjadikan mereka makan sendiri-sendiri dan karena memiliki aktifitas yang berbeda tidak bersama tetapi terkadang bersama meskipun bukan di ruang makan.

Tabel 4.24

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya menganggap bahwa saya sudah menerapkan pola asuh makan yang tepat kepada anak saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 50 62,5

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pada tabel diatas memperlihatkan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 30 responden dengan persentase 37,5 %, sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 60 responden dengan persentase 75,0 %. Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh makan yang mereka terapkan kepada anak-anak mereka rasakan sudah tepat, dan pola asuh yang mereka terapkan sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dikarenakan keterbatasan kemampuan yang mereka miliki sehingga terkadang mereka tidak dapat menyantap makanan yang seharusnya menyediakan pola asuh makan yang tepat.

Tabel 4.25

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya selalu mengingatkan kepada anggota keluarga saya terutama anak-anak saya setiap harinya untuk

selalu makan tepat pada waktunya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

2 Setuju 74 92,5

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 6 7,5

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Tabel diatas menunjukkan berdasarkan data yang didapat di lapangan responden yang menjawab setuju bahwa selalu mengingatkan kepada anggota keluarga terutama anak-anak untuk selalu makan tepat pada waktunya memiliki frekuensi 74 responden dengan persentase 92,5 %, dan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 6 responden dengan persentase 7,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai orang tua menerapkan tentang pentingnya makan tepat waktu penting untuk diterapkan kepada anak dan beberapa yang tidak menerapkannya karena serangkaian aktifitas yang mereka jalani sehingga sulit untuk selalu mengingatkan untuk tepat waktu makan kepada anak-anak mereka karena tidak seterusnya berada di rumah.

4.2.3.2 Pola Asuh Hidup Sehat

Tabel 4.26

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya menganggap bahwa lingkungan tempat tinggal saya merupakan lingkungan yang sehat.”

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 73 91,3

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 7 8,8

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Lingkungan tempat tinggal yang sehat memberikan pengaruh yang positif kepada kenyamanan dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Berdasarkan data yang yang ada dilapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 73 responden dengan persentase 91,3 % sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 7 responden dengan persentase 8,8 %. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan merupakan syarat penting dalam kenyamanan dan kesehatan keluarga seperti jawaban yang responden yang merasa bahwa lingkungan tempat tinggal mereka merupakan lingkungan yang sehat untuk menjadi tempat tinggal meskipun ada beberapa responden yang menganggap bahwa lingkungan daerah tersebut kurang cukup sehat karena keberadaan rumah tempat tinggal mereka berada tepat di pinggiran sungai dan terdapat banyak sampah yang bersangkutan di pohon yang tumbuh di tepi sungai.

Tabel 4.27

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya dan anggota keluarga saya sudah menerapkan pola hidup sehat”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 71 8,8

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 9 11,3

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pada tabel 4. 27 responden memberikan jawaban yang bervariasi berdasarkan data dilapangan responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 71 responden dengan persentasi 8,8 % dan dan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 9 responden dengan persentase 11,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang tinggal didaerah tersebut menganggap bahwa menerapkan pola hidup sehat itu penting untuk selalu diterapkan dalam setiap menjaga kesehatan tubuh tentunya maka dari itu mayoritas responden merasa sudah menerapkan pola hidup sehat sesuai dengan keadaan mereka mskipun terkadang tidak dapat mlaksanakannya karena keterbatasan keadaan yang mereka miliki.

Tabel 4.28

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya berpendapat bahwa menjaga kesehatan fisik dan jasmani diawali dengan menjaga kebersihan di

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 78 97,5

3 Netral 0 0,0

4 Tidak setuju 2 2,5 5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Menjaga kebersihan lingkungan merupakan awal dari menjaga pola hidup sehat dan hal itu harus diterapkan. Berdasarkan data yang didapat dari lapangan responden yang menjawab setuju bahwa pentingnya menjaga kbersihan lingkungan dan sudah menerapkannya memiliki frekuensi 78 responden dengan persentase 97,5% sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 2 responden dengan persentase 2,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden masih memperhitungkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan sudah menerapkannya meskipun keterbatasan yang mereka miliki dan beberapa responden yang tidak menerapkannya dikarenakan mereka lelah dari bekerja dan biasanya malas untuk mengikuti gotong royong yang diadakan di lingkungan tersebut.

Tabel 4.29

Jawaban Responden Berdasarkan Pernyataan “Saya sudah menerapkan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh kepada anak-anak

saya.”

No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)

1 Sangat setuju 0 0,0

2 Setuju 74 92,5

3 Netral 0 0,0

5 Sangat tidak setuju 0 0,0

Jumlah 80 100,0

Sumber : Data Penelitian Lapangan (Kuesioner) September 2011

Pada tabel 4.29 dapat dilihat bahwa responden yang menjawab setuju memiliki frekuensi 74 responden dengan persentase 92,5 %, sedangkan yang menjawab tidak setuju memiliki frekuensi 6 responden dengan persentase 7,5 %. Hal

Dokumen terkait