• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yoshinobu Ashihara (1974) dalam bukunya menyatakan Ruang luar

merupakan definisi umum, termasuk di dalamnya ruang terbuka. Ruang terbuka

merupakan bagian ruang luar yang mempunyai batas-batas tertentu juga terdapat

fungsi, maksud dan kehendak manusia. Batas-batas itu ditandai oleh frame yang disebut di atas. Yoshinobu Ashihara (1974) juga menyebutkan bahwa pandangan

kita ke dalam frame menjadi ruang positif. Dan ruang di luar frame tersebut bersifat meluas dan tak terhingga, disebut sebagai ruang negatif.

Yoshinobu Ashihara (1974) dalam Ardiansyah juga mengartikan ruang

terbuka atau open space sebagai lahan tanpa atau dengan sedikit bangunan atau dengan jarak bangunan yang saling berjauhan; ruang terbuka ini dapat berupa

pertamanan, tempat olah raga, tempat bermain anak-anak atau playground, perkuburan dan daerah hijau pada umunya yang biasa disebut dengan ruang

terbuka hijau.

Sedangkan Rustam Hakim (1987) dalam buku Unsur Perancangan dalam

Arsitektur Lansekap menyatakan ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu

wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga lingkungan

tersebut baik secara individu atau secara berkelompok. Bentuk dari ruang terbuka

ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan. Batasan pola ruang

umum terbuka adalah:

a. Bentuk dasar daripada ruang terbuka di luar bangunan

b. Dapat digunakan oleh publik

c. Memberi kesempatan untuk macam-macam kegiatan

Contoh ruang terbuka adalah jalan, pedestrian, taman, plaza, lapangan

terbang dan lapangan olah raga.

Dalam buku Unsur Perancangan dalam Arsitektur Lansekap, Rustam

Hakim (1987) menuliskan 4 jenis ruang terbuka, yaitu:

1. Ruang terbuka dalam lingkungan hidup

Menurut Ian C. Laurit, ruang-ruang terbuka dalam lingkungan hidup, yaitu

a. Ruang terbuka sebagai Sumber: produksi, antara lain berupa hutan,

perkebunan, pertanian, produksi mineral, peternakan, perairan,

perikanan dan sebagainya.

b. Ruang terbuka sebagai perlindungan terhadap kekayaan alam dan

manusia, misalnya cagar alam berupa hutan, kehidupan laut/air,

daerah budaya dan bersejarah.

c. Ruang terbuka untuk kesehatan, kesejahteraan dan kenyamanan, yaitu

antara lain:

1) Untuk melindungi kualitas air tanah

2) Pengaturan, pembuangan air, sampah dan lain-lain

3) Memperbaiki dan mempertahankan kualitas udara

4) Rekreasi, taman lingkungan, taman kota dan seterusnya.

2. Ruang terbuka ditinjau dari kegiatannya

Dibagi 2 jenis ruang terbuka yaitu:

a. Ruang terbuka aktif adalah ruang terbuka yang mengundang

unsur-unsur kegiatan di dalamnya, antara lain: bermain, olahraga, upacara,

berkomunikasi dan berjalan-jalan. Ruang ini dapat berupa: plaza,

lapangan olah raga, tempat bermain, penghijauan di tepi sungai

sebagai tempat rekreasi dan lain-lain.

b. Ruang terbuka pasif adalah ruang terbuka yang didalamnya tidak

mengandung kegiatan manusia, antara lain berupa penghijauan atau

3. Ruang terbuka ditinjau dari bentuknya.

Menurut Rob Meyer, ruang terbuka (urban space) secara garis besar dapat

dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

a. Berbentuk memanjang. Umumnya hanya mempunyai batas-batas pada

sisi-sisinya, misalnya : jalanan, sungai dan lain-lain.

b. Berbentuk mencuat. Yang dimaksud dengan bentuk mencuat adalah

ruang terbuka ini mempunyai batas-batas disekelilingnya, misalnya:

lapangan, bundaran dan lain-lain.

4. Ruang terbuka ditinjau dari sifatnya

Berdasarkan sifatnya ada 2 jenis ruang terbuka, yaitu:

a. Ruang terbuka lingkungan adalah ruang terbuka yang terdapat pada

suatu lingkungan dan sifatnya umum. Adapun tata penyusunan

ruang-ruang terbuka dan ruang-ruang-ruang-ruang tertutupnya akan mempengaruhi

keserasian lingkungan.

b. Ruang terbuka bangunan adalah ruang terbuka oleh dinding bangunan

dan lantai halaman bangunan. Ruang terbuka ini bersifat umum atau

pribadi sesuai dengan fungsi bangunannya.

Alun-alun kota abad pertengahan, atau piazza, sering merupakan jantung

dari sebuah kota, ini adalah tempat tinggal luar dan tempat bertemu; sebuah lahan

untuk berjualan, perayaan, dan eksekusi; dan tempat dimana seseorang

mendengarkan berita, membeli makanan, mengumpulkan air, membicarakan

pertengahan diragukan dapat berfungsi tanpa piazza atau alun-alun kotanya.

Namun saat ini, alun-alun kota abad pertengahan atau piazza Itali tidak lagi dapat

menyediakan model dari fungsi untuk ditiru, meskipun mungkin menawarkan

pelajaran penting dalam bentuk, rasio tinggi dan lebar, sense of enclosure, dan perabotan untuk meningkatkan penggunaan (Marcus dan Francis, 1998).

Di Amerika Utara, beberapa peneliti telah berargumentasi bahwa

privatisasi kehidupan kontemporer telah membuat ruang publik tidak lagi

berfungsi. (Chidister, 1988). Yang tersisa dari ruang terbuka perkotaan adalah

ruang terbuka yang terpisah dan tidak terhubung dan digunakan umumnya oleh

satu segmen populasi (pegawai kantor), dan hanya saat hari kerja selama jam

makan (Marcus dan Francis, 1998).

Kebanyakan orang tidak lagi pergi ke pasar terbuka untuk membeli

makanan, ke pompa air umum, atau ke ruang publik untuk mendengarkan berita.

Mereka bersosialisasi didalam rumah mereka, dimana semua hal dari air dan

listrik untuk berita-berita, surat, dan iklan telah tersedia didalam (Marcus dan

Francis, 1998).

Seperti kebanyakan aktivitas-aktivitas yang biasanya dilakukan didalam

rumah (bekerja, belajar, pernikahan, kelahiran dan ritual kematian) telah

dipindahkan ke tempat dengan fungsi spesial, begitu juga dengan

aktivitas-aktivitas publik dari piazza utama (jual-beli, pertunjukan-pertunjukan, olahraga,

dan pertemuan) juga telah dipindahkan ke tempat dengan fungsi spesial (pusat

perbelanjaan, stadium, hotel dan pusat konferensi, taman perumahan, dan

Pentingnya lingkungan pejalan kaki seperti di kota jauh lebih besar dari

sekedar estetikanya, atau bahkan kesempatan untuk menghabiskan waktu di luar

rumah. Menurut psikoterapis Joanna Poppink, menghabiskan waktu di sebuah

kafe outdoor atau belanja di jalan yang ramai lebih dari sekedar pengalih

perhatian yang menyenangkan, itu adalah elemen penting dari kehidupan

perkotaan yang sehat. Dia percaya bahwa banyak ketakutan dan ketidakpercayaan

yang dialami oleh orang perkotaan secara langsung berhubungan dengan

kurangnya ruang terbuka publik di mana kelompok-kelompok yang berbeda dapat

berinteraksi. “Jika kita tidak dapat meninggalkan rumah, kita mengisi diri kita dengan fantasi-fantasi yang diciptakan oleh televisi dan ketakutan diri kita

sendiri.” Sebaliknya, ketika kita “keluar kedunia, kita dapat melihat orang-orang seperti mereka benar-benar terdiri dari umur yang berbeda, ras yang berbeda,

hubungan yang berbeda yang bisa kita observasi secara langsung” (Morgan 1996, 59; Marcus dan Francis, 1998).

Seperti zaman dulu, taman publik digunakan sebagai ruang yang bebas

ditinggali oleh mereka yang tidak mempunyai rumah atau mereka yang tinggal

sendiri dalam keadaan penghematan. Beberapa taman yang terletak di tempat

yang kurang menonjol sekarang menawarkan pelayanan kepada tuna wisma yang

sebelumnya mungkin telah disukai di taman publik. Walaupun untuk beberapa

orang, taman masih merupakan sebuah tempat untuk olahraga, rekreasi, bermain,

dan perenungan, untuk yang lain itu telah menjadi tempat pertemuan penting dan

tempat sosial; untuk yang lapar dan miskin, taman merupakan tempat untuk

Walaupun tingkat penggunaan ruang terbuka kota sebagai tempat aktivitas

sosial dan ekonomi lebih dibatasi daripada saat abad pertengahan, tetapi tingkat

penggunaannya dianggap lebih besar saat ini daripada saat tahun 1950. Pada saat

yang sama, muncul bentuk baru dari ruang terbuka, disponsori baik oleh sektor

publik ataupun sektor swasta. Inilah yang mungkin dapat kita katakan sebagai

ruang komunal atau ruang yang digunakan oleh kelompok tertentu yang

menggunakan sebuah bangunan dengan fungsi tertentu: sebagai contoh, ruang

terbuka untuk berjalan, duduk dan bermain di sekitar perumahan untuk orang tua;

halaman dan taman yang digunakan oleh pengunjung rumah sakit, pasien dan

pegawai; area untuk permainan outdoor, belajar dan berlatih di pusat penitipan

anak; dan ruang-ruang diantara bangunan yang digunakan untuk berelaksasi,

bersosialisasi, dan belajar di kampus (Marcus dan Francis, 1998).

Berikut adalah 7 jenis ruang terbuka perkotaan (Marcus dan Francis,

1998):

1. Neighborhood park

Didominasi oleh elemen lansekap lunak berupa rumput, pohon dan area

tanaman, biasanya terletak di sebuah perumahan dan detail dan diberikan

perabotan untuk beberapa jenis aktivitas (olahraga, bermain, berjalan) dan

aktivitas pasif (duduk, berjemur, beristirahat).

2. Minipark

Taman kecil dengan ukuran satu hingga tiga rumah, secara prinsip

digunakan oleh pejalan kaki lokal. Digunakan terutama oleh anak-anak dan

3. Urban plaza

Dominan berupa ruang terbuka dengan permukaan keras di daerah

perkotaan, umumnya didirikan sebagai bagian dari bangunan tinggi yang baru.

Plaza sejenis ini biasanya bersifat privat tetapi umumnya dapat diakses oleh

publik.

4. Campus outdoor space

Elemen keras dan lunak dari lansekap kampus yang bisa digunakan untuk

berjalan atau untuk belajar, relaksasi dan pertemuan sosial.

5. Elderly housing outdoor space

Ruang terbuka untuk berjalan, duduk, melihat-lihat, berkebun, dan

sejenisnya, terhubung dengan – dan untuk penggunaan ekslusif dari – perumahan untuk orang tua.

6. Child care open space

Area bermain luar dari pusat penitipan anak, biasanya termasuk

didalamnya area dengan permukaan keras dan lunak dan beberapa perlengkapan

bermain yang tetap dan dapat dipindahkan. Fokus utamanya adalah sekolah anak

usia dini (tiga hingga lima tahun).

7. Hospital outdoor space

Sebuah halaman, kebun, atau taman yang merupakan bagian dari rumah

sakit. Ruang sejenis ini biasanya disediakan untuk digunakan oleh pasien,

pengunjung, staff, dan masyarakat umum. Mereka mempunyai fungsi terapis dan

sosial. Mereka dapat didominasi oleh permukaan keras atau lunak atau kombinasi,

Tidak ada satupun dari ruang tersebut secara teknis merupakan ruang

publik, namun ruang tersebut berkontribusi untuk sebuah perasaan dari kehidupan

publik, memungkinkan pertemuan dengan orang lain, pemandangan, dan

berkomunikasi dengan orang-orang yang bukan berasal dari keluarga mereka

sendiri. Ruang publik pada dasarnya harus bersifat responsif – adalah dirancang dan dikelola untuk melayani kebutuhan dari penggunanya; demokratis – dapat diakses oleh semua kelompok dan menyediakan kebebasan dalam berkegiatan;

dan bermakna – memungkinkan orang untuk membuat koneksi yang kuat antara tempat, kehidupan pribadinya, dan dunia yang lebih besar (Carr et al. 1992, 19-20;

Marcus dan Francis, 1998).

Berdasarkan hal yang disebutkan diatas, Marcus dan Francis (1998) dalam

bukunya People Places mengasumsikan:

1. Kehidupan publik berkembang di kota industri kontemporer

2. Ukuran penting dari keberhasilan ruang terbuka publik adalah penggunaannya

3. Penggunaan dan popularitas dari sebuah ruang paling besar tergantung pada

lokasi dan detail dari perancangannya.

4. Kita harus bisa mengkomunikasikan pada pengguna apa yang saat ini diketahui

tentang hubungan antara desain, lokasi dan penggunaan.

Sedangkan untuk kriteria ruang terbuka oleh Marcus dan Francis (1998),

antara lain:

1. Berlokasi ditempat yang mudah diakses dan bisa terlihat oleh pengguna.

2. Menyampaikan secara jelas pesan bahwa tempat tersebut dapat digunakan

3. Cantik dan menarik baik bagian dalam maupun luarnya.

4. Memiliki perabot untuk mendukung aktivitas yang paling banyak disukai dan

diinginkan.

5. Menciptakan perasaan aman kepada calon pengguna.

6. Menciptakan kelegaan dari stress dan meningkatkan kesehatan mental dan

jasmani dari penggunanya.

7. Disesuaikan dengan kebutuhan dari kelompok pengguna yang paling

mungkin untuk menggunakan ruang.

8. Mendorong penggunaan oleh subkelompok yang berbeda dari populasi

pengguna, tanpa kegiatan salah satu kelompok mengganggu yang lain.

9. Menciptakan lingkungan yang secara psikologis nyaman pada saat

penggunaan, dalam hal matahari dan bayangan, angin dan sejenisnya.

10. Dapat diakses oleh anak-anak dan orang berkebutuhan khusus.

11. Menggabungkan komponen yang dapat dimanipulasi atau diubah oleh

pengguna.

12. Mudah dan ekonomis dipelihara dalam batas-batas apa yang biasanya

diharapkan dari jenis tertentu ruang.