4.2 Penonjolan Aspek dari Isu
4.2.1 Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia
Konstruksi atas peristiwa siaran pers Kementrian Komunikasi dan Informasi mengenai pembajakan musik digital di Indonesia dilakukan penulis Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia melalui proses seleksi isu,
dengan menggunakan empat strategi atau elemen Entman, selanjutnya dibentuk dengan cara melakukan penonjolan aspek tertentu.
Pada tajuk Rubrik National affairs Majalah Rolling Stone Indonesia, rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia didefinisikan sebagai persoalan hukum dan sosial, di mana sosial terkait tuntutan publik terhadap pemerintah, sementara hukum terkait kebijakan pemerintah terhadap permasalahan pembajakan musik di Indonesia. Oleh karena itu, penonjolan aspek dari isu yang dipilih ini dilakukan dengan menggunakan bahasa tertentu (pilihan kata, istilah, rangkaian kata, dan sebagainya) yang berhubungan dengan aspek hukum dan sosial. Penonjolan dilakukan Majalah Rolling Stone Indonesia melalui cara berikut ini:
1. Pilihan Kata
Majalah Rolling Stone Indonesia melakukan penonjolan melalui pilihan kata atau istilah yang berkaitan dengan aspek hukum. Pilihan kata yang mengandung aspek hukum terlihat dalam rangkaian kata;
1. Ilegal
“Asosiasi-asosiasi musik tersebut meminta agar Kementerian Komunikasi dan Informatika menutup situs-situs Internet yang memberikan fasilitas mengunduh lagu secara ilegal atau menyebarkan lagu tanpa izin yang memiliki hak atas lagu-lagu tersebut.” (Paragraf 1)
2. Relevan
“Untuk melihat apakah memang penanggulangan terhadap dua hal tersebut masuk dalam lingkup tugas dan tanggung jawab Kementerian
Komunikasi dan Informatika, ada baiknya kita melihat lebih jauh ketentuan-ketentuan dalam UU ITE yang dianggap relevan dengan dua hal tersebut.” (Paragraf 4)
3. Melawan Hukum
“Demikian pula Pasal 32 ayat 2 UU ITE yang mengatur larangan bagi setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak.” (Paragraf 7)
2. Istilah
Majalah Rolling Stone Indonesia dalam tajuk recananya menggunakan beberapa istilah seperti;
1. Mengunduh Lagu
“Asosiasi-asosiasi musik tersebut meminta agar Kementerian Komunikasi dan Informatika menutup situs-situs Internet yang memberikan fasilitas mengunduh lagu secara ilegal atau menyebarkan lagu tanpa izin yang memiliki hak atas lagu-lagu tersebut.” (Paragraf 1)
2. Ancaman Pidana
“Menurut beliau, adanya ancaman pidana penjara tersebut adalah karena tindakan tersebut melanggar ketentuan dalam UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).” (Paragraf 2)
“Kementerian Komunikasi dan Informatika menganggap dua hal tersebut berada dalam lingkup tugas dan tanggung jawabnya, sehingga merasa yakin untuk menerapkan ketentuan-ketentuan UU ITE dalam rangka menang-gulanginya.” (Paragraf 3)
4. Pemegang Hak Cipta
“Apabila ketentuan pasal-pasal dalam UU ITE di atas diterapkan terhadap situs-situs Internet yang menyediakan fasilitas mengunduh lagu secara ilegal, dan juga terhadap orang yang mengunduh lagu tanpa izin penciptanya atau pemegang hak ciptanya dari situs-situs Internet tersebut, tentu akan mengundang perdebatan teknis.” (Paragraf 9)
5. Karya Intelektual
“Kalau lebih jeli memperhatikan ketentuan Pasal 25 UU ITE, diterangkan bahwa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun menjadi karya intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di dalamnya dilindungi sebagai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.” (Paragraf 10)
6. Lex Specialis Derogate Lex Generali
“Hal ini sesuai dengan asas hukum lex specialis derogate lex generali, yang artinya peraturan atau UU yang bersifat khusus mengesampingkan peraturan atau UU yang umum.” (Paragraf 10)
7. Mengendurkan Semangat
“Apa yang disampaikan di atas tidak dimaksudkan untuk mengendurkan semangat untuk melawan pembajakan di era digital. Hal tersebut hanya sebagai pengingat bahwa penegakan hukum tidak sepatutnya dilakukan secara sembarangan.” (Paragraf 16)
8. Era Digital
“Apa yang disampaikan di atas tidak dimaksudkan untuk mengendurkan semangat untuk melawan pembajakan di era digital. Hal tersebut hanya sebagai pengingat bahwa penegakan hukum tidak sepatutnya dilakukan secara sembarangan.” (Paragraf 16)
9. Desakan Publik
“Apalagi jika semata-mata didasarkan pada desakan publik. Oleh karena itu, harus dipikirkan dengan benarpenggunaan ketentuan hukum yang tepat untuk melindungi kepentingan hukum para pihak yang terkait di dalam proses penegakan hukum, serta menjamin proses hukum dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang benar.” (Paragraf 16)
10. Maju Terus
“Maju terus musik Indonesia!” (Paragraf 16)
4.2.2 Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia
Konstruksi atas peristiwa atau isu mengenai rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia yang dilakukan melalui proses seleksi isu, dengan menggunakan empat strategi atau
elemen Entman, selanjutnya dibentuk dengan melakukan penonjolan aspek tertentu.
Pada Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia, rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia didefinisikan sebagai persoalan bisnis, sosial dan teknologi, sedikit berbeda dengan pendefinisian Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia. Oleh karena itu, penonjolan aspek dari isu yang dipilih dilakukan dengan menggunakan bahasa tertentu (pilihan kata, istilah, rangkaian kata, dan sebagainya) yang berhubungan dengan aspek bisnis, sosial dan teknologi. Penonjolan dilakukan Majalah Rolling Ston Indonesia melalui beberapa cara berikut ini:
1. Pilihan Kata
Majalah Rolling Stone Indonesia dalam Rubrik Music Biz-nya berupaya menonjolkan rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia ini dari sisi bisnis, sosial dan teknologi melalui pilihan kata yang bersifat atau erat kaitannya dengan segi bisnis, sosial dan teknologi. Beberapa kata yang berkaitan dengan ketiga aspek tersebut terdapat pada beberapa paragraf dalam artikel ini, sehingga secara umum paragraf-paragraf tersebut bersifat atau bermakna bisnis, sosial, atau teknologi seperti:
1. Industri
“Industri musik rekaman yang kita kenal sekarang berawal dari mulainya komersialisasi produk musik lewat piringan hitam.” (Paragraf 2)
“Industri musik rekaman yang kita kenal sekarang berawal dari mulainya komersialisasi produk musik lewat piringan hitam.” (Paragraf 2)
3. Inovasi
“Salah satu inovasi yang mengembangkan industri musik rekaman juga jadi salah satu penyebab besar industrinya secara relatif turun drastis.” (Paragraf 3)
4. Fragmentasi
“Promosi berpola lebih sulit dilakukan karena fragmentasi media (dan fragmentasi penikmat musik), dan akses konsumen ke musik secara umum sulit dilakukan, karena hadirnya suatu file musik di Internet bisa berarti penyebaran otomatis ke seluruh dunia, sehingga mengurangi potensi konsumen membeli produk musik tersebut.” (Paragraf 6)
5. Komoditas
“Kita lihat bahwa industri musik rekaman, walaupun pola pikirnya sudah sangat jauh berkembang pada awal 2000-an, masih berusaha memperlakukan musik rekaman sebagai komoditas.” (Paragraf 8)
6. Transisi
“Industrinya sendiri masih dalam transisi mencari bentuk baru.” (Paragraf 9)
7. Investasi
“Kita lihat di seluruh dunia, perusahaan rekaman sedang berusaha berubah bentuk: beerapa telah membentuk event organizer sendiri, ada yang memiliki manajemen artis sendiri, sampai mengelola merchandise sendiri, sebagai usaha diversivikasi pemasukan uang, dan memaksimalkan
pengembalian investasi atas uang yang dikeluarkan perusahaan tersebut untuk artis atau album yang dikelola.” (Paragraf 10)
8. Bertempur
“Satu-satunya cara bertempur dengan para pembajak adalah dengan bergerak lebih cerdik.” (Paragraf 11)
9. Entrepreneur
“Artis atau band harus lebih jeli dan berpikir seperti entreprenuer, dan perusahaan rekaman perlu mengembangkan diri menjadi business enabler.” (Paragraf 17)
2. Istilah
Majalah Rolling Stone Indonesia dalam tajuk recananya menggunakan beberapa istilah untuk menonjolkan tiga aspek tersebut di atas, seperti;
1. Industri Musik Rekaman
“Industri musik rekaman yang kita kenal sekarang berawal dari mulainya komersialisasi produk musik lewat piringan hitam.” (Paragraf 2)
2. Zaman Keemasan
“Zaman CD adalah zaman keemasan industri musik rekaman.” (Paragraf 3)
3. Musisi Independen
“Software pertama yang bisa membuat file format MP3 dikeluarkan oleh Fraunhofer Society pada tahun 1994, yang kemudian disusul oleh berdirinya website MP3.com untuk musisi-musisi independen, dan
keluarnya WinAmp yang mempopulerkan MP3 sebagai format penyebaran musik, sampai akhir ’90-an.” (Paragraf 4)
4. Pembajakan Lewat Internet
“Sekarang, dunia musik seolah sudah terbalik: penjualan CD turun terus (dan kaset sudah nyaris punah) karena pembajakan lewat Internet maupun CD palsu, album sekaligus diperlakukan sebagai alat promosi artis/band supaya orang maumenonton konsernya, media sudah terdesentralisasi dengan berkembangnya Internet dan jutaan blog, dan sampai saat ini MP3 masih banyak beredar bebas lewat Internet.” (Paragraf 6)
5. Produk Gaya Hidup
“Industri musik rekaman di Indonesia berkembang pesat lagi setelah hadirnya ringbacktone, yang sebenarnya sudah berkembang jadi produk gaya hidup atau produk ekspresi, seperti layaknya status message pada Yahoo! Messenger atau Blackberry Messenger.” (Paragraf 7)
6. Bergerak Lebih Cerdik
“Satu-satunya cara ‘bertempur’ dengan para pembajak adalah dengan bergerak lebih cerdik.” (Paragraf 11)
7. Solusi Ajaib
“Tentunya, tidak ada solusi ajaib yang akan menyelesaikan persoalan penggunaan hak cipta versus pembajakan.” (Paragraf 13)
“Digital Rights Management? Akhirnya pahlawan-pahlawan industri musik digital seperti iTunes Store dan Amazon MP3 Music Store sudah menjual musik tanpa DRM semenjak tahun lalu.” (Paragraf 13)
9. Pengalaman Konsumen
“Ikatan antara lagu – atau artisnya – adalah sesuatu yang tidak bsa ‘diciptakan’, dan akan timbul sendiri. Dan ikatan emosi ini, adalah langkah pertama dari pengembangan sebuah pengalaman konsumen.” (Paragraf 15)
10. Business Enabler
“Artis atau band harus lebih jeli dan berpikir seperti entreprenuer, dan perusahaan rekaman perlu mengembangkan diri menjadi business enabler.” (Paragraf 17)
4.3 Pembahasan
Setiap media massa memaknai sebuah peristiwa secara berbeda dan setiap media pun membuat penonjolan-penonjolan aspek-aspek tertentu dalam berita yang disajikan. Penonjolan aspek tertentu inilah yang disebut framing. Hal yang pertama kali dilakukan dalam analisis framing, adalah melihat bagaimana media mengkonstruksi realitas. Realitas itu sendiri aktif dibentuk oleh wartawan yang tetap mengedepankan visi dan misi media.
Robert N. Entman membagi framing menjadi dua bagian, yaitu seleksi isu dan penekanan isu atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas. Berdasarkan kedua dimensi tersebut, penulis mencoba membahas hasil analisis dua artikel opini yang terbit dalam Majalah Rolling Stone Indonesia edisi #78 November 2011.
Berdasarkan hasil analisis, penulis melihat bahwa Majalah Rolling Stone Indonesia menilai rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia sebagai permasalahan yang menyangkut penegakan hukum, bisnis, tanggungjawab sosial, dan perkembangan teknologi. Penerapan Undang-undang yang tepat serta pola bisnis yang inovatif akan menjamin terbentuknya sebuah industri musik yang kuat dan mampu bersaing dengan para pembajak sehingga kekhawatiran akan matinya industri musik di Indonesia dapat ditanggulangi.
Paragraf ke-15 Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia menjelaskan bahwa penggunaan UU Hak Cipta lebih tepat dibandingkan menerapkan UU ITE untuk mengatasi masalah pembajakan musik di Indonesia. Sementara pada paragraf ke-14 Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia ditegaskan bahwa penting bagi industri musik untuk tidak lagi memperlakukan karya musik sebagai komoditas, industri musik juga harus mengedepankan inovasi bisnis agar dapat terus hidup sejalan dengan perkembangan teknologi. Rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing tidak lantas akan menyelesaikan masalah pembajakan musik di Indonesia, Majalah Rolling Stone Indonesia menganggap rencana tersebut akan memberikan dampak yang beragam bagi masyarakat musik di tanah air.
1. Seleksi Isu
Seleksi isu berhubungan dengan pemilihan fakta. Pemilihan fakta ini yang menunjukan bagaimana sebuah media memaknai sebuah peristiwa. Fakta-fakta yang mewakili pemahaman media massa tersebut akan ditampilkan, dibandingkan
dengan fakta lainnya. Proses pemilihan fakta ini, tidak dapat dipahami semata-mata sebagai bagian dari teknis jurnalistik, tetapi juga politik pemberitaan.
Seleksi isu yang dilakukan Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia dalam mengkonstruksi realitas rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia adalah dengan meninjau kembali dasar hukum yang digunakan untuk menjalankan kebijakan pemerinta tersebut, hal tersebut tentu saja terkait dengan reaksi atau rasa kepercayaan masyarakat yang akan timbul terhadap pemerintah dalam mengtasi masalah pembajakan musik di Indonesia.
Kebijakan pemerintah akan berujung kepada reaksi pro-kontra yang muncul di kalangan musisi Indonesia yang akan terkena dampak dari penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing tersebut, dan ini merupakan permasalahan sosial. Majalah Rolling Stone Indonesia dalam pemberitaan mengedepankan sudut pandang yang luas dengan tidak menampilkan adanya keberpihakan terhadap pihak manapun, namun lebih kritis terhadap masalah yang akan timbul diakibatkan oleh sosialisasi rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia ke masyarakat luas. Dari tajuk rencana ini menunjukkan bahwa Majalah Rolling Stone Indonesia menerapkan syarat-syarat dan kaidah dalam memproduksi sebuah berita; berimbang (balance), objektif, dan faktual.
Melengkapi Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia, Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia menilai rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia ini dari sisi bisnis, Majalah Rolling Stone Indonesia menganggap
kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan lebih jauh karena akan memberikan dampak negatif bagi perkembangan musik di Indonesia. Ketidaksiapan industri musik tanah air dalam menghadapi perkembangan teknologi dinilai sebagai pokok permasalahan yang mendorong sebagian pihak untuk mendesak penerapan kebijakan tersebut, hal tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila Industri musik Indonesia mau menerapkan pola bisnis yang berbeda, yang tidak memperlakukan karya musik sebagai komoditas. Dari isi artikelnya Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia cenderung menanggapi sikap pemerintah yang akan menutup blog-blog musik serta situs-situs file sharing tersebut sebagai kebijakan yang terburu-buru dan muncul karena adanya tekanan dari pihak tertentu.
Tabel 4.1
Seleksi Isu Rencana Penutupan Blog-blog Musik dan Pemblokiran Situs-situs File Sharing terkait Pembajakan Musik di Indonesia
Rubrik National Affairs Rubrik Music Biz
Define Problems
Masalah hukum dan sosial; aspek hukum berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan UU yang digunakan dalam
menangani pembajakan musik di Indonesia, sementara aspek sosial terkait tuntutan dan reaksi dari masyarakat terhadap kebijakan tersebut.
Masalah bisnis dan sosial; aspek bisnis terkait dengan penurunan minat konsumen terhadap karya musik yang diperlakukan oleh industri musik sebagai komoditas. Sementara aspek sosial berkaitan dengan tekanan masyarakat terhadap pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan tentang penyebaran musik ilegal melalui Internet. Penerapan UU ITE yang Perlakuan industri musik
Diagnose Causes
memiliki kelemahan dalam mengatasi masalah
pembajakan musik di Indonesia.
terhadap karya musik yang dijadikan sebagai komoditas. Rencana penutupan blog-blog musik serta situs-situs file sharing yang menyebarkan musik ilegal melalui Internet, yang dipicu oleh desakan Heal Our Music kepada Kemenkominfo.
Make Moral Judgement
Kekhawatiran akan terus berjalannya situs-situs yang menyediakan musik bajakan karena kebijakan pemerintah yang kurang tepat.
Pembajakan musik adalah sebuah fenomena yang memiliki dua sisi, negatif dan positif. Penutupan blog-blog musik dan pemblokiran situs-situ file sharing akan
memberikan dampak yang beragam terhadap dunia musik tanah air.
Treatment Recommendation
Penggunaan UU HKI sebagai dasar hukum yang mengatur tentang peredaran musik digital di Internet. Dengan begitu, penanganan masalah pembajakan musik melalui Internet menjadi kewajiban kepolisian atau penyidik pegawai negeri sipil dari Dirjen HKI Kemenhukam.
Industri musik harus berhenti menjadikan karya musik sebagai komoditas, kemudian menerapkan inovasi-inovasi bisnis baru sebagai jalan alternatif untuk
menyelematkan industri musik tanah air, diantaranya adalah dengan
mengembangkan bisnis yang berkonsentrasi kepada peningkatan pengalaman konsumen.
2. Penonjolan Aspek Tertentu
Bagian ini berhubungan dengan penulisan fakta. Hal ini berkaitan pula dengan penggunaan kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk menggambarkan realitas yang ingin ditonjolkan sebuah media kepada khalayak. Pemilihan bahasa oleh media dapat menciptakan realitas tertentu, dari sebuah peristiwa.
Dalam penulisan tajuk rencananya, Majalah Rolling Stone Indonesia lebih menonjolkan aspek dari isu yang dipilih dengan menggunakan bahasa tertentu (pilihan kata dan penggunaan istilah) yang berhubungan dengan aspek-aspek tertentu.
Pilihan kata yang berkaitan dengan aspek hukum dalam Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia adalah; ilegal, relevan dan melawan hukum. Selain itu, Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia juga menggunakan beberapa istilah yang berkaitan dengan aspek hukum dalam penulisannya; mengunduh lagu, ancaman pidana, lingkup tugas, pemegang hak cipta, karya intelektual, lex specialis derogate lex generali, mengendurkan semangat, era digital, desakan publik, dan maju terus.
Berbeda dengan Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia, Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia lebih bayak memilih kata-kata yang berkaitan dengan aspek bisnis dan teknologi, seperti; industri, komersialisasi, fragmentasi, inovasi, transisi, komoditas, bertempur, investasi, dan entepreneur. Begitu juga dengan penggunaan istilah, Rubrik Music Biz Majalah Rolling Sone Indonesia memilih untuk menggunakan istilah-istilah yang erat kaitannya dengan sisi bisnis dan teknologi, seperti; industri musik rekaman,
zaman keemasan, musisi independen, pembajakan lewat internet, produk gaya hidup, bergerak lebih cerdik, solusi ajaib, pahlawan industri musik digital, pengalaman konsumen, dan business enabler.
Tabel 4.2
Penonjolan Aspek Tertentu dari Rencana Penutupan Blog-blog Musik dan Pemblokiran Situs-situs File Sharing terkait Pembajakan Musik di Indonesia
Rubrik National Affairs Rubrik Music Biz
a. Pilihan kata terkait bidang hukum dan sosial
b. Pemakaian istilah terkait aspek hukum dan sosial
a. Pilihan kata terkait bidang bisnis, sosial dan teknologi
b. Pemakaian istilah terkait aspek bisnis, sosial dan teknologi (Sumber: Hasil Penelitian)
Dalam media massa, penggunaan bahasa atau rangkaian kata ikut menentukan konstruksi realitas yang sekaligus menentukan makna yang muncul. Oleh karena itu, penggunaan kata tertentu diupayakan agar dapat mendukung atau memperkuat konstruksi atau frame yang terbentuk. Pilihan kata atau istilah yang digunakan menentukan makna kedua teks tajuk, sehingga dapat menunjukkan sikap Majalah Rolling Stone Indonesia sebagai sebuah media massa terhadap rencana penutupan blog-blog musik dan situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia. Dalam hal ini terlihat bahwa Majalah Rolling Stone Indonesia pada dasarnya selalu menampilkan pemberitaan atau penilaian dari berbagai sudut pandang.
Rubrik National Affairs Majalah Rolling Stone Indonesia banyak memberikan pandangan tentang rencana penutupan blog-blog musik dan
situs-situs file sharing terkait pembajakan musik di Indonesia dari sisi penegakan hukum, sementara dalam Rubrik Music Biz Majalah Rolling Stone Indonesia memberikan banyak pandangan dari sisi bisnis dan teknologi. Hal tersebut, sesuai dengan fungsi pers sebagai alat didik (to educate) dan penyampai berita (to inform). Kedua artikel opini yang terbit pada Majalah Rolling Stone Indonesia edisi #78 itu juga memenuhi fungsi pers sebagai alat koreksi (to influence), keduanya mengajak pembacanya untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah mengenai masalah pembajakan musik di Indonesia.