• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pengertian Wakaf

6. Rukun dan Syarat Wakaf

Rukun berasal dari bahasa Arab yang secara etimologi, rukun biasa diartikan dengan bagian yang terpenting dari sesuatu. Adapun, dalam terminology fikih,rukun adalah suatu yang dianggap menentukan suatu disiplin tertentu, dimana ia merupakan bagian integral dari disiplin itu sendiri. Dengan kata lain rukun adalah penyempurnaan sesuatu, dimana ia merupakan bagian dari sesuatu itu (al-Kabisi, 2004:87).

Dalam wakaf ada beberapa rukun yang harus dipenuhi berikut syaratnya. Adapun rukun dan syarat wakaf tersebut adalah:

a. Wakif atau orang yang mewakafkan.

Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya (Depag, 1966:3). Adapun syarat wakif sebagaimana di jelaskan dalam Pasal 8 Ayat 1 Undang-Undang 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.

1) Wakif perseorangan sebagaimana di maksud dalam pasal (7) huruf (a) hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi persyaratan: a) Dewasa.

b) Berakal sehat.

c) Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum dan.

d) Pemilik sah harta benda wakaf (Departemen Agama RI,1966:6). 2) Wakif organisasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf b

hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan harta benda milik organisasi sesuai

3) Wakif badan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf c hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan badan hukum untuk mewakafkan harta benda milik badan hukum sesuai dengan anggaran dasar badan hukum yang bersangkutan.

Pada hakekatnya amalan wakaf adalah tindakan tabarru’

(mendermakan harta benda), karena itu syarat seorangwakif adalah cakap melakukan tindakan tabarru’. Artinya ia harus sehat akal, dalam keadaan sadar, telah mencapai umur baligh dan tidak dalam keadaan terpaksa/ dipaksa. Dan wakif adalah benar-benar pemilik harta yang diwakafkan. Oleh karena itu wakaf orang yang gila, anak-anak, dan orang terpaksa/ dipaksa tidak sah (Rofiq,1998:493).

Maksud dari kalimat “tidak dalam keadaan terpaksa/dipaksa” dapat

diartikan juga dengan orang merdeka, karena keadaan terpaksa dan dipaksa identik dengan keadaan seorang budak, atau dalam bahasa undang-undangnya tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

b. Mauquf atau benda yang diwakafkan

Harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan olehwakif. Dalam Pasal 15 Undang- Undang No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, harta benda wakaf hanya dapat diwakafkan apabila dimiliki dan dikuasaiwakifsecara sah. Dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, harta benda wakaf terdiri dari:

1) Benda tidak bergerak, meliputi:

a) Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku baik yang sudah maupun yang belum terdaftar;

b) Bangunan atau bagian bangunan yang terdiri di atas sebagaimana dimaksud pada huruf 1;

c) Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah;

d) Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; e) Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2) Benda bergerak adalah harta yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi:

a) Uang,

b) Logam mulia, c) Surat berharga, d) Kendaraan,

e) Hak atas kekayaan intelektual, f) Hak sewa, dan

g) Benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Mauquf dipandang sah apabila merupakan harta bernilai, tahan lama dipergunakan, dan hak milikwakifmurni. Benda yang diwakafkan dipandang sah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Benda harus memiliki nilai guna

Tidak sah hukumnya sesuatu yang bukan benda, misalnya hak-hak yang bersangkut paut dengan benda, seperti hak irigasi, hak lewat, hak pakai dan lain sebagainya. Tidak sah pula mewakafkan benda yang tidak berharga menurut syara', yaitu benda yang tidak boleh diambil manfaatnya, seperti benda memabukkan dan benda-benda haram lainnya.

2) Benda tetap atau benda bergerak

Secara garis umum yang dijadikan sandaran golongan Syafi’iyyah dalam mewakafkan hartanya dilihat dari kekekalan fungsi atau manfaat dari harta tersebut, baik berupa barang tak bergerak, barang bergerak maupun barang kongsi (milik bersama). 3) Benda yang diwakafkan harus tertentu (diketahui) ketika terjadi

akad wakaf.

Penentuan benda tersebut bisa ditetapkan dengan jumlah seperti seratus juta rupiah, atau bisa juga menyebutkan dengan nishab terhadap benda tertentu, misalnya separuh tanah yang dimiliki dan lain sebagainya. Wakaf yang tidak menyebutkan secara jelas terhadap harta yang akan diwakafkan tidak sah

hukumnya seperti mewakafkan sebagian tanah yang dimiliki, sejumlah buku, dan sebagainya.

Benda yang diwakafkan benar-benar telah menjadi milik tetap si wakif(orang yang mewakafkan) ketika terjadi akad wakaf. Dengan demikian, jika seseorang mewakafkan benda yang bukan atau belum menjadi miliknya, walaupun nantinya akan menjadi miliknya maka hukumnya tidak sah, seperti mewakafkan tanah yang masih dalam sengketa atau jaminan jual beli dan lain sebagainya.

Jumhur fuqaha berpendapat harta wakaf tidak lagi menjadi milik wakif melainkan secara hukum menjadi milik Allah atau dalam terminology sosiologis harta wakaf menjadi milik masyarakat umum. Wakif tidak boleh menariknya kembali

(Mas’adi, 2002:12.).

Rumusan tentang benda-benda yang boleh diwakafkan sangat penting dan diperlukan, perumusan tersebut kemudian disosialisasikan kepada umat Islam. Dengan demikian wakaf dapat berkembang secara produktif dan hasilnya dapat dipergunakan untuk mewujudkan kesejahteraan umat. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa tanah yang diwakafkan adalah seharusnya tanah yang letaknya strategis (baik) atau subur. Sehingga akan dapat dimanfaatkan sebagai kepentingan umum

c. Mauquf ‘alaih atau tujuan wakaf.

Tujuan utama dari wakaf adalah diperuntukkan untuk kepentingan umum, dan untuk kebaikan mencari ridha Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu tujuan wakaf tidak bisa digunakan untuk kepentingan maksiat, atau membantu, mendukung, atau yang mungkin diperuntukkan untuk kepentingan maksiat. Jadi, menyerahkan wakaf kepada seseorang yang tidak jelas identitasnya adalah tidak sah (Rofiq, 1998:496).

Dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, dijelaskan bahwa wakaf bertujuan memanfaatkan harta benda wakaf sesuai dengan fungsinya, yakni mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Di dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, disebutkan dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf, harta benda hanya dapat diperuntukkan bagi;

1) Sarana dan kegiatan ibadah,

2) Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan,

3) Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa, 4) Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat, dan/atau

5) Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.

d. Sigat atau ikrar/ pernyataan wakaf.

Ikrar wakaf adalah tindakan hukum yang bersifat deklaratif (sepihak), untuk itu tidak diperlukan adanya qobul (penerimaan) dari orang yang menikmati manfaat wakaf tersebut. Namun demikian, demi tertib hukum dan administrasi guna menghindari penyalahgunaan benda wakaf, pemerintah mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang secara otentik mengatur perwakafan.

Sighat (lafadz) atau pernyataan wakaf dapat dikemukakan dengan tulisan, lisan atau dengan suatu isyarat yang dapat dipahami maksudnya. Pernyataan dengan tulisan atau lisan dapat digunakan menyatakan wakaf oleh siapa saja, sedangkan cara isyarat hanya bagi orang yang tidak dapat menggunakan dengan cara tulisan atau lisan. Tentu pernyataan dengan isyarat tersebut harus sampai benar-benar di mengerti pihak penerima wakaf agar dapat menghindari persengketaan di kemudian hari (Sari,2006:62).

Setiap pernyataan ikrar wakaf dilaksanakan oleh Wakif kepada Nadzirdi hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi. Adapun syarat menjadi saksi dalam ikrarwakifadalah:

1) Dewasa,

2) Beragama Islam, 3) Berakal sehat, dan

e. Nadzirwakaf atau pengelola wakaf.

Adapun persyaratan untuk menjadi seorang nadzir berdasarkan Undang-Undang No.41 Tahun 2004 pasal 10 haruslah memenuhi syarat sebagai berikut:

1) Nadzirperseorangan a. Warga negara Indonesia. b. Beragama Islam.

c. Dewasa. d. Amanah.

e. Mampu secara jasmani dan rohani

f. Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum 2) Nadzirorganisasi

a. Pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi persyaratan nadzirperseorangan.

b. Organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan/atau keagamaan Islam.

3) Nadzirbadan hukum

a. Pengurus badan hukum yang bersangkutan memenuhi persyaratannadzirperseorangan

b. Badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan

c. Badan hukum yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.

Adapun syarat-syarat nadzir menurut pasal 219 KHI adalah sebagai berikut:

1) Nadzir sebagaimana dimaksud dalam pasal 215 ayat (4) terdiri dari perorangan yang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a) Warga negara Indonesia.

b) Beragama Islam. c) Sudah dewasa.

d) Sehat jasmaniah dan rohaniah. e) Tidak berada pada pengampuan.

f) Bertempat tinggal di kecamatan tempat letak benda yang diwakafkannya.

2) Jika berbentuk badan hukum maka nadzir harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Badan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.

b) Mempunyai perwakilan di Kecamatan tempat letak benda yang diwakafkannya.

Pada dasarnya siapapun dapat saja menjadi nadzirasalkan ia tidak terhalang melakukan tindakan hukum. Akan tetapi karena fungsinadzir sangat penting dalam perwakafan maka diberlakukan syarat-syarat nadzir. Para Imam mazhab sepakat bahwa nadzir harus memenuhi syaratadildan mampu. Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran adil. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adil adalah

mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang syari’at

(Al-Munawar,2004:161). f. Jangka waktu wakaf.

Dalam buku-buku maupun Peraturan Perundangan Wakaf sebelum munculnya Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf tidak di cantumkan rukun wakaf mengenai adanya jangka waktu pelaksanaan wakaf, hal ini merupakan terobosan baru yang dilakukan pemerintah, mengingat manfaat wakaf pada dasarnya adalah untuk kesejahteraan umat.

Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 dinyatakan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Maka berdasarkan pasal di atas wakaf sementara diperbolehkan asalkan sesuai dengan kepentingannya.

Sedangkan dalam Pasal 215 Kompilasi Hukum Islam bahwa wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakan untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam maka berdasarkan pasal di atas wakaf sementara adalah tidak sah.

Jangka waktu wakaf sebagaimana tercantum dalam Pasal 6 Undang- Undang Wakaf No 41 Tahun 2004, yakniwakifdiperbolehkan membatasi waktu wakafnya, artinyawakif hanya mewakafkan manfaat dari benda yang diwakafkannya, dan setelah jangka waktu tersebut habis wakif diperbolehkan meminta kembali benda yang diwakafkannya.

Dokumen terkait