• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Rukun dan Syarat Jual Beli

Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli

itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat

perbedaan pendapat ulama mazhab Hanafi dengan jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama mazhab Hanafi hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari

pembeli) dan qabul (ungkapan menjual dari penjual).42

Menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan/rida kedua belak pihak. Akan tetapi, karena unsur kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindera sehingga tidak kelihatan, maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan itu dari kedua belah pihak. Indikasi yang menunjukkan kerelaan dari kedua belah pihak yang melakukan

42

33

transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar dalam ijab dan qabul, atau

melalui cara saling memberikan barang dan harga barang.43

Menurut jumhur ulama rukun jual beli itu ada empat, yaitu:

a. Orang yang berakad (penjual dan pembeli)

b. Sighat (lafadz ijab dan qabul)

c. Objek jual beli (barang dan atau uang)

d. Ada nilai tukar pengganti barang.

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang dibeli, dan nilai tukar barang termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan rukul jual beli.

Selain itu, dalam jual beli juga terdapat beberapa syarat yang mempengaruhi sah tidaknya akad tersebut. Diantaranya adalah syarat yang diperuntukkan bagi dua orang yang melaksanakan akad. diantaranya adalah syarat yang diperuntukkan untuk barang yang akan dibeli, jika salah satu darinya tidak ada,

maka akad jual beli tersebut dianggap tidak sah.44

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama’ diatas adalah sebagai berikut :

1) Syarat orang yang berakad

Para ulama fiqih sepakat, bahwa orang yang melakukan akad jual beli harus memenuhi syarat sebagai berikut :

43

Ibid, 115.

44

34

a) Berakal. Dengan demikian, jual beli yang dilakukan anak kecil yang

belum berakal hukumnya tidak sah. Anak kecil yang sudah mumayyiz (menjelang baligh), apabila akad yang dilakukannya membawa keuntungan baginya, maka akad tersebut sah menurut Mazhab Hanafi.

b) Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Maksudnya,

seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual, sekaligus pembeli.

c) Balig atau dewasa. Dewasa dalam hukum Islam adalah apabila telah

berumur 15 tahun, atau telah bermimpi (bagi anak laki-laki) dan haid (bagi anak perempuan), dengan demikian jual beli yang dilakukan oleh anak kecil tersebut adalah tidak sah.

2) Syarat yang terkait dengan ijab qabul

Para ulama fikih sepakat bahwa unsur utama dari jual beli yaitu kerelaan dari kedua belah pihak. Kerelaan dari kedua belah pihak dapat dilihat dari ijab dan qabul yang dilangsungkan. Menurut mereka ijab dan qabul perlu diungkapkan secara jelas dalam transaksi-transaksi yang bersifat mengikat kedua belah pihak, seperti akad jual beli, sewa-menyewa, dan nikah. Terhadap transaksi yang sifatnya mengikat salah satu pihak, seperti wasiat, hibah dan wakaf, tidak perlu qabul karena akad seperti ini cukup dengan ijab

35

saja. Bahkan menurut Ibn Taimiyah (ulama fikih Hanbali) dan ulama lainnya

ijab pun tidak diperlukan dalam masalah wakaf.45

Apabila ijab dan qabul telah diucapkan dalam akad jual beli maka pemilikan barang atau uang telah berpindah tangan dari pemilik semula. Barang yang dibeli berpindah tangan menjadi milik pembeli, dan nilai/uang berpindah tangan menjadi milik penjual.

Untuk itu para ulama fikih mengemukakan bahwa syarat ijab dan qabul itu sebagai berikut :

a. Orang yang mengucapkan telah balig dan berakal, menurut jumhur ulama,

atau telah berakal menurut ulama mazhab Hanafi, sesuai dengan perbedaan mereka dalam syarat-syarat orang yang melakukan akad yang disebutkan di atas.

b. Qabul sesuai dengan ijab. Misalnya penjual mengatakan: ‚Saya jual buku

ini seharga Rp; 20.000,-‚, lalu pembeli menjawab: ‚Saya beli buku ini

dengan harga Rp; 20.000,-‛. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai

maka jual beli tidak sah.

c. Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis. Artinya, kedua belah

pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama. Apabila penjual mengucapkan ijab, lalu pembeli berdiri sebelum mengucapkan qabul atau pembeli mengerjakan aktivitas lain yang tidak

45

36

terkait dengan masalah jual beli kemudian ia ucapkan qabul, maka menurut kesepakatan ulama fikih jual beli ini tidak sah sekalipun mereka berpendirian bahwa ijab tidak harus dijawab langsung dengan qabul. Dalam kaitan ini, ulama mazhab Hanafi dan mazhab Maliki mengatakan bahwa antara ijab dan qabul boleh saja diantarai oleh waktu yang diperkirakan bahwa pihak pembeli sempat untuk berpikir. Namun ulama mazhab syafi’i dan mazhab Hambali berpendapat bahwa jarak antara ijab dan qabul tidak terlalu lama yang dapat menimbulkan dugaan bahwa

objek pembicaraan telah berubah.46

Di zaman modern perwujudan ijab dan qabul tidak lagi diucapkan tetapi dilakukan dengan sikap mengambil barang dan membayar uang oleh pembeli serta menerima uang dan menyerahkan barang oleh penjual tanpa ucapan apapun. Misalnya jual beli yang berlangsung di swalayan.

Dalam fikih Islam, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ al-mu’athah.

Dalam kasus perwujudan ijab dan qabul melalui sikap ini (bai’ al-

mu’athah) terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Jumhur ulama berpendapat bahwa jual beli seperti ini hukumnya boleh apabila hal ini telah merupakan kebiasaan suatu masyarakat di suatu negeri karena hal ini telah menunjukkan unsur saling rela dari dari kedua belah pihak. Menurut mereka di antara unsur terpenting dalam transaksi jual

46

37

beli yaitu suka sama suka (antaradin) sesuai dengan kandungan surat Annisa’ ayat 29 dalam uraian lalu. ‚Sikap mengambil barang dan membayar harga barang oleh pembeli menurut mereka telah menunjukkan ijab dan qabul dan telah mengandung unsur kerelaan‛.47

Akan tetapi ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa transaksi jual beli harus dilakukan dengan ucapan yang jelas atau sindiran melalui ijab dan

qabul. Oleh sebab itu menurut mereka jual beli seperti kasus diatas (bai’

al-mu’athah) hukumnya tidak sah, baik jual beli dalam partai besar ataupun kecil. Alasan mereka adalah unsur utama jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak. Unsur kerelaan menurut mereka adalah masalah yang amat tersembunyi dalam hati karenanya perlu diungkapkan dengan kata-kata ijab dan qabul apalagi persengketaan dalam jual beli

dapat terjadi dan berlanjut ke pengadilan.48

Akan tetapi sebagian ulama mazhab Syafi’i yang muncul belakangan

seperti Imam al-Nawawi seorang fakih dan muhaddis mazhab Syafi’i dan

al-Baghawi seorang mufasir mazhab Syafi’i menyatakan bahwa jual beli

al-mu’athah adalah sah apabila hal itu sudah merupakan kebiasaan di daerah tertentu.

47

Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. II, 2007).

48

38

Jadi pada intinya mengenai syarat yang terkait pada ijab dan qabul

yakni:49

a. Pernyataan qabul sesuai dengan kandungan pernyataan ijab,

maksudnya penjual menjawab setiap hal yang harus dikatakan dan mengatakannya.

b. Ijab dan qabul dinyatakan di satu tempat. Konkritnya, kedua pelaku

transaksi hadir bersama di tempat transaksi atau transaksi dilangsungkan di satu tempat dimana pihak yang absen mengetahui terjadinya pernyataan ijab.

3) Syarat objek jual beli

a. Suci

Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disamak.

b. Bermanfaat

Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dilarang pula mengambil tukarannya karena hal itu termasuk dalam arti menyia- nyiakan (pemborosan).

c. Barang itu dapat diserahkan

Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada yang membeli, misalnya ikan dalam air laut.

49

39

d. Barang tersebut merupakan kepunyaan penjual

Barang yang diperjualbelikan adalah milik penjual.

e. Barang tersebut diketahui oleh penjual dan pembeli

Zat, bentuk, kadar (ukuran), dan sifat-sifatnya jelas sehingga antara

keduanya tidak akan terjadi kecoh mengecoh.50

4) Syarat nilai tukar

Termasuk unsur penting dalam jual beli adalah nilai tukar dari barang yang dijual (untuk zaman sekarang adalah uang).

Dokumen terkait