• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad Track in oleh konsumen di CV. Tanadi cabang Kapas Madya Surabaya.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad Track in oleh konsumen di CV. Tanadi cabang Kapas Madya Surabaya."

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBATALAN AKAD TRACK IN OLEH KONSUMEN DI CV. TANADI CABANG KAPAS

MADYA SURABAYA

SKRIPSI

Oleh

Moch. Eko Andre Saputro

NIM. C02213040

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syariah dan Hukum Jurusan Hukum Perdata Islam Program Studi Hukum Ekonomi Syariah

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan yang berjudul “Analisis Hukum Islam terhadap pembatalan akad track In oleh konsumen di CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya. Dalam penelitian Ini terdapat dua pembahasan yaitu bagaimana praktek pembatalan akad track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya dan analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif , data yang diperoleh untuk menjawab rumusan masalah yang ada. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan metode wawancara kepada kepala teknisi, dan teknisi, disamping itu penulis juga mengumpulkan dokumentasi terkait cara transaksi dalam akad Track in

Hasil dari penelitian ini adalah mengenai praktek track in dengan cara menukarkan barang yang rusak atau yang lama dengan barang baru (dalam penelitian ini penulis memfokuskan track in jual beli AC bekas) akan tetapi dalam prakteknya di lapangan ada pihak ketiga yang mengakibatkan pembatalan track in ke pihak kedua dan dilimpahkan ke pihak ketiga. Kasus ini jika dianalisis Hukum Islam maka pada kasus jual beli tersebut dilarang karna merusak akad jual beli.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 8

C. Rumusan Masalah ... 10

D. Kajian Pustaka ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 12

F. Kegunaan Penelitian ... 13

G. Definisi Operasional ... 13

H. Metode Penelitian ... 14

(8)

BAB II JUAL BELI

A. Pengertian Akad ... 22

B. Syarat Akad ... 23

C. Rukun-rukun Akad ... 24

D. Pengertian Jual Beli ... 25

E. Dasar Hukum Jual Beli... 30

F. Rukun dan Syarat Jual Beli ... 32

G. Bentuk-bentuk Jual Beli yang dilarang ... 39

BAB III PRAKTEK TRADE IN OLEH KONSUMEN CV. TANADI A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 49

B. Profil CV. Tanadi ... 49

C. Praktek Trade In di CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya ... 53

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBATALAN AKAD TRADE IN OLEH KONSUMEN DI CV. TANADI CABANG KAPAS MADYA SURABAYA A. Analisis Praktik Pembatalan akad Trade In oleh Konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya ... 61

B. Analisis Hukum Islam terhadap Pembatalan akad Trade In oleh Konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya ... 65

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 69

(9)

DAFTAR PUSTAKA

(10)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan antara satu individu

dengan individu lainnya. Baik itu dalam rangka kegiatan sosial, ekonomi,

maupun politik. Oleh karenanya, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa jasa dari

orang lain. Sebagai contoh yang paling sederhana manusia pasti membutuhkan

pakaian, meskipun dia bisa menjahit tapi dia akan membutuhkan kain dan

alat-alat jahit.

Sebagai makhluk sosial tentu saja manusia pasti berinteraksi antara satu

dengan yang lain, demi terjalinnya interaksi yang teratur dan harmonis maka

dibutuhkan sebuah aturan. Dengan semangat inilah diturunkannya Syariat.

Secara garis besar hukum Islam dapat diklasifikasikan dalam tiga hal, yakni (1)

fikih ibadah, sebagai aturan dalam hal interaksi antara manusia dengan Allah

Swt. (2) fikih muamalat, yaitu sebagai aturan dalam hal interaksi manusia

dengan sesamanya yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi, (3) fikih nikah,

sebagai aturan dalam hal interaksi manusia dengan sesamanya yang berhubungan

dengan kegiatan sosial.1

Kegiatan ekonomi yang paling dominan dilakukan oleh manusia adalah

transaksi jual beli, oleh karenanya dalam literatur fikih klasik, dalam bab fikih

1

(11)

2

muamalah sering kali terdapat pembahasan tentang jual beli ini yang dijadikan

pembahasan paling awal. Bahkan tidak hanya itu saja, tapi pembahasan tentang

jual beli dalam suatu keterjalinan akad mendapatkan porsi paling besar di antara

transaksi-transaksi lainnya.2

Dalam transaksi jual beli, kadang-kadang terjadi penyesalan yang dialami

oleh satu pihak yang bertransaksi atas transaksi yang telah sah dan ingin

membatalkannya. Untuk mengakomodir kejadian-kejadian seperti ini, perlu

adanya aturan tentang pemutusan transaksi atau rusaknya akad. Tentu saja

dalam pemutusan akad ini kadang-kadang menimbulkan kerugian dalam di salah

satu pihak, untuk menjamin tergantinya kerugian itu dan agar pihak yang

berakad tidak seenaknya sendiri membatalkan akad, maka diperlukan semacam

jaminan berupa uang muka.

Jika kita kembalikan pada pembahasan yang mana unsur-unsur kontrak

harus meliputi diantaranya: (1)

لوبقلاو باجإ

, harus jelas dan tidak terhalang

sesuatu yang menyebabkan kaburnya atau terganggunya kontrak, (2) Pelaku

kontrak, (3) objek akad, (4) akibat hukum kontrak yang mana harus sesuai

dengan prinsip-prinsip dasar syariah.3 Kemudian hal-hal yang dapat merusak

kontrak itu diantaranya adalah keterpaksaan, kekeliruan, penyamaran cacat

obyek, dan tidak adanya keseimbangan objek dan harga. Kemudian poin yang

2

Ibid.,xi

3

(12)

3

paling penting untuk kita ketahui disini adalah mengenai berakhirnya akad atau

suatu kontrak yaitu :4

1. Terpenuhi isi kontrak dan berakhirnya masa berlakunya akad, maka dianggap

akad tersebut sudah selesai.

2. Pemutusan kontrak

a. Karena adanya hak memilih, khiyar ini terdiri dari :

b. Kontrak dinilai rusak

c. Tidak terpenuhi kontrak

d. Kesepakatan pembatalan karena penyesalan

e. Kesepakatan kedua belah pihak

f. Keputusan pengadilan

g. Isi kontrak mustahil terlaksana5

Suatu akad yang telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya akan

mengikat kedua belak pihak yang berakad. Oleh karena itu dengan mengikatnya

akad tersebut, maka tidak seorangpun dari kedua belak pihak yang berakad bisa

memutuskan akad secara sepihak kecuali ada hal-hal yang bisa

membenarkannya. Diantaranya adalah melalui kesepakatan antara kedua belak

pihak untuk membatalkan atau memutuskan akad.

4

Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah Studi tentang Teori Akad dalam Fiqih Muamalat,

(Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 242-248.

5

(13)

4

Ada suatu kajian yang pernah dipaparkan oleh Syamsul Anwar, dalam

bukunya yakni studi tentang teori akad dalam fikih muamalah bahwasanya di

dalam kasus yang terjadi di atas terdapat jual beli secara paksa, yang mana

mayoritas ahli fikih memberlakukan syarat pelaku akad bebas menentukan

pilihan, tapi jika demikian dilakukan secara paksa maka tidak disahkan transaksi

tersebut sebagaimana telah tertera di dalam firmanNya dalam surah (Annisa’ (4)

: 29) :

اَي

َه يَأ

ا

َنْيِذَلا

اْوُ نَمآ

َل

اْوُلُكْأَت

اَوْمَأ

ْمُاَل

ْمُاَنْ يَ ب

ِلِطاَبْلاِب

َلِإ

ْنَأ

َنوُاَت

ًةَراَِِ

ْنَع

ٍضاَرَ ت

ْمُاْنِّم

َلَو

اوُلُ تْقَ ت

ْمُاَسُفْ نَأ

َنِإ

َه

َناَك

ْمُاِب

اَمْيِحَر

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. Annisa’ 4 : 29)

Ada sebutan di dalam fikih muamalah yang disebut dengan iq>alah yaitu

menurut bahasa adalah membebaskan, sedangkan menurut istilah adalah

tindakan para pihak berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengakhiri suatu

akad yang telah mereka buat dan menghapus akibat hukum yang timbul sehingga

status para pihak kembali seperti sebelum terjadinya akad yang diputuskan

tersebut. Atau dengan kata lain iq>alah itu merupakan kesepakatan bersama

(14)

5

mengikat dan menghapus segala akibat hukum yang ditimbulkan dari suatu akad

tertentu.6

Pada dasarnya ulama empat mazhab sepakat atas diperbolehkannya

mengakhiri suatu akad atau yang lebih dikenal dengan sebutan iq>alah, hanya saja

terdapat beberapa perbedaan pendapat diantara mereka mengenai pembebasan

atau mengakhiri suatu kesepakatan antara pihak-pihak yang bersepakat. Ulama

empat mazhab dalam masalah ini menjadi tiga golongan yaitu diantaranya ialah

:7

1. Mazab Syafi’i, Hambali, serta Zufar dan al-Hasan (keduanya adalah ulama

bermadzhab Hanafi) berpendapat bahwa yang dinamakan iq>alah ialah

pemutusan akad, baik yang dalam kaitannya dengan dua belah pihak yang

berakad maupun yang berkaitan dengan pihak ketiga. Status keduanya

kembali seperti sedia kala sebelum adanya akad, dan tidak boleh ada

perubahan harga.

2. Mazab Maliki, Abu Yusuf dari Mazhab Hanafi berpendapat bahwa iq>alah

merupakan suatu akad yang baru baik para pihak yang berakad maupun pihak

ketiga kecuali dalam hal iq>alah memang tidak bisa dianggap sebagai akad

baru, namun didalam suatu yang demikian iq>alah dianggap sebagai

pemutusan akad.

6

Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam). (Yogyakarta: UII Press).

7

(15)

6

3. Imam Hanafi berpendapat bahwa iq>alah adalah sebagai pemutusan akad

dalam kaitannya dengan pihak yang berakad. Sedangkan dalam kaitannya

dengan pihak yang ketiga, maka iq>alah adalah suatu akad baru. Dengan

demikian maka status antara dua pihak yang bertransaksi kembali seperti

ketika belum diadakannya transaksi. Adapun untuk melindungi hak-hak dari

pihak ketiga, maka iq>alah dianggap sebagai akad baru di mata pihak ketiga.

Sebagai makhluk sosial tentu saja manusia pasti berinteraksi antara satu

dengan yang lain, demi terjalinnya interaksi yang teratur dan harmonis maka

dibutuhkan sebuah aturan, baik itu dalam rangka kegiatan sosial, ekonomi,

maupun politik. Karenanya manusia dalam bertransaksi harus mengerti

bahwasanya agar keputusan akad dianggap sah, maka harus memenuhi beberapa

persyaratan diantaranya adalah:

1. Akad yang diputuskan melalui kesepakatan yang sudah disepakati harus

termasuk jenis akad yang bisa dirusak

2. Adanya persetujuan kedua belah pihak yang berakad atas pemutusan ini.

3. Objek akad masih ada

4. Tidak boleh ada penambahan harga, hanya saja biaya pembatalan dikenakan

kepada pihak yang memutuskan akad.

Dalam transaksi di zaman modern ini terdapat istilah uang muka, uang

panjar, DP (down payment). Dimana uang muka merupakan pengikat atau tanda

(16)

7

sebagai pembayarannya yang uang muka itu merupakan bagian dari pembayaran

seluruh harga apabila transaksi dilanjutkan dan apabila transaksi tidak berlanjut.

Masyarakat perkotaan umumnya pada saat ini sedang giat-giatnya

melaksanakan pembangunan. Dengan cuaca yang sangat menyekat dan panas

seperti perkotaan sangat membutuhkan pendingin di dalam ruangan baik indoor

(di dalam ruangan) maupun outdoor (di luar ruangan). Dalam rangka mendukung

pembangunan ataupun hal lainnya sarana pendingin seperti AC (Air

Conditioner), kipas angin, dan alat-alat pendingin lainnya sangat berperan

penting untuk aktifitas manusia setiap harinya. Manusia dapat melakukan

transaksi jual beli AC untuk mencukupi salah satu kebutuhannya, tidak hanya

membelinya akan tetapi di era yang sangat modern ini, selain kita membeli AC

baru kita juga dapat melakukan penjualan AC bekas yang mungkin telah lama

tidak terpakai ataupun rusak, dalam hal ini kegiatan tersebut dapat dikatakan

sebagai ‚Track In‛.

Track in dapat juga digunakan dalam istilah jual beli AC (Air Conditioner)

bekas, atau daur ulang yang dapat dimanfaatkan lagi oleh produsen. Maraknya

Track in di zaman yang semakin berkembang dan canggih ini telah dikenal lama

oleh para pelaku penjual dan pembeli AC bekas, khususnya di daerah perkotaan

besar sering terjalin adanya transaksi seperti tersebut.

Di salah satu cabang Kapas Madya Surabaya khususnya di CV. Tanadi

(17)

8

yang dijual oleh konsumen terhadap produsen dengan biaya 400.000 rupiah per

unit AC, baik AC tersebut telah lama tidak terpakai, rusak, ataupun hanya

beberapa hari saja terpakainya.

Kemudian antara pihak penjual dan pihak yang akan membeli AC bekas ini

akan melakukan kesepakatan bersama dengan perjanjian tertulis yang telah

ditandatangani sesuai dengan kesepakatan bersama. Tetapi dalam hal pemberian

harga dan pengambilan barang akan terjadi seminggu setelah disepakatinya

kontrak tersebut.8 Masalah yang terjadi ketika kesepakatan yang terjalin antara

pihak ke-1 (CV. Tanadi) dan pihak ke-2(konsumen) dibatalkan secara sepihak

oleh pihak kedua dikarenakan adanya pihak ketiga yaitu pihak teknisi dari CV.

Tanadi. Hal demikian akan penulis bahas dan jabarkan dalam ‚Analisis Hukum

Islam terhadap Pembatalan Akad Track in oleh Pihak Kedua Kepada CV.

Tanadi Surabaya sebagai Pihak Pertama‛.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Identifikasi dan Batasan Masalah dilakukan untuk menjelaskan

kemungkinan-kemungkinan cakupan yang dapat muncul dalam penelitian dengan

8

(18)

9

melakukan identifikasi dan interventarisasi sebanyak-banyaknya kemungkinan

yang dapat diduga sebagai masalah yang akan didekati dan dibahas.9

Berdasarkan dari uraian latar belakang di atas, maka dapat diperoleh

identifikasi masalah sebagai berikut :

1. Proses transaksi jual beli AC bekas atau lebih dikenalnya dengan sebutan

‚Track in‛.

2. Bentuk objek transaksi jual beli Track in.

3. Objek pemanfaatan berupa AC bekas.

4. Perolehan biaya transaksi Track in oleh konsumen.

5. Pembatalan akad atau kesepatan bersama dari pihak kedua yang dialihkan

kepada pihak ketiga.

6. Analisis hukum Islam terhadap praktek pembatalan akad Track in oleh pihak

kedua terhadap pihak pertama.

Agar lebih fokus dan memperoleh hasil yang baik dalam penelitian, juga

dikarenakan keterbatasan peneliti dalam beberapa hal maka penulis membatasi

penelitian dengan meneliti tentang :

1. Praktek pembatalan akad Track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi cabang

Kapas Madya Surabaya.

2. Analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad Track in oleh konsumen

kepada CV. Tanadi Surabaya.

9

(19)

10

C. Rumusan Masalah

Dari beberapa uraian di atas, maka rumusan masalah yang tertulis di sini

adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana praktek pembatalan akad Track in oleh konsumen kepada CV.

Tanadi Surabaya?

2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad Track in oleh

konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka pada dasarnya adalah untuk mendapatkan gambaran

hubungan topik yang akan diteliti dengan penelitian sejenis yang sudah pernah

dilakukan pada penelitian sebelumnya, sehingga tidak ada pengulangan.10

Kajian Pustaka merupakan deskripsi ringkas tentang kajian atau penelitian

yang sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan diteliti. Secara umum

penyusun belum menemukan karya yang membahas tentang pembatalan kontrak

atau pembatalan akad jual beli Track In dalam penelitian yang berbentuk skripsi.

Berawal dari kajian yang ditulis oleh Depita N Pandiangan (2015) dengan

judul : Pembatalan Akta Jual Beli Tanah (Analisis Putusan Pengadilan Negeri

Semarang NO.190/PDT.G/2009/PN.Smg), skripsi ini membahas tentang

10

(20)

11

permasalahan yang dikaji (1) bagaimana proserdur pembatalan akta jual beli

tanah dalam putusan NO.190/PDT.G/2009/PN.Smg. (2) akibat hukum dari

pembatalan akta jual beli tanah dalam putusan NO.190/PDT.G/2009/PN.Smg.

hasil penelitian menunjukan bahwa pembatalan akta jual beli tanah diakibatkan

oleh cacat hukum yang dilakukan oleh kedua belah pihak sehingga

mengakibatkan tidak sah jual beli akta tanah tersebut.11

Yang kedua ditulis oleh Miftachul Jannah (2011) dengan judul : Tinjauan

Hukum Islam terhadap Pembatalan Jual Beli Tembakau (Studi Kasus di Desa

Morobongo Kecamatan Jumo Kabupaten Temangung ) skripsi ini membahas

tentang pembatalan jual beli tembakau dikarenakan ulah para petani yang

mencampurkan tembakau yang rusak atau cacat dengan tembakau yang masih

dalam kondisi baik, dan disitu para tengkulak tidak mau dikarenakan adanya

unsur tipuan dari para petani sedangkan dalam hukum Islam syarat sah dalam

jual beli harus diketahui jenis, kualitas, maupun kuantitasnya dan tidak

mengandung unsur tipuan.12

Sedangkan dalam skripsi ini penulis membahas tentang ‚Analisis Hukum

Islam Terhadap Pembatalan Akad Track In Oleh Konsumen Kepada CV. Tanadi

Surabaya‛. Maka penulisan ini berbeda dengan yang ditelusuri oleh peneliti di

atas mengenai objek yang dibahas dan diteliti, sehingga diharapkan tidak ada

(21)

12

pengolahan materi secara mutlak begitu juga terhadap prakteknya, berbeda

dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yang tidak hanya melihat dari segi

hukumnya saja akan tetapi dari segi manfaat dan madharatnya juga.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana praktek pembatalan akad Track in oleh

konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.

2. Untuk mengetahui bagaimana analisis hukum Islam terhadap pembatalan

akad Track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.

F. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian di atas, maka

diharapkan dengan adanya penelitian ini mampu memberikan manfaat bagi

pembaca maupun penulis sendiri, baik secara teoretis maupun secara praktis.

Secara umum, kegunaan penelitian yang dilakukan ini dapat ditinjau dari dua

aspek, yaitu:

(22)

13

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

memperluas wawasan terhadap pembatalan akad Track in oleh konsumen

kepada CV. Tanadi Surabaya

b. Diharapkan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya

dalam bidang muamalah yang berkaitan dengan akad Track in oleh

konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.

2. Secara Praktis

Dapat dijadikan acuan oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan

akad Track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya., atau di tempat

lain untuk bermuamalah secara Islam.

G. Definisi Operasional

Agar dalam pembahasan selanjutnya tidak menimbulkan penyimpangan dari

arah penulisan tugas akhir ini, maka penulis akan menjelaskan tentang bagian

terpenting dari judul penelitian skripsi ini, yaitu ‚Analisis Hukum Islam

Terhadap Pembatalan Akad Track In oleh Konsumen Di CV. Tanadi Cabang

Kapas Madya Surabaya‛ Maka perlu dijelaskan beberapa istilah yang berkenaan

dengan judul di atas.

Analisis : Kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna

meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.13

(23)

14

Hukum Islam : Peraturan dan ketentuan yang berkenan dengan kehidupan

berdasarkan kitab al-Qur’an, Hadits, serta pendapat

fuqoha’.

Pembatalan : pembatalan yaitu proses, cara, perbuatan membatalkan,

pernyataan batal.14

Akad : akad yaitu janji, perjanjian; kontrak: jual beli.

Trade In : Trade in artinya tukar tambah. Namun istilah Trade in ini

sering disebut dengan istilah Track In yang sudah umum di

kalangan masyarakat untuk jual beli AC bekas.

H. Metode Penelitian

Agar penelitian berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang dapat

dipertanggungjawabkan maka penelitian ini memerlukan suatu metode tertentu.

Dalam melakukan penelitian ini peneliti menggunakan beberapa metode sebagai

berikut:

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yakni

penelitian yang dilakukan dalam kontek lapangan yang benar-benar terjadi

adanya Pembatalan Akad Track In oleh Konsumen CV. Tanadi Cabang

Kapas Madya Surabaya.

14

(24)

15

Selanjutnya, untuk dapat memberikan deskripsi yang baik, dibutuhkan

serangkaian langkah yang sistematis. Langkah-langkah tersebut terdiri atas:

data yang dikumpulkan, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik

pengolahan data, teknik analisis data, dan sistematika pembahasan.

2. Data yang dikumpulkan

Berdasarkan rumusan seperti yang telah dikemukakan di atas, maka data

yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut:

a. Latar Belakang terjadinya akad Track In

b. Terjadinya pembatalan akad

c. Data tentang akibat atau resiko tentang Pembatalan Akad Track In oleh

Konsumen CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya

3. Sumber Data

Data-data penelitian ini dapat diperoleh dari beberapa sumber data

sebagai berikut:

a. Sumber Primer, data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti15,

Dalam penelitian ini, yaitu sumber ini meliputi para pihak yang terlibat

dalam praktek Pembatalan Akad Track In oleh Konsumen CV. Tanadi

Cabang Kapas Madya Surabaya, diantaranya:

a) Pihak CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya

b) Teknisi dari CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya

(25)

16

c) Konsumen yang bertransaksi pada CV. Tanadi Cabang Kapas Madya

Surabaya

b. Sumber Sekunder, informasi yang telah dikumpulkan pihak lain16. Dalam

penelitian ini, merupakan data yang bersumber dari buku-buku;

catatan-catatan; publikasi atau dokumen tentang apa saja yang berhubungan

dengan penelitian, antara lain:

a) As-Sa’idi Abdullah bin Muhammad, ar-Riba> fil Mu’amalat Al

-Mashrafiyah Al-Mu’ashirah

b) Anwar Syamsul, Hukum Perjanjian Syariah

c) Basyir, Ahmad Azhar, Asas-asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata

Islam)

d) Sabiq Sayyid, Fiqih Sunnah Jilid 4

e) Syafe’i Rahmat, Fiqih Muamalah

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data

sebagai berikut:

a. Wawancara (interview)

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si

penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan

16 Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian-Buku Panduan Mahasiswa (Jakarta: PT.

(26)

17

interview guide (panduan wawancara)17. Dimana wawancara dilakukan

dengan bertanya langsung kepada pihak-pihak yang terkait misalnya

teknisi dari CV. Tanadi dan konsumen. Wawancara sebagai alat

pengumpul data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan

dengan sistematis dan berlandasaskan pada tujuan penelitian. Wawancara

yang peneliti lakukan, yaitu dengan:

a) CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya

b) Para pihak dari teknisi CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya

c) Konsumen yang bertransaksi pada CV. Tanadi

b. Dokumentasi

Sebagai pelengkap dalam pengumpulan data maka penulis

menggunakan data dari sumber-sumber yang memberikan informasi

terkait dengan permasalahan yang dikaji. Seperti para pihak teknisi CV.

Tanadi, dan bagaimana cara bertransaksi antara konsumen dengan pihak

CV Tanadi.

5. Teknik Pengolahan Data

Data-data yang diperoleh dari hasil penggalian terhadap sumber-sumber

data akan diolah melalui tahapan-tahapan berikut:

a. Editing, yaitu memeriksa kembali lengkap atau tidaknya data-data yang

diperoleh dan memperbaiki bila terdapat data yang kurang jelas atau

(27)

18

meragukan18. Teknik ini betul-betul menuntut kejujuran intelektual

(intelectual honestly) dari penulis agar nantinya hasil data konsisten

dengan rencana penelitian.

b. Organizing, yaitu mengatur dan menyusun data sumber dokumentasi

sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh gambaran yang sesuai

dengan rumusan masalah, serta mengelompokkan data yang diperoleh19.

Dengan teknik ini diharapkan penulis dapat memperoleh gambaran secara

jelas tentang praktikTrack In oleh konsumen di CV. Tanadi Cabang

Kapas Madya Surabaya.

c. Analyzing, yaitu dengan memberikan analisis lanjutan terhadap hasil

editing dan organizing data yang telah diperoleh dari sumber-sumber

penelitian, dengan menggunakan teori dan dalil-dalil lainnya, sehingga

diperoleh kesimpulan20.

6. Teknik Analisis Data

Hasil dari pengumpulan data tersebut akan dibahas dan kemudian

dilakukan analisis secara kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku

yang dapat diamanati dengan metode yang telah ditentukan.

18Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 125.

(28)

19

a. Analisis Deskriptif, yaitu dengan cara menuturkan dan menguraikan serta

menjelaskan data yang terkumpul. Tujuan metode ini adalah untuk

membuat deskripsi atau gambaran mengenai objek penelitian secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta

hubungan antar fenomena yang telah diselidiki21. Metode ini digunakan

untuk memberikan penjelasan lebih jelas lagi mengenai pembatalan akad

Track In oleh konsumen di CV. Tanadi.

b. Pola Pikir Deduktif, dalam penelitian ini penulis menggunakan pola pikir

induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta yang

bersifat khusus kemudian diteliti dan akhirnya dikemukakan pemecahan

persoalan yang bersifat umum22. Pola pikir ini digunakan untuk

mengemukakan fakta-fakta dari hasil penelitian yang kemudian di CV.

Tanadi cabang Kapas Madya Surabaya analisis secara umum menurut

hukum Islam.

I. Sistematika Pembahasan

Sistematika Pembahasan memuat suatu uraian yang akan menggambarkan

alur logis dari struktur penelitian yang akan dibahas selanjutnya.23

21 Moh, Nazir, Metode Penelitian (Bogor : Penerbit Ghalia Indonesia, 2005), 63. 22 Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Gajah Mada University, 1975), 16.

23

(29)

20

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai sistematika pembahasan

dalam skripsi nanti, penulis membagi dalam lima bab yang terdiri dari beberapa

sub bab, yaitu sebagai berikut :

Bab pertama berisi pendahuluan. Dalam bab ini menguraikan tentang latar

belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian

pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, dan

sistematika pembahasan.

Bab kedua berisikan tentang landasan teori yang berkaitan dengan

pembatalan akad. Dan landasan teori yang berkaitan dengan pengertian jual beli ,

Dasar hukum dari jual beli, syarat dan rukun jual beli, dan bentuk-bentuk jual

beli yang dilarang.

Bab ketiga yang berisikan gambaran umum tentang praktek Track in oleh

konsumen pada CV. Tanadi dan juga membahas mengenai profit CV. Tanadi.

Bab keempat ini berisikan uraian analisis dari praktek pembatalan akad

Track In antara dua pihak yang telah bersepakat kemudian batal dengan

disebabkan oleh pihak ketiga.

Bab kelima merupakan akhir dari penyusunan skripsi yang berisikan

(30)

BAB II JUAL BELI

A. Pengertian Akad

Kata akad berasal dari kata bahasa Arab دقع - ادقع yang berarti, membangun

atau mendirikan, memegang, perjanjian, percampuran, menyatukan.24 Bisa juga

berarti kontrak (perjanjian yang tercacat).2 Sedangkan menurut al-Sayyid Sabiq

akad berarti ikatan atau kesepakatan.

Secara etimologi akad adalah ikatan antara dua perkara, baik ikatan secara

nyata maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi.25

Secara terminologi, ulama fiqih membagi akad dilihat dari dua segi, yaitu

secara umum dan secara khusus. Akad secara umum adalah segala sesuatu yang

dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri, seperti wakaf, talak,

pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua

orang, seperti jual-beli, perwakilan dan gadai. Pengertian akad secara umum di

atas adalah sama dengan pengertian akad dari segi bahasa menurut pendapat

ulama Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah.26 Pengertian akad secara khusus

adalah pengaitan ucapan salah seorang yang berakad dengan yang lainnya secara

syara’ pada segi yang tampak dan berdampak pada objeknya.

24Louis Ma’luf,

Al-Munjid fi al-Lughat wa al-‘Alam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986) 518. 25

Wahbah Al-Juhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1989), 80. 2626Rachmad Syafe’I,

(31)

23

B. Syarat Akad

Ada beberapa syarat yang berkaitan dengan akad,27 yaitu:

1. Syarat terjadinya akad

Syarat terjadinya akad adalah segala sesuatu yang disyaratkan untuk

terjadinya akad secara syara’. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, akad

menjadi batal.

Syarat ini terbagi atas dua bagian:

a. Syarat Obyek akad, yakni syarat-syarat yang berkaitan dengan obyek

akad. Obyek akad bermacam-macam, sesuai dengan bentuknya. Dalam

akad jual-beli, obyeknya adalah barang yang yang diperjualbelikan dan

harganya.

1) Telah ada pada waktu akad diadakan.

2) Dapat menerima hukum akad.

3) Dapat diketahui dan diketahui

4) Dapat diserahkan pada waktu akad terjadi.

b. Syarat subyek akad, yakni syarat-syarat yang berkaitan dengan subyek

akad. Dalam hal ini, subyek akad harus sudah aqil (berkal), tamyiz (dapat

membedakan), mukhtar (bebas dari paksaan). Selain itu, berkaitan dengan

orang yang berakad, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:28

27

Siti Nur Fatoni, Pengantar Ilmu Ekonomi (Dilengkapi dasar-dasar ekonomi Islam),Cet. Ke-1, (Bandung: Pustaka Setia, 2014), 62.

28 Gemala Dewi, et. al, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, ed. I, (Jakarata:Kencana, cet. Ke-1,

(32)

24

1) Kecakapan (ahliy>ah), adalah kecakapan seseorang untuk memiliki

hak (ahliy>atul wuju>b) dan dikenai kewajiban atasnya dan kecakapan

melakukan tasarruf (ahjliy>atul ada’).

2) Kewenangan (wilaya>h), adalah kekuasaan hukum yang pemiliknya

dapat beratasharruf dan melakukan akad dan menunaikan segala

akibat hukum yang ditimbulkan.

3) Perwakilan (wakalah) adalah pengalihan kewenagan perihal harata

dan perbuatan tertentu dari seseorang kepada orang lain untuk

mengambil tindalan tertentu dalam hidupnya.

2. Syarat kepastian hukum (luzum)

Dasar dalam akad adalah kepastian. Di antara syarat luzum dalam

jual-beli adalah terhindarnya dari beberapa khiyar jual-jual-beli, seperti khiyar syarat,

khiyar aib, dan lain-lain.

C. Rukun-Rukun Akad

Rukun-rukun akad adalah sebagai berikut29:

1. Orang yang berakad (‘aqid), contoh: penjual dan pembeli. Al-aqid adalah

orang yang melakukan akad. Keberadaannya sangat penting karena tidak

akan pernah terjadi akad manakala tidak ada aqid.

2. Sesuatu yang diakadkan (ma’qud alaih), contoh: harga atau barang.

(al-Ma’qud Alaih) adalah objek akad atau benda-benda yang dijadikan akad yang

(33)

25

bentuknya tampak dan membekas. Barang tersebut dapat berbentuk harta

benda, seperti barang dagangan, benda bukan harta seperti dalam akad

pernikahan, dan dapat pula berbentuk suatu kemanfaatan seperti dalam

masalah upah-mengupah dan lain-lain.

3. Shighat, yaitu ijab dan qobul. Sighat akad adalah sesuatu yang disandarkan

dari dua belah pihak yang berakad, yang menunjukkan atas apa yang ada di

hati keduanya tentang terjadinya suatu akad. Hal ini dapat diketahui dengan

ucapan, perbuatan, isyarat, dan tulisan.30

a. Akad dengan ucapan (lafadz) adalah sighat akad yang paling banyak

digunakan orang sebab paling mudah digunakan dan paling mudah

dipahami. Dan perlu ditegaskan sekali lagi bahwa penyampaian akad

dengan metode apapun harus disertai dengan keridlaan dan memahamkan

para aqid akan maksud akad yang diinginkan.

b. Akad dengan perbuatan adalah akad yang dilakukan dengan suatu

perbuatan tertentu, dan perbuatan itu sudah maklum adanya.

Sebagaimana contoh penjual memberikan barang dan pembeli

menyerahkan sejumlah uang, dan keduanya tidak mengucapkan sepatah

katapun. Akad semacam ini sering terjadi pada masa sekarang ini.namun

menurut pendapat imam Syafi’i, akad dengan cara semacam ini tidak

30

(34)

26

dibolehkan. Jadi tidak cukup dengan serah-serahan saja tanpa ada kata

sebagai ijab dan qabul.31

c. Akad dengan isyarat adalah akad yang dilakukan oleh orang yang tuna

wicara dan mempunyai keterbatan dalam hal kemampuan tulis-menulis.

Namun apabila dia mampu untuk menulis, maka dianjurkan agar

menggunakan tulisan agar terdapat kepastian hukum dalam perbuatannya

yang mengharuskan adanya akad.

d. Akad dengan tulisan adalah akad yang dilakukan oleh Aqid dengan

bentuk tulisan yang jelas, tampak, dapat dipahami oleh para pihak, baik

dia mampu berbicara, menulis dan sebagainya, karena akad semacam ini

dibolehkan. Namun demikian menurut ulama syafi’iyyah dan hanabilah

tidak membolehkannya apabila orang yang berakad hadir pada waktu

akad berlangsung.

D. Pengertian Jual Beli

Sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT, bahwa manusia tidak mungkin

memenuhi kebutuhannya sendiri, apalagi di zaman yang semakin modern yang

membutuhkan bermacam-macam dan berbagai kebutuhan, baik mengenai

kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohaninya. Dan semakin lama manusia

semakin maju juga, sehingga pada waktu ini orang dapat menukar barang dengan

uang dan malahan menukar kertas berharga dengan uang, dan lain sebagainya

(35)

27

sehingga pertukaran terjadi semakin lancar. Sejak mula, Islam telah mengatur

lalu lintas dagang yang dinamakan al-bai’ was syira>i yang berarti jual beli

Jual beli atau perdagangan dalam istilah fiqh disebut al-bai’ yang menurut

etimologi berarti menjual atau mengganti. Wahbah al-Zuhaily32 mengartikannya

secara bahasa dengan ‚menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain‛. Kata al-bai’

dalam bahasa arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yaitu kata

al-syira’ (beli). Dengan demikian, kata al-bai’ berarti jual, tetapi sekaligus juga

berarti beli.33

Dengan demikian perkataan jual beli menunjukkan adanya dua perbuatan

dalam satu peristiwa, yaitu satu pihak menjual dan di pihak lain membeli, maka

dalam hal inilah terjadinya suatu peristiwa hukum jual beli.

Secara terminologi, terdapat beberapa definisi jual beli yang dikemukakan

para ulama fiqh, sekalipun substansi dan tujuan masing-masing definisi sama.

Sayyid Sabiq,34 mendefinisikannya dengan :

ٍلاَم ةلداَبُم

.ِيِف َنْوُذْأمْا ِْجَولا ىلع ٍضوِعب ٍكلم ُلْقَ ن وا ,ىضاَرَ تلا ِليبس َىلع ٍلاِِ

Jual beli ialah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan.

Atau, memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.

32 Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2005, jilid

V, cet. Ke-8, hal: 3304.

33 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, serta Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalat, Jakarta: Kencana,

2010, cet. 1, hal: 67.

(36)

28

Dalam definisi di atas terdapat kata ‚harta‛, ‚milik‛, ‚dengan‛, ‚ganti‛ dan

‚dapat dibenarkan‛ (al-ma’dzunfih). Yang dimaksud harta dalam definisi di atas

yaitu segala yang dimiliki dan bermanfaat, maka dikecualikan yang bukan milik

dan tidak bermanfaat; yang dimaksud milik agar dapat dibedakan dengan yang

bukan milik; yang dimaksud dengan ganti agar dapat dibedakan dengan hibah

(pemberian); sedangkan yang dimaksud dapat dibenarkan (al-ma’dzun fih) agar

dapat dibedakan dengan jual beli yang terlarang.

Definisi lain dikemukakan oleh ulama mazhab Hanafi yang dikutip oleh

Wahbah al-Zuhaily,35 jual beli adalah :

. ٍصوصخ ٍدَيَقُم ٍجو ىلع ِلثِ ِيف ٍبْوُغْرَم ٍئيَش ُةلدابم وَأ ,ٍصوصخ ٍجو ىلع ٍلاِ ٍلام ةلدابم

Saling tukar harta dengan harta melalui cara tertentu. Atau, tukar-menukar

sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang

bermanfaat.

Dalam definisi tersebut terkandung pengertian ‚cara yang khusus‛, yang

dimaksudkan ulama Hanafiyah dengan kata-kata tersebut adalah melalui ijab dan

Qabul, atau juga boleh melalui saling memberikan barang dan harga dari penjual

dan pembeli. Di samping itu, harta yang diperjualbelikan harus bermanfaat bagi

manusia, sehingga bangkai, minuman keras, dan darah tidak termasuk dalam

sesuatu yang diperbolehkan untuk diperjualbelikan, karena benda-benda tersebut

35

Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2005, jilid

(37)

29

tidak bermanfaat bagi umat muslim. Apabila jenis-jenis barang seperti itu tetap

diperjualbelikan, menurut ulama Hanafiyah, jual belinya tidak sah.36

Definisi lain yang dikemukakan Ibnu Qudamah (salah seorang ulama

mazhab Maliki), kemudian ulama mazhab Syafii’i, dan ulama mazhab Hambali

yang juga dikutip oleh Wahbah al-Zuhaily,37 jual beli adalah :

ماِب ِلاما ُةلدابم

لََََو ًااْيِلََْ لا

ًاا

Saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan

pemilikan.

Dalam definisi ini ditekankan kata ‚milik dan pemilikan‛, karena ada juaga

tukar-menukar harta yang sifatnya tidak harus dimiliki, seperti sewa-menyewa

(al-ijarah).

Adapun jual beli menurut syariah yaitu kesepakatan tukar-menukar benda

untuk memiliki benda tersebut selamanya.38

Abu Sura’i Abdul Hadi, dalam bukunya ‚Bunga Bank dalam Islam‛

mengemukakan, pada dasarnya jual beli adalah halal. Artinya bahwa jual beli

adalah salah satu bentuk transaksi yang dibenarkan selama berjalan pada asas

yang benar sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan agama.39

36

Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, serta Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalat, Jakarta: Kencana, 2010, cet. 1, hal: 68.

37

Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2005, jilid

V, cet. Ke-8.

38

Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, Jakarta: Penebar Salam, cet. IV, 1999. 39

(38)

30

E. Dasar hukum Jual Beli

Jual beli sebagai sarana tolong-menolong antara sesama umat manusia yang

mempunyai landasan yang kuat dalam Alquran dan sunah Rasulullah saw.

Terdapat beberapa ayat al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. yang berbicara

tentang jual beli, diantaranya sebagai berikut:

1. Alquran

Dalil hukum jual beli di dalam al-Qur’an, diantaranya terdapat pada

ayat-ayat berikut ini:

Surat Albaqarah ayat 275:

 …         ... : ةرقبلا(  )

Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS Al-Baqarah : 275)

Surat Annisa’ ayat 29:

                                          

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah

(39)

31

2. Sunah

a. Dalam hadis juga disebutkan tentang diperbolehkannya jual beli,

sebagaimana hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Rifa’ah ibn

Rafi’ yaitu :

لص يَنلا َلِئُس : ْنَع ُه يضَر ٍعْيِفَر ِنْب َةَعافِر نَع

ِبْسَالا يَأ ملسو يلع ه ى

؟ ُبَيْطَأأ

.)مكاحاو رَزبا اور( .ٍرْوُرْ بَم ٍعْيَ ب لُكو ِِدَيِب ِلُجَرلا ُلَمَع :َلاَقف

Dari Rifa’ah bin Rafi’ r.a (katanya): Sesungguhnya Nabi Muhammad, pernah ditanyai, manakah usaha yang paling baik? Beliau menjawab: ialah amal usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang bersih‛. (HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim)40

Artinya jual beli yang jujur, tanpa diiringi kecurangan-kecurangan,

mendapat berkat dari Allah. Maksud mabrur dalam hadits di atas adalah

jual beli yang terhindar dari tipu menipu dan merugikan orang lain.

b. Hadis dari al-Baihaqi, Ibn Majah dan Ibn Hibban, yang mana jual beli itu

harus saling rida. Rasulullah menyatakan :

.)ىقَهْ يَ بْلا اور( ٍضَرَ ت ْنَع ُعْيَ بلْا اَََِإ

Sesungguhnya jual beli itu didasarkan atas suka sama suka (rida). (HR.

Al-Baihaqi)41

c. Hadis yang diriwayatkan al-Tirmizi, Rasulullah Saw bersabda:

ِّصلاَو َِّْْيِبَنلا َعَم ُِْْمَأْا ُقْوُدَصلا ُر ِجاَتلَأ

ِءاَدَه شلاو َِْْقْيِّد

.)يدمرلا اور(

40 As Shan’ani,

Subulus Salam III, Terj. Abu Bakar Muhammad, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1995), 14.

41

(40)

32

Pedagang yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya di surga) dengan para Nabi, Shiddiqin, dan Syuhada‛. (HR. At-Tirmidi)

3. Ijma’

Dalil kebolehan jual beli menurut ijma’ ulama adalah ulama telah sepakat

bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan

mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun

demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu,

harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.

F. Rukun dan Syarat Jual Beli

Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli

itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat

perbedaan pendapat ulama mazhab Hanafi dengan jumhur ulama. Rukun jual beli

menurut ulama mazhab Hanafi hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari

pembeli) dan qabul (ungkapan menjual dari penjual).42

Menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah

kerelaan/rida kedua belak pihak. Akan tetapi, karena unsur kerelaan itu

merupakan unsur hati yang sulit untuk diindera sehingga tidak kelihatan, maka

diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan itu dari kedua belah pihak.

Indikasi yang menunjukkan kerelaan dari kedua belah pihak yang melakukan

42

(41)

33

transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar dalam ijab dan qabul, atau

melalui cara saling memberikan barang dan harga barang.43

Menurut jumhur ulama rukun jual beli itu ada empat, yaitu:

a. Orang yang berakad (penjual dan pembeli)

b. Sighat (lafadz ijab dan qabul)

c. Objek jual beli (barang dan atau uang)

d. Ada nilai tukar pengganti barang.

Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang

dibeli, dan nilai tukar barang termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan

rukul jual beli.

Selain itu, dalam jual beli juga terdapat beberapa syarat yang mempengaruhi

sah tidaknya akad tersebut. Diantaranya adalah syarat yang diperuntukkan bagi

dua orang yang melaksanakan akad. diantaranya adalah syarat yang

diperuntukkan untuk barang yang akan dibeli, jika salah satu darinya tidak ada,

maka akad jual beli tersebut dianggap tidak sah.44

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang

dikemukakan jumhur ulama’ diatas adalah sebagai berikut :

1) Syarat orang yang berakad

Para ulama fiqih sepakat, bahwa orang yang melakukan akad jual beli

harus memenuhi syarat sebagai berikut :

43

Ibid, 115.

44

(42)

34

a) Berakal. Dengan demikian, jual beli yang dilakukan anak kecil yang

belum berakal hukumnya tidak sah. Anak kecil yang sudah mumayyiz

(menjelang baligh), apabila akad yang dilakukannya membawa

keuntungan baginya, maka akad tersebut sah menurut Mazhab Hanafi.

b) Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Maksudnya,

seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai

penjual, sekaligus pembeli.

c) Balig atau dewasa. Dewasa dalam hukum Islam adalah apabila telah

berumur 15 tahun, atau telah bermimpi (bagi anak laki-laki) dan haid

(bagi anak perempuan), dengan demikian jual beli yang dilakukan oleh

anak kecil tersebut adalah tidak sah.

2) Syarat yang terkait dengan ijab qabul

Para ulama fikih sepakat bahwa unsur utama dari jual beli yaitu kerelaan

dari kedua belah pihak. Kerelaan dari kedua belah pihak dapat dilihat dari

ijab dan qabul yang dilangsungkan. Menurut mereka ijab dan qabul perlu

diungkapkan secara jelas dalam transaksi-transaksi yang bersifat mengikat

kedua belah pihak, seperti akad jual beli, sewa-menyewa, dan nikah.

Terhadap transaksi yang sifatnya mengikat salah satu pihak, seperti wasiat,

(43)

35

saja. Bahkan menurut Ibn Taimiyah (ulama fikih Hanbali) dan ulama lainnya

ijab pun tidak diperlukan dalam masalah wakaf.45

Apabila ijab dan qabul telah diucapkan dalam akad jual beli maka

pemilikan barang atau uang telah berpindah tangan dari pemilik semula.

Barang yang dibeli berpindah tangan menjadi milik pembeli, dan nilai/uang

berpindah tangan menjadi milik penjual.

Untuk itu para ulama fikih mengemukakan bahwa syarat ijab dan qabul

itu sebagai berikut :

a. Orang yang mengucapkan telah balig dan berakal, menurut jumhur ulama,

atau telah berakal menurut ulama mazhab Hanafi, sesuai dengan

perbedaan mereka dalam syarat-syarat orang yang melakukan akad yang

disebutkan di atas.

b. Qabul sesuai dengan ijab. Misalnya penjual mengatakan: ‚Saya jual buku

ini seharga Rp; 20.000,-‚, lalu pembeli menjawab: ‚Saya beli buku ini

dengan harga Rp; 20.000,-‛. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai

maka jual beli tidak sah.

c. Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis. Artinya, kedua belah

pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama.

Apabila penjual mengucapkan ijab, lalu pembeli berdiri sebelum

mengucapkan qabul atau pembeli mengerjakan aktivitas lain yang tidak

45

(44)

36

terkait dengan masalah jual beli kemudian ia ucapkan qabul, maka

menurut kesepakatan ulama fikih jual beli ini tidak sah sekalipun mereka

berpendirian bahwa ijab tidak harus dijawab langsung dengan qabul.

Dalam kaitan ini, ulama mazhab Hanafi dan mazhab Maliki mengatakan

bahwa antara ijab dan qabul boleh saja diantarai oleh waktu yang

diperkirakan bahwa pihak pembeli sempat untuk berpikir. Namun ulama

mazhab syafi’i dan mazhab Hambali berpendapat bahwa jarak antara ijab

dan qabul tidak terlalu lama yang dapat menimbulkan dugaan bahwa

objek pembicaraan telah berubah.46

Di zaman modern perwujudan ijab dan qabul tidak lagi diucapkan

tetapi dilakukan dengan sikap mengambil barang dan membayar uang

oleh pembeli serta menerima uang dan menyerahkan barang oleh penjual

tanpa ucapan apapun. Misalnya jual beli yang berlangsung di swalayan.

Dalam fikih Islam, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ al-mu’athah.

Dalam kasus perwujudan ijab dan qabul melalui sikap ini (bai’ al

-mu’athah) terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Jumhur

ulama berpendapat bahwa jual beli seperti ini hukumnya boleh apabila

hal ini telah merupakan kebiasaan suatu masyarakat di suatu negeri

karena hal ini telah menunjukkan unsur saling rela dari dari kedua belah

pihak. Menurut mereka di antara unsur terpenting dalam transaksi jual

46

(45)

37

beli yaitu suka sama suka (antaradin) sesuai dengan kandungan surat

Annisa’ ayat 29 dalam uraian lalu. ‚Sikap mengambil barang dan

membayar harga barang oleh pembeli menurut mereka telah menunjukkan

ijab dan qabul dan telah mengandung unsur kerelaan‛.47

Akan tetapi ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa transaksi jual beli

harus dilakukan dengan ucapan yang jelas atau sindiran melalui ijab dan

qabul. Oleh sebab itu menurut mereka jual beli seperti kasus diatas (bai’

al-mu’athah) hukumnya tidak sah, baik jual beli dalam partai besar

ataupun kecil. Alasan mereka adalah unsur utama jual beli adalah

kerelaan kedua belah pihak. Unsur kerelaan menurut mereka adalah

masalah yang amat tersembunyi dalam hati karenanya perlu diungkapkan

dengan kata-kata ijab dan qabul apalagi persengketaan dalam jual beli

dapat terjadi dan berlanjut ke pengadilan.48

Akan tetapi sebagian ulama mazhab Syafi’i yang muncul belakangan

seperti Imam al-Nawawi seorang fakih dan muhaddis mazhab Syafi’i dan

al-Baghawi seorang mufasir mazhab Syafi’i menyatakan bahwa jual beli

al-mu’athah adalah sah apabila hal itu sudah merupakan kebiasaan di

daerah tertentu.

47

Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. II, 2007).

48

(46)

38

Jadi pada intinya mengenai syarat yang terkait pada ijab dan qabul

yakni:49

a. Pernyataan qabul sesuai dengan kandungan pernyataan ijab,

maksudnya penjual menjawab setiap hal yang harus dikatakan dan

mengatakannya.

b. Ijab dan qabul dinyatakan di satu tempat. Konkritnya, kedua pelaku

transaksi hadir bersama di tempat transaksi atau transaksi

dilangsungkan di satu tempat dimana pihak yang absen mengetahui

terjadinya pernyataan ijab.

3) Syarat objek jual beli

a. Suci

Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk

dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disamak.

b. Bermanfaat

Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dilarang

pula mengambil tukarannya karena hal itu termasuk dalam arti

menyia-nyiakan (pemborosan).

c. Barang itu dapat diserahkan

Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada

yang membeli, misalnya ikan dalam air laut.

49

(47)

39

d. Barang tersebut merupakan kepunyaan penjual

Barang yang diperjualbelikan adalah milik penjual.

e. Barang tersebut diketahui oleh penjual dan pembeli

Zat, bentuk, kadar (ukuran), dan sifat-sifatnya jelas sehingga antara

keduanya tidak akan terjadi kecoh mengecoh.50

4) Syarat nilai tukar

Termasuk unsur penting dalam jual beli adalah nilai tukar dari

barang yang dijual (untuk zaman sekarang adalah uang).

G. Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang

Jual beli yang dilarang terbagi menjadi dua: Pertama, jual beli yang dilarang

dan yang hukumnya tidak sah (batal), yaitu jual beli yang tidak memenuhi syarat

dan rukunnya. Kedua, jual beli yang hukumnya sah tetapi dilarang, yaitu jual beli

yang telah memenuhi syarat dan rukunnya, tetapi ada beberapa faktor yang

menghalangi kebolehan proses jual beli.

1. Jual beli terlarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun. Bentuk jual beli

yang termasuk dalam kategori ini sebagai berikut:

a. Jual beli barang yang zatnya haram, najis, atau tidak boleh

diperjualbelikan.51 Barang yang najis atau haram dimakan haram juga

50

Amir Syarifudin, Garis-garis Besar Fiqh, (Bogor: Kencana, 2003), 196.

51

(48)

40

untuk diperjualbelikan, seperti babi, bangkai, dan khamar (minuman yang

memabukkan).

Rasulullah Saw bersabda :

ْمِهْيَلَع َمَرَح ٍئْيَش َلْكَأ ٍمْوَ ق َىلع َمَرَح اذِا َّّا َنِإ

.)دمأو دواد وبأ اور( َُنَََ

Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan memakan sesuatu maka Dia mengharamkan juga memperjualbelikannya. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Dalam hadis lain disebutkan :

َنِإ

َ ب َمَرح َُلوُسَرو َه

مَحَو ِةَتْيَمْلاَو ِرْمَْْا َعْي

ْصَأاَو ِرْيِزْنِْْ

)ملسم و ىراخبلا اور( ِماَن

Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjual arak, bangkai, babi, dan berhala‛ (HR. Bukhori Muslim).

b. Jual beli yang belum jelas

Sesuatu yang bersifat spekulasi atau samar-samar haram untuk

diperjualbelikan karena dapat merugikan salah satu pihak baik penjual

maupun pembelinya. Yang dimaksud dengan samar-samar adalah tidak

jelas, baik barangnya, harganya, kadarnya, masa pembayarannya, maupun

ketidakjelasan yang lainnya.

Jual beli yang dilarang karena samar-samar antara lain:52

1. Jual beli buah-buahan yang belum nampak hasilnya, misalnya menjual

putik mangga untuk dipetik kalau telah tua/masak nanti.

52

(49)

41

2. Jual beli barang yang belum tampak. Misalnya, menjual ikan di

kolam/laut, menjual ubi/singkong yang masih ditanam, menjual anak

ternak yang masih dalam kandungan induknya. Berdasarkan sabda

Nabi Saw,:

اور( َِْْماَضَمْلا ِعْيَ ب ْنَع ىَهَ ن ملسو يلع ه ىلص َينلا َنَأ نع ُه َيضر َةَرْ يَرُ ْيَأ نع

)ْرَزَ بْلَا

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi melarang

memperjualbelikan anak hewan yang masih dalam kandungan induknya. (HR. Al-Bazzar)

c. Jual beli bersyarat

Jual beli yang ijab qabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu

yang tidak ada kaitannya dengan jual beli atau unsur-unsur yang

merugikan dilarang oleh agama. Contoh jual beli bersyarat yang dilarang,

misalnya ketika terjadi ijab dan qabul si pembeli berkata: ‚Baik, mobilmu

akan kubeli sekian dengan syarat anak gadismu harus menjadi istriku‛.

Atau sebaliknya si penjual berkata: ‚Ya, saya jual mobil ini kepadamu

sekian asal anak gadismu menjadi istriku‛.

Dalam kaitan ini Nabi Saw bersabda:

) يلع قفتم( ٍطْرَش َةَئاِم َناَك ْنِإَو ٌلِطَاب َوُهَ ف َلَجَوَزَع ِه ِبَاتِك ِى َسْيَل ٍطْرَش لُك

(50)

42

d. Jual beli yang menimbulkan kemudharatan

Segala sesuatu yang dapat menimbulkan kemudharatan,

kemaksiatan, bahkan kemusrikan dilarang untuk diperjualbelikan, seperti

jual beli patung, salib, dan buku-buku bacaan porno. Memperjualbelikan

barang-barang ini dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan maksiat.

Sebaliknya, dengan dilarangnya jual beli barang ini, maka hikmahnya

minimal dapat mencegah dan menjauhkan manusia dari perbuatan dosa

dan maksiat.

e. Jual beli yang dilarang karena dianiaya

Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan

hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang masih

membutuhkan (bergantung) kepada induknya. Menjual binatang seperti

ini selain memisahkan anak dari induknya juga melakukan penganiayaan

terhadap anak binatang ini.53

f. Jual beli muhaqalah

Jual beli muhaqalah, yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di

sawah atau di ladang. Hal ini dilarang agama karena jual beli ini masih

samar-samar (tidak jelas) dan mengandung tipuan.

g. Jual beli mukhadharah

53

(51)

43

Jual beli mukhadharah yaitu menjual buah-buahan yang masih hijau

(belum pantas di panen). Seperti menjual rambutan yang masih hijau,

mangga yang masih kecil-kecil.

Hal tersebut dilarang agama karena barang ini masih samar, dalam

artian mungkin saja buah ini jatuh tertiup angin kencang atau layu

sebelum diambil oleh pembelinya.

h. Jual beli mula>masah

Jual beli mula>masah yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh.

Misalnya, seseorang menyentuh sehelai kain dengan tangannya diwaktu

malam atau siang hari maka orang yang menyentuh berarti telah membeli

kain ini. Hal ini dilarang agama karena mengandung tipuan dan

kemungkinan akan menimbulkan kerugian dari salah satu pihak.

i. Jual beli munabadzah54

Jual beli munabadzah, yaitu jual beli secara lempar-melempar.

Seperti seseorang berkata: ‚Lemparkan kepadaku apa yang ada padamu,

nanti kulemparkan pula kepadamu apa yang ada padaku‛. Setelah terjadi

lempar-melempar terjadilah jual beli. Hal ini dilarang oleh agama karena

mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan qabul.

54

(52)

44

j. Jual beli muzabanah

Jual beli muzabanah, yaitu menjual buah basah dengan buah yang

kering. Seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah sedang

ukurannya dengan ditimbang (dikilo) sehingga akan merugikan pemilik

padi kering.

2. Jual beli terlarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak-pihak terkait.

a. Jual beli dari orang yang masih dalam tawar-menawar55

Apabila ada dua orang masih tawar-menawar atas sesuatu barang,

maka terlarang bagi orang lain membeli barang itu sebelum penawar

pertama diputuskan.

b. Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar

Maksudnya adalah menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar

dapat membelinya dengna harga murah sehingga Ia kemuadian menjual di

pasar dengan harga yang juga lebih murah. Tindakan ini dapat merugikan

para pedagang lain terutama yang belum mengetahui harga pasar. Jual

beli seperti ini dilarang karena dapat mengganggu kegiatan pasar

meskipun akadnya sah.

c. Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun kemudian akan

dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut. Jual beli

55

(53)

45

seperti hal tersebut dilarang karena menyiksa pihak pembeli disebabkan

mereka tidak memperoleh barang keperluannya saat harga masih standar.

d. Jual beli barang rampasan atau curian.

Jika si pembeli telah tahu bahwa barang itu barang curian atau

rampasan maka keduanya telah bekerja sama dalam perbuatan dosa. Oleh

karena itu, jual beli semacam ini dilarang.

Di dalam buku Fikih Muamalah yang di tuliskan oleh Abdul Rahman

Ghazaly, bahwasanya beliau menjabarkan dengan perincian jual beli ada yang

diperbolehkan dan juga ada yang dilarang, ada juga yang batal dan ada pula yang

terlarang tapi sah.56

Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut :

1. Barang yang dihukumkan najis oleh agama, seperti anjing, babi, berhala,

bangkai, dan khamar.

2. Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan

dengan betina agar dapat memperoleh keturunan.

3. Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya. Jual beli

seperti ini dilarang karena barangnya belum ada dan tidak tampak.

4. Jual beli dengan muhaqallah. baqallah berarti tanah, sawah dan kebun.

Maksud disini ialah menjual tanam-tanaman yang masih di ladang atau di

sawah. Hal ini dilarang oleh agama sebab ada persangkaan riba di dalamnya.

56

(54)

46

5. Menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjualbelikan.

6. Jual beli gharar, yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan

terjadi penipuan, seperti menjual ikan yang masih di dalam kolam atau

menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi di bawahnya

jelek.

Di dalam kitab Bulughul Maram I yang diterjemahkan oleh Kahar Masykur

dijelaskan bahwa penjual yang melakukan penipuan akan mengalami dua

kecelakaan, yaitu:

a. Di dunia pembelinya akan makin berkurang dan akhirnya dagangannya

bangkrut atau gulung tikar.

b. Di akhirat akan menghadapi pengadilan Allah Swt. sehingga tiap pembeli

yang dirugikannya dahulu akan menerima hak dan anti secukupnya, yaitu

jika ia mempunyai pahala, maka dibayar dengannya. Akan tetapi jika

tidak ada lagi, maka diambil dosa pembelinya seimbang dengan dosa

yang ditimbulkan penipuannya. Karena dosa penipuan tidak akan

terhapus dengan melakukan taubat nasuha tetapi harus direlakan oleh

yang berhak.57

7. Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual, seperti

seseorang menjual sesuatu dari benda itu ada yang dikecualikan salah

satu bagiannya, misalnya A menjual seluruh pohon-pohonan yang ada di

57

(55)

47

kebunnya, kecuali pohon pisang. Jual beli ini sah sebab yang

dikecualikannya jelas. Namun, bila yang dikecualikannya tidak jelas

(majhul), maka jual beli tersebut batal.

8. Menjual makanan hingga dua kali ditakar.

Selain itu ada beberapa macam jual beli yang dilarang oleh agama tetapi

sah hukumnya, tetapi orang yang melakukannya mendapat dosa. Jual beli

tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk ke pasar untuk membeli

benda-bendanya dengan harga yang semurah-murahnya, sebelum mereka tau

harga pasaran, kemudian ia jual dengan harga yang setinggi-tingginya. Akan

tetapi jika orang kmapung sudah mengetahui harga pasaran, jual beli seperti

ini tidak apa-apa.

2. Menawar barang yang sedang ditawar orang lain.

3. Jual beli dengan Najasyi, ialah seseorang yang menambah atau melebihi

harga temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang itu

mau membeli barang kawannya.

4. Menjual di atas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata:

‚Kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau beli

dengan harga yang lebih murah dari itu‛.58

58

(56)

48

Sedangkan Imam Hanafi membagi kategori jual beli yang diperbolehkan

ataupun yang dilarang dengan berdasarkan kepada syariat atas tiga bagian:

a. Jual beli yang sah, adalah jual beli yang disyariatkan baik hakikat maupun

sifatnya dan tidak ada kaitannya dengan hak orang lain. Hukum jual beli ini

dapat berpengaruh secara langsung. Maksudnya, adanya pertukaran hak

kepemilikan barang dan harga. Barang menjadi milik pembeli, sedangkan

harga milik penjual sesuai dengan terjadinya ijab qabul.

b. Jual beli yang batal, adalah jual beli yang tidak terpenuhinya rukun dan

objeknya, atau tidak dilegalkan baik hakikat maupun sifatnya. Artinya

pelaku atau objek transaksi dianggap tidak layak secara hukum untuk

melakukan transaksi.

c. Jual beli yang rusak, adalah jual beli yang dilegalkan dari segi hakikatnya

tetapi tidak legal dari sifatnya. Artinya jual beli ini dilakukan oleh orang

yang layak pada barang yang layak, tetapi mengandung sifat yang tidak

diinginkan oleh syariah, seperti menjual barang yang tidak jelas,

ketidakjelasannya dapat menciptakan sengketa, seperti menjual satu rumah

yang tidak ditentukan dari beberapa rumah yang ada. Hukum jual beli ini

sama halnya dengan hukum jual beli yang batal.59

59

(57)

BAB III

PRAKTEK TRADE IN OLEH KONSUMEN CV. TANADI

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

CV. Tanadi adalah sebuah perusahaan yang terletak di Jalan Kapas

Madya Gang 6 No. 11 Surabaya. Yang secara geografis merupakan bagian

dari wilayah Surabaya Timur.

B. Profil CV. Tanadi

1. Sejarah CV. Tanadi

CV. Tanadi bergerak dibidang jual beli ac second yang bekerja sama

dengan tender toko elektronik di Surabaya. CV. Tanadi berdiri pada bulan

April 2002 yang didirekturi oleh Bapak R. Hartono Tanadi. CV. Tanadi

memiliki cabang yang beralamatkan di Kapas Madya Gg 6 No.

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Pembantu Pada Biro Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi Banten tahun anggaran 2016 harus ditunjang oleh kemudahan

Kesimpulan yang didapat untuk Kinerja e-service quality pada online shop p-clothes berdasarkan hasil analisis deskriptif secara keseluruhan berada dalam kategori

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi volume minyak atsiri daun sirih hijau (Piper Betle L.) yang diinkorporasi ke dalam patch berbasis

Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif, Untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam

Sementara pada kenyataannya, secara ekonomi masyarakat India Punjabi di kota Medan lebih mapan dibandingkan masyarakat Tamil, hal ini dapat terlihat dengan bertahannya toko-toko

(Bandung: PT Remaja Rosda karya.. Diduga desain LKS dan kandungan materi serta langkah-langkah pendekatan dan penyampaiannya dalam LKS kurang memperhatikan karakteristik

bahwa dengan telah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler

Penelitian ini bertujuan (1) untuk menganalisis kesalahan penggunaan konjungsi koordinaif berita utama pada media online Detikcom Edisi Januari 2017 dan (2)