ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBATALAN AKAD TRACK IN OLEH KONSUMEN DI CV. TANADI CABANG KAPAS
MADYA SURABAYA
SKRIPSI
Oleh
Moch. Eko Andre Saputro
NIM. C02213040
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syariah dan Hukum Jurusan Hukum Perdata Islam Program Studi Hukum Ekonomi Syariah
ABSTRAK
Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan yang berjudul “Analisis Hukum Islam terhadap pembatalan akad track In oleh konsumen di CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya. Dalam penelitian Ini terdapat dua pembahasan yaitu bagaimana praktek pembatalan akad track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya dan analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif , data yang diperoleh untuk menjawab rumusan masalah yang ada. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan metode wawancara kepada kepala teknisi, dan teknisi, disamping itu penulis juga mengumpulkan dokumentasi terkait cara transaksi dalam akad Track in
Hasil dari penelitian ini adalah mengenai praktek track in dengan cara menukarkan barang yang rusak atau yang lama dengan barang baru (dalam penelitian ini penulis memfokuskan track in jual beli AC bekas) akan tetapi dalam prakteknya di lapangan ada pihak ketiga yang mengakibatkan pembatalan track in ke pihak kedua dan dilimpahkan ke pihak ketiga. Kasus ini jika dianalisis Hukum Islam maka pada kasus jual beli tersebut dilarang karna merusak akad jual beli.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TRANSLITERASI ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 8
C. Rumusan Masalah ... 10
D. Kajian Pustaka ... 10
E. Tujuan Penelitian ... 12
F. Kegunaan Penelitian ... 13
G. Definisi Operasional ... 13
H. Metode Penelitian ... 14
BAB II JUAL BELI
A. Pengertian Akad ... 22
B. Syarat Akad ... 23
C. Rukun-rukun Akad ... 24
D. Pengertian Jual Beli ... 25
E. Dasar Hukum Jual Beli... 30
F. Rukun dan Syarat Jual Beli ... 32
G. Bentuk-bentuk Jual Beli yang dilarang ... 39
BAB III PRAKTEK TRADE IN OLEH KONSUMEN CV. TANADI A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 49
B. Profil CV. Tanadi ... 49
C. Praktek Trade In di CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya ... 53
BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBATALAN AKAD TRADE IN OLEH KONSUMEN DI CV. TANADI CABANG KAPAS MADYA SURABAYA A. Analisis Praktik Pembatalan akad Trade In oleh Konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya ... 61
B. Analisis Hukum Islam terhadap Pembatalan akad Trade In oleh Konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya ... 65
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 69
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan antara satu individu
dengan individu lainnya. Baik itu dalam rangka kegiatan sosial, ekonomi,
maupun politik. Oleh karenanya, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa jasa dari
orang lain. Sebagai contoh yang paling sederhana manusia pasti membutuhkan
pakaian, meskipun dia bisa menjahit tapi dia akan membutuhkan kain dan
alat-alat jahit.
Sebagai makhluk sosial tentu saja manusia pasti berinteraksi antara satu
dengan yang lain, demi terjalinnya interaksi yang teratur dan harmonis maka
dibutuhkan sebuah aturan. Dengan semangat inilah diturunkannya Syariat.
Secara garis besar hukum Islam dapat diklasifikasikan dalam tiga hal, yakni (1)
fikih ibadah, sebagai aturan dalam hal interaksi antara manusia dengan Allah
Swt. (2) fikih muamalat, yaitu sebagai aturan dalam hal interaksi manusia
dengan sesamanya yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi, (3) fikih nikah,
sebagai aturan dalam hal interaksi manusia dengan sesamanya yang berhubungan
dengan kegiatan sosial.1
Kegiatan ekonomi yang paling dominan dilakukan oleh manusia adalah
transaksi jual beli, oleh karenanya dalam literatur fikih klasik, dalam bab fikih
1
2
muamalah sering kali terdapat pembahasan tentang jual beli ini yang dijadikan
pembahasan paling awal. Bahkan tidak hanya itu saja, tapi pembahasan tentang
jual beli dalam suatu keterjalinan akad mendapatkan porsi paling besar di antara
transaksi-transaksi lainnya.2
Dalam transaksi jual beli, kadang-kadang terjadi penyesalan yang dialami
oleh satu pihak yang bertransaksi atas transaksi yang telah sah dan ingin
membatalkannya. Untuk mengakomodir kejadian-kejadian seperti ini, perlu
adanya aturan tentang pemutusan transaksi atau rusaknya akad. Tentu saja
dalam pemutusan akad ini kadang-kadang menimbulkan kerugian dalam di salah
satu pihak, untuk menjamin tergantinya kerugian itu dan agar pihak yang
berakad tidak seenaknya sendiri membatalkan akad, maka diperlukan semacam
jaminan berupa uang muka.
Jika kita kembalikan pada pembahasan yang mana unsur-unsur kontrak
harus meliputi diantaranya: (1)
لوبقلاو باجإ
, harus jelas dan tidak terhalangsesuatu yang menyebabkan kaburnya atau terganggunya kontrak, (2) Pelaku
kontrak, (3) objek akad, (4) akibat hukum kontrak yang mana harus sesuai
dengan prinsip-prinsip dasar syariah.3 Kemudian hal-hal yang dapat merusak
kontrak itu diantaranya adalah keterpaksaan, kekeliruan, penyamaran cacat
obyek, dan tidak adanya keseimbangan objek dan harga. Kemudian poin yang
2
Ibid.,xi
3
3
paling penting untuk kita ketahui disini adalah mengenai berakhirnya akad atau
suatu kontrak yaitu :4
1. Terpenuhi isi kontrak dan berakhirnya masa berlakunya akad, maka dianggap
akad tersebut sudah selesai.
2. Pemutusan kontrak
a. Karena adanya hak memilih, khiyar ini terdiri dari :
b. Kontrak dinilai rusak
c. Tidak terpenuhi kontrak
d. Kesepakatan pembatalan karena penyesalan
e. Kesepakatan kedua belah pihak
f. Keputusan pengadilan
g. Isi kontrak mustahil terlaksana5
Suatu akad yang telah memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya akan
mengikat kedua belak pihak yang berakad. Oleh karena itu dengan mengikatnya
akad tersebut, maka tidak seorangpun dari kedua belak pihak yang berakad bisa
memutuskan akad secara sepihak kecuali ada hal-hal yang bisa
membenarkannya. Diantaranya adalah melalui kesepakatan antara kedua belak
pihak untuk membatalkan atau memutuskan akad.
4
Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah Studi tentang Teori Akad dalam Fiqih Muamalat,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 242-248.
5
4
Ada suatu kajian yang pernah dipaparkan oleh Syamsul Anwar, dalam
bukunya yakni studi tentang teori akad dalam fikih muamalah bahwasanya di
dalam kasus yang terjadi di atas terdapat jual beli secara paksa, yang mana
mayoritas ahli fikih memberlakukan syarat pelaku akad bebas menentukan
pilihan, tapi jika demikian dilakukan secara paksa maka tidak disahkan transaksi
tersebut sebagaimana telah tertera di dalam firmanNya dalam surah (Annisa’ (4)
: 29) :
اَي
َه يَأ
ا
َنْيِذَلا
اْوُ نَمآ
َل
اْوُلُكْأَت
اَوْمَأ
ْمُاَل
ْمُاَنْ يَ ب
ِلِطاَبْلاِب
َلِإ
ْنَأ
َنوُاَت
ًةَراَِِ
ْنَع
ٍضاَرَ ت
ْمُاْنِّم
َلَو
اوُلُ تْقَ ت
ْمُاَسُفْ نَأ
َنِإ
َه
َناَك
ْمُاِب
اَمْيِحَر
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. Annisa’ 4 : 29)
Ada sebutan di dalam fikih muamalah yang disebut dengan iq>alah yaitu
menurut bahasa adalah membebaskan, sedangkan menurut istilah adalah
tindakan para pihak berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengakhiri suatu
akad yang telah mereka buat dan menghapus akibat hukum yang timbul sehingga
status para pihak kembali seperti sebelum terjadinya akad yang diputuskan
tersebut. Atau dengan kata lain iq>alah itu merupakan kesepakatan bersama
5
mengikat dan menghapus segala akibat hukum yang ditimbulkan dari suatu akad
tertentu.6
Pada dasarnya ulama empat mazhab sepakat atas diperbolehkannya
mengakhiri suatu akad atau yang lebih dikenal dengan sebutan iq>alah, hanya saja
terdapat beberapa perbedaan pendapat diantara mereka mengenai pembebasan
atau mengakhiri suatu kesepakatan antara pihak-pihak yang bersepakat. Ulama
empat mazhab dalam masalah ini menjadi tiga golongan yaitu diantaranya ialah
:7
1. Mazab Syafi’i, Hambali, serta Zufar dan al-Hasan (keduanya adalah ulama
bermadzhab Hanafi) berpendapat bahwa yang dinamakan iq>alah ialah
pemutusan akad, baik yang dalam kaitannya dengan dua belah pihak yang
berakad maupun yang berkaitan dengan pihak ketiga. Status keduanya
kembali seperti sedia kala sebelum adanya akad, dan tidak boleh ada
perubahan harga.
2. Mazab Maliki, Abu Yusuf dari Mazhab Hanafi berpendapat bahwa iq>alah
merupakan suatu akad yang baru baik para pihak yang berakad maupun pihak
ketiga kecuali dalam hal iq>alah memang tidak bisa dianggap sebagai akad
baru, namun didalam suatu yang demikian iq>alah dianggap sebagai
pemutusan akad.
6
Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam). (Yogyakarta: UII Press).
7
6
3. Imam Hanafi berpendapat bahwa iq>alah adalah sebagai pemutusan akad
dalam kaitannya dengan pihak yang berakad. Sedangkan dalam kaitannya
dengan pihak yang ketiga, maka iq>alah adalah suatu akad baru. Dengan
demikian maka status antara dua pihak yang bertransaksi kembali seperti
ketika belum diadakannya transaksi. Adapun untuk melindungi hak-hak dari
pihak ketiga, maka iq>alah dianggap sebagai akad baru di mata pihak ketiga.
Sebagai makhluk sosial tentu saja manusia pasti berinteraksi antara satu
dengan yang lain, demi terjalinnya interaksi yang teratur dan harmonis maka
dibutuhkan sebuah aturan, baik itu dalam rangka kegiatan sosial, ekonomi,
maupun politik. Karenanya manusia dalam bertransaksi harus mengerti
bahwasanya agar keputusan akad dianggap sah, maka harus memenuhi beberapa
persyaratan diantaranya adalah:
1. Akad yang diputuskan melalui kesepakatan yang sudah disepakati harus
termasuk jenis akad yang bisa dirusak
2. Adanya persetujuan kedua belah pihak yang berakad atas pemutusan ini.
3. Objek akad masih ada
4. Tidak boleh ada penambahan harga, hanya saja biaya pembatalan dikenakan
kepada pihak yang memutuskan akad.
Dalam transaksi di zaman modern ini terdapat istilah uang muka, uang
panjar, DP (down payment). Dimana uang muka merupakan pengikat atau tanda
7
sebagai pembayarannya yang uang muka itu merupakan bagian dari pembayaran
seluruh harga apabila transaksi dilanjutkan dan apabila transaksi tidak berlanjut.
Masyarakat perkotaan umumnya pada saat ini sedang giat-giatnya
melaksanakan pembangunan. Dengan cuaca yang sangat menyekat dan panas
seperti perkotaan sangat membutuhkan pendingin di dalam ruangan baik indoor
(di dalam ruangan) maupun outdoor (di luar ruangan). Dalam rangka mendukung
pembangunan ataupun hal lainnya sarana pendingin seperti AC (Air
Conditioner), kipas angin, dan alat-alat pendingin lainnya sangat berperan
penting untuk aktifitas manusia setiap harinya. Manusia dapat melakukan
transaksi jual beli AC untuk mencukupi salah satu kebutuhannya, tidak hanya
membelinya akan tetapi di era yang sangat modern ini, selain kita membeli AC
baru kita juga dapat melakukan penjualan AC bekas yang mungkin telah lama
tidak terpakai ataupun rusak, dalam hal ini kegiatan tersebut dapat dikatakan
sebagai ‚Track In‛.
Track in dapat juga digunakan dalam istilah jual beli AC (Air Conditioner)
bekas, atau daur ulang yang dapat dimanfaatkan lagi oleh produsen. Maraknya
Track in di zaman yang semakin berkembang dan canggih ini telah dikenal lama
oleh para pelaku penjual dan pembeli AC bekas, khususnya di daerah perkotaan
besar sering terjalin adanya transaksi seperti tersebut.
Di salah satu cabang Kapas Madya Surabaya khususnya di CV. Tanadi
8
yang dijual oleh konsumen terhadap produsen dengan biaya 400.000 rupiah per
unit AC, baik AC tersebut telah lama tidak terpakai, rusak, ataupun hanya
beberapa hari saja terpakainya.
Kemudian antara pihak penjual dan pihak yang akan membeli AC bekas ini
akan melakukan kesepakatan bersama dengan perjanjian tertulis yang telah
ditandatangani sesuai dengan kesepakatan bersama. Tetapi dalam hal pemberian
harga dan pengambilan barang akan terjadi seminggu setelah disepakatinya
kontrak tersebut.8 Masalah yang terjadi ketika kesepakatan yang terjalin antara
pihak ke-1 (CV. Tanadi) dan pihak ke-2(konsumen) dibatalkan secara sepihak
oleh pihak kedua dikarenakan adanya pihak ketiga yaitu pihak teknisi dari CV.
Tanadi. Hal demikian akan penulis bahas dan jabarkan dalam ‚Analisis Hukum
Islam terhadap Pembatalan Akad Track in oleh Pihak Kedua Kepada CV.
Tanadi Surabaya sebagai Pihak Pertama‛.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Identifikasi dan Batasan Masalah dilakukan untuk menjelaskan
kemungkinan-kemungkinan cakupan yang dapat muncul dalam penelitian dengan
8
9
melakukan identifikasi dan interventarisasi sebanyak-banyaknya kemungkinan
yang dapat diduga sebagai masalah yang akan didekati dan dibahas.9
Berdasarkan dari uraian latar belakang di atas, maka dapat diperoleh
identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Proses transaksi jual beli AC bekas atau lebih dikenalnya dengan sebutan
‚Track in‛.
2. Bentuk objek transaksi jual beli Track in.
3. Objek pemanfaatan berupa AC bekas.
4. Perolehan biaya transaksi Track in oleh konsumen.
5. Pembatalan akad atau kesepatan bersama dari pihak kedua yang dialihkan
kepada pihak ketiga.
6. Analisis hukum Islam terhadap praktek pembatalan akad Track in oleh pihak
kedua terhadap pihak pertama.
Agar lebih fokus dan memperoleh hasil yang baik dalam penelitian, juga
dikarenakan keterbatasan peneliti dalam beberapa hal maka penulis membatasi
penelitian dengan meneliti tentang :
1. Praktek pembatalan akad Track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi cabang
Kapas Madya Surabaya.
2. Analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad Track in oleh konsumen
kepada CV. Tanadi Surabaya.
9
10
C. Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian di atas, maka rumusan masalah yang tertulis di sini
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana praktek pembatalan akad Track in oleh konsumen kepada CV.
Tanadi Surabaya?
2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap pembatalan akad Track in oleh
konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya?
D. Kajian Pustaka
Kajian pustaka pada dasarnya adalah untuk mendapatkan gambaran
hubungan topik yang akan diteliti dengan penelitian sejenis yang sudah pernah
dilakukan pada penelitian sebelumnya, sehingga tidak ada pengulangan.10
Kajian Pustaka merupakan deskripsi ringkas tentang kajian atau penelitian
yang sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang akan diteliti. Secara umum
penyusun belum menemukan karya yang membahas tentang pembatalan kontrak
atau pembatalan akad jual beli Track In dalam penelitian yang berbentuk skripsi.
Berawal dari kajian yang ditulis oleh Depita N Pandiangan (2015) dengan
judul : Pembatalan Akta Jual Beli Tanah (Analisis Putusan Pengadilan Negeri
Semarang NO.190/PDT.G/2009/PN.Smg), skripsi ini membahas tentang
10
11
permasalahan yang dikaji (1) bagaimana proserdur pembatalan akta jual beli
tanah dalam putusan NO.190/PDT.G/2009/PN.Smg. (2) akibat hukum dari
pembatalan akta jual beli tanah dalam putusan NO.190/PDT.G/2009/PN.Smg.
hasil penelitian menunjukan bahwa pembatalan akta jual beli tanah diakibatkan
oleh cacat hukum yang dilakukan oleh kedua belah pihak sehingga
mengakibatkan tidak sah jual beli akta tanah tersebut.11
Yang kedua ditulis oleh Miftachul Jannah (2011) dengan judul : Tinjauan
Hukum Islam terhadap Pembatalan Jual Beli Tembakau (Studi Kasus di Desa
Morobongo Kecamatan Jumo Kabupaten Temangung ) skripsi ini membahas
tentang pembatalan jual beli tembakau dikarenakan ulah para petani yang
mencampurkan tembakau yang rusak atau cacat dengan tembakau yang masih
dalam kondisi baik, dan disitu para tengkulak tidak mau dikarenakan adanya
unsur tipuan dari para petani sedangkan dalam hukum Islam syarat sah dalam
jual beli harus diketahui jenis, kualitas, maupun kuantitasnya dan tidak
mengandung unsur tipuan.12
Sedangkan dalam skripsi ini penulis membahas tentang ‚Analisis Hukum
Islam Terhadap Pembatalan Akad Track In Oleh Konsumen Kepada CV. Tanadi
Surabaya‛. Maka penulisan ini berbeda dengan yang ditelusuri oleh peneliti di
atas mengenai objek yang dibahas dan diteliti, sehingga diharapkan tidak ada
12
pengolahan materi secara mutlak begitu juga terhadap prakteknya, berbeda
dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yang tidak hanya melihat dari segi
hukumnya saja akan tetapi dari segi manfaat dan madharatnya juga.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana praktek pembatalan akad Track in oleh
konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.
2. Untuk mengetahui bagaimana analisis hukum Islam terhadap pembatalan
akad Track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.
F. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian di atas, maka
diharapkan dengan adanya penelitian ini mampu memberikan manfaat bagi
pembaca maupun penulis sendiri, baik secara teoretis maupun secara praktis.
Secara umum, kegunaan penelitian yang dilakukan ini dapat ditinjau dari dua
aspek, yaitu:
13
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
memperluas wawasan terhadap pembatalan akad Track in oleh konsumen
kepada CV. Tanadi Surabaya
b. Diharapkan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya
dalam bidang muamalah yang berkaitan dengan akad Track in oleh
konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya.
2. Secara Praktis
Dapat dijadikan acuan oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan
akad Track in oleh konsumen kepada CV. Tanadi Surabaya., atau di tempat
lain untuk bermuamalah secara Islam.
G. Definisi Operasional
Agar dalam pembahasan selanjutnya tidak menimbulkan penyimpangan dari
arah penulisan tugas akhir ini, maka penulis akan menjelaskan tentang bagian
terpenting dari judul penelitian skripsi ini, yaitu ‚Analisis Hukum Islam
Terhadap Pembatalan Akad Track In oleh Konsumen Di CV. Tanadi Cabang
Kapas Madya Surabaya‛ Maka perlu dijelaskan beberapa istilah yang berkenaan
dengan judul di atas.
Analisis : Kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna
meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.13
14
Hukum Islam : Peraturan dan ketentuan yang berkenan dengan kehidupan
berdasarkan kitab al-Qur’an, Hadits, serta pendapat
fuqoha’.
Pembatalan : pembatalan yaitu proses, cara, perbuatan membatalkan,
pernyataan batal.14
Akad : akad yaitu janji, perjanjian; kontrak: jual beli.
Trade In : Trade in artinya tukar tambah. Namun istilah Trade in ini
sering disebut dengan istilah Track In yang sudah umum di
kalangan masyarakat untuk jual beli AC bekas.
H. Metode Penelitian
Agar penelitian berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang dapat
dipertanggungjawabkan maka penelitian ini memerlukan suatu metode tertentu.
Dalam melakukan penelitian ini peneliti menggunakan beberapa metode sebagai
berikut:
1. Lokasi penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yakni
penelitian yang dilakukan dalam kontek lapangan yang benar-benar terjadi
adanya Pembatalan Akad Track In oleh Konsumen CV. Tanadi Cabang
Kapas Madya Surabaya.
14
15
Selanjutnya, untuk dapat memberikan deskripsi yang baik, dibutuhkan
serangkaian langkah yang sistematis. Langkah-langkah tersebut terdiri atas:
data yang dikumpulkan, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik
pengolahan data, teknik analisis data, dan sistematika pembahasan.
2. Data yang dikumpulkan
Berdasarkan rumusan seperti yang telah dikemukakan di atas, maka data
yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut:
a. Latar Belakang terjadinya akad Track In
b. Terjadinya pembatalan akad
c. Data tentang akibat atau resiko tentang Pembatalan Akad Track In oleh
Konsumen CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya
3. Sumber Data
Data-data penelitian ini dapat diperoleh dari beberapa sumber data
sebagai berikut:
a. Sumber Primer, data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti15,
Dalam penelitian ini, yaitu sumber ini meliputi para pihak yang terlibat
dalam praktek Pembatalan Akad Track In oleh Konsumen CV. Tanadi
Cabang Kapas Madya Surabaya, diantaranya:
a) Pihak CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya
b) Teknisi dari CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya
16
c) Konsumen yang bertransaksi pada CV. Tanadi Cabang Kapas Madya
Surabaya
b. Sumber Sekunder, informasi yang telah dikumpulkan pihak lain16. Dalam
penelitian ini, merupakan data yang bersumber dari buku-buku;
catatan-catatan; publikasi atau dokumen tentang apa saja yang berhubungan
dengan penelitian, antara lain:
a) As-Sa’idi Abdullah bin Muhammad, ar-Riba> fil Mu’amalat Al
-Mashrafiyah Al-Mu’ashirah
b) Anwar Syamsul, Hukum Perjanjian Syariah
c) Basyir, Ahmad Azhar, Asas-asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata
Islam)
d) Sabiq Sayyid, Fiqih Sunnah Jilid 4
e) Syafe’i Rahmat, Fiqih Muamalah
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data
sebagai berikut:
a. Wawancara (interview)
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si
penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan
16 Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian-Buku Panduan Mahasiswa (Jakarta: PT.
17
interview guide (panduan wawancara)17. Dimana wawancara dilakukan
dengan bertanya langsung kepada pihak-pihak yang terkait misalnya
teknisi dari CV. Tanadi dan konsumen. Wawancara sebagai alat
pengumpul data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan
dengan sistematis dan berlandasaskan pada tujuan penelitian. Wawancara
yang peneliti lakukan, yaitu dengan:
a) CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya
b) Para pihak dari teknisi CV. Tanadi Cabang Kapas Madya Surabaya
c) Konsumen yang bertransaksi pada CV. Tanadi
b. Dokumentasi
Sebagai pelengkap dalam pengumpulan data maka penulis
menggunakan data dari sumber-sumber yang memberikan informasi
terkait dengan permasalahan yang dikaji. Seperti para pihak teknisi CV.
Tanadi, dan bagaimana cara bertransaksi antara konsumen dengan pihak
CV Tanadi.
5. Teknik Pengolahan Data
Data-data yang diperoleh dari hasil penggalian terhadap sumber-sumber
data akan diolah melalui tahapan-tahapan berikut:
a. Editing, yaitu memeriksa kembali lengkap atau tidaknya data-data yang
diperoleh dan memperbaiki bila terdapat data yang kurang jelas atau
18
meragukan18. Teknik ini betul-betul menuntut kejujuran intelektual
(intelectual honestly) dari penulis agar nantinya hasil data konsisten
dengan rencana penelitian.
b. Organizing, yaitu mengatur dan menyusun data sumber dokumentasi
sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh gambaran yang sesuai
dengan rumusan masalah, serta mengelompokkan data yang diperoleh19.
Dengan teknik ini diharapkan penulis dapat memperoleh gambaran secara
jelas tentang praktikTrack In oleh konsumen di CV. Tanadi Cabang
Kapas Madya Surabaya.
c. Analyzing, yaitu dengan memberikan analisis lanjutan terhadap hasil
editing dan organizing data yang telah diperoleh dari sumber-sumber
penelitian, dengan menggunakan teori dan dalil-dalil lainnya, sehingga
diperoleh kesimpulan20.
6. Teknik Analisis Data
Hasil dari pengumpulan data tersebut akan dibahas dan kemudian
dilakukan analisis secara kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang dapat diamanati dengan metode yang telah ditentukan.
18Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 125.
19
a. Analisis Deskriptif, yaitu dengan cara menuturkan dan menguraikan serta
menjelaskan data yang terkumpul. Tujuan metode ini adalah untuk
membuat deskripsi atau gambaran mengenai objek penelitian secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan antar fenomena yang telah diselidiki21. Metode ini digunakan
untuk memberikan penjelasan lebih jelas lagi mengenai pembatalan akad
Track In oleh konsumen di CV. Tanadi.
b. Pola Pikir Deduktif, dalam penelitian ini penulis menggunakan pola pikir
induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta yang
bersifat khusus kemudian diteliti dan akhirnya dikemukakan pemecahan
persoalan yang bersifat umum22. Pola pikir ini digunakan untuk
mengemukakan fakta-fakta dari hasil penelitian yang kemudian di CV.
Tanadi cabang Kapas Madya Surabaya analisis secara umum menurut
hukum Islam.
I. Sistematika Pembahasan
Sistematika Pembahasan memuat suatu uraian yang akan menggambarkan
alur logis dari struktur penelitian yang akan dibahas selanjutnya.23
21 Moh, Nazir, Metode Penelitian (Bogor : Penerbit Ghalia Indonesia, 2005), 63. 22 Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Gajah Mada University, 1975), 16.
23
20
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai sistematika pembahasan
dalam skripsi nanti, penulis membagi dalam lima bab yang terdiri dari beberapa
sub bab, yaitu sebagai berikut :
Bab pertama berisi pendahuluan. Dalam bab ini menguraikan tentang latar
belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian
pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, dan
sistematika pembahasan.
Bab kedua berisikan tentang landasan teori yang berkaitan dengan
pembatalan akad. Dan landasan teori yang berkaitan dengan pengertian jual beli ,
Dasar hukum dari jual beli, syarat dan rukun jual beli, dan bentuk-bentuk jual
beli yang dilarang.
Bab ketiga yang berisikan gambaran umum tentang praktek Track in oleh
konsumen pada CV. Tanadi dan juga membahas mengenai profit CV. Tanadi.
Bab keempat ini berisikan uraian analisis dari praktek pembatalan akad
Track In antara dua pihak yang telah bersepakat kemudian batal dengan
disebabkan oleh pihak ketiga.
Bab kelima merupakan akhir dari penyusunan skripsi yang berisikan
BAB II JUAL BELI
A. Pengertian Akad
Kata akad berasal dari kata bahasa Arab دقع - ادقع yang berarti, membangun
atau mendirikan, memegang, perjanjian, percampuran, menyatukan.24 Bisa juga
berarti kontrak (perjanjian yang tercacat).2 Sedangkan menurut al-Sayyid Sabiq
akad berarti ikatan atau kesepakatan.
Secara etimologi akad adalah ikatan antara dua perkara, baik ikatan secara
nyata maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi maupun dari dua segi.25
Secara terminologi, ulama fiqih membagi akad dilihat dari dua segi, yaitu
secara umum dan secara khusus. Akad secara umum adalah segala sesuatu yang
dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri, seperti wakaf, talak,
pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua
orang, seperti jual-beli, perwakilan dan gadai. Pengertian akad secara umum di
atas adalah sama dengan pengertian akad dari segi bahasa menurut pendapat
ulama Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah.26 Pengertian akad secara khusus
adalah pengaitan ucapan salah seorang yang berakad dengan yang lainnya secara
syara’ pada segi yang tampak dan berdampak pada objeknya.
24Louis Ma’luf,
Al-Munjid fi al-Lughat wa al-‘Alam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986) 518. 25
Wahbah Al-Juhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1989), 80. 2626Rachmad Syafe’I,
23
B. Syarat Akad
Ada beberapa syarat yang berkaitan dengan akad,27 yaitu:
1. Syarat terjadinya akad
Syarat terjadinya akad adalah segala sesuatu yang disyaratkan untuk
terjadinya akad secara syara’. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, akad
menjadi batal.
Syarat ini terbagi atas dua bagian:
a. Syarat Obyek akad, yakni syarat-syarat yang berkaitan dengan obyek
akad. Obyek akad bermacam-macam, sesuai dengan bentuknya. Dalam
akad jual-beli, obyeknya adalah barang yang yang diperjualbelikan dan
harganya.
1) Telah ada pada waktu akad diadakan.
2) Dapat menerima hukum akad.
3) Dapat diketahui dan diketahui
4) Dapat diserahkan pada waktu akad terjadi.
b. Syarat subyek akad, yakni syarat-syarat yang berkaitan dengan subyek
akad. Dalam hal ini, subyek akad harus sudah aqil (berkal), tamyiz (dapat
membedakan), mukhtar (bebas dari paksaan). Selain itu, berkaitan dengan
orang yang berakad, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:28
27
Siti Nur Fatoni, Pengantar Ilmu Ekonomi (Dilengkapi dasar-dasar ekonomi Islam),Cet. Ke-1, (Bandung: Pustaka Setia, 2014), 62.
28 Gemala Dewi, et. al, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, ed. I, (Jakarata:Kencana, cet. Ke-1,
24
1) Kecakapan (ahliy>ah), adalah kecakapan seseorang untuk memiliki
hak (ahliy>atul wuju>b) dan dikenai kewajiban atasnya dan kecakapan
melakukan tasarruf (ahjliy>atul ada’).
2) Kewenangan (wilaya>h), adalah kekuasaan hukum yang pemiliknya
dapat beratasharruf dan melakukan akad dan menunaikan segala
akibat hukum yang ditimbulkan.
3) Perwakilan (wakalah) adalah pengalihan kewenagan perihal harata
dan perbuatan tertentu dari seseorang kepada orang lain untuk
mengambil tindalan tertentu dalam hidupnya.
2. Syarat kepastian hukum (luzum)
Dasar dalam akad adalah kepastian. Di antara syarat luzum dalam
jual-beli adalah terhindarnya dari beberapa khiyar jual-jual-beli, seperti khiyar syarat,
khiyar aib, dan lain-lain.
C. Rukun-Rukun Akad
Rukun-rukun akad adalah sebagai berikut29:
1. Orang yang berakad (‘aqid), contoh: penjual dan pembeli. Al-aqid adalah
orang yang melakukan akad. Keberadaannya sangat penting karena tidak
akan pernah terjadi akad manakala tidak ada aqid.
2. Sesuatu yang diakadkan (ma’qud alaih), contoh: harga atau barang.
(al-Ma’qud Alaih) adalah objek akad atau benda-benda yang dijadikan akad yang
25
bentuknya tampak dan membekas. Barang tersebut dapat berbentuk harta
benda, seperti barang dagangan, benda bukan harta seperti dalam akad
pernikahan, dan dapat pula berbentuk suatu kemanfaatan seperti dalam
masalah upah-mengupah dan lain-lain.
3. Shighat, yaitu ijab dan qobul. Sighat akad adalah sesuatu yang disandarkan
dari dua belah pihak yang berakad, yang menunjukkan atas apa yang ada di
hati keduanya tentang terjadinya suatu akad. Hal ini dapat diketahui dengan
ucapan, perbuatan, isyarat, dan tulisan.30
a. Akad dengan ucapan (lafadz) adalah sighat akad yang paling banyak
digunakan orang sebab paling mudah digunakan dan paling mudah
dipahami. Dan perlu ditegaskan sekali lagi bahwa penyampaian akad
dengan metode apapun harus disertai dengan keridlaan dan memahamkan
para aqid akan maksud akad yang diinginkan.
b. Akad dengan perbuatan adalah akad yang dilakukan dengan suatu
perbuatan tertentu, dan perbuatan itu sudah maklum adanya.
Sebagaimana contoh penjual memberikan barang dan pembeli
menyerahkan sejumlah uang, dan keduanya tidak mengucapkan sepatah
katapun. Akad semacam ini sering terjadi pada masa sekarang ini.namun
menurut pendapat imam Syafi’i, akad dengan cara semacam ini tidak
30
26
dibolehkan. Jadi tidak cukup dengan serah-serahan saja tanpa ada kata
sebagai ijab dan qabul.31
c. Akad dengan isyarat adalah akad yang dilakukan oleh orang yang tuna
wicara dan mempunyai keterbatan dalam hal kemampuan tulis-menulis.
Namun apabila dia mampu untuk menulis, maka dianjurkan agar
menggunakan tulisan agar terdapat kepastian hukum dalam perbuatannya
yang mengharuskan adanya akad.
d. Akad dengan tulisan adalah akad yang dilakukan oleh Aqid dengan
bentuk tulisan yang jelas, tampak, dapat dipahami oleh para pihak, baik
dia mampu berbicara, menulis dan sebagainya, karena akad semacam ini
dibolehkan. Namun demikian menurut ulama syafi’iyyah dan hanabilah
tidak membolehkannya apabila orang yang berakad hadir pada waktu
akad berlangsung.
D. Pengertian Jual Beli
Sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT, bahwa manusia tidak mungkin
memenuhi kebutuhannya sendiri, apalagi di zaman yang semakin modern yang
membutuhkan bermacam-macam dan berbagai kebutuhan, baik mengenai
kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohaninya. Dan semakin lama manusia
semakin maju juga, sehingga pada waktu ini orang dapat menukar barang dengan
uang dan malahan menukar kertas berharga dengan uang, dan lain sebagainya
27
sehingga pertukaran terjadi semakin lancar. Sejak mula, Islam telah mengatur
lalu lintas dagang yang dinamakan al-bai’ was syira>i yang berarti jual beli
Jual beli atau perdagangan dalam istilah fiqh disebut al-bai’ yang menurut
etimologi berarti menjual atau mengganti. Wahbah al-Zuhaily32 mengartikannya
secara bahasa dengan ‚menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain‛. Kata al-bai’
dalam bahasa arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yaitu kata
al-syira’ (beli). Dengan demikian, kata al-bai’ berarti jual, tetapi sekaligus juga
berarti beli.33
Dengan demikian perkataan jual beli menunjukkan adanya dua perbuatan
dalam satu peristiwa, yaitu satu pihak menjual dan di pihak lain membeli, maka
dalam hal inilah terjadinya suatu peristiwa hukum jual beli.
Secara terminologi, terdapat beberapa definisi jual beli yang dikemukakan
para ulama fiqh, sekalipun substansi dan tujuan masing-masing definisi sama.
Sayyid Sabiq,34 mendefinisikannya dengan :
ٍلاَم ةلداَبُم
.ِيِف َنْوُذْأمْا ِْجَولا ىلع ٍضوِعب ٍكلم ُلْقَ ن وا ,ىضاَرَ تلا ِليبس َىلع ٍلاِِ
Jual beli ialah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan.
Atau, memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.
32 Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2005, jilid
V, cet. Ke-8, hal: 3304.
33 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, serta Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalat, Jakarta: Kencana,
2010, cet. 1, hal: 67.
28
Dalam definisi di atas terdapat kata ‚harta‛, ‚milik‛, ‚dengan‛, ‚ganti‛ dan
‚dapat dibenarkan‛ (al-ma’dzunfih). Yang dimaksud harta dalam definisi di atas
yaitu segala yang dimiliki dan bermanfaat, maka dikecualikan yang bukan milik
dan tidak bermanfaat; yang dimaksud milik agar dapat dibedakan dengan yang
bukan milik; yang dimaksud dengan ganti agar dapat dibedakan dengan hibah
(pemberian); sedangkan yang dimaksud dapat dibenarkan (al-ma’dzun fih) agar
dapat dibedakan dengan jual beli yang terlarang.
Definisi lain dikemukakan oleh ulama mazhab Hanafi yang dikutip oleh
Wahbah al-Zuhaily,35 jual beli adalah :
. ٍصوصخ ٍدَيَقُم ٍجو ىلع ِلثِ ِيف ٍبْوُغْرَم ٍئيَش ُةلدابم وَأ ,ٍصوصخ ٍجو ىلع ٍلاِ ٍلام ةلدابم
Saling tukar harta dengan harta melalui cara tertentu. Atau, tukar-menukar
sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang
bermanfaat.
Dalam definisi tersebut terkandung pengertian ‚cara yang khusus‛, yang
dimaksudkan ulama Hanafiyah dengan kata-kata tersebut adalah melalui ijab dan
Qabul, atau juga boleh melalui saling memberikan barang dan harga dari penjual
dan pembeli. Di samping itu, harta yang diperjualbelikan harus bermanfaat bagi
manusia, sehingga bangkai, minuman keras, dan darah tidak termasuk dalam
sesuatu yang diperbolehkan untuk diperjualbelikan, karena benda-benda tersebut
35
Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2005, jilid
29
tidak bermanfaat bagi umat muslim. Apabila jenis-jenis barang seperti itu tetap
diperjualbelikan, menurut ulama Hanafiyah, jual belinya tidak sah.36
Definisi lain yang dikemukakan Ibnu Qudamah (salah seorang ulama
mazhab Maliki), kemudian ulama mazhab Syafii’i, dan ulama mazhab Hambali
yang juga dikutip oleh Wahbah al-Zuhaily,37 jual beli adalah :
ماِب ِلاما ُةلدابم
لََََو ًااْيِلََْ لا
ًاا
Saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan
pemilikan.
Dalam definisi ini ditekankan kata ‚milik dan pemilikan‛, karena ada juaga
tukar-menukar harta yang sifatnya tidak harus dimiliki, seperti sewa-menyewa
(al-ijarah).
Adapun jual beli menurut syariah yaitu kesepakatan tukar-menukar benda
untuk memiliki benda tersebut selamanya.38
Abu Sura’i Abdul Hadi, dalam bukunya ‚Bunga Bank dalam Islam‛
mengemukakan, pada dasarnya jual beli adalah halal. Artinya bahwa jual beli
adalah salah satu bentuk transaksi yang dibenarkan selama berjalan pada asas
yang benar sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan agama.39
36
Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, serta Sapiudin Shidiq, Fiqh Muamalat, Jakarta: Kencana, 2010, cet. 1, hal: 68.
37
Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2005, jilid
V, cet. Ke-8.
38
Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, Jakarta: Penebar Salam, cet. IV, 1999. 39
30
E. Dasar hukum Jual Beli
Jual beli sebagai sarana tolong-menolong antara sesama umat manusia yang
mempunyai landasan yang kuat dalam Alquran dan sunah Rasulullah saw.
Terdapat beberapa ayat al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. yang berbicara
tentang jual beli, diantaranya sebagai berikut:
1. Alquran
Dalil hukum jual beli di dalam al-Qur’an, diantaranya terdapat pada
ayat-ayat berikut ini:
Surat Albaqarah ayat 275:
… ... : ةرقبلا( )
Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS Al-Baqarah : 275)
Surat Annisa’ ayat 29:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah
31
2. Sunah
a. Dalam hadis juga disebutkan tentang diperbolehkannya jual beli,
sebagaimana hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Rifa’ah ibn
Rafi’ yaitu :
لص يَنلا َلِئُس : ْنَع ُه يضَر ٍعْيِفَر ِنْب َةَعافِر نَع
ِبْسَالا يَأ ملسو يلع ه ى
؟ ُبَيْطَأأ
.)مكاحاو رَزبا اور( .ٍرْوُرْ بَم ٍعْيَ ب لُكو ِِدَيِب ِلُجَرلا ُلَمَع :َلاَقف
Dari Rifa’ah bin Rafi’ r.a (katanya): Sesungguhnya Nabi Muhammad, pernah ditanyai, manakah usaha yang paling baik? Beliau menjawab: ialah amal usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang bersih‛. (HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim)40
Artinya jual beli yang jujur, tanpa diiringi kecurangan-kecurangan,
mendapat berkat dari Allah. Maksud mabrur dalam hadits di atas adalah
jual beli yang terhindar dari tipu menipu dan merugikan orang lain.
b. Hadis dari al-Baihaqi, Ibn Majah dan Ibn Hibban, yang mana jual beli itu
harus saling rida. Rasulullah menyatakan :
.)ىقَهْ يَ بْلا اور( ٍضَرَ ت ْنَع ُعْيَ بلْا اَََِإ
Sesungguhnya jual beli itu didasarkan atas suka sama suka (rida). (HR.
Al-Baihaqi)41
c. Hadis yang diriwayatkan al-Tirmizi, Rasulullah Saw bersabda:
ِّصلاَو َِّْْيِبَنلا َعَم ُِْْمَأْا ُقْوُدَصلا ُر ِجاَتلَأ
ِءاَدَه شلاو َِْْقْيِّد
.)يدمرلا اور(
40 As Shan’ani,
Subulus Salam III, Terj. Abu Bakar Muhammad, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1995), 14.
41
32
Pedagang yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya di surga) dengan para Nabi, Shiddiqin, dan Syuhada‛. (HR. At-Tirmidi)
3. Ijma’
Dalil kebolehan jual beli menurut ijma’ ulama adalah ulama telah sepakat
bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan
mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun
demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu,
harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.
F. Rukun dan Syarat Jual Beli
Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli
itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat
perbedaan pendapat ulama mazhab Hanafi dengan jumhur ulama. Rukun jual beli
menurut ulama mazhab Hanafi hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari
pembeli) dan qabul (ungkapan menjual dari penjual).42
Menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah
kerelaan/rida kedua belak pihak. Akan tetapi, karena unsur kerelaan itu
merupakan unsur hati yang sulit untuk diindera sehingga tidak kelihatan, maka
diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan itu dari kedua belah pihak.
Indikasi yang menunjukkan kerelaan dari kedua belah pihak yang melakukan
42
33
transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar dalam ijab dan qabul, atau
melalui cara saling memberikan barang dan harga barang.43
Menurut jumhur ulama rukun jual beli itu ada empat, yaitu:
a. Orang yang berakad (penjual dan pembeli)
b. Sighat (lafadz ijab dan qabul)
c. Objek jual beli (barang dan atau uang)
d. Ada nilai tukar pengganti barang.
Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad, barang yang
dibeli, dan nilai tukar barang termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan
rukul jual beli.
Selain itu, dalam jual beli juga terdapat beberapa syarat yang mempengaruhi
sah tidaknya akad tersebut. Diantaranya adalah syarat yang diperuntukkan bagi
dua orang yang melaksanakan akad. diantaranya adalah syarat yang
diperuntukkan untuk barang yang akan dibeli, jika salah satu darinya tidak ada,
maka akad jual beli tersebut dianggap tidak sah.44
Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang
dikemukakan jumhur ulama’ diatas adalah sebagai berikut :
1) Syarat orang yang berakad
Para ulama fiqih sepakat, bahwa orang yang melakukan akad jual beli
harus memenuhi syarat sebagai berikut :
43
Ibid, 115.
44
34
a) Berakal. Dengan demikian, jual beli yang dilakukan anak kecil yang
belum berakal hukumnya tidak sah. Anak kecil yang sudah mumayyiz
(menjelang baligh), apabila akad yang dilakukannya membawa
keuntungan baginya, maka akad tersebut sah menurut Mazhab Hanafi.
b) Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Maksudnya,
seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai
penjual, sekaligus pembeli.
c) Balig atau dewasa. Dewasa dalam hukum Islam adalah apabila telah
berumur 15 tahun, atau telah bermimpi (bagi anak laki-laki) dan haid
(bagi anak perempuan), dengan demikian jual beli yang dilakukan oleh
anak kecil tersebut adalah tidak sah.
2) Syarat yang terkait dengan ijab qabul
Para ulama fikih sepakat bahwa unsur utama dari jual beli yaitu kerelaan
dari kedua belah pihak. Kerelaan dari kedua belah pihak dapat dilihat dari
ijab dan qabul yang dilangsungkan. Menurut mereka ijab dan qabul perlu
diungkapkan secara jelas dalam transaksi-transaksi yang bersifat mengikat
kedua belah pihak, seperti akad jual beli, sewa-menyewa, dan nikah.
Terhadap transaksi yang sifatnya mengikat salah satu pihak, seperti wasiat,
35
saja. Bahkan menurut Ibn Taimiyah (ulama fikih Hanbali) dan ulama lainnya
ijab pun tidak diperlukan dalam masalah wakaf.45
Apabila ijab dan qabul telah diucapkan dalam akad jual beli maka
pemilikan barang atau uang telah berpindah tangan dari pemilik semula.
Barang yang dibeli berpindah tangan menjadi milik pembeli, dan nilai/uang
berpindah tangan menjadi milik penjual.
Untuk itu para ulama fikih mengemukakan bahwa syarat ijab dan qabul
itu sebagai berikut :
a. Orang yang mengucapkan telah balig dan berakal, menurut jumhur ulama,
atau telah berakal menurut ulama mazhab Hanafi, sesuai dengan
perbedaan mereka dalam syarat-syarat orang yang melakukan akad yang
disebutkan di atas.
b. Qabul sesuai dengan ijab. Misalnya penjual mengatakan: ‚Saya jual buku
ini seharga Rp; 20.000,-‚, lalu pembeli menjawab: ‚Saya beli buku ini
dengan harga Rp; 20.000,-‛. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai
maka jual beli tidak sah.
c. Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis. Artinya, kedua belah
pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama.
Apabila penjual mengucapkan ijab, lalu pembeli berdiri sebelum
mengucapkan qabul atau pembeli mengerjakan aktivitas lain yang tidak
45
36
terkait dengan masalah jual beli kemudian ia ucapkan qabul, maka
menurut kesepakatan ulama fikih jual beli ini tidak sah sekalipun mereka
berpendirian bahwa ijab tidak harus dijawab langsung dengan qabul.
Dalam kaitan ini, ulama mazhab Hanafi dan mazhab Maliki mengatakan
bahwa antara ijab dan qabul boleh saja diantarai oleh waktu yang
diperkirakan bahwa pihak pembeli sempat untuk berpikir. Namun ulama
mazhab syafi’i dan mazhab Hambali berpendapat bahwa jarak antara ijab
dan qabul tidak terlalu lama yang dapat menimbulkan dugaan bahwa
objek pembicaraan telah berubah.46
Di zaman modern perwujudan ijab dan qabul tidak lagi diucapkan
tetapi dilakukan dengan sikap mengambil barang dan membayar uang
oleh pembeli serta menerima uang dan menyerahkan barang oleh penjual
tanpa ucapan apapun. Misalnya jual beli yang berlangsung di swalayan.
Dalam fikih Islam, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ al-mu’athah.
Dalam kasus perwujudan ijab dan qabul melalui sikap ini (bai’ al
-mu’athah) terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Jumhur
ulama berpendapat bahwa jual beli seperti ini hukumnya boleh apabila
hal ini telah merupakan kebiasaan suatu masyarakat di suatu negeri
karena hal ini telah menunjukkan unsur saling rela dari dari kedua belah
pihak. Menurut mereka di antara unsur terpenting dalam transaksi jual
46
37
beli yaitu suka sama suka (antaradin) sesuai dengan kandungan surat
Annisa’ ayat 29 dalam uraian lalu. ‚Sikap mengambil barang dan
membayar harga barang oleh pembeli menurut mereka telah menunjukkan
ijab dan qabul dan telah mengandung unsur kerelaan‛.47
Akan tetapi ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa transaksi jual beli
harus dilakukan dengan ucapan yang jelas atau sindiran melalui ijab dan
qabul. Oleh sebab itu menurut mereka jual beli seperti kasus diatas (bai’
al-mu’athah) hukumnya tidak sah, baik jual beli dalam partai besar
ataupun kecil. Alasan mereka adalah unsur utama jual beli adalah
kerelaan kedua belah pihak. Unsur kerelaan menurut mereka adalah
masalah yang amat tersembunyi dalam hati karenanya perlu diungkapkan
dengan kata-kata ijab dan qabul apalagi persengketaan dalam jual beli
dapat terjadi dan berlanjut ke pengadilan.48
Akan tetapi sebagian ulama mazhab Syafi’i yang muncul belakangan
seperti Imam al-Nawawi seorang fakih dan muhaddis mazhab Syafi’i dan
al-Baghawi seorang mufasir mazhab Syafi’i menyatakan bahwa jual beli
al-mu’athah adalah sah apabila hal itu sudah merupakan kebiasaan di
daerah tertentu.
47
Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, Cet. II, 2007).
48
38
Jadi pada intinya mengenai syarat yang terkait pada ijab dan qabul
yakni:49
a. Pernyataan qabul sesuai dengan kandungan pernyataan ijab,
maksudnya penjual menjawab setiap hal yang harus dikatakan dan
mengatakannya.
b. Ijab dan qabul dinyatakan di satu tempat. Konkritnya, kedua pelaku
transaksi hadir bersama di tempat transaksi atau transaksi
dilangsungkan di satu tempat dimana pihak yang absen mengetahui
terjadinya pernyataan ijab.
3) Syarat objek jual beli
a. Suci
Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk
dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disamak.
b. Bermanfaat
Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dilarang
pula mengambil tukarannya karena hal itu termasuk dalam arti
menyia-nyiakan (pemborosan).
c. Barang itu dapat diserahkan
Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada
yang membeli, misalnya ikan dalam air laut.
49
39
d. Barang tersebut merupakan kepunyaan penjual
Barang yang diperjualbelikan adalah milik penjual.
e. Barang tersebut diketahui oleh penjual dan pembeli
Zat, bentuk, kadar (ukuran), dan sifat-sifatnya jelas sehingga antara
keduanya tidak akan terjadi kecoh mengecoh.50
4) Syarat nilai tukar
Termasuk unsur penting dalam jual beli adalah nilai tukar dari
barang yang dijual (untuk zaman sekarang adalah uang).
G. Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang
Jual beli yang dilarang terbagi menjadi dua: Pertama, jual beli yang dilarang
dan yang hukumnya tidak sah (batal), yaitu jual beli yang tidak memenuhi syarat
dan rukunnya. Kedua, jual beli yang hukumnya sah tetapi dilarang, yaitu jual beli
yang telah memenuhi syarat dan rukunnya, tetapi ada beberapa faktor yang
menghalangi kebolehan proses jual beli.
1. Jual beli terlarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun. Bentuk jual beli
yang termasuk dalam kategori ini sebagai berikut:
a. Jual beli barang yang zatnya haram, najis, atau tidak boleh
diperjualbelikan.51 Barang yang najis atau haram dimakan haram juga
50
Amir Syarifudin, Garis-garis Besar Fiqh, (Bogor: Kencana, 2003), 196.
51
40
untuk diperjualbelikan, seperti babi, bangkai, dan khamar (minuman yang
memabukkan).
Rasulullah Saw bersabda :
ْمِهْيَلَع َمَرَح ٍئْيَش َلْكَأ ٍمْوَ ق َىلع َمَرَح اذِا َّّا َنِإ
.)دمأو دواد وبأ اور( َُنَََ
Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan memakan sesuatu maka Dia mengharamkan juga memperjualbelikannya. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Dalam hadis lain disebutkan :
َنِإ
َ ب َمَرح َُلوُسَرو َه
مَحَو ِةَتْيَمْلاَو ِرْمَْْا َعْي
ْصَأاَو ِرْيِزْنِْْ
)ملسم و ىراخبلا اور( ِماَن
Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjual arak, bangkai, babi, dan berhala‛ (HR. Bukhori Muslim).
b. Jual beli yang belum jelas
Sesuatu yang bersifat spekulasi atau samar-samar haram untuk
diperjualbelikan karena dapat merugikan salah satu pihak baik penjual
maupun pembelinya. Yang dimaksud dengan samar-samar adalah tidak
jelas, baik barangnya, harganya, kadarnya, masa pembayarannya, maupun
ketidakjelasan yang lainnya.
Jual beli yang dilarang karena samar-samar antara lain:52
1. Jual beli buah-buahan yang belum nampak hasilnya, misalnya menjual
putik mangga untuk dipetik kalau telah tua/masak nanti.
52
41
2. Jual beli barang yang belum tampak. Misalnya, menjual ikan di
kolam/laut, menjual ubi/singkong yang masih ditanam, menjual anak
ternak yang masih dalam kandungan induknya. Berdasarkan sabda
Nabi Saw,:
اور( َِْْماَضَمْلا ِعْيَ ب ْنَع ىَهَ ن ملسو يلع ه ىلص َينلا َنَأ نع ُه َيضر َةَرْ يَرُ ْيَأ نع
)ْرَزَ بْلَا
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi melarang
memperjualbelikan anak hewan yang masih dalam kandungan induknya. (HR. Al-Bazzar)
c. Jual beli bersyarat
Jual beli yang ijab qabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu
yang tidak ada kaitannya dengan jual beli atau unsur-unsur yang
merugikan dilarang oleh agama. Contoh jual beli bersyarat yang dilarang,
misalnya ketika terjadi ijab dan qabul si pembeli berkata: ‚Baik, mobilmu
akan kubeli sekian dengan syarat anak gadismu harus menjadi istriku‛.
Atau sebaliknya si penjual berkata: ‚Ya, saya jual mobil ini kepadamu
sekian asal anak gadismu menjadi istriku‛.
Dalam kaitan ini Nabi Saw bersabda:
) يلع قفتم( ٍطْرَش َةَئاِم َناَك ْنِإَو ٌلِطَاب َوُهَ ف َلَجَوَزَع ِه ِبَاتِك ِى َسْيَل ٍطْرَش لُك
42
d. Jual beli yang menimbulkan kemudharatan
Segala sesuatu yang dapat menimbulkan kemudharatan,
kemaksiatan, bahkan kemusrikan dilarang untuk diperjualbelikan, seperti
jual beli patung, salib, dan buku-buku bacaan porno. Memperjualbelikan
barang-barang ini dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan maksiat.
Sebaliknya, dengan dilarangnya jual beli barang ini, maka hikmahnya
minimal dapat mencegah dan menjauhkan manusia dari perbuatan dosa
dan maksiat.
e. Jual beli yang dilarang karena dianiaya
Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan
hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang masih
membutuhkan (bergantung) kepada induknya. Menjual binatang seperti
ini selain memisahkan anak dari induknya juga melakukan penganiayaan
terhadap anak binatang ini.53
f. Jual beli muhaqalah
Jual beli muhaqalah, yaitu menjual tanam-tanaman yang masih di
sawah atau di ladang. Hal ini dilarang agama karena jual beli ini masih
samar-samar (tidak jelas) dan mengandung tipuan.
g. Jual beli mukhadharah
53
43
Jual beli mukhadharah yaitu menjual buah-buahan yang masih hijau
(belum pantas di panen). Seperti menjual rambutan yang masih hijau,
mangga yang masih kecil-kecil.
Hal tersebut dilarang agama karena barang ini masih samar, dalam
artian mungkin saja buah ini jatuh tertiup angin kencang atau layu
sebelum diambil oleh pembelinya.
h. Jual beli mula>masah
Jual beli mula>masah yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh.
Misalnya, seseorang menyentuh sehelai kain dengan tangannya diwaktu
malam atau siang hari maka orang yang menyentuh berarti telah membeli
kain ini. Hal ini dilarang agama karena mengandung tipuan dan
kemungkinan akan menimbulkan kerugian dari salah satu pihak.
i. Jual beli munabadzah54
Jual beli munabadzah, yaitu jual beli secara lempar-melempar.
Seperti seseorang berkata: ‚Lemparkan kepadaku apa yang ada padamu,
nanti kulemparkan pula kepadamu apa yang ada padaku‛. Setelah terjadi
lempar-melempar terjadilah jual beli. Hal ini dilarang oleh agama karena
mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan qabul.
54
44
j. Jual beli muzabanah
Jual beli muzabanah, yaitu menjual buah basah dengan buah yang
kering. Seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah sedang
ukurannya dengan ditimbang (dikilo) sehingga akan merugikan pemilik
padi kering.
2. Jual beli terlarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak-pihak terkait.
a. Jual beli dari orang yang masih dalam tawar-menawar55
Apabila ada dua orang masih tawar-menawar atas sesuatu barang,
maka terlarang bagi orang lain membeli barang itu sebelum penawar
pertama diputuskan.
b. Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar
Maksudnya adalah menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar
dapat membelinya dengna harga murah sehingga Ia kemuadian menjual di
pasar dengan harga yang juga lebih murah. Tindakan ini dapat merugikan
para pedagang lain terutama yang belum mengetahui harga pasar. Jual
beli seperti ini dilarang karena dapat mengganggu kegiatan pasar
meskipun akadnya sah.
c. Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun kemudian akan
dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut. Jual beli
55
45
seperti hal tersebut dilarang karena menyiksa pihak pembeli disebabkan
mereka tidak memperoleh barang keperluannya saat harga masih standar.
d. Jual beli barang rampasan atau curian.
Jika si pembeli telah tahu bahwa barang itu barang curian atau
rampasan maka keduanya telah bekerja sama dalam perbuatan dosa. Oleh
karena itu, jual beli semacam ini dilarang.
Di dalam buku Fikih Muamalah yang di tuliskan oleh Abdul Rahman
Ghazaly, bahwasanya beliau menjabarkan dengan perincian jual beli ada yang
diperbolehkan dan juga ada yang dilarang, ada juga yang batal dan ada pula yang
terlarang tapi sah.56
Jual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut :
1. Barang yang dihukumkan najis oleh agama, seperti anjing, babi, berhala,
bangkai, dan khamar.
2. Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan
dengan betina agar dapat memperoleh keturunan.
3. Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya. Jual beli
seperti ini dilarang karena barangnya belum ada dan tidak tampak.
4. Jual beli dengan muhaqallah. baqallah berarti tanah, sawah dan kebun.
Maksud disini ialah menjual tanam-tanaman yang masih di ladang atau di
sawah. Hal ini dilarang oleh agama sebab ada persangkaan riba di dalamnya.
56
46
5. Menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjualbelikan.
6. Jual beli gharar, yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan
terjadi penipuan, seperti menjual ikan yang masih di dalam kolam atau
menjual kacang tanah yang atasnya kelihatan bagus tetapi di bawahnya
jelek.
Di dalam kitab Bulughul Maram I yang diterjemahkan oleh Kahar Masykur
dijelaskan bahwa penjual yang melakukan penipuan akan mengalami dua
kecelakaan, yaitu:
a. Di dunia pembelinya akan makin berkurang dan akhirnya dagangannya
bangkrut atau gulung tikar.
b. Di akhirat akan menghadapi pengadilan Allah Swt. sehingga tiap pembeli
yang dirugikannya dahulu akan menerima hak dan anti secukupnya, yaitu
jika ia mempunyai pahala, maka dibayar dengannya. Akan tetapi jika
tidak ada lagi, maka diambil dosa pembelinya seimbang dengan dosa
yang ditimbulkan penipuannya. Karena dosa penipuan tidak akan
terhapus dengan melakukan taubat nasuha tetapi harus direlakan oleh
yang berhak.57
7. Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual, seperti
seseorang menjual sesuatu dari benda itu ada yang dikecualikan salah
satu bagiannya, misalnya A menjual seluruh pohon-pohonan yang ada di
57
47
kebunnya, kecuali pohon pisang. Jual beli ini sah sebab yang
dikecualikannya jelas. Namun, bila yang dikecualikannya tidak jelas
(majhul), maka jual beli tersebut batal.
8. Menjual makanan hingga dua kali ditakar.
Selain itu ada beberapa macam jual beli yang dilarang oleh agama tetapi
sah hukumnya, tetapi orang yang melakukannya mendapat dosa. Jual beli
tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk ke pasar untuk membeli
benda-bendanya dengan harga yang semurah-murahnya, sebelum mereka tau
harga pasaran, kemudian ia jual dengan harga yang setinggi-tingginya. Akan
tetapi jika orang kmapung sudah mengetahui harga pasaran, jual beli seperti
ini tidak apa-apa.
2. Menawar barang yang sedang ditawar orang lain.
3. Jual beli dengan Najasyi, ialah seseorang yang menambah atau melebihi
harga temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang itu
mau membeli barang kawannya.
4. Menjual di atas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata:
‚Kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau beli
dengan harga yang lebih murah dari itu‛.58
58
48
Sedangkan Imam Hanafi membagi kategori jual beli yang diperbolehkan
ataupun yang dilarang dengan berdasarkan kepada syariat atas tiga bagian:
a. Jual beli yang sah, adalah jual beli yang disyariatkan baik hakikat maupun
sifatnya dan tidak ada kaitannya dengan hak orang lain. Hukum jual beli ini
dapat berpengaruh secara langsung. Maksudnya, adanya pertukaran hak
kepemilikan barang dan harga. Barang menjadi milik pembeli, sedangkan
harga milik penjual sesuai dengan terjadinya ijab qabul.
b. Jual beli yang batal, adalah jual beli yang tidak terpenuhinya rukun dan
objeknya, atau tidak dilegalkan baik hakikat maupun sifatnya. Artinya
pelaku atau objek transaksi dianggap tidak layak secara hukum untuk
melakukan transaksi.
c. Jual beli yang rusak, adalah jual beli yang dilegalkan dari segi hakikatnya
tetapi tidak legal dari sifatnya. Artinya jual beli ini dilakukan oleh orang
yang layak pada barang yang layak, tetapi mengandung sifat yang tidak
diinginkan oleh syariah, seperti menjual barang yang tidak jelas,
ketidakjelasannya dapat menciptakan sengketa, seperti menjual satu rumah
yang tidak ditentukan dari beberapa rumah yang ada. Hukum jual beli ini
sama halnya dengan hukum jual beli yang batal.59
59
BAB III
PRAKTEK TRADE IN OLEH KONSUMEN CV. TANADI
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
CV. Tanadi adalah sebuah perusahaan yang terletak di Jalan Kapas
Madya Gang 6 No. 11 Surabaya. Yang secara geografis merupakan bagian
dari wilayah Surabaya Timur.
B. Profil CV. Tanadi
1. Sejarah CV. Tanadi
CV. Tanadi bergerak dibidang jual beli ac second yang bekerja sama
dengan tender toko elektronik di Surabaya. CV. Tanadi berdiri pada bulan
April 2002 yang didirekturi oleh Bapak R. Hartono Tanadi. CV. Tanadi
memiliki cabang yang beralamatkan di Kapas Madya Gg 6 No.