• Tidak ada hasil yang ditemukan

43 RSU Murni Teguh Memorial Hospital B 2013

44 RSU Stella Maris Nias Selatan D 2013

45 RSIA Sri Ratu C 2014

46 RSU Siti Hajar C 2014

47 RSU Rahmad Hidayah C 2014

48 RSU Madani C 2014

NO RUMAH SAKIT KELAS

58 RSU Universitas Prima Indonesia C 2014

59 RSU Lasmi Kartika Batubara D 2014

60 RSU Citra Medika Deli Serdang D 2014

61 RSU Al Fuady Binjai C 2014

62 RSU Joko Deli Serdang D 2014

63 RSU Tiara Pematang Siantar D 2014

64 RSU Glori Hotrona Medistra Tobasa D 2014

65 RSU Delia Langkat D 2014

84 RSU Bhayangkara Tebing Tinggi C 2014

85 RSU PTPN III Sri Pamela T.Tinggi C 2014

Sumber: Laporan Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan, 2014

Masih rendahnya persentase RS yang ditetapkan kelasnya merupakan salah satu penyebab masih banyaknya RS yang belum terakreditasi.

7. Jumlah rumah sakit yang menerapkan standard sarana dan prasarana

Pada tahun 2010, RS yang menerapkan standard sarana dan prasarana sebanyak 15 RS (7,14%), tahun 2011 meningkat jumlahnya menjadi 24 RS (12,7%), tahun 2012 meningkat menjadi 74 RS (39,15%), tahun 2013 meningkat menjadi 81 RS (40,3%) dan tahun 2014 meningkat menjadi 90 RS (43,75%). Pada tahun 2015, jumlah RS yang menerapkan standard sarana dan prasarana meningkat bertambah 10 RSU yaitu: RSU Armina Kab.

Madina, RSUD dr. Hadrianus Sinaga Kab. Samosir, RSUD Tuan Rondahaim Kab.

Simalungun, RSUD Kota Pinang Kab. Labuhan Batu Selatan, RSU Amanda Kab. Karo, RSU Setio Husodo Kab. Asahan, RSU Metta Medica Kota Sibolga, RSU Pertamina Kab.

Langkat, RSU Natama Kota Tebing Tinggi, RSU AL Fuady Kota Binjai, RSU Pelabuhan Belawan Kota Medan, RSU Siloam Dhirga Surya Kota Medan. Dengan demikian sampai dengan akhir tahun 2015, jumlah RS yang menetapkan standard sarana dan prasarana berjumlah 102 RS, sehingga telah mampu mencapai target kinerja yang ditetapkan yaitu 102 RS pada tahun 2015.

Sasaran strategis 3 : Terwujudnya ketersediaan, keterjangkauan dan pemerataan produk kefarmasian dan alat kesehatan yang memenuhi standar.

Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut :

NO Indikator Kinerja Target Realisasi %

1 Persentase ketersediaan obat dan vaksin 91% 79,43% 87,28 2 Jumlah RSU dan Pusk yg melaksanakan

pely Kefarmasian sesuai standar.

14 RSU &

12 Pusk

9 RSU &

12 Pusk 80,77

3

Persentase sarana sediaan farmasi yang memenuhi persyaratan GMP (Good Manufacturing Practise) dan GDP (Good Distribution Practise)

64% 65% 101,56

4 Persentase IRTP (Industri Rumah

Tangga Pangan) yang bersertifikat 20% 25% 125

5

Persentase sarana produk alat kesehatan dan PKRT (Perbekalan Kes Rumah Tangga) yang memenuhi persyaratan GMP (Good Manufacturing Practise) dan GDP (Good Distribution Practice

64% 65,22% 101,91

Dari tabel dapat dilihat bahwa dari 5 indikator sasaran strategis terdapat 3 indikator yang mencapai target yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Tahun 2015. Dengan demikian rata-rata pencapaian target kinerja untuk sasaran strategis 3 yaitu terwujudnya ketersediaan, keterjangkauan dan pemerataan produk kefarmasian dan alat kesehatan yang memenuhi standar adalah sebesar 99,30% (belum mencapai target kinerja). Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut :

1. Persentase ketersediaan obat dan vaksin

Persentase ketersediaan obat dan vaksin dari tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 13

Persentase ketersediaan obat dan vaksin Tahun 2011-2015

TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015

% ketersediaan

obat dan vaksin 84 87 52 72,07 79,43%

Sumber: Laporan Bidang Sarana dan Jaminan Kesehatan 2011-2015

Dari tabel terlihat bahwa persentase ketersediaan obat dan vaksin menunjukkan trend penurunan selama kurun waktu 2011-2015, dan penurunan tajam terjadi pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 35% dibandingkan tahun 2012. Pada tahun 2014, persentase ketersediaan obat dan vaksin meningkat kembali menjadii 72,07% dan pada tahun 2015 menjadi 79,43%. Pada tahun 2015 rata-rata persentase ketersediaan obat dan vaksin di kab/kota sebesar 70,53% dan di Provinsi sebesar 88,33%; kedua angka ini dibagi 2 sehingga menghasilkan angka 79,43%. Walaupun mengalami peningkatan pencapaian ini masih dibawah target kinerja yang ditetapkan yaitu 91%. Belum tercapainya target yang ditetapkan disebabkan disebabkan oleh dari 20 jenis obat yang dipantau, tidak semuanya ada di dalam e-katalog maupun ready stock, sehingga menyebabkan tidak semua obat yang dipantau tersedia pada tahun 2015.

2. Jumlah RSU dan Puskesmas yg melaksanakan pelayanan Kefarmasian sesuai standar.

Penerapan Standard Kefarmasian di rumah sakit di Provinsi Sumatera Utara terlihat lambat. Diperkirakan 98% rumah sakit (Pemerintah dan Swasta) belum menerapkan Standard Pelayanan Kefarmasian. Rendahnya pencapaian ini karena parameter “pelayanan kefarmasian memenuhi standard” diukur dari sarana dan prasarana juga terlaksananya prosedur/sistem kefarmasian, yang meliputi :

- Struktur Organisasi Farmasi di Rumah Sakit - Panitia/Sub Komite Farmasi dan Terapi

- Formularium Rumah Sakit yang diperbaharui secara berkala.

Agar RSUD mampu menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sesuai standard, maka sejak tahun 2008 telah dilaksanakan pilot project pelayanan kefarmasian. Pada tahun 2014, dari 16 RSUD yang dijadikan pilot project hanya 6 RSUD yang menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sesuai standard (yang mendapatkan skor ≥ 60%) yaitu RSU Haji Medan, RSUD H. Abdul Manan Simatupang, RSUD Dr. Djasamen saragih, RSUD Porsea, RSUD Salak dan RSUD Tanjung Pura. Pada tahun 2015 bertambah 3 RSUD yang melaksanakan kefarmasian sesuai standard yaitu RSUD dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi, RSUD Dr. F.L Tobing Sibolga dan RSUD Pakam Deli Serdang.

Untuk Puskesmas, pada tahun 2014 terdapat 6 Puskesmas yang telah menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sesuai standard yaitu Puskesmas Gunung Tua (Kaupaten Padang Lawas Utara), Puskesmas Teluk Dalam dan Lahusa (Kabupaten Nias Selatan), Puskesmas Rambung (Kota Tebing Tinggi), Puskesmas Lima Puluh (Kabupaten Batubara), dan Puskesmas Prapat Janji (Kabupaten Asahan). Pada tahun 2015, bertambah 6 puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sesuai standard yaitu Puskesmas Gunting Saga, Puskesmas Galang (Kab. Serdang Bedagai), Puskesmas Ajibata (Kab. Toba Samosir), Puskesmas Kotanopan (Kab. Abuhan Batu Seatan), Puskesmas Martoba (Kab.

Deli Serdang) dan Puskesmas Bakti Raja (Kab. Dengan demikian sampai akhir tahun 2015, terlah terdapat 9 RSUD dan 12 puskesmas yang telah menyelenggarakan kefarmasian sesuai standard, sehingga target indikator ini telah mampu tercapai. Dengan demikian target kinerja yang diettapkan yaitu 14 RSUD dan 12 Puskesmas yang

menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sesuai standard belum mampu dicapai pada tahun 2015.

3. Persentase sarana sediaan farmasi yang memenuhi persyaratan GMP (Good Manufacturing Practise) dan GDP (Good Distribution Practise)

Indikator persentase sediaan farmasi yang memenuhi persyaratan GMP dan GDP merupakan indikator baru yang sebelumnya tidak tercantum pada Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009-2013.

Pada tahun 2015, jumlah sarana sediaan farmasi yang dibina sebanyak 90 sarana, dan 20 diantaranya memenuhi persyaratan GMP dan 39 sarana memenuhi syarat GDP, sehingga jumlah sarana sediaan farmasi yang memenuhi persyaratan GMP dan GDP adalah 59 sarana atau 65% . Pencapaian ini mengalami penurunan bila dibandingkan dengan pencapaian 2014 yaitu 88% dimana dari 79 sarana yang dibina tercatat 28 sarana memenuhi syarat GDP dan 42 sarana memenuhi syarat GDP. Dengan pencapaian 65%

maka target kinerja yaitu 64% pada tahun 2015 telah mampu dicapai.

5. Persentase IRTP (Industri Rumah Tangga Pangan) yang bersertifikat

Indikator persentase yang bersertifikat juga merupakan indikator baru yang sebelumnya tidak tercantum pada Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009-2013.

Pada tahun 2015, Sumatera Utara terdapat 2.703 unit IRTP dan yang bersertifikat mencapai 680 sarana atau 25%; angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014 dimana dari 2.389 sarana IRTP yang bersertifikat mencapai 480 sarana atau 20,02%

pada. Dengan demikian target kinerja 20% pada tahun 2015 telah mampu dicapai.

6. Tercapainya persentase sarana produk alat kesehatan dan PKRT yang memenuhi yang memenuhi persyaratan GMP (Good Manufacturing Practise) dan GDP (Good Distribution Practice).

Pada tahun 2015, jumlah sarana produksi alat kesehatan (Alkes) dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) berjumlah 23 sarana. Jumlah ini berkurang dari tahun 2014 yaitu 40 sarana, hal ini disebabkan karena ada 17 sarana yang tidak meneruskan perpanjangan izin ke Kemenkes dan izinnya tidak keluar pada tahun 2015. Dari 23 sarana yang memperoleh izin tersebut sebanyak 15 sarana (65,22%) dilakukan monitoring dan

dinyatakan memenuhi syarat GMP dan GDP. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2014 dimana 30 sarana (75%) memenuhi syarat GMP dan GDP, angka ini mengalami penurunan yang cukup besar. Hal ini disebabkan salah satunya karena sarana yang tidak memperoleh izin tidak dilakukan monev dan dianggap tidak memenuhi syarat GDP dan GMP. Dengan pencapaian 65,22% maka target kinerja yaitu 64% telah dapat tercapai pada tahun 2015.

Sasaran Strategi 4 : Terwujudnya ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan yang profesional, terstandarisasi serta teregistrasi

Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut :

NO Indikator Kinerja Target Realisasi %

1 Persentase tenaga kes yang teregistrasi 95% 100% 105,26 2 Persentase penetapan angka kredit

jabatan fungsional 30% 30% 100

3 Jumlah pelatihan kesehatan aparatur dan non aparatur yang diakreditasi

25 pelatihan

20

pelatihan 80 4 Ratio tenaga medis per puskesmas Minimal 1 0,92 92

Dari tabel dapat dilihat bahwa dari 4 indikator sasaran strategis terdapat 2 indikator yang mencapai target yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Tahun 2015. Dengan demikian rata-rata pencapaian target kinerja untuk sasaran strategis 4 yaitu terwujudnya ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan yang profesional, terstandarisasi serta teregistrasi adalah sebesar 94,31% (belum mencapai target kinerja). Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut :

1. Persentase tenaga kesehatan yang teregistrasi

Pada tahun 2015, Surat Tanda Registrasi (STR) yang sudah selesai diproses sejumlah 25.229 berkas yang terdiri atas 19.508 berkas ke Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) di Jakarta pada tahun 2015 dan 5.721 berkas adalah yang dikirim pada tahun 2014 dan STR-nya diterima pada tahun 2015. Keseluruhan berkas yaitu 25.229 (100%) telah selesai diproses pada tahun 2015. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun

2013, dimana STR yang selesai diproses sejumlah 18.250 berkas, tahun 2013 sejumlah 13.527 berkas dan tahun 2012 yaitu 2.978 berkas. Dengan demikian target kinerja yaitu 95% telah mampu dicapai pada tahun 2015.

2. Persentase penetapan angka kredit jabatan fungsional

Pada tahun 2015, di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara terdapat 612 pegawai dengan jabatan fungsional. Dari jumlah tersebut dilaporkan sebanyak 184 orang (30%) telah mengusulkan Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) dan telah ditetapkan.

Mereka yang mengusulkan itu terdiri dari dokter (20 orang), Perawat (50 orang), Gizi/Nutrionis (17 orang), Apoteker (20 oang), Penyuluh Kesehatan (25 orang), Analis Kesehatan (40 orang), dan Epidemiologi (12 orang). Dengan demikian target indikator kinerja yang ditetapkan yaitu 30% pada tahun 2015 sudah tercapai.

Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014 yaitu 100 orang dari 500 pegawai dengan jabatan fungsional 500 (20%).

3. Jumlah pelatihan aparatur dan non aparatur yang terakreditasi

Pada tahun 2015 terdapat 20 pelatihan terakreditasi, jumlah ini sama dengan jumlah di tahun 2014 yaitu 20 pelatihan, tahun 2013 yaitu 20 pelatihan, tahun 2012 yaitu 3 pelatihan dan tahun 2011 sebanyak 11 pelatihan.Adapun pelatihan yang dilaksanakan pada tahun 2015 yaitu:

a. Pelatihan GELS untuk dokter di Kabupaten/Kota

b. Pelatihan penyuluh keamanan pangan di kabupaten/kota c. Pelatihan Promosi Kesehatan tahun 2015

d. Pelatihan Kegiatan Peningkatan kapasitas Konselor Menyusui

e. Pelatihan IPSD (Intervensi Penurunan Stigma dan Diskriminasi) pada layanan HIV dan IMS bagi petugas fasyankes

f. Pelatihan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA)

g. Pelatihan Item Development dalam rangka Uji Kompetensi Tenaga Kesehatan h. Pelatihan Jabatan Fungsional Administrasi Kesehatan

i. Pelatihan Kepemimpinan Puskesmas Angkatan I j. Pelatihan Kepemimpinan Puskesmas Angkatan II k. Pelatihan Jabatan Fungsional Perawat

l. Pelatihan BCLS bagi Perawat di Kabupaten/Kota

m. Pematapan GELS bagi dokter di Kabupaten.

n. Peningkatan kapasitas SDM nagi petugas kesehatan.

o. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Pelaksanaan Imunisasi dalam rangka Introduksi Vaksin Baru Angkatan I.

p. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Pelaksanaan Imunisasi dalam rangka Introduksi Vaksin Baru Angkatan II.

q. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Pelaksanaan Imunisasi dalam rangka Introduksi Vaksin Baru Angkatan III.

r. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Pelaksanaan Imunisasi dalam rangka Introduksi Vaksin Baru Angkatan IV.

s. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Pelaksanaan Imunisasi dalam rangka Introduksi Vaksin Baru Angkatan V.

Dengan demikian target indikator kinerja yang ditetapkan yaitu 25 pelatihan pada tahun 2015 belum tercapai.

4. Ratio tenaga medis per puskesmas

Pada tahun 2015, dari 571 puskesmas yang ada di Sumatera Utara terdapat 527 puskesmas yang telah memiliki tenaga medis setidaknya 1 orang, dan yang tidak memiliki tenaga medis sebanyak 44 puskesmas. Dengan demikian ratio tenaga medis per puskesmas yaitu 0,92% pada tahun 2015. Angka ini masih sama dengan pencapaian tahun 2014.

Penambahan jumlah puskesmas tidak diiringi dengan ketersediaan tenaga medis di puskesmas, hal ini terlihat bahwa pada tahun 2013 terdapat 569 puskesmas dan 52 puskesmas tidak memliki tenaga medis, pada tahun 2012 terdapat 546 puskesmas dan 18 puskesmas tidak memiliki tenaga medis.

Tabel 14

Puskesmas yang tidak memiliki tenaga medis di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015

NO PUSKESMAS KAB/KOTA

1 Kedai Sianam Batubara

2 Aek Loba Asahan

3 Andam Dewi Tapanuli Tengah

4 Sorkam Tapanuli Tengah

5 Batang Bulu Padang Lawas

6 Simundol Padang Lawas Utara

Dokumen terkait