• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumput Bintang/Stargrass (Cynodon plectostachyus)

HIJAUAN PAKAN TERNAK

IV.1. Rumput-rumputan (Graminae)

IV.1.8. Rumput Bintang/Stargrass (Cynodon plectostachyus)

Gambar 35. Rumput Bintang/Stargrass (Cynodon plectostachyus)

Nama latin dari rumput bintang/stargrass adalah Cynodon plectostachyus. Nama umum dari rumput ini adalah African Star grass. Tanda-tanda rumput ini adalah perenial, membentuk rumpun dan berstolon yang membentuk jaring yang padat, tinggi batang 60- 100 cm, bunga berbentuk menjari (digit). Rumput ini dapat tumbuh subur pada curah hujan > 500-890 mm/th, Tumbuh subur pada berbagai jenis tanah. Rumput ini mengandung HCN yang tinggi merupakan zat anti nutrisi. Kandungan Nutrisi Rumput Bintang/Stargrass dapat dlihat pada Tabel 34.

lxviii

Provinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Jawa Barat 70,39 9,20 15,34 0,92 27,92 0,49 0,24 Jawa Tengah 81,96 10,50 10.89 1,32 34,73 0,52 0,33 Jawa Timur 26,91 10,65 15,11 1,84 25,96 0,56 0,21 Kalimantan Timur 39,92 8,10 9,05 1,80 33,43 0,91 0,26 NAD 65,95 11,40 14,30 1,71 35,70 0,55 0,43 Sumatera Utara 24,18 8,60 9,73 3,41 34,41 0,43 0,28 Rata-rata 51,55 10,07 13,62 1,84 31,74 0,51 0,30

Keterangan : Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab

Sumber : Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012 IV.1.9. Rumput Meksiko (Euchlena Mexicana)

Gambar 36. Rumput Meksiko (Euchlena Mexicana)

Rumput Meksiko (Euchlena Mexicana) berasal dari Amerika Tengah, rumput ini termasuk rumput potong yang tumbuh tegak, batang dan daunnya lebar mirip tanaman jagung. Ketinggian tanaman mencapai 2,5–4 m, sistem perakarannya dalam dan luas, tumbuh baik pada daerah-daerah lembab atau tanah yang subur dengan ketinggian 0 - 1200 m di atas permukaan laut dan curah hujan tidak kurang dari 1000 mm/tahun.

Tanaman ini ditanam di Amerika Tengah dan Selatan untuk dibuat silase atau sebagai hijauan pakan ternak, sedangkan di Philipina rumput ini dapat menghasilkan 70 ton/ha/thn bahan segar dengan pemotongan 4 - 5 kali dan pembiakannya dapat dilakukan dengan pols atau stek.

Rumput ini bersifat annual, morfologinya seperti tanaman jagung. Tanaman ini berasal dari Mexico dan Amerika Tengah, hidup di daerah tropik yang basah dan subtropik yang tanahnya berair. Ukuran daun pada rumput meksiko lebih lebar dari jenis rumput lain, dengan panjang daun kurang lebih 1,5 meter dan lebar daun kurang lebih 10 cm. tulang daun menjari, batang tidak berbulu dengan diameter kurang lebih 3,5 cm dan batang muda berbentuk pipih serta batang tua berbentuk elips. Kandungan Nutrisi Rumput Meksiko (Euchlena Mexicana) dapat dilihat pada Tabel 35.

Tabel 35. Kandungan Nutrisi Rumput Meksiko (Euchlena Mexicana)

Propinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Sumatera Barat* 74,54 9,00 20,80 4,08 27,81 0,51 0,21 Kalimantan Timur* 70,47 9,80 9,84 1,50 37,72 0,34 0,41 Rata-rata 72,51 9,40 15,32 2,79 32,77 0,43 0,31 Keterangan :

- Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab.

- Protein kasar pada rumput Meksiko dari Sumatera Barat dikarenakan pengambilan sampel dilakukan ketika baru di pupuk.

lxx IV.1.10. Rumput Laut

Gambar 37. Rumput Laut

Rumput laut atau gulma laut merupakan salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Istilah ini rancu secara botani karena dipakai untuk dua kelompok “tumbuhan” yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia, istilah rumput laut dipakai untuk menyebut baik gulma laut dan lamun. Yang dimaksud sebagai gulma laut adalah anggota dari kelompok vegetasi yang dikenal sebagai alga (ganggang).

Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Gulma laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati.

Di beberapa daerah pantai di bagian Selatan Jawa dan pantai Barat Sumatera, gulma laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai Selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, gulma laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai Barat Sumatera, gulma laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Kandungan Nutrisi Rumput Laut dapat dilihat pada Tabel 36.

Provinsi Air Abu Protein Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Jambi* 4,86 1,70 56,81 11,92 0,42 0,45 0,29 Lampung 8,82 9,90 36,83 7,40 8,93 1,13 0,99 Keterangan : Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan

hasil Lab

Sumber : Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012 IV.1.11. Rumput Bahia (Paspalum notatum)

Gambar 38. Rumput Bahia (Paspalum notatum)

Rumput Bahia Paspalum notatum merupakan tanaman tahunan berhizoma, berakar dalam. Tingginya dapat mencapai 60 cm atau lebih. Berasal dari Amerika Tengah dan Selatan dan beradaptasi di daerah tropik dan subtropik. Paspalum notatum Fluegge merupakan rumput penggembalaan yang berguna dan tahan terhadap penggembalaan. Cukup tahan kering tetapi di Nigeria Utara mati pada musim kering. Mudah membentuk hamparan rumput yang rapat dan dapat digembalai 3 bulan sesudah penanaman. Merupakan rumput yang paling baik untuk pengawetan tanah.

Dapat ditanam dengan stek atau biji dengan kebutuhan biji 11- 22 kg/ha. Rumput Bahia adalah rumput spesies musim kemarau yang menyebar dengan rhizome, mampu menyebar cepat lateral melalu produksi rhizome, sering digunakan di daerah yang memerlukan pengendalian erosi dan sering ditanam di pinggir jalan karena memiliki sifat tahan terhadap kekeringan yang cukup baik. Rumput bahia adalah rumput yang sering digunakan pada musim kemarau

lxxii panjang. Rumput ini cukup populer karena kemampuannya beradaptasi pada kesuburan tanah yang rendah, mampu mentolerir kekeringan dan merupakan rumput penggembalaan yang berkesinambungan. Kandungan Nutrisi Rumput Bahia (Paspalum notatum) dapat dilihat pada tabel 37.

Tabel 37. Kandungan Nutrisi Rumput Bahia (Paspalum notatum)

Provinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Kalimantan Timur 56,48 16,30 12,07 1,23 38,45 0,27 0,22 Banten 59,10 22,05 11,00 1,33 29,78 0,73 0,31 Rata-rata 57,79 19,175 11,53 1,28 34,115 0,50 0,26

Keterangan : Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab

Sumber : Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012 IV.1.12. Rumput Lapang, alam, liar

Tabel 38. Kandungan Nutrisi Rumput Lapang, Alam, Liar

Provinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Bangka Belitung 60,92 11,72 11,95 3,72 34,53 0,82 0,18 Banten 76,94 11,70 9,99 1,69 52,56 0,47 0,31 Jawa Barat 72,34 3,80 4,21 0,56 8,24 0,19 0,09 Jawa Barat 75,19 12,30 10,08 1,73 37,93 0,50 0,27 Jawa Timur 63,96 13,10 14,45 2,69 25,23 0,74 0,29 Sulawesi Utara 41,87 12,60 8,76 1,51 30,55 0,47 0,24 Rata-rata 65,20 10,87 9,91 1,98 31,51 0,53 0,23

Keterangan : Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab

IV.2. Legum (Leguminosa) IV.2.1. Lamtoro (Leucana leucocephala)

Gambar 39. Lamtoro (Leucana leucocephala)

Lamtoro, petai cina, atau petai selong adalah sejenis perdu dari suku Fabaceae (=Leguminosae, polong-polongan), yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi. Berasal dari Amerika tropis, tumbuhan ini sudah ratusan tahun dimasukkan ke Jawa untuk kepentingan pertanian dan kehutanan, dan kemudian menyebar pula ke pulau-pulau yang lain di Indonesia.

Lamtoro mudah beradaptasi, dan segera saja tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah tropis di Asia dan Afrika; termasuk pula di Indonesia. Ada tiga jenis (subspesies), yakni:

1. Leucaena leucocephala ssp. leucocephala; ialah anak jenis yang disebar luaskan oleh bangsa Spanyol. Di Jawa dikenal sebagai lamtoro atau petai cina „lokal‟, berbatang pendek sekitar 5 m tingginya dan pucuk rantingnya berambut lebat.

2. ssp. glabrata (Rose) S. Zárate. Dikenal sebagai lamtoro gung, tanaman ini berukuran besar segala-galanya (pohon, daun, bunga, buah) dibandingkan anak jenis yang pertama. Lamtoro gung baru menyebar luas di dunia dalam beberapa dekade terakhir.

3. ssp. ixtahuacana C. E. Hughes; yang menyebar terbatas di Meksiko dan Guatemala.

Biji dan daun lamtoro mengandung galactomannan yang dapat membentuk ekstraksi protein dari kemungkinan penggunaannya oleh ternak. Zat ini mungkin mempunyai potensi sebagai bahan iomedical.

lxxiv Lamtoro juga mengandung racun asam mimosin yang mempunyai efek anti mitotic dan depilatory pada ternak. Sehingga daun lamtoro tidak aman diberikan pada ternak non ruminansia pada level diatas 5%. Pada ruminansia mimosin bersifat goitrogenik dan jika tidak didegradasi dapat menimbulkan rendahnya level thyroxine dalam serum darah, ulceration dari oesophagus dan retikulorumen, saliva berlebihan dan pertambahan bobot badan rendah, khususnya bila diberikan lebih dari 30% dalam ransum. Walaupun demikian mikroba rumen dapat menghilangkan racun mimosin dan DHP bila diberikan sebaikya dilayukan terlebih dahulu. Kandungan Nutrisi Lamtoro (Leucana leucocephala) dapat dilihat pada Tabel 39.

Tabel 39. Kandungan Nutrisi Lamtoro (Leucana leucocephala)

Provinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Jawa Tengah 80,92 8,9 28,5 4,41 21,51 2,17 0,23 NAD 73,51 9 38,61 1,44 27,03 1,36 0,38 Sulawesi Utara 71,77 7,4 41,39 1,44 28,28 1,53 0,81 Sumatera Barat 72,68 9,2 30,86 2,51 24,13 1,8 0,29 Sulawesi Barat 9,16 8,4 26,66 5,85 17,51 2,17 0,21 Rata-rata 61,61 8,58 33,20 3,13 23,69 1,81 0,38

Keterangan :* *Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab.

* Hasil Uji berdasarkan as fed Sumber : Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012

IV.2.2. Gamal (Gliricidia sepium)

Gambar 40. Gamal (Gliricidia sepium)

Gamal (Gliricidia sepium) adalah nama sejenis perdu dari kerabat polong-polongan (suku F abaceae alias Leguminosae). Sering digunakan sebagai pagar hidup atau peneduh, perdu atau pohon kecil ini merupakan salah satu jenis leguminosa multiguna yang terpenting setelah lamtoro (Leucaena leucocephala).

Daun-daun, biji dan kulit batang gamal mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia dan ternak, kecuali ruminansia. Dalam jumlah kecil, ekstrak bahan-bahan itu digunakan sebagai obat bagi berbagai penyakit kulit, rematik, sakit kepala, batuk, dan luka-luka tertentu. Ramuan bahan-bahan itu digunakan pula sebagai pestisida dan rodentisida alami (gliricidia berasal dari bahasa Latin yang berarti kurang lebih racun tikus).

Daun-daun gamal mengandung banyak protein dan mudah dicernakan, sehingga cocok untuk pakan ternak, khususnya ruminansia (sebaiknya dilayukan dahulu sebelum diberikan). Daun-daun dan rantingnya yang hijau juga dimanfaatkan sebagai mulsa atau pupuk hijau untuk memperbaiki kesuburan tanah. Kandungan Nutrisi Gamal (Gliricidia sepium) dapat dilihat pada Tabel 40.

lxxvi Tabel 40. Kandungan Nutrisi Gamal

(Gliricidia sepium)

Keterangan : -* Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab.

Sumber : Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012 IV.2.3. Kaliandra (Caliandra calothyrsus)

Gambar 41. Kaliandra (Caliandra calothyrsus)

Kaliandra adalah tanaman kacang-kacangan yang dapat tumbuh pada musim kemarau walaupun tidak sebaik pertumbuhan dimusim hujan, terutama pada daerah berlereng curam. Untuk tumbuh ideal rata-rata temperatur yang diperlukan adalah 20-280 C.

Provinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P DKI Jakarta 75,18 12 22,86 2,71 33,57 - - Jawa Barat 80,95 9 30,88 4,77 21,87 1,42 0,33 Jawa Tengah 77,31 8,45 26,33 2,92 25,6 1,41 0,25 Jawa Timur 73,43 8,95 27,56 3 18,42 1,37 0,27 Kalimantan Selatan 71,3 7,9 23,03 4,42 28,26 1,48 0,21 Kalimantan Timur 71,84 7,9 32,58 4,2 22,56 0,88 0,32 Sulawesi Tenggara 72,5 11,55 24,73 4,92 27,7 0,99 0,22 Rata-rata 74,64 9,39 26,85 3,85 25,43 1,26 0,27

Untuk tujuan sebagai sumber hijauan pakan ternak jarak tanam 1×1 meter atau 2×0,5 meter pada awal musim hujan. Pemotongan tanaman dilakukan setiap 12 minggu dengan tinggi potong 1 meter, produksi yang diperoleh 10 ton bahan kering/Ha/tahun.Kaliandra dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput yang diberikan. Pada sapi dapat menggantikan rumput maksimal 50%, sedangkan untuk domba sampai dengan 30%. Pemberian pada ternak sebaiknya dalam bentuk segar karena proses pengeringan akan menurunkan konsumsi dan kecernaanya, selain itu kandungan tanin dalam kaliandra segar kurang berbahaya untuk ternak. Kaliandra dapat diberikan saat sebelum atau sesudah pemberian pakan tambahan. Kandungan Berbagai Jenis Kaliandra (Caliandra calothyrsus) dapat dilihat pada Tabel 41.

Tabel 41. Kandungan Berbagai Jenis Kaliandra (Caliandra calothyrsus)

Jenis Kaliandra Provinsi Air Abu Protein

Kasar

Lemak Kasar

Serat

Kasar Ca P

Kaliandra Putih Jawa Timur 64,08 10,65 33,18 4,61 11,52 1,71 0,47 Kaliandra Merah Jawa Timur 35,39 5,50 22,23 2,3 13,63 0,88 0,20

Kaliandra Kalimantan Timur 64,61 5,20 27,92 4,03 54,06 0,33 0,29 Banten 68,10 10,60 26,48 6,64 20,5 2,14 0,26 Rata-Rata 66,35 7,90 27,20 5,335 37,28 1,23 0,27 Jawa Timur* 6,51 4,80 24,41 2,18 12,37 4,65 0,21 Keterangan : Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab

Sumber : Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012 IV.2.4. Alfalfa (Medicago sativa)

Alfalfa (Medicago sativa) adalah spesies tanaman yang dimanfaatkan sebagai ternak untuk sapi perah, kuda, sapi potong, domba, dan kambing. Alfalfa adalah tanaman sejenis tanaman herbal tahunan yang memiliki beberapa ciri, yaitu berakar tunggang, batang menyelusur tegak dari dasar kayu dan tingginya berkisar 30-120 cm, serta daun tersusun tiga. Tangkai daun berbulu dan berukuran 5-30 mm.Kedalaman akar alfalfa dapat mencapai 2-4 meter.

Budidaya alfalfa sebagai pakan ternak dilakukan untuk beberapa tujuan, yaitu penggembalaan dan konservasi. Alfalfa dapat ditanam sendiri ataupun sebagai campuran di antara rumput tropis dan sub-tropis. Bibit alfalfa juga banyak ditanam sebagai kecambah untuk makanan manusia.

lxxviii Gambar 42. Alfalfa

(Medicago sativa)

Sebagai pakan ternak, tanaman ini memiliki kandungan protein, vitamin, dan mineral yang tinggi. Untuk melakukan budidaya alfalfa, kondisi tanah yang harus diperhatikan adalah pH (tingkat keasaman) tanah berkisar 6,3-7,5 dan kandungan garam dalam tanah tidak boleh terlalu tinggi. Selama masa aktif pertumbuhannya, alfalfa tidak membutuhkan tanah yang basah.

Alfalfa banyak diproduksi karena nilai nutrisi dan produksinya yang menguntungkan, selain itu tanaman ini juga disebutkan memiliki rasa yang enak. Dibandingkan dengan pakan ternak dari tanaman lainnya, alfalfa memiliki kandungan protein dan kalsium yang tinggi, tetapi energi metabolisme dan kadar fosfor di dalamnya relatif rendah. Alfalfa juga termasuk berserat rendah sehingga mudah mencapai rumen (perut besar) dan mudah dicerna oleh hewan ternak.

Pola penanaman alfalfa dengan pemberian irigasi, tanaman alfalfa dapat memproduksi 25-27 ton per hektar kadar kering pada tahun pertama dan turun hingga 8-15 ton per tahun pada tahun ketiga. Produksi bergantung pada densitas tanaman, tingkat resistensi hama dan penyakit, aktivitas di musim dingin, dan hujan yang memengaruhi kelembaban tanah. Dengan hasil produksi tersebut, penanaman alfalfa dapat meningkatkan produksi susu pada sapi.

Alfalfa yang tumbuh sepanjang tahun ini juga mencegah terjadinya defisiensi (kekurangan) energi pada ternak dan memperbaiki atau meningkatkan padang rumput.Kandungan Nutisi Rumput Alfalfa dapat dilihat pada Tabel 42.

Tabel 42. Kandungan Nutrisi Rumput Alfalfa (Medicago sativa)

Provinsi Air Abu Protein

Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Ca P Jawa Timur 8,96 6,5 31,23 1,78 19 1,04 0,77 Jawa Barat 73,11 11,50 27,44 3,39 24,04 2,14 0,46 Rata-rata 41,04 9,00 29,34 2,59 21,52 1,59 0,62

Keterangan : Hasil Uji berdasarkan bahan kering kecuali kadar air berdasarkan hasil Lab

lxxx DAFTAR PUSTAKA

Adiati, U,et.al. 2004. Peluang Pemanfaatan Tepung Bulu Ayam Sebagai Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Wartazoa Vol 14 No 1 Tahun 2004. Anonymous.2013. Tata Cara Pembuatan Tepung Bulu dan Tepung Darah

(Limbah Pengolahan Unggas).http://bumiternak- betha.blogspot.com/2012/11/pembuatan tepung-bulu- tepung-darah-dan.html. Tanggal Akses 05 Mei 2013. _______________ .http://indonesia.tropicalforages.info/key/Forages/Media/Htm

l/Panicum_maximum_%28Bahasa_Indonesia%29.html. Tanggal Akses 05 Mei 2013.

_______________ Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Ternak. 2012. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. CV Nutri Sejahtera. Bogor.

_______________ .Ilmu Tanaman Pakan Ternak. http://

pelajaranilmu.blogspot.com. Tanggal Akses : 20 Agustus 2013.

Antonius. 2010. Pengaruh Pemberian Jerami Padi Terfermentasi Terhadap Palatabilitas Kecernaan Serat Dan Digestible Energyransum Sapi. Seminar Nasional TeknologiPeternakan dan Veteriner 2010. Armaji, Y. 2012. Sumber Protein……Bagaikan Buah Simalakama. Bulletin

BPMPT Bekasi. Vol 5 No. 8 Desember 2013. Bangun, A. 2012. Tepung Bulu Ayam (Garut, Jawa Barat).

http://andybangun.blogspot.com/2012/02/tepung-bulu-ayam- garut-jawa-barat.html. Tanggal Akses 05 Mei 2013.

Dwinarto, B. 2012. Bahan Pakan Lokal:Menjadi Tuan Di Negeri Sendiri. Bulletin BPMPT Bekasi. Vol 4 No. 7 Juli 2012.

Fanindi, A et.al. 2005. Karakterisasi dan Pemanfaatan Rumput Brachiaria sp. Prosiding Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak.

.2010.Pengaruh intensitas cahaya terhadap produksi hijauan dan benih kalopo (Calopogonium mucunoides). JITV Vol. 15 No. 3 Th. 2010: 205-214.

.2006. Produktivitas Tiga Jenis Rumput Dan Palatabilitasnya Pada Ternak Domba. Balai Penelitian Ternak. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006. Hartadi, H. 1990. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Gama Press.

Yogyakarta.

Hasibuan, F.N. 2011. Waktu Penyimpanan dan Panjang Rhizome Rumput Bahia (Paspalum Notatum Fluegge ) Sebagai Bahan Tanam Vegetatif Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Awal. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Jayanagara, A. 2012. Diktat PMBT. Biji-bijian dan Limbahnya. IPB. Bogor. Kurniawan, W.et.al. 2007. Produksi dan Kualitas Rumput Brachiaria humidicola

(Rend.) Sch,Digitara decumbens Stent dan Stenotaphrum secundatum (Walter) O.Kunt. di Bawah Naungan Sengon, Karet dan Kelapa Sawit. Fapet IPB. Vol. 30 No. 1 Media Peternakan, April 2007, hlm. 11-17.

Sari, A.B. 2007. Pengaruh Jenis Sapi dan Macam Hijauan Terhadap Kecernaan Fraksi Serat dan Pertambahan Bobot Badan. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas.

Dokumen terkait