BAB 1. PENDAHULUAN
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh penambahan guar gum terhadap intensitas marking pada kertas rokok
1.3 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh penambahan guar gum terhadap intensitas marking pada kertas rokok
1.4 Manfaat Percobaan
Memberikan informasi dan gambaran mengenai pengaruh penambahan guar gum terhadap intensitas marking pada kertas rokok agar mendapatkan kualitas yang baik.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Industri Pulp Dan Kertas Di Dunia
Perbedaan tingkat konsumsi akan kertas dan kertas board dan perkembangannya sudah barang tertentu berhubungan dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Telah lama diakui bahwa konsumsi akan kertas dan kertas board suatu negara barkaitan erat dengan besar dan perkembangan perekonomian. Besar kecilnya Gross Domestic Product (GDP) atau Gross National Product (GNP) biasanya dijadikan suatu kriteria yang sederhana untuk menunjukan perkembangan perekonomian suatu negara. Tetapi ada beberapa faktor struktural yang berbeda antara perekonomian masing–masing negara. Untuk mengukur perkembangan dan besarnya perekonomian suatu negara, sering kali dipecahkan menjadi dua faktor yaitu kependudukan dan pendapatan perkapita. Perkembangan konsumsi kertas dan kertas board di indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, yaitu rata-rata 14 % pertahun pada periode 1970–1977, dimana peningkatan konsumsi masing–masing jenis kertas adalah sebagai berikut :
- Kertas koran 9,2 %.
- Kertas cetak dan tulis 8,9 %.
- Kertas wrapping packaging & kraft 29,1 %.
- Kertas boards 44,8 % dan kertas lainnya 35,3 %.
2.1.1. Produksi Pulp Dunia
Distribusi produksi pulp sudah tentu bergantung pada besarnya kebutuhan untuk membuat kertas. Akan tetapi pada dasarnya adalah lokasi dimana raw material (bahan dasar pulp) baik tersedia dalam negri atau impor. Potensi produksi maksimum pulp dunia diturunkan berdasarkan assumsi maksimum operasi produksi 0,94 untuk negara maju dan 0,85 untuk negara sedang berkembang (Anonim 1982).
2.1.2 Kebutuhan Kertas Di Indonesia
Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan industri pulp dan kertas nasional mengalami pasang surut sehubungan dengan tantangan yang dihadapi baik dari dalam maupun luar negeri. Pertumbuhan sektor ini mengalamipenurunan sekitar 2,89 persenpada tahun 2012dan0,53 persen tahun 2013.
Penggunaan/Konsumsi kertas & board. Pada umumnya kertas dibagi menjadi 3 golongan besar yaitu:
a. Cultural paper (kertas budaya), yang terdiri dari jenis kertas news print (kertas koran) writing, printing & business (kertas cetak, tulis dan keperluan bisnis) dan kertas khusus.
b. Industrial paper (kertas industri) yang terdiri dari wrapping, packaging, dan craft, boards, cigarette dan kertas khusus.
c. Other paper (Kertas lainya), yang terdiri dari Tissued, household dan kertas lainnya.
Berdasarkan penggolongan kertas tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada umumnya cultural paper adalah kertas yang digunakan untuk keperluan kebudayaan secara umum, misalnya surat kabar, buku-buku, dan lain–lain. (http://www.kemenperin.go.id)
2.1.3. Pulp
Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan kertas,tetapi juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seperti sutera, rayon dan selofan. Tujuan utama dari pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat yang dapat dikerjakan secara kimia atau secara mekanik atau dengan kombinasi dua tipe perlakuan tersebut. Pulp-pulp perdagangan yang umum dapat dikelompokkan menjadi tipe-tipe kimia, semi kimia, kimia mekanik,. Istilah-istilah
“Pulp Rendemen Tinggi” sering secara bersama digunakan untuk tipe-tipe yang berbeda dari pulp-pulp yang kaya lignin yang memerlukan defibrasi secara mekanik.
Pembuatan pulp secara kimia adalah proses dalam mana lignin dihilangkan sama sekali hingga serat-serat kayu mudah dilepaskan pada pembongkaran dari bejana-bejana pemasak (digester) atau paling tidak setelah perlakuan mekanik lunak. Hampir semua produksi pulp kimia didunia saat ini didasarkan pada proses-proses sulfit dan sulfat (kraft). Pada pembuatan pulp kraftsystem pemasakan alkali bertekanan pada suhu tinggi. Menurut metode yang diusulkan oleh C. watt dan H.burgess, Larutan Natrium Hidroksida digunakan sebagai lindi pemasak dan lindi bekas yang dihasilkan dipekatkan dengan cara penguapan dan dibakar. Leburan, yang terdiri atas natrium karbonat, diubah kembali menjadi natrium hidroksida dan kalsium hidroksida
(konstisasi). Karena Natrium Karbonat digunakan untuk imbuhan, maka proses pemasakan dinamakan proses soda.
Sejak tahun 1960-an produksi pulp kraft juga telah naik lebih cepat dari pada pulp sulfit karena beberapa faktor seperti pemulihan bahan kimia yang lebih sederhana dan lebih ekonomis dan sifat-sifat pulp yang lebih baik dalam hubungannya dengan kebutuhan pasar. Pengenalan bahan-bahan pengelantang yang efektif, terutama klorin dioksida telah menghapuskan kesukaran-kesukaran terdahulu mengenai pengelantangan pulp-pulp kraft menjadi derajat putih yang tinggi dan pra-hidrolisis kayu telah memungkinkan untuk menghasilkan pulp-pulp pelarutan (dissolving pulp) berkualitas tinggi dengan proses kraft. Proses kraft ini juga mempunyai sisi kelemahan yang sukar diatasi yaitu gas-gas berbau tidak enak dan kebutuhan bahan kimia pengelantang yang tinggi pada pulp-pulp kraft kayu lunak.
Namun menurut perkembangan terakhir dapat diharapkan bahwa modifikasi-modifikasi baru akan membawa perbaikan-perbaikan dalam hal kebutuhan-kebutuhan lingkungan.(APKI, 2015)
Pulp termasuk ke dalam polisakarida berupa selulosa yang berat molekulnya 20.000 – 40.000. Pulp yang merupakan bahan baku industri kertas dan rayon (serat sintesis) termasuk serat tiruan. Proses pembuatan pulp bertujuan untuk memisahkan serat- serat selulosa dari komponen lain yang terdapat dari bahan berserat selulosa.
Sumber utama serat selulosa terdapat dalam tumbuh-tumbuhan. Serat selulosa sebagai bahan baku pembuatan pulp kertas dapat dihasilkan dari kayu dan non kayu.
(Anonim, 1982).
2.1.4. Kertas Rokok
Kertas Rokok tersebut memiliki dua jenis produk yaitu verge dan repse. Pada kertas Rokok terdapat beberapa variabel yaitu Basis Weight (berat), Thicness (ketebalan), Tensile Strength (kekuatan tarik), Elongation (pertambahan panjang ketika ditarik), Porosity (Porositas), rambat bakar, CaCO3, permanganat, opasitas, brightness (kecerahan). Pengamatan secara individual dilakukan pada variabel tensile strength,elongation, rambat bakar, CaCO3, dan permanganat.
Namun dalam pengamatannya yang dilakukan pada sampel yang sama dan saling berhubungan yaitu variabel tensile strength dan elongation. Pada proses manufaktur terdapat proses transformasi dari bahan baku (raw material) menjadi produk jadi.
Proses ini disebut juga sebagai proses produksi yang didefinisikan sebagai suatu metode dan teknik-teknik mengubah input menjadi output sehingga hasil yang didapatkan berupa barang atau jasa serta hasil sampingnya memiliki nilai tambaha tau nilai guna yang berarti. Dalam pengolahan proses tersebut dapat terjadi perubahan secara fisik seperti bentuk dan dimensi, maupun non fisik seperti sifat. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai keluaran yang bertambah secara fungsional dan ekonomis. Setiap perusahaan memiliki keinginan untuk meningkatkan produktivitasnya sehingga diperlukan pemahaman terhadap hasil proses produksi yang ada agar dapat mempermudah dalam menganalisa kerja perusahaan guna perbaikan sistem kerja. Untuk itu perlu diketahui proses produksi di PT. Pusaka Prima Mandiri yang meliputi bahan baku, bahan penolong, bahan pembantu serta tahapan proses produksi. (http://www.google.com/search.PT.PDM_Indonesia. pdf).
2.1.5. Serat
Panjang serat mempengaruhi sifat-sifat tertentu pulp dan kertas, termasuk ketahanan sobek, kekuatan tarik dan daya lipat. Serat yang berdinding tipis mengakibatkan serat tersebut mudah menipis sehingga menghasilkan lembaran yang mempunyai kekuatan keteguhan sobek yang tinggi, tetapi kekuatan letup rendah.
Untuk memperoleh ketangguhan retak dan sobek yang tinggi, serat yang berdinding tebal perlu dicampur dengan serat yang panjang dan berdinding tipis, misalnya dengan serat kayu daun 7 jarum, atau digiling sesudah diolah menjadi pulp selama beberapa waktu sehingga terjadi penipisan dinding serat. (Nurrahman Silitonga, 1972).
2.1.6 Pembagian Serat Dari Bahan Kayu
Pembagian serat dari bahan kayu menurut penggunaanya dapat dibagi menjadi dua golongan besar:
1. Kayu daun lebar menghasilkan serat pendek (LBKP = Lubholzt Bleach KraftPulp) dengan panjang sekitar 1,1 mm (hardwood) , seperti Eucalyptus
(Eucalyptus sp), Meranti (Shorea sp), Bakau (Rhizopur sp) dan Akasia
(Accassia mangium).
2. Kayu daun jarum menghasilkan pulp serat panjang (NBKP = Nadelholz Bleach Kraft Pulp) dengan serat panjang sekitar 2,5 mm (softwood), seperti
pinus (pinus sp), Agata (Agathis sp).
2.2. Bahan Baku Utama
Bahan baku utama adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan produk pada proses produksi dan memiliki persentase yang sangat besar dibanding-kan dengan bahan - bahan lainnya. Adapun bahan baku yang digunadibanding-kan adalah:
2.2.1. Pulp serat panjang (Needle Bleached Kraft Pulp)
Pulp serat panjang NBKP (Needle Bleached Kraft Pulp) merupakan serat dari golongan tanaman berkayu lunak/kayu jarum (softwood). Kayu jarum umumnya mengandung lebih banyak serat, yaitu sekitar 90% dari volumenya dengan ukuran panjang serat 2-5 mm. Serat panjang ini memiliki keuntungan dari segi daya tarik yang tinggi namun terbatas dalam hal porositasnya. Penggunaan NBKP (Needle Bleached Kraft Pulp) dalam memproduksi kertas rokok ini berfungsi sebagai kerangka dasar struktur dan menjaga kekuatan kertas sewaktu masih dalam keadaan basah dan mempertahankan kekuatan kertas agar tidak mudah putus pada proses pembuatan maupun pada mesin pembuat kertas rokok. Oleh karena seratnya yang panjang, maka sebelum diproses lebih lanjut ke tahap pencetakan kertas, pulp dari serat ini harus melalui tahap penghalusan serat.
Dalam memproduksi kertas rokok, PT. Pusaka Prima Mandiri menggunakan berbagai jenis serat panjang yang diimpor dari Negara-negara Eropa dan Asia untuk diolah menjadi pulp. Adapun jenis-jenis NBKP (Needle Bleached Kraft Pulp) yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2.1 Jenis-Jenis Pulp Serat Panjang
Nama Jenis Negara Asal Dipakai
(aplikasi)
NBKP Caribo Serat panjang Canada Hydra pulper
NBKP Harmac Serat panjang Canada Hydra pulper
Fax pulp Serat panjang Afrika selatan Hydra pulper Abaca pulp Serat panjang Filipina Hydra pulper
2.2.2. Pulp Serat Pendek (Leaf Bleached Kraft Pulp)
Pulp serat pendek LBKP (Leaf Bleached Kraft Pulp) merupakan serat adari golongan tanaman berkayu keras/kayu daun (hardwood). Kayu daun mengandung serat yang lebih sedikit dibandingkan dengan serat panjang yaitu sekitar 50% dari volumenya dengan ukuran serat yang lebih pendek yaitu kurang dari 2 mm. Adapun kelebihan penggunaan kayu daun ini adalah dari segi porositas yang lebih besar diperlukan dalam pembuatan kertas rokok agar pada saat rokok dibakar, udara tidak hanya masuk pada ujung tembakau, tetapai juga pada sepanjang pori-pori kertas.
Penggunaan LBKP (Leaf Bleached Kraft Pulp) dalam pembuatan kertas rokok ini berfungsi sebagai pembentuk perata susunan kertas dan pengisi. Oleh karena ukuran serat yang lebih pendek, maka serat LBKP (Leaf Bleached Kraft Pulp) tidak perlu dihaluskan lagi agar tidak hancur.
Selain menggunakan serat panjang, PT. Pusaka Prima Mandiri juga menggunakan berbagai jenis serat pendek yang diimpor dari Negara-negara Eropa untuk diolah menjadi pulp. Adapun jenis-jenis LBKP (Leaf Bleached Kraft Pulp) yang digunakan sebagai berikut :
Tabel 2.2.2 Jenis Pulp Serat Pendek
Nama Jenis Negara Asal Dipakai (aplikasi)
LBKP Baycell Serat pendek Chile Hydra Pulper LBKP Santa Fe Serat Pendek France, USA Hydra Pulper LBKP Aracruz Serat Pendek Brazil Hydra Pulper
2.2.3. Kertas Bekas (Broke)
Kertas bekas merupakan kertas-kertas hasil produksi dari tiap Mesin Pembuatan kertas yang tidak layak jual karena adanya kerusakan, tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan konsumen ataupun sisi kertas yang terbuang. Pemakaian kertas bekas ini dapat mengurangi limbah dan biaya produksi Karena jumlahnya banyak. Adanya campuran kertas bekas dengan pulp murni dapat membantu kerataan formasi kertas serta kelengkungan. (http://www.google.com/search.PT.PDM_Indonesia.pdf).
2.3. Bahan Tambahan
Bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam proses pembuatan produk yang mana komponennya tidak dapat dibedakan pada produk. Bahan tambahan yang digunakan di PT. Pusaka Prima Mandiri adalah sebagai berikut:
1. Anti Foam (Deformer).
Polimer yang berdasarkan water base digunakan untuk mencegah buih-buih agar tidak masuk kedalam kertas.
2. Pencegah Bakteri (biocide)
Digunakan sebagai pembunuh bakteri untuk mencegah peng-gumpalan bakteri (slime pot).
3. Citric Acid, Anhydrous C6H8O7 Kering
Citric acid atau asam sitrat yang dipakai sebagai zat pembakar dalam kertas yang harus dinetralkan dengan KOH.
4. Potassium Hydroxide KOH
Digunakan untuk menetralisir Citric Acid sebelum diaplikasikan ke mesin distribusi.
5. Air
Air didalam proses produksi digunakan sebagai media dan pelarut.
6. Precipitated Calcium Carbonate (CaCO3)
Berdasarkan struktur dan partikel CaCO3 size-nya berukuran 1.0 - 0.2 μm digunakan sebagai filler (bahan pengisi) kertas, pemerata pori - pori (porosity) dan memutihkan kertas (whiteness).
7. Citrate
Citrate juga memerlukan panas terlebih dahulu didalam cooking tank untuk memyempurnakan campuran antara Potassium Hidroxide ( KOH ) dan Citrate Acid ( CA ) dengan suhu 70oC dari cooking tank yang selanjutnya dipompakan kembali ke final tank yang sebelumnya disaring di vibrating screen. Di final tank citrate dipompakan ke size press.
8. Starch
Cationik Starch pada industri kertas berfungsi sebagai dry strength pretense dan drainase aid. Keuntungan lain adalah sifat dispersi dan efisiensi yang tinggi juga pH yang pada umumnya netral atau basa. Dispersi yang lebih tinggi yang berhubungan dengan suhu pemasakannya akan lebih efektif terhadap kenaikan ketahanan retak dan ketahanan tarik. Starch dimasak di cooking tank dengan suhu 80 oC – 95 oC agar terjadi proses gelatinasi. Selanjutnya starch dipompakan ke starch tank untuk menjaga ketersediaan yang akan diinjeksikan ke constant level tank
(repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19332/4/Chapter II.pdf.4-4-2014)
9. Guar Gum
Guar gum adalah dari kacang-kacangan guar ekstrak endosperm dari galactomannan non-ionik, getah guar dan turunannya memiliki kelarutan air yang baik, dan fraksi massa rendah untuk membuat viskositas tinggi. Karena karakteristik ini memiliki aplikasi di banyak daerah, seperti kertas, farmasi, tekstil dan sebagainya.
Guar gum air panas dan dingin dalam bentuk larutan tembus berbentuk sepenuhnya terhidrasi. Guar gum setelah viskositas sepenuhnya dibubarkan dimaksimalkan. Pengolahan berkepanjangan akan mengakibatkan degradasi guar sendiri, viskositas menurun. Guar gum adalah viskositas tertinggi karet alam yang tidak larut dalam etanol dan pelarut organik lainnya(http://id.swewe. net/word_show.
htm/?71259_1& Guar_gum).
Guar gum adalah sejenis zat modifikasi berupa kanji kentang yang dibutuhkan untuk pengikat partikel buburan sehingga menghasilkan buburan pulp yang homogen dan menambah kekuatan kertas pada waktu basah maupun kering dan mengurangi kerusakan pada lembaran kertas. Fungsi lain dari guar gum adalah untuk meningkatkan intensitas marking, meningkatkan kualitas produksi dan meningkatkan formasi lembaran.(http://www.google.com/search.PT.PDM_Indonesia.pdf).
Guar gum bertujuan untuk memperlembut serat saat refining, sehingga energi yang digunakan pada saat refining ringan/kecil serta guar gum tidak hilang dan akan menyatu pada ikatan serat serta terbawa terus ke paper mesin.
Pengaruh guar gum pada saat proses marking apabila guar gum berlebih maka serat akan semakin lembut, maka hasil marking akan semakin naik atau terang.
(Muhamad,S.N.2012).
2.4. Bahan Penolong
Bahan yang ditambahkan dalam produk tersebut sehingga dapat meningkatkan mutu dari produk itu sendiri. Bahan penolong yang digunakan PT. Pusaka Prima Mandiri adalah:
1. Kertas Pembungkus.
Kertas pembungkus untuk membungkus kertas rokok dalam ukuran ream.
2. Core
Kegunaan core sebagai inti dari gulungan kertas selama proses penggulungan baik di paper machine maupun di bagian finishing.
3. Kotak Karton
Kegunaan kotak karton adalah untuk mengemas hasil produksi.
4. Label
Kegunaan label sebagai pengenal peusahaan yang ditempel pada kertas pembungkus produk.
2.5. Standard Mutu Bahan/Produk
Pandangan konsumen (pemakai) terhadap mutu cigarette paper menunjukkan ada 3 unsur penting yang harus di perhatikan, yaitu:
a. Kertas tahan dan tidak mudah putus daam proses di pabrik kertas rokok pada kecepatan tinggi.
b. Keadaan kertas putih dan bersih.
c. Pembakarannya, seperti asap, abu, dan rasa.
Tabel 2.3 perbedaan kertas biasa dengan kertas rokok.
Pada umumnya kertas dapat dibagi dalam 3 golongan besar yaitu:
a) Cultural paper (kertas budaya), yang terdiri dari jenis kertas news print (kertas koran) writing, printing dan business (kertas cetak, tulis dan keperluan bisnis) dan kertas khusus.
b) Industrial Paper (kertas industri) yang terdiri dari wrapping, packaging dan kraft,boards, cigarette dan kertas khusus.
c) Other Paper (kertas lainnya), yang terdiri dari Tissued, household dan kertas lainnya.
Berdasarkan penggolongan kertas tersebut diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada umumnya cultural paper adalah kertas yang digunkan untuk keperluan kebudayaan secara umum, misalnya surat kabar, buku-buku, dan lain-lain (sebagian besar digunakan oleh industri percetakan).
Jadi untuk dapat melihat berapa sebenarnya pengunaan cultural paper dapat dilihat bagaimana perkembangan dari industri-industri percetakan dan tingkat pendidikan,sedangkan konsumsi akan industrial paper bergantung terutama kepada berkembangnya industri-industri didalam negeri. (anonim. 1992).
2.7. Produksi Kertas dan Kertas Board
Perkembangan produksi kertas Indonesia terus mengalami peningkatan yang mengembirakan, jumlah maupun jenisnya terutama setelah tahun 1975.Pembahasan selanjutnya kurun waktu akan dibagi menjadi 3 periode yaitu, periode I (tahun 1970-1975) periode II (tahun 1976-1979) dan periode III (1980-1985).
a. Periode I (1974-1975)
Terlihat bahwa selama periode ini produksi hanya terbatas pada kertas cigarette, kertas cetak, tulis dan business. Pada tahun 1970 produksinya 18488 ton, meningkat menjadi 51.335 ton atau rata-rata meningkat 30% per tahun. Produksi
kertas cetak dan tulis merupakan yang terbesar rata-rata 34.921 ton (99,2%) dan kertas cigarette 283 ton (0,8%).
b. Periode II (1976-1979)
Pada awal periode ini mulai nampak diproduksi berbagai jenis tambahan yaitu wrapping, packaging dan board lainnya, hnaya kertas khusus specials/khusus belum diproduksi. Selama waktu ini diproduksi meningkat rata-rata 51%, sedang peningkatan masing-masing jenis kertas adalah kertas cetak dan tulis 32,7%, wrapping, packaging 198%, boards 63,1%, cigarette 31,6% dan lainnya 13,9%.
Atau peningkatan produksi cultural paper 32,7% dan industrial paper 123,4%.
c. Periode III (periode proyeksi 1980-1985)
Pada akhir periode III produksi rata-rata 760205 ton terdiri dari kertas koran 87,202 (11%), cetak dan tulis 214,502 ton (28%), kraft wrapping pack 267,988 ton (35%), board 141,798 (19%), cigarette 9000 ton (1%) dan lainnya 39713 ton (6%).
Peningkatan produksi kalau ditinjau volumenya memang sangat tinggi, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kapasitas terpasang terlihat kurang menggembirakan. Kalau dirata-ratakan ternyata produksi nyata selama periode 1970-1979 baru mencapai 65%. Memang pada periode 1976-1979 terlihat perkembangan yang lebih pesat dibandingkan periode sebelumnya.(anonim. 1992).
2.8. Stock Preparation(SP)
Unit proses pembuatan buburan kertas biasanya disebut Stock Preparation(SP). Stock Preparation (SP) berfungsi menyediakan buburan kertas yang sesuai dengan produk yang ingin dihasilkan. Pada tahap Stock Preparatmesion
ini terjadi perlakuan terhadap serat dan penambahan bahan-bahan kimia tertentu sebelum dikirim ke mesin kertas agar sifat-sifat yang diinginkan dapat tercapai secara maksimal.
Sifat-sifat serat adalah sifat fisik, sifat optik dan sifat kimia dari kertas yang ingin dihasilkan. Pengolahan di Stock Preparation meliputi :
a) Desintegrasi pulp (Repulper)
b) Penyaringan dan Pembersihan serat ( Screening) c) Penggilingan (Refning)
d) Pencampuran ( Blending )
e) Penambahan bahan baku bukan serat ( Aditif ).
2.8.1 Jalur Proses Pulp
Jalur bahan baku pulp yang berawal dari Hydrapulper menggunakan pulp dalam bentuk bale menjadi serat-serat individu melalui aksi mekanis yang selanjutnya melewati tahapan pembersihan dan penyaringan sebelum ditampung dalam cheast yang disediakan.
Didalam proses Stock Preparation terdapat dua jalur utama dalam menyediakan kebutuhan pulp yang mempunyai karakteristik yang berbeda dalam ukuran panjang seratnya.
a. Hydrapulper
Hydrapulper berfungsi menguraikan serat softwood / Hardword dalam bentuk lembaran pulp menjadi serat individu dengan menggunakan pisau yang terdapat dibagian bawah hydrapulper. Hydrapulper di operasikan secara batch pada konsistensi 5% - 6%. Air dimasukkan telebih dahulu sebelum pisau dijalankan , setelah pulp sheet dimasukkan dalam jumlah tertentu. Efek dari pengadukan adalah terjadinya gesekan antar serat dan rotor, serat dengan dinding pulper juga gesekan antar serat yang akan mengakibatkan terurainya pulp menjadi serat individu.
Serat yang telah terurai dikeluarkan melalui extractor plate yang berbentuk plat yang memiliki lubang-lubang sehingga pulp yang belum terurai sempurna akan tertinggal didalam Hydrapulper.
b. Wood Dump Chest
Setelah Stock dipompakan dari Hydrapulper kemudian masuk ke Wood Dump Chest dengan tujuan untuk menjaga ketersediaan stock sebagai umpan pada proses refining, mempertahankan kondisi homogenitas dan menjaga konsistensi.
Untuk stock NBKP dipompakan terlebih dahulu ke refined tank dengan tujuan untuk menjaga aliran stock ke refiner tetap stabil.
c. Refiner
Refiner merupakan perlakuan mekanis yang diberikan terhadap serat sehingga serat akan terfibrilasi. Fibrilasi tersebut akan meningkatkan ikatan antara serat
sehingga kekuatan yang diinginkan akan tercapai. Ada 3 mekanis yang terjadi didalam serat yaitu serat dengan serat, serat dengan stator dan serat dengan rotor.
Refiner atau mesin penggiling yang digunakan untuk menggiling pulp NBKP menggunakan 2 tipe refiner yaitu terdiri dari 2 Twin Hydra Disk (THD) yang tersambung secara seri dan 1 Double Disk Refiner ( DDR).
d. Deflaker
Deflaker berfungsi menguraikan flakes dalam stock yang belum terurai sempurna pada proses repulping menjadi serat individu.
Mekanisme kerja deflaker dimulai dari suspensi stock masuk kedalam deflaker secara sentral mengalir dari lubang rotor menuju lubang stator, sehingga percepatan dan perlambatan dapat terjadi secara berulang. Hasil mekanik memaksa terputusnya ikatan antara serat agar menjadi bagian serat individu (Muhamad,S.N.2012).
e. Refined Wood Dump Chest
Refined Wood Dump Chest digunakan sebagai tempat untuk menampung suspensi stock NBKP yang telah di refining untuk mengoptimalkan serat.
Didalam chest terdapat sistem pengadukan yang menggunakan agitator untuk menjaga homogenitas dari buburan dan juga menjaga suspense stock ke mixing chest.
f. Forming Section ( Wire Part )
Wire berfungsi sebagai media pembentuk lembaran ( forming section ) selanjutnya lembaran basah terbentuk diatas wire. Tujuan agar terjadi orientasi yang bagus sehingga terbentuk lembaran dengan sifat-sifat yang maksimal. Pada forming section juga terjadi proses dewatering ( penghilangan air ) hingga memungkinkan lembaran basah ( wet web ) dapat dipindahkan ke press section. ( Anonim.2006 ).
Konsistensi wet web ketika meninggalkan wire part sekitar 18% - 20%.
Dengan konsistensi 20% diharapkan lembaran basah tidak putus saat dipindahkan dan couch roll ke pick up roll ( press section ). Oleh karena itu kebersihan wire harus terjaga agar tidak terjadi penyumbatan ( plugging ) yang akan mengurangi laju drainase buburan diatas wire. ( Taufan, H.2010 )
g. Press Section ( Press Part )
Air yang masih tersisa pada lembaran selanjutnya dikeluarkan dengan aksi mekanis yaitu dengan cara pengepresan kertas yang masuk dengan dryness sekitar
Air yang masih tersisa pada lembaran selanjutnya dikeluarkan dengan aksi mekanis yaitu dengan cara pengepresan kertas yang masuk dengan dryness sekitar