• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimana kondisi keluarga broken home terhadap peran orang tua dalam pendidikan anak di Desa Donorojo RT 07 RW 01 Kecamatan Demak Kabupaten Demak?

2. Bagaimana dampak broken home pada prestasi belajar anak di Desa Donorojo RT 07 RW 01 Kecamatan Demak Kabupaten Demak?

7 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut.

1. Mendiskripsikan kondisi keluarga broken home terhadap peran orang tua dalam pendidikan anak di Desa Donorojo RT 07 RW 01 Kecamatan Demak Kabupaten Demak

2. Mengetahui dampak broken home pada prestasi belajar anak di Desa Donorojo RT 07 RW 01 Kecamatan Demak Kabupaten Demak

1.4. Manfaat Penelitian 1) Secara Teoris

Sebagai ilmu pengetahuan tentang dampak broken home pada prestasi belajar anak.

2) Secara Praktis a. Bagi anak

Meningkatkan prestasi belajar pada anak yang mengalami broken home.

b. Bagi orang tua

Sebagai pedoman dalam pentingnya peran orang tua dalam prestasi belajar anak

c. Bagi masyarakat

Sebagai informasi dalam pembentukan prestasi belajar anak.

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

Dalam kajian teori ini, peneliti akan menguraikan mengenai: 1. Keluarga 2. Keharmonisan keluarga 3. Broken home 4. Motivasi belajar 5. Prestasi belajar

2.1.1 Keluarga

Keluarga adalah kelompok terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang tinggal bersama di sebuah rumah untuk berbagi rasa kasih sayang, keluarga juga merupakan tempat pertama kali bagi anak untuk melakukan interaksi sosial. Keluarga menurut Friedman (1998) adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk salin membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga. Latipun (2005:124) mengemukakan bahwa keluarga adalah lingkungan sosial yang terbentuk erat karena sekelompok orang bertempat tinggal, berinteraksi dalam pembentukan pola piker, kebudayaan, serta sebagai mediasi hubungan anak dengan lingkungannya.

Menurut Gunarsa (2008:72) menyatakan bahwa keluarga merupakan kelompok sosial yang bersifat abadi, dikukuhkan dalam sebuah pernikahan yang memberikan pengaruh keturunan dan lingkungan sebagai dimensi penting bagi individu, serta keluarga adalah tempat yang penting bagi individu terutama adalah anak untuk memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar menjadi orang berhasil di masyarakat, keluarga terdiri dari pribadi – pribadi yakni ayah, ibu dan anak –anak sebagai keluarga inti.

Menurut Zastrow (2006:71) menyatakan bahwa keluarga (family) merupakan sebuah konsep yang memiliki artian luas, keluarga merupakan kumpulan dari sekelompok orang yang mempunyai hubungan atas dasar pernikahan, keturunan, atau adopsi serta tinggal bersama di rumah tangga

9

biasa. Sementara itu menurut Burges dan Locke (dalam Sunarti, 2006:71) mengemukakan bahwa keluarga juga didefinisikan sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat yang anggotanya terikat oleh adanya hubungan perkawinan (suami – istri) serta hubungan darah (anak kandung) atau adopsi (anak angkat/pungut).

Menurut Uhbiyati (1999:1130) keluarga adalah ikatan laki – laki dengan wanita berdasarkan hukum atau undang – undang perkawinan yang sah. Biasanya susunan keluarga terdiri atas ayah, ibu, anak dan kerabat yang tinggal bersama dalam satu rumah.

Menurut Friedman (dalam Lestari, 2004:2) menjelaskan keluarga adalah sekelumpulan orang yang tinggal bersama dalam satu rumah yang dihubungkan dengan suatu ikatan aturan dan emosional serta setiap individunya memiliki peran masing – masing yang merupakan bagian dari keluarga.

Berdasarkan dari pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan kelompok terkecil dari masyarakat yang beranggotakan dua orang atau lebih yang terikat dalam hubungan darah, hubungan perkawinan dan adopsi. Komponen keluarga tersebut terdiri dari suami – istri yang terikat dalam perkawinan atau suami, istri dan anak yang tinggal bersama dalam satu rumah yang kemudian menciptakan interaksi antara satu dengan yang lain serta mempunyai peran masing – masing di dalam keluarga.

2.1.2. Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Dalam hal pendidikan peran orang tua sangat penting karena sebelum anak menginjak bangku sekolah, orang tualah yang memberikan pendidikan pertama untuk anak. Peran orang tua yang sebagaimana pada umumnya yaitu membimbing anak dalam belajar, tempat berdiskusi, dan lain – lain. Karena dalam hal tersebut sebagai orang tua mempunyai rasa tanggung jawab yang besar untuk memastikan anak mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. Selain itu, peran orang tua harus membimbing anak dalam belajar. Menurut Iftitah & Anawaty (2020:112)

10

menyatakan bahwa “Peran penting orang tua sebagai motivator, fasilitator, serta tempat berdiskusi dan bertanya.”

Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi peran orang tua menurut Friedman (dalam Slameto, 2003:39), antara lain: a) Faktor status sosial ditentukan oleh unsur – unsur seperti pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. b) Faktor bentuk keluarga. c) Faktor tahap perkembangan keluarga dimulai dari terjadinya pernikahan yang menyatukan dua pribadi yang berbeda, dilanjutkan dengan tahap persiapan menjadi orang tua. d) Faktor model peran.

Berdasarkan dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa orang tua mempunyai peran penting dalam pendidikan anak sebagai motivator atau sebagai tempat berdiskusi. Dan peran orang tua tersendiri mempunyai beberapa faktor yaitu faktor status sosial, faktor bentuk keluarga, faktor perkembangan keluarga, dan faktor model peran.

2.1.3. Keharmonisan Keluarga

Keluarga harmonis adalah wujud suatu bentuk yang selalu ingin dijaga oleh setiap pasangan, pasangan yang telah menikah tentunya mengharapkan keharmonisan di dalam rumah tangga sehingga dapat menciptakan keluarga yang bahagia. Menurut Defrain (1999:235) mengemukakan bahwa keharmonisan keluarga merupakan suatu keadaan keluarga bahagia yang ditandai dengan sedikitnya ketegangan, adanya kehangatan antara anggota keluarga dengan terjalinnya kasih sayang, saling memahami satu sama lain, komunikasi yang positif, dan saling bekerjasama dalam mengatasi situasi yang sulit.

Menurut Basri (1996:12) mengatakan bahwa keluarga yang harmonis dan berkualitas yaitu keluarga yang rukun, tertib, disiplin, saling menghargai, penuh pemaaf, tolong menolong dalam kebajikan, memiliki etos kerja yang baik, bertetangga saling menghormati, taat mengerjakan ibadah, berkabik pada yang lebih tua, mencintai ilmu pengetahuan, dan memanfaatkan waktu luang dengan hal positif dan mampu memenuhi dasar keluarga.

11

Dalam mewujudkan keluarga yang harmonis ada ciri – ciri yang harus dipahami, menurut Danuari (dalam Pujosuwarno, 1994:10) mengungkapkan bahwa ciri – ciri keluarga bahagia yaitu adanya ketenangan jiwa yang dilandasi oleh ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, hubungan harmonis antara individu yang satu dengan individu yang lain dalam keluarga dan masyarakat, terjamin kesehatan jasmani, rohani dan sosial, cukup sandang, pangan dan papan, adanya jaminan hukum terutama hak asasi manusia, tersedianya pelayanan pendidikan yang wajar, ada jaminan dihari tua sehingga tidak perlu khawatir terlantar dimasa tua, tersedianya fasilitas rekreasi yang wajar.

Selain ciri – ciri keluarga yang harmonis ada juga aspek – aspek yang perlu dipehatikan dalam keharmonisan keluarga. menurut Gunarsa (2000:266) mengungkapkan ada beberapa aspek keharmonisan dalam keluarga yaitu kasih sayang antar anggota keluarga yang ditunjukkan dengan saling menghargai dan saling menyayangi, saling pengertian sesama anggota keluarga yang ditunjukkan dengan saling pengertian sehingga di dalam keluarga tidak terjadi pertengkaran, dialog atau komunikasi efektif yang terjalin di dalam keluarga yang diwujudkan dalam bentuk menyediakan cukup waktu, mendegarkan dan pertahankan kejujuran serta mempunyai waktu bersama dan kerjasama dalam keluarga.

Menurut Hawari (dalam Maria, 2007:77) suatu hubungan yang harmonis setidaknya mempunyai enam aspek yaitu: (1) Menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga. (2) Mempunyai waktu bersama keluarga. (3) mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga.

(4) saling menghargai antar sesama anggota. (5) kualitas dan kuantitas konflik yang minim. (6) adanya hubungan atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli keluarga harmonis dan berkualitas yaitu keluarga yang berlandaskan dengan ketakwaan Tuhan Yang Maha Esa yang ditunjukkan dengan cara saling menyayangi dan saling menghargai sesama anggota keluarga. Kemudian keluarga yang

12

harmonis adalah keluarga yang minim pertengkaran dan mempunyai waktu luang bersama keluarga.

2.1.4. Broken Home

Broken home adalah kondisi dimana keluarga tidak lagi utuh, ketidakutuhan tersebut disebabkan akibat adanya perpecahan atau pertengkaran diantara suami istri yang tidak bisa diselesaikan dengan baik.

Sehingga berakibat putusnya tali keluarga atau perceraian. Menurut Wulandri & Fauziah (2019:57) broken home diartikan sebagai keluarga yang retak, yaitu kondisi hilangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua yang disebabkan oleh beberapa hal, bisa karena perceraian sehingga anak hanya tinggal bersama satu orang tua kandung.

Fungsi orang tua adalah sebagai motivator untuk anak, selain sebagai motivator orang tua merupakan tempat bagi anak untuk mendapatkan rasa kasih sayang dan sebagainya. Menurut Blair dan Joner (dalam Willis, S. Sofyan, 2009:2) ciri – ciri keluarga broken home adalah bukan hanya keluarga dengan kasus perceraian saja. Keluarga broken home secara keseluruhan berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibu sebagai orang tua tidak berjalan dengan baik secara fungsional.

Menurut Pujosuworno (1997:7) menyatakan bahwa di dalam suasana yag retak, sudah tidak ada keharmonisan antara ayah dan ibu, tidak ada kesatuan pendapat, sikap dan pandangan terhadap sesuatu yang dihadapinya. Akibatnya anak – anak akan merasa terlantar, kurang perhatian dan kurang kasih sayang selain itu anak akan merasa malu dan menjadi bahan bullyan di sekolah sehingga mengakibatkan kurangnya konsentrasi pada saat pelajaran.

Menurut Kardawati (2001:134) penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain:

a) Orang tua yang bercerai

Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar - dasar

13

perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menompang keutuhan kehidupan kelurga yang harmonis.

b) Kebudayaan bisu dalam keluarga

Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja.

c) Perang dingin dalam keluarga

Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa perselisihan dan kebencian dari masing – masing pihak.

Menurut Nurmalasari (dalam Suprapti, 2011:25), dampak yang disebabkan keluarga yang broken home adalah sebagai berikut: (1) psychological disorder yaitu anak memiliki kecenderungan agresif, labil, tempramen, emosional, sensitive, apatis, dan lain – lain. (2) academic problem yaitu kecenderungan menjadi pemalas dan motivasi berprestasi rendah. (3) behavioral problem yaitu kecenderungan melakukan perilaku menyimpang seperti bullying, memberontak, bersikap apatis terhadap lingkungan, bersikap destruktif terhadap diri dan lingkungannya (merokok, minum – minuman keras, judi dan free sex).

Maka dapat disimpulkan bahwa Broken Home adalah suatu kondisi dimana keluarga sudah tidak lagi harmonis yang disebabkan oleh beberapa penyebab seperti orang tua yang bercerai, kebudayaan bisu dalam keluarga dan terjadi perang dingin di dalam keluarga. Sehingga dalam hal tersbut berdampak pada psikologis anak, akademik anak dan perilaku menyimpang pada anak.

2.1.5. Motivasi Belajar

Seperti yang diketahui bahwa motivasi belajar sangat penting bagi proses belajar siswa. Ada siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dan ada siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah, rendahnya motivasi belajar siswa disebabkan kurangnya dorongan dalam belajar.

Menurut Sudarwan (2002:2) motivasi diartikan sebagai kekuatan,

14

dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Hakim (2007:26) mengemukakan pengertian motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.

Melihat kondisi dari dampak lingkungan keluarga broken home tidak hanya memberikan rasa kurang nyaman terhadap anak melainkan juga mempengaruhi motivasi belajar mereka. Seperti yang diketahui, motivasi belajar pada siswa tidak sama kuatnya, ada siswa yang motivasinya bersifat intrinsik dimana kemauan belajarnya lebih kuat dari dalam diri sendiri tidak tergantung pada faktor luar. Kemudian ada siswa yang motivasi belajarnya bersifat ekstrinsik, dimana kemauan belajarnya tergantung pada kondisi luarnya. Menurut Santrock (2004:156) motivasi terbagi menjadi 2 jenis yaitu instrinsik yang berasal dari dirinya sendiri dan ekstrinsik yang berasal dari luar individu tersebut.

Menurut Hamalik (2009:161) fungsi motivasi sebagai berikut: (a) Mendorong timbulnya suatu kelakuan atau perbuatan. Tanpa adanya motivasi maka tidak akan timbul perbuatan seperti belajar. (b) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan diinginkan. (c) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat lambatnya suatu pekerjaan.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi sangat berpengaruh pada proses belajar anak, motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu agar mencapai tujuannya. Motivasi sendiri dibagi menjadi dua yaitu bersifat instrinsik dan ekstrinsik, dimana dua sifat motivasi ini sangat berpengaruh dalam proses belajar anak. Sehingga fungsi motivasi sendiri yaitu mendorong timbulnya suatu kelakuan atau perbuatan.

15 2.1.6. Prestasi Belajar

Prestasi belajar umumnya akan muncul setelah melakukan proses pembelajaran. Setiap proses pembelajaran akan menghasilkan prestasi belajar yang berbeda antara siswa satu dengan yang lainnya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan proses belajar dapat dilihat dari prestasi belajar itu sendiri, karena prestasi belajar merupakan salah satu indikator yang sangat penting dalam proses pendidikan pada umumnya.

Prestasi belajar mengandung dua arti, yaitu prestasi dan belajar. Kata prestasi berasal dari kata prestatie yang berasal dari bahasa Belanda.

Slameto (1993:2) mendefinisikan, prestasi adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Winkel (1996:53) mendifinisikan belajar adalah suatu aktivitas mental atau fisik yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap.

Menurut Azwar (2006:443) prestasi belajar adalah performa maksimal seseorang dalam menguasai bahan - bahan atau materi yang telah diajarkan atau dipelajari. Menurut Djamarah (2012:3) bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan – kesan yang mengakibatan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Menurut Kpolovie, Joe, dan Okoto (2014:154) bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan siswa untuk belajar, yakni dengan mengingat fakta dan mengkomunikasikan pengetahuannya baik secara lisan maupun tertulis, bahkan dalam dalm kondisi ujian.

Berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran tergantung bagaimana siswa tersebut dalam berproses, seperti yang dikemukakan oleh Slameto (2010:54) ada dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar yaitu: faktor ekstern (yang berasal dari luar diri siswa) dan intern (dari dalam diri siswa).

16

Dari pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar berasal dari dua kata prestasi dan belajar yang dimana prestasi sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian prestasi merupakan hasil dari sebuah usaha yang telah dicapai, sedangkan belajar merupakan suatu aktivitas mental atau fisik yang menghasilkan perubahan.

Sehingga dapat diartikan prestasi belajar adalah hasil suatu proses perubahan pembelajaran yang telah dicapai yang menimbulkan berubahnya suatu tingkah laku dalam belajar yang didasari oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

2.2.Kajian Penelitian Relevan

Kajian penelitian relevan dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Harry Ferdinand Mone (2019) yang berjudul Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Perkembangan Psikososial dan Prestasi Belajar yang berlokasi di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Perceraian membawa dampak negatif bagi psikososial dan prestasi belajar anak, (2) Emosi atau perasaan anak mempengaruhi aktivitas belajar mereka di sekolah maupun di rumah, baik perasaan sedih, marah, gembira dan lain sebainya, (3) Kasih sayang dari kedua belah pihak (Ayah dan Ibu) serta bantuan dari guru membuat anak merasa kuat dan tegar dalam menghadapi masalahnya, (4) Langkah pemulihan prestasi belajar bisa dengan memberikan pujian, hadiah, dan lain sebagainya yang bersifat edukatif.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Harry Ferdinand Mone (2019) adalah terletak pada fokus dan tempat penelitian, penelitian Harry Ferdinand Mone (2019) bertempat di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Sedangkan penelitian ini dilakukan di Desa Donorojo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Jika penelitian yang dilakukan oleh Harry Ferdinand Mone (2019) memfokuskan pada perkembangan psikososial, perkembangan prestasi belajar dan langkah – langkah pemulihan terhadap psikososial anak. Sedangkan pada penelitian ini memfokuskan pada dampak yang ditimbulkan dari peran orang tua

17

yang mengalami broken home pada prestasi belajar anak di Desa Donorojo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.

Berikut adalah penelitian yang dilakukan oleh Widyastuti Gintulangi, Jusdin Puluhulawa, dan Zulaecha Ngiu (2017) yang berjudul Dampak Keluarga Broken Home Pada Prestasi Belajar Pkn Siswa di Sma Negeri I Tilamuta Kabupaten Boalemo, yang menyimpulkan bahwa (1) Keadaan keluarga yang mengalami broken home pada prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKN mengalami penurunan dan perubahan, (2) Dampak yang ditimbulkan dari keluarga broken home ada 2 yakni dampak psikologi dan dampak ekonomi, (3) Upaya – upaya dalam meningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKN bagi siswa yang berlatar dari keluarga broken home dengan mengefektifkan keberadaan teman dan pembinaan kegiatan home visit.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Widyastuti Gintulangi, Jusdin Puluhulawa, dan Zulaecha Ngiu (2017) adalah terletak pada fokus dan tempat penelitian. Jika penelitian yang dilakukan Widyastuti Gintulangi, Jusdin Puluhulawa, dan Zulaecha Ngiu (2017) memfokuskan pada keadaan keluarga broken home pada prestasi belajar PKN serta faktor – faktor akibat keluarga broken home dan upaya meningkatkan prestasi belajar PKN siswa dari keluarga broken home di Kabupaten Boalemo. Sedangkan pada penelitian ini memfokuskan pada dampak yang ditimbulkan dari peran orang tua yang mengalami broken home pada prestasi belajar anak di Desa Donorojo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.

Terakhir adalah penelitian yang dilakukan oleh Andi Alvhina Rizky, Gusti Irhamni, dan Ainun Heiriyah (2021) yang berjudul Studi Dampak Psikologis Pada Siswa Berprestasi Rendah Yang Mengalami Broken Home di SMA Negeri 1 Alalak, menyimpulkan bahwa dampak psikologis siswa yang mengalami broken home akan mudah emosional dan terlihat murung kemudian rendahnya prestasi juga disebabkan karena kurang perhatian dan rasa kasih sayang dari orang tua. Sehingga bagi

18

siswa yang mengalami broken home, guru BK memiliki peran penting dalam memotivasi, memberikan perhatian serta membimbing kearah yang lebih baik.

Perbedaan penelitian Andi Alvhina Rizky, Gusti Irhamni, dan Ainun Heiriyah (2021) dengan penelitian ini adalah terletak pada fokus penelitian dan tempat penelitian, dimana penelitian yang dilakukan berlokasi di SMA Negeri 1 Alalak yang memfokuskan pada perkembangan psikologis, peranana guru BK serta kendala dalam mengatasi prestasi belajar anak broken home. Sedangkan pada penelitian ini memfokuskan pada dampak yang dtimbukan dari peran orang tua yang mengalami broken home pada prestasi belajar anak di Desa Donorojo, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.

2.3. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan dasar penelitian dari pikiran peneliti untuk mempermudah penelitian menuju kearah yang jelas. Penelitian ini akan mengkaji terkait dengan dampak broken home pada prestasi belajar anak di Desa Donorojo 07/01 Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.

Broken home

Peran orang tua

Prestasi belajar

19

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Donorojo Rt 07 Rw 01, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Dimana penelitian ini meneliti Dampak Broken Home Pada Prestasi Belajar Anak di Desa Donorojo Rt 07 Rw 01, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.

3.1.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap yaitu meliputi observasi, pengajuan judul, penyusunan skripsi, penyusunan instrument penelitian, seminar proposal dan mengurus perizinan.

Waktu penelitian ini akan dilakukan pada bulan November 2021 sampai dengan bulan Febuari 2022. Tahap pelaksanaan meliputi observasi, wawancara orang tua dan wawancara anak. Dengan adanya tahap – tahap tersebut, diharapkan penelitian yang dilakukan berjalan sesuai rencana yang telah direncanakan dengan tepat waktu dan memperoleh hasil penelitian yang diharapkan.

3.2.Pendekatan dan Jenis Penelitian

Peneliti akan melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta analisis data deskriptif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari observasi, catatan wawancara, dokumentasi, foto – foto dan data pendukung lainnya. Penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang mengkaji tentang keadaan tertentu.

Hanurawan (2012:15) menyatakan bahwa penelitian dengan pendekatan kualitatif menggambarkan upaya menggali, memahami, mengeksplorasi subjek penelitian melalui prosedur dan data yang bersifat deskripsi atau bukan angka. Selain itu, Nasution (2003:5) berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah pengamatan individu dalam lingkungan, berinteraksi, dan

20

menafsirkan penilaian mereka tentang planet disekitar mereka. Sedangkan menurut Sugiono (2014:1) penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meniliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik pemeriksaan keabsahan data, sedangkan analisis data bersifat induktif.

Jenis penelitian yang digunakan adalah adalah penelitian studi kasus, menurut Sukmadinata (2013:99) penelitian studi kasus merupakan cara dalam pengumpulan data, dimana peneliti menghimpun dan menganalisis data untuk mengekspolorasi suatu kasus. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan suatu keadaan atau peristiwa yang di observasi secara objektif. Menurut Setiadi (2007: 134) berpendapat bahwa metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif, penelitian ini dilakukan dengan cara menempuh langkah – langkah pengumpulan data, klarifikasi, pengolaan, membuat kesimpulan dan laporan. Sedangkan menurut Moleong (dalam Zainiyah, 2017:37) penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gelaja, peristiwa atau

Jenis penelitian yang digunakan adalah adalah penelitian studi kasus, menurut Sukmadinata (2013:99) penelitian studi kasus merupakan cara dalam pengumpulan data, dimana peneliti menghimpun dan menganalisis data untuk mengekspolorasi suatu kasus. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan suatu keadaan atau peristiwa yang di observasi secara objektif. Menurut Setiadi (2007: 134) berpendapat bahwa metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif, penelitian ini dilakukan dengan cara menempuh langkah – langkah pengumpulan data, klarifikasi, pengolaan, membuat kesimpulan dan laporan. Sedangkan menurut Moleong (dalam Zainiyah, 2017:37) penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gelaja, peristiwa atau

Dokumen terkait