BAB I PENDAHULUAN
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang dapat dirumuskan suatu permasalahan, sebagai berikut:
a. Berapa nilai kuat tekan beton dengan berbagai variasi penambahan zat aditif MasterSure® 1007?
b. Bagaimana perbandingan Slump Flow dengan penambahan zat adiktif MasterSure® 1007?
c. Bagaimana perbandingan penetrasi beton dengan penambahan zat adiktif MasterSure® 1007?
d. Bagaimana perbandingan beton mutu tinggi dengan penambahan zat adiktif MasterSure® 1007?
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini untuk mempermudah pembahasan diberikan batasan - batasan sebagai berikut:
1. Mutu beton yang direncanakan adalah 42Mpa.
2. Variasi penambahan aditif MasterSure® 1007 adalah 0%, 0.8%, 1%, 1.2%, 1.4%, 1.6%.
3. Perawatan (Curing) beton dengan cara perendaman pada air PDAM.
4. Semen yang dipakai pada pengujian ini adalah Semen Padang type I .
5. Pengujian slump flow dilakukan pada beton segar pada waktu 0 menit, 60 menit, 120 menit, 180 menit, 240 menit, 300 menit, 360 menit dan seterusnya.
6. Pengujian Penetrasi Beton pada saat Initial Setting dan Final Setting.
7. Pengujian kuat tekan dilakukan pada beton umur 1, 3, 7, 14 dan 28 hari.
1.4 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendapatkan beton slump flow yang stabil pada beton dengan mutu awal tinggi dan peningkatan workability.
2. Mengetahui penetrasi Beton dengan penambahan variasi zat aditif MasterSure® 1007 0.8% , 1% , 1.2% , 1.4% , 1.6%.
3. Mengetahui efek peningkatan nilai kuat tekan beton antara beton normal dengan beton penambahan variasi zat aditif MasterSure® 1007 0.8% , 1% , 1.2% , 1.4% , 1.6%.
1.4.2 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis, yaitu mengembangkan pengetahuan tentang material kontruksi khususnya beton, serta dapat turut memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi beton.
2. Manfaat Praktis, yaitu memberikan informasi tentang pembuatan beton dengan penambahan zat aditif MasterSure® 1007 yang hasil nilai kuat tekan betonnya dipengaruhi oleh penambahan dosis zat aditif MasterSure® 1007.
3. Diharapkan dapat memberi dampak terhadap workability yang baik dengan performa yang stabil pada waktu yg panjang (4 – 6 jam) akibat penambahan MasterSure 1007.
1.5 Jadwal Penelitian
Tabel 1.1 Jadwal penelitian
No Jenis Kegiatan
BULAN
MARET APRIL MEI JUNI JULI
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 1. Studi Literatur
2.
2.1 Beton
Beton merupakan suatu material bahan konstruksi yang tersusun atas campuran semen, agregat (kasar dan halus), air dan dengan atau tanpa bahan tambah (admixture) bila diperlukan. Agregat kasar (kerikil atau batu pecah) dan agregat halus (pasir) berfungsi sebagai bahan pengisi utama beton sekaligus sebagai penguat, sedangkan campuran semen dengan air berfungsi sebagai pengikat antar material.
Variasi ukuran diameter agregat penyusun beton harus memiliki gradasi yang baik (heterogen) yang diatur standarnya dalam standar analisis saringan dari ASTM (America Society of Testing Materials). Pemilihan bahan harus sesuai dengan perhitungan kebutuhan yang direncanakan karena akan mempengaruhi kualitas, workability, dan mutu beton itu sendiri. (Nugraha, 2007)
Beton mempunyai kuat tekan yang besar sementara kuat tariknya kecil. Oleh karena itu untuk struktur bangunan, beton selalu dikombinasikan dengan tulangan baja untuk memperoleh kinerja yang tinggi. Beton ditambah dengan tulangan baja menjadi beton bertulang (reinforced concrete) dan jika ditambah lagi dengan baja prategang akan menjadi beton pratekan (prestressed concrete). (Nugraha, 2007)
Gambar 2.1 Beton bertulang dan beton pratekan
Beton Bertulang = Beton + Baja Tulangan
Pada umumnya beton terdiri dari ± 15% semen, ± 8% air, ± 3% udara, selebihnya pasir dan kerikil. Campuran tersebut setelah mengeras mempunyai sifat yang berbeda-beda, tergantung pada cara pembuatannya. Perbandingan campuran, cara pencampuran, cara mengangkut, cara mencetak, cara memadatkan, dan sebagainya akan mempengaruhi sifat sifat beton. (Samekto, 2001)
Sifat dan karakter mekanik beton secara umum adalah :
1. Beton baik dalam menahan gaya tekan (high compressive strength), tapi lemah terhadap gaya tarik (low tensile strength). Kekuatan tarik beton hanya berkisar 10-15% dari kekuatan tekannya.
2. Beton tidak mampu menahan gaya tegangan (tension) yang tinggi, karena memiliki sifat elastisitas yang rendah.
3. Kemampuan beton mengantarkan panas tergolong rendah (buruk).
Menurut Mulyono (2004) secara umum beton dibedakan kedalam 2 kelompok, yaitu :
1. Berdasarkan kelas dan mutu beton.
Kelas dan Mutu Beton dibedakan atas 3 kelas, yaitu :
a. Beton Kelas I, beton untuk pekerjaan non-struktural. Dalam pelaksanaannya tidak memerlukan ahli khusus. Pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan ringan terhadap kekuatan tekan tidak disyaratkan pemeriksaan.
Mutu kelas I dinyatakan dengan B0.
b. Beton kelas II, beton untuk pekerjaan-pekerjaan struktural secara umum.
Pelaksanaannya memerlukan keahlian yang cukun dan harus dilakukan dibawah pimpinan tenaga tenaga ahli. Beton kelas II dibagi dalam mutu-mutu standar B1, K 125, K 175, dan K 225. Pada mutu B1, pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan terhadap mutu bahan-bahan, sedangkan terhadap kekuatan tekan tidak disyaratkan pemeriksaan. Pada mutu-mutu K 125 dan K 175 dengan keharusan untuk memeriksa kekuatan tekan beton secara kontinu dari hasil-hasil pemeriksaan benda uji.
c. Beton kelas III adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan struktural yang lebih tinggi dari K 225. Pelaksanaannya memerlukan keahlian khusus dan harus dilakukan dibawah pimpinan tenaga ahli. Disyaratkan adanya laboratorium
beton dengan peralatan yang lengkap serta dilayani oleh tenaga-tenaga ahli yang dapat melakukan pengawasan mutu beton secara kontinu.
Tabel 2.1 Pembagian kelas dan mutu beton Kelas Mutu σ'bk
2. Berdasarkan berat jenisnya, beton dibagi menjadi 6 jenis, yaitu : a. Beton Ringan
Beton ringan merupakan beton yang dibuat dengan bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan bobot beton normal. Agregat yang digunakan untuk memproduksi beton ringan pun merupakan agregat ringan juga. Agregat yang digunakan umumnya merupakan hasil dari pembakaran shale, lempung, slates, residu slag, residu batu bara dan banyak lagi hasil pembakaran vulkanik. Berat jenis agregat ringan sekitar 800-1800 kg/m3 atau berdasarkan kepentingan penggunaan strukturnya berkisar 1400 kg/m3, dengan kekuatan tekan umur 28 hari antara 6,89 Mpa sampai 17,24 Mpa menurut SNI 08-1991-03.
b. Beton Normal
Beton normal adalah beton yang menggunakan agregat pasir sebagai agregat halus dan split sebagai agregat kasar sehingga mempunyai berat jenis beton berkisar 2200 kg/m3 -2400 kg/m3 dengan kuat tekan sekitar 15-40 Mpa.
c. Beton Berat
Beton berat adalah beton yang dihasilkan dari agregat yang memiliki berat isi lebih besar dari beton normal atau lebbih dari 2400 kg/m3. Untuk menghasilkan beton berat digunakan agregat yang mempunyai berat jenis yang besar dan mempunyai kuat tekan diatas 40 Mpa.
d. Beton massa (mass concrete)
Dinamakan beton massa karena digunakan untuk pekerjaan beton yang besar dan masif, misalnya untuk bendungan, kanal, pondasi, dan jembatan.
e. Ferro-Cement
Ferro Cement adalah suatu bahan gabungan yang diperoleh dengan cara memberikan suatu tulangan yang berupa anyaman kawat baja sebagai pemberi kekuatan tarik dan daktil pada mortar semen.
f. Beton serat (Fibre Concrete)
Beton Serat (Fibre Concrete) adalah bahan komposit yang terdiri dari beton dan bahan lainnya berupa serat. Serat dalam beton ini berfungsi mencegah retak-retak sehingga menjadikan beton lebih daktil daripada beton normal.
2.1.1 Keunggulan Beton
Beton memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan materi struktur yang lain. Secara rinci sifatnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Ketersediaan (availability) material dasar.
Sebagian besar bahan pembuatan beton merupakan bahan lokal (kecuali semen portland atau bahan tambah kimia), sehingga sangat menguntungkan secara ekonomi. Namun pembuatan beton akan menjadi mahal jika perencana tidak memahami karakteristik bahan-bahan penyusun beton yang harus disesuaikan dengan perilaku struktur yang akan dibuat. (Tri Mulyono, 2005)
2. Kemudahan untuk digunakan (versality)
a. Pengangkutan bahan mudah, karena masing-masing bisa diangkut secara terpisah.
b. Beton bisa dipakai untuk berbagai struktur, seperti bendungan, fondasi, jalan, landasan bandar udara, pipa. Beton ringan dapat dipakai untuk blok dan panel. Beton arsitektural bisa untuk keperluan dekoratif.
c. Beton bertulang bisa dipakai untuk berbagai struktur yang lebih berat, seperti jembatan, gedung, bangunan maritim, landasan pacu pesawat terbang, kapal dan sebagainya.
3. Kemampuan Beradaptasi (adaptability)
a. Beton bersifat monolit sehingga tak memerlukan sambungan seperti baja.
b. Beton dapat dicetak dengan bentuk dan ukuran berapapun, misalnya pada struktur cangkang (shell) maupun bentuk bentuk khusus 3 dimensi.
c. Beton dapat diproduksi dengan berbagai cara yang disesuaikan situasi sekitar. Dari cara sederhana yang tidak memerlukan ahli khusus (kecuali beberapa pengawas yang sudah mempelajari teknologi beton) sampai dengan menggunakan alat modern di pabrik.
d. Konsumsi energi minimal per kapasitas jauh lebih rendah dari baja, bahkan lebih rendah dari proses pembuatan batu bata.
4. Kebutuhan Pemeliharaan yang minimal
Secara umum ketahanan (durability) beton cukup tinggi, lebih tahan karat, sehingga tidak perlu dicat seperti struktur baja, dan lebih tahan terhadap kebakaran.
2.1.2 Kelemahan Beton
Disamping segala keunggulannya, beton sebagai struktur juga mempunyai beberapa kelemahan yang perlou dipertimbangkan.
1. Berat sendiri beton yang besar, sekitar 2400 kg/m3
2. Kekuatan tariknya rendadh, meskipun kekuatan tekannya besar.
3. Beton cenderung untuk retak, karena semennya bersifat hidraulis. Baja tulangan bisa berkarat, meskipun tidak terekspos separah struktur baja.
4. Kualitasnya sangat bergantung dengan cara pelaksanaan di lapangan. Beton yang baik maupun yang buruk dapat terbentuk dari rumus dan campuran yang sama.
5. Struktur beton sulit untuk dipindahkan. Pemakaian kembali atau daur-ulang sulit dilakukan dan tidak ekonomis. Dalam hal ini struktur baja lebih unggul, misalnya memindahkannya tinggal melepas sambungannya saja.
Meskipun demikian, beberapa kelemahan beton di atas dapat diatasi dengan berbagai cara, seperti :
1. Untuk elemen struktural: Membuat beton mutu tinggi, beton pratekan, atau keduanya, sedangkan untuk elemen non-struktural dapat memkai beton ringan.
2. Memakai beton bertulang atau beton pratekan.
3. Melakukan perawatan (curing) yang baik untuk mencegah terjadinya retak, dapat juga memakai beton pratekan, atau memakai bahan tambahan yang mengembang (expansive admixtures).
4. Mempelajari teknologi beton dan melakukan pengawasan dan kontrol kualitas yang baik. Bila perlu bisa memakai beton jadi (Ready Mixed), beton pracetak.
5. Beberapa elemen struktur dibuat pracetak (precast) sehingga dapat dilepas per elemen seperti baja. Kemungkinan untuk melakukan beton recycle sedang dioptimasikan.
2.2 Beton SSC
Penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan beberapa referensi yang berhubungan dengan obyek pembahasan. Penggunaan referensi ditujukan untuk memberikan batasan-batasan sistem yang nantinya dapat dikembangkan lebih lanjut, dengan mengacu kepada referensi yang digunakan diharapkan pengembangan sistem nanti dapat melahirkan suatu sistem baru yang belum ada pada referensi sebelumnya. SCC diperkenalkan pertama kali di Eropa pada akhir abad ke-20 dan merupakan konsep inovatif untuk menghasilkan beton yang dapat “mengalir” (flowable) namun tetap kohesif dan bermutu tinggi. Beton dapat dicor dengan mudah dan cepat, tanpa perlu dipadatkan/digetarkan. Beton akan dengan mudah mengalir, bahkan melalui tulangan yang rapat tanpa mengalami segregasi ataupun bleeding. SCC juga mengatasi permasalahan pengecoran untuk posisi yang tinggi karena dapat dipompa dengan mudah.
(Mariani, Victor dan Abdul Gani, 2009)
Penambahan admixture Superplasticizer berpengaruh terhadap karakteristik SCC yaitu tingkat kelecakan aliran (workabilitas) dan kekuatan tekan. Pengaruh penambahan admixture Superplasticizer terhadap karakteristik workabilitas SCC yaitu, semakin besar kadar Superplasticizer yang diberikan maka semakin tinggi tingkat kelecakan aliran yang diukur dengan nilai slump-flow SCC. Sebaliknya, semakin besar kadar Superplasticizer yang diberikan maka semakin menurun kekuatan tekan SCC. (Mariani, Victor dan Abdul Gani, 2009)
Beberapa metode yang telah diterapkan untuk memperoleh sifat beton yang self-compatibility adalah membatasi kandungan agregat, rasio water-powder yang rendah dan penggunaan bahan aditif seperti superplastizier (Okamura dan Ouchi, 2003) Berdasarkan ASTM C. 494 : 1997, additon superflow termasuk dalam bahan admixture tipe A dan F. Additon Superflow merupakan bahan superplasticising admixture berjenis High Range Water Reducer Retarder (HWRRe) berbasis polycarboxylate polimer yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan dalam jumlah besar untuk menghasilkan beton dengan konsitensi tertentu dan juga untuk menghambat pengikatan beton.
Selain itu addition superflow juga berfungsi untuk meningkatkan daya alir beton segar, sehingga beton dapat mengalir dan memadat dengan mengandalkan beratnya sendiri.
Beton SCC terlihat sangat berbeda dari beton konvensional pada saat pencampuran. Produsen beton harus "melatih mata mereka" untuk campuran sangat cair ini. Secara tradisional, beton dengan fluiditas SCC telah memiliki high water-to-cement ratio, yang akan menurunkan kekuatan tekan dan durabilitas.
SCC dapat menghemat waktu dan tenaga kerja tanpa mengorbankan kinerja.
Dua sifat penting khusus untuk SCC dalam keadaan plastik adalah daya lecak aliran dan stabilitas. Kemampuan aliran yang tinggi dari SCC umumnya dicapai dengan menggunakan high-range water-reducing (HRWR) admixture dan tidak dengan menambahkan air pencampuran ekstra. Stabilitas atau resistensi terhadap pemisahan campuran beton plastic dicapai dengan menggunakan pencampuran yang mengubah viskositas campuran.
Pencampuran yang memengaruhi viskositas campuran yang sangat membantu
ketika gradasi sumber agregat yang tersedia tidak dapat dioptimalkan untuk campuran kohesif atau dengan variasi sumber besar. Sebuah gradasi agregat didistribusikan dengan baik membantu mencapai SCC dengan mengurangi bahan semen dan/atau mengurangi dosis campuran. Sementara campuran SCC telah berhasil diproduksi dengan 1½ inci (38 mm) agregat, lebih mudah untuk merancang dan kontrol dengan agregat berukuran lebih kecil. Pengendalian kadar air agregat juga penting untuk menghasilkan campuran yang baik. Campuran SCC biasanya memiliki volume yang lebih tinggi dari pasta, agregat kurang kasar dan rasio agregat pasir kasar lebih tinggi daripada campuran beton yang khas.
(http://www.selfconsolidatingconcrete.org/mixdesign.html)
2.3 Beton Mutu Tinggi
Sejalan dengan perkembangan teknologi beton yang sedemikian pesat, ternyata kriteria beton mutu tinggi pun semakin berkembang dan berubah sesuai perkembangan jaman dan kemajuan tingkat mutu yang dihasilkan. Berdasarkan sejarah perkembangan beton mutu tinggi berdasarkan tingkat mutu yang berhasil dicapai. Pada tahu 1950an, beton dikategorikan mempunyai mutu tinggi jika kekuatan tekannya 30 MPa. Tahun 1960-1970an, kriterianya naik menjadi 40 MPa.
Saat ini beton dikatakan sebagai beton mutu tinggi jika kekuatan tekannya diatas 50 MPa dan diatas 80 MPa adalah beton mutu sangat tinggi.
Beton mutu tinggi sendiri dapat didefenisikan sebagai suatu bahan yang dibuat dari campuran beton (semen, agregat, air) dan pengurangan semen dengan penambahan zat aditif dan penambahan bahan tambah kimia sesuai dengan perbandingan sedemikian rupa sehingga bahan itu merupakan satu kesatuan yang dapat membentuk kekuatan beton yang lebih tinggi. Berdasarkan kuat tekannya (SNI 03-6468-2000, ACI 318, ACI 363R-92), beton dikatakan bermutu tinggi (high strength concrete) jika beton tersebut memiliki nilai kuat tekan yang disyaratkan: f’c
> 41,4 MPa.
Terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan dalam menghasilkan beton dengan mutu yang tinggi. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Faktor air semen (FAS);
2. Kualitas pasir (agregat halus);
3. Kualitas kerikil (agregat kasar);
4. Bahan tambah yang digunakan baik itu chemical admixture maupun additive;
5. Kontrol Kualitas.
2.4 Bahan Penyusun Beton
Berikut merupakan material-material pembentuk beton : 2.4.1 Semen
Menurut Standar Industri Indonesia. SII 0013-1981. definisi semen portland adalah semen hidraulis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidraulis bersama bahan-bahan yang biasa digunakan yaitu gypsum.
Menurut Paul Nugraha dan Antoni (2007), semen portland yang dijual di pasaran pada umumnya berkualitas baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun untuk memberikan kepastian harus dicatat bahwa kelakuan semen juga tergantung pada merek, dikarenakan perbedaan baik dalam bahan mentahnya, yaitu kapur dan tanah liat yang dipakai maupun proses pembuatannya.
Ada 4 kelompok bahan mentah :
1. Kelompok calcareous → Oksida Kapur 2. Kelompok siliceous → Oksida Silika 3. Kelompok argillacous→ Oksida Alumina 4. Kelompok ferriferous → Oksida Besi
Semen Portland dibuat dari 4 bahan di atas, dipilih secara selektif dan proses dikontrol ketat. Setelah pembakaran ditambah dengan gypsum untuk mengatur waktu
set (setting time) mortar atau beton. Untuk membuat 1 ton semen portland, diperlukan bahan dasar kurang lebih:
1.3 ton Batu kapur (limestone) : CaCO3
0,3 ton Pasir Silika / tanah liat : SiO2 & Al2O3
0,03 ton Pasir / kerak besi : Fe2O3
0,04 ton Gypsum : CaSO4.H2O
Batu kapur meliputi semua jenis batuan karbonat yang terutama mengandung kalsium, kadang sedikit magnesium.Marls (campuran dari tanah liat, pasir dan batu kapur dengan proporsi yang bervariasi, sering terdapat pecahan kulit kerang) dan batuan yang berasal dari tanaman dan binatang. Tanah liat dan shale harus ditambahkan bila alumina dan silika yang ada dalam batu kapur masih belum memadai jumlahnya.
2.4.2 Tipe Semen
Fungsi utama semen pada beton adalah sebagai bahan pengikat. Mulyono (2004), mengatakan bahwa semen merupakan campuran dari senyawa CaO (kapur), SiO3 (silika), Al2O3 (alumina) dan MgO (magnesia) serta sedikit alkali. Untuk mengatur waktu ikat semen biasanya ditambahkan dengan CaSO4.2H2O (gipsum).
Pemilihan semen yang tepat adalah dengan menentukan syarat yang spesifik sesuai pada aplikasi campurannya.
Menurut ASTM, semen dibagi menjadi 5 tipe yaitu : 1. Tipe I – Ordinary Portland Cement
Yaitu jenis semen portland untuk penggunaan dalam konstruksi beton secara umum yang tidak memerlukan sifat-sifat khusus.
2. Tipe II – Modified Portland Cement
Semen ini memiliki panas hidrasi yang lebih rendah dan keluarnya panas lebih lambat daripada semen jenis I. Jenis ini digunakan untuk bangunan-bangunan tebal, seperti pilar dengan ukuran besar, tumpuan dan dinding penahan tanah yang tebal. Panas hidrasi yang agak rendah dapat mengurangi terjadinya retak-retak pengerasan.
3. Tipe III – High Early Streght Portland Cement
Jenis ini memperoleh kekuatan besar dalam waktu singkat, sehingga dapat digunakan untuk perbaikan bangunan beton yang perlu segera digunakan atau yang acuannya perlu segera dilepas. Selain itu juga dapat dipergunakan pada daerah yang memiliki temperatur rendah, terutama pada daerah yang mempunyai musim dingin
4. Tipe IV – Low Heat Portland Cement
Jenis ini merupakan jenis khusus untuk penggunaan yang memerlukan panas hidrasi serendah-rendahnya. Kekuatannya tumbuh lambat. Jenis ini digunakan untuk bangunan beton massa seperti bendungan-bendungan gravitasi besar.
5. Tipe V – Sulfate Resisting Portland Cement
Jenis ini merupakan jenis khusus yang maksudnya hanya untuk penggunaan pada bangunan-bangunan yang kena sulfat, seperti di tanah atau air yang tinggi kadar alkalinya. Pengerasan berjalan lebih lambat daripada semen portland biasa. (Wuryati S. dan Candra R.,2001)
Tabel 2.2 Jenis-jenis semen portland dan sifatnya (Nugraha & Antoni, 2007) Tipe
Semen
Sifat Pemakaian
Kadar senyawa (%) Kehalusan blaine
2.4.3 Agregat
Pada beton biasanya terdapat sekitar 70% sampai 80 % volume agregat terhadap volume keseluruhan beton, karena itu agregat mempunyai peranan yang penting dalam propertis suatu beton (Mindesset al., 2003). Agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh, homogen, rapat, dan variasi dalam perilaku (Nawy, 1998).
2.4.3.1 Agregat Halus (Pasir Alami dan Buatan)
Agregat halus disebut pasir, baik berupa pasir alami yang diperoleh langsung dari sungai atau tanah galian, atau dari hasil pemecahan batu. Agregat halus adalah agregat dengan ukuran butir lebih kecil dari 4,75 mm (ASTM C 125-06). Agregat yang butir-butirnya lebih kecil dari 1,2 mm disebut pasir halus, sedangkan butir-butir yang lebih kecil dari 0,075 mm disebut silt, dan yang lebih kecil dari 0,002 mm disebut clay (SK SNI T-15-1991-03).
Berikut grafik gradasi yang harus dipenuhi oleh agregat halus (pasir) berdasar SNI-03-2834-2000 (Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal) dan ASTM C-33 (Standard Specification for Concrete Aggregate) :
(a)
(b)
(c)
(d) Grafik 2.1 Zona gradasi agregat halus
Parameter pemeriksaan agregat halus berdasarkan SNI-03-2461-2991/2002;
SII.0052.80; ASTM C-33 : 1. Kadar Lumpur
a. Maksimal 3% berat kering (beton yang mengalami abrasi) b. Maksimal 5% berat kering (beton yang tidak mengalami abrasi) 2. Fine Modulus (Modulus Halus)
a. 1,5 - 3,8 [ASTM C-33: 2,3 - 3,1]
b. Variasi modulus halus dalam mix design tidak boleh lebih dari 7%
3. Penyerapan air
a. Maksimal 2% [BS = 2%, ASTM=2,3%]
Peraturan terkait dengan pengujian agregat halus antara lain :
1. SNI-1970-2008 (Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus) 2. SNI 03-2816-1992 (Metode Pengujian Kotoran Organik dalam Pasir untuk
Campuran Mortar atau Beton)
3. SNI-3407-2008 (Cara Uji Sifat Kekekalan Agregat Dengan Cara Perendaman Menggunakan Larutan Natrium Sulfat atau Magnesium Sulfat)
4. SNI 03-1756-1990 (Pasir untuk Aduk dan Beton, Cara Penentuan Kekerasan)
5. ASTM C136 (Standard Test Method for Sieve Analysis of Fine and Coarse Aggregates)
6. ASTM C40 / C40M (Standard Test Method for Organic Impurities in Fine Aggregates for Concrete)
7. ASTM C70 (Standard Test Method for Surface Moisture in Fine Aggregate)
8. ASTM C88 (Standard Test Method for Soundness of Aggregates by Use of Sodium Sulfate or Magnesium Sulfate)
9. ASTM C123 / C123M (Standard Test Method for Lightweight Particles in Aggregate)
10. ASTM C-117 (Standard Test Method for Materials Finer than 75-μm
(No.200) Sieve in Mineral Aggregates by Washing)
11. ASTM C142 / C142M (Standard Test Method for Clay Lumps and Friable Particles in Aggregates)
12. ASTM C128 (Standard Test Method for Density, Relative Density (Specific Gravity), and Absorption of Fine Aggregate)
2.4.3.2 Agregat Kasar (Kerikil, Batu Pecah atau Pecahan dari Blast Furnance) Agregat kasar adalah agregat dengan ukuran butir lebih besar dari 4,75 mm. Ketentuan mengenai agregat kasar antara lain :
1. Harus terdiri dari butir - butir yang keras dan tidak berpori.
2. Butir - butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh - pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
3. Tidak boleh mengandung zat - zat yang dapat merusak beton, seperti zat-zat yang relatif alkali.
4. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1%. Apabila kadar lumpur melampaui 1%, maka agregat kasar harus dicuci.
Berikut grafik ketentuan gradasi agregat kasar (split) berdasar SNI-03- 2834-2000 (Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal) :
(a)
(b)
(c) Grafik 2.2 Grafik gradasi agregat kasar
2.4.4 Air
Air yang dapat diminum dapat digunakan untuk air adukan beton akan tetapi air yang dapat digunakan untuk adukan beton tidak berarti dapat diminum.
Ada batasan minimum kandungan zat kimia dalam air adukan yang terdapat dalam air dengan batasan tingkat konsentrasi tertentu yang dapat digunakan bagi adukan beton.
2.5 Bahan Tambah (Admixture)
Secara umum bahan tambah yang digunakan dalam beton dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan tambah yang bersifat kimiawi (chemical admixture) dan bahan tambah yang bersifat mineral (additive). Bahan tambah admixture ditambahkan saat pengadukan dan atau saat pelaksanaan pengecoran (placing), sedangkan bahan tambah additive ditambahkan saat pengadukan dilaksanakan.
Bahan tambah kimia yang banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja
Bahan tambah kimia yang banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja