Hidup Dibui Bagaikan Burung Bangun Pagi Makan Nasi Jagung Tidur Diubin Pikiran Bingung Apa Daya Badanku Terkurung Terompet Pagi Kita Harus Bangun Makan Diantri Nasinya Jangung Pikir Diubin Pikiran Bingung Apa Daya Badanku Terkurung Oh Kawan Dengar Lagu Ini Hidup Dibui Menyiksa Diri Jangan Sampai Kawan Mengalami Badan Hidup Terasa Mati
Apalagi Penjara Jaman Perang Masih Gemuk Namun Tinggal Tulang Karena Kerja Secara Paksa
Tua Muda Turun Kesawah
L
irik lagu hidup di bui yang pernah hits di tahun tujuh puluhan oleh D’Lloyd memberi gambaran betapa an-gker dan seramnya penjara yang merupakan sisa pen-jajahan Belanda dan Jepang.Lagu yang sebagian besar menjadi idolanya para napi saat itu sempat dicekal oleh pemerintah Orde Baru karena seolah-olah pemerintah tidak manusiawi dalam memenjarakan rakyat nya.
Sehingga lirik lagu pada bait ke empat yang aslinya tertulis
“Apalagi Penjara di Tanggerang” dirobah menjadi penjara ja-man perang.
Mengapa di setiap negara ada penjara? Pada masa Kerasulan Nabi Muhammad SAW, para tawanan tidak dipenjara tetapi di-tawan di halaman-halaman masjid atau mushola untuk
melak-sanakan ibadah dan akhlaq kaum muslimin serta kerja-kerja sosial. Dengan strategi ini para tawanan perang ingin menjadi pengikut rasul dan merubah akhlaq mereka dan menjadi orang yang mencintai kemanusiaan.
Penjara memang diperuntukkan bagi pelanggar hukum. Sistem kepenjaraan dari masa ke masa berubah seiring perkembang-an bperkembang-angsperkembang-anya, seiring dengperkembang-an kesadarperkembang-an bperkembang-angsperkembang-anya dalam memahami hukum, dan memahami nilai manusia dan kema-nusiaan.
Bagi bangsa Indonesia penjara ditempatkan untuk kesadaran hukum bagi rakyatnya yang melanggar hukum, tidak menghi-langkan hak kemerdekaan dan peradabannya, apalagi cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 menya-takan bahwa kemerdekaan itu dalah hak segala bangsa, oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan. Selain itu salah satu tujuan bernegara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Dengan makna yang tertuang dalam UUD 1945, bangsa In-donesia paradigma dan kebijakannya dalam memaknai arti penjara, yang menurut kamus bahwa penjara memperlakukan orang terpidana tidak sebagai anggota masyarakat, tetapi pem-balasan dendam masyarakat. Pergeseran paradigma itu men-jadikan penjara sebagai tempat rehabilitasi, reintregasi sosial untuk memperbaiki prilakunya yang buruk menjadi baik, yang pembinaan dan bimbingannya dilakukan secara simultan yaitu petugas, warga binaan dan masyarakat untuk memulihkan ke-satuan hubungan hidup (dengan Tuhannnya), kehidupan de-ngan masyarakat (penghidupan dede-ngan pekerjaan) demikian juga masyarakatnya dikondisikan agar kondusip.
Bicara tentang penjara, setiap pihak membicarakan tentang
penjara terbayangkan bahwa penjara itu kehidupan yang tidak teratur, tempatnya tidak nyaman, hubungan sosial tidak ber-jalan baik, kekerasan menjadi kehidupan sehari-hari, selain itu dalam hal pembinaan masih belum maksimal ditandai dengan over capasity, tidak adanya sistem pembinaan yang teratur, oknum sipir yang melakukan kekerasan, tidak adanya assess-ment bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang baru masuk, tidak adanya bimbingan konseling, terbatasnya sarana dan prasarana seperti air, obat-obatan untuk WBP yang sakit, belum lagi kegiatan-kegiatan yang illegal yang disangka mas-yarakat luar masih terjadi seperti narkoba, judi, freesex (seks sesama sejenis), masih bebas menggunakan HP, serta kegia-tan-kegiatan lainnya, sehingga stigma itu masih melebar di masyarakat.
Sementara bagi narapidana atau WBP yang berada di lapas maupun rutan, dampak dari kehidupan mereka di penjarra ada yang mengalami stresss, kehilangan pekerjaan, dikucilkan masyarakat, kemiskinan bertambah, keluarga ikut menderita, bahkan tidak jarang akibat lamanya suami atau istri di dalam penjara tidak tersalurkannya hubungan biologis, dan tersen-datnya ekonomi tidak sedikit menjadi sebab perceraiaan.
Ironinya akibat over capasity di dalam penjara maupun rutan dicampuradukkannya jenis-jenis pelanggaran kriminal yang akhirnya bukan menimbulkan perubahan yang baik tetapi memperparah keadaan napi itu sendiri. Misalnya, korban pe-makai narkoba disatukan dengan pengedar maupun bandar.
Pemakai yang seharusnya direhabilitasi karena tidak adanya sistem rehab baik di rutan maupun lapas, mengakibatkan para pemakai berubah statusnya dari pemakai menjadi pengedar bahkan menjadi bandar.
Bagi negara setiap tahun pertambahan napi maupun tahan-an semakin meningkat. Menurut penjelastahan-an Menteri Yasonna
Laoly di Majalah Forum edisi 9 tahun 2016 pada tahun 2014 jumlah penghuni lapas dan rutan di seluruh Indonesia men-capai 150.000 orang. Saat ini sudah menjadi 192.000 orang.
Ada penambahan 40.000 orang lebih sementara anggaran Ke-menkumham RI tidak mampu membangun penambahan lapas maupun rutan, belum lagi berbicara anggaran makanan, obat-obatan, serta minimnya petugas rutan dan lapas. Keadaan se-perti ini apakah penjara dapat menjadi tempat pembinaan re-habilitasi maupun reintregasi sosial.
Konsep pembinaan napi atau WBP saat ini dan kedepan se-harusnya mengintegrasikan tiga simpul kekuatan yaitu WBP, petugas, dan masyarakat. Bagaimana menjadikan penjara sebagai rumah mereka dalam arti tempat pembinaan, tem-pat berteduh yang didalamnya para penghuninya datem-pat mer-ekontruksi kembali kepribadiaanya menjadi baik, integrasi sosialnya menjadi kuat, hubungan spritualnya dengan tuhan semakin meningkat, raganya dan fisiknya tetap sehat, serta kesiapan dirinya dengan memiliki keterampilan yang sesuai untuk bekalnya menjadi insan masyarakat yang mandiri dan berkepribadian.
Itulah sebabnya tim penyusun buku ini ingin mengangkat se-buah harapan bagi WBP bahwa penjara yang dianalogikan da-lam kamus tetapi penjara menjadi Rumah Kita, dimana rumah ini harus dirawat oleh warga binaan, petugas, dan masyarakat, guna mengurangi stigma masyarakat terhadap penjara khu-susnya warga binaannnya.
Tiap-tiap pimpinan rutan dan lapas membuka diri dengan masyarakat untuk melihat pembinaan yang selama ini dilaku-kan dengan segala keterbatasannya masih dapat menjadidilaku-kan rutan dan lapas tetap kondusif. Salah satu contoh yang terlihat sehari-hari di lapas maupun di rutan aktivitas warga binaan untuk melakukan kegiatan pembinaan rohani cukup besar
misalnya, di Masjid At-Taubah Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan. Aktivitas WBP dari pagi hingga sore tidak pernah ber-henti menggelar berbagai kegiatan seperti pengajian, belajar Iqro. Mungkin di masjid di luar rutan atau lapas hal itu sangat jarang terjadi.
Begitu juga Gereja Immanuel di rutan bukan hanya buka se-tiap hari Minggu tetapi buka sese-tiap hari dari pagi hingga sore de ngan berbagai kurikulum kerohanian. Para warga binaan merasakan bahwa penjara ini tempat bagi mereka untuk kem-bali mencari Tuhan, tempat paling mudah untuk mendekati Tuhan. Mereka menjadikan penjara sebagai sekolah atau train-ing centre dalam merekontruksi kembali mental spritualnya dan kepribadiannya.
Kini Kemenkumham RI menjadi sorotan segelintir orang dari berbagai pihak karena dinilai ingin memberikan keringanan dan kemudahan bagi warga binaan. Pihak-pihak tersebut mengangggap Kemenkumham RI tidak mendukung upaya pemerintah dalam menjalakan penindakan secara tegas pada kejahatan yang bersifat extra ordinary crime seperti koruptor, teroris, dan narkoba. Menurut berbagai pihak tertentu para narapidana yang masuk dalam extra ordinary crime tidak per-lu diberikan remisi, pembebasan bersyarat, cuti menjelang be-bas, serta hak-hak lainnya yang diatur dalam undang-undang.
Remisi, pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas se-sungguhnya adalah hak seluruh WBP, tidak bisa dianaktiri-kan. Mereka sama-sama tinggal di rumah besar yang namanya penjara atau rutan atau lapas yang didalamnya ada berbagai orang yang sedang menjalani berbagai ragam hukuman. Hal yang membedakan mereka adalah ada diantara mereka yang mendapatkan haknya dan ada yang tidak dapat. Kebijakan ini dapat menimbulkan ketidakadilan, kekacauan, dan ketidak-pastian yang dapat menimbulkan keputusasaan yang akhirnya
dapat menimbulkan kekacauan dan kerusuhan yang mengaki-batkan rutan dan lapas instabilitas, mereka tidak nyaman di rumahnya sendiri.
Amatlah arif dan bijaksana bila Menteri Hukum dan HAM Ya-sonna Laoly mendudukan kembali hak-hak WBP ini dan mem-berikan pemahaman bagi seluruh komunitas rakyat Indonesia tentang pemasyarakatan. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak atas jaminan perlindungan hukum dan kesamaan hak di mata hukum. Dan itu diatur da-lam International Governansy And Political Right. Hak narap-idana untuk mendapatkan remisi dan pembebasan bersyarat serta cuti manjelang bebas dijamin pasal 14 ayat butir 30012.
Tulisan dalam buku ini adalah sekelumit dari harapan para napi yang mereka ungkapkan dalam testimoni tentang ke-hidupan mereka dalam penjara. Mereka adalah para terpi-dana dari berbagai macam ragam tingkat kejahatannya apakah kriminal murni, extra ordinari crime seperti korupsi, teroris dan narkoba. Testimoni ini sebagai ungkapan dari WBP ten-tang mengapa mereka terlibat dalam pelanggaran hukum, apakah mereka siap menjalani vonis yang ditetapkan majelis hakim, apakah mereka siap kembali ke masyarakat, apa yang dihadapi bagi dirinya dan keluarga, apa yang didapat di dalam rutan dan lapas serta apa harapan mereka terhadap pemerin-tah. Bahkan bagi WBP yang terlibat pada kasus narkoba dan tipikor, mereka selalu bertanya apakah remisi itu merupakan hak atau hadiah?
Buku ini menggambarkan, merepresentasikan suara para peng huni penjara di Rutan Kelas I Medan. Buku ini juga meng-ungkap beberapa riset dan penelitian yang dilakukan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang menyajikan pokok-pokok pikiran tentang bagaimananya penjara itu menjadi ru-mah, bagaimana membangun sistem yang terintregasi antara
nya Koordinator Pewawancara Kasus Begal Perampokan dan Pencurian yaitu Datok H. Khaidir Aswan, Koordinator Pewaw-ancara Kasus Pemerkosaan dan KDRT yaitu M. Rais, Koordina-tor Kasus Traficking dan Judi yaitu M. Sitanggang, KoordinaKoordina-tor Pencabulan Dr. Nilwan Arif, Koordinator Kasus Narkoba yaitu Bambang Wirawan, Koordinator Pewawancara Kasus Tipikor ya itu Surya Sinaga yang bekerja berhari-hari serta dengan penuh dedikasi dan kesabaran untuk mewawancarai respon-den. Kepada pembantu umum dan logistik Rizkyvan Tobing.
Ucapan terimakasih juga kami ucapkan kepda Bapak Asuh yai-tu Bapak Somali dan Bapak Embra Barus atas bimbingan dan arahannya sehingga terselesaikannya buku ini.
Mari kita jadikan buku Penjara Rumah Kita sebagai dedi-kasikan kita untuk Indonesia yang lebih baik. Terima kasih. •