PENJARA RUMAH KITA
Testimoni Para Penghuni Rutan
Kelas I Tanjung Gusta Medan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk meng- umumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa menggurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undan gan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72:
1. Barang siapa dengan senggaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara ma sing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000.00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000.00 (lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan senggaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah).
Harun Al Rasyid (Ed.)
PENJARA RUMAH KITA
Testimoni Para Penghuni Rutan
Kelas I Tanjung Gusta Medan
Ketika cobaan menimpa diri kita, yang paling penting kita lakukan adalah berbe- sar hati, sabar dan ikhlas menjalaninya.
Prof. DR. Sumadio Hadisaputra. Apt .
Pengantar Penerbit
B
uku ini terbit atas inisiatif Warga Binaan Pe- masyarakatan Rumah Tahanan Kelas I Tanjung Gusta Medan yang berisi testimoni beberapa orang penghuninya. Adalah Eddy Syofian dan Khairul Suhada yang bekerja keras mengumpulkan tes- timoni para penghuni dan kemudian menuliskannya.Kami lalu meminta wartawan senior Harun Al Rasyid untuk mengedit buku ini sehingga layak untuk diterbit- kan. Agar buku ini lebih bernilai maka kami meminta Prof. Dr. Irmawati, Psikolog dan Dr. Hasnida Hasan Psi- kolog untuk memberi pengantar dan menganalisis tes- timoni para penghuni tersebut.
Meski dikerjakan secara sederhana, tapi buku ini men- jadi sangat penting artinya karena ternyata testimoni para penghuni tersebut sangat bernas dan sangat la- yak menjadi perhatian pemerintah khususnya Kemen- terian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Umumnya para penghuni mengharapkan agar pemerintah menye- diakan Bimbingan dan Konseling Psikologi karena ham- pir semua para penghuni mengalami masalah psikologis ketika tiba-tiba harus menjadi penghuni penjara. Dan untuk kembali bergabung dengan masyarakat, mereka memerlu- kan pula kesiapan mental dan spiritual karena kenyataannya
masih ada sekelompok masyarakat yang menganggap orang yang pernah dipenjara adalah sampah masyarakat.
Oleh karena itu, buku ini tidak saja sangat bermanfaat bagi para penghuni tapi juga bagi masyarakat karena dengan terbit- nya buku ini akan memberi pemahaman lain bagi masyarakat bahwa Warga Binaan Pemasyarakatan itu adalah juga anak bangsa yang juga mempunyai hak untuk hidup bermartabat.
Buku ini merupakan langkah awal untuk mengurai masalah dan problema pengelolaan rutan dan lapas agar tercipta satu sistem pembinaan rutan dan lapas yang manusiawi. Di sam- ping itu, buku bisa menjadi kajian yang penting bagi para aka- demisi dalam bidang hukum.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pi- hak yang terlibat dalam penerbitan buku ini terutama Kepala Rutan Kelas I Tanjung Gusta Budi Situngkir, Bc. IP, SH, MH yang memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada Warga Bi- naan untuk menerbitkan buku ini. Harapan kami, semoga buku ini bermanfaat bagi masyarakat luas. •
Kata Sambutan
Kepala Rutan Kelas I A Medan,
Budi Situngkir, Bc.IP, SH, MH
T
erbitnya buku Penjara Rumah Kita ini merupa- kan inisiatif para Warga Binaan Pemasyaraka- tan (WBP) Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan yang perlu mendapat apresiasi dan penghar- gaan karena berisi testimoni mereka tentang kehidupan dalam penjara. Tentu isinya sangat beragam dan meng- gambarkan kondisi psikologis mereka terhadap kasus yang mereka hadapi, tanggapan terhadap vonis, kondisi di dalam penjara, serta harapan-harapan mereka ke- pada pemerintah tentang pengelolaan lembaga pema- syarakatan atau penjara yag lebih baik dan manusiawi.Tak kalah penting dalam testimoni mereka itu terung- kap kesadaran atas rasa bersalah dan keinginan untuk bertobat serta upaya spritual dalam mencari Tuhan. Ini yang patut kita hargai bahwa para WBP merasa pen- jara bukan hanya sekadar tempat menjalani hukuman tapi adalah upaya dalam menebus dosa dan berusaha kembali kepadaNya. Dengan demikian kita berharap dengan selesainya mereka menjalani hukuman dalam penjara ini, mereka kembali menjadi manusia yang se- sungguhnya.
Oleh karena itu terbitnya buku ini patut disambut gembira, apalagi buku ini disusun oleh tim yang dibentuk dari Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) itu sendiri walapun penyun- tingannya dibantu oleh tim dari Ikatan Alumni USU Wilayah Sumatera Utara. Harapan kita buku ini bisa menjadi referensi awal tentang situasi dan kondisi lembaga pemasyaratan yang langsung diutarakan para penghuninya. Dengan demikian buku ini dapat dijadikan acuan untuk pembinaan lembaga pe- masyarakatan di masa yang akan datang dan pedoman upaya reintegrasi sosial bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan sendiri.
Sebagaimana kita ketahui, pasal 2 Undang–Undang No. 2 Ta- hun 1995 tentang Pemasyarakatan tercantum tujuan Sistem Pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seu- tuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana, sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat berperan aktif di mas- yarakat serta dapat hidup sebagai manusia yang wajar, sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.
Menteri Hukum dan HAM RI Bapak Yasonna H. Laoly dalam satu wawancara dengan salah satu media nasional menga- takan bahwa pembinaan dan pembimbingan WBP harus bekerja sama dan bersinergi dengan tiga unsur yaitu, Petugas, Warga Binaan dan Masyarakat, untuk memulihkan kesatuan hubungan (hidup dengan Tuhannya), kehidupan (dengan mas- yarakatnya), dan penghidupan (dengan pekerjaanya), demiki- an juga dengan masyarakatnya dikondisikan agar kondusif.
Saat ini rencana perubahan revisi Peraturan Pemerintah No.
99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan oleh Menteri Hukum dan HAM RI menimbulkan pro dan kontra. Hal ini disebabkan masih adan-
ya sebahagian pihak yang belum faham tentang makna dan arti pembinaan itu sendiri.
Filosofi pemidanaan kita adalah Pemasyarakatan, Pembinaan, dan Reintregrasi Sosial dimana masing-masing pihak seperti polisi, jaksa dan hakim memiliki fungsi masing-masing yang diatur dalam undang-undang. Ketika sudah sampai pada tahap pembinaan di lembaga pemasyarakatan, maka tanggungjawab- nya ada pada Kementerian Hukum dan HAM RI termasuk hak Warga Binaan Pemasyarakatan untuk mendapatkan remisi, pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas.
Hal ini merupakan dambaan semua napi tanpa kecuali, apakah napi yang melakukan kejahatan kriminal umum maupun yang masuk dalam kategori Extra Ordinary Crime seperti korupsi, teroris dan narkoba.
Membaca testimoni mereka ini saya dapat menangkap keingi- nan semua WBP, bahwa mereka mendambakan diperlakukan sama yaitu mendapatkan remisi karena itu adalah hak mereka dan mereka telah siap menjalani peraturan dan pembinaan se- lama berada di Rutan maupun di Lapas. Pemberian remisi ini menurut hemat saya memberikan dampak yang signifikan bagi terciptanya Rutan dan Lapas yang kondusif di tengah-tengah keadaan Rutan dan Lapas yang over capacity dan keterbatasan fasilitas lainnya
Akhirnya saya sampaikan terima kasih kepada tim penyusun atas partisipasinya memberikan sumbangsih kepada Rutan Kelas I Medan untuk pencerahan kita semua. •
Sekapur Sirih
Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan
Psikolog USU
Prof. Dr. Irmawati, Psikolog
T
estimoni sebagai sebuah kesaksian atau penga- kuan atas sebuah fakta yang ditulis oleh para penghuni penjara atau rutan atau lapas dalam buku ini, meskipun singkat dan sederhana, tetapi jika direnungkan dengan pikiran yang jernih, maknanya sangat dalam. Kita diajar dan diingatkan kembali betapa berharganya sang waktu dan hidup yang kita jalani.Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang adalah urutan waktu yang akan dilewati setiap individu semasa masih hidup. Apabila kita pernah mengalami masa lalu yang salah, baik karena keputusan kita sendiri maupun karena pendidikan dan lingkungan yang tidak tepat, hendaknya secara bijak dan sadar menjadikanya se- bagai pembelajaran berharga dan mengajarkan kepada orang lain supaya mereka tidak salah.
Sumber permasalahan dari masa lalu yang masih tersim- pan di relung hati, dan tidak dikubur dengan keputusan yang benar pada hari ini akan menjadi beban (dendam, penyesalan dan kecewa) untuk masa-masa yang akan datang.
Seseorang mungkin saja pernah terjerumus dalam pilihan hid- up yang salah sehingga harus masuk penjara. Di dalam penja- ra dia tidak mau menggunakan waktunya untuk bertobat dan melakukan perubahan yang positif, maka ketika bebas, banyak di antara mereka terjerumus kembali ke dalam kehidupannya yang lama sebab dia tidak bisa melepaskan diri dari belenggu masa lalu. Berbeda jika ketika diberi kesempatan untuk berto- bat, dia menggunakanya dengan baik. Maka setelah dibebas- kan, niscaya banyak tangan baik yang akan menolong dirinya.
Nasib buruk bisa berubah menjadi baik ketika kita mengam- bil pilihan hidup yang benar dan meninggalkan kebiasaan-ke- biasaan buruk sebelumnya. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan budi yang tidak dimiliki makhluk bumi lainya, kita diberi kebebasan seluas-luasnya untuk meren- canakan dan memilih sendiri wujud masa depan kita.
Psikologi Humanistik menekankan bahwa pada dasarnya ma- nusia itu baik dan memiliki dorongan dari dalam diri untuk mewujudkan kapasitas dan kreativitasnya. Berangkat dari pemahaman ini, perlu dipikirkan dan diupayakan oleh para pejabat yang berwenang, untuk nembantu para penghuni penjara mengaktualisasikan potensi positif dirinya dengan menyediakan perangkat-perangkat yang diperlukan termasuk program. Pendampingan Psikologis bagi para penghuni dan petugas rutan dan lapas, agar terbangun kondisi kehidupan bersama yang bermartabat.
Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari buku ini dan berbenah diri melakukan perencanaan yang cerdas dan bijak un- tuk menyongsong masa depan agar lebih baik dari hari kemarin. •
Causa karena dianggap berhasil menemukan sistem yang baik didalam menerapkan pola perlakuan terhadap para pelanggar hukum dimana setiap orang merupakan subjek hukum yang berpeluang berhadapan dengan hukum. Sehingga pada tanggal 27 April 1964 dilaksanakan konfrensi kepenjaraan yang dina- makan Konfrensi Lembang yang diselenggarakan di Bandung.
Konfrensi tersebut berhasil memberikan suatu pencerahan di bidang hukum yaitu menetapkan Sistem Pemasyarakatan se- bagai suatu sistem perlakuan terhadap para pelanggar hukum.
Perubahan ini berjalan mengikuti perkembangan hukum di Indonesia dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Ke- hakiman RI tentang Organisasi Tata Kerja Rumah Tahanan Negara dan Lembaga Pemasyarakatan sampai dengan di- undangkannya Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Sistem pemenjaraan yang hanya menguta- makan efek jera dianggap sudah tidak sesuai dengan ideologi bangsa dan perkembangan hukum.
Sistem pemenjaraan pertama sekali muncul di negara Inggris pada abab ke-17 yaitu sebagai tempat hukuman atau rumah koreksi. Mayoritas penghuninya saat itu adalah rakyat miskin yang berbuat kejahatan.
Hingga saat ini dalam perkembangannya sistem pemenjaraan mengalami penyempurnaan konsep yang dilakukan oleh para aktivis. Sebagai negara anggota PBB, Indonesia mengikuti sistem pemenjaraan yang berlaku di negara-negara anggota PBB melalui ratifikasi, traktat, konvensi dan deklarasi univer- sal hak asasi manusia yang bertujuan untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan dasar bagi manusia tanpa adanya perbedaan ras, jenis kelamin, bahasa atau agama.
Tujuan peraturan dibuat tidak lain adalah untuk mencapai tu- juan yang baik bagi seluruh manusia di muka bumi. Bebera- pa contoh peraturan yang dikeluarkan PBB bagi orang-orang
tahanan dan narapidana yaitu standar minimum rules for the treatment of prisoners, prinsip-prinsip utama untuk perlin- dungan semua orang dari segala bentuk penahanan atau pe- menjaraan, kovenan internasional tentang hak-hak sipil dan politik yang juga melindungi hak-hak orang yang sedang di- rampas kemerdekaanya oleh putusan pengadilan. Semua atu- ran ini dibuat sebagai acuan yang tidak mengikat namun dapat diadopsi seluruh negara sebagai standar hukum yang akan diberlakukan di setiap negara-negara terhadap orang-orang terpenjara atau narapidana.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai dasar hukum pidana di Indonesia merupakan produk hukum pe- ninggalan Hindia Belanda yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918 dan setelah kemerdekaan Negara Republik In- donesia dilakukan penyelarasan kondisi berupa pencabutan pasal-pasal yang tidak relevan lagi. Pada tahun 1946 KUHP diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia dan sampai seka- rang tetap dilakukan upaya untuk menciptakan produk hukum nasional yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
KUHP sebagai Produk hukum nasional diharapkan dapat mencerminkan kondisi ekonomi, politik, budaya, sosial dan keanekaragaman yang dimiliki oleh Indonesia sehingga dapat berlaku secara efektif dan memberikan dampak yang posi- tif terhadap perkembangan bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang tercantum dalam Un- dang-undang Dasar 1945 dan Pancasila.
Tujuan Bangsa Indonesia pada bab ke-IV Undang-undang Dasar 1945 dinyatakan ”melindungi segenap bangsa Indo- nesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memaju- kan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Maka
dapat disimpulkan bahwa tujuan tersebut diatas berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia yang berada di muka bumi tanpa terkecuali yang sedang menjalani penahanan dan pidana di dalam rutan dan lapas.
Dari beberapa pengertian yang diambil dari peraturan-pera- turan, undang-undang, kamus dan pendapat para ahli/ilmu- wan tentang Tahanan dan Terpidana dapat disimpulkan bah- wa Tahanan dan Terpidana adalah seseorang yang sementara sedang menjalani proses hukumnya dan ditempatkan di Ru- mah Tahanan Negara dan Lembaga Pemasyarakatan dima- na sebagian kemerdekaanya hilang sedangkan warga negara Indonesia sesuai dengan Undang-undang Kewarganegaraan Nomor 12 tahun 2006 disebutkan pada pasal 4b adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu warga negara Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa Tahanan dan Narapidana merupakan warga negara Indonesia yang se- bagian kemerdekaanya hilang karena sementara sedang men- jalani proses hukum di rutan dan lapas.
Hilang Kemerdekaan yang dimaksud sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang ada masihlah menjadi tanda tanya hingga saat ini, sedangkan Kemerdekaan sesuai Kamus Be- sar Bahasa Indonesia dan wikipedia adalah “disaat seseorang mendapatkan hak penuh untuk mengendalikan dirinya sendi- ri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain”. Apabila dibuat kesimpulan dari sumber-sum- ber dan pendapat ahli terkait makna Tahanan, Terpidana dan Hilang Kemerdekaan tersebut diatas, dapat disimpulkan bah- wa idealnya hak asasi manusia sesuai dengan undang-undang tetap dimiliki oleh para Tahanan dan Narapidana.
Kejahatan tidak semata-mata terjadi karena niat dan pelaku tetapi bisa juga dikarenakan adanya kesempatan yang dicip- takan oleh korban, faktor ekonomi, kesenjangan budaya, ke-
sempatan yang tidak merata dalam memperoleh kehidupan, pembangunan yang tidak merata, minimnya lapangan peker- jaan dan pengaturan pertumbuhan penduduk yang tidak baik.
Sesuai dengan data smslap.ditjenpas.go.id pertanggal 16 September 2016 jumlah total tahanan dan narapidana di In- donesia berjumlah 198.371 orang. Apabila dihitung biaya makanan perhari yang dikeluarkan oleh negara dengan asum- si rata-rata Rp 10.000/orang/hari x 198.371 orang adalah Rp 1.983.710.000 (satu milyar sembilan ratus delapan puluh tiga juta tujuh ratus sepuluh ribu rupiah) belum ditambahkan bi- aya lain seperti biaya sandang dan jasa yang dibutuhkan oleh Tahanan dan Narapidana selama berada di dalam rutan dan lapas. Merupakan jumlah uang yang sangat besar untuk dikel- uarkan oleh negara guna membiayai para Tahanan dan Narapi- dana yang habis terpakai tanpa memberikan timbal balik yang maksimal di dalam mencapai tujuan negara sebagaimana ter- cantum dalam undang-undang.
Di tengah utang pemerintah yang semakin besar jumlahnya yakni lebih kurang Rp 3.000 triliun dan banyaknya masalah sosial antara lain kemiskinan, pengangguran, kejahatan, perju- dian, peredaran narkoba, meningkatnya jumlah anak terlantar, penjualan manusia dan menurunnya lapangan pekerjaan ber- dampak pada meningkatnya jumlah penghuni rutan dan lapas.
Data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan 5 tahun kebe- lakang setiap tahun mengalami peningkatan jumlah penghuni, bahkan 3 tahun belakangan mengalami peningkatan yang le- bih signifikan.
Fenomena diatas seolah-olah tidak terbendung, menjadi per- tanyaan bagi kita, apakah ada proses hukum yang salah? Apa- kah manusia lahir sebagai penjahat? Apakah rutan dan lapas menjadi sekolah kejahatan? Apakah ada pembiaran agar rutan dan lapas tetap terisi oleh manusia? Apakah manusia memilih
kejahatan sebagai profesi untuk bertahan hidup? Jawabannya mari kita pikirkan bersama karena tentunya permasalahan di atas bukan permasalahan yang kecil dan butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikannya.
Perubahan hukum yang tidak sejalan dengan perubahan sosial, politik, budaya dan teknologi sepertinya membawa dampak positif dan negatif terhadap peradapan suatu bangsa. Apabila tidak segera ditemukan solusi untuk memperbaikinya dikha- watirkan terjadi hal-hal yang tidak baik dalam perjalanan men- capai tujuan suatu bangsa dalam hal ini bangsa Indonesia yang mempunyai tujuan mulia dalam Undang-undang Dasar 1945.
Dari Penjara untuk Indonesia mengulas sebab akibat terjadin- ya tindak kejahatan sampai bagaimana kita sebagai masyarakat tidak menjadi korban dan pelaku kejahatan yang menjadi peng huni penjara/rutan dan lapas. Semakin sedikit penghuni rutan dan lapas akan semakin sedikit anggaran yang terbuang sia-sia dan anggaran yang tadinya terpakai untuk membiayai para Tahanan dan Terpidana dapat dipergunakan untuk mem- biayai pembangunan dan pendidikan. Saat ini merubah hukum dan paradigma menjadi penting agar masyarakat Indonesia tidak tertinggal oleh bangsa lain dan Negara Indonesia dapat lebih cepat mencapai cita-citanya sesuai dengan Undang-un- dang Dasar 1945. •
PENJARA, STIGMA YANG MENAKUTKAN
BAB 1
Apa pandangan orang/publik terhadap seseorang yang harus menjalani sebahagian hidupnya dalam penjara atau rutan atau lapas? Ya, tentu beragam, tergantung siapa orangnya dan dari sudut mana dia memandang. Bagi sebahagian orang, penjara ten- tulah sebuah tempat untuk orang yang dituduhkan bersalah adalah sebagai suatu tempat untuk berkon-
templasi, berintropeksi dan berusaha memahami
apa yang disebut sebagai sebuah kesalahan atau
pelanggaran hukum.
R
utan bagi mereka bisa saja menjadi madrasah tempat mereka mengasah diri dan belajar menjadi yang lebih baik. Dengan demikian mereka tentu tetap bersema- ngat menjalani hukuman dan selalu optimis dengan masa depannya. Mereka menjadikan Rutan sebagai tempat pencarian Tuhan, sehingga ketika selesai menjalani hukuman dan kembali bergabung dengan masyarakat, mereka menjadi lebih relijius dan tentu saja lebih baik sikap dan kepribadian- nya.Bagi yang lain, Rutan mungkin menjadi sebuah momok atau stigma yang menakutkan atau hanya tempat pembantaran se- lama menjalani hukuman tanpa pembinaan sehingga mereka menjadi pesimis dengan hidup dan masa depannya. Kepu- tusasaaan mereka malah memperburuk sikap dan prilaku- nya sehingga mereka menjadikan Rutan sebagai wadah baru untuk melanjutkan pelanggaran hukum yang pernah mereka lakukan. Contohnya, para pelaku pelanggaran penyalahgunaan narkotika. Jika selama ini mereka hanya korban atau pemakai tapi setelah di dalam Rutan mereka malah menjadi pengedar dan meracuni para penghuni Rutan yang baik-baik.
Itulah sebabnya masih ada sekelompok orang atau bahkan institusi pemerintah yang menganggap para penghuni rutan adalah orang yang tak perlu dikasihani, harus dimiskinkan, harus dibunuh karakternya dan diabaikan hak-hak asasinya sebagai manusia. Padahal mungkin saja pelanggaran hukum yang dilakukannya akibat ketidaktahuannya terhadap hukum itu sendiri atau karena sistem hukum yang keliru sehingga mereka menjadi korban. Atau barangkali mereka adalah kor- ban dari penerapan hukum yang keliru bahkan mungkin mere- ka yang senggaja dikorbankan. Akibatnya timbul stigma setiap orang yang pernah dipenjara harus dianggap sebagai ”com- mon enemy” atau musuh bersama yang harus dihilangkan hak azasinya setelah dia selesai menjalani hukuman.
Padahal UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa Negara akan melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan ke- sejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bah- kan UU No. 39 tahun 2004 menjamin sepenuhnya hak azasi manusia orang yang menjalani hukuman seperti hak mendapa- tkan makan yang layak, hak pengobatan, hak sosial, hak biolo- gis serta hak untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Dalam konteks itu perlu diupayakan untuk menimbulkan ke- sadaran pribadi para penghuni penjara bahwa penjara bukan- lah hanya sekadar tempat menjalani hukuman tapi lebih dari itu yaitu sebagai rumah tempat merajut masa depan yang le- bih baik. Penjara juga harus dilihat sebagai upaya membangun kembali harmonisasi spiritual dan sosial para penghuninya yang mungkin saja memburuk ketika tiba-tiba mereka diha- dapkan pada situasi harus tinggal di penjara.
Di samping itu masyarakat luas juga harus diberi pemahaman bahwa mereka yang pernah tinggal di penjara bukanlah ma- nusia sampah yang tidak berguna lagi dalam masyarakat. Ma- syarakat perlu difahamkan bahwa eks narapidana adalah juga manusia yang naif yang dalam hidupnya pernah melakukan kesalahan. Dan atas kesalahannya itu mereka sudah menjala- ni hukuman sesuai dengan kesalahannya itu. Oleh karenanya sebagai manusia mereka berhak kembali berada di tengah-te- ngah masyarakat tentu saja dengan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Bagi pemerintah khususnya Kementerian Hukum dan HAM RI yang bertanggungjawab terhadap pembinaan dan reinte- grasi sosial para narapidana ini perlu memperhatikan kondisi dan fasilitas lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan se- hingga proses pembinaan dan reintegrasi sosial para napi bisa dilakukan secara maksimal.
Selama ini kita sering mendengar kondisi dan fasilitas penjara,
lapas dan rutan sangatlah tidak manusiawi. Alasan yang se ring dikemukakan adalah alasan kelebihan kapasitas sehingga pe- layanan di dalam penjara, lapas dan rutan sering tidak mak- simal. Pemerintah seharusnya segera mencari solusi yang jitu untuk mengatasi masalah ini.
Jadikanlah penjara, lapas dan rutan sebagai rumah yang nya- man bagi mereka dalam rangka pertobatan mereka atas ke- salahan yang pernah mereka lakukan. Jika kondisi penjara, lapas dan rutan baik maka yakinlah proses pembinaan dan re- integrasi sosial para napi itu akan berjalan baik. Itulah perwu- judan dari sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perlu dijelaskan apa sebenarnya pengertian penjara, rutan dan lapas dalam perspektif hukum di Indonesia. Penjara di Indo- nesia dikenal dengan sebutan Lembaga Pemasyarakatan di- singkat Lapas yaitu suatu tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan yang ter- sangkut kasus-kasus pelanggaran hukum. Lapas merupakan Unit Pelayanan Teknis di bawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Konsep lembaga pemasyarakatan pertama kali digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada tahun 1964. Ia menyatakan bahwa tugas jawatan kepenjaraan bukan hanya melaksanakan hukuman, melainkan juga tugas yang jauh lebih berat adalah mengembalikan orang-orang yang dijatuhi pidana ke dalam masyarakat.
Penghuni Lapas biasa disebut narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang bisa saja statusnya ma- sih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakatan dise-
but Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih dikenal de- ngan istilah sipir penjara.
Sipir penjara merupakan seseorang yang diberikan tugas de- ngan tanggungjawab pengawasan, keamanan, dan keselamatan narapidana di penjara. Petugas tersebut bertanggungjawab untuk pemeliharaan, pembinaan, dan pengendalian seseorang yang telah ditangkap dan sedang menunggu pengadilan keti- ka dijebloskan maupun yang telah didakwa melakukan tindak kejahatan dan dijatuhi hukuman dalam masa tertentu suatu penjara. Sebagian besar perwira bekerja pada pemerintahan negara tempat mereka mengabdi, meskipun ada pada nega- ra-negara tertentu, sipir bekerja pada perusahaan swasta.
Lembaga Pemasyarakatan pernah mendapat kritik atas perlakuan terhadap para narapidana. Pada tahun 2006, hampir 10 persen di antaranya meninggal dalam lapas. Sebagian besar napi yang meninggal karena telah menderita sakit sebelum masuk penjara, dan ketika dalam penjara kondisi kesehatan mereka semakin pa- rah karena kurangnya perawatan, rendahnya gizi makanan, serta buruknya sanitasi dalam lingkungan penjara. Lapas juga disorot menghadapi persoalan beredarnya obat-obatan terlarang di ka- langan napi dan tahanan, serta kelebihan penghuni.
Pada tahun 2005, jumlah penghuni Lapas di Indonesia mencapai 97.671 orang, lebih besar dari kapasitas hunian yang hanya un- tuk 68.141 orang. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia juga salah satu penyebab terjadinya kelebihan kapasitas pada tingkat hunian Lapas.
Namun kebalikan dari hal tersebut di atas, pada awal ta- hun 2010 terkuak kasus narapidana bernama Artalyta Sur- yani yang menjalani masa hukumannya di Blok Anggrek Rutan Pondok Bambu, Jakarta yang memiliki ruang karaoke pribadi dalam sel kurungannya berikut fasilitas pendingin udara (AC)
dan dilengkapi kulkas beserta 1 set komputer jaringan guna memudahkan aktivitasnya mengontrol kegiatannya di luar ru- tan melalui internet.
Hukuman bagi seorang narapidana terbagi menjadi dua ka- tegori yaitu nominal masa hukuman dan seumur hidup. Se- bagaimana mengacu pada artinya, nominal masa hukuman mempunyai rentang dan batas waktu dan penerapannya ber- beda di setiap yurisdiksi (di Indonesia contohnya, maksimal nominal masa hukuman adalah 20 tahun). Sedangkan untuk pidana seumur hidup, rentang dan nominal waktu tidak diber- lakukan sama sekali, dengan kata lain terpidana akan dipenja- ra selama sisa masa hidupnya sampai terpidana itu meninggal.
Pada prinsipnya hukuman atau punishment adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum. Dalam hal ini, hukuman diberikan ketika sebuah tingkah laku yang tidak diharapkan ditampilkan oleh orang yang bersangkutan atau orang yang bersangkutan tidak memberikan respon atau tidak menampilkan sebuah tingkah laku yang diharapkan. Secara umum, hukuman dalam hukum adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan. Hu- kuman mengajarkan tentang apa yang tidak boleh dilakukan.
Ada tiga fungsi penting dari hukuman yang berperan besar bagi pembentukan tingkah laku yang diharapkan:
• Membatasi perilaku. Hukuman menghalangi terjadinya pengulangan tingkah laku yang tidak diharapkan.
• Bersifat mendidik.
• Memperkuat motivasi untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang tidak diharapkan. •
PENJARA RUMAH KITA
BAB 2
Oleh Eddy Syofian Khairul Suhada Lirik lagu hidup di bui yang pernah hits di tahun tujuh puluhan oleh D’Lloyd memberi gambaran betapa angker dan seramnya penjara yang me-
rupakan sisa penjajahan Belanda dan Jepang
Hidup Dibui Bagaikan Burung Bangun Pagi Makan Nasi Jagung Tidur Diubin Pikiran Bingung Apa Daya Badanku Terkurung Terompet Pagi Kita Harus Bangun Makan Diantri Nasinya Jangung Pikir Diubin Pikiran Bingung Apa Daya Badanku Terkurung Oh Kawan Dengar Lagu Ini Hidup Dibui Menyiksa Diri Jangan Sampai Kawan Mengalami Badan Hidup Terasa Mati
Apalagi Penjara Jaman Perang Masih Gemuk Namun Tinggal Tulang Karena Kerja Secara Paksa
Tua Muda Turun Kesawah
L
irik lagu hidup di bui yang pernah hits di tahun tujuh puluhan oleh D’Lloyd memberi gambaran betapa an- gker dan seramnya penjara yang merupakan sisa pen- jajahan Belanda dan Jepang.Lagu yang sebagian besar menjadi idolanya para napi saat itu sempat dicekal oleh pemerintah Orde Baru karena seolah-olah pemerintah tidak manusiawi dalam memenjarakan rakyat nya.
Sehingga lirik lagu pada bait ke empat yang aslinya tertulis
“Apalagi Penjara di Tanggerang” dirobah menjadi penjara ja- man perang.
Mengapa di setiap negara ada penjara? Pada masa Kerasulan Nabi Muhammad SAW, para tawanan tidak dipenjara tetapi di- tawan di halaman-halaman masjid atau mushola untuk melak-
sanakan ibadah dan akhlaq kaum muslimin serta kerja-kerja sosial. Dengan strategi ini para tawanan perang ingin menjadi pengikut rasul dan merubah akhlaq mereka dan menjadi orang yang mencintai kemanusiaan.
Penjara memang diperuntukkan bagi pelanggar hukum. Sistem kepenjaraan dari masa ke masa berubah seiring perkembang- an bangsanya, seiring dengan kesadaran bangsanya dalam memahami hukum, dan memahami nilai manusia dan kema- nusiaan.
Bagi bangsa Indonesia penjara ditempatkan untuk kesadaran hukum bagi rakyatnya yang melanggar hukum, tidak menghi- langkan hak kemerdekaan dan peradabannya, apalagi cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 menya- takan bahwa kemerdekaan itu dalah hak segala bangsa, oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan. Selain itu salah satu tujuan bernegara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Dengan makna yang tertuang dalam UUD 1945, bangsa In- donesia paradigma dan kebijakannya dalam memaknai arti penjara, yang menurut kamus bahwa penjara memperlakukan orang terpidana tidak sebagai anggota masyarakat, tetapi pem- balasan dendam masyarakat. Pergeseran paradigma itu men- jadikan penjara sebagai tempat rehabilitasi, reintregasi sosial untuk memperbaiki prilakunya yang buruk menjadi baik, yang pembinaan dan bimbingannya dilakukan secara simultan yaitu petugas, warga binaan dan masyarakat untuk memulihkan ke- satuan hubungan hidup (dengan Tuhannnya), kehidupan de- ngan masyarakat (penghidupan dengan pekerjaan) demikian juga masyarakatnya dikondisikan agar kondusip.
Bicara tentang penjara, setiap pihak membicarakan tentang
penjara terbayangkan bahwa penjara itu kehidupan yang tidak teratur, tempatnya tidak nyaman, hubungan sosial tidak ber- jalan baik, kekerasan menjadi kehidupan sehari-hari, selain itu dalam hal pembinaan masih belum maksimal ditandai dengan over capasity, tidak adanya sistem pembinaan yang teratur, oknum sipir yang melakukan kekerasan, tidak adanya assess- ment bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang baru masuk, tidak adanya bimbingan konseling, terbatasnya sarana dan prasarana seperti air, obat-obatan untuk WBP yang sakit, belum lagi kegiatan-kegiatan yang illegal yang disangka mas- yarakat luar masih terjadi seperti narkoba, judi, freesex (seks sesama sejenis), masih bebas menggunakan HP, serta kegia- tan-kegiatan lainnya, sehingga stigma itu masih melebar di masyarakat.
Sementara bagi narapidana atau WBP yang berada di lapas maupun rutan, dampak dari kehidupan mereka di penjarra ada yang mengalami stresss, kehilangan pekerjaan, dikucilkan masyarakat, kemiskinan bertambah, keluarga ikut menderita, bahkan tidak jarang akibat lamanya suami atau istri di dalam penjara tidak tersalurkannya hubungan biologis, dan tersen- datnya ekonomi tidak sedikit menjadi sebab perceraiaan.
Ironinya akibat over capasity di dalam penjara maupun rutan dicampuradukkannya jenis-jenis pelanggaran kriminal yang akhirnya bukan menimbulkan perubahan yang baik tetapi memperparah keadaan napi itu sendiri. Misalnya, korban pe- makai narkoba disatukan dengan pengedar maupun bandar.
Pemakai yang seharusnya direhabilitasi karena tidak adanya sistem rehab baik di rutan maupun lapas, mengakibatkan para pemakai berubah statusnya dari pemakai menjadi pengedar bahkan menjadi bandar.
Bagi negara setiap tahun pertambahan napi maupun tahan- an semakin meningkat. Menurut penjelasan Menteri Yasonna
Laoly di Majalah Forum edisi 9 tahun 2016 pada tahun 2014 jumlah penghuni lapas dan rutan di seluruh Indonesia men- capai 150.000 orang. Saat ini sudah menjadi 192.000 orang.
Ada penambahan 40.000 orang lebih sementara anggaran Ke- menkumham RI tidak mampu membangun penambahan lapas maupun rutan, belum lagi berbicara anggaran makanan, obat- obatan, serta minimnya petugas rutan dan lapas. Keadaan se- perti ini apakah penjara dapat menjadi tempat pembinaan re- habilitasi maupun reintregasi sosial.
Konsep pembinaan napi atau WBP saat ini dan kedepan se- harusnya mengintegrasikan tiga simpul kekuatan yaitu WBP, petugas, dan masyarakat. Bagaimana menjadikan penjara sebagai rumah mereka dalam arti tempat pembinaan, tem- pat berteduh yang didalamnya para penghuninya dapat mer- ekontruksi kembali kepribadiaanya menjadi baik, integrasi sosialnya menjadi kuat, hubungan spritualnya dengan tuhan semakin meningkat, raganya dan fisiknya tetap sehat, serta kesiapan dirinya dengan memiliki keterampilan yang sesuai untuk bekalnya menjadi insan masyarakat yang mandiri dan berkepribadian.
Itulah sebabnya tim penyusun buku ini ingin mengangkat se- buah harapan bagi WBP bahwa penjara yang dianalogikan da- lam kamus tetapi penjara menjadi Rumah Kita, dimana rumah ini harus dirawat oleh warga binaan, petugas, dan masyarakat, guna mengurangi stigma masyarakat terhadap penjara khu- susnya warga binaannnya.
Tiap-tiap pimpinan rutan dan lapas membuka diri dengan masyarakat untuk melihat pembinaan yang selama ini dilaku- kan dengan segala keterbatasannya masih dapat menjadikan rutan dan lapas tetap kondusif. Salah satu contoh yang terlihat sehari-hari di lapas maupun di rutan aktivitas warga binaan untuk melakukan kegiatan pembinaan rohani cukup besar
misalnya, di Masjid At-Taubah Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan. Aktivitas WBP dari pagi hingga sore tidak pernah ber- henti menggelar berbagai kegiatan seperti pengajian, belajar Iqro. Mungkin di masjid di luar rutan atau lapas hal itu sangat jarang terjadi.
Begitu juga Gereja Immanuel di rutan bukan hanya buka se- tiap hari Minggu tetapi buka setiap hari dari pagi hingga sore de ngan berbagai kurikulum kerohanian. Para warga binaan merasakan bahwa penjara ini tempat bagi mereka untuk kem- bali mencari Tuhan, tempat paling mudah untuk mendekati Tuhan. Mereka menjadikan penjara sebagai sekolah atau train- ing centre dalam merekontruksi kembali mental spritualnya dan kepribadiannya.
Kini Kemenkumham RI menjadi sorotan segelintir orang dari berbagai pihak karena dinilai ingin memberikan keringanan dan kemudahan bagi warga binaan. Pihak-pihak tersebut mengangggap Kemenkumham RI tidak mendukung upaya pemerintah dalam menjalakan penindakan secara tegas pada kejahatan yang bersifat extra ordinary crime seperti koruptor, teroris, dan narkoba. Menurut berbagai pihak tertentu para narapidana yang masuk dalam extra ordinary crime tidak per- lu diberikan remisi, pembebasan bersyarat, cuti menjelang be- bas, serta hak-hak lainnya yang diatur dalam undang-undang.
Remisi, pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas se- sungguhnya adalah hak seluruh WBP, tidak bisa dianaktiri- kan. Mereka sama-sama tinggal di rumah besar yang namanya penjara atau rutan atau lapas yang didalamnya ada berbagai orang yang sedang menjalani berbagai ragam hukuman. Hal yang membedakan mereka adalah ada diantara mereka yang mendapatkan haknya dan ada yang tidak dapat. Kebijakan ini dapat menimbulkan ketidakadilan, kekacauan, dan ketidak- pastian yang dapat menimbulkan keputusasaan yang akhirnya
dapat menimbulkan kekacauan dan kerusuhan yang mengaki- batkan rutan dan lapas instabilitas, mereka tidak nyaman di rumahnya sendiri.
Amatlah arif dan bijaksana bila Menteri Hukum dan HAM Ya- sonna Laoly mendudukan kembali hak-hak WBP ini dan mem- berikan pemahaman bagi seluruh komunitas rakyat Indonesia tentang pemasyarakatan. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak atas jaminan perlindungan hukum dan kesamaan hak di mata hukum. Dan itu diatur da- lam International Governansy And Political Right. Hak narap- idana untuk mendapatkan remisi dan pembebasan bersyarat serta cuti manjelang bebas dijamin pasal 14 ayat butir 30012.
Tulisan dalam buku ini adalah sekelumit dari harapan para napi yang mereka ungkapkan dalam testimoni tentang ke- hidupan mereka dalam penjara. Mereka adalah para terpi- dana dari berbagai macam ragam tingkat kejahatannya apakah kriminal murni, extra ordinari crime seperti korupsi, teroris dan narkoba. Testimoni ini sebagai ungkapan dari WBP ten- tang mengapa mereka terlibat dalam pelanggaran hukum, apakah mereka siap menjalani vonis yang ditetapkan majelis hakim, apakah mereka siap kembali ke masyarakat, apa yang dihadapi bagi dirinya dan keluarga, apa yang didapat di dalam rutan dan lapas serta apa harapan mereka terhadap pemerin- tah. Bahkan bagi WBP yang terlibat pada kasus narkoba dan tipikor, mereka selalu bertanya apakah remisi itu merupakan hak atau hadiah?
Buku ini menggambarkan, merepresentasikan suara para peng huni penjara di Rutan Kelas I Medan. Buku ini juga meng- ungkap beberapa riset dan penelitian yang dilakukan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang menyajikan pokok- pokok pikiran tentang bagaimananya penjara itu menjadi ru- mah, bagaimana membangun sistem yang terintregasi antara
nya Koordinator Pewawancara Kasus Begal Perampokan dan Pencurian yaitu Datok H. Khaidir Aswan, Koordinator Pewaw- ancara Kasus Pemerkosaan dan KDRT yaitu M. Rais, Koordina- tor Kasus Traficking dan Judi yaitu M. Sitanggang, Koordinator Pencabulan Dr. Nilwan Arif, Koordinator Kasus Narkoba yaitu Bambang Wirawan, Koordinator Pewawancara Kasus Tipikor ya itu Surya Sinaga yang bekerja berhari-hari serta dengan penuh dedikasi dan kesabaran untuk mewawancarai respon- den. Kepada pembantu umum dan logistik Rizkyvan Tobing.
Ucapan terimakasih juga kami ucapkan kepda Bapak Asuh yai- tu Bapak Somali dan Bapak Embra Barus atas bimbingan dan arahannya sehingga terselesaikannya buku ini.
Mari kita jadikan buku Penjara Rumah Kita sebagai dedi- kasikan kita untuk Indonesia yang lebih baik. Terima kasih. •
TESTIMONI PARA PENGHUNI
BAB 3
Testimoni para narapidana dalam buku ini secara umum dapat dibagi menja-
di tiga kategori yaitu: testimoni napi
kriminal murni, narkoba, dan korupsi.
D
alam testimoninya tersebut mereka menyatakan bah- wa tidak pernah berontak dalam menghadapi kepu- tusan vonis pengadilan, meskipun banyak keputusan yang tidak berpihak pada keadilan. Keadaan mereka di lapas dan rutan relatif masih baik dan kondusif meskipun over capacity. Pola atau sistem pembinaan yang dilakukan saat ini pun tidak bisa menjamin para narapidana bisa bertobat dan memiliki keterampilan saat kembali ke masyarakat. Kalau ada pertobatan lebih pada kesadaran pribadi. Namun, pihak petu- gas lapas dan rutan memberi ruang yang luas untuk beribadah di rumah ibadah yang sudah disiapkan.Aktivitas keseharian narapidana di lapas maupun di rutan lebih banyak diisi dengan makan dan tidur. Adapun peningka- tan keterampilan, penumbuhan dan pengembangan karakter, dan reintegrasi sosial sangat minim mereka dapatkan kare- na keterbatasan sarana dan prasarana maupun keterbatasan tim pendampingan. Para narapidana menginginkan saat mulai ditahan ada assessment dan setelah berada dalam pembinaan perlu dibuat bimbingan konseling untuk mendengar dan meli- hat perkembangan psikologi sosial mereka.
Para narapidana pada umumnya tidak memiliki harapan masa depan yang direncanakan dengan baik, sebab selama ditahan dalam jangka waktu yang lama antara tiga tahun bahkan lebih, mereka tidak diberikan skill atau suatu keahlian khusus. Pa- dahal jika di luar tahanan waktu tiga tahun sudah bisa tamat diploma. Karena tidak adanya sumber pendanaan yang ma- suk selama di lapas, para narapidana umumnya menggunakan uang tabungan mereka untuk kebutuhan makan, dan jika tidak ada tabungan mereka meminta kepada keluarga. Hal ini tentu bisa saja memperparah keadaan ekonomi keluarga.
Agar tidak begitu lama di lapas atau rutan, para narapidana tentunya mendambakan mendapatkan remisi, pembebasan
bersyarat (PB), dan cuti menjelang bebas (CB). Dengan adanya remisi berarti ada kepastian mereka akan pulang lebih cepat.
Namun, tidak semua narapidana yang bisa mendapatkan remi- si saat ini, karena remisi ini hanya diperuntukkan bagi pelang- gar tindak kriminal umum. Adapun bagi terpidana narkoba yang dihukum di atas lima tahun dan koruptor yang dihukum satu tahun ke atas tidak mendapat remisi kecuali membayar uang pengganti dan denda serta rekomendasi justice collabo- rator dari kejaksaan.
Hal inilah yang sering menjadi permasalahan karena mengapa sudah masuk dalam pembinaan, pihak kejaksaan menginter- vensi kewenangan Kemenkumham dan putusan pengadilan.
Padahal remisi adalah hak bagi setiap narapidana. Pembi- naan narapidana harus bersinergi antara narapidana, petugas, dan masyarakat. Peran masyarakat sangat penting terutama bagaimana mengurangi stigma seolah-olah narapidana dan mantan narapidana tidak akan bisa berubah. Hal ini berakibat pada kurang siapnya mantan narapidana untuk beradaptasi dengan masyarakat setelah masa hukumannya selesai.
Untuk itu, sudah sebaiknya pemerintah dapat mendayagu- nakan para narapidana yang akan menjelang bebas dengan memberikan skill atau keahlian khusus agar dapat nantinya bekerja, misalnya pada kegiatan proyek di BUMN. Pengelo- laan yang demikian tentu akan mengurangi beban tanggungan negara kedepannya misalnya dalam makanan dan pengobatan para narapidana.
Para narapidana berharap pada aparat penegak hukum apabi- la ada pelanggaran kecil seperti, pertengkaran rumah tangga, dan perjudian menyabung ayam janganlah dimasukkan dalam hukuman pidana. Sebaiknya menggunakan kembali sistem ke- arifan lokal dengan memberi hukuman sosial pada keluaga, kelompok atau komunitasnya. Begitu pula dengan kasus Ti-
pikor (Tindak Pidana Korupsi), pada umumnya lebih banyak kesalahan administrasi dan dianggap dalam pasal 3 UU Tipikor ikut serta, sehingga dapat dipenjarakan dan dihukum dengan berat. Namun sebaiknya cukup dengan hukuman administrasi negara seperti membayar ganti rugi, membebastugaskan da- lam jabatan atau penundaan pangkat. Saat ini hampir 60 per- sen kasus Tipikor lebih banyak terindikasi kesalahan adminis- trasi tetapi yang bersangkutan sudah dihukum, mulai dengan hukuman: ditahan, dicopot dalam jabatan, pemotongan gaji, dipidana penjara, membayar uang pengganti, membayar de- nda, tidak mendapat remisi bahkan hingga dipecat.
Keadilan inilah yang menjadi poin penting dalam pembahasan testimoni ini. Narapidana Tipikor umumnya menyetujui apabi- la mereka yang melakukan tindakan korupsi yakni menikmati uang negara dan dengan sengaja melakukan korupsi seperti pekerjaan fiktif, mark up, nepotisme, dan gratifikasi dihukum dengan berat. Jangan seperti saat ini, gara-gara kesalahan ad- ministrasi sudah dihukum dengan berat.
Berikut ini testimoni para penghuni penjara tersebut:
Kasus-kasus Tipikor
Kerancuan dalam Kasus Tipikor
Oleh Hidayat
Sekitar Maret 2013, saya tiba-tiba ditangkap petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tuduhan gratifikasi dari seorang pengusaha terkait pembangunan Rumah Sakit Umum Penyabungan. Peristiwa itu saya rasakan bagai mim- pi di siang bolong, terasa sangat mengenaskan dan tentu saja awal dari hancurnya harga diri, martabat, dan karir saya.
Sebenarnya kejadian yang menimpa saya adalah ekses dari Ope rasi Tangkap Tangan Kepala Dinas PU Kabupaten Mandai- ling Natal yang bertanggungjawab atas pembangunan rumah sakit tersebut. Sedangkan saya diduga mengetahui adanya penyelewengan uang negara pada proyek tersebut sehingga saya ikut ditangkap lalu dibawa ke Jakarta untuk diperiksa.
KPK kemudian menetapkan saya sebagai tersangka dan dita- han di Rutan Guntur selama lima bulan.
Saya tidak pernah bermimpi akan menghuni penjara yang ten- tu saja sangat berbeda dengan rumah kita sendiri. Hari perta- ma ditahan, saya sudah merasakan getirnya tinggal di penja- ra. Saya terus teringat pada empat orang putri dan isteri saya.
Selama ini saya tidak pernah berpisah dengan mereka. Ketika saya mendapat amanah dari masyarakat untuk memimpin Kabupaten Madina, saya memboyong mereka ke Penyabun- gan yang terletak sekitar 15 jam perjalanan darat dari Medan.
Itu lah bentuk dari tanggungjawab saya sebagai kepala rumah tangga kepada anak dan isteri saya. Tapi sekarang saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya harus menjalani hukuman sebagai terpidana.
Pada hari-hari pertama di penjara, saya merasakan kegunda- han hati yang tiada tara. Saya terus bertanya kepada diri saya sendiri, apa kesalahan saya dan kenapa Allah SWT menghu- kum saya seperti ini. Untuk mencari jawaban itu saya berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui sholat dan zikir.
Akhirnya, saya bisa memaklumi cobaan yang saya alami ini dan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi penjara yang su- dah menjadi tempat tinggal saya. Saya pun ikhlas melepaskan jabatan dan mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan Al- lah SWT.
Fasilitas di Rutan Guntur memang sangat sederhana sekali, di kamar sel saya hanya ada kipas angin dan tempat tidur. Wa- laupun rutan ini dihuni oleh para petinggi negara yang terli- bat kasus pelanggaran hukum. Pengalaman berkesan selama lima bulan menjadi penghuni Rutan Guntur adalah ketika pada bulan Ramadhan saya diminta menjadi imam sholah taraweh.
Hal ini membawa keteduhan tersendiri dalam jiwa saya, kare- na bisa memimpin ummat menghadap Tuhannya.
Setelah lima bulan ditahan di Rutan Guntur, saya dipindahkan ke Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan seiring dengan proses hukum kasus saya yang akan disidangkan di Pengadilan Ti- pikor Medan. Ternyata suasana di Rutan Tanjung Gusta agak berbeda dengan Rutan Guntur. Di Rutan Tanjung Gusta sua- sananya agak familiar karena saya banyak kenal dengan peng- huninya. Di sini saya merasa tidak di penjara, karena Warga Bi- naan Pemasyarakatan (WBP) bebas berintegrasi, beribadah di masjid dan berolahraga di lapangan yang ada dalam komplek rutan. Hari pertama saya di Rutan Tanjung Gusta, saya bisa ti- dur dengan nyenyak, padahal sejak di Rutan Guntur saya san- gat sulit untuk tidur.
Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Medan, Jaksa Penun- tut Umum menuntut saya hukuman delapan tahun penjara
dan denda Rp. 300 juta. Mendengar tuntutan JPU itu, dunia saya rasakan gelap seketika karena menurut hemat saya tidak melakukan apa yang dituduhkan JPU. Saya hanyalah korban dari sistem administrasi pemerintah yang membebankan seti- ap penyelewengan bawahan kepada atasan. Namun demikian saya menerima saja tuntuta JPU tersebut dengan harapan saya bisa mendapatkan kemudahan lain.
Akhirnya hakim menjatuhkan vonis selama lima tahun enam bulan penjara dan denda Rp. 300 juta serta hak politik saya di- cabut selama lima tahun. Denda sebesar Rp. 300 juta langsung saya bayarkan sebelum eksekusi dan saya tidak melakukan banding atas vonis hakim tersebut karena saya merasa harus ikhlas dan sabar menerima kenyataan ini. Pada prinsipnya saya harus mengalah dengan harapan saya nanti bisa mendapatkan kemudahan dan keringanan hukuman.
Dengan hukuman lima tahun enam bulan di penjara saya harus menyiapkan diri menjalani hari-hari di penjara yang katanya sudah over capacity. Kegiatan utama saya selama di penjara adalah beribadah dan berolahraga. Menurut saya, sangat pen- ting bagi penghuni penjara untuk menjaga kesehatan agar tu- buh tetap sehat dan bugar.
Dalam hidup saya sebelum di penjara pernah tercetus keingin- an atau niat untuk membangun masjid dan niat itu kembali muncul dalam diri saya ketika saya melaksanakan sholat. Maka dengan berkoordinasi dengan Kepala Rutan, saya bersama-sa- ma napi lain mulai membangun masjid di dalam kompleks Ru- tan Tanjung Gusta. Sebenarnya masjid yang dibangun bukanlah masjid baru karena sebelumnya sudah ada bangunan masjid tapi sangat kecil sekali. Dengan bergotong royong, kami sesa- ma napi berhasil membangun masjid dua lantai dengan kapa- sitas 750 orang jamaah yang kami beri nama Masjid At-Taubah.
Dirjen PAS berkenan meresmikan masjid ini tahun 2015 lalu.
Saat ini saya telah menjalani tiga setengah tahun dari lima setengah tahun masa hukuman saya. Menurut pengamatan saya, sistem pembinaan di Rutan ini belum menjamin WBP siap secara mental kembali ke tengah-tengah masyarakat. Menurut saya untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat WBP harus dibekali dengan dua hal yaitu kesiapan mental dan keterampi- lan. Dalam menyiapkan mental, para WBP harus mendapatkan pencerahan agama secara terus menerus dan rutin setiap hari.
Dengan bekal pengetahuan agama yang cukup para WBP tentu akan dapat diterima masyarakat dengan baik.
Selain faktor mental, faktor keterampilan juga perlu disiapkan bagi setiap WBP sebagai bekal untuk kembali terjun ke te ngah- tengah masyarakat. Sebaiknya para WBP ini diberi kursus-kur- sus keterampilan yang bernilai ekonomis sampai mereka be- nar-benar ahli dalam satu keterampilan tertentu sehingga ketika bebas nanti mereka sudah punya modal untuk mencari nafkah yang halal. Selama ini saya lihat tidak ada kegiatan keterampilan yang berarti yang diberikan kepada WBP, keba- nyakan mereka malah berharap bantuan dari luar atau hanya menghabiskan tabungan, itupun kalau ada.
Pertanyaannya, bagimana dengan WBP yang tidak punya tabungan dan bahkan harus memikirkan nasib anak dan istri me reka. Apakah anak dan isteri mereka harus juga ikut dihu- kum atas penderitaan ini. Saya menyarankan agar Kepala Ru- tan membuat program-program kegiatan ekonomis yang dapat membantu para WBP mendapatkan sekadar penghasilan sela- ma mereka menja lani hukuman di penjara ini. Sepengetahuan saya banyak dana APBN melalui beberapa kementerian yang bisa diminta untuk melatih para WBP menguasai keterampilan tertentu. Misalnya, para WBP bisa dilatih membuat sapu, keset kaki, meubel yang bisa mereka jual.
Khusus untuk WBP yang akan menjalani masa asimilasi seba- iknya pihak rutan mengkoordinasikan mereka dengan peru- sahaan-perusahaan BUMN untuk dipekerjakan sebagai buruh lepas dengan jaminan keluarganya agar tidak melarikan diri.
Selama ini program assimilasi berjalan tidak efektif karena para WBP dibiarkan mencari sendiri kegiatannya atau kadang- kadang diberi kegiatan yang mempermalukan mereka seperti menjadi penyapu jalan tanpa digaji.
Harus kita maklumi WBP yang sudah dihukum semuanya te- lah siap menjalani hukumannya tetapi karena mereka bukan benda mati seperti mumi tentunya WBP ini masih mau ber- buat dan berkarya. Menurut saya program ini jauh lebih baik dari pada membiarkan para WBP itu makan tidur yang ujung- ujung nya menyerap anggaran negara yang cukup besar untuk biaya konsumsi, obat-obatan dan biaya lainnya seperti biaya listrik dan lain-lain.
Saya rasa mereka pasti mau dipekerjakan walaupun de- ngan gaji di bawah gaji buruh harian lepas, karena dengan dikaryakan mereka akan mendapat penghasilan walaupun ke- cil untuk membantu ekonomi keluarga mereka atau minimal untuk biaya mereka di rutan.
Dampak yang selalu terjadi bagi WBP adalah kehilangan se- mangat untuk berubah ke arah yang lebih baik, bahkan ada yang mau kembali melakukan pelangaran hukum karena me reka tidak memiliki keterampilan lain. Tapi bila mereka dibekali keterampilan khusus selama di penjara maka mere- ka tentu yakin akan mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Apalagi bagi WBP yang menjalani hukuman di atas tiga tahun, pasti mereka punya waktu yang cukup untuk menguasai satu ket- erampilan khusus yang bisa jadi bekal mereka kelak setelah bebas.
Hal ini bisa mengurangi beban moral mereka sebab masih ada orang yang menganggap mereka sampah masyarakat dan harus dikucilkan.
Bahkan sebahagian isteri malah memutuskan meminta cerai karena menganggap suaminya tidak ada harapan lagi. Saya pernah menyaksikan ironi seorang isteri malah mengunjungi teman suaminya.
Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak tidak jarang, anak-anak mereka tidak bisa sekolah lagi karena tidak ada biaya untuk bersekolah. Ini adalah dampak lain yang tidk ter- elakkan karena kesalahan satu orang berdampak pada orang lain yaitu anak dan isteri mereka.
Terkait tentang kondisi dan suasana rutan dan lapas, saya merasa sudah cukup nyaman karena yang penting adalah ke- bersihan sehingga akal para penghuninya bisa tetap segar dan sehat. Tentang “kamar asmara” saya menilai hal itu sangat ma- nusiawi sekali bagi WBP yang sudah berkeluarga. Tinggal lagi bagaimana pihak rutan mengelolanya dengan baik dan teratur.
”Kamar Asmara” ini saya lihat bisa mengantisipasi pergeser- an nilai dalam hal pemenuhan kebutuhan seks seperti prilaku sodomi atau hubungan seks sesama jenis.
Masalah pemberian remisi, menurut saya adalah hak bagi seti- ap napi yang telah menjalani hukuman apakah kejahatan mur- ni atau kejahatan extra ordinary crime seperti narkoba, teror- isme dan korupsi. Malah yang memprihatinkan saat ini adalah bagi orang yang tersangkut tindak pidana korupsi yang sudah membayar uang penganti maupun denda dan sudah menja- lani sepertiga hukuman tidak menjamin mendapatkan remisi apabila tidak diberi rekomendasi sebagai Justice Colabulator.
Jika kita cermati kebijakan Presiden Jokowi yang memberikan Tax Amnesty kepada mereka yang selama ini mengemplang pajak, yang jelas-jelas telah melanggar Undang-Undang ten- tang perpajakan dan merugikan Negara sedemikian besar, ke- napa kita-kita yang dituduh korupsi tidak boleh mendapatkan
pengampunan/keringan hukuman. Padahal kita sudah men- jalani hukuman, membayar uang pengganti kerugian Negara, membayar denda, dicopot jabatannya, dicabut hak politiknya dan sanksi sosial lainnya. Apakah mereka yang mengemplang pajak itu lebih mulia dan bermartabat dari kami yang kebanya- kan sudah bertahun-tahun mengabdi kepada Negara.
Berbeda dengan pelaku kejahatan narkoba dengan membayar mereka bisa mendapatkan rekomendasi JC sehingga langsung dapat remisi setelah menjalani sepertiga hukuman. Oleh kare- na itu, menurut saya rekomendasi JC itu tidak perlu bagi yang sudah menjalani hukuman. JC itu diperlukan pada saat penyi- dikan hingga ke pengadilan. Jadi sangatlah aneh kalau sudah masuk ke pembinaan yang menjadi ranah Kemenkumham ha- rus mundur lagi ke penyidik dengan meminta rekomendasi JC.
Ini bagaikan mengangkangi putusan hakim. Akhirnya ketentu- an rekomendasi JC menjadi jeritan hampir semua tahanan yang masuk dalam kategori extra ordinary crime khususnya tindak pidana korupsi. Padahal mereka sudah kehilangan jabatan, menjalani vonis dengan membayar uang pengganti (UP), den- da, kemudian memelas rekomendasi JC untuk mendapat remi- si. Sebenarnya pemberian remisi sangat banyak manfaatnya untuk kondisi rutan dan lapas yang sudah over capacity ini.
Kalau ditanya pentingkah rutan dan lapas memiliki program assesment dan bimbingan konseling untuk para WBP? Menurut hemat saya, hal itu sangat penting guna mengetahui perkem- bangan mental maupun prilaku WBP sekaligus untuk meng- hindari pergeseran nilai. Contohnya, hanya karena persoalan sepele para WBP bisa menimbulkan perkelahian karena mer- eka tidak mampu mengendalikan emosi dan berpikir normal.
Mungkin yang bersangkutan sedang banyak masalah.
Saran saya untuk pengelola rutan dan lapas, agar perlu di- tingkatkan kesejahteraan petugas dan penambahan petugas
mengingat jumlah petugas tidak sebanding dengan penghuni.
Selain itu perlu pengawasan yang ketat agar barang-barang il- legal tidak masuk ke rutan dan lapas dengan bebas. Sedangkan saran saya kepada teman-teman birokrat agar selalu berha- ti-hati menggunakan anggaran negara sehingga kasus seperti saya tidak terjadi pada para birokrat lain.
Kasus saya ini terjadi karena sistem penyelengaraan negara yang membawa saya terjebak dalam pelanggaran hukum. Saya yakin jika sistem ini tidak dirubah akan tidak habis-habis- nya orang ditahan karena terjebak dalam sistem itu. Misaln- ya ada kasus seorang dituduh merugikan negara Rp. 1,5 juta dan dihukum tiga setengah tahun. Itu artinya negara dirugikan lebih besar lagi karena harus membiayai makannya selama tiga setengah tahun. Oleh karena itu sistem harus diperbaiki sehingga sistem itu harus dapat menjamin penegakan hukum yang lebih baik dan bebas dari unsur dendam dan politik.
Tentang adanya wacana WBP tipikor diberi hukuman yang sangat berat, menurut saya ini sangat rancu. Sesungguhnya dalam kasus tipikor ini tidak dapat kita klasifikasi siapa se- benarnya yang merugikan negara. Beda halnya dengan kasus narkoba yang bisa dengan gampang dibedakan mana yang bandar, pengedar atau hanya sekadar pemakai. Jika mereka bandar atau pengedar mereka masih bisa mengendalikan anak buahnya dari balik terali besi. Tapi kalau dia tersangka ti pikor, begitu dia ditetapkan sebagi tersangka mereka sudah tak bisa lagi mengendalikan anak buahnya karena jabatan mereka langsung dicopot. Oleh karena itu dalam kasus tipikor perlu diklasifikasi siapa yang benar-benar korupsi, siapa yang meru- gikan keuangan negara secara langsung, siapa yang melakukan kesalahan administrasi dan siapa yang hanya turut serta. Kalau semua pelaku tindak pidana korupsi diklasifikasikan dalam ex- tra ordinary crime, itulah yang tidak adil.
Jaksa Penunut Umum tersebut masih dapat digunakan. Akibat kasus ini, saya dihukum penjara 11 tahun dengan denda satu Milyar rupiah dan massa tahanan yang sudah saya jalani 3 ta- hun 5 bulan terhitung Mei 2013.
Pekerjaan ini adalah Pengadaan Flame Tube Gas Turbin GT.12 di Belawan yang bernilai Rp. 23,9 milyar yang pendanaanya bersumber anggaran PT. PLN (Persero) tahun 2007, dan diada- kan untuk rencana Life Time Extantion Gas Turbin pada tahun 2008, namun kondisi kelistrikan di Sumut sedang krisis dan situasi politik menjelang pemilu legislatif saat itu, sementa- ra untuk memasang Flame Tubes tersebut dibutuhkan waktu sekitar dua bulan dengan pemadaman sekitar 200 MW, maka pemasangan Flame Tubes tersebut baru dapat dilaksanakan tahun 2010. Setelah dipasang pengoperasian Flame Tubes ini dilaksanakan tahun 2010 (saat itu saya sudah pensiun).
Masa garansi Flame Tubes tersebut adalah 12 bulan dan telah beropersi selama 32 bulan pada saat Flame Tube mengalami ganguan dengan kata lain telah menghasilkan uang sebesar Rp.
4,015 triliun dan gangguan inilah yang disebut aparat jaksa se- bagai Total Lost dan menetapkan saya sebagai tersangka serta lima orang teman saya pada Mei 2013 dan saya ditahan sekitar empat bulan di Kejagung Jakarta tanpa ada pemeriksaan sela- ma ditahan dan yang menjadi alasan penahanan saya adalah dikhawatirkan menghilangkan barang bukti padahal saya su- dah pensiun dan kemudian pada bulan September 2013 saya dipindahkan ke Rutan Tanjung Gusta dalam rangka sidang di Pengadilan Tipikor Medan.
Saat saya mulai ditahan secara psikologis pasti mengalami keg- alauan namun dalam waktu sekitar satu bulan saya telah dapat beradaptasi dengan keadaan dengan aktivitas membaca dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya selalu optimis, saya an- ggap ini ujian dari Tuhan karena saya tidak melakukan apalagi niat melakukan korupsi.
Saat proses sidang berlangsung di Pengadilan Negri JPU menuntut saya 11 tahun penjara dengan denda Rp. 200 juta atas putusan itu saya banding ke Pengadilan Tinggi hasilnya tetap dan saya melakukan kasasi hasilnya tetap sama, saya dihukum dengan hukuman 11 tahun dengan denda 1 milyar rupiah. Satu hal yang tidak dapat saya pahami bahwa dalam keputusan Pengadilan Negeri Medan dan Pengadilan Tinggi Sumut tersebut saya tidak mendapatkan apapun dari kasus ini, dan ironisnya ketika di Mahkamah Agung salah satu anggota Hakin Agung yaitu Prof. Dr. Mohammad Askin, SH membuat analisa yang begitu detail dengan menyimpulkan : “Bahwa saya disebut telah melaksanakan tugas sesuai tupoksinya selaku General Manager/pengguna anggaran dan seluruh tinggkat kegiatan sesuai SOP, maka kejadian ini menun- jukkan bahwa sangat besar kemungkinan hanya terjadi kesalahan teknis sehingga kesalahan bersifat IN DUBIO PRO REO sehingga perlu dilakukan peringanan hukuman”
namun Hakim Ketua Majelis Dr. Artijo Alkostar SH. LLM tanpa analisa ataupun penjelasan hukum langsung menguatkan tun- tutan jaksa yaitu sebelas tahun dan begitu juga mantan staff saya mereka dihukum rata-rata sembilan tahun. Dalam eforia kasus korupsi saat ini pandangan saya terhadap penegakan hukum sangat jauh dari keadilan, karena banyak keputusan pengadilan tidak memperhatikan adanya niat dan motif dari seorang yang dituduh menjadi terdakwa dalam kasus korupsi tersebut, dimana jaksa dan hakim kurang mampu mengkorela- si fakta dengan keilmuan hukum yang mereka miliki, sehingga terkesan penegakan hukum lebih mengedepankan opini dan tekanan masyarakat dalam keputusannnya.
Hari-hari yang saya jalani terutama di Rutan Tanjung Gusta hingga saat ini lebih banyak membangun komunitas Batak yai- tu membuat suatu kajian tentang adat dan Budaya Batak, dan telah berhasil menerbitkan buku tentang adat Batak berjudul
“BONA PASOGIT“. Buku ini telah disampaikan ke Kakanwil Hu- kum dan HAM Sumut dan kemudian diteruskan ke Menkum- ham RI.
Mengahadapi kasus ini keluarga saya siap menerimanya, kare- na mereka tahu saya seorang yang tegar dan kuat menghada-
pi segala macam tekanan dalam melaksanakan pada setiap pekerjaan yang saya emban. Dari dahulu orangtua saya sudah memberi nasehat, kalau dalam mengahadapi setiap beban pekerjaan hadapilah dengan ketabahan dan ketegaran dan jan- gan lupa berdoa kepada Tuhan.
Saya sudah mengabdi pada negara 28 tahun melalui PT. PLN (Persero), prinsip saya adalah paling takut membuat kesalah- an karena itu dalam kasus ini saya tidak pernah takut karena saya yakin saya tidak bersalah. Saya menilai pengadilan dalam menghukum orang-orang yang dituduh korupsi masih bingung dan gamang apalagi ada tekanan dari pers, akibatnya keputu- san pengadilan dalam kasus korupsi sering tidak sesuai den- gan fakta.
Pengaruh lingkungan terhadap saya akibat kasus ini relatif ti- dak ada justru mereka terus mensupport saya, karena mereka tahu saya tidak melakukan korupsi seperti yang didakwakan.
Salah satu contoh, saat saya dijadikan tersangka sebagai Ketua Umum Toga Pangaribuan se-Indonesia, saya mengundurkan diri sebagai Ketua Umum namun semua Pengetua Marga Pan- garibuan tidak menerima pengunduran diri saya, menunggu sampai akhir kepengurusan tahun 2016 ini.
Selama 3 tahun 5 bulan di Tanjung Gusta dalam pandangan saya pola/sistem pembinaan WBP belum efektif antara lain karena keterbatasan fasiltas dan minimnya jumlah petugas.
Banyak yang dapat dikembangkan di rutan untuk membangun skill dan keterampilan WBP antara lain. Penyuluhan hukum yang belum optimal terhadap WBP perlu ditingkatkan di Ru- tan mengingat banyaknya WBP yang buta hukum dan belum memahami hak dan kewajibannya sebagai WBP. Perlu dilaku- kan assesment terhadap WBP yang baru masuk untuk menge- tahui latar belakang dan keahliannya. Hal ini diperlukan dalam rangka pembinaan WBP itu sendiri, yang dapat menjadi alat
bantu pembinaan WBP terutama mental spritual maupun ket- erampilan.
Kondisi rutan dan lapas yang over capasity menurut saya dise- babkan kejahatan di tengah masyarakat yang meningkat dan ini banyak dipengaruhi oleh kesejahteraan masyarakat yang menurun, sehingga untuk menyelesaikan masalah ini adalah tugas kita bersama. Jadi bukan hanya peran penegak hukum untuk mengatasi kejahatan ini, tapi juga tugas para alim ulama termasuk peran keluarga juga sangat menentukan. Lamanya hukuman yang diterima oleh WBP dan remisi yang ikut diken- dalikan yudikatif memperburuk daya tampung rutan atau lapas itu sendiri.
Aparat penegak hukum menurut saya harus punya naluri ter- hadap keterbatasan ini, agar kasus-kasus yang sepele misaln- ya ibu–ibu mencuri kayu bakar, guru memukul murid, pencu- ri ayam tidaklah harus dihukum berat karena menjadi beban negara demikian juga kasus korupsi kalau yang bersifat ad- ministratip cukup dihukum dengan pembayaran ganti rugi bila negara dirugikan tanpa harus menjebloskannya kedalam tahanan.
Menurut pandangan saya dampak hukuman badan yang diga- bungkan dengan pembayaran kerugian negara dan hukuman sosial tidaklah efektif untuk menghilangkan korupsi di negara ini tetapi tindakan preventif justru yang perlu ditingkatkan.
Saran saya kepada pemerintah para penegak hukum harus terdidik secara profesional dan memahami masalah teknis dilapangan karena ada indikasi penegak hukum mencari-cari kesalahan bukan menegakkan hukum.
Tentang perlu tidaknya diberikan remisi terutama terhadap pelaku extra ordinary crime seperti korupsi bagi saya itu ada- lah tuntutan undang-undang. Remisi adalah hak WBP dan wewenang itu sepenuhnya adalah mutlak ditangan eksekutif
(Kemenkumham) jangan sampai kita mengalami pelangga- ran terhadap Undang-Undang itu sendiri, kalau tidak keadilan yang berdasarkan Pancasila tidak akan terealisasi di dalam menangani Hak Azasi Manusia. Biarkan hukum dilaksanakan semaksimal mungkin terhadap koruptor sebagai area yudikat- if namun ketika masuk ke area lembaga pemasyarakatan (area eksekutif) sudah saatnya pihak yudikatif tidak seharusnya lagi mengintervensi eksekutif, supaya jangan terjadi suatu kondisi bahwa dalam menegakan Undang-Undang justru bertolak be- lakang dengan peraturan pelaksanaannya dan kalau ini terus berlangsung maka “QUO VADIS KEADILAN DI INDONESIA“.
(Seperti diceritakan kepada Eddy Syofian dan Khairul Suhada)
Penjara, Sekolah Kehidupan
Oleh Edist Siahaan
Penjara bagi saya adalah sekolah Tuhan, sekolah kehidupan yang sesungguhnya, rumah pertobatan tempat saya menemukan iman kekristenan yang sebenarnya. Selama ini saya memahami Kristen hanyalah sebatas agama, hukum atau hanya seremonial ibadah belaka. Ternyata lebih dari itu. Penjara ini telah merubah persepsi saya itu.
Saya menjadi penghuni penjara karena dituduh telah melaku- kan tindak pidana penyalahgunaan wewenang dan memper- kaya orang lain dalam kasus penggunaan dana APBD daerah yang saya pimpin tahun 2007. Perkara inilah yang membuat saya begitu terpukul dan merasakan cobaan yang begitu berat karena sebagai kepala daerah, wibawa saya hancur dan dizho- limi. Awalnya saya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat saya ditetapkan sebagai tersangka pada bulan Juni 2011. Kini saya menghuni salah satu ruangan penjara di Rutan Tanjung Gusta ini.
Di pengadilan, sampai tingkat kasasi saya divonis selama dua belas tahun penjara dengan membayar denda Rp. 100 juta dan uang pengganti Rp. 7,7 milyar. Karena tak mampu membayar uang pengganti yang begitu besar, seluruh harta saya diram- pas oleh negara. Begitulah kejamnya negara kepada warga- nya yang dituduh bersalah yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan.
Selama tiga tahun pertama di penjara, saya mengalami suatu penyadaran diri untuk bisa menerima kenyataan ini. Tahun pertama dan kedua ditahan, jiwa saya seakan memberontak dan tak mampu menerima kenyataan telah ditinggalkan kera- bat dan staf, walaupun masih ada yang mau mengunjungi saya di penjara ini.
Barulah pada tahun ketiga, saya merasakan suatu perubahan sikap karena saya sudah bisa menerima kenyataan dan meng- hilangkan prasangka buruk bahwa kondisi saya bukanlah kare- na saya dizholimi. Sikap ini ternyata bisa membangun kesada- ran diri dan menimbulkan semangat baru untuk berbuat yang lebih baik. Dalam situasi itulah saya menemukan arti kekris- tenan dan merubah cara berpikir saya selama ini yang meng- anggap semua bisa diatur dengan uang.
Saya memulai membangun kembali iman kristen saya dari nol dan mulai merasakan hadirnya Kristus dalam kehidupan saya.
Saya mulai merasakan nilai-nilai pengorbanan Kristus seperti memaafkan orang lain dan memahami hidup yang penuh ke- terbatasan. Secara pribadi, saya merasakan penjara ini telah mendorong saya untuk melihat adanya keberagamaan dari aja- ran Kristen itu. Dampak ajaran Kristen ternyata tidak ha nya sekadar dampak spiritual tetapi juga menimbulkan dampak lain seperti ketenangan jiwa.