RENCANA JARINGAN PRASARANA
2. Rute Angkutan Barang
Rute angkutan barang di wilayah perencanaan baik yang menggunakan truk berukuran besar, sedang maupun berukuran kecil, pada saat ini melewati jalan arteri primer (rute Barat-Timur) dan jalan kolektor primer (rute Selatan-Utara). Untuk menghindari kawasan pusat kota, rute kendaraan dari arah Selatan dialihkan lewat Jl.
Stasiun, selanjutnya sampai persimpangan di sekitar terminal masuk lagi ke jalan arteri primer. Sedangkan rute kendaraan dari arah Utara dilewatkan Jl. Kantor Pos Rogojampi kemudian masuk lagi ke jalan arteri primer.
Tujuan utama sistem angkutan barang di Kecamatan Rogojampi adalah menunjang kelancaran distribusi barang dalam tiga tahap, yaitu :
(1) Pengangkutan dari sumber bahan baku ke sentra industri.
Untuk melayani pengangkutan dari sumber bahan baku ke sentra industri, dilayani oleh angkutan berat dan besar dengan kapasitas >6 ton. Untuk itu, angkutan jenis ini hanya diperbolehkan melewati jalan - jalan dengan sistem primer.
(2) Pengiriman barang dari industri ke pedagang atau konsumen
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 6 Untuk melayani pengiriman barang ini akan dilayani oleh angkutan sedang. Rute yang dilalui dapat menggunakan sistem sekunder.
(3) Transit angkutan umum barang antar wilayah
Transit angkutan barang antar wilayah dapat menggunakan ankutan barang dari wilayah lain ke Kecamatan Rogojampi atau sebaliknya dari Kecamatan Rogojampi ke wilayah lain. Jenis angkutan yang dapat digunakan adalah angkutan berat atau sedang sehingga jalan yang dipergunakan adalah sistem primer.
Arahan pengembangan untuk rute angkutan barang di BWP Rogojampi adalah : (1) Dalam Jangka Pendek :
Rute angkuran barang tetap menggunakan rute yang sudah ada, yaitu :
(a) Untuk angkutan truk/barang > 6 ton (truk besar) menggunakan jalan arteri primer yang menghubungkan Banyuwangi-Jember. Untuk Kecamatan Rogojampi, angkutan truk dan barang tidak boleh masuk jalan kota untuk menghindari kemacetan tetapi harus melewati jalan lingkar yang menghubungkan Kabat-Gitik-Pengantigan-Lemahbangdewo– Singojuruh.
(b) Untuk angkutan truk/barang (kecil – sedang dengan kapasitas < 6 ton) arah Banyuwangi-Jember diharuskan menggunakan jalur truk besar ketika masuk di Kecamatan Rogojampi. Sedangkan untuk pengiriman barang dari Kecamatan Rogojampi dan Kecamatan di sekitarnya dapat menggunakan angkutan truk/barang kecil dan sedang dengan kapasitas < 6 ton.
(2) Dalam Jangka Panjang :
Rute angkuran barang diarahkan sebagai berikut :
(a) Untuk angkutan truk/barang > 6 ton (truk besar) menggunakan 2 (dua) jalur alternatif jalan lingkar (jalan Arteri Primer).
(b) Untuk angkutan truk/barang (kecil – sedang dengan kapasitas < 6 ton) rute yang ada saat ini tetap dipertahankan.
4.1.1.3 Sistem Jaringan Pedestrian
Keberadaan jalur pedestrian sebagai prasarana utama bagi pejalan kaki sangat dibutuhkan pada ruas-ruas jalan di mana pola penggunaan lahan di sekitarnya mempunyai fungsi publik. Fungsi jalur pedestrian dalam hal ini trotoar antara lain sebagai berikut :
Jalur pejalan kaki yang dapat merangsang kegiatan ekonomi dan orientasi pergerakan manusia sehingga dapat mengurangi kerawanan kriminal,
Jalur pejalan kaki yang dapat merangsang kegiatan ekonomi dan orientasi pergerakan manusia sehingga mempunyai letak strategis dan merupakan kawasan bisnis yang menarik,
Jalur pejalan kaki yang dapat merangsang kegiatan ekonomi dan orientasi pergerakan manusia sehingga mempunyai letak strategis dan berpotensial sebagai arena promosi, pemasangan iklan dan lain-lain.
Trotoar di Jl. Diponegoro sebelah Utara kondisinya sudah cukup baik. Ruas jala yang perlu dilengkapi trotoar adalah Jl. Diponegoro sebelah Selatan, Jl. Sudirman, Jl.
Bolodewo, Jl. Alisakti.
Arahan pengembangan trotoar di Perkotaan Rogojampi adalah :
(1) Ruas jalan yang perlu dilengkapi trotoar adalah Jl. Diponegoro sebelah Selatan, Jl. Sudirman, Jl. Bolodewo, dan Jl. Alisakti.
(2) Lebar trotoar sekurangnya 2.00 meter.
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 7 (3) Trotoar harus ramah dan nyaman bagi pengguna jalan; antara lain : terlindung oleh keteduhan tanaman atau kanopi bangunan dan estetis; bebas dari pohon, tiang rambu-rambu dan benda-benda pelengkap jalan yang menghalangi.
(4) Permukaan trotoar harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak licin.
Rencana pengembangan pedestrian di Perkotaan Rogojampi meliputi : a. Sepanjang jalan arteri dan kolektor yang melewati BWP Rogojampi.
b. Pada pusat kegiatan seperti perdagangan jasa, perkantoran, pendidikan, kesehatan, pariwisata dan industry.
c. Pengembangan pada BWP Rogojampi SBWP 1, SBWP 2, SBWP 3 dan SBWP 4.
4.1.1.4 Jaringan Perkeretaapian
Perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan raya harus dilengkapi dengan pelintasan kereta api berpalang pintu, karena rawan terjadi kecelakaan.
Arahan pengembangan jaringan perkeretaapian di BWP Rogojampi adalah : a. Pengembangan kereta api dua jalur Surabaya-Banyuwangi.
b. Mempersiapkan pembebasan lahan untuk keperluan pengembangan kereta api dua jalur.
c. Mempersiapkan perluasan Stasiun Kereta Api Rogojampi yang tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi juga untuk mengangkut dan melakukan bongkar muat barang.
d. Menyediakan perlintasan kereta api berpalang pintu pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan raya. Salah satunya adalah perlintasan di Jalan Lingkar Barat.
4.1.2 Jaringan Transportasi Udara
Kota Rogojampi berjarak kurang lebih 5-6 km dari Bandar Udara Blimbingsari.
Walaupun Bandar Udara Blimbingsari berada di luar wilayah perencanaan, tetapi eksistensinya perlu dikaji dalam kaitannya dengan posisi wilayah perencanaan terhadap Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Blimbingsari.
Dalam hubungannya dengan pengembangan BWP Perkotaan Rogojampi KKOP Bandar Udara Blimbingsari berpengaruh pada :
a. Penentuan kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan.
Ditinjau dari posisinya terhadap KKOP Bandar Udara Blimbingsari, kawasan kemungkinan bahaya kecalakaan mencakup sebagian wilayah Desa Lemahbangdewo, Rogojampi, Kedaleman, Kaotan, dan Karangbendo, karena berada pada jalur take off dan landing pesawat. Esensinya, di dalam kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan sampai jarak 3.000 meter dari ujung permukaan landasan dibebaskan dari bangunan dan kegiatan yang intensitasnya tinggi.
Idealnya berupa kawasan tidak terbangun seperti sawah, ladang atau tegalan.
b. Penentuan tinggi bangunan
Posisi KKOP Bandar Udara Blimbingsari menentukan jumlah lantai bangunan di bawahnya.
(1) Wilayah yang berada di bawah permukaan horisontal dalam diizinkan mempunyai ketinggian bangunan maksimum 45 meter atau sekitar 11 lantai (1 lantai setara 4 meter).
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 8 (2) Wilayah yang terletak di bawah permukaan horisontal luar diizinkan memiliki
ketinggian bangunan maksimum 145 meter atau sekitar 36 lantai.
Apabila melihat kondisi faktual jumlah lantai bangunan di Kota Rogojampi yang tidak lebih dari 3 lantai (sekitar 12-16 meter), maka persyaratan KKOP tidak berpengaruh pada ketinggian bangunan di Perkotaan Rogojampi.
4.2 Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan
Adapun untuk pelayanan penerangan (jaringan listrik) pada BWP Rogojampi dirasa telah cukup karena PLN telah menjangkau hampir di semua permukiman penduduk. Hanya saja, dalam hal penerangan pada jalan-jalan di BWP Rogojampi memang dirasa masih kurang, karena belum tersedianya lampu penerangan jalan baik pada jalan utama terlebih pada jalan lingkungan.
Selain kebutuhan untuk perumahan, non perumahan (perdagangan, perkantoran, fasilitas umum), penerangan jalan, wilayah perencanaan membutuhkan penyediaan listrik untuk industri. Dengan luas kawasan industri sebesar 10 Ha dan daya listrik sebesar 0,2 MW/Ha, maka kegiatan industri membutuhkan daya listrik sebesar 2 MW. Seluruhnya membutuhkan daya listrik sebesar 17,28 MW.
Arahan pengembangan kebutuhan listrik di BWP Rogojampi adalah :
(1) BWP Rogojampi membutuhkan daya listrik sebesar 17,28 MW, dengan rincian : (a) Kebutuhan perumahan sebesar 7.836,90 KW atau 7,83 MW
(b) Kebutuhan non perumahan sebesar 3.134,76 KW atau 3,13 MW.
(c) Kebutuhan untuk penerangan jalan umum sebesar 783,69 KW atau 0,78 MW
(d) Losses 1,3 MW
(e) Kebutuhan untuk industri sebesar 2 MW.
(2) Kebutuhan daya listrik BWP Rogojampi dilayani oleh jaringan SUTM 20 KV dan SUTR 220/330 V yang diperluas ke seluruh bagian wilayah kota.
Berdasarkan perhitungan dapat diketahui bahwa kebutuhan total daya listrik BWP Rogojampi pada tahun 2034 adalah 15.281.955 watt/hari. Dengan total kebutuhan tersebut, maka rencana pengembangan jaringan listrik di BWP Rogojampi meliputi:
1. Pengembangan jaringan distribusi sekunder berupa Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 6 KV – 20 KV yang ditempatkan pada jaringan jalan lingkungan untuk meningkatkan pelayanan listrik dari jaringan distribusi primer yang ada. Pengembangan jaringan ini akan dilengkapi dengan infrastruktur pendukungnya.
Adapun transmisi SUTM digunakan pada jaringan tingkat tiga, yaitu jaringan distribusi yang menghubungkan dari Gardu Induk, Penyulang (Feeder), SUTM, Gardu Distribusi, sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/
Konsumen).
Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam meletakan lokasi gardu listrik dan jaringan distribusi adalah:
Untuk pemilihan lokasi gardu hubung melingkupi seluruh titik beban. Hal ini untuk meminimasi biaya momen beban yang merupakan perkalian besarnya beban dengan jarak ke titik supply.
Penarikan jaringan dari gardu hubung ke masing-masing titik beban harus berarah maju yang berarti tidak ada kabel yang berbalik arah.
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 9
Pemilihan letak gardu hubung tersebut harus mampu memenuhi kriteria voltage regulation pada ujung beban.
Pemilihan letak gardu hubung juga harus memperhitungkan jarak terdekat dengan supply gardu hubung induk yang terdapat diujung beban.
2. Penambahan dan perbaikan sistem jaringan listrik pada kawasan-kawasan yang belum terlayani serta pemasangan penerangan jalan pada jalur utama dan terutama pada daerah rawan kecelakaan.
4.3 Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi
Jaringan telepon sambungan rumah, pada saat ini melayani kebutuhan rumah tangga, kantor bisnis, toko, kantor pemerintah, sekolah, fasilitas kesehatan, kegiatan industri dan perbengkelan, yang lokasinya berada di periferi jalan arteri dan jalan utama desa. Jumlah sambungan telpon di Perkotaan Rogojampi adalah 581 sambungan.
Selain sambungan rumah, telekomunikasi di wilayah perencanaan menggunakan telepon seluler yang transmisinya dilayani oleh dua menara BTS (Base Tranceiver Station). BTS berfungsi untuk menghubungkan perangkat komunikasi pengguna dengan pengguna lain melalui suatu jaringan komunikasi yang mempunyai mobilitas tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, disediakan kantor pelayanan Telkom yang terletak di Jl. Diponegoro Rogojampi.
Berdasarkan total kebutuhan diatas, maka rencana pengembangan jaringan telekomunikasi di BWP Rogojampi terdiri atas:
1. Peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi yang menjangkau seluruh wilayah di BWP Rogojampi.
2. Pembangunan BTS bersama. Pendirian menara Base Transceiver Station (BTS) dengan sistem menara bersama untuk menyinergikan ketersediaan ruang kawasan dan kebutuhan menara BTS yang diseimbangkan dengan jumlah pengelolaan menara bersama, sehingga dapat dicapai efektivitas dan efisiensi pemanfaatan tata ruang kawasan.
4.4 Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum
Kebutuhan air bersih di Perkotaan Rogojampi dilayani oleh PDAM dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.987 pelanggan. Sumber alir baku yang memasok PDAM berasal dari sumber air Lunggun yang mempunyai kapasitas 170 liter/detik dan kapasitas produksi 45 liter/detik. Kebutuhan air bersih di kawasan pinggiran kota sebagian besar dipenuhi dari sumur gali atau sumur pompa.
Arahan pengembangan kebutuhan air bersih BWP Rogojampi :
(1) Kebutuhan air bersih adalah 7.202,99 m3/hari, yang terdiri dari : (a) Kebutuhan perumahan sebesar 3.736,44 m3/hari.
(b) Kebutuhan non perumahan sebesar 1.494,57 m3/hari.
(c) Kebutuhan untuk Kran Umum sebesar 4,98 m3/hari.
(d) Losses 1.308,99 m3/hari.
(e) Kebutuhan untuk industri sebesar 648 m3/hari
(2) Penyediaan air bersih BWK Perkotaan Rogojampi dilayani oleh jaringan perpipaan yang disuplai dari sumber air di Lunggun yang mempunyai debit 170 liter/detik atau 14.688 m3/hari. Jumlah ini masih lebih besar dari kebutuhan Perkotaan Rogojampi.
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 10 (3) kebutuhan air bersih lainnya, diperoleh dari sumur gali dengan ketentuan kualitas airnya memenuhi syarat. Penggunaan sumur dalam (sumur artesis) harus dibatasi dan secara bertahap dilarang..
(3) Disediakan Kran Umum sebanyak 166 unit; dengan radius pelayanan maksimum 100 meter.
Adapun rencana pengembangan jaringan air bersih di BWP Rogojampi berupa rencana kebutuhan dan sistem penyediaan air bersih, yang terdiri atas:
1) Pengembangan sistem penyediaan air minum yang mencakup sistem jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan. Pengembangan jaringan air minum direncanakan pada seluruh SBWP yang dimana pengembangannya mengikuti pengembangan jaringan jalan yang ada;
2) Pembangunan bangunan pengambil air baku, bangunan penunjang dan bangunan pelengkap serta bak penampung air;
3) Pembangunan sumur resapan di kawasan perumahan pada seluruh SBWP;
4) Monitoring kualitas air bersih untuk menjaga kualitas air bersih yang dikonsumsi oleh penduduk sesuai dengan standar baku mutu pada seluruh SBWP.
4.5 Rencana Pengembangan Jaringan Drainase
Saluran drainase memanfaatkan sungai yang mengalir dari Barat ke Timur dan bermuara di Selat Bali. Seluruhnya ada tiga sungai yang mengalir melewati Perkotaan Rogojampi, terdiri dari satu sungai (Kali Lugonto) dan dua saluran irigasi yang mengairi sawah di kawasan pinggiran kota.
Arahan pengembangan untuk saluran drainase BWP Rogojampi adalah :
1. Saluran drainase digunakan untuk mengalirkan air hujan dan air buangan rumah tangga. Untuk meminimalkan pencemaran pada badan air, dibuat saringan atau bak penangkap lemak yang ditempatkan pada bak kontrol sebelum air dibuang ke saluran drainase.
2. Sistem saluran drainase memanfaatkan sungai dan saluran yang sudah ada, yaitu Kali Lugonto (masuk klasifikasi saluran makro) dan saluran mikro yang terdiri dari saluran primer, sekunder dan tersier.
3. Memisahkan saluran drainase dan saluran irigasi. Saluran irigasi tetap dipertahankan untuk mengairi sawah yang masih dipertahankan eksistensinya di BWP Perkotaan Rogojampi.
Adapun kebutuhan pegembangan saluran pembuangan di BWP Rogojampi yang perlu diperhatikan yaitu :
1) Perluasan jaringan ke wilayah-wilayah permukiman dan penyediaan saluran sesuai perkiraan kebutuhan, kebutuhan terhadap drainase ini tidak hanya untuk rumah tangga, tetapi juga untuk fasilitas sosial, perdagangan dan komersial pada seluruh SBWP;
2) Pemeliharaan dan pengawasan pada tiap saluran drainase secara rutin dari penumpukan sedimen dan sampah;
3) Pemeliharaan pintu air secara berkala;
4) Pensosialisasian program kepedulian terdahap kebersihan dan perawatan sungai, dengan tidak membuang sampah dan limbah ke sungai.
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 11 4.6 Rencana Pengembangan Sistem Persampahan
Sampah yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan di wilayah perencanaan terdiri dari sampah rumah tangga, sampah perkantoran, sampah pasar (termasuk pasar hewan), dan sampah pertokoan. .
Fasilitas pembuangan sampah yang terdapat di wilayah perencanaan adalah TPA dengan metoda open dumping yang menempati lahan seluas 0,5 Ha. Lokasi TPA berada di belakang pasar hewan, yang melayani Desa Rogojampi, Pengantigan, Gitik, Kedaleman dan Lemahbangdewo.
Masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran kota memusnahkan sampah dengan cara ditimbun atau dibakar di halaman atau lahan kosong.
Adapun permasalahan utama terkait masalah sampah di Kecamatan Rogojampi adalah : 1) Tidak terdapatnya sarana TPA
2) Masih kurangnya TPS
3) Masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kebersihan lingkungan khususnya dalam hal kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.
4) Keterbatasan Sarana dan prasarana persampahan mangakibatkan sampah seringkali menumpuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, keterbatasan sarana dan prasarana persampahan seperti :
Kurangnya bak-bak penampungan sampah yang diletakkan didepannya rumah penduduk
Kurangnya armada pengangkut sampah
Kurangnya jumlah kontainer yang tersedia
Kurangnya SDM yang ada saat ini seperti sopir angkutan sampah dan pasukan kuning.
Arahan pengembangan sistem prsampahan di BWP Rogojampi :
(1) Sebagai sebuah kota yang dikembangkan menjadi PKL, BWP Perkotaan Rogojampi harus menyediakan sistem pengumpulan, pengangkutan dan pemusnahan sampah sendiri; dan tidak bisa lagi mengandalkan pemusnahan sampah dengan cara ditimbun/ dibakar di halaman atau tanah kosong.
Fasilitas pengumpulan dan pengangkutan sampah yang perlu disediakan di BWP Perkotaan Rogojampi, terdiri dari :
(a) Gerobak sampah berkapasitas 1 m3 sebanyak 142 unit, yang membuang sampah setiap hari ke TPS.
(b) Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) berkapasitas 6 m3 sebanyak 23 unit, yang membuang sampah setiap hari ke TPA.
(c) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dipindahkan ke Desa Aliyan.
(2) Pembuangan sampah dari bak sampah rumah tangga ke TPS dilakukan oleh masyarakat, sedangkan pengangkutan dan pemusnahan sampah ke TPA dilakukan oleh Dinas Kebersihan Kabupaten Banyuwangi.
(3) Untuk memperkecil volume timbulan sampah dapat dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut :
(a) Mereduksi sampah (reduce), yaitu mengurangi atau meminimalkan material yang digunakan. Semakin banyak material yang digunakan, akan semakin banyak sampah yang dihasilkan.
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 12 (b) Mendaur ulang sampah (recycle), dengan memilah sampah yang masih bisa didaur ulang seperti kertas, karton, plastik, beling, berbagai jenis logam, seng, sisa kain; untuk dijual kepada pengepul sampah dan selanjutnya didaur ulang oleh usaha kecil/informal menjadi barang lain.
(c) Menggunakan kembali (reuse), yaitu dengan cara memilih barang-barang yang bisa dipakai kembali, dan menghindari penggunaan barang-barang yang sekali buang.
(d) Mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Adapun rencana penanganan sampah di BWP Rogojampi antara lain adalah:
1. Penyediaan TPS Container yang direncanakan akan ditempatkan di tiap SBWP pada zona aktivitas kegiatan dan pemukiman.
2. Peningkatan pelayanan persampahan baik untuk sistem pengangkutan maupun pengelolaan dengan mengembangkan konsep bank sampah pada seluruh SBWP;
3. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana pengangkutan dan pengelolaan sampah dari TPS menuju TPA;
4. Program pengolahan sampah dengan sistem composting atau pengomposan dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik seperti berikut :
Gambar 4.1 Rute Sistem Pengolahan Sampah
4.7 Limbah Rumah Tangga
Lingkungan permukiman kota harus dilengkapi jaringan air limbah rumah tangga baik menggunakan sistem pengelolaan limbah individu maupun komunal.
Arahan pengembangan pembuangan limbah rumah tangga di BWP Rogojampi adalah : (1) Sistem pembuangan limbah rumah tangga menggunakan on site system.
(2) Saluran pembuangan yang berasal dari KM, dapur, tempat cuci, dan washtafel, harus dimasukkan bak penagkap lemak terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran drainase kota.
(3) Buangan limbah cair dari restoran, depot, pasar, dilarang dibuang ke saluran drainase. Buangan limbah cair harus diolah terlebih dahulu menggunakan IPAL Biofilter atau Biofilm Anaerob dan Aerob Plus.
(4) Rumah Sakit wajib memiliki IPAL untuk mengolah limbah cair yang dihasilkannya.
4.8 Rencana Pengembangan Prasarana Lainnya
Jalur Evakuasi Bencana adalah jalur evakuasi bencana banjir. Jalur evakuasi bencana banjir digunakan sebagai jalur evakuasi apabila terjadi bencana banjir dengan
Komposter Skala Kawasan
Residu Sumber Sampah :
1. Perdagangan & jasa 2. Perkantoran 3. Pendidikan 4. Perrmukiman 5. Industri 6. Kesehatan 7. Dll
Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Tempat Sampah/
Bak Sampah
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 4 - 13 tempat penampungan sementara di perkantoran, ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan, kesehatan, dan peribadatan.
Apabila terjadi bencana kebakaran, maka tempat penampungan sementara berada di perkantoran, ruang terbuka dan tempat peruntukan pelayanan umum meliputi sarana pendidikan, kesehatan, dan peribadatan yang terdekat dengan lokasi bencana kebakaran.
Fasilitas penanggulangan kebakaran sangat dibutuhkan oleh sebuah kawasan perkotaan terutama jika di kawasan tersebut terdapat kegiatan yang rawan menimbulkan kebakaran atau rentan terhadap bahaya kebakaran, seperti industri, bengkel las, bengkel mesin, restoran dan warung.
Di wilayah perencanaan belum tersedia fasilitas penanggulangan kebakaran kota.
Ketersediaan air untuk keperluan pemadaman kebakaran bisa memanfaatkan air sungai yang terdapat di wilayah perencanaan.
Upaya peningkatan evakuasi bencana kebakaran dilakukan dengan cara : a. Melakukan integrasi jaringan air minum dengan jaringan hidrant kebakaran;
b. Meningkatkan kualitas jalan lingkungan dengan perkerasan agar dapat dilalui oleh kendaraan pemadam kebakaran pada kawasan rawan kebakaran;
c. Menyediakan jalur akses ke bangunan untuk proses pemadaman kebakaran.
Kawasan ruang evakuasi bencana, meliputi ruang terbuka atau ruang lainnya yang dapat berfungsi sebagai melting point;
(1) Kawasan ruang evakuasi bencana untuk bencana kebakaran, meliputi Ruang terbuka meliputi taman, lapangan, parkir, halaman atau pekarangan fasilitas umum dan sosial di sekitar kawasan rawan bencana kebakaran;
(2) Pengelolaan kawasan ruang evakuasi bencana meliputi :
a. Menyediakan hidran pada setiap lingkungan dan sumur kebakaran atau reservoir air dan sebagainya yang memudahkan instansi pemadam kebakaran untuk menggunakannya;
b. Tersedia sarana komunikasi umum yang siap pakai.
Arahan pengembangan bagi evakuasi bencana kebakaran adalah :
(1) Di BWP Perkotaan Rogojampi perlu disediakan satu Pos PMK yang ditempatkan di Kantor Kecamatan. Wujudnya berupa garasi terbuka untuk menampung satu mobil PMK dan satu mobil tangki air untuk pemadaman api.
(2) Upaya mitigasi untuk mencegah terjadinya perambatan api dari bangunan satu ke bangunan lain apabila terjadi kebekaran adalah :
(a) Memisahkan jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran dengan kegiatan yang beresiko rendah menimbulkan kebakaran. Antara lain menempatkan bengkel (mobil, sepeda motor, las, cat, dinamo, industri/pergudangan) dalam zona tersendiri.
(b) Blok industri/pergudangan yang berada dalam satu kompleks wajib menyediakan hidran halaman.
(c) Di daerah padat seperti perdagangan pusat kota atau daerah yang letaknya jauh dari laut atau sungai, perlu disediakan sumur kebakaran (dalam hal ini dipilih sumur kebakaran dibandingkan hidran, karena penyediaan hidran lebih mahal dan selalu terkontrol dengan baik agar tekanan airnya tetap tinggi).
Sumur kebakaran ditempatkan pada setiap jarak 100-200 meter. Sumur kebakaran ditempatkan di tepi jalan dengan jarak minimal 3 meter dari badan jalan.
PENYUSUNAN PERDA DAN PERATURAN ZONASI
TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA ( RDTRK) ROGOJAMPI 5 - 1