Am I Rebellious? An Exploration of Moslem Adolescent-Parents Conflict And Cognitive Dissonance
SABTU, 11 NOVEMBER 2017
Sesi V 08.00-09.30
V.1 Kelompok Minoritas & Marjinal A203
Kelompokku Tidak Mungkin Salah: Peran Fusi Identitas Agama dan Religious Styles Yohanes Budiarto, Lina – Universitas Tarumanagara
Perasaan menyatu pada kelompok yang sangat kuat (fusi identitas) pada akhirnya membentuk identitas sosial yang baru pada individu. Banyak temuan yang mengkonfirmasi bahwa fusi identitas menjadi prediktor yang kuat bagi dukungan terhadap perilaku ekstrim kelompok. Selain itu, fusi identitas juga meningkatkan kesiapan individu untuk menyangkal perilaku kelompok yang salah. Mayoritas penelitian dilakukan pada fusi identitas individu terhadap negara. Penelitian ini bertujuan untuk menguji prediksi religious styles dalam membentuk fusi identitas keagamaan yang pada akhirnya individu semakin siap membela perilaku salah dari kelompok keagamaannya. Sebanyak 363 dewasa awal dalam kelompok keagamaan terlibat secara konvenien dalam penelitian ini. Analisis dengan menggunakan SMART PLS 3.0 menunjukkan bahwa skemata keberagamaan individu truth of text and teaching (TTT) memprediksi terbentuknya fusi identitas keagamaan dan kesiapan individu untuk menyangkal perilaku salah dari kelompok keagamaannya. Skemata keagamaan lainnya fairness, tolerance dan rationality (FTR) tidak memprediksi fusi identitas keagamaan individu. Lain halnya dengan skemata keagamaan xenosophia justru menurunkan kualias fusi identitas keagamaan individu. Berdasarkan analisis Multi Group Analysis, gender tidak membedakan prediksi skemata keagamaan TTT terhadap pembentukan fusi identitas kegamaan. Laki-laki dan perempuan juga memiliki potensi yang sama terkait prediksi fusi identitas keagamaan terhadap penyangkalan perilaku salah kelompok agama mereka.
Keywords: fusi identitas, religious styles, gender, kesiapan individu untuk menyangkal perilaku salah dari kelompok keagamaannya
Perbedaan Universal-Diverse Orientation Mahasiswa Etnis Tionghoa Universitas Sumatera Utara (USU) dan Politeknik Informasi Teknologi & Bisnis (IT&B)
Nadine Lobian, Irmawati – Universitas Sumatera Utara
Kota Medan terdiri dari beragam etnis yang menjadikan kota Medan sebagai kota multikultural, salah satunya adalah etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa cenderung hidup berkelompok dengan etnisnya sendiri, kurang dapat menerima serta menghargai perbedaan dengan etnis lain. Menurut Dewi (2015), etnis Tionghoa enggan berbaur karena menganggap golongan mereka lebih baik daripada golongan non-Tionghoa. Hal ini dapat terlihat dari pemilihan tempat tinggal, bahasa yang digunakan juga pemilihan institusi pendidikan. Politeknik Informasi Teknologi dan Bisnis menjadi salah satu lembaga pendidikan yang mayoritas peserta didiknya adalah etnis Tionghoa. Meskipun demikian terdapat etnis Tionghoa yang melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara bergaul dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang etnis. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa mahasiswa etnis Tionghoa yang berinteraksi dalam lingkungan dengan berbagai etnis dapat lebih menghargai dan menerima perbedaan dengan etnis lain daripada mahasiswa etnis Tionghoa yang berinteraksi hanya dengan kelompoknya sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat komparatif untuk mengetahui perbedaan Universal-Diverse Orientation mahasiswa etnis Tionghoa USU dan IT&B dengan menggunakan alat ukur Miville-Guzman Universality-Diversity Scale – Short Form (MGUDS-S) yang dikembangkan oleh Miville dan dimodifikasi sesuai konteks penelitian. Reliabilitas alat ukur sebesar 0,866. Analisis data menggunakan Independent Sample T-Test. Hasil analisa data menunjukkan terdapat perbedaan Universal-Diverse Orientation yang signifikan antara mahasiswa etnis Tionghoa USU dan IT&B. Implikasi dari
penelitian ini adalah keberadaan mahasiswa etnis Tionghoa di ruang lingkup yang multikultural dapat meningkatkan kesadaran akan keberagaman.
Keywords: Universal-Diverse Orientation, etnis Tionghoa
Peran Proses Kognitif Dalam Stigma Terhadap Orang Dengan Gangguan Mental di Bali Sarah Josephine Natalia, Yohanes Kartika Herdiyanto – Universitas Udayana
Dengan lebih dari 450 juta orang yang mengalami gangguan mental di dunia, gangguan mental ditempatkan sebagai salah satu penyebab utama kesehatan buruk dan disabilitas di dunia (WHO, 2013). Di provinsi Bali, angka orang dengan gangguan mental menunjukkan tren yang cenderung meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi gangguan jiwa berat di Bali di tahun 2013 adalah 2,3 per mil, lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu 1.7 per mil (Kemenkes RI, 2013). Dengan meningkatnya prevalensi gangguan mental di Bali, berarti semakin banyak pula penderita gangguan mental yang menjadi korban stigma oleh masyarakat Bali. Stigma terhadap mengalami gangguan mental adalah isu serius bagi masyarakat Indonesia. Menurut Agusno (2011), salah satu sumber permasalahan kesehatan mental adalah berkembangnya stigma terkait gangguan mental di masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Drapalski et al. (2013) menemukan bahwa orang-orang yang mengalami atau dipersepsi sebagai seseorang dengan gangguan mental sering menjadi subjek stereotip, prasangka, diskriminasi dan bias (stigma) dari masyarakat. Stigma telah diasosiasikan dengan beberapa konsekuensi negatif bagi penderita, seperti: depresi yang memburuk, social avoidance, turunnya pengharapan, konsep diri, dan harga diri, simtom psikiatri yang memburuk, penurunan kegigihan untuk berusaha memperoleh layanan kesehatan mental, dan terhambatnya pemulihan. Selain itu, stigma gangguan mental tidak hanya berdampak kepada penderita gangguan mental itu sendiri, namun juga berdampak kepada anggota keluarga penderita. Hasil kajian pustaka menjelaskan definisi dan komponen-komponen stigma, serta peran proses kognitif dalam stigma. Stigma mencakup tiga aspek, yaitu: kognitif, afektif, dan konatif (Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Proses kognitif terkait stigma umumnya ditandai dengan heuristic processing atau ‘top-down’ strategy yang dominan (Bodenhausen, 1988; Chaiken, Lieberman, & Igley, 1989). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Devine (1989), social perceiver mengaktifkan secara otomatis input stereotipikal dalam memori mengenai anggota out-group saat dihadapkan dengan situasi inter-group. Hal tersebut menjadi dasar dari penilaian diskriminatif terhadap pihak out-group. Selain itu, saat motivasi dan kapasitas pemrosesan semakin berkurang, individu cenderung menggunakan pemrosesan yang bersifat heuristis sebagai dasar social judgment (Chaiken et al., 1989; Petty & Cacioppo, 1986). Kajian pustaka ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai proses-proses kognitif yang melatarbelakangi pembentukan stigma terhadap orang yang mengalami gangguan mental. Sumber literatur yang dicantumkan dalam kajian pustaka, antara lain: database PsycNET, Oxford University Press Journals, serta ResearchGate. Hasil kajian pustaka diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan mengenai proses kognitif dalam pembentukan stigma, serta menjadi saran dalam perancangan intervensi komunitas terkait kesehatan mental yang lebih efektif dalam mengurangi dampak negatif stigma terhadap orang yang mengalami gangguan mental di masyarakat.
Keywords: Stigma, Gangguan Mental, Proses Kognitif
Rasa Bermasyarakat Pasca Pengucilan: Studi Fenomenologi Pada Kasepekang di Bali Nyoman Trisna Aryanata, Aritya Widianti – Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada Bali
Kasepekang merupakan sanksi adat pengucilan di Bali yang dikenakan kepada warga dan keluarganya dalam bentuk pencabutan hak akses pada fasilitas desa, fasilitasi desa pada kebutuhan sosiokultural, serta larangan bagi warga untuk berkomunikasi dengan yang dikenai sanksi. Sanksi ini akan terus berlaku selama warga bersangkutan belum membayar atau menuntaskan ketentuan pencabutan sanksi yang
dikenakan padanya. Penelitian ini hendak mengeksplorasi berbagai pemaknaan maupun dinamika rasa bermasyarakat (sense of community) warga pasca mengalami sanksi pengucilan tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam pada 4 subjek laki-laki yang berperan sebagai kepala keluarga pada keluarga yang terkena sanksi kasepekang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski dikenai sanksi pengucilan, rasa bermasyarakat berusaha untuk tetap dikelola. Ikatan dengan komunitas berusaha dipertahankan karena faktor kebutuhan sosioreligius keluarga dan ikatan emosional yang telah terjalin dengan sesama warga lainnya. Faktor internal yang mendukung pemeliharaan rasa bermasyarakat adalah internalisasi nilai peran sebagai kepala keluarga dan nilai harmonisasi hubungan dengan sesama anggota. Faktor eksternal yang turut membantu adalah fasilitasi pimpinan desa agar terjadi reintegrasi subjek pada kegiatan desa maupun kesempatan yang diberikan pada subjek untuk menunjukkan kontribusinya.
Keywords: Sense of community, kasepekang, pengucilan, Bali, lintas budaya
Konstruksi Alat Ukur Dasar Toleransi: Analisis Faktor Konfirmatori Terhadap Skala Outgroup
Favoritism
Johan Satria Putra, Novika Grasiaswaty – Universitas YARSI
Toleransi antar umat beragama telah lama menjadi isu dalam hubungan antar kelompok maupun individu di masyarakat dan tidak jarang menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari bidang keilmuan psikologi khususnya untuk turut mengatasi isu ini. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan alat ukur psikologi yang dapat mengidentifikasi sejauh mana tingkat toleransi antar agama di dalam masyarakat. Sayangnya, alat ukur semacam ini masih jarang ditemui, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dalam berbagai penelitian terdahulu di Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat ukur berupa skala outgroup favoritism kelompok Islam (ingroup) terhadap non-islam (outgroup). Berdasarkan teori Minimal Group Paradigm dari Tajfel (2003), outgroup favoritism merupakan kecenderungan untuk memberikan evaluasi ataupun penilaian positif terhadap kelompok lain, yang dalam hal ini adalah agama yang berbeda. Maka dari itu, konstruk ini dapat menjadi dasar bagi terwujudnya sikap toleransi beragama. Salah satu cara untuk mengembangkan suatu alat ukur adalah dengan menggunakan teknik analisis faktor. Analisis faktor yang dilakukan dalam penelitian ini adalah confirmatory factor analysis (CFA), dengan menggunakan dua software statistik yaitu program R dan SPSS. Analisis menggunakan program R ditujukan untuk menguji kesesuaian data dengan model alat ukur, sedangkan analisis menggunakan SPSS bertujuan untuk mengkonfirmasi dimensionalitas pengukuran skala. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 106 subjek beragama islam dan berusia antara 18 hingga 24 tahun. Subjek diambil dari empat kelompok yang dianggap berbeda dalam hal pemikiran keagamaan. Berdasarkan teori, outgroup favoritism memiliki tiga dimensi, yaitu maximum outrgoup profit, maximum differentiation pro outgroup, dan minimal ingroup benefit. Di dalam matriks Tajfel, outgroup favoritism memiliki garis kontinum yang linier dengan ingroup favouritism, sehingga terdapat kemungkinan skala ini akan memiliki dua dimensi, yaitu outgroup dan ingroup favoritism. Oleh karena itu, analisis faktor yang dilakukan membandingkan antara model unideimensi dengan multidimensi. Hasil analisis faktor dengan R menggunakan comparative fit index dan SRMR menunjukkan data kurang mampu merepresentasikan model unidimensi. Hasil factor loading menunjukkan jika item-item unfavorable memberikan kontribusi negatif terhadap kesesuaian model. Sedangkan untuk model multidimensi, hasilnya menunjukkan jika model ini lebih fit terhadap data daripada model pertama. Sementara berdasarkan analisis SPSS, hasil rotated component menunjukkan bahwa aitem-aitem yang bersifat unfavorable pada dimensi maximum differentiation pro outgroup dan minimal ingroup benefit terpisah secara faktorial dengan aitem favorabel, dan lebih menunjukkan kesesuaian dengan dimensi maximum differentiation pro-ingroup dan maximum ingroup profit pada ingroup favoritism. Dengan demikian, untuk penelitian ke depan, skala ini
dapat dikembangkan menjadi dua instrumen yaitu skala outgroup favoritism terhadap non-islam dan ingroup favoritism terhadap islam.
Keywords: outgroup favoritism, non-islam, analisis faktor konfirmatori
V.2 Multikulturalisme & Interkulturalisme A214
Perasaan Tidak Berdaya: Studi Indigenous pada Masyarakat Jawa
Hasna Uzzakiyah, Galang Lufityanto – Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
Masalah yang ada dalam kehidupan manusia sering menempatkan individu pada posisi yang berat sehingga memunculkan perasaan tidak berdaya. Perasaan ini merupakan manifestasi dari ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya. Ketidakberdayaan atau biasa dikenal dengan istilah learned helplessness merupakan fenomena dimana menempatkan manusia dengan apapun yang sudah mereka perbuat, tidak dapat menghindarkan mereka dari situasi yang tidak menyenangkan (aversif). Studi penelitian terkait learned helplessness sudah sering diteliti di beberapa negara, namun tidak di Indonesia. Padahal, Indonesia sebagai negara multikultural memiliki definisi learned helplessness yang berbeda di setiap daerah dan menarik untuk dikaji. Melihat minimnya literatur terkait dengan ketidakberdayaan atau learned helplessness di Indonesia, diperlukan penelitian lebih lanjut guna membangun suatu teori yang lebih kuat. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan definisi ketidakberdayaan atau learned helplessness pada masyarakat Jawa sebagai langkah awal untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan indigenous dan disusun dalam open ended questionnaire. Penelitian ini melibatkan 109 subjek dari etnis Jawa dengan berbagai kriteria. Kriteria tersebut terbagi dalam beberapa golongan seperti: jenis kelamin, lintas generasi mulai dari baby boomer hingga generasi Y, status ekonomi sosial dan pendidikan. Hasil sementara dalam penelitian ini yaitu, ketidakberdayaan atau learned helplessness menurut masyarakat Jawa, merupakan suatu kondisi dimana individu tidak dapat berbuat apa-apa ketika masalah kompleks hadir dalam kehidupan mereka.
Keywords: learned helplessness, indigenous, superioritas, inferioritas
Apa Harapan Terbesar Kita? Studi pada Mahasiswa Bugis Makassar
Bambang Pratama J, A.Musyidah Yusuf, Andi Nurul Mutmainnah, Muh. Ahyar Hamka, Nurul Fitroh, & Andi Azizah Rahmadani – Universitas Negeri Makassar
Harapan merupakan salah satu emosi positif yang ada pada manusia. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui makna harapan pada mahasiswa, 2) untuk mengetahui kecenderungan harapan mahasiswa yang telah tercapai, 3) untuk mengetahui harapan mahasiswa yang belum tercapai, 4) untuk menegetahui harapan terbesar mahasiswa di masa depan. Jumlah partisipan dalam penelitian ini berjumlah 256 mahasiswa (laki-laki=41, perempuan=216), seluruhnya adalah mahasiswa Bugis Makassar dengan melengkapi sebuah kuisioner pertanyaan terbuka. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan open-ended response, melalui kategorisasi open-coded, axial-coded, dan selanjutnya cross-tabulated. Hasil penelitian pun menunjukkan beberapa hal. Pertama, harapan dimaknai sebagai keinginan yang hendak dicapai. Kedua, harapan mahasiswa yang telah tercapai cenderung mengarah ke bidang Pendidikan. Ketiga, harapan mahasiswa saat ini yang belum tercapai ialah membahagiakan orangtua. Keempat, harapan terbesar di masa mendatang pada mahasiswa sukses pada jenjang karir. Kelima mahasiswa akan melangambil langkah untuk belajar demi mencapai harapan-harapan tersebut.
Pengaruh Big Five Personality Terhadap Kebahagiaan Pada Suku Gorontalo Eka Apristian Pantu – Universitas Muhammadiyah Malang
Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan jika indeks kebahagiaan skala warga Indonesia berada pada angka 68,28. Luasnya wilayah Indonesia diikuti dengan banyaknya suku yang ada sehingga kebahagiaan antara satu suku dan suku lainnya didorong berbagai faktor yang berbeda. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah suku Gorontalo. Penelitian ini meneliti pengaruh dimensi dalam big five personality terhadap kebahagiaan pada suku Gorontalo. Subjek penelitian berjumlah sembilan puluh enam subjek (Laki-laki=39, Perempuan=55) yang lahir dan besar di Gorontalo. Dalam penelitian ini subjek diberikan skala mengenai kepribadian big five dan skala kebahagiaan. Hasil penelitian menunjukkan empat dimensi dalam big five memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kebahagiaan pada suku Gorontalo adalah openness to experience (p=0,001), conscientiousness (p=0,001), extraversion (p=0,000), dan agreeableness (p=0,000) sedangkan neuroticism memiliki hubungan negatif dengan kebahagiaan (p=0,000). Dimensi openness to experience secara signifikan mempengaruhi kebahagian karena terdapat nilai lipu peyi hulalo (membangun daerah) yang mendorong suku Gorontalo terbuka dengan hal baru selama tidak bertentangan dengan nilai agama. Dimensi conscientiousness memiliki pengaruh signifikan erat dengan kebahagiaan karena dipengaruhi nilai adati (patuh kepada peraturan) sehingga mendorong warganya lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dimensi extraversion secara signifikan mempengaruhi kebahagiaan dikarenakan mayoritas warga Gorontalo memeluk agama islam yang sangat menekankan hubungan baik dengan sesama. Sementara dimensi agreeableness dapat menjadi signifikan karena nilai butoo (taat pada keputusan) dan nilai batanga po maya (jiwa raga untuk pengabdian) yang menyebabkan nilai agreeableness memiliki pengaruh signifikan terhadap kebahagiaan. Sementara itu nilai neuroticism memiliki pengaruh yang negatif terhadap kebahagiaan dikarenakan suku Gorontalo yang sangat bersandar pada syariat islam seperti yang tertera pada nilai aadati hula-hula to sara’, sara’ hula-hula to kuru’ani (adat bersandar pada syariat, syariat bersandar pada al-quran) sehingga suku Gorontalo menyerahkan segala hal bersandar pada agama sehingga warga lebih tenang dalam menjalani kehidupannya.
Keywords: Big Five Personality, Kebahagiaan, Budaya, Gorontalo
Peranan Non-Attachment terhadap Kesehatan Mental Positif Lina, Yohanes Budiarto – Universitas Tarumanagara
Ketidaklekatan (non-attachment) merupakan nilai yang sangat dihargai dalam Budhism dan merupakan konsep baru dalam psikologi (Sahdra dan Shaver, 2013). Ketidaklekatan didefinisikan sebagai cara yang fleksibel dan seimbang untuk berhubungan dengan pengalaman seseorang tanpa melekat atau menekannya (Sahdra, Shaver & Brown, 2010). Ketidaklekatan membebaskan pikiran dari pola pikir yang kaku dan perasaan yang negatif terkait dengan aversi dan keterikatan (clinging). Ketidaklekatan dipandang sebagai unsur kunci dari pembentukan kesejahteraan psikologis (McIntosh, 1997). Bertolakbelakang dengan konsep ketidaklekatan, penderitaan hidup dalam pandangan ajaran Budha justru berasal dari kelekatan individu terhadap manusia, benda, pemikiran dan lain-lain. Kepuasan dan kenikmatan juga dapat menyebabkan penderitaan (dukkha) apabila individu melekat kepadanya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara ketidaklekatan (non-attachment) dan kesejahteraan emosi, psikologis dan sosial. Sebanyak 433 umat Budha di Jakarta mengisi kuesioner Non-Attachment Scale (NAS) (Sahdra et al.,2010) untuk mengukur ketidaklekatan dan Mental Health Continuum - Short Form (MHC-SF) (Keyes, 2005) untuk mengukur kesejahteraan emosi, psikologis dan sosial. Pengujian dimensionalitas NAS menggunakan program FAKTOR mendukung unidimensionalitas skala. Analisis measurement model dengan menggunakan program SMARTPLS 3 menunjukkan bahwa
instrumen NAS DAN MHC-SF memiliki CR > 0.7 dan AVE >0.5. Pengujian model struktural menunjukkan bahwa kesejahteraan emosi, psikologis dan sosial diprediksi oleh ketidaklekatan (t >1.96).
Keywords: ketidaklekatan, kesejahteraan emosi, psikologis dan sosial
V.3 Gender, Kerja, & Keluarga (Keluarga) C101
Persepsi Kemanakan Terhadap Pengasuhan Mamak di Minangkabau Nafkhatul Wahidah, Sartana, Nila Anggreiny – Universitas Andalas
Pada adat Minangkabau, pengasuhan tidak hanya dilakukan oleh dan ayah dan ibu, melainkan juga oleh saudara laki-laki ibu (mamak). Terkait hal itu, setiap kemanakan memiliki pengalaman khusus ketika diasuh oleh mamaknya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengalaman kemanakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yaitu metode yang melihat secara dekat interpretasi individual tentang pengalaman-pengalamannya serta berusaha untuk memahami fenomena. Fenomena tersebut ada melalui proses wawacara dan observasi. Metode analisis data menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Responden dalam penelitian ini adalah dua orang remaja perempuan dan satu orang remaja laki-laki beretnis Minangkabau. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemanakan menganggap mamak mengasuhnya secara demokratis. Mamak tidak memaksakan kehendaknya kepada kemanakan. Terkait komunikasi, kemanakan menilai mamaknya memilih mengkomunikasikan secara langsung, jika hal tersebut berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum seperti aturan adat, agama, serta norma sosial. Sementara untuk hal yang bersifat pribadi, mamak memilih menyampaikan melalui Ibunya. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa mamak lebih mengajarkan kemanakan tentang perilaku yang sesuai dengan norma sosial dalam budaya Minangkabau seperti aturan mengenai kato nan ampek dan sumbang duo baleh. Secara umum, kemanakan menilai mamak masih peduli pada dirinya, khususnya dalam ekonomi dan pendidikan. Kemanakan juga menganggap bahwa mereka masih membutuhkan pengasuhan mamak. Kajian lebih lanjut mengenai topik ini perlu dilakukan.
Keywords: Pengasuhan, Persepsi, Mamak, Kemanakan, Minangkabau
Peran Mamak dalam Pengasuhan Kemenakan Pada Etnis Minangkabau Debby Nia Novinta – Psikologi FK Universitas Andalas
Pengasuhan anak di Minangkabau melibatkan peran saudara laki-laki Ibu (mamak). Mamak memiliki peran dalam mengasuh dan membimbing kemenakan. Sejauh ini, penelitian mengenai mamak di Minangkabau banyak terdapat pada kajian antroplogi dan keilmuan budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman mamak terkait perannya dalam mengasuh kemenakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitiatif. Ada tiga orang mamak terlibat pada penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data didapatkan melalui wawancara dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data fenomenologi Van Kaam. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam mengasuh, mamak memiliki peran sebagai perantara dan pengawas dalam penerapan nilai dan norma adat, sebagai pemberi dukungan dalam mewujudkan cita-cita dan memecahkan masalah serta menjaga nama baik keluarga dengan mengontrol perilaku kemenakan. Sehubungan dengan mengontrol perilaku, mamak menjadikan orangtua kemenakan sebagai mediator komunikasi antara mamak dan kemenakan. Pada hasil temuan ini, mamak menganggap dirinya masih menjalankan perannya sebagai pengasuh kemenakan. Hal ini penting untuk diteliti untuk memahami peran pengasuhan mamak dalam keluarga Minangkabau secara psikologis.
Keywords: Peran, Pengasuhan, Mamak, Kemanakan, Minangkabau
Kualitas Kesehatan Mental Positif Anak ditinjau dari Persepsi Anak terhadap Konflik Pernikahan Orangtua
Amala Fahditia, Sari Wardana, Yohanes Budiarto – Universitas Tarumanagara
Orientasi kesehatan mental sekarang bergerak dari arah yang pada awalnya menekankan pada depresi dan kecemasan, sekarang menuju kepada kualitas kesehatan mental yang positif terutama dalam hal kesejahteraan individu. Keyes (2012) menjelaskan kesehatan mental positif sebagai kondisi ketika emotional well-being, psychological well-being, dan social well-being individu terpenuhi. Salah satu pemenuhan kesehatan mental positif individu dapat diperoleh dari kualitas kehidupan keluarga. Persepsi individu terhadap kualitas konflik pernikahan di dalam keluarga dapat berdampak pada kualitas kesehatan mental positifnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi anak terhadap konflik pernikahan orangtua dalam keluarga dan kesehatan mental positif mereka. Partisipan dalam penelitian ini melibatkan 160 dewasa muda di Jakarta. Berdasarkan dari hasil analisis korelasi, ditemukan bahwa