• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saham Yang Digadaikan Dapat Dialihkan Melalui Eksekusi Jaminan Gadai

3.3 BAGAIMANA SAHAM YANG SUDAH DIGADAIKAN DAPAT DIALIHKAN?

3.3.4. Saham Yang Digadaikan Dapat Dialihkan Melalui Eksekusi Jaminan Gadai

Dalam permasalahan saham yang telah diperjanjikan untuk didivestasikan pada Kontrak karya antara PT NNT dengan Pemerintah Indonesia yang ternyata telah di gadaikan pada sindikasi bank asing, maka perjanjian Kontrak Karya ini lah yang lahir terlebih dahulu dan sesuai dengan prinsip perikatan Pasal 1233 dan Pasal 1234 KUHPer masing-masing mengatur seperti dikutip, sebagai berikut: “Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang”, sedangkan Pasal 1234 menyatakan “Tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu”

Menurut hukum penyelesaian hutang atau kredit bermasalah karena debitur cidera janji adalah melakukan eksekusi atau menjual benda yang menjadi jaminan hutang. Eksekusi benda yang menjadi jaminan dilakukan karena langkah restrukturisasi atau negosiasi lainnya tidak berhasil.58

Dengan demikian saham yang telah digadaikan dapat dinegosiasikan dengan pihak sindikasi bank asing sesuai dengan adanya perjanjian untuk melaksanakan divestasi yang menjadi kewajiban PT NNT, dan Bank sebagai kreditur dapat melakukan eksekusi gadai.

Eksekusi gadai dapat ditemukan dalam 2 pasal,yaitu dalam pasal 1155 dan Pasal 1156 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

a. Parate Eksekusi

58

Pasal 1155 KUH Perdata menyatakan :

Apabila oleh para pihak tidak telah diperjanjikan lain, maka si berpiutang adalah berhak jika si berutang atau si pemberi gadai bercedera janji, setelah tenggang waktu yang ditentukan lampau, atau tidak telah ditentukan suatu tenggang waktu, setelah dilakukannya suatu peringatan untuk membayar, menyuruh jual barang gadainya di muka umum menurut kebiasaan-kebiasaan setempat serta atas syarat-syarat yang lazim berlaku, dengan maksud untuk mengambil pelunasan jumlah piutangnya beserta bunga dan biaya dari pendapatan penjualan tersebut.

Pertama-tama, pasal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa ketentuan Pasal 1155 merupakan ketentuan yang bersifat menambah (aanvulled-recht), karena para pihak bebas menetapkan lain. Dalam hal para pihak tidak menyimpangi ketentuan tersebut, maka barulah pasal 1155 berlaku.59

Kedua, jika si berhutang atau pemberi gadai wanprestasi, maka penerima gadai berhak untuk menjual barang gadai di depan umum menurut kebiasaan dan syarat-syarat setempat. Hak ini diperoleh kreditur, kalau debitur atau pemberi gadai sudah wanprestasi. Sejak saat debitur atau pemberi gadai wanprestasi, lahirlah hak tersebut.60

Mengenai kapan debitur wanprestasi, bergantung dari perikatannya. Kalau perikatannya memakai ketentuan waktu sebagai batas akhir (verval termijn), maka sejak saaat lewatnya waktu yang dicantumkan debitur wanprestasi.

Ketiga, hak ini diberikan oleh undang-undang, tidak perlu diperjanjikan. Dulu hak yang demikian itu hanya diberikan, kalau para pihak memperjanjikannya. Jadi, dulu hak tersebut didasarkan atas perjanjian, sedang sekarang diberikan demi hukum.61

Ke empat, untuk penjualan tersebut tidak disyaratkan adanya titel eksekutorial. Pemegang gadai melaksanakan penjualan tanpa perantaraan

59

J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan, ( Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 134

60

Ibid, hal 134 61

Pengadilan, tanpa perlu minta bantuan juru sita, tanpa perlu mendahuluinya dengan suatu sitaan. Pemegang gadai disini menjual atas kekuasaan sendiri. Hak pemegang gadai untuk menjual barang gadai tanpa titel eksekutorial disebut Parate Eksekusi. Karena ia tidak perlu suatu titel eksekutorial, tanpa perlu perantaraan Pengadilan, tanpa butuh bantuan juru sita, maka seakan-akan hak eksekusi selalu siap -paraat- ditangan pemegang gadai dan karenanya disebut parate eksekusi.62

Kemudian, hal yang menarik dari Pasal 1155 ini adalah anak kalimat “apabila oleh para pihak tidak telah ditentukan lain” karena menimbulkan berbagai penafsiran dalam eksekusi gadai saham. Penafsiran yang pertama adalah para pihak setuju eksekusi gadai saham melalui parate eksekusi, namun penjualannya tetap ke kantor lelang. Jadi tidak bisa diartikan, dapat diperjanjikan untuk menjual saham di bawah tangan.63

Anak kalimat dimaksud berarti bahwa pemegang gadai dengan sendirinya mempunyai “recht van parate executie”, kecuali para pihak telah memperjanjikan secara tegas bahwa pemegang gadai tidak boleh menggunakan hak itu. Jadi, anak kalimat pasal 1155 tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai suatu hak yang diberikan kepada pihak untuk memperjanjikan dalam perjanjian gadai bahwa pemegang gadai dapat menjual barang gadai di bawah tangan. Yang dapat diperjanjikan adalah bahwa pemegang gadai tidak berhak menggunakan hak parate executie, melainkan harus menempuh jalan yang digariskan dalam pasal 1156 KUHPerdata, yaitu penjualan barang gadai dengan penetapan pengadilan.64

Seperti sudah dikatakan di depan, Pasal 1155 merupakan pasal yang bersifat mengatur (aanvullend) dan para pihak diberikan kebebasan untuk memperjanjikan lain. Akan tetapi, memperjanjikan cara penjualan yang lain dari pada penjualan di muka umum tidak diperkenankan. Pembuat Undang-undang mempunyai kekhawatiran akan kemungkinan timbulnya kerugian

62

Ibid.hal 135 63

“Praktek eksekusi gadai saham simpang siur”, <http://www.hukumonline.com/detail.asp? id=12387&cl=Berita>, diakses 20 November 2008

64 Ibid

yang terlalu besar bagi debitur melalui persekongkolan antara penjual dengan calon pembelinya. Namun, sebagaimana di depan telah kita kemukakan, setelah debitur wanprestasi, maka para pihak dapat mengadakan persetujuan untuk menjual benda jaminan di bawah tangan.65

Sedangkan penafsiran yang kedua adalah apabila para pihak menentukan lain, maka eksekusi dapat dilakukan tidak di muka umum. Mengenai penjualan secara di bawah tangan, ada pendapat yang mengatakan bahwa untuk jaminan dalam bentuk gadai, meskipun ketentuan undang-undang menetapkan pada prinsipnya penjualan barang jaminan dilakukan dengan lelang, namun dibuka kemungkinan untuk memperjanjikan lain. Dengan demikian sejak awal, yaitu pada waktu membuat perjanjian gadai dapat ditegaskan bahwa jika debitor cidera janji, kreditor berhak menjualnya baik melalui lelang maupun secara di bawah tangan.66

Ketentuan undang-undang membuka kemungkinan bagi kreditor untuk melakukan penjualan secara di bawah tangan yang seharusnya melalui pelelangan jika dengan cara ini dapat diperoleh dengan harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak. Disamping harga yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan harga lelang, umumnya penjualan dengan lelang amat memakan waktu, tertunda-tunda karena sulit mendapatkan harga yang baik atau menemukan pembeli yang berminat.67

b. Pasal 1155 Ayat (2) KUH Perdata

Selanjutnya Pasal 1155 KUHPerdata juga mengatur apabila barang gadainya terdiri atas efek-efek yang dapat diperdagangkan di pasar atau di bursa, maka penjualannya dapat diperdagangkan di tempat-tempat tersebut, asal dengan perantaraan dua orang makelar yang ahli dalam perdagangan barang-barang itu.68

c. Pasal 1156 KUH Perdata

65

Satrio. Op. cit., hal. 136 66

Ibid., hal 137 67

Indrawati Soewarso, Aspek Hukum Jaminan Kredit (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 2002), hal 120

68

“Bagaimanapun, apabila si berutang atau si pemberi gadai bercedera janji, si berpiutang dapat menuntut di muka hakim supaya barang gadainya dijual menurut cara yang ditentukan oleh hakim untuk melunasi utang beserta bunga dan biaya, atau pun hakim, atas tuntutan si berpiutang, dapat mengabulkan bahwa barang gadainya akan tetap pada si berpiutang untuk suatu jumlah yang akan ditetapkan dalam putusan hingga sebesar utangnya beserta bunga dan biaya.”

Di samping hak untuk menjual sendiri seperti tersebut di atas, pemegang-gadai dalam hal debitur atau pemberi gadai wanprestasi, masih dapat menempuh jalan penyelesaian yang lain yaitu :

1. Mohon agar hakim menentukan cara penjualan barang gadai.

Yang demikian itu mungkin sekali diperlukan untuk menjaga agar barang gadai menghasilkan uang sebanyak mungkin, sebab pemegang gadai mempunyai kepentingan agar harga jual paling tidak menutup piutangnya. Adakalanya barang-barang tertentu tidak menguntungkan untuk dijual di depan umum, umpamanya tagihan atas nama.

2. Mohon agar hakim mengizinkan pemegang gadai membeli sendiri barang gadai dengan harga yang ditentukan oleh hakim.69

Adanya wewenang yang demikian itu terasa bermanfaat dalam hal barang gadai turun sekali nilainya, sehingga penjualan di muka umum malah akan merugikan kedua belah pihak. Kekhawatiran terhadap kecurangan pemegang-gadai disini tidak perlu ada, karena hakimlah yang memberikan keputusan, baik mengenai dikabulkan atau tidaknya maupun harganya.

Hasil penjualan saham yang digadaikan sesuai dengan perjanjian pada Kontrak Karya dapat dialihkan/dibeli pada peserta Indonesia atau digunakan untuk melunasi hutang debitur. Jika hasil penjualan mampu menutup seluruh hutangnya maka jika ada kelebihan dikembalikan kepada debitur. Sebaliknya jika hasil penjualan belum mampu melunasi hutangnya maka kekurangannya tetap harus dilunasi debitur.

69

Dokumen terkait