• Tidak ada hasil yang ditemukan

298. SAKSI DARI PEMOHON: AGUSTINUS EDWARD FATEM

Surat keputusan dari Pak Wanane sewaktu masih menjabat sebagai bupati untuk usulkan ibukota Maybrat itu...

299. KUASA HUKUM PEMOHON: ROPAUN RAMBE, S.H.

Jadi pengusulan dari Bupati Sorong pada waktu itu (...) 300. SAKSI DARI PEMOHON: AGUSTINUS EDWARD FATEM

Bapak-bapak yang terhormat juga ada.

301. KUASA HUKUM PEMOHON: ROPAUN RAMBE, S.H.

Sebentar,sebentar, Bapak di sini saksi bukan menjustifikasi, Bapak untuk menjelaskan. Jadi berdasarkan Keputusan Kabupaten Sorong menetapkan dari awal rencana pemekaran adalah Maybrat dengan Surat

Keputusan Bupati, yang didasarkan dengan kajian-kajian ilmiah? Cukup, Majelis.

302. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD.MD., S.H.

Baik, silakan duduk Pak Agustinus. Sekarang ada lagi 2 orang ahli sekarang kalau bisa nanti jam 13.00 sudah bisa berakhir, tapi kalau tidak ya kita bisa lanjutkan. Silakan yang mana dulu ini, Saudara Pemohon?

Pak Wawane dulu atau Pak Yulianus dulu? Silakan, Pak Wanane. Di situ saja Pak, di situ ada mimbar di dekat Bapak itu, silakan.

303. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Bapak Hakim yang kami muliakan, assalamualaikum wr.wb.Salam sejahtera untuk kita semua.

Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk memberikan penjelasan barangkali dari awal upaya pemekaran kabupaten-kabupaten di seluruh Papua. Sebenarnya saya ini bersama-sama dengan Gubernur Papua waktu itu Dr. Yab Solosa kami berdua orang yang berdiskusi tentang rencana pemekaran kabupaten-kabupaten dan provinsi di seluruh Papua pada waktu itu.

Kemudian dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Pasal 5 ayat (1) itu tentang Pemekaran Kabupaten Baru atau Pemekaran Daerah Otonom Baru berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah itulah maka kami mulai diskusi melakukan diskusi dari sejak tahun 2000 berkepanjangan juga sampai dengan tahun 2003, lalu saya waktu itu mulai beraksi untuk mulai merencanakan pemekaran itu, jadi saya start pemekaran wilayah itu mulai dari pemekaran distrik-distrik yang ada, jadi khusus untuk wilayah Maybrat yang meliputi 3 distrik induk itu yaitu Distrik Aitinyo, Distrik Ayamaru, dan Distrik Aifat. Khusus untuk Maybrat itu saya mekarkan Distrik Aitinyo itu menjadi tambah satu lagi distrik baru namanya Distrik Muswaren, kemudian Distrik Ayamaru itu 2 distrik baru, Ayamaru Utara dan Distrik Mare. Kemudian Aifat itu satu distrik baru, yaitu Aifat Timur, jadi ada 4 distrik baru di wilayah Maybrat itu ditambah dengan distrik induk 3 itu menjadi 7 distrik. Jadi 7 distrik itulah yang menjadi dasar bagi kami untuk mulai merencanakan atau proses pemekaran itu.

Sebenarnya Kabupaten Maybrat ini waktu itu kami rencanakan untuk jadi ibukota kabupaten untuk wilayah Sorong Selatan itu, tetapi setelah masyarakat kami di wilayah Sorong Selatan itu mendengar bahwa Maybrat itu akan dijadikan Ibukota yaitu di Ayamaru, kenapa Ayamaru itu waktu itu kami pikirkan untuk merencanakan Ibukota Kabupaten Sorong Selatan itu ada di sana? Karena Ayamaru itu dulu zaman Pemerintah Belanda tempat kedudukan HPB (Hoog Platte

Bestuur) waktu Belanda itu berada di Ayamaru, berkedudukan di Ayamaru.

Kemudian dalam perkembangan penyelenggaraan pemerintahan terus kemudian saat itu menjelang-menjelang ya adanya New York Agreement untuk Papua harus merdeka itu, lalu mereka berpikir Belanda berpikir bahwa kalau pemerintahan itu ada di Ayamaru itu komunikasi keluar itu sangat sulit karena jauh dari laut, tetapi kalau di Trinabuan itu dekat laut jadi akhirnya dipindahkan karena HPB itu dipindahkan dari Ayamaru ke Trinabuan. Ada satu kampung yang namanya Konda antara di situ, kemudian Pak Antoh yang tahu ini tahun 1954 itu dipindahkan dari Konda ke Trinabuan yang ada sekarang jadi Ibukota Kabupaten Sorong Selatan.

Begitu, jadi 7 distrik di dalam kawasan wilayah Maybrat itulah yang menjadi titik untuk kami merencanakan untuk pemekaran Kabupaten Maybrat ini. Selama saya menjadi bupati bukan hanya Maybrat saja akan tetapi ada 4 kabupaten baru, sebenarnya termasuk juga Kota Administratif Kotamadya Sorong sekarang waktu itu saya masih menjadi Ketua Bappeda sehingga hanya jadi arsitek untuk ikut berpikir dan merencanakan Kota Sorong itu sebagai kota administratif.

Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu kami mulai merencanakan pemekaran Kabupaten Raja Empat dulu, dan Kabupaten Sorong Selatan itu tahap pertama, kemudian tahap kedua Kabupaten Maybrat dan kabupaten Tamarau, kemudian dilanjutkan lagi dengan kebijakan-kebijakan yang lain. Jadi proses saya merencanakan pemekaran Kabupaten Maybrat ini adalah sebagai berikut, jadi ada banyak sekali dasar hukumnya saya kira, saya tidak menggurui Bapak-Bapak Majelis Hakim Yang Mulia karena kita sama-sama tahu aturan-aturan itu tapi yang saya ingin sampaikan di sini adalah bahwa pemekaran Kabupaten Maybrat ini dan Tamrau kami lakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000, jadi kalau bicara mengenai proses pemekaran kabupaten ini dikaitkan dengan Baperkam, dikaitkan lagi dengan persyaratan-persyaratan yang lain itu tidak kena karena waktu kami berpegang kepada Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 itu. Jadi kami proses pemekaran kabupaten ini berdasarkan persyaratan-persyaratan itu, jadi persyaratan teknis, persyaratan administrasi, persyaratan fisik, kemudian ditambah lagi dengan kajian akademik. Jadi kajian akademik itu kami minta bantuan dari Universitas Padjajaran dan juga dari Universitas Indonesia untuk membantu kami membuat kajian tentang Kabupaten Ayamaru dan Maybrat. Karena itu langkah-langkah yang saya lakukan dalam rangka memekarkan Kabupaten Maybrat itu adalah pertama sekali ada sejumlah keputusan karena pemekaran wilayah ini kan kebijakan publik yang penting dan strategis dan itu tuntutan dari Pasal 18 UUD 1945, karena itu pemekaran wilayah itu tidak cukup kalau kita atur saja dengan surat biasa, lebih elegan itu sebenarnya dengan peraturan daerah dulu, kemudian turun keputusan-keputusan itu untuk kepala daerah itu untuk

melaksanakan peraturan daerah itu dalam rangka pemekaran wilayah.

Jadi saya fokuskan sekarang kepada data-data yuridis dan fakta-fakta yuridis tentang pembentukan Kabupaten Maybrat dan tentang tempat kedudukan Ibukota Kabupaten Maybrat itu supaya jangan pikiran kita ini mencong ke Timur, atau ke Barat atau ke Utara Selatan begitu, tapi kita berbicara berdasarkan data-data dan atau pertimbangan-pertimbangan yuridislah, data-data yuridis begitu. Yang pertama adalah ada Surat Keputusan dari Ketua DPRD Kabupaten Sorong Nomor 03/KPTS/DPRD/SRG/2004 itu menyebutkan nama kabupaten itu Maybrat. Kemudian tempat kedudukannya itu di Maybrat yaitu di Distrik Aitinyo atau segita emas yang tadi disebut-sebut itu.

Kemudian yang berikut itu adalah Surat Keputusan DPRD Kabupaten Sorong juga Nomor 4/DPRD/2005 juga menyebutkan nama kabupaten itu adalah, sorry ini keputusan ini tentang persetujuan pembiayaan kemudian yang berikut itu adalah Surat Keputusan DPRD Sorong Nomor 5/DPRD/SRG/2007 itu menyebutkan nama kabupaten itu Maybrat tempat kedudukannya itu di Distrik Aitinyo dalam segitiga emas yang disebut-sebut itu tadi. Kemudian yang berikut itu Keputusan Bupati Sorong Nomor 99 Tahun 2005 menyebutkan di Pasal 2 itu menyebutkan ibukota itu di Maybrat. Kemudian tempat kedudukan, Pasal 11 itu menyebutkan tempat kedudukan ibukota itu di Distrik Aitinyo, begitu. Ini keputusan bupati, bupati tidak surat-surat, membuat keputusan karena ini kebijakan publik yang penting.

Kemudian yang berikut, Keputusan Bupati Sorong juga Nomor 1 Tahun 2006 juga menyebutkan secara khusus diktum pertama itu menyebutkan nama kabupatennya Maybrat tempat kedudukannya itu di Aitinyo yang disebut tadi dengan segitiga emas itu. Kemudian yang berikut adalah Surat Gubernur Papua Nomor 115/708/SET tanggal 7 April 2005 tidak menyebutkan tempat kedudukan tapi menyebutkan nama kabupatennya Maybrat. Kemudian juga Surat Gubernur Nomor 900/1189/SET tanggal 3 Mei 2005 tentang dukungan pembiayaan, nama kabupatennya tetap Maybrat. Kemudian Surat Bupati Sorong Nomor 135/147/2008 tentang Ibukota Kabupaten Maybrat tanggal 13 Februari 2008 menyebutkan ibukota itu di Maybrat ini bupati sekarang, keputusan dari bupati sekarang, lalu ibukotanya itu di Distrik Aitinyo Utara, dalam hal ini segi tiga emas yang disebut-sebut tadi. Di dalam keputusan Bupati Sorong menegaskan bahwa nama kabupaten dan tempat kedudukan ini tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun, itu penegasan bupati dalam surat keputusan itu, bukan surat keputusan, surat biasa, sorry.

Kemudian surat bupati lagi, nomor, bupati sekarang, Surat Bupati Sorong Nomor X/135/01 tertanggal 31 Maret 2008 yang isinya membatalkan dan mencabut Surat Bupati Sorong Nomor 135/147/2008 tertanggal 13 Februari 2008 ini surat bupati yang sekarang, jadi surat ini membatalkan surat yang tadi saya sebutkan sebelumnya. Jadi ini menyebutkan ibukotanya itu di Maybrat, maksud kami nama

kabupatennya Maybrat ibukotanya itu di Kumurkek Distrik Aifat. Jadi suratnya sendiri karena itu di sini saya minta supaya kepada Majelis Hakim untuk surat ini Surat Nomor X/135/01 tanggal 31 Maret 2008 ini surat biasa oleh karena itu saya minta ini dinyatakan batal demi hukum, begitu.

Kemudian juga ada telaahan staf yang buat oleh kelompok yang satu mengatasnamakan Bupati Sorong yang dibuat tanggal 24 September 2004, surat ini benar-benar dibuat. Kalau melihat surat ini kemudian dianalisis secara baik surat ini telaahan staf itu biasa merupakan dokumen negara dan formatnya itu tertentu dan kalau melihat surat itu formatnya tidak seperti format telaahan bupati yang seperti diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi jikalau membaca telaahan itu bukan merupakan bahasa-bahasa teknis dalam pemerintahan, ya. Kemudian di situ di-scan tanda tangan saya masuk dalam surat itu, di situlah yang menyebut ibukota itu di Kumurkek. Jadi itu yang dikatakan bahwa Ibukota Kumurkek ini saya tetapkan dengan keputusan. Saya belum pernah membuat keputusan yang menetapkan bahwa Ibukota Maybrat itu berkedudukan di Kumurkek itu tidak ada, saya belum pernah membuat keputusan seperti itu. Keputusan yang saya buat tentang pemekaran Kabupaten Maybrat ini yang Nomor 99 Tahun 2005 yang saya bacakan tadi itu, itu dokumen yang resmi yang saya keluarkan.

Kemudian yang berikut itu adalah Surat Bupati Sorong Tanggal 10 Agustus 2006 Nomor 135/381/2006 itu menetapkan ibukota itu di Maybrat dan tempat kedudukannya Distrik Aitinyo yaitu segitiga emas itu. Jadi surat ini merupakan surat yang kami antarkan dokumen-dokumen pengusulan ini kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk meminta supaya proses pemekaran wilayah Maybrat ini mejadi kabupaten tersendiri itu diproses melalui hak inisiatif dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Nah, itu yang proses itu jalan terus sampai menjadi undang-undang itu. Selanjutnya musyawarah adat masyarakat Maybrat pada tahun 2006 itu menyetujui yang mendiskusikan akhirnya sepakat untuk menetapkan Maybrat itu nama kabupatennya kemudian tempat kedudukannya itu di Distrik Aitinyo di segi tiga emas itu. Kemudian yang berikut adalah persetujuan DPRP (Dewan Perwakilan Rakyat Papua) tanggal 29 Agustus 2007 Nomor 135/1039 tentang atau untuk Pemekaran Kabupaten Maybrat, itu menyebutkan Maybrat itu nama kabupatennya adalah Kabupaten Maybrat yang berkedudukan di Maybrat segitiga emas atau Aitinyo Utara. Itu disebut secara jelas di situ ibukotanya itu Aitinyo Utara.

Kemudian Nomor 14 atau nomor selanjutnya, rekomendasi dari DPR Provinsi Papua tanggal 29 Agustus 2007 menyebutkan nama kabupatennya Maybrat kemudian kedudukannya itu di Maybrat.

Kemudian Surat Keputusan DPRP tanggal 30 Agustus Nomor 06/Kep-DPRP/2007 juga menetapkan nama kabupatennya Maybrat dan ibukotanya berkedudukan di Maybrat. Selanjutnya Surat Keputusan dari

DPRD Provinsi Papua Barat tanggal 27 November 2008 Nomor 168/233/DPRD-PB/XII/2008 tentang Pokok-Pokok Pikiran DPRD Provinsi Papua Barat, menyebutkan ibukotanya di Maybrat. Kemudian tempat kedudukannya secara tegas disebutkan Distrik Aitinyo Utara.

Kemudian yang berikut adalah surat biasa yang dikeluarkan oleh Gubernur Papua Barat tanggal 16 Juni 2008 Nomor 125/524/GPP/2000 ini menyebutkan ibukota kabupaten ini berada pada Maybrat sedangkan nama kabupatennya tetap di Maybrat. Ini yang menimbulkan konflik itu di sini. Ini surat biasa bukan keputusan. Karena itu saya minta kepada Majelis Hakim Yang Mulia supaya menyatakan surat ini batal demi hukum.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa kalau membaca data-data hukum ini dari sejak pemekaran distrik-distrik itu sampai dengan proses ini diusulkan, pemekaran ini diusulkan melalui hak inisiatif DPR bahkan sampai kepada presentasi saya kepada Komisi II itu dua kali kemudian kepada DPRD juga satu kali itu semuanya menyebut nama kabupaten ini kabupaten Maybrat dan Ibukotanya itu di Maybrat. Yang kami maksudkan Maybrat ini adalah di segi tiga emas itu atau di distrik Aitinyo Utara yaitu Kampung Fatigomi itu. Dan proses itu sampai di Badan Tim Verifikasi di Panitia Legislasi di Komisi II itu di Panja itu nama Kabupaten dan tempat kedudukannya itu tidak ada perubahan-perubahan. Itu pada saat-saat terakhir itu, saat terakhir pembahasan di Panja dan Komisi II sampai subuh itu, waktu itu sekitar jam satu subuh ya, baru berubah itu, berubah tiba-tiba menjadi ibukota dan nama kabupatennya tetap nama Kabupaten Maybrat ibukotanya itu di Kumurkek. Sebenarnya usulan dari kelompok masyarakat dari Aifat itu usulan mereka itu adalah Kabupaten Rumanaraya. Jadi kalau bicara kabupaten Rumanaraya itu wilayahnya itu mulai dari Teluk Kondama sampai keliling sampai ke Aimana sana itu wilayah Rumanaraya kalau pakai bahasa Maybrat. Rumana itu artinya kepala burung, dulu Belanda itu bilang itu wilayah Koholkok, begitu.

Barangkali dalam perjalanan proses itu kami tidak merespon, sebenarnya kami waktu itu bukan tidak merespon usulan mereka tetapi usulan mereka ini sudah dibahas dalam ya rapat-rapat teknis dengan staf yang berkepanjangan ya, begitu, sampai dengan melahirkan konsep seperti ini. Jadi ini kami sudah bekerja secara profesional sesuai dengan tugas dan wewenang kami, ya. Kami juga mengatur kewenangan tentang pemekaran wilayah ini juga ke dalam Peraturan Daerah kami Nomor 13 Tahun 2004 tentang Kewenangan Kabupaten Sorong sebagai daerah Otonom. Ya sudah kami bekerja secara optimal seperti itu.

Itu sampai di sini penjelasan saya, kalau ada hal-hal lain yang perlu ditanyakan oleh Bapak/Ibu Majelis Hakim Yang Mulia, saya bersedia untuk menjawab.

Terima kasih atas perhatian.

304. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD.MD., S.H.

Baik, nanti tolong itu yang tertulis itu diserahkan ke Panitera ya, itu sangat penting kronologis surat-surat dan SK-SK itu nantinya.

Apa ada yang mau tanya? Pak Akil, silakan.Silakan Pak Akil.

305. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Saudara Ahli ya, pada saat pembahasan RUU ini di Komisi II Saudara masih sebagai bupati ?

306. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Ya saya sudah, tidak jadi bupati, ya saya jadi bupati juga, saya ikuti sampai dengan setelah bupati yang baru ini ganti saya.

307. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Jadi Bapak(…)

308. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Tetapi waktu pembahasan lanjutannya itu saya juga dapat surat tugas dari Pak Bupati untuk ikut kawal itu sampai selesai.

309. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, biasanya begini Pak (…)

310. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Ya.

311. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Pengalaman pembahasan Undang-Undang Pemekaran itu biasanya kan pemerintah daerah itu bersama pemerintah (…)

312. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Ya.

313. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Duduknya bersama pemerintah. Kalau dalam pembahasan itu ada yang berkenaan dengan batas-batas wilayah, nama tempat, tanda-tanda alam maupun yang berkenaan dengan ibukota kabupaten ya, yang akan dibentuk itu, selalu ditanyakan kepada Pemda setempat, kan begitu.

314. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Ya.

315. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Selalu ditanyakan pada Pemda setempat, lalu kenapa batas daerah yang pasti itu juga ditentukan nantinya dengan satu Keputusan Mendagri itu kan selalu begitu itu (…)

316. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Ya.

317. HAKIM KONSTITUSI: DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Untuk wilayah yang pasti di lapangan. Termasuk juga untuk ibukota kabupaten. Karena usulan ini berasal dari daerah tentu yang di pemerintah pusat tidak tahu apa-apa ini. Oleh sebab itu kalau ada perubahan biasanya selalu ditanya sama kepala daerahnya atau biasanya, saya tidak tahu sekarang, dulu itu selalu ikut kalau tidak bupatinya, asisten pemerintahannya, kepala bagian pemerintahannya, kepala biro pemerintahan, asisten pemerintahan di tingkat gubernur, biasanya selalu seperti itu sehingga tidak muncul masalah seperti ini.

Nah, ketika itu ketika yang tadi Bapak katakan kira-kira jam 1 malam ke atas, ini pembahasannya pasti konsinering ini ya kan, Pak ? Tidak di DPR kan? Pembahasan yang jam 1 itu?

318. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Ya, pembahasan yang jam 1 itu di Komisi II.

319. HAKIM KONSTITUSI : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H. M.H.

Di Komisi II, masih? Tidak konsinyer di luar? Tidak di hotel, begitu?

320. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Tidak.

321. HAKIM KONSTITUSI : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H. M.H.

Pada saat terjadinya perubahan itu, Bapak tahu? Saudara tahu waktu itu?

322. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Pada saat perubahan itu saya dengar juga samar-samar, tapi pada saat yang terakhir itu saya tidak hadir itu karena saya waktu itu ada halangan sedikit, ada teman-teman lain yang saya minta mereka untuk hadir. Tapi di samping saya Bapak Bupati juga bentuk lagi satu tim lagi yang terdiri dari kelompok masyarakat, tapi itu semuanya personilnya terdiri dari kelompok masyarakat dari Aifat itu. Jadi di sini semacam ada dualisme, begitu. Jadi seolah-olah ada 2 kelompok (…) 323. HAKIM KONSTITUSI : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H. M.H.

Pertanyaannya begini, Pak. Yang mewakil pemerintah daerah pada saat itu siapa pada saat proses pembahasan?

324. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Kalau melihat surat sebenarnya, surat tugas yang diberikan oleh Pak Bupati kepada saya itu ya saya yang mewakili sebenarnya. Tapi di dalam hal-hal tertentu, pembicaraan-pembicaraan terbatas itu saya tidak ikut, Pak Bupati yang ikut.

325. HAKIM KONSTITUSI : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H. M.H.

Bapak bupati nya langsung ikut, ya?

326. AHLI DARI PEMOHON: DR. J.P. WANANE, S.H., M.SI (MANTAN BUPATI KABUPATEN SORONG)

Jadi saat-saat itu yang barangkali sehingga tadi surat bupati yang terakhir yang saya sebutkan itu, itu yang tadi saya minta supaya surat itu surat bupati ini kan tidak bisa membatalkan keputusan saya Nomor 99, kemudian Nomor 6, karena surat bupati ini surat biasa dan sedangkan surat saya itu keputusan. Bahkan untuk Maybrat ini saya atur dalam satu keputusan yaitu Nomor 99 Tahun 2006 jadi konsep dasar bagi rancangan undang-undang itu, rancangan undang-undang itu saya dengan staf sendiri yang rancang, kemudian kami usulkan kepada Pimpinan DPR RI .

327. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Baik Pak, terima kasih.

328. PEMERINTAH : MUALIMIN ABDI (KABAG PENYAJIAN PADA