• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANEN DAN PASCA PANEN

5.2. Saluran Pemasaran

merupakan padi organik yang aman untuk dikonsumsi. Petani melihat bahwa hal ini dapat memberikan keuntungan yang lebih baik. Namun saat ini petani melihat bahwa pasar padi konvesional dan padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya khususnya, masih belum dapat dibedakan. Rantai pasar padi organik/ SRI secara umum masih sama dengan rantai pasar padi konvensional, sehingga harga padi SRI dan konvensional di Kabupaten Tasikmalaya saat ini tidak berbeda.

Kondisi ini mendorong petani untuk selalu menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dikonsumsi sendiri, karena apabila petani harus membeli padi organik di pasar, harganya akan lebih tinggi daripada harga jual padi organik dari petani. Sebagai perbandingan, saat ini petani menjual padi mereka sebesar Rp 2500 – Rp 3000 /Kg, sedangkan harga beli beras organik adalah sebesar Rp 7000 – Rp 9000 /Kg. Selain faktor harga, pendorong petani untuk menyisihkan hasil panen untuk dikonsumsi sendiri adalah adanya pemahaman petani bahwa padi SRI yang mereka hasilkan lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi, sehingga mereka beranggapan bahwa alokasi padi untuk konsumsi sebesar 27,94 persen tidak merugikan mereka.

Walaupun demikian, sebagian besar hasil panen petani masih dialokasikan untuk dijual, karena petani membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga modal untuk musim tanam berikutnya. Kesadaran petani untuk menjual hasil panennya cukup besar karena mereka beranggapan bahwa padi SRI ini pada masa yang akan datang dapat semakin tinggi harganya, didorong oleh adanya perubahan selera konsumen dan juga sistem pemasaran padi SRI yang khusus. Secara umum sistem pemasaran yang efisien sangat dibutuhkan agar dapat meningkatkan nilai tambah dan surplus petani produsen maupun konsumen.

5.2. Saluran Pemasaran

Hasil kajian lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar padi organik yang dihasilkan para petani rata-rata dijual ke pengumpul atau KTNA dalam bentuk Gabah Kering Pungut (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG), proses selanjutnya penggilingan gabah menjadi beras dilakukan oleh pengumpul dan

60 KTNA. Pemasaran padi jenis organik hasil budidaya SRI ini meliputi wilayah Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta.

Tabel 27. Pemasaran Hasil Panen Padi (di bab dua)

No. Pembeli Petani SRI Petani Konvensional Ciramajaya Cisayong dan Manonjaya 1. Pengumpul 13 - 23 2. Bandar/penggilingan kecil - 7 2 3. Bandar/penggilingan besar 10 - 5 Jumlah 23 7 30

Berdasarkan Tabel 27, diketahui bahwa pola pemasaran petani SRI dan petani konvensional relatif hampir sama yaitu sebagian besar menjual hasil panennya kepada para pedagang penggumpul yang terdapat di setiap desa. Pemasaran merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan SRI di Kabupaten Tasikmalaya. Harga yang tinggi merupakan insentif bagi petani agar bersemangat untuk mengembangkan pertanian padi SRI. Saat ini petani masih kesulitan dalam memasarkan padi SRI ini karena jaringan pemasaran padi organik yang masih bersifat tertutup.

Padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya memiliki nama dagang “Beras Organik SRI”, karena pola penanaman padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya dianggap telah telah mengikuti kaidah-kaidah cara produksi pangan organik antara lain didasarkan kepada sistem dan siklus ekologi kehidupan, yaitu proses ekologi dan daur ulang. Dimana didalam tanah yang subur tumbuh dan berkembang organisme yang bermanfaat dalam perbaikan ekosistem sehingga dapat melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan dan manusia sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Padi SRI merupakan brand image Kabupaten Tasikmalaya sehingga penanganannya harus lebih baik lagi agar tujuan Kabupaten Tasikmalaya menjadi salah satu lumbung padi SRI dapat tercapai. Pengembangan Padi SRI saat ini lebih difokuskan di Kecamatan Sukaraja, Mangunreja dan Tanjungjaya yang

61 berada di wilayah irigasi Ciramajaya untuk dijadikan pusat pertumbuhan padi SRI organik skala nasional dengan luasan 800 sampai dengan 1.300 ha.

Program SRI di ketiga Kecamatan ini telah dirintis sejak akhir Tahun 2007 dan saat ini telah memasuki musim tanam ke-2. Kecamatan Cisayong dan Manonjaya yang telah lebih dulu menerapkan program SRI menjadi barometer keberhasilan penerapan program padi SRI ini karena penerapan padi SRI di kedua kecamatan ini dianggap telah stabil, dimana lahan dan penyiapannya telah dilakukan konversi sejak Tahun 2002 sehingga masa konversi lahan cukup lama hingga terbentuknya kesuburan tanah guna menunjang sistem pengelolaan pertanian padi organik. Selain itu juga, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, di kedua kecamatan ini penggunaan benih dan bibit berasal dari padi telah sesuai dengan agro-ekosistem yang ada, tahan dimana bibit/benih tersebut terhadap hama dan penyakit, dan berasal dari produk pertanian organik, dan tidak berasal dari GMO (genetically modified organisms).

Manajemen kesuburan tanah dilakukan melalui peningkatan atau penjagaan kesuburan dan aktivitas biologi tanah dilakukan terutama dengan mengembalikan bahan organik dari tanaman dan binatang, dengan tidak menggunakan pupuk kimia sintetis, kotoran manusia dan hewan secara langsung. Pengelolaan hama dan penyakit, gulma, dan pemeliharaan tanaman dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui kekuatan keseimbangan keragaman hayati, kultur teknis, dan tidak menggunakan pestisida kimiawi.

Berdasarkan pada pengelolaan padi SRI yang mengutamakan keseimbangan agro-ekosistem, maka dapat dilihat bahwa padi SRI ini merupakan padi organik yang bebas dari penggunaan pestisida sehingga dapat dikatakan bahwa padi SRI ini merupakan padi organik yang baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, padi SRI atau padi organik di Kecamatan Cisayong dan Kecamatan Manonjaya telah dibedakan dengan padi biasa atau padi konvensional. Padi SRI di kedua Kecamatan ini telah dijual kepada konsumen khusus yang memang “menghargai” padi organik lebih daripada padi konvesional pada umumnya. Penanganan pasca panen, penyimpanan dan transportasi di Kecamatan Cisayong dilakukan dengan tidak mencampur produk padi organik dan non organik,

62 termasuk dalam hal tempat penggilingan dan gudang penyimpanan serta bebas dari bahan kimia sintesis.

Secara umum, pola pemasaran padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya, khususnya di Kecamatan Tanjungjaya, Mangunreja dan Sukaraja masih mengandalkan pada pola pemasaran konvensional, dimana padi organik dan padi konvensional masih dipasarkan secara bersama-sama, belum ada pemilahan di dalamnya. Hal ini berakibat pada harga jual padi SRI yang masih sama dengan padi konvesional. Padi yang dihasilkan petani di ketiga Kecamatan ini rata-rata dijual ke pengumpul atau KTNA dalam bentuk Gabah Kering Pungut (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG), proses selanjutnya penggilingan gabah menjadi beras dilakukan oleh pengumpul dan KTNA. Dalam proses penanganan pasca panen dan penyimpanan padi SRI masih digabungkan dengan padi konvesional.

Saluran pemasaran merupakan rangkaian pelaku pemasaran yang dilalui oleh barang dan jasa dari produsen ke tangan konsumen, sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berbeda kepada pelaku yang terlibat. Secara umum saluran pemasaran padi SRI di Kecamatan Tanjungjaya, Sukaraja dan Mangunreja masih sama dengan saluran pemasaran padi konvesional. Berikut adalah saluran pemasaran padi organik SRI di wilayah kajian.

Gambar 8. Saluran Pemasaran Khusus Padi SRI di Ciramajaya

Sedangkan wilayah pemasaran di Kecamatan Cisayong dan Manonjaya secara umum telah memiliki saluran pemasaran padi SRI tersendiri, walaupun areal pemasarannya masih terbatas pada outlet atau supermarket-supermarket tertentu. Berikut adalah saluran pemasaran padi organik SRI di kedua wilayah ini.

petani Pedagang pengumpul Pedagang besar Pedagang pengecer Konsumen akhir

63 Lembaga-lembaga pemasaran yang terdapat dalam saluran pemasaran yang dihasilkan dari usahatani padi organik SRI adalah sebagai berikut :

A. Petani

Petani adalah produsen padi yang dalam fungsi pemasarannya melakukan fungsi penjualan. Petani menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul tingkat daerahyaitu KTNA. KTNA di Kabupaten Tasikmalaya berperan sebagai bandar, hal ini dilakukan untuk meningkatkan peran kelompok tani SRI dan juga menjamin pemasaran padi SRI yang dihasilkan oleh petani. Peran KTNA ini didukung oleh dinas pertanian, karena keberadaan KTNA ini dapat menjadi stimulus bagi petani untuk menanam padi organik SRI. Permintaan konsumen beras SRI kepada pihak KTNA saat ini cukup tinggi karena konsumen merasa terjamin dengan membeli beras kepada pihak KTNA. Harga yang diterima petani berbeda apabila dijual ke KTNA atau ke bandar biasa, KTNA membeli GKG seharga Rp 3.300-3.500/kg, sedangkan bandar menghargai sama dengan padi anorganik berkisar Rp2.750-3.000/kg

B. Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengumpul merupakan lembaga KTNA yang membeli dari petani atau dari kelompok tani secara langsung. KTNA melakukan kegiatan pengolahanselain melakukan pembelian juga. Kegiatan pengolahannya adalah menjemur gabah, menggiling gabah menjadi beras dan membungkusnya dalam kemasan 5 kg. Terdapat beberapa KTNA yang memiliki huller. Sekarang KTNA menjual beras organik SRI sebesar Rp 30.000,00 – 35.000,00/ 5 kg, sebelumnya pada Tahun 2005 sebesar Rp 25.000,00/ 5 kg.KTNA juga mengisi pesanan dari pihak lain atau yang ingin memasarkan dengan merk lain seperti merk "Abimanyu". Kedua merk tersebut dipasarkan terutama ke Bandung. Kelompok tani lain di Tasikmalaya seperti Hanura dari daerah Cihandeuluem sudah secara mandiri memasarkan ke supermarket di Tasikmalaya yang berlabel "Hanura". Beras organik SRI ini telah mendapat sertifikat dari Laboratorium Kimia Agro Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jabar dan dinyatakan bebas residu pestisida.

64 Selain melakukan kegiatan pengolahan, KTNA melakukan kegiatan fungsi fisik yang lain, yaitu transportasi. Kegiatan fungsi fisik ini dilakukan untuk memudahkan dalam menyalurkan produknya kepada lembaga lain ataupun ke konsumen akhir. Selain melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik, KTNA pun melakukan fungsi fasilitas berupa pemberian informasi harga dan pasar kepada petani dan standarisasi. Standarisasi yang dilakukan adalah padi yang diterima harus benar-benar SRI organik dalam proses budidaya, artinya selama proses budidaya tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan kimia, namun tidak ada pengujian dan pengawasan secara khusus hanya sistem kepercayaan memanfaatkan jaringan pengurus KTNA yang tersebar di seluruh kecamatan. Beras tidak sesuai dengan standar dapat diketahui dari keluhan konsumen yang disampaikan secara berantai.

C. Pedagang Besar ( Bandar )

Pedagang Besar yang dituju oleh pedagang pengumpul adalah pedagang yang ada di Bandung atau daerah lain diluar Tasikmalaya. Ada pedagang besar luar daerah yang dikirim beras langsung oleh pedagang pengumpul ada pula yang mengambil beras ketempat pedagang pengumpul. Pembayaran yang dilakukannya adalah secara tunai ataupun setelah beras terjual. Transaksi tunai dilakukan apabila belum ada kepercayaan atau kepada pedagang besar baru. Pedagang besar menjual beras kepada konsumen dengan cara mengirimnya langsung pada konsumen ataupun melayani ditempat.

D. Pedagang Pengecer/Agen

Pedagang pengecer merupakan lembaga yang melakukan kegiatan fungsi pertukaran, fungsi pertukaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran ini adalah membeli beras dari pedagang pengumpul dalam jumlah yang relatif tidak banyak untuk kemudian dijual lagi ke konsumen akhir. Lembaga ini melakukan kegiatan fungsi fisik yaitu fungsi penyimpanan dan pengangkutan.

Pedagang pengecer yang ada terdiri dari dua kelompok, yaitu pedagang pengecer tingkat daerah dan pedagang pengecer luar daerah. Pedagang pengecer beras organik SRI ini disamping perorangan dan pasar tradisional juga

65 supermarket-supermarket yang ada di Tasikmalaya dan Bandung. Pedagang pengecer tingkat daerah adalah lembaga pemasaran yang berada disekitar daerah Tasikmalaya. Sedangkan pedagang pengecer luar daerah adalah lembaga pemasaran yang berada diluar Tasikmalaya, dan memiliki peranan dalam memasarkan produk kepada konsumen yang berada diluar daerah Tasikmalaya.

Pengecer tidak melakukan pengemasan ulang karena langsung menjual beras yang telah dibeli dari pedagang pengumpul tingkat daerah atau pun luar daerah dalam kemasan ukuran 5 kg. Supermarket di Tasikmalaya menjual sebesar Rp 30.000,00 – Rp 35.000,00/5 kg, sedangkan supermarket di Bandung menjual sebesar Rp 40.000,00 – Rp 45.000,00/5 kg. Harga tersebut terasa mahal bagi konsumen yang tidak mengetahui padi organik bila dibandingkan dengan harga beras non organik di pasar tradisional berkisar Rp 4.500,00 – Rp 5.500,00/ kg.

Permintaan pasar dapat diketahui minimal dari beras organik yang terjual secara rutin tiap bulan. Saat ini KTNA menjual 1,5 ton/ bulan dipasarkan ke Bandung. Kelompok tani Hanura dapat menjual 2 ton/ bulan dipasarkan di Kabupaten Tasikmalaya. Kelompok tani Asri Lestari Salawu dapat menjual 1,5 ton/ bulan, sisanya kelompok tani lain dan petani secara perorangan diperkirakan sekitar 2 ton/ bulan. Total penjualan beras organik SRI seluruh Tasikmalaya mencapai 7 ton/ bulan. Sintanur adalah varietas yang paling banyak diminta karena nasinya harum. Masih banyak permintaan yang tidak terpenuhi baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yaitu sekitar 10 ton/ bulan.

Pola pemasaran Padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya hendaknya tidak lagi disamakan dengan pola pemasaran padi biasa atau konvensional. Hal ini didasarkan pada Brand imageproduk organik sebagai produk yang ramah lingkungan dan produk sehat sehingga harga jual produk organik ini berbeda dengan produk konvensional. Produk padi SRI di Kecamatan Cisayong saat ini telah mampu menjual padi SRI dengan harga Rp 7.000,00/ Kg kepada pihak supermarket. Kondisi ini tentunya akan menguntungkan petani dan menjadi insentif bagi petani untuk mengembangkan padi SRI ini sebagai komoditas unggulan mereka.

66 Pola pemasaran khusus padi SRI ini tampaknya telah menjadi suatu konsekuensi logis dalam pengembangan padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya, artinya diperlukan suatu pola pemasaran khusus dimana orientasi petani padi SRI saat ini lebih diarahkan kepada permintaan konsumen padi organik sehingga pola pemasaran padi organik ini ditangani secara profesional dengan petani sebagai pelaksana di dalamnya.

Bagian pemasaran ini memuat beberapa saluran pemasaran padi/beras SRI yang terdiri dari pengemasan, penggudangan, pengangkutan, penyimpanan serta penempatan pada outlet-outlet pemasaran. Hal ini harus dilakukan secara sinergis antara satu sama lain sehingga nilai tambah dari produk padi SRI ini dapat dirasakan langsung oleh petani sebagai pelaku utama di dalamnya. Produk SRI harus memiliki nilai tambah bagi petani. Dalam kegiatan pemasaran padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya, penambahan nilai ini dapat terasa apabila pengelolaan produk padi SRI ini dilakukan secara holistic mulai dari kegiatan pengemasan hingga penempatan produk di outlet pemasaran.

Kegiatan pemasaran secara terpadu harus dilaksanakan karena sebutan padi/beras organik akan gugur apabila penanganan panen dan pasca panennya tidak memenuhi pedoman system produksi pertanian organic/SRI sekalipun pada saat tahap budidaya telah memenuhi system produksi pertanian organik. Oleh karena itu, mulai dari kegiatan pengemasan hingga kegiatan pemasaran di outlet-outlet tetap harus ditangani sesuai dengan pedoman organik yang berlaku.

5.3. Pengemasan (Handling)

Kegiatan pengemasan harus mulai memperhatikan jenis dan ukuran kemasan yang disesuaikan dengan preferensi konsumen organik. Konsumen organik biasanya berasal dari kalangan menengah ke atas sehingga mereka mulai memperhatikan kemasan dan penampilan dari produk yang akan mereka beli. Kelompok tani padi SRI di Kecamatan Cisayong dan Manonjaya telah memiliki kemasan khusus pada padi SRI mereka dan produk ini dijual kepada konsumen khusus pula. Kekhususan ini menyebabkan harga jual beras SRI ini menjadi tinggi dan terbebas dari pengaruh supply dan demand beras secara umum. Konsumen relatif tidak

67 mempermasalahkan harga produk yang mereka beli sepanjang mereka melihat informasi “organik” yang terdapat di kemasan produk padi/beras SRI cukup informatif.

Gambar 8. Kemasan Beras Organik SRI di Kabupaten Tasikmalaya

Kegiatan pengemasan padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya secara umum masih dilakukan secara konvensional / tradisional, artinya belum seluruhnya mengikuti pedoman pengemasan secara organik. Gudang penyimpanan sekaligus tempat pengemasan padi organik ini secara spesifik di Kecamatan Cisayong telah terpisah dengan gudang padi konvensional, namun pengelolaannya belum sesuai dengan pedoman padi organik secara umum.

Pengemasan produk padi SRI yang baik sebaiknya menggunakan bahan kemasan yang organik juga, seperti dapat diuraikan oleh mikroorganisme, bahan hasil daur ulang dan dapat didaur ulang. Penggunaan kemasan ini belum diterapkan di Kabupaten Tasikmalaya namun di masa yang akan datang penggunaan kemasan seperti ini tampaknya harus mulai digalakkan karena dengan penggunaan kemasan seperti ini akan memberikan nilai tambah terhadap padi SRI sebagai padi organik yang peduli terhadap lingkungan.

Kegiatan penggudangan padi/beras SRI sebaiknya dipisah dengan padi konvensional sehingga kualitas dari padi SRI tersebut dapat terjaga dengan baik. Integritas padi organik harus dipelihara selama proses penyimpanan dan

68 pengangkutan ke tempat tujuan. beras organik ini harus dilindungi dari setiap saat agar tidak tercampur dengan bahan lain yang sifatnya non organik. Penyimpanan beras SRI/organik dalam jumlah besar harus dipisahkan dari penyimpanan beras non organik dan harus diberi label secara jelas agar tidak terjadi pencampuran.

Kegiatan penyimpanan dan penempatan pada outlet pemasaran pun harus dilakukan secara tepat agar padi SRI ini dapat dibedakan oleh konsumen dan memiliki spesifikasi khusus sehingga dapat meningkatkan image dari produk padi SRI itu sendiri. Padi SRI/organik biasanya ditempatkan di tempat yang khusus namun mudah dilihat. Hal ini sesuai dengan aturan bahwa penempatan beras organik SRI ini memang harus dipisahkan dari beras non organik sehingga ke-organikannya dapat terjaga.

69 BAB VI

Dokumen terkait