ANALISIS USAHA AYAM RAS PEDAGING DI PASAR BARU BOGOR 6.1 Gambaran Lokasi Usaha Pedagang Ayam Ras Pedaging
6.2 Pemasaran Ayam Ras Pedaging
6.2.3 Saluran Pemasaran Pedagang Ayam Ras Pedaging
Saluran pemasaran merupakan serangkaian lembaga pemasaan yang mengambil alih hak, atau membantu dalam pengalihan hak dalam hal ini pedagang membantu penyaluran komoditi ayam ras pedaging dari peternak hingga konsumen. Saluran pemasaran komoditi ayam ras pedaging di Pasar Baru Bogor melibatkan beberapa lembaga pemasaran, diantaranya: peternak, pedagang besar, pedagang kecil dan pedagang pengecer. Saluran pemasaran yang dilakukan pedagang besar di Pasar Baru Bogor ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 4. Saluran Pemasaran Pedagang Ayam Ras Pedaging di Pasar Baru Bogor
Saluran pemasaran dapat menggambarkan proses penyaluran ayam ras pedaging dari produsen hingga konsumen. Saluran pemasaran ini diawali dari pedagang besar, kemudian ditelusuri dari mana asal ayam ras didapat. Pada gambar 4, dapat dijelaskan bahwa saluran pemasaran pedagang ayam ras pedaging di Pasar Baru Bogor adalah pedagang besar membeli ayam ras pedaging hidup kepada peternak setiap hari ke beberapa peternak, diantaranya peternak di daerah Jalan Sholeh Iskandar, Ciampea dan Sukabumi. Kemudian ayam tersebut dijual kembali oleh pedagang besar kepada pedagang kecil. Pedagang kecil mengambil ayam hidup dari pedagang besar setiap hari. Untuk proses pengambilan, biasanya pedagang kecil langsung mengambil ayam hidup tesebut. Setelah ayam tesebut
Peternak Pedagang Besar Pedagang Kecil
Konsumen
45
dipotong oleh pedagang kecil, Selanjutnya ayam tesebut dibawa ke Pasar Baru Bogor untuk dijual ke konsumen akhir. Pedagang besar menjual ayam yang sudah dalam bentuk karkas kepada pengecer di Pasar Baru Bogor, kemudian pengecer menjual kembali kepada konsumen akhir. Selanjutnya pedagang besar juga menjual ayam ras dalam bentuk karkas kepada konsumen akhir.
Perbedaan yang mendasar adalah pedagang besar merupakan pedagang inti atau yang memegang peranan penting dalam pendistribusian ayam ras pedaging dari peternak ke konsumen akhir. Perbedaan antara pedagang kecil dengan pengecer terletak pada fungsi-fungsi pemasaran dalam pembelian dan penjualan, pedagang kecil menjual ayam ras di Pasar Baru Bogor sedangkan pedagang pengecer menjual ayam ras di luar Pasar Baru Bogor. Selain itu pedagang kecil membeli ayam ras dalam bentuk hidup dan harus menanggung resiko pembebanan bobot badan, berbeda dengan pedagang pengecer yang membeli ayam dalam keadaan sudah disembelih dan dibersihkan. Pedagang pengecer dapat memilih membeli ke pedagang besar yang manapun, sedangkan pedagang kecil hanya dapat membeli ayam kepada satu pedagang besar karena yang digunakan sistem kepercayaan. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan pemasaran ayam ras yang dimulai dari peternak sampai kepada konsumen akhir, dapat terbentuk tiga saluran pemasaran ayam ras pedaging yang dilalui pedagang ayam Pasar Baru Bogor, yaitu:
Pola 1: Peternak → Pedagang Besar → Pedagang Kecil → Konsumen Pola 2: Peternak → Pedagang Besar → Pedagang Pengecer → Konsumen Pola 3: Peternak → Pedagang Besar → Konsumen
Total ayam ras dibeli pedagang besar rata-rata sebesar 757,5 kg atau 505 ekor dengan rata-rata bobot hidup ayam perekor 1,5 kilogram. Berdasarkan hasil penelitian, pola saluran pemasaran ayam ras pedaging terbagi menjadi tiga.
Pola saluran 1 terdiri dari: peternak, pedagang besar, pedagang kecil dan konsumen. Pedagang besar setelah membeli ayam dari peternak, menjual kembali ayam tersebut kepada pedagang kecil dan pedagang kecil menjual kembali ayam tersebut kepada konsumen.
Pola saluran 2 terdiri dari: peternak, pedagang besar, pedagang pengecer dan konsumen. Pedagang besar tidak hanya menjual kepada pedagang kecil, tetapi
46
menjual kepada pedagang pengecer dan pedagang pengecer menjual kembali ayam tersebut kepada konsumen.
Pola saluran 3 terdiri dari: peternak, pedagang besar dan konsumen. Pedagang besar tidak hanya menjual ayam kepada pedagang kecil dan pedagang pengecer, tetapi pedagang besa juga melakukan penjualan ayam ras pedaging kepada konsumen.
6.2.4 Marjin Pemasaran
Harga pembelian ayam yang diperoleh pedagang merupakan harga yang ditentukan peternak sesuai dengan harga pasar tetapi pedagang besar yang merupakan langganannya, dapat berperan dalam menentukkan harga dimana harga yang ditawarkan oleh peternak belum merupakan harga kesepakatan dan pedagang besar masih dapat melakukan tawar menawar. Pedagang besar dalam memasarkan ayam ras dapat menentukan harga jual yang akan diberikan ke pedagang kecil dimana pedagang kecil tidak mempunyai kekuatan dan hanya sebagai penerima harga. Hal tersebut dipengaruhi oleh peran penting pedagang besar dan keterikatan pedagang kecil dengan pedagang besar, bahwa pedagang kecil dapat mengambil ayam ras pedaging kepada pedagang besar yang telah mempercayainya untuk dapat diberikan ayam.
Biaya pemasaran adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk mengalirkan komoditi dari produsen hingga konsumen akhir di luar keuntungan dari lembaga tersebut. Marjin pada pedagang kecil dan pedagang pengecer di dapat dari selisih harga yang diterima dari pedagang besar dengan harga yang di bayarkan oleh konsumen. Keuntungan pedagang kecil dan pedagang pengecer di dapat dari selisih harga di kurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam penyaluran ayam ras hingga ke konsumen akhir. Pedagang pengecer hanya mengeluarkan biaya transportasi untuk memperoleh ayam ras di Pasar Baru Bogor sebesar Rp 10.000,- setiap pembelian ayam ras pedaging. Berbeda dengan pedagang kecil yang menjual ayam di Pasar Baru Bogor, pedagang pengecer yang menjual ayam ras diluar Pasar Baru Bogor membeli ayam dalam bentuk karkas, sehingga tidak perlu menanggung biaya pengurangan bobot badan yang harus di bebankan.
Marjin merupakan perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen akhir dengan harga yang diterima peternak. Dalam hal ini marjin
47
pemasaran pedagang besar adalah perbedaan harga yang dibayarkan kepada peternak dengan harga jual kepada pedagang kecil, pengecer dan konsumen dalam saluran pemasaran dengan komoditi yang sama.
Analisis marjin digunakan untuk mengetahui faktor pembentukkan marjin pemasaran yang terbesar sebagai pengukur efisiensi pemasaran dengan komoditi ayam ras pedaging. Sebaran marjin pada pedagang besar setiap pola saluran cukup berbeda. Marjin pemasaran pada pedagang ayam ras pedaging di hitung berdasarkan harga yang diperoleh pedagang besar dari peternak dengan selisih harga penjualan pedagang besar kepada pedagang kecil berdasarkan saluran pemasaran pola 1 dan harga penjualan pedagang besar kepada konsumen berdasarkan saluran pemasaran pola 2. Marjin pemasaran diperoleh dari harga per kilo ayam ras pedaging dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Harga Rata-Rata dan Marjin Pemasaran Pedagang Ayam Ras Pedaging Pada Pola 1 dan Pola 2
Unsur Marjin Pemasaran Saluran 1 Saluran 2 Nilai (Rp/Kg) Persentase (%) Nilai (Rp/Kg) Persentase (%) A Peternak Harga Jual 12.170 54,57 12.170 52,91 B Pedagang Besar Harga Pembelian 12.170 54,57 12.170 52,91 Biaya Pemasaran 924 4,14 4.136 17,98 Keuntungan 2.121 9,51 2.969 12,91 Harga Penjualan 15.215 68,23 19.275 83,80 Marjin 3.045 13,65 7.105 30,89 C Pedagang Kecil Harga Pembelian 15.215 68,23 Biaya Pemasaran 4.020 18,03 Keuntungan 3.065 13,74 Harga Penjualan 22.300 100,00 Marjin 7.085 31,77 D Pedagang Pengecer 19.275 83,80 Harga Pembelian 1.333 5,80 Biaya Pemasaran 2.392 10,40 Keuntungan 23.000 100,00 Harga Penjualan 3.725 16,20 Marjin E Konsumen Akhir Harga Beli 22.300 100,00 23.000 100,00
Total Biaya Pemasaran 4.944 22,17 5.469 23,78
Total Keuntungan 5.186 23,26 5.361 23,31
48
Pola saluran 1 yang terdiri dari peternak, pedagang besar dan pedagang kecil. Total marjin sebesar Rp 10.130,- per kilogram dengan total biaya pemasaran sebesar Rp 4.944,- per kilogram. Kompenen biaya oleh pedagang besar adalah sebesar Rp 924,- untuk biaya pemasaran dengan perhitungan biaya tenaga kerja sebesar Rp 382,08,- per kilogram, biaya retribusi sebesar Rp 8,27,- per kilogram, biaya angkut Rp 198,01,- per kilogram, biaya listrik Rp 19,80,- per kilogram, biaya bobot ayam yang berkurang karena perjalanan sebesar Rp 243,5,- dan biaya pemeriksaan ayam yang dilakukan oleh Dinas Peternakan sebesar Rp 75,- per kilogram. Untuk pedagang kecil komponen biaya yang ditanggung adalah sebesar Rp 4.020,- per kilogram dengan perhitungan biaya retribusi sebesar Rp 55,80,- per kilogram, biaya angkut Rp 233,33,- per kilogram, biaya listrik sebesar Rp 36,94,- per kilogram dan biaya pengurangan bobot ayam sebesar Rp 3.694,-. Adanya biaya pengurangan bobot ayam pada pedagang kecil karena pedagang membeli ayam hidup dan menjualnya setelah dipotong dan dikeluarkan jeroannya. Pedagang besar tidak mengeluarkan biaya pemotongan karena dilakukan oleh karyawan pedagang tersebut. Apabila pemotongan dilakukan di tempat pemotongan ayam, pedagang akan dikenakan biaya pemotongan sebesar Rp 200,-/kg.
Sedangkan pada saluran pemasaran pola 2, marjin pemasaran tersebut merupakan marjin pedagang pengecer untuk pedagang sayur, karena pedagang sayur tidak mengolah ayam tersebut untuk di jual kepada konsumen. Saluran pemasaran terdiri dari peternak, pedagang besar, pedagang pengecer. Total marjin sebesar Rp 10.830,- per kilogram dengan total biaya pemasaran sebesar Rp 5.469,- per kilogram. Kompenen biaya yang ditanggung oleh pedagang besar adalah sebesar Rp 4.136,- untuk biaya pemasaran dengan perhitungan biaya tenaga kerja sebesar Rp 154,43,- per kilogram, biaya retribusi sebesar Rp 17,30,- per kilogram, biaya angkut Rp 348,60,- per kilogram, biaya kios sebesar Rp 33,46,- per kilogram, biaya listrik Rp 19,80,- per kilogram, biaya pemeriksaan ayam yang dilakukan oleh Dinas Peternakan sebesar Rp 75,- per kilogram, dan biaya pengurangan bobot ayam pada saat perjalanan dan pengurangan karena setelah dibersihkan ada sebagian yang harus dibuang karena tidak mempunyai nilai jual yaitu sebesar Rp 3.487,5,-. Untuk pedagang pengecer komponen biaya
49
yang ditanggung adalah sebesar Rp 1333,- per kilogram hanya untuk biaya angkut. Tingginya biaya angkut yang ditanggung pedagang pengecer karena jumlah kuantitas yang kecil.
Perbedaan biaya pemasaran pedagang besar yang menjual ke pedagang dengan yang menjual langsung ke konsumen dipengaruhi oleh biaya yang dikeluarkan dan kuantitas ayam pedaging yang dijual per harinya dan juga dikarenakan perbedaan biaya pengurangan bobot ayam. Pedagang besar menjual ayam setelah dipotong dan dibersihkan. Penyusutan berat ayam biasanya terjadi setelah ayam sampai tempat pedagang setelah dari peternakan. Total marjin yang diperoleh pada saluran 3 lebih kecil dibandingkan saluran pemasaran lainnya, hal tersebut disebabkan karena hanya satu lembaga pemasaran yang terlibat yaitu pedagang besar. Pada tabel 13 dijelaskan harga rata-rata dan marjin pemasaran pedagang ayam ras pedaging di Pasar Baru Bogor pada saluran pemasaran pola 3
Tabel 13. Harga Rata-Rata dan Marjin Pemasaran Pedagang Ayam Ras Pedaging Pada Pola 3
Unsur Marjin Pemasaran Saluran 3
Nilai (Rp/Kg) Persentase (%) A Peternak Harga Jual 12.170 58,91 B Pedagang Besar Harga Pembelian 12.170 58,91 Biaya Pemasaran 4136 20,02 Keuntungan 4354 21,07 Harga Penjualan 20660 100,00 Marjin 8490 41,09 C Konsumen Akhir Harga Beli 20660 100,00
Total Biaya Pemasaran 4136 20,02
Total Keuntungan 4354 21,07
Total Marjin Tataniaga 8490 41,09
Pola saluran 3 yang terdiri dari peternak dan pedagang besar, total marjin sebesar Rp 8.490,- per kilogram dengan total biaya pemasaran sebesar Rp 4.136,- per kilogram. Kompenen biaya yang ditanggung oleh pedagang besar adalah sebesar Rp 4.136,- untuk biaya pemasaran dengan perhitungan biaya tenaga kerja sebesar Rp 154,43,- per kilogram, biaya retribusi sebesar Rp 17,30,- per kilogram, biaya angkut Rp 348,60,- per kilogram, biaya kios sebesar Rp 33,46,- per kilogram, biaya listrik Rp 19,80,- per kilogram, biaya pemeriksaan ayam yang
50
dilakukan oleh Dinas Peternakan sebesar Rp 75,- per kilogram, dan biaya pengurangan bobot ayam pada saat perjalanan dan pengurangan karena setelah dibersihkan ada sebagian yang harus dibuang karena tidak mempunyai nilai jual yaitu sebesar Rp 3.487,5,-.
Berdasarkan tabel sebaran marjin pemasaran pada pedagang besar, pedagang kecil dan pedagang pengecer diatas dapat dilihat perbedaan pada pola saluran dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya: a) ada beberapa lembaga yang terlibat, b) besarnya biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada suatu pola saluran, c) jumlah ayam ras pedaging yang diperdagangkan. Semakin kecil jumlah ayam pedaging yang diperdagangkan akan semakin besar biaya yang ditanggung per kilo ayam, sedangkan semakin besar biaya yang dikeluarkan akan semakin banyak keuntungan yang di dapat. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh suatu lembaga pemasaran berkaitan dengan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan, dimana semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk membeli ayam maka semakin banyak fungsi-fungsi yang dilaksanakan.