DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
3.3 Sampel penelitian
Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan prosedur purposive
sampling yakni memilih contoh berdasarkan pertimbangan tentang beberapa
karakteristik yang cocok berkaitan dengan anggota contoh yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian (Juanda, 2009).
Responden yang dipilih adalah responden yang diperkirakan memiliki kemampuan untuk membayar zakat. Untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus Slovin, yaitu
2 1 Ne N n + = Keterangan : n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = Kesalahan dalam pengambilan sampel ditetapkan sebesar 10 persen
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian berdasarkan jumlah keluarga sejahtera III plus di Kabupaten Brebes yakni sekitar 82.428 orang,
dengan estimasi jumlah keluarga muslim adalah sekitar 99 persen dari total penduduk di Kabupaten Brebes. Dari hasil perhitungan maka didapatkan jumlah sampel sebanyak 100 orang responden.
N = 99 % x 82.428 N = 81.603 100 76 , 99 ) 1 , 0 ( 81603 1 81603 2 = = + = n 3.4 Metode Analisis
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang dirumuskan dalam penelitian ini maka metode analisis yang digunakan adalah analisis diskriminan. Analisis secara deskriptif juga dilakukan untuk melihat karakteristik responden.
Skala yang digunakan pada penelitian ini adalah skala linkert yang memiliki nilai dari 1 sampai 5. Nilai 1 berarti sangat tidak setuju, 2 tidak setuju, 3 cukup setuju, 4 setuju dan 5 sangat setuju.
Pertama yang dilakukan adalah menentukan variabel yang dapat menggambarkan faktor yang memengaruhi partisipasi membayar zakat seperti faktor pendidikan, pekerjaan, pendapatan, keimanan, penghargaan, kepuasan, althurism, organisasi, rutin berinfak. Masing- masing variabel merupakan nilai rata-rata dari beberapa indikator.
Faktor keimanan terdiri dari indikator selalu shalat fardhu, shalat berjamaah tiga kali di masjid, zakat itu wajib, mampu menghitung zakat, rutin membaca buku-buku agama, rutin hadir di majelis ilmu, percaya dengan semua balasan atas perbuatan.
Faktor penghargaan terdiri dari indikator mendapat kemudahan rezeki setelah berzakat, lingkungan sekitar menyambut baik saat berzakat, senang disebut dermawan.
Faktor althurism adalah rata-rata dari indikator iba ketika melihat fakir/miskin, berzakat berarti ungkapan rasa syukur, merasa harta menjadi bersih setelah berzakat, senang membantu fakir/miskin, merasa bersalah saat tidak membayar. Faktor kepuasan diri terdiri dari senang dapat meningkatkan kondisi
ekonomi fakir/miskin, menyadari ada hak orang lain dan percaya jadi contoh yang baik bagi orang lain saat berzakat.
Faktor organisasi terdiri dari indikator organisasi pengelola zakat (OPZ) bekerja profesional, OPZ transparan dalam laporan keuangan, kenyamanan membayar zakat di OPZ, adanya sosialisasi melalui media dan langsung kepada masyarakat serta pemotongan gaji dari tempat berkerja.
Kedua penentuan variabel yang memengaruhi partisipasi melakukan infak secara rutin. Variabel-variabel yang digunakan adalah pendidikan, pekerjaan, pendapatan, keimanan, penghargaan, kepuasan, althurism, organisasi serta frekuensi berinfak. Ketiga penentuan variabel yang memengaruhi pemilihan tempat membayar zakat. Variabel yang diduga memengaruhi adalah pendidikan, pekerjaan, pendapatan, keimanan, penghargaan, kepuasan, althurism, organisasi serta keberadaan organisasi pengelola zakat di sekitar tempat tinggal.
Data dianalisis menggunakan metode analisis diskriminan. Alat analisis ini mampu mengelompokkan setiap objek ke dalam dua kelompok yakni kelompok membayar zakat dan tidak membayar zakat, kelompok berinfak secara rutin dan tidak rutin serta kelompok memilih berzakat di organisasi pengelola zakat dan bukan organisasi pengelola zakat. Tujuan analisis sini untuk mendapat fungsi yang merupakan kombinasi linier variabel independent sehingga dapat memisahkan objek. Artinya, objek dari grup yang sama akan memberi nilai fungsi yang berdekatan, dan objek dari grup yang berbeda akan memberi nilai fungsi yang berjauhan.
Analisis Diskriminan merupakan teknikyang akurat untuk memprediksi objek termasuk dalam kategori tertentu, dengan catatan data-data yang dilibatkan terjamin akurasinya (Simanmora, 2005)
(1) Model Analisis Diskriminan
Fungsi diskriminan yang dimaksud adalah,
D = bo + b1X1 + b2X2 + … + bjXj + ...+ bpXp = bT X Dimana:
X1, X2, , Xj, .,Xp = Variabel independent
b0, b1, b2, …, bp = Koefisien fungsi diskriminan D = Nilai fungsi diskriminan
(2) Pendugaan Koefisien Fungsi Diskriminan
Tujuan pendugaan adalah mencari b, sedemikian sehingga akan memberikan nilai D yang berdekatan untuk grup yang sama, dan memberikan nilai D yang berjauhan untuk grup berbeda. Hal tersebut diperoleh dengan cara mencari b, yang membuat rasio ragam D antar grup (bTBb) & ragam D dalam grup (bTWb) maksimum, atau Maksimum
b W b b B b T T
, dengan metode Lagrange akan diperoleh persamaan,
4 (W-1B – λi I) bi = 0 Dimana:
B = Matriks koragam X antar grup
W-1= Invers matriks koragam X dalam grup I = Matriks identitas
bi = Koefisien fungsi diskriminan ke-i, yang dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan di atas, dengan i = 1, 2, ..., L
λi = Eigenvalue (akar ciri ke-i) dari matriks W-1B yang berpasangan dengan bi
Banyaknya fungsi diskriminan yang dapat dibentuk dari persamaan tersebut adalah sebanyak L, dimana L adalah nilai terkecil dari (G-1) dan p, dengan G adalah banyak grup, sedangkan p adalah banyak variabel independent.
(3) Evaluasi Fungsi Diskriminan
Evaluasi fungsi diskriminan umumnya untuk memeriksa apakah fungsi diskriminan yang diperoleh signifikan sebagai diskriminator grup-grup tersebut dan variabel independent apa saja yang signifikan, serta berapa persen objek dalam sampel dapat dikelompokkan dengan benar oleh fungsi diskriminan tersebut. Berikut ini akan diuraikan beberapa prosedur evaluasi fungsi diskriminan.
(a) Uji Signifikansi Fungsi Diskriminan Dua Grup
Kasus yang paling sederhana, ketika variabel dependent-nya hanya terdiri atas 2 grup, sehingga hanya diperoleh satu fungsi diskriminan. Pertanyaan selanjutnya, apakah fungsi diskriminan tersebut signifikan sebagai diskriminator
kedua grup tersebut. Untuk itu diperiksa melalui pengujian hipotesa statistik, yang dinyatakan sebagai berikut.
Ho : Fungsi diskriminan tidak signifikan H1 : Fungsi diskriminan signifikan
Hipotesa statistik tersebut diperiksa melalui statistik uji berikut ini,
Total SSCP Group Within SSCP Matriks Determinan Matriks Determinan | SSCPT Matriks | | SSCPW Matriks | Lambda Wilks' =Λ= =
Statistik Λ tersebut, kemudian ditransformasi menjadi statistik Chi-Square, dengan formulasi sebagai berikut,
] )][ 2 G p ( - 1) - [(n - + Λ = n Chi-square Dimana, G = Banyaknya grup =2
p = Banyaknya variabel independent n = Ukuran sampel untuk seluruh grup
Statistik Chi-square, menyebar Chi-square (� ) dengan derajat bebas (df) sebesar p(G-1) atau (� Rdf=p(G-1)).
(b) Uji Signifikansi Variabel Independent Xj
Apabila fungsi diskriminan disimpulkan signifikan, maka perlu ditelusuri, variabel independent mana saja yang signifikan mendiskriminasi grup. Untuk itu diperiksa melalui pengujian hipotesa statistik, yang dinyatakan sebagai berikut.
Ho : Variabel independent ke-j (Xj) tidak signifikan, atau dengan kata lain, rata-rata Xj pada G grup tidak berbeda
H1 : Variabel independent ke-j (Xj) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent (Rata-rata Xj pada G grup berbeda)
Hipotesa tersebut, diuji dengan statistik uji berikut:
SST SSW Lambda Wilks' Xj Xj = Λ =
Dimana, SSWXj dan SSTXj adalah seperti yang didefinisikan sebelumnya. Untuk selanjutnya, statistik Λ dikonversi menjadi statistik F berikut ini,
G - n 1 - G - 1 F Λ Λ = Dengan, G = Banyaknya grup
n = Ukuran sampel untuk seluruh grup
Statistik F menyebar mengikuti sebaran F dengan derajat bebas pembilang =v1=G-1 dan derajat bebas penyebut =v2=n-G. Pada outputSPSS di bagian Test
of Equality of Group Means tersaji informasi Sig, dimana Sig=Peluang(F(v1=G-
1,v2=n-G)>F). Apabila Sig<α atau F>F(v1=G-1,v2=n-G)α maka disimpulkan tolak Ho pada tarafnyata α. Nilai F(v1=G-1,v2=n-G)α.
(4) Prediksi Variabel Dependent
Disamping uji signifikansi fungsi diskriminan dan masing-masing variabel
independent, juga diperlukan gambaran deskriptif akurasi model. Model fungsi
diskriminan semakin baik, apabila persentase objek dalam sampel dapat diklasifikasikan (diprediksi) dengan benar oleh fungsi tersebut (dinyatakan sebagai nilai hit ratio) semakin besar. Model yang signifikan dengan hit ratio yang besar, untuk selanjutnya dapat digunakan untuk prediksi variabel dependent, atau pengklasifian objek, berdasar atas nilai variabel independent [X1, X2, …, Xp) dari objek tersebut.
Rata-rata skore D, untuk seluruh objek untuk masing-masing grup, disebut sebagai Centroid. Suatu objek yang memiliki skore D dekat dengan Centroid grup1, maka objek tersebut akan diprediksi masuk ke grup1, sebaliknya bila skore D suatu objek dekat dengan grup2, maka objek tersebut akan diklasifikasikan masuk ke grup2.
Batas wilayah antar grup disebut sebagai Cutoff-value, ditentukan diantaranya sebagai berikut :
− �� = � + � +
Dimana,
Cutoff-value = Nilai batas wilayah grup1 dan grup2 n1 = Ukuran sampel untuk grup1
n2 = Ukuran sampel untuk grup2
� = � � � 1
� = � � � 2
Dari formulasi di atas, tampak bahwa Cutoff-value, untuk kasus dua grup, adalah rata-rata skore D untuk kedua grup tersebut. Berdasarkan nilai Centroids
dan Cutoff, dapat dibuat Teritorial Map. Untuk selanjutnya dapat digunakan
untuk mengevaluasi akurasi prediksi fungsi diskriminan pada data sampel, atau untuk prediksi objek berdasarkan data [X1,…,Xj,…, Xp] objek tersebut.
(5) Asumsi Analisis Diskriminan
Penggunaan analisis diskriminan membutuhkan beberapa asumsi, diantaranya:
(a) True categorical dependents
Grupnya bersifat mutually exclusive, yakni setiap objek hanya bisa menjadi anggota satu grup saja.
(b) Interval data.
Variabel independent mencapai metrik, sama seperti pada analisis regresi berganda.
(c) Homogeneity of variances
Ragam setiap variabel independent, homogen pada grup-grup tersebut.
(d) Independence
Tidak ada multikolinier pada variabel independent. (e) No lopsided splits
Ukuran sampel setiap grup tidak berbeda jauh. (f) Adequate sample size
Direkomendasikan minimal empat hingga lima kali banyaknya variabel independent.
(g) Proper specification
Koefisien dapat berubah substansial ketika ada variabel independent dimasukkan ke dalam model atau dikeluarkan dari model.
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Brebes
Gambar 4.1 Peta Administratif Kabupaten Brebes 4.1.1 Geografi
Kabupaten Brebes sebagai salah satu daerah otonom di Propinsi Jawa Tengah, letaknya disepanjang pantai utara Laut Jawa, memanjang ke selatan berbatasan dengan wilayah Karsidenan Banyumas. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Tegal dan Kabupaten Tegal, serta sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat. Letaknya antara 60˚44’ – 70˚21’ Lintang Selatan dan antara 108˚041’ – 109˚011’ dengan jumlah rata-rata curah hujan 154 mm, sedangkan jumlah rata-rata hari hujan 10 hari. Rata-rata curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Bumiayu sebesar 215 mm, dengan rata-rata jumlah hari hujan 15 hari.
Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari daerah Tingkat II yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Secara administratif Kabupaten Breres terdiri dari 17 kecamatan yaitu Salem, Bantarkawung, Bumiayu, Paguyangan, Sirampog, Tonjong, Larangan, Ketanggungan, Banjarharjo, Losari, Tanjung, Kersana,
Nulakamba, Wanasari, Songgom, Jatibarang, Brebes. Kabupaten Brebes juga terdiri dari 292 desa dan 5 kelurahan. Dari jumlah itu dibagi habis menjadi 1.132 dusun, 1.608 RW/Lingkungan dan 8.274 Rukun Tetangga (RT).
Luas keseluruhan Kabupaten Brebes adalah 166,296 hektar. Dari luas keseluruhan itu 62.703 hektar adalah lahan sawah, pekarangan/ bangunan 19.250 hektar, tegalan/ kebun seluas 17.499 hektar, tanah sementara tidak digunakan279 hektar, tambak/kolam/rawa-rawa 9.001 hektar, hutan rakyat dengan luas 5.557 hektar, hutan negara 46.708 hektar, pekebunan negara/swasta seluas hektar 1.252, dan lain-lain seluas 4.047 hektar.
Wilayah Kabupaten Brebes mempunyai batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Timur : Kab Tegal dan Kota Tegal Sebelah Selatan : Kab Banyumas dan Kab Cilacap Sebelah Barat : Propinsi Jawa Barat
Kabupaten Brebes merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian bervariasi, untuk daerah penelitian ini kecamatan Brebes, Bulakamba, dan Tanjung mempunyai ketinggian 3 meter di atas permukaan laut.
4.1.2 Demografi
Jumlah Penduduk Kabupaten Brebes pada tahun 2009 tercatat 1.752.128 jiwa, terdiri dari 873.062 jiwa penduduk laki-laki dan 879.066 jiwa penduduk perempuan. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Kabupaten Brebes terus bertambah, jika dibandingkan dengan tahun yang lalu (2008) telah bertambah sebanyak 4.698 Jiwa atau sebesar 0,27 persen.
Distribusi penduduk Kabupaten Brebes belum tersebar secara merata, dimana sebaran penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes adalah Kecamatan Bulakamba 158.560 jiwa atau 9,05 persen, Kecamatan Brebes 156.116 jiwa atau 8,91 persen, dan Kecamatan Larangan sebanyak 140.666 jiwa atau 8,03 persen, sedangkan sebaran penduduk paling kecil adalah Kecamatan Salem sebanyak 56.763 jiwa atau 3,24 persen. Dan sisanya tersebar di tiga belas kecamatan lainnya sebesar 70,77 persen.
30 Tabel 4.1 Jumlah penduduk berumur 10 tahun ke atas yang bekerja dirinci menurut jenis pekerjaan di Kabupaten Brebes
Sumber : BPS Kabupaten Brebes (2010) Tahun Petani Buruh
Tani
Nelayan Pengusaha Buruh Industri Buruh Bangunan Pedagang Supir/ kernet angkutan PNS/ TNI/Po lisi Pensiun an Jumlah 2005 301.694 438.788 23.828 16.704 34.050 71.546 82.531 11.771 25.530 6.871 1.067.919 2006 321.694 444.788 25.947 8.873 37.370 67.763 84.022 12.679 36.609 6.984 1.096.366 2007 304.947 412.916 25.420 7.332 41.030 72.997 77.410 14.909 25.221 6.790 1.015.721 2008 289.923 382.893 23.888 6.744 41.363 71.836 84.332 15.966 25.581 7.711 979.490 2009 290.814 384.163 23.980 6.761 41.462 72.041 84.573 16.014 25.652 7.731 982.537
4.1.3 Pendidikan
Di Kabupaten Brebes untuk tingkat pendidikan pra sekolah (TK) yang terdaftar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes pada tahun 2009 mengalami kenaikan jumlah sekolah. Demikian juga dengan jumlah murid dan guru mengalami kenaikan yang menggembirakan. Jumlah sekolah naik 5,07 persen. Jumlah murid naik 4,92 persen dan jumlah guru naik 0,14 persen. Untuk tingkat pendidikan dasar SD pada tahun 2009 jumlah murid sebanyak 187.686 murid, dan jumlah guru sebanyak 8.099 orang. Untuk sekolah MI pada tahun 2009 jumlah sekolah yang ada 201 sekolah, 40.525 murid dan 1866 guru. Untuk tingkat SLTP jumlah sekolah yang ada sebanyak 118 sekolah, jumlah murid sebanyak 53.317 siswa dan Guru sebanyak 2.812. Demikian pula untuk jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah terdapat 86 sekolah, Murid 27.392 siswa dan guru sebanyak 1.658 orang.
Untuk pendidikan SLTA jumlah sekolah sebanyak 33 sekolah, Murid sebanyak 15.565 siswa dan guru sebanyak 976 orang. Untuk jumlah pondok pesantren Di Kabupaten Brebes pada tahun 2009 tercatat 184 pondok Pesantren dengan jumlah santri 28.053 orang.
4.1.4 Ekonomi
Perkembangan nilai pengeluaran per kapita per bulan baik pengeluaran nominal maupun pengeluaran riil merupakan salah satu indikasi meningkatnya tingkat pendapatan penduduk. Pengeluaran nominal per kapita penduduk meningkat dari Rp 310.198 pada tahun 2008 menjadi Rp 323.658 pada tahun 2009 atau naik sebesar 4,3 persen. Jika dilihat dari struktur pengeluaran penduduk terbagi menjadi pengeluaran untuk makanan dan non makanan maka tingkat kesejahteraan penduduk dikatakan meningkat pada saat pengeluaran untuk makanan menurun dan pengeluaran non makanan meningkat. Hal ini tidak terjadi selama tahun 2008-2009. Berdasarkan persentase pengeluaran di Kabupaten Brebes menunjukkan bahwa pengeluaran untuk makanan mengalami peningkatan dari 58,01 persen menjadi 59,41 persen sementara pengeluaran untuk non makanan mengalami penurunan dari 41,99 persen menjadi 40,59 persen.
32 Tabel 4.2 Penduduk umur 10 tahun ke atas dirinci menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Brebes tahun 2006-2009
Tahun Tidak/ Belum tamat SD/ Tidak punya ijasah SD
Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat
Universitas/Diploma Jumlah 2006 541.103 521.671 173.487 136.397 41.042 1.373.965 2007 575.572 483.421 170.494 101.024 44.037 1.367.544 2008 564.309 472.960 185.214 104.368 32.666 1.366.521 2009 564.886 462.429 169.211 100.762 24.157 1.361.180
PDRB Kabupaten Brebes dari tahun 2007 sampai 2009 mengalami peningkatan. Ini terjadi baik menurut harga konstan maupun harga berlaku. Tahun 2007 PDRB menurut harga berlaku sebesar Rp 9,55 triliun dan menurut harga konstan Rp 4,77 triliun dan pada tahun 2009 PDRB menurut harga berlaku sebesar Rp 12,53 triliun dan menurut harga konstan sebesar Rp 5,25 triliun. Pada tahun 2007 pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan sebesar 4,79 persen, kemudian pada tahun 2008 naik menjadi 4,81 dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi 4,99 persen.
Sektor pertanian yang menjadi ciri khas Kabupaten Brebes masih menjadi sektor penting. Kontribusi sektor pertanian masih berkisar diatas 50 persen. Dari tahun ketahun kontribusi sektor ini mengalami penurunan, sebaliknya sektor industri pengolahan dari tahun ke tahun kontribusinya mengalami kenaikan. Empat sektor yang dominan pada struktur perekonomian di Kabupaten Brebes adalah sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor industri pengolahan dan sektor jasa.
Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes, industri dikelompokan industri logam, mesin, elektronika dan aneka serta industri kimia agro dan hasil hutan. Masing-masing dibedakan menjadi industri formal dan non formal, serta digolongkan berdasarkan aset menjadi skala besar, menengah, kecil dan rumah tangga. Jumlah perusahaan industri kecil formal cabang industri kimia, agro dan hasil hutan di Kabupaten Brebes Tahun 2008 sebanyak 705 unit, cabang elektronika dan aneka berjumlah 43 unit, cabang industri logam, mesin dan perekayasaan berjumlah 177 unit.
4.2 Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) Kabupaten Brebes
4.2.1 Profil BAZDA Kabupaten Brebes
Pembentukan Badan Amil Zakat Kabupaten Brebes didasari pertimbangan untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat secara profesional dan bertanggung jawab sesuai Keputusan Direktur Jendral Bimas dan Urusan Haji Nomor D/291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.
Dasar hukum pembentukan pengurus Badan Amil Zakat Kabupaten Brebes dan Badan Amil Zakat tingkat Kecamatan :
1. Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 164 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3885)
2. Peraturan Pemerintah Nomor Tahun 1988 tentnag Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1988 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373 )
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2001 tentang Badan Amil Zakat (BAZ) Nasional
4. Keputusan Menteri Agama Republika Indonesia Nomor 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
5. Keputusan Direktur Jendral Bimas dan Urusan Haji Nomor D/291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat
Pengurus Badan Amil Zakat Kabupaten Brebes terdiri dari Badan Pelaksana, Dewan Pertimbangan dan Komisi Pengawasan. Badan Pelaksana memiliki tugas membuat rencana kerja yang meliputi rencana pengumpulan, penyaluran, dan pendayagunaan zakat, melaksanakan operasional pengelolaan zakat sesuai rencana kerja yang telah disahkan dan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan, menyusun laporan tahunan, menyampaikan laporan pertanggujawaban dan bertindak dan bertanggungjawab untuk dan atas nama Badan Amil Zakat ke dalam maupun keluar.
Dewan Pertimbangan bertugas untuk menetapkan garis-garis kebijakan Badan Amil Zakat bersama Komisi Pengawas dan Badan Pelaksana, kemudian mengeluarkan fatwa syariah baik diminta maupun tidak, berkaitan dengan hukum zakat yang wajib diikuti oleh pengurus Badan Amil Zakat serta memberikan pertimbangan, saran, dan rekomendasi kepada Badan Pelaksana dan Komisi
Pengawasan. Bagian ini juga memiliki fungsi untuk menampung, mengolah, dan menyampaikan pendapat umat tentang pengelolaan zakat.
Komisi Pengawas bertugas untuk mengawasi pelaksanaan rencana kerja yang telah disahkan, mengawasi pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan, mengawasi operasional kegiatan yang dilaksanakan Badan Pelaksana kemudian melakukan pemeriksaan operasional dan pemeriksaan syariah dan peraturan perundang-undangan serta menunjuk akuntan publik.
Badan Amil Zakat di Kabupaten Brebes terdapat di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. BAZ tingkat kabupaten mengelola dana zakat dan infak dari seluruh wajib zakat di Kabupaten Brebes. BAZ tingkat kecamatan dan desa bertugas mengumpulkan zakat dan infak dari wajib zakat di lingkungan kecamatan dan desa kemudian dilaporkan kepada BAZ Kabupaten Brebes kemudian diserahkan kepada BAZ kabupaten. Bupati Kabupaten Brebes telah mengeluarkan edaran untuk pemotongan zakat profesi secara langsung pada gaji ketiga belas untuk pegawai negeri sipil di seluruh Kabupaten Brebes.
Penerimaan BAZ Kabupaten Brebes sampai 31 Oktober 2010 sebesar Rp 817.731.241,00. Pengeluaran dari dana zakat sebesar Rp 647.575.000 dan infak sebesar Rp 111.000.000. Pada tahun 2009 BAZ kabupaten Brebes berhasil menghimpun dana zakat dan infak dari masyarakat sebesar Rp 2,144 miliar. Dana itu terhimpun hingga 31 Desember 2009 lalu, meliputi zakat mal Rp 1.073.337.113 dan infaq Rp 1.070.861,757.
4.2.2 Pendayagunaan Zakat BAZDA Kabupaten Brebes
Pengeluaran dana zakat didistribusikan sesuai asnaf yang berhak menerima zakat dengan perincian 62,5 persen untuk fakir dan miskin di 297 desa.
Fisabilillah (pejuang islam) mendapat bagian sebesar 12,5 persen. Sementara bagi
ghorim (penyandang utang) dialokasikan sebesar 6,25 persen. Bagi Ibnu sabil atau
orang yang kekurangan bekal di perjalanan dialokasikan 6,25 persen. Kemudian bagi amil kabupaten dan pemungut zakat sebesar 12,5 persen dari zakat yang terkumpul.
Pendayagunaan zakat BAZDA Kabupaten Brebes terbagi atas dua jenis yaitu zakat produktif dan konsumtif. Pendayagunaan zakat produktif contohnya peminjaman modal usaha kepada tukang tempe, tukang tahu dan penjual kangkung. Pendayagunaan pendayagunaan zakat konsumtif contohnya bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, bantuan program bencana alam.
Pendayagunaan dana zakat di Kabupaten Brebes antara lain :
1. Pemberian santunan kepada fakir miskin sebanyak 5.940 orang masing- masing mendapatkan Rp 100.000 dengan total nilai sebesar Rp 594.000.000 untuk 297 desa .
2. Pemberian santunan kepada guru di Taman Pendidikan Al-Qur’an, guru ngaji, guru Madrasah Diniyah dialokasikan sebesar Rp. 75,795.687.
3. Pemberian zakat produktif antara lain kepada penjual tempe, penjual tahu dan penjual kangkung dialokasikan sebesar Rp 37.897.843.
4. Beasiswa kepada pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas sebesar Rp 37.897.843.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik dan Persepsi Responden
Karakteristik dan persepsi responden ini merupakan hasil dari wawancara terhadap 100 responden yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Brebes yakni Kecamatan Brebes, Kecamatan Bulakamba dan Kecamatan Tanjung. Karakteristik responden dilihat dari kondisi demografi yakni jenis kelamin, status pernikahan, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pendapatan per bulan sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Demografi responden
Variabel Jumlah Persentase
Jenis Kelamin Laki-laki 70 70%
Perempuan 30 30%
Status Pernikahan Belum Menikah 4 4%
Menikah 92 92%
Janda/Duda 4 4%
Jenis Pekerjaan Petani 23 23%
Pedagang 6 6% Karyawan BUMN 1 1% PNS 58 58% Karyawan Swasta 2 2% Wiraswasta 6 6% Lainnya 4 4% Tingkat Pendidikan SD 20 20% SMP 6 6% SMA 21 21% D3 5 5% S1 42 42% S2 6 6%
Pendapatan per bulan Rp 1 juta - Rp 2,5 juta 21 21%
Rp 2,5 juta - Rp 5 juta 63 63%
Rp 5 juta – Rp 50 juta 16 16%
Sumber : Data Primer 2011 (diolah)
Berdasarkan Tabel 5.1 mayoritas responden adalah laki-laki dengan status pernikahan sudah menikah. Jenis pekerjaan responden paling banyak adalah PNS sebesar 58 persen dan petani 23 persen.
Ditinjau dari aspek pendidikan terdapat 42 persen responden pendidikan terakhirnya adalah S1, sekolah dasar 20 persen, SMA 21 persen kemudian SMP sebanyak 6 persen, D3 sebanyak 6 persen dan S2 sebesar 5 persen. Pendapatan responden sebanyak 63 persen antara 2,5 juta sampai 5 juta kemudian terdapat 21
persen responden dengan pendapatan 1 juta sampai 2,5 juta dan sebesar 16 persen responden memiliki pendapatan 5 juta sampai 50 juta.
Persepsi responden dijelaskan pada Tabel 5.2 meliputi kesanggupan responden membayar zakat, rutinitas membayar infak serta pemilihan tempat membayar zakat. Hasilnya dilihat dari berbagai macam variabel seperti, pekerjaan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran serta beberapa faktor yang diduga mempengaruhi seseorang membayar zakat. Faktor yang dimaksud adalah iman, penghargaan, altruism, kepuasan diri dan organisasi. Pada hasil penelitian ini juga dilihat alasan seseorang membayar zakat melalui lembaga amil formal ataupun informal.
Kesanggupan seseorang untuk membayar zakat ditunjukkan pada Tabel 5.2. Pada tabel ini kesanggupan seseorang ditunjukkan dengan menjawab ya atau